Dear · Ukhuwwah

dear adik sholiha :”)

Bismillah..

mari, mari, mari..
saya perkenalkan dengan salah satu adik sholiha yang pernah saya kenal 🙂
namanya Ayuni Azizah (haha sengaja nyebut merk),

kita pernah berada dalam rahim yang sama 😛
rahim rohis Al Ashr :”)

ditahun saat saya lulus dan berangkat merantau ke kota Solo,
adik sholiha ini baru menginjakkan kakinya di SMA almamater saya sebagai siswa baru kelas 10 🙂

saya lupa tepatnya kapan pertama kali saya bertemu dengannya,
mengingat saya yang cukup lama merantau dan tidak aktif dalam kepengurusan forum alumni rohis saat itu,
tapi saya ingat pertemuan yang untuk pertama kalinya kita janjian bertemu untuk berangkat bareng dalam sebuah acara yang berkaitan dengan pengelolaan dakwah sekolah.

“dek, kakak pakai jilbab coklat yah” pesan saya via whatsapp saat itu, memberikan informasi karena saya belum tahu wajahnya.

Walaupun dalam beberapa kesempatan, ternyata saya sudah pernah bertemu dengannya 😛

“iiihh ta, kamu pernah tahu ketemu ayuni. Dia yang datang bareng eni sama ka astria ke nikahan aku” kata ocha, ketika saya tanyakan padanya pernah atau tidaknya kira-kira saya bertemu langsung dengan ayuni 😀

“ayuni tahu kok kak octa yang mana :”), begitu juga ucap si adik sholiha mengkonfirmasi. Haha ini berarti sayanya yang dudul 😛

***

“ka, maaf ya ayuni kurang amanah”
“maaf ya kak ayuni belum bisa bantuin”
dan ucapan-ucapan permintaan maafmu yang lain.

aaiih adik sholiha,

Siapa coba yang mau datang jauh-jauh dari Bangka, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan ke Perumnas Klender, Jakarta Timur pagi-pagi dengan menggunakan commuterline terus lanjut berjalan kaki menuju sekolah, dengan waktu perjalanan yang tak sebentar, hanya untuk pertemuan sejam dua jam, yang itu juga belum pasti akan ada pertemuannya. Karena seringnya adik-adik banyak yang tak berkabar. Gak dibayar pula, ndak ada ganti uang transport juga 😛

Siapa pula yang mau capek-capek menyusul datang di siang bolong ke sekolah, hanya untuk mendampingi sebuah acara pergantian kepengurusan rohis SMA. Awalnya sendirian pula perwakilan dari alumni akhwat yang datang, sampai ba’da maghrib pula mendampinginya. Hujan-hujanan pula pulangnya. Ndak dikasih makan siang pula :P.

Siapa yang bersedia untuk datang lebih awal dan pulang belakangan untuk membantu mempersiapkan sebuah acara silahturrahim akbar temu alumni rohis sekaligus ifthor jama’i di ramadhan beberapa bulan yang lalu, setelah hampir sebagian besar pulang seba’da makan, dirinya masih sibuk merapihkan dan membersihkan sisa-sisa keberantakannya. Bahkan saat hanya tersisa keluarga si tuan rumah dan beberapa kakak alumni yang sedang bersiap untuk pamit pulang, dia masih riweh membersihkan karpet bekas alas duduk tadi. Setelahnya, kita berjalan kaki menuju masjid terdekat. Masjid Raya Al Azhar di depan Walikota Jakarta Timur, yang walau kubah masjidnya sudah kelihatan dan terlihat dekat, namun tetap berhasil membuat lelah untuk sampai di dalamnya.

Siapa yang mau melakukan itu semua?

Iya siapa yang mau?

tapi adik sholiha ini dengan tulus melakukannya.

“ayuni mau berkontribusi kak ke sekolah, bagaimana caranya?”, begitu tanyanya saat itu dan dengan apa yang dia lakukan sampai dengan saat ini, benar-benar menunjukkan kesungguhan dari pertanyaannya saat itu.
***

sholihnya dirinya tidak hanya tercermin dalam akhlaknya :”)
adik sholiha ini benar-benar memiliki keistimewaan yang membuat iri siapapun muslimah yang mengetahuinya :”)

“ayuni telat kuliah ka, setelah lulus SMA ayuni menghafal dulu”

:”)
iyaa adik sholiha ini baru masuk kuliah,
disaat teman-teman seangkatannya mungkin ada yang sudah lulus menyandang gelar sarjana atau sedang berkutat menyelesaikan tugas akhirnya.

Adik sholiha ini masih semester dua di kampusnya, di jurusan Tafsir Qur’an dan Hadist.

wow keren kan :”))

ini yang bikin saya jiper gitu kalo ngomongin tentang Al Qur’an sama dia, haha 😀
tapi ini juga yang bikin saya kadang suka sering bertanya-tanya ke adik sholiha, tentang apapun yang berkaitannya dengan Al Qur’an :”), *konsultasi tahsin gratis 😛

Terus,
sudah berapa banyak yang dihafalnya?

saya pernah keppo,
dan bertanya langsung padanya tentang hafalannya,
“belum kak, belum hafal semuanya kok”, jawabnya malu-malu.

***

“ Oia.. Sabtu kakak mau datang gak?”
“Ayuni ngadain tasmi’ 30 juz di rumah”

:”)
kalau mungkin dibeberapa keluarga menyelenggarakan sebuah pengajian beberapa hari sebelum hari akad pernikahan, si adik sholiha ini memilih sebuah cara istimewa dalam mengisi hari-hari menjelang terucapnya mitsaqon ghaliza :”)

iya, alhamdulillah ahad pekan ini, si adik sholiha akan melangsungkan sunnah bersejarah :”)).
dengan masa khitbah yang cukup cepat. Awal bulan khitbah, dan di akhir bulan akad :”)),
plus plus nya lagi, dua pekan dari tanggal 17-28 dia sedang mengikuti Ujian Tengah Semester di kampusnya, dan stay tinggal di kostnya :”), what a hectic month 😀

***

baarakallah Ayuni :”)

semoga selalu dalam keberkahan hingga, saat dan setelah akad. Dan terus mengalirkan kebaikan dari pernikahannya, sampai nanti setelah usai kisahnya di dunia :”)

Semoga pernikahannya menjadi surga sebelum surga sebenarnya. Menghidupi lebih hidup daripada kehidupan sebelumnya, yang senantiasa menyebarkan kebaikan dari keduanya :”)

Semoga Allah menumbuhkan kasih sayang diantara ayuni dan suami, mengikatnya dengan iman, menyuburkannya dengan berkah dan membuahinya dengan amal. Serta menjadikan pernikahan ini sebagai berkah bagi dunia dan seisinya, aamiin :”))

 

 

Advertisements
Tak Berkategori

Menunggu: Tak Selamanya Semembosankan Itu…

Dewi Nur Aisyah

“Patience is not the ability to wait. Waiting is a fact of life. Patience is the ability to keep a good attitude while waiting” (Joyce Meyers)

Setiap orang pasti pernah mengalami masa menunggu. Mulai dari menunggu yang simpel seperti menunggu antrian, menunggu bus atau kereta datang, hingga menunggu jodoh datang (cie cieee…). Ada begitu banyak catatan deretan tunggu yang kita lakukan dalam hidup.

Yang baru lulus kuliah, kita menunggu datangnya panggilan kerja.

Yang ingin melanjutkan sekolah ke universitas ternama, menunggu keputusan diterima, atau mungkin menunggu keputusan beasiswa, atau bahkan keduanya.

Yang masih single (uhuk2), menunggu datangnya pinangan ke KUA.

Yang sudah menikah, menunggu kedatangan buah hati pertama.

Yang sudah Allah rezekikan mengandung anak pertama, menunggu kelahiran buah hati tercinta.

Begitupun saat kita menunggu terkabulnya setiap bait-bait doa dari lisan yang meminta.

View original post 787 more words

Tak Berkategori

Najwa, Alarm Kebaikan dan “Biarkan” Ia Belajar dari Kesalahan

Dewi Nur Aisyah

“While we try to teach our children all about life, Our children teach us what life is all about.” (Angela Schwindt)

Sudah lama saya tidak menulis tentang Najwa, jadi postingan kali ini akan membahas putri semata wayang saya (untuk sementara ini, insya Allah :D) yang bernama Najwa Falisha Mehvish. Seorang putri yang saya lahirkan di Inggris usai studi S2 saya berakhir dan saat ini tengah membersamai ayah bundanya (kembali) melanjutkan studi di negeri Elizabeth ini. Saat ini usianya adalah 3 tahun 9 bulan.

“Bunda, ingat ya, tisunya ga boleh dibuang ke toilet”, ujarnya sembari menunjuk sebuah gambar yang terpampang di kamar mandi hotel. Masih dengan gaya sok “tua” nya yang menunjuk ke gambar selayaknya bu guru.”Iya sayaaang. Makasih ya udah diingetin”, jawabku 🙂

Di lain waktu, saat kami harus mengantri untuk masuk sebuah tempat wisata, si kecil berkata, “Bunda, kita ngantri dulu yaa.. Gantian”, ujarnya polos. Saya jawab dengan anggukan…

View original post 3,392 more words

Harta Karun · Quote · Selftalk · Tak Berkategori

“You might be married to the worst man ever, like Asiyah was married to Fir’aun – but it didn’t change her and her loyalty and love to Allah. 

You might be married to the best of men, like Prophet of God, and still not enter Heaven – like the wife of Nabi Lut a.s. 

You might be not married to any man, like Maryam (alaiha salam), and Allah can make your rank higher than any woman on the Earth. 

Know your priorities. Love and trust is with Allah first.”

Dr Muḥammad Ṭāhir al-Qādrī 🙂

Harta Karun · review

EXTRAORDINARY!

extraordinary-071016

 

Sampai saya membaca buku ini, saya antara percaya ga percaya dengan diri saya yang memesan dan membaca buku ini :p *is this a real me? 😀

Whoaaa, Leadership book.
iyyess, I was reading a leadership book 😀

Extraordinary, adalah buku kedua dari Leadership Talk series-nya kang Dea Tantyo.
Setelah sebelumnya dibuku pertamanya, LEIDEN! saya dibuat untuk lebih mengenal dan jatuh cinta dengan para founding father Indonesia :”) –recommended!–

Di buku kedua ini, saya kembali dibuat jatuh cinta dengan mereka :”))

Aaaiih, mereka :”)
*speechless*

Betapa Allah sungguh Maha Baik-nya telah menakdirkan mereka untuk menjadi salah satu  bagian dari rangkaian skenario kemerdekaan bangsa ini :”).

ternyata kita (pernah) punya banyak pemimpin teladan,
ternyata kita (pernah) punya pahlawan yang benar-benar pahlawan,
ternyata kita (pernah) mempunyai mereka yang benar-benar punya cinta untuk Indonesia dan rakyatnya :”((,
dan kita juga (pernah) punya pemimpin yang sangat dekat dengan Rabb-nya :).

Kita pernah punya, Alhamdulillah.
Dan insyaaLlah stock nya masih ada, kan yah? 😀

“mengapa banyak kisah masa lampau begitu hangat tiba di hati kita?”
“mengapa seringkali cerita tentang founding fathers terasa manis di jiwa?”
Jawabannya mungkin karena kita sedang rindu dengan masa lalu,
Atau mungkin kita sedang rindu dengan contoh perihidup yang menawarkan keteladanan.

(Extraordinary, page 3)

Ah, iyaa..
Melihat Indonesia kini, siapa yang tak merindukan mereka? :”(

Sebelum membaca buku ini, asli saya belum pernah kenal sama ibu Tantri dan Bapak Hoegong *parah yah -__-
Murial Pearson namanya, beliau kelahiran Skotlandia dan berkebangsaan Amerika. Namun apa yang beliau lakukan pada tanggal 10 November 1945?

Saat Bung Tomo mengobarkan semangat juang para arek suroboyo dengan seruan takbir dan merdeka nya yang melegenda itu. Beliau, Ibu Tantri dengan tenangnya menyampaikan pidato melalui mikropon tentang perjuangan rakyat Indonesia, beliau menyampaikannya di tengah guncangan bom dan peluru mortar yang berjatuhan dengan dahsyatnya di keliling pemencar Radio.

Tekad beliau tidak bergeser sedikitpun, “saya akan tetap dengan rakyat Indonesia, kalah atau menang” ujar beliau lantang. Love you madam! :”)

Bapak Hoegong Imam Santoso,
konon katanya beliau adalah salahsatu polisi legendaris yang pernah dimiliki oleh bangsa ini. Beliaulah, bapak polisi yang tetap tak segan untuk turun ke jalan mengatur lalu lintas walau saat itu beliau menyandang status sebagai Kapolri bintang empat. Beliau, yang walau mempunyai jabatan yang cukup terpandang, tetap menggunakan bajaj sebagai alat transportasinya. Beliau yang bahkan untuk memenuhi kewajibannya sebagai warga Negara yang baik, harus dibantu Bapak Ali Sadikin untuk melunasi tagihan PBB nya.

“di Indonesia hanya ada dua polisi yang tidak bisa disogok, polisi tidur dan polisi Hoegeng”, ujar bapak presiden Republik Indonesia yang ke-empat. Proud of you pak!

Pernah ada masa di tengah Republik ini, saat seorang pemimpin negara, Soekarno namanya, menggadaikan baju pribadi uuntuk memenuhi kebutuhan tetangganya sebesar 3 rupiah 60 sen yang diperlukannya.

Pernah ada masa di tengah Republik ini, ketika seorang menteri keuangan Sjafruddin Prawiranegara yg mengurusi uang negara, justru tak punya uang. Sampai sang istri berjualan sukun goreng untuk menyambung hidup.

Pernah ada masa di tengah Republik ini, ketika seorang Wakil Presiden, Mohammad Hatta tak pernah bisa membeli sepatu impian hingga akhir hayatnya. Pria luar biasa ini, bahkan merelakan diri tak menikah sebelum Indonesia merdeka.

Pernah ada masa di Republik ini, ketika “Sang Raja” Sri Sultan Hamengkubuwono IX dgn rendah hati menjnjing belanjaan rakyatnya di Pasar Kranggan. Tak sungkan membantu. Ia sembunyikan jabatannya.

Pernah ada masa di Republik ini ketika seorang Menteri Luar Negeri, diplomat besar Indonesia, “The Grand Oldman” Haji Agus Salim, tak pernah punya rumah, dan berpindah-pindah kontrakan selama hidup. Padahal saat itu ialah guru dari banyak pemimpin dan pejuang Indonesia; Soekarno, Roem, Kasman.

Indonesia dibangun atas keajaiban. Keajaiban akhlak, keajaiban teladan, keajaiban pengorbanan dan keajaiban untuk terus member dan member, meski keterbatasan menempa diri.

Dan suatu saat nanti, yakinlah semua akan berulang. “Dongeng” nyata itu akan kita bacakan kepada putra-putri kita sebelum tidurnya. Hingga menelusup kedalam batin mereka. Lalu menulang sumsum pada perbuatan mereka. Biarkan mereka mendengarnya. Biarkan mereka mengingatnya. Lalu biarkan mereka memilih jalan takdir mereka sendiri untuk membesarkan Indonesia. (Extraordinary, page 304)

Dalam kata pengantarnya, penulis sudah menyampaikan bahwa seri yang kedua ini agak sedikit berbeda dari seri yang pertama. Lebih runut dan sedikit lebih bermuatan teori leadership-nya, namun tetap mudah untuk dicerna oleh orang kayak saya, hhe 😛

Tidak jauh berbeda dengan Leiden!, pada buku ini kita juga akan diajak bertemu dengan para tokoh inspiratif, who is the real leader. Setiap frasa yang berkaitan dengan kepemimpinan akan disertai dengan banyak kisah teladan yang penuh inspirasi didalamnya.

Still recommended! 🙂

 

*catatan penting ga penting :P*

–tak…–

Satu hal yang ‘tiba-tiba’ menjadi perhatian saya dibuku ini,
Setiap kata yang muncul setelah kata ‘tak’ pasti akan ikut tersambung dengan kata ‘tak’ didepannya sehingga menjadi satu kata.

Seperti: takhanya, takgentar, takpanas, takdingin, takada, takrelevan, takmudah, takkalah, takpernah dan tak tak yang lainnya, hhe 😀

((((( kurang kerjaan bangat ya saya ngomentarin ini 😛 )))))

 

–Daftar Pustaka—

Salah satu yang pembeda antara Leiden! Dan Extraordinary adalah adanya list daftar pustaka di buku yang kedua ini. Dan saya sukkaaa :”)). Sangat menyenangkan bisa mengetahui referensi bacaan dari tulisan-tulisan inspiratif. Sembari berharap someday saya bisa ikutan baca list buku-buku yang menjadi referensi bacaan penulis inspiratif itu :”) *bilamanakah someday itu akan tiba 😛

–guru sejarah–

Setelah saya membaca buku ini, -dengan sotoynya- saya sempat terlintas ingin menjadi guru sejarah :P, haha :D.

Betapa ingin sekali memberitahukan kepada adik adik kita yang unyu-unyu itu, bahwa Indonesia itu dibangun oleh banyak cinta, perjuangan, pengorbanan, ketulusan dan keteladanan. Betapa ingin sekali rasanya menanam dan memupuk rasa cinta pada bangsa ini, hingga akhirnya ia tumbuh rindang di dalam dada dada mereka. Hingga kelak ketika mereka besar dan menemukan ada sesuatu yang jelek dan buruk tentang bangsa ini, mereka tahu bahwa ada sesuatu yang sedang salah, ada yang sakit, ada yang perlu diobati agar semuanya kembali membaik. Mereka sadar bahwa merekalah dokternya, merekalah yang akan mengobatinya. Bukan menghindarinya atau malah turut mengutukinya.

.
.
.

terakhir,
terima kasih kak sudah memilih jalan ini 🙂
jalan sebagai ‘penjaga gawang’ kalau kakak bilang,
yang merekam kehangatan kisah para founding fathers bangsa kita, yang mengenalkan amal yang pernah mereka buat. Dan yang mengenalkan betapa berharganya Indonesia.

Meracacacau · rumah

Pak RT Pulang!:”)

Kota Jakarta identik dengan suku betawinya.
Kalo sunda katanya akronim dari ‘suka makan daun muda’, maka betawi katanye ‘betah di wilayah sendiri’ 😛

Walau pada kenyataannya, berdasrkan data sensus yang dilakukan pada tahun 2010 lalu oleh BPS disebutkan bahwa jumlah penduduk DKI yang berasal dari Suku Betawi adalah sekitar 2.700.000an dari total penduduk DKI Jakarta yang 9.600.000an jiwa. Atau sekitar 28,11%. Dengan penyebaran terbanyaknya berada di wilayah Jakarta Timur, daerah condet lebih tepatnya.

No, no, noo..
Saya tidak sedang ingin menceritakan tentang distribusi suku betawi di kota kelahiran saya ini. Saya ingin menceritakan tentang keluarga Pak RT :”)).

Alhamdulillah, di daerah tempat saya tinggal. Walaupun jauh dari Condet 😛, saya masih bisa merasakan keunikan adat istiadat suku betawi 🙂

iyaa keluarga Pak RT kami orang betawi asli :p, mulai dari almarhum Pak RT Aman, sampai Pak RT Yusuf yang sekarang 🙂.

Rumah Pak RT tidak terlalu jauh dari rumah orangtua saya, kalau dulu waktu saya masih TK, saya inget di depan rumah almarhum Pak Haji (orang tua Pak RT) ada pohon kecapi. Ada yang tahu atau pernah nyicip buah kecapi? 🙂, yang pernah nyoba pasti berkesan bangat pas sesion ngebuka nya, haha 😀. *dulu saya mengira kecapi ini buah asli betawi lho :P, kenapa? karena dari sekian luas nya kebon yang ada disekitar rumah saya dulu ketika saya kecil, yang ditumbuhi pohon kecapi cuman didepan rumahnya Pak Haji yang orang betawi 😀

Saya masih ingat juga waktu Bang Akim nikahan. Tiba-tiba refleks terlintas pelajaran PLKJ (Pendidikan Lokal Kesenian Jakarta -mulok wajibnya anak SD di DKI-) tentang Bab Pernikahan Adat Betawi 🙂

Petasan berentet, hadroh rebanaan, sholawatan, roti buayanya, adu pantun dan tak lupa pakaian khasnya :”). Dan itu semua kereeenn to the max! 🙂.

Atau pas lebaran, salahsatu dari sekian banyak hal yang menjadi khas nya antaran orang betawi saat berkunjung ke rumah orangtua saya adalah dodol betawi, yang kerasnya ehmm masyaaLlah 🙈😂.

Lama tak merasakan keunikan suku keluarga Pak RT lagi, sampai beberapa bulan yang lalu tersiar kabar bahwa Pak RT dan Bu RT akan menunaikan ibadah haji tahun ini 🙂.

Saya tidak sempat melihat ke-meriah-an saat keberangkatannya, karena Pak RT dan Bu RT berangkat siang hari. Tapi alhamdulillah saya ikut merasakan ke-heboh-an ‘upacara’ penyambutannya 🙂. Dan saya yakin, hampir sebagian besar warga yang tinggal radius 100 meter dari rumah Pak RT (include saya :p), turut merasakan kehebohannya. Dimana pada pukul 21.30an terdengar jelas bunyi petasan yang ga cuma sekali dua kali, tiga kali, empat kali 😀, dengan diiringi suara shalawatan lengkap dengan tabuhan hadrohnya 😀

“Alhamdulillah Pak RT udah pulang” 🙂

Selamat kembali pulang Pak RT :”), semoga menjadi haji yang mabrur yang penuh keberkahan dan membawa keberkahan bagi warganya, aamiin :”).
Oct 3, 2016
22.47 WIB
ketika satu rumah terbangun mendengar suara petasan, yang membuat saya dan adik saya buru buru ngintip dari jendela untuk ngeppoin kehebohan di luar :P.

challenge · KisahParaNabi

#KisahParaNabi 24: Kisah Nabi Musa as (2)

Sebagian ulama berkata, “kisah adalah sebagian dari tentara Allah yang diturunkan ke bumi”. Dan bukankah lebih dari separuh ayat Al Qur’an diturunkan dalam bentuk kisah-kisah umat terdahulu?. Kali ini saya akan mencoba mencuplik kisah dari Para Nabi sebelum hadirnya Rasulullah saw. Apa yang akan saya sampaikan disini hanya berupa ringkasan, tentunya karena keterbatasan pengetahuan saya mengenai hal ini. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk menulis ringkasan ini adalah “Kisah Para Nabi” karya Ibnu Katsir. Selamat membaca 🙂

 

Bismillah,

Allah berfirman dalam QS. Al Qashash ayat 7, “Dan Kami ilhamkan kepada ibunya Musa, ‘susuilah dia (Musa) dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil)’…”. Pada kisah sebelumnya, telah disampaikan bagaimana ibunda nabi Musa mendapatkan ilham untuk melakukan apa yang diperintahkan dalam ayat ini. Diilhamkan juga kedalam hatinya keyakinan untuk tidak takut dan khawatir meletakan anaknya di dalam peti yang dihanyutkan di atas sungai Nil.

Suatu hari, ketika ibunda Musa sedang melepaskan peti yang berisi bayi Musa ke sungai Nil, ia lupa untuk mengikatnya dengan tali, sehingga peti berisi bayi Musa itu hanyut bersama aliran sungai Nil hingga melintas tepat didepan istana Fir’aun.

Para mufassir menyebutkan, selir-selir Fir’aun memungut peti tersebut dari sungai dalam kondisi tertutup, mereka tidak berani membukanya. Peti kemudian diletakkan dihadapan istri Fir’aun, Asia. Saat membuka penutup peti dan menyingkap tirai penutupnya, Asia langsung jatuh hati pada bayi Musa. Saat Fir’aun melihatnya, ia sangat kaget dan bersegera memerintahkan untuk menyembelihnya, tapi sang istri meminta kepadanya agar bisa merawat bayi Musa, “Dia adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia menjadi anak” (QS. Al Qashash : 9).

Singkat cerita, bayi Musa kemudian dibesarkan dalam pengasuhan keluarga Fir’aun. “sedang mereka tidak menyadarinya” (QS. Al Qashash : 9), Fir’aun tidak menyadari bahwa bayi laki-laki yang ia takutkan akan menghancurkannya kelak berada dekat di bawah naungannya.

Maha Besar dan Maha Baik-Nya, setelah sangat khawatir dengan hanyutnya bayi Musa, Ibunda Musa kemudian memerintahkan putri sulungnya untuk mencari tahu tentang keberadaan adiknya. (QS. Al Qashash : 10-11). Sedangkan di istana Fir’aun, bayi musa membuat bingung keluarga angkatnya karena dia tidak mau menerima susu dari wanita manapun yang disiapkan untuk menjadi ibu susuannya. Allah telah berkehendak, “Dan Kami cegah dia (Musa) menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui (nya)” (QS. Al Qashash: 12). Mereka kemudian membawa Mura dan para dukun beranak dan sejumlah wanita ke pasar, dengan harapan bayi Musa akan mau menyusu pada salah satu dari wanita yang ada disana.

Saat melihat kerumuan orang disekitar bayi Musa, saudari perempuan Musa kemudian mendekat dan berkata, “Maukah aku tunjukkan kepadamu, keluarga yang akan memeliharanya untukmu dan mereka berlaku baik padanya?”. Mereka kemudian pergi mengikuti saran dari saudari Musa, menuju rumah kediaman Musa. Saat ibunya menggendong dan akan menyusuinya, bayi Musa langsung menerima dan menyusu dengan tenang. Mereka –keluarga angkat Musa- sangat senang bukan kepalang. Asia bahkan menawarkan ibu Musa untuk tinggal bersama di Istana, namun ibu Musa menolaknya, “Aku punya suami dan anak-anak. Aku tidak bisa tinggal di istana, namun biarkan bayi ini aku yang bawa”. Asia mempersilahkannya dan memberikan gaji sebagai upahnya menyusui Musa. Musa kembali pulang ke pangkuan Ibunya dan keluarganya. “Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, agar senang hatinya dan tidak bersedih hati, dan agar ia mengetahui bahwa janji Allah adalah benar..” (QS. Al Qashash : 13).

Saat usia Musa beranjak dewasa, yaitu ketika fisik dan akhlaknya telah kuat –mayoritas para mufassir berpendapat pada usia Musa 40 tahun-, Allah memberinya hikmah dan ilmu. Itulah Nubuwah dan risalah seperti yang pernah disampaikan Allah kepada Ibu Musa melalui firman-Nya, “Sesungguhnya, Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang rasul”. (QS. Al Qashash : 7).

Dalam QS. Al Qashash : 14-17 dikisahkan, suatu hari ketika Musa sedang berada di kota Memphis diwaktu menjelang malam, dia melihat ada dua orang yang sedang berkelahi. Diketahui salah seorang dari mereka adalah orang bani israil dan yang satunya termasuk kaum Qibthi. Melihat Musa, orang dari golongan Bani Israil kemudian memanggilnya dan meminta pertolongan kepadanya. Saat itu Bani Israil sudah memiliki pamor yang lebih baik dari sebelumnya, hal ini dikarenakan Musa –yang adalah anak angkat dari Fir’aun- menyusu pada wanita bani israil. Sehingga secara tidak langsung, mereka adalah paman-paman sepersusuan Musa.

Musa kemudian menghampiri orang Qibthi tersebut dan memukulnya. Musa tidak bermaksud untuk membunuhnya, ia hanya ingin menakuti dan membuatnya jera saja. Namun disebabkan karena pukulannya, orang Qibthi tersebut kemudian meninggal dunia. Musa langsung menyesali apa yang sudah diperbuatnya. Allah juga mengabarkan, bagaimana takutnya Musa bila Fir’aun sampai tahu tentang peristiwa ini. Jika dia tahu Musa telah membunuh seseorang yang berasal dari bani Qibthi demi membela salah seorang yang berasal dari Bani Israil.

Pagi harinya, ketika Musa sedang menyusri jalanan kota Mesir, tiba-tiba ia kembali dipanggil oleh bani israil yang kemarin juga memanggilnya, ia memanggil Musa dan memintanya untuk membantunya lagi dalam menghadapi musuhnya saat ini. Musa kemudian mencela dan menegurnya karena seringnya membuat permusuhan, “Engkau sungguh, orang yang nyata-nyata sesat”. Saat Musa menghampiri dan hendak memberikan jera kepada orang yang berasal dari bani israil tersebut, orang tersebut kemudian berkata “Wahai Musa! Apakah engkau bermaksud membunuhku, sebagaimana kemarin engkau membunuh seseorang?”

Berita tentang pembunuhan yang dilakukan oleh Musa akhirnya sampai kepada Fir’aun. Fir’aun kemudian mengirimkan utusan untuk mencarinya, namun seseorang lebih dulu menemui Musa dan mengabarkan kepadanya perihal Fir’aun yang mencarinya, dan meminta Musa untuk segera pergi meninggalkan kota ini. “Wahai Musa! Sesungguhnya para pembesar negri sedang berunding tentang engkau untuk membunuhmu, maka keluarlah (dari kota ini)..” (QS. Al Qashash : 20).