Belajar · challenge · Hikmah · sejarah

Hikmah Mempelajari Sejarah : Mengenalkan Makna Cinta yang Sesungguhnya (2)

“Hidup dan matiku akan bersamamu
(Al hayatu hayatuk wal mautu mautuk).
(Fatimah binti Abdul Malik)

“ya Rasulullah, aku mencintaimu seperti aku mencintai diriku sendiri”, ucap Umar ibnu Khattab suatu ketika.

Rasulullah shallahualaihi wassalam tersenyum mendengarnya, beliau menjawab. “Tidak wahai ‘Umar. Engkau harus mencintaiku melebihi cintamu pada diri dan keluargamu.”

“ya Rasulullah, mulai saat ini engkau lebih kucintai daripada apapun didunia ini”. Jawab Umar dengan lantang.

Begitu mudahkah bagi orang semacam Sayyidina ‘Umar ibn Al Khaththab menata ulang cintanya dalam sekejap? Begitu mudahkah cinta diri digeser kebawah untuk memberi ruang lebih besar bagi cinta pada Sang Nabi? Dalam waktu yang sangat singkat, hanya sekejap.

“Ternyata cinta” kata ustad Salim A Fillah dalam bukunya Jalan Cinta Para Pejuang, “bagi Sayyidina ‘Umar adalah kata kerja. Maka menata ulang cinta baginya hanyalah menata ulang kerja dan amalnya dalam mencintai. Ia tak berumit-rumit dengan yang ada dalam hati. Biarlah hati menjadi makmum bagi kerja-kerja cinta yang dilakukan oleh amal shalihnya”.

Fatimah binti Abdul Malik adalah simbol wanita terhebat dan ternyaman hidupnya pada zamannya. Bagaimana tidak? ayahnya adalah khalifah, kakaknya menjadi khalifah, adiknya menjadi khalifah, dan suaminya pun adalah seorang khalifah. Sebuah anugerah yang membuat banyak orang mengharapkan sekiranya mereka seberuntung Fatimah binti Abdul Malik.

Umar bin Abdul Aziz, suami dari Fatimah binti Abdul Malik pun bukanlah seorang yang biasa. Ia adalah putra Abdul Al-Aziz bin Marwan bin Hakam, Gubernur Mesir saat itu. Lahir dari keluarga ningrat membuatnya terbiasa hidup dalam standar kelas bangsawan. Harga bajunya 130 dinar atau setara dengan 260 juta (1 dinar, terbuat dari emas 22 karat dengan berat 4,25 gr, dengan taksiran kasar 1 dinar sama dengan 2 juta rupiah pada saat ini). Ketika beliau bersekolah di Madinah, Pamannya Abdul Malik bin Marwan, setiap bulannya memberi uang saku 2000 dinar/bulan (setara 4 milyar hari ini). Parfum yang dipakainya seharga 1000 dirham, bahkan orang-orang tahu bila Umar pernah melewati suatu jalan hanya karena wangi parfumnya.

Namun apa yang terjadi ketika Umar bin Abdul Aziz dengan terpaksa di baiat menjadi seorang khalifah, menggantikan khalifah sebelumnya, Sulaiman bin Abdul Malik yang baru saja wafat?.

“Para pecinta sejati tak suka berjanji”, kata Anis Matta dalam serial cintanya, “tetapi, begitu mereka memutuskan untuk mencintai, Mereka akan segera membuat rencana untuk memberi”. Dan Umar bin Abdul Aziz membuktikannya, bahwa ialah sang pecinta sejati.

Cinta pada Rabb-nya dan cinta yang besar pada rakyatnya mengubah gaya hidup Umar bin Abdul Aziz.

Setelah di baiat menjadi khalifah, ia memanggil istrinya. Fatimah binti Abdul Malik, ia berkata kepada istrinya, “Wahai Fatimah, jika engkau menginginkan Allah dan Rasulnya maka bersiap siaplah untuk hidup denganku. Dengan kehidupan yang berbeda dari kehidupan kita sebelumnya. Namun jika engkau menghendaki kemewahan dunia dan harta, maka kemarilah dan aku berikan kepadamu namun setelah itu kita berpisah”.

Umar menyadari bahwa Fatimah, istrinya adalah seorang wanita yang sedari kecilnya tidak pernah merasakan hidup susah. Maka ia tidak ingin memaksakan keinginannya kepada istrinya.

Lalu dijawab oleh Fatimah dengan mantap, “Hidup dan matiku akan bersamamu (Al hayatu hayatuk wal mautu mautuk).” Dari sini kita sama-sama mengetahui, bahwa Umar tidaklah sendiri berjuang untuk menjadi seorang pecinta sejati di negri yang diamanahi kepadanya.

Maka hiduplah mereka dalam kesederhanaan bahkan sangat sederhana. Kehidupan yang membuat para petugas pemberi zakat di negerinya kesulitan untuk membagi-bagikan zakat penduduk di sana. Para petugas pemberi zakat ini kesulitan, mereka kesulitan untuk mencari orang-orang fakir miskin yang berhak diberikan zakat. Karena semua penduduknya tidak ada yang memenuhi kriteria sebagai golongan yang berhak menerima zakat. Pemberian cinta Umar bin Abdul Aziz berbuah keberkahan bagi negerinya.

“Kalau cinta berawal dan berakhir karena Allaah,
maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada Nya,
pengenjawantahan ibadah hati yang paling hakiki:
selamanya memberi yang bisa kita berikan,
selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai.”
(M. Anis Matta)

Jauh beribu tahun setelahnya dan beribu kilometer jaraknya, di sebuah negeri kepulauan yang bernama Indonesia, kita pun dapat menyaksikan beragam episode romantis dari pembuktian cinta oleh mereka para pejuang untuk satu kemerdekaan Indonesia.

Salah satunya saya temukan di buku Leiden!-nya kang Dea Tantyo. Apa yang lebih romantis, dari surat cinta yang ditulis oleh seorang pejuang kemerdekaan kepada istrinya yang diselipi kata meredeka dengan format capslock dan tambahan tanda seru?.

bismillahirrohmannirrohiim, MERDEKA! Dinda sayang, terima kasih atas surat Dinda yang menyenangkan hati itu. Dalam keadaan yang sesungguhnya merupakan bala, masih juga dapat kita menyaksikan nikmat Allah yang dalam kesukaran dapat juga memberikan kelapangan.

Kanda seperti yang sudah kerap dinda katakan, rupanya diperlakukan Allah dengan istimewa, sebab itu baiklah kita bersyukur memuji Allah atas rahmat karunia-Nya yang terang terbukti dan dengan sabar menantikan dengan harap apa-apa takdir-Nya tentang itu.

Sementara itu yakinlah Dinda akan cinta kasih sayang kanda dan terimalah peluk ciumku dengan salam dan doa. Berkenaan dengan masa mendatang, tenangkan hati dengan harapan dan percaya kepada Allah Subhana wa taala. Tetap sabar dan tawakal.

(surat ini ditulis Haji Agus Salim untuk sang istri, Zainatun Nahar. Saat beliau tengah berjuang, menukar hidup demi kemerdekaan bangsa Indonesia).

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas Kelas Menulis Online (KMO) batch 14 :).

Advertisements
Belajar · challenge · Hikmah · sejarah

Hikmah Mempelajari Sejarah : Mengenalkan Makna Cinta yang Sesungguhnya (1)

Aku akan tetap bersama rakyat Indonesia, kalah atau menang
(K’tut Tantri)

Cinta jenis apa yang membuat seorang perempuan kelahiran Skotlandia dan berkebangsaan Amerika untuk turut serta dalam kemerdekaan suatu bangsa yang bahkan tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya?. Bermula dari kegalauan seorang perempuan bernama Murial Pearson yang memutuskan untuk pergi dan menetap di Bali setelah membeli tiket bioskop secara acak dan memutuskan untuk menonton film berjudul Bali: The Last Paradise.

Siapa sangka, keputusan spontanitasnya membawanya turut andil dalam proses perjuangan kemerdekaan Indonesia di Surabaya. Jika Bung Tomo melakukan agitasi untuk mengobarkan api semangat arek-arek Suroboyo. Perempuan bule ini, Murial Pearson, sejarah kemerdekaan Indonseia kemudian mengenalnya dengan K’tut Tantri mengudara dengan bahasa inggris menyiarkan upaya perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Dalam pengantar untuk Revolt in Paradise, Bung Tomo menyampaikan, Saya tidak akan melupakan detik-detik di kala Tantri dengan tenang mengucapkan pidato di muka mikropon, sedangkan bom-bom dan peluru-peluru mortar berjatuhan dengan dahsyatnya di keliling pemancar Radio Pemberontakkan.

Perjuangan membuktikan kecintaannya terhadap tanah air Indonesia bukanlah tanpa halangan, beberapa kali Tantri di tangkap, dipenjarakan dan diinterogasi panjang di dalam penjara. Keteguhan sikapnya untuk turut berjuang bersama rakyat Indonesia membuat tentara Indonesia di bawah pimpinan Bung Tomo berusaha untuk membebaskannya. Setelah bebas, ia diberi dua pilihan untuk kembali ke negerinya dengan jaminan pengamanan tentara Indonesia atau tetap berjuang bersama pejuang Indonesia.

Apa pilihannya? Apa pilihan dari seorang perempuan kelahiran Skotlandia, berkebangsaan Amerika yang sedang berada di negri orang, dan baru saja dibebaskan setelah beberapa hari lamanya disiksa dan diinterogasi panjang di dalam penjara?.

Tantri, wanita ini dengan mantapnya memilih pilihan kedua untuk tetap berada di Indonesia, bersama para pejuang Indonesia. Atas pilihannya, Tantri dipercaya untuk mengelola siaran radio perjuangan. Dalam siaran tersebut, Ktut Tantri menyeru dalam bahasa Inggris kepada negera-negara lain menceritakan upaya perjuangan kemerdekaan Indonesia. Suaranya mengudara tiap malam.

“Aku akan tetap dengan rakyat Indonesia, kalah atau menang. Sebagai perempuan Inggris barangkali aku dapat mengimbangi perbuatan sewenang-wenang yang dilakukan kaum sebangsaku dengan berbagai jalan yang bisa kukerjakan,” tulis K’tut Tantri dalam Revolt in Paradise.

Pilihannya untuk bergabung dalam perjuangan bangsa Indonesia meraih kemerdekaan itu membuat kalangan pers internasional menjulukinya “Surabaya Sue” atau penggugat dari Surabaya.

“Kemanusiaan itu”, kata bunda Helvy Tiana Rosa, “tak mengenal batas negara dan agama. Ia tumbuh dari keajaiban nuranimu tanpa sekat, tanpa musim”.

Cinta yang dimiliki Murial Pearson adalah cinta yang menjadikannya manusia. Senyata-nyata manusia yang lengkap dengan keberadaan hati nurani yang menuntunnya untuk turut adil dalam memperjuangkan kemanuasiaan.

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas Kelas Menulis Online (KMO) batch 14 :).

Hikmah · reblog · they're said

Marhaban ya Ramadhan

Sumber Tulisan :”).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “marhaban” diartikan sebagai “kata seru untuk menyambut atau menghormati tamu (yang berarti selamat datang).” Ia sama dengan ahlan wa sahlan yang juga dalam kamus tersebut diartikan “selamat datang.”

Walaupun keduanya berarti “selamat datang”, tetapi penggunaannya berbeda. Para ulama tidak menggunakan ahlan wa sahlan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan, melainkan “marhaban ya Ramadhan”.

Ahlan terambil dari kata ahl yang berarti “keluarga”, sedangkan sahlan berasal dari kata sahl yang berarti mudah. Juga berarti “dataran rendah” karena mudah dilalui, tidak seperti “jalan mendaki”. Ahlan wa sahlan, adalah ungkapan selamat datang, yang dicelahnya terdapat kalimat tersirat yaitu, “(Anda berada di tengah) keluarga dan (melangkahkan kaki di) dataran rendah yang mudah.”

Marhaban terambil dari kata rahb yang berarti “luas” atau “lapang”, sehingga marhaban menggambarkan bahwa tamu disambut dan diterima dengan dada lapang, penuh kegembiraan serta dipersiapkan baginya ruang yang luas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya. Dari akar kata yang sama dengan “marhaban”, terbentuk kata rahbat yang antara lain berarti “ruangan luas untuk kendaraan, untuk memperoleh perbaikan atau kebutuhan pengendara guna melanjutkan perjalanan.

”Marhaban ya Ramadhan berarti “Selamat datang Ramadhan” mengandung arti bahwa kita menyambutnya dengan lapang dada, penuh kegembiraan dan suasana nyaman kita.

Marhaban ya Ramadhan, kita ucapkan untuk bulan suci itu, karena kita mengharapkan agar jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah Ta’alaa :).

Belajar · challenge · Dear · Harta Karun · Hikmah · Meracacacau · reblog · Selftalk · they're said

Suami dan Kulkas

(((dear myself, please remember this)))

oleh Alifah Syamsiyah.

alkisah, ada seorang wanita yang akan menggugat cerai suaminya. tapi sebelum ke pengadilan, ia meminta nasihat terakhir kepada seorang ustadz, untuk lebih meyakinkan dirinya dengan keputusan besar yang akan ia buat. kepada sang ustadz wanita itu menceritakan semua keburukan suaminya: pekerjaan yang belum mapan, tidak bisa mengurus rumah tangga, tidak mahir mengurus anak, dsb.

di akhir cerita, ustadz itu berkomentar sederhana, “ibu, mohon maaf, tapi sepertinya ibu salah menggunakan barang.” wanita itu jelas tak mengerti, nih ustadz gimana sih, kan saya lagi cerita tentang suami, kok malah bahas barang, begitu batinnya.

seakan bisa membaca pikiran wanita tersebut, sang ustadz melanjutkan penjelasannya, “mungkin ibu bingung dengan perkataan saya. tapi coba sekarang ibu bayangkan. ibu baru saja membeli kulkas. kulkas merek terkenal dengan teknologi paling mutakhir. sayangnya, ibu malah mengutuki kulkas itu karena ia tidak bisa menyiarkan siaran berita, tidak bisa memutar video, atau mencuci piring yang kotor. kalau begini, yang salah si kulkas atau si ibu?”

wanita itu menyimak, masih belum menangkap maksud sang ustadz.

“jelas si kulkas tidak salah, karena ia diciptakan untuk menyimpan barang atau makanan agar tidak cepat busuk. kalau kulkas tidak bisa memutar video, seharusnya ibu tidak mengutuki kulkas karena itu bukanlah fungsinya.

begitu pula dengan suami ibu. tujuan utama dari pernikahan adalah mendapatkan ridho suami. jika pekerjaannya kini belum mapan, atau ia belum bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan sempurna, bersabarlah. setidaknya itu bukan fungsinya yang utama. setidaknya ibu tidak kehilangan fungsi utamanya: keridhoan suami. karena itulah kunci surga seorang wanita.

kalau saya boleh memberikan saran, coba ibu pikirkan baik-baik lagi keputusan ibu. saya punya tips sederhana yang bisa ibu lakukan sembari ibu memikirkan ulang keputusan besar ini. cobalah setiap malam, sebelum ibu dan suami tidur, tanyakan pada suami, “bang/a’/kang/mas, berapa persen keridhoannya sama aku hari ini?” kalau jawabannya belum 100%, coba ibu lakukan apapun yang bisa membuatnya ridho 100%. ibu bisa memijatnya, membuatkannya minuman hangat, dan hal-hal lain yang membuat keridhoannya utuh kembali. ibu tidak bisa menjamin kalau masih ada hari esok setelah ibu tidur malam itu, bukan? jangan sampai menutup hari tanpa membawa kunci surga dari keridhoan suami ibu.”

nasehat itu menggugah jiwa wanita itu. ia kembali ke rumahnya, tertarik untuk mencoba nasihat sang ustadz mulai malam nanti.

singkat cerita, beberapa hari setelahnya wanita itu kembali ke rumah sang ustadz dan menceritakan perubahan yang terjadi pada suaminya. setelah beberapa malam rutin menjalankan nasihat itu, perilaku suaminya perlahan berubah, ia menjadi semakin sayang pada dirinya, semakin giat bekerja, dan mengurus rumah tangga. ridho dan berkah Allah pun turun, meliputi keluarga mereka.

taat pada suami terkadang bukan perkara mudah, apalagi kalau keegoisan sedang menguasai jiwa.

tapi disanalah kunci surga berada. tak tanggung-tanggung, seorang istri yang taat diberikan keistimewaan untuk memasuki surga dari pintu mana saja yang ia suka!.

.

.

.
catatan: tulisan ini terinspirasi dari sebuah nasihat singkat yang disebarkan di whatsapp, sayangnya penulis tidak bisa mengecek sumber asli dari cerita ini.

Pict from Google.

Dear · Harta Karun · Hikmah · they're said

Mulia

Al Qur’an adalah kitab mulia yang memuliakan 🙂

Al Qur’an diturunkan Allaah kepada nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam, dan menjadikan Rasulullaah, Rasul paling mulia diantara para nabi dan rasul 🙂

Al Qur’an diturunkan di bulan Ramadhan, bulan yang penuh kemuliaan 🙂

dan Al Qur’an diturunkan pada malam lailatul qadr, malam paling mulia yang bernilai 1000 bulan 🙂

begitu juga,
bagi mereka yang hati, lisan dan perilakunya senantiasa terpaut dengan Al Qur’an, Allaah akan memuliakan mereka 🙂

“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahlul Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan hamba pilihanNya” (HR. Ahmad)

~ustadzah Aini 🙂

challenge · Dear · Harta Karun · Hikmah · they're said

Allaah Tidak Minta Kesempurnaan

nak.ig
image from here :”)

oleh NAK Indonesia

Ada pemikiran fatalistik yang berkembang di masyarakat dalam konteks pendidikan. Mungkin di antara kita pun ada yang pernah merasakan ditekan orang tuanya karena masalah peringkat di sekolah dengan ungkapan, “Lalu buat apa kami mengirimmu untuk bersekolah?” “Apa gunanya jadi peringkat kedua?”

Banyak anak yang tumbuh dengan budaya seperti ini akhirnya berpikir bahwa mereka baru berguna hanya jika menjadi yang terbaik. Jika tidak jadi yang terbaik, maka mereka tidak berguna. Banyak orang yang tidak bisa lepas dari cara berpikir ini hingga dewasa dan mengalami depresi.

Depresi ini kemudian tidak hanya berpengaruh dalam konteks pendidikan saja. Namun berpengaruh juga kepada kepribadian mereka, misalnya terhadap akan jadi orang tua seperti apa mereka, akan jadi suami atau istri seperti apa mereka, bahkan bisa juga berpengaruh pada kehidupan beragama mereka.

Mereka bertanya kepada diri mereka, “Kalau saya bukan orang yang terbaik imannya, apa gunanya beribadah?” Mereka akan putus asa untuk beribadah, termasuk salat. Kita pun sering mendengar alasan mengherankan. “Saya kan bukan manusia sempurna, saya tidak bisa menjalankan semua ajaran agama ini!” Cara berpikir seperti akan hancur hanya dengan satu kata yaitu, “ahsanu amala” (QS. Al Mulk ayat 2). Ada beberapa terjemahan ayat “Ayyukum ahsanu ‘amalaa” ini dengan “siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.” Terjemahan ini kurang tepat. Yang lebih tepat adalah “Siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.”

Ahsanu adalah “Ism Tafdhiil lil Muqooronah” yang tujuannya untuk perbandingan. Kata Ahsanu bukan “Af’alu Tafdhiil” karena “Mudhoof” . Kata Ahsanu di sini juga tidak menggunakan “Alim Laam Ta’riif”. Jika disebut, “Al-ahsanu ‘amalaa” seperti pada, “Bil-alkhsariina ‘amaalaa” maka baru bermakna paling (superlatif) sehingga artinya adalah terbaik. Jika tidak ada “alif Laam Ta’riif”, maka maknanya adalah perbandingan (komparatif) sehingga artinya adalah lebih baik.

Perbedaan penerjemahan ini membawa konsekuensi serius mengenai apa yang Allah inginkan atas kita. Sebab ada perbedaan antara “lebih baik” dan “terbaik“. Hanya mungkin ada satu saja yang terbaik, tidak mungkin ada dua orang yang terbaik. Sebab “Terbaik” berarti nomor satu. Padahal selalu akan ada orang yang lebih baik daripada kita.

Dari sisi individu saja kita tidak bisa mengatakan, “Akhirnya, saya menjadi yang terbaik yang saya bisa.” Karena mungkin besok kita bisa melakukan yang lebih baik lagi. Yang dapat kita katakan adalah, “Alhamdulillah, hari ini saya bekerja lebih baik.” Kalau kita bandingkan antarindividu, setiap orang berbeda ketika melakukan yang lebih baik. Ada yang melakukan lebih baik secara perlahan, yang lain bisa dengan cepat.

Sebagian ada yang bersedia memberi semua harta mereka demi Allah, sebagian orang lain hanya dapat memberi satu persen apa yang mereka miliki, dan itu tetap lebih baik daripada tidak ada. Tidak masalah.

Semua orang membuat kemajuan dengan jalan ceritanya masing-masing. Ini adalah hal yang indah dan rahmat yang Allah tetapkan dalam agama ini bahwa Allah tidak meminta kesempurnaan, tetapi perbaikan. Bukan melihat siapa yang terbaik, tetapi melihat siapa yang mengambil langkah untuk memperbaiki diri.

Disadur dari video penjelasan ustadz Nouman Ali Khan :”).

 

Harta Karun · Hikmah

Bertemu Mantan :P

Imam Ibn Katsir rahimahuLlah dalam tafsirnya mengabadikan keresahan ‘Urwah bin Zubair ketika membaca ayat ke 158 dari Surah Al Baqarah,

(إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ ۖ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا ۚ وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ)

“Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian syi‘ar (agama) Allah. Maka barangsiapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sa‘i antara keduanya. Dan barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui.”

“Kalau mengerjakan sa’i antara Shofa dan Marwa tidak ada dosa baginya, maka tidak mengerjakannya tentu lebih baik.”, begitu kira-kira yang difahami tabiin agung ini.

Beruntungnya, ummul mukminin ‘Aisyah radhiaLlahu ‘anha meluruskan pemahaman keponakannya itu dengan berkata, “Tidak begitu wahai putra saudariku -FYI: ‘Urwah adalah putranya Asma, dan Asma adalah tetehnya Aisyah-, dahulu orang Anshar sebelum masuk Islam memiliki berhala Manat diantara Shofa dan Marwa yang mereka jadikan untuk berdoa dan meminta. Hingga ketika syariat memerintahkan untuk sa’i antara kedua bukit itu, maka jiwa orang Anshar ini menjadi tak nyaman mengingat zaman jahiliyyahnya.”

Barulah ‘Urwah -kemudian sampai ke kita- memahami maksud ayat ini.

Rupanya kaum Anshar merasa tidak nyaman berada di tempat bekas peribadatannya dulu dan tempat bertemu dengan mantan sesembahannya dahulu :).

Maha Baik Allaah yang kemudian menghilangkan perasaan tidak nyaman itu dengan menegaskan dalam ayat Nya, “tidak ada dosa baginya”.

.

©zahrahbookstore.

Dear · Hikmah · KisahSahabat · reblog · Selftalk

Sungguh, jika Allah mengambil satu; maka Allah sisakan yang lebih banyak

Tersenyumlah, ada hikmah di dalamnya. Jangan sampai kau berputus asa..

…akan aku sematkan pada awal tulisan kali ini.

Jangan, kumohon jangan. Jangan menggerutu pada takdir dan ketetapan yang ditentukan oleh Ar-Rahman. Jangan menyimpan banyak pertanyaan, jangan membiarkan singkatnya kalimat tanya ‘kenapa?’ membuat imanmu goyah dan runtuh sebab merasa Allah memberikan ujian yang terlalu berat. Terlalu besar, dan terlalu rumit untuk akhirnya ditawakkal-kan.

Seberapapun kita akan dibuat berkali-kali jatuh, akan selalu ada kekuatan untuk bangkit jika Allah menjadi tempat yang dituju. Sebagaimanapun kita akan dibuat berurai-urai air mata, akan selalu ada setitik cahaya, untuk akhirnya menyapu dan menyirnakan badai kesedihan di dalam jiwa. Jika masih Allah, yang menjadi tempat kita memuarakan segala rasa.

Saudaraku, apapun yang sedang menimpamu hari ini.. kuyakin, kau kuat. Lebih kuat dari sekuat yang kau kira. Meski aku tak mengetahui, bagaimana kau sedang dibuat berdarah-darah, aku yakin, in syaa Allah, selagi iman itu masih terpancar dari balik dadamu, kau mampu. Dan kau akan berhasil melewatinya. Ingatlah, tentang apa yang Allah katakan,

“Kamu benar-benar akan diuji pada hartamu dan dirimu” (QS. Ali ‘Imran 186)

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ‘Inna lillahi wa inna illaaihi ra’jiun” (QS. Al baqarah 155-156)

Demikianlah..

“Seorang Mukmin pasti akan diuji pada harta, jiwa, anak dan keluarganya.”

Saudaraku, pernahkah kita mendengar kisah Urwah bin Az-Zubair dengan ujian yang Allah berikan kepadanya? Dan sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda,

“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dengan besarnya ujian. Sesungguhnya, apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Siapa yang ridha dengan ujian itu, maka ia akan mendapat keridhaan-Nya. Siapa yang membencinya maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya”

Tersebutlah, pada suatu hari seorang Khalifah dari bani Umayyah, Al-Walid bin Abdul Malik, mengundang Urwah bin Az-Zubair untuk mengunjungi istananya di Damaskus. Adalah sebagai wujud sapaan cinta, untaian hormat dari sang Khalifah. Urwah memenuhi undangan tersebut dengan menggandeng anak sulungnya.

Disaat Urwah berbincang-bincang pada majelis sang Khalifah, anak sulungnya diantarkan oleh pengawal untuk mengunjungi tempat dibagian istana mana pun yang dia suka. Hati anak sulungnya terpikat untuk melihat kuda-kuda khalifah. Dan,

‘Bughh!’

Seorang pengawal lari tergopoh-gopoh menghadap Khalifah juga Urwah,

“Wahai Khalifah, sesungguhnya telah terjadi begini dan begini,” Pengawal tersebut menceritakan detailnya, “dan sekarang, sang anak telah berpulang menghadap Allah Subhaanahu wa Ta’ala.”

Siapa yang mampu menduga? Ternyata dalam suka ria nya sang anak, salah seekor kuda menendangnya hingga terpelanting jatuh ketanah dan terinjak-injak oleh kuda yang sedang berlari di atasnya, dan saat itu juga, ia meninggal dunia. Dialah sang anak sulung Urwah bin Az-Zubair. Seorang anak kesayangan yang Urwah harapkan mampu menjadi penerus ilmunya. Maka mampukah kita membayangkan bagaimana reaksinya kala itu?

‘Urwah tersenyum dan ia berkata “Innalillahi wa inna illaaihi ra’jiun”

Maka saat itu juga Urwah sendiri yang turun keliang lahat untuk menguburkan anaknya. Setelah usai pemakaman, dalam dzikir dan ayat-ayat Al-Qur’an yang sedang ia jadikan permohonan agar Allah berikan kesabaran, tiba-tiba betisnya terasa begitu sakit yang luar biasa. Kakinya terserang penyakit langka yang memaksanya untuk harus diamputasi.

Berkatalah salah seorang ahli pengobatan kepercayaan Khalifah, “Ini harus diamputasi. Dan Wahai Imam, kami akan memberikanmu seteguk minuman yang memabukkan, agar sakit yang ditimbulkan takkan terasa olehmu.”

“Tidak” Jawab ‘Urwah, “Sungguh, aku tidak akan menggunakan sesuatu yang haram demi mendapatkan kesehatanku kembali. Dan aku tidak ingin salah satu bagian dari tubuhku hilang tanpa aku merasakan sakitnya. Ku serahkan semuanya kepada Allah.”

Maka setelah berapa tabib itu berunding, mereka memutuskan agar Khalifah memberikan beberapa orang untuk memegangi ‘Urwah ketika melakukan proses pemotongan kakinya yang manual.

Maa syaa Allah! Pemotongan kaki yang manual. Sekali lagi, manual.

Dengan cepat ‘Urwah berkata, “Aku tidak membutuhkannya, biarlah aku memalingkannya dengan dzikir dan tasbih ketika kalian memotongnya.”

Tak terbayang, bagaimana pedih dan perihnya daging yang dikupas tanpa bius sedikitpun. Tulang yang digergaji, dan darah yang terus mengucur darinya. Tak heran, beberapa kali ‘Urwah meringis kesakitan, “Hassi… Hassi..” katanya. Ia bermakna, suatu rasa sakit yang luar biasa terasa

Sesudah proses amputasi selesai, darah tak kunjung berhenti. Maka cara satu-satunya adalah dengan mencelupkannya pada minyak panas. ‘Urwah menyetujui. Saat kakinya dicelupkan kedalam minyak panas yang mendidih, ia menjerit, lalu pingsan, dan dikatakan bahwa ‘Urwah pingsan dalam waktu yang lama. Satu hari.

Hati ini rasanya mengerdil, sungguh.

Bagaimana, bagaimana jika kiranya ujian yang ‘Urwah hadapi menimpa seseorang diantara kita? Baru saja sesaat dia kehilangan anaknya, dia harus pula kehilangan kakinya dengan proses yang luarbiasa menyakitkannya. Disini, bukankah kita melihat, bagaimana kokoh jiwa haba yang beriman kepada-Nya? dan benarlah, bahwa Allah menguji hamba-hambaNya sesuai dengan kadar keimanannya. Cukuplah, ini sebagai bukti, betapa pancaran iman itu telah memenuhi seluruh penjuru ruang hati ‘Urwah bin Az-Zubair.

Sang Khalifah merasa kasihan dan ingin menghibur ‘Urwah. Namun ia bingung, ia tidak memiliki cara untuk menghiburnya. Namun cara Allah lebih menakjubkan, datanglah seorang lelaki buta kepada Khalifah, dan dia bercerita

“Wahai Amirul Mukminin!”, seru laki-laki buta tersebut, “dulu tidak ada seorang pun dari bani Abas yang lebih kaya dariku, lebih banyak anak-anak selain diriku. Aku tinggal disuatu lembah, dan banjir besar menerjang kaumku. Tak ada lagi hartaku, tak tersisa lagi anak-anakku kecuali hanya seorang bayi dan seekor unta.”

“Namun unta tersebut hendak melarikan diri, aku mengejarnya dan meninggalkan anakku. Maka kudengar teriakan bayi, ternyata anakku sudah berada di mulut serigala. Aku kembali hendak mengejarnya, namun sia-sia, serigala tersebut telah memakannya. Aku berbalik lagi, kukejar unta yang kabur, dan saat sudah dekat dengannya, salah satu kakinya menyepak wajahku. Hingga hancurlah keningku dan buta mataku.”

Sang Khalifah mendapatkan apa yang dia cari, Maha Baik Allah mengirim laki-laki untuk ‘Urwah. Sebab, ujiannya jauh lebih berat dari ‘Urwah. Diutuslah laki-laki tersebut kepada ‘Urwah untuk menceritakannya. Seusai ia bercerita, ‘Urwah berkata,

“Innalillahi wa inna illaaihi ra’jiun…”

Dalam do’anya, ‘Urwah berkata,

“Ya Allah, dulu aku memiliki empat anggota badan, dua tangan dan dua kaki. Lalu Engkau mengambil satu darinya dan Engkau menyisakan tiga darinya, maka segala puji bagi-Mu. Dulu aku memiliki empat orang putra, lalu Engkau mengambil salah satu darinya dan Engkau menyisakan tiga darinya, maka segala puji bagi-Mu.” isak ‘Urwah, “Demi Allah, seandainya Engkau mengambil, pasti Engkau menyisakan, dan seandainya Engkau memberi ujian pasti Engkau memberi kesembuhan.”

~

Inilah, ‘Urwah bin Az-Zubair. Inilah, kisah-kisah seorang hamba yang Allah berikan ujian hebat luarbiasa. Belum lagi, jika kita melihat ujian para Nabi.

Maka…. segala puji, hanya bagi Allah..

Inilah salah satu dari sekian rintik hujan yang Allah berikan, yang menyimpan berkah, menyimpan maksud dan tujuan.

Rasulullah ﷺ bersabda,

“Ujian itu akan selalu menimpa seorang hamba sampai Allah membiarkannya berjalan di atas bumi dengan tidak memiliki dosa.”

Dan cukuplah, segala ujian yang Allah berikan kepada kita menjadi sebaik-baiknya cara Allah membersihkan dosa-dosa kita. Sebab sungguh, apalah arti sakit di dunia jika dibandingkan dengan sakit di akhirat.. apalah arti tangis di dunia, jika dibandingkan dengan tangis karena siksa dan penyesalan di akhirat..

Mari, bukan lagi memfokuskan kepada apa yang telah hilang dan pergi. Melainkan, kepada apa yang masih Allah sisakan dari segala yang sudah tidak dimiliki. Betapa, betaaapa Allah Maha Baik. Dari sekian sakit yang mungkin bisa dihitung dengan hitungan jari, mampukah kita menghitung nikmat sehat yang sudah Allah beri? Mampukah kita mengkalkulasi, berapa banyak biaya oksigen yang Allah beri dari kita terlahir di muka bumi ini? Yakinkah.. kita merasa aman, jika tiba-tiba jantung ini bermasalah?

Maka bacalah, apa yang sudah tertulis pada judul tulisan kali ini.. :’)

–Ibn Sabil [quraners.tumblr.com]

—–

maasyaaLlaah :“)),

saya pertama kali membaca kisah ‘Urwah bin Zubair di buku Ibunda Para Ulama-nya Sufyan bin Fuad Baswedan :))

terberkahilah ‘Urwah yang dilahirkan dalam salahsatu keluarga yg istimewa 🙂

Ayahnya, Zubair bin Awwam adalah salahsatu dari sahabat yang dijamin Rasulullah sebagai penghuni Jannah-Nya 🙂

Ibunya adalah si Wanita pemilik dua ikatan, Asma binti Abu Bakar 🙂

Bibinya adalah ummul mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha 🙂

Kakeknya adalah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam :”))

apa yang ingin saya sampaikan? 🙂

bukan, bukan tentang keluarga shalih sudah pasti tentu melahirkan keturunan yang shalih. Belum pasti tentunya, karena sekelas nabi Adam, Nuh ‘alaihissalam saja, salahsatu anaknya memilih menjadi seorang yang ingkar :“(. Juga berlaku sebaliknya, dari seorang ayah yang pembuat dan penyembah berhala-lah Nabi Ibrahim dibesarkan, juga salahsatu sahabat mulia Abdullah bin Abdullah bin Ubay yang mengalir dalam dirinya darah dari Abdullah bin Ubay bin Salul, sang dedengkot kaum Munafik di Madinah saat itu.

iyah 🙂

ini semua tentang pilihan :), pilihan apa yang akan menemani kita dalam menjalani setiap kehendak yang ditetapkan-Nya untuk kita :”),

pilih untuk fokus yang ada, atau yang hilang? 🙂

Dear · Harta Karun · Hikmah · KisahParaNabi · reblog

Keluarga Imran

326
image from google

oleh Alifah Syamsiyah

Imran adalah satu diantara empat laki-laki role model yang disebut dalam Al-Qur’an: Adam, Nuh, keluarga Imran, dan keluarga Ibrahim.

Hmm sebentar, mengapa untuk Imran dan Ibrahim ditambahkan kata “keluarga”, tapi tidak bagi Adam dan Nuh? Itu karena di keluarga inti Adam dan Nuh, terdapat anggota keluarga yang tidak beriman kepada Allah.

Uniknya, Imran ini bukanlah nabi atau rasul, tapi Allah pilih namanya untuk diabadikan dalam Al-Quran. Ini membuktikan bahwa seharusnya tidak ada excuse bagi diri kita sehingga berkata, “Ah wajar saja dia kan nabi jadi bisa bla bla bla..” Memang nabi dan rasul adalah manusia pilihan Allah yang diberikan keistimewaan tertentu, tapi bukan berarti itu membuat kita inferior dalam berbuat kebaikan. Buktinya Allah telah memberikan satu contoh orang shalih yang bukan nabi dan juga rasul tapi masuk dalam manusia pilihanNya. Dialah Imran.

Bicara tentang keluarga Imran, tentu tak terlepas dari Maryam, putrinya. Saat mengandung, ibundanya Maryam yang tak lain adalah istri Imran ini pernah bernadzar bahwa anaknya akan ia didik untuk menjadi seorang yang mengabdikan dirinya kepada masjid. Ini menunjukkan betapa seorang ibu sudah mempersiapkan pendidikan bagi anaknya sedini mungkin. Ohya, kenapa ya nama istri Imran ini tidak pernah disebut? Ternyata hal ini menggambarkan bahwa kehebatan istri Imran dalam membesarkan anaknya tidak terlepas dari peran Imran dalam mendidik istrinya tersebut. Itulah kenapa disebut “istri Imran”, yang tidak lain untuk menunjukkan peran Imran dalam setiap kebaikan yang dilakukan istrinya.

Dalam keluarga ini juga dikenal nama Zakaria. Dialah paman Maryam yang juga terkait dengan proses pendidikan bagi Isa, putra Maryam. Zakaria banyak terlibat dalam proses pengurusan Isa. Pertanyaannya, mengapa bukan Imran? Beberapa ulama menyebutkan bahwa Imran sudah meninggal kala itu. Lagi-lagi ini menyiratkan hikmah bahwa peran keluarga besar itu juga berpengaruh pada proses tumbuh kembang seorang anak.

Semoga kita bisa belajar dan meneladani keluarga hebat ini, aamiin :”)

Dear · Hikmah · reblog

Untukmu…

oleh uda Shidiq.

“Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir’aun yang menyembunyikan imannya berkata: “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: Tuhanku ialah Allah padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu… ” (QS Ghafir: 28)

Kita fokus ke dua kata saja ya dari ayat ini, yaitu “menyembunyikan imannya” (يكتم إيمانه)

Di sini terdapat ilmu bagi kita bahwa yang disembunyikan itu tetaplah tampak bagi Allah

Sehingga, mengambil pelajaran dari ilmu di atas kita tidak perlu rasanya memperlihatkan kesolehan kita misalkan, saat sebenarnya di sana Allah sudah sangat tahu kita sedang beramal soleh

Terutama di jaman seperti ini di mana hampir segala aspek kehidupan kita sudah dapat di nikmati oleh orang lain di sosial media, godaan untuk menampakkan amal itu sangat besar

Ayat ini tentunya tidak sedang berbicara tentang anjuran menyembunyikan keimanan, ayat ini hanya menunjukkan bahwa begitulah kekuasaan Allah, Allah mengetahui hal yang disembunyikan oleh hati, “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Ghafir: 19)

Juga teruntukmu yang mungkin sedang lelah beramal dalam kesendirian, tidak ada orang yang mengapresiasi atau memuji, ingatlah bahwa Allah sangat tahu akan amalmu, sudah cukuplah Allah yang tahu 🙂

pict from Pinterest.