Dear · Hikmah · reblog

Cantik itu Nggak Relatif

oleh teh Urfa Qurrota Ainy

Sejak gadis, saya ngga setuju-setuju amat dengan anggapan bahwa ukuran cantik itu relatif. Pada porsi bahwa standar cantiAiny k itu relatif berbeda-beda di setiap negara/kebudayaan, ya saya setuju. Setiap budaya membangun standarnya sendiri berdasarkan keunikan masyarakatnya sendiri. Tapi dalam satu standar budaya yang sama, saya ngga sepakat dengan anggapan bahwa kecantikan itu relatif.

Di telinga saya, kata-kata “Cantik itu relatif kok,” terdengar sebagai sebatas bentuk penghiburan orang-orang pada wanita-wanita yang ngga cantik kayak saya. Seolah-olah dibuat untuk menenangkan ego perempuan supaya tetap percaya diri meski berada di antara perempuan-perempuan yang cantik beneran.

Cantik yang saya maksud di sini cantik dalam segi bentuk dan fisik yaa. Obviously. Sesuai definisi kamus besar bahasa Indonesia aja.

Dan saya ngga sedih atau malu mengakui bahwa saya ngga cantik. Karena ya memang dalam standar yang berlaku di budaya saya, saya ngga punya karakteristik yang memadai untuk jadi cantik. Seperti: wajah yang proposional (ukuran mata, hidung, bibir, pipi, rahang, alis yang berkeadilan satu sama lain). Mata saya kecil dan sayu, alis segaris, hidung pesek, bibir tebal, pipi chubby, muka bulat.

Jangan kasih saran saya untuk pake make up yang metodenya memanipulasi hidung supaya mancung, pipi supaya tirus, mata supaya tajam, dst. Karena itu justru memvalidasi bahwa muka saya memang ngga sesuai standar sehingga harus dimanipulasi. Saya lebih senang begini. Sunblock, bedak tipis, lipstik selapis sudah cukup bagi saya.

Saya sudah menerima kalau-kalau dianggap kurang cantik. Proses menerima ini, jujur saja, ngga makan waktu yang sebentar. Di saat saya sedang membangun konsep diri ketika masih gadis dulu, saya sering dapat testimoni yang memvalidasi ketidakcantikan saya. Saya masih ingat semuanya.

Pertama, saat saya SMP dulu. Jadi saya pernah mengikuti pesantren Ramadhan yang pesertanya juga ada yang dari sekolah lain yang berbeda dengan sekolah saya. Kami pun dikelompokkan. Saat sesi terakhir, guru meminta kami saling memberi testimoni atau semacam kesan kepada masing-masing teman di satu kelompok. Masing-masing orang mengeluarkan kertas untuk diedarkan pada semua teman satu kelompoknya. Nantinya teman-teman mengisi kertas itu. Saya pun sama. Kertas saya berputar dan diisi oleh semua teman.

Saat kertas itu kembali ke tangan saya, saya pun membaca semua kesan yang ditulis teman satu kelompok. Di kolom kedua atau ketiga, saya membaca testimoni yang cukup mampu untuk mengguncang dunia seorang gadis SMP yang baru puber. Testimoni itu berbunyi, “Kamu kurang cantik.”

Saya ngga nangis, apalagi ujug-ujug datang ke sekolah orang lain untuk ngelabrak anak perempuan yang ngasih testimoni itu. Tapi memang agak kaget sih dan ngga bisa dilupain sampai sekarang. Cuma waktu itu saya langsung tersadarkan oleh satu realita: Oh, di dunia ini kita dinilai dari fisik kita ya. Oh, muka itu penting yah ((Anaknya polos banget)).

Padahal kalau diingat-ingat, waktu SMP itu saya rada-rada pinter lho, juara kelas terus ((pamer)). Tapi yang orang tangkap mungkin bukan itu. Ya takpapa.

Itu pengalaman pertama.

Kemudian pengalaman kedua dan ketiga. Keduanya saya alami saat saya SMA. Kalau sebelumnya yang bilang saya kurang cantik adalah sesama perempuan, kali ini yang bilang adalah dua orang laki-laki yang ceritanya dulu naksir sama saya ((pamer #2)). Btw dua orang ini ada di ruang dan waktu yang berbeda yaa. Tapi karena ceritanya mirip, saya ceritainnya bareng aja.

Terus terang, saya juga ngga ngerti ceritanya. Jadi.. dua laki ini suka sama saya ((e aneh juga, gini-gini ada dong yang demen. Wek)). Terus, yang satu, bilang gini kurang lebih, “Hm, iya sih, kamu itu ngga cantik seperti si Bunga (nama temen sekelas yg cakepnya jelas dan mutlak, bukan nama sebenarnya), tapi aku sukanya sama kamu.”

Dalam hati, pas baca surat itu (iya, ceritanya ini lagi surat-suratan), “Wadul (bohong) kamu ngga suka sama Bunga.”

Sedangkan laki-laki yang kedua kurang lebih bilang gini, “Cantikan Ibu kamu daripada kamunya. Tapi kamu cantik kok kalau senyum.”

Dalem hati, “Jadi maksudnya kamu mau nikahin Ibu aku? Wooyy…”

Saya ngga ngerti maksud mereka ngomong (secara tersirat maupun tersurat) bahwa saya kurang cantik teh apa. Apakah maksudnya memuji? Kenapa harus bawa-bawa kecantikan fisik untuk menyatakan perasaan ya.. Sungguh ku tak mengerti jalan pikirannya ~

Tapi saya sih husnudzan kalau maksudnya ya memuji gitu. Berarti saya pernah menarik buat mereka meskipun saya ngga cantik. Toh mereka naksir juga khaaan. Mereka ngaku kalo cewek cantik banyak tapi mereka demennya sama yang beginih. Wkwk. Yang jelas, laki-laki yang menikahi saya bukan salah satu dari mereka. ((‘Laku’ juga ya Bu)) Ehehe.

Soal suami, nah saya suka ngga terima kalau disebut cantik sama suami

“Kamu itu cantik…”

“Ah, bohong…”

Karena sesungguhnya bagi saya itu gombal belaka, jendral. Hehe. Bukan deng. Karena saya terlanjur punya citra diri bahwa saya ngga cantik kali ya. Udah nerima dan pasrah. Maaf yah, suami.

Pengalaman keempat, saya dikatain sama dosen sendiri doong T.T

Waktu itu saya mau ngasih undangan pernikahan buat beliau. Waktu saya ngasih, beliau ngomen gini, “Oh ada juga ya yang mau sama kamu (lalu mendeskripsikan bentuk muka saya seperti yang saya sebut di atas).”

Lalu saya hening sejenak….

Eh.. itu dosennya bermaksud bercanda kali ya? (tapi ngga lucu sih Pak, sejujurnya, kalau Bapak bilangnya dengan ekspresi yang kayak dulu itu).

Yah anggap saja itu pujian buat suami saya yang bisa melihat hal lain selain muka saya ketika memutuskan mau nikah sama saya.

Empat pengalaman itu masih lekat dalam ingatan. Waktu belum bisa menerima seperti sekarang, tentu aja saya sedih kalo inget tentang itu.

Dulu sih kalau ngaca terus ngeliat muka sendiri yang seadanya ini suka minder. Emang ngga gampang buat perempuan untuk memiliki body image yang positif di tengah gempuran visual muka-muka sebening kristal dan bodi setipis papan. Tapi lama-lama ya saya menerima juga dengan lapang dada bahwa saya memang ngga cantik.

Lama-lama saya makin ngga merasa perlu untuk membela diri apalagi bikin klaim pribadi bahwa saya cantik dengan standar yang berbeda dari orang kebanyakan. Capek kayaknya kalau gitu. Iya, dasarnya sih adalah anggapan bahwa cantik itu relatif. But, c’mon…seriously? Cantik mah ya cantik aja. Ngga cantik? Ya sudah kita nerima nasib aja kayak saya. Hehe.

Kalau cantik itu relatif, ngapain iklan-iklan, acara olahraga, dan film-film masih pake perempuan semampai, rambut panjang, kulit putih, badan langsing n singset, hidung mancung, bibir penuh, buat jadi bintang mereka. Ya coba aja atuh diganti pemerannya dengan perempuan yang muka bulet, badan gemuk, hidung pesek, dan kulit sawo matang. Kan ngga bakal mau produsernya. Karena standar cantik dalam benak orang (apalagi pada pria kali ya) ya udah ketebak. Ada karakteristik-karakteristik umum mengenai kecantikan yang disepakati orang tanpa sadar.

Kesel karena kita terkekang dalam standar yang ‘ngga adil’ dan patriarkis? Hohoho.. Cem feminis aja yaa eike nyebut-nyebut patriarki :p

Tapi poin saya adalah, saya nerima bahwa diri saya ngga cantik bukan berarti menjadikan diri saya worthless. Bukan berarti saya merendahkan diri saya. Saya mah aseli biasa aja kalau disebut kurang cantik, kurang modis, kurang molek. Karena bagi saya kecantikan bukan satu-satunya hal yang dimiliki perempuan, sehingga seolah-olah kalau seorang perempuan ngga cantik jadi ngga punya apa-apa untuk dibanggakan, bukan itu.

Saya menerima bahwa diri saya ngga cantik karena saya sadar cantik itu bukan segalanya. Jadi saya tetap akan baik-baik saja kala dibilang ngga cantik karena saya tetap rada-rada pinter ((pamer #3)).

Cantik itu bukan prestasi terbesar yang bisa perempuan miliki. Cantik itu bukan satu-satunya ukuran kehebatan, kebermanfaatan, dan kesalehan seorang perempuan.

Ini tuh sesimpel gini: saya sadar saya ngga dikasih kelebihan dalam hal kemolekan wajah, tapi saya juga tahu bahwa kelebihan saya ada di aspek lainnya.

Jadi kalau sama saya mah, ngga usah merasa butuh menghibur saya dengan bilang, “Kamu cantik, cantik, dari hatimu.” Otherwise, bilang aja aku baik hati. Aku woles kok.

Jadi please deh, kalau ada yang masih menganggap bahwa perempuan hanya bisa diapresiasi dengan predikat cantik saja, mungkin beliau butuh baca kamus lagi. Ehehehe. Ada banyak sekali predikat yang bisa kita gunakan untuk memuji seorang perempuan yang ngga melulu berkaitan dengan fisiknya. Ada banyak sekali alasan lain yang membuat perempuan patut bersyukur dan percaya diri, selain karena wajah yang bertumpu pada SNI (Standar Ncantik Indonesia).

Kamu pasti sudah tahu kan contohnya 😉

Advertisements

2 thoughts on “Cantik itu Nggak Relatif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s