Harta Karun

#8 Mengenalmu: Menemanimu ke Medan Laga

tumblr_ohgo4byjvv1qcl4yko1_540

Serampai cerita menyampaikan rindu kepada Al Mustofa. Disadur dari kitab Asy Syamil Al Muhammadiyah karya Imam At Tirmidzi. Hanya sebatas interpretasi tekstual yang dituang dalam cerita dialog imaginer, bukan syarah ataupun ulasan ilmiah.

“Ayah, sebenarnya saat kecil dulu aku punya satu cita-cita sebelum aku berubah haluan dengan berkuliah di bidang kedokteran.” Ucapmu tiba-tiba kepadaku yang duduk di samping kasur tempatmu berbaring.
.
“Benarkah? apakah cita-cita masa kecilmu itu?” Tanyaku menimpalimu.
.
“Dulu aku bercita-cita menjadi tentara. Tapi dengan kehendak Allah seperti saat ini, aku merasa beruntung mengubah haluan cita-citaku. Kalau tidak, mungkin aku akan menyimpan kecewa atas takdir Allah.” Jawabmu menjelaskan.
.
“Memangnya apa yang salah dengan cita-cita masa kecilmu itu?” Tanya penasaran.
.
“Karena salah satu syarat menjadi tentara tentunya adalah mempunyai fisik yang sehat dan prima. Satu syarat yang susah kupenuhi dengan kondisi seperti saat ini. Lalu kemudian aku beralih dengan berkuliah di bidang kedokteran. Kalaupun tak sampai juga karena kondisi saat ini, aku tak meninggalkan sesuatu apapun untuk disesali. Makanya aku merasa beruntung Allah menggerakkan hatiku beralih cita-cita, sehingga aku tak terlalu susah menerima takdirNya ini.” Ucapmu menerangkan alasan.
.
Aku sejenak tertegun mendengar ucapanmu itu. Allah mengaruniakanmu menjadi anak tunggal dari pernikahanku dengan ibumu. Kemudian di usiamu yang baru setahun berkuliah, Allah menghendakimu mengidap penyakit. Kau menderita Leukemia Limfosit Kronis. Penyakit yang sebenarnya lebih sering menyerang usia diatas 50 tahun. Dan yang menjadi lebih ironis bagiku dan ibumu, adalah karena kau sedang berkuliah di bidang kedokteran. Kau ingin jadi dokter yang membantu mengobati orang lain, tapi Allah menakdirkanmu sering berbaring di ranjang rumah sakit. Hampir genap tiga tahun sejak kau mengidap penyakit ini. Tapi aku beruntung mempunyai anak sepertimu. Kau begitu sabar sejak pertama kali mengetahui kau mengidap penyakit ini. Aku hampir tak pernah mendengarmu mengeluh dengan kondisimu ini.
.
“Mengapa tidak. Kau tentu bisa menjadi tentara bahkan dengan kondisi saat ini.” Jawabku kemudian diiringi keheranan yang tampak di wajahmu yang pucat pasi.
.
“Maksud Ayah?” Tanyamu heran.
.
“Kau bisa menjadi tentara. Tapi tentaranya Allah. Allah tak pernah meminta syarat pada bentuk dan kondisi fisik seseorang untuk menjadi tentaraNya.” Jawabku menebus keherananmu.
.
“Tapi amalku juga tak bisa sebanyak mereka yang memiliki kondisi fisik lebih baik dariku.” Jawabmu seakan lesu.
.
“Kata siapa? Di luar sana banyak sekali orang yang berfisik prima tapi lalai dari Allah. Sedangkan kulihat kau tak pernah putus dengan dzikir, tilawah dan ibadah-ibadah lainnya di tiap waktu.” Jawabku mencegah rasa pesimismu.
.
Kau tertegun mendengarkanku. Sesaat kemudian bibirmu bergumam pelan mengucap istighfar. Aduhai beruntungnya aku mempunyai anak shalih sepertimu.
.
“Jadilah tentara Allah dalam kondisi apapun. Jadilah bagian kafilah yang bergerak di bawah panji Rasulullah. Semua tentara Allah itu tangguh dan pakaiannya gagah. Mereka berjalan dalam barisan yang dipimpin Rasulullah yang paling tangguh dan gagah diantara semuanya. Tak ada yang kecewa jika menjadi tentara Allah. Tentara Rasulullah.” ujarku dengan menatap lekat ke kedua matamu.
.
Mendengarnya, kulihat matamu nanar. “Ayah, ceritakan padaku kegagahan Rasulullah dengan perlengkapan perangnya seperti sering kau ceritakan saat aku kecil dulu. Aku ingin menghadirkan gambaran kegagahan Rasulullah di kepalaku sebelum tidur malam ini.” Ujarmu meminta.
.
Lantas kugenggam jemarimu dan membenarkan posisi dudukku.
.
“Rasulullah memiliki beberapa pedang. Setiap pedangnya memiliki nama. diantaranya adalah Al Mathur, ialah pedang yang diwarisi dari ayahnya Abdullah. Selain itu ada Al Adb, Al Battar, Qal’i dan Al Qadib. Dan yang paling terkenal dan legendaris adalah Dzulfikar, seperti namamu. Pedang dengan dua mata ini dibawa Rasulullah ketika memasuki Makkah saat peristiwa Fathul Makkah.” Ujarku bercerita.
.
“Gagang hulu pedang Rasulullah terbuat dari perak. Pedangnya adalah jenis hanafiyyah. Dibuat oleh Bani Hanifah, pembuat pedang yang paling bagus dan halus. Begitu bagusnya pedang Rasulullah, banyak sahabat meniru bentuk pedang Rasulullah. Diantaranya adalah sahabat Samurah bin Jundub. Ibnu Sirin seorang tabi’in bahkan membuat pedangnya mirip dengan kepunyaan sahabat Samurah bin Jundub karena Ibnu Sirin tahu pedang Samurah mirip dengan pedang Rasulullah.”
.
“Selain itu, baju-baju besi Rasulullah juga memiliki nama. Beliau memiliki tujuh baju besi. Diantaranya adalah Dzatul Fudul, baju besi yang digadaikan beliau kepada seorang Yahudi dengan tiga puluh sha’ bahan makanan untuk makanan keluarganya. Selain itu ada Dzatul Wishah, Dzatul Hawashi, As Sa’diyyah, Fiddah, Al Batra’, dan Al Khirniq. Beliau juga memiliki helm yang terbuat dari besi yang bernama Al Muwashah.” Lanjutku bercerita.
.
Kulihat matamu terpejam. Sepertinya kau sedang membayangkan Rasulullah di kepalamu melalui cerita yang kusampaikan. “Gagah sekali Rasulullah.” Ujarmu bergumam dengan tetap memejam mata.
.
“Anakku, tahukah kau ada baju besi yang lebih tangguh dari semua baju besi yang dimiliki Rasulullah itu?” Ujarku kemudian.
.
“Apakah itu?” Tanyamu ingin tahu.
.
“Bukan apa, tapi siapa. Dialah Thalhah bin Ubaidillah. Kepahlawanannya semerbak harum sepenjuru Gunung Uhud. Dia adalah baju besi yang melindungi Rasulullah di perang Uhud. Saat itu barisan pasukan Islam goyah tersebab ketidakdisiplinan regu pemanah. Pasukan musuh berhasil merangsek hingga hampir mendekati Rasulullah. Saat itu ada 11 prajurit Anshar dan Thalhah yang seorang Muhajirin. Mereka melingkar melindungi Rasulullah.” Ujarku bercerita.
.
“Lalu satu persatu prajurit Anshar gugur saat melindungi Rasulullah dari serangan musuh hingga tersisalah Thalhah satu-satunya yang berada dengan Rasulullah. Maka Thalhah pun memeluk Rasulullah dengan tangan kiri dan dadanya. Sedangkan tangan kanannya menebas-nebas serangan musuh dengan pedangnya. Sengit dan perih sekali serangan yang diterima Thalhah. Saat itu Rasulullah hendak naik keatas bukit untuk menyeru barisan pasukan muslim yang tergoyah karena kabar bahwa Rasulullah telah dibunuh. Tapi sulitnya keadaan saat itu, ditambah dua baju besi yang ia kenakan berlapis membuatnya terasa berat. Begitu susahnya hingga beliau terjatuh dan melukai wajahnya. Thalhah yang masih sibuk menghalau para musuh yang menyerang Rasulullah itu kemudian menggendong Rasulullah. Dia bawa Rasulullah ke puncak bukit. Kemudian ia kembali lagi bertarung dengan pasukan musuh.”
.
“Ketika Rasulullah berada di puncak bukit dengan selamat, Abu Bakar dan Abu Ubaidah yang berjarak agak jauh dari Rasulullah kemudian mendekati Rasulullah. “Tinggalkan aku, bantulah Thalhah!” Seru Rasulullah. Maka keduanya pun mencari Thalhah. Mereka menemukan thalhah terkulai diatas tanah, Badannya babak belur dengan lebih dari 80 luka di tubuhnya, dan jemarinya tangannya putus. Mereka berdua mengira Thalhah telah gugur. Tak lama kemudian Thalhah terbangun. Ternyata ia pingsan. Maka segeralah keduanya menolong Thalhah. Kepahlawanannya membuatnya mendapat julukan Asy Syahidul Hayy, Seorang syahid yang hidup. Rasulullah berkata, “Siapa ingin melihat orang berjalan di muka bumi setelah kematiannya, maka lihatlah Thalhah. Dan Wajib baginya surga.” Kepahlawanannya melegenda. Setiap kali para sahabat mengenang peristiwa Uhud, mereka berujar bahwa peperangan Uhud adalah milik Thalhah seluruhnya.“
.
“Itulah Thalhah. Perisai dan baju besi yang melindungi Rasulullah. Yang masih hidup namun telah bergelar syahid. Baginya, dijanjikan surga diantara 10 sahabat yang utama.” Ujarku mengakhiri cerita.
.
“Ayah, Aku ingin menjadi tentara Allah. Tentara Rasulullah. Seperti Thalhah yang menyerahkan seluruh tubuhnya terkoyak untuk melindungi Rasulullah.” Ucapmu sambil berlinangan air mata.
.
“Kau telah menjadi tentara Allah, Nak. Kau adalah tentara Allah.” Jawabku sendu sambil mencium keningmu. “Sekarang tidurlah. Bawa Rasulullah ke dalam mimpimu. Jadilah engkau perisai dan baju besi baginya.” Ujarku disambut senyum di sudut bibirmu.
.
Ditingkah gemericik hujan yang terdengar diantara jendela malam itu, kuajak ibumu mengambil wudhu. Di sudut kamar tempatmu tertidur diatas ranjang rumah sakit itu, kami mendirikan shalat. Kugenggam erat tangan ibumu yang duduk bersandar di sampingku seusai shalat. “Ya Allah, kuatkan kami.” Gumam ibumu lirih. Kurasakan air matanya membasahi pundakku. Aku dekap erat pundak ibumu. “Allah Maha Kuat, Nai. Allah Maha Kuat.” Ujarku masih mendekapnya.
.
“Diantara orang-orang Mukmin itu terdapat sejumlah laki-laki yang memenuhi janji-janji mereka terhadap Allah. Di antara mereka ada yang memberikan nyawanya, sebagian yang lain sedang menunggu gilirannya. Dan tak pernah mereka merubah pendiriannya sedikit pun juga!” (QS Al-Ahzab: 23)
.

 

source: muamarsalim.tumblr.com

Advertisements
Harta Karun

#7 Mengenalmu: Cincin di Jemarimu

tumblr_ohesqr3gs31qcl4yko1_1280

Serampai cerita menyampaikan rindu kepada Al Mustofa. Disadur dari kitab Asy Syamil Al Muhammadiyah karya Imam At Tirmidzi. Hanya sebatas interpretasi tekstual yang dituang dalam cerita dialog imaginer, bukan syarah ataupun ulasan ilmiah.

Aku sedang duduk di pelataran rumah kita membaca sebuah kitab berjudul Al Wafa, saat kau menghampiri dari dalam dengan membawa segelas susu hangat diatas nampan. Kau letakkan segelas susu itu diatas meja di hadapanku. Lantas kau duduk di sampingku. Kau silangkan tangan kirimu ke tangan kananku. Sambil menyandarkan kepalamu di pundakku, sesekali kau mengelus cincin perak di jari manisku.
.
Tak terasa sudah tiga bulan berlalu saat aku mengucap akad dengan ayahmu untuk menikahimu. Maharku tak banyak, tapi engkau ridha. Lalu cincin perak yang sama-sama kita pakai ini adalah hadiah untukmu atas pernikahan kita.
.
“Sejak kau membisikiku saat memasangkan cincin ini di jemariku, bahwa cincin Rasulullah juga terbuat dari perak, aku jadi sering mengingat Rasulullah saat memakai atau melihat cincin kita.” Ujarmu sambil mengelus cincin di jemariku.
.
Mendengar ucapanmu itu, aku hanya tersenyum dan menempelkan kepalaku ke kepalamu yang sedang bersandar di pundakku.
.
“Ceritakanlah lagi padaku tentang cincin Rasulullah. Aku suka mendengarmu bercerita tentang beliau.” Pintamu sambil sedikit mendongak kearah wajahku.
.
“Baiklah.” Jawabku mengiyakan sambil menutup kitab yang sedang kubaca. “Seperti cincin kita, cincin Rasulullah juga terbuat dari perak. Sedangkan permata pada mata cincinnya disebutkan berasal dari Abessinia.” Ujarku mulai bercerita.
.
“Beliau disebutkan memiliki dua cincin. Salah satu cincinnya berfungsi sebagai stempel resmi untuk mengirim surat ke raja-raja dan penguasa di luar Madinah. Saat itu Rasulullah hendak mengirim surat dakwah kepada penguasa-penguasa bangsa Ajam. Tetapi formalitas menghendaki surat yang diterima raja atau penguasa harus memiliki stempel, maka dibuatlah cincin yang difungsikan sebagai stempel untuk Rasulullah.” Ujarku panjang lebar menceritakan.
.
“Pada cincin itu terukir tulisan ‘Muhammad Rasulullah’ dalam tiga urutan baris. Beliau melarang sahabat untuk membuat cincin yang meniru miliknya agar dapat diketahui keaslian cincin tersebut. Kau tahu? cincin perak Rasulullah berwarna putih sekali. Seorang sahabat yang menceritakan tentangnya sampai begitu ingat betapa putihnya cincin itu di tangan Rasulullah.” Ujarku masih bercerita.
.
“Bagaiman cara Rasulullah memakai cincin?” Tanyamu kemudian.
.
“Ada riwayat yang menyebutkan beliau memakai di tangan kanan, dan ada pula yang menyebutkan di tangan kiri. Jika mengikuti kesesuaian adab sebagaimana dikaji Imam Ibnu Hajar, beliau menyimpulkan bahwa digunakan di tangan kanan untuk menampakkan keindahan, dan digunakan di tangan kiri jika berfungsi sebagai stempel. Begitu juga apakah mata cincin menghadap ke luar atau ke dalam. Apabila untuk menampakkan keindahan maka dihadapkan ke luar, sedangkan untuk melindungi dari kesombongan maka dihadapkan ke dalam. Beliau lebih suka memakai cincinnya di jemari paling kecil, kelingking atau jari manis.” Jawabku menjelaskan.
.
“Beliau juga melepaskan cincinnya ketika hendak memasuki kamar kecil. Ini sebagian adab yang diajarkan Rasulullah untuk tidak menyertakan lafadz ayat-ayat Al Qur’an dan lafadz nama Allah saat memasuki kamar kecil.” Ujarku melanjutkan.
.
“Saat ini, apakah cincin Rasulullah masih tersimpan?” Tanyamu.
.
“Sahabat Muaiqib adalah yang menjadi penyimpan cincin stempel Rasulullah sejak beliau masih hidup. Sepeninggal beliau, cincin itu masih digunakan oleh Amirul Mukminin Abu Bakar, Umar, hingga Utsman, radhiyallahu anhum. Di masa Utsman, saat beliau bertemu di dekat sumur Aris untuk mengembalikan cincin itu kepada sahabat Muaiqib, cincin itu jatuh ke dalam sumur Aris dan tidak bisa ditemukan. Sebagian ulama menyebutkan sejak saat itu mulai muncul kegaduhan dan fitnah di masyarakat.” Jawabku panjang lebar.
.
“Jadi cincin itu semacam menjadi isyarat tentang masa-masa yang terjadi sepeninggal Rasulullah.” Ujarmu menduga.
.
“Bisa jadi.” Sahutku. “Ah, terkait itu, aku jadi ingin menambahkan cerita kepadamu tentang cincin Rasulullah. Maukah kau mendengarkannya?” Tanyaku kemudian.
.
“Tentu saja. Ceritakanlah.” Sahutmu seketika.
.
“Bagiku, cincin Rasulullah seakan menyimpan rentang masa yang jauh melampaui usia beliau. Rentang masa yang telah ditakdirkan oleh Allah bermula dari cincin ini. Kau tahu cincin Rasulullah dibuat sebagai stempel untuk mengirim surat dakwah ke penguasa-penguasa di luar Madinah. Kisra penguasa Persia, Kaisar penguasa Romawi, dan Najasyi penguasa Abessinia adalah diantara penguasa yang Rasulullah kirimi surat dakwah.” Ujarku mulai bercerita.
.
“Kisra penguasa Persia itu menerima surat Rasulullah. Lalu keangkuhannya membuatnya menolak ajakan Rasulullah dan merobek surat tersebut. Mendengarnya Rasulullah pun berdoa semoga Allah merobek-robek kerajaannya. Maka terjadilah hal itu. Tak lama Kisra penguasa Persia dibunuh dengan keji oleh anaknya, dan selama bertahun-tahun kemudian kerajaan Persia dalam keadaan tidak stabil, penuh pemberontakan dan berganti-ganti penguasa.” Lanjutku menceritakan.
.
“Lalu Kaisar Heraklius penguasa Romawi. Ia menerima surat dakwah Rasulullah dan membacanya. Ia mentakzimi surat tersebut. Bahkan ia menghardik pamannya yang mencela surat tersebut karena tidak mendahulukan nama Heraklius sebelum nama Rasulullah. Heraklius pun menjawab pamannya, “Kau ingin aku membuang surat yang ditulis oleh orang yang didatangi Malaikat Jibril? Jika dia seorang utusan Allah, maka begitulah memang utusan Allah menulis surat!” Kemudian Ia mengumpulkan para menterinya dan dikabarkannya tentang seorang utusan Allah yang berasal dari Arab. Maka gusar dan marahlah para menterinya, yang menyebabkan kaisar mengurungkan niatnya untuk mengajak mereka memeluk Islam, karena takut akan dibunuh dan kekuasaannya dirampas. Ia lalu mencium surat dari Rasulullah itu dan menempelkannya di keningnya. Ia simpan surat itu dalam kotak emas dan balutan sutera. Ia dan generasi-generasi selanjutnya tetap menyimpan kotak emas berisi surat Rasulullah itu. Ia pernah berujar di hadapan kafilah Arab yang sedang berdagang di Syam, bahwa andaikan Rasulullah dihadapannya, ia akan membasuh kaki Rasulullah. Ia bahkan yakin suatu saat Islam yang dibawa Rasulullah akan mencapai wilayah kerajaannya. Kepadanya, Rasulullah berujar bahwa Kisra memilih merobek-robek kerajaannya, sedangkan Kaisar memilih untuk melindungi kerajaannya.“ Ujarku panjang lebar masih bercerita.
.
“Kemudian kepada Najasyi penguasa Abessinia. Surat itu diberikan kepadanya melalui sahabat Amr bin Umayyah Ad-Damri. Menerima surat itu dan membacanya, Najasyi menemukan kebenaran dalam surat Rasulullah. Dan persaksian Rasulullah bahwa Isa adalah utusan Allah semakin memantapkan keyakinannya. Maka ia pun masuk Islam dan mengumumkannya kepada khalayak. Kemudian Najasyi mengutus anaknya untuk membalas surat Rasulullah. Berangkatlah anaknya disertai rombongan 70 orang untuk bertemu Rasulullah. Namun kapal yang dinaiki mereka tenggelam di tengah lautan dan tak ada satupun dari mereka yang selamat. Raja Najasyi ini meninggal ketika Rasulullah masih hidup. Kepadanya, Rasulullah melakukan shalat jenazah setelah mendapat kabar kematiannya. Itulah diantara kisah di balik cincin Rasulullah.” Ujarku menyelesaikan cerita.
.
“Benar sekali apa yang kau katakan, Mas. Cincin Beliau menyimpan rentang masa yang begitu jauh dan panjang akan perjalanan dakwah Islam yang dibawanya.” Ujarmu setelah dengan seksama mendengarkan ceritaku.
.
“Begitulah. Cincin beliau menyimpan cerita kehancuran orang-orang yang angkuh seperti Kisra, tidak berdayanya isyarat hati yang diselimuti rasa malu dan ketakutan seperti Kaisar, serta bersemangatnya jiwa menyambut kebenaran dan kerelaan berkorban seperti Najasyi beserta anaknya.” Ujarku lagi.
.
“Benar sekali, Mas.” Sahutmu mengiyakan.
.
“Begitu juga cincin yang kita pakai ini.” Lanjutku lagi, diiringi kernyit heran di pelipismu mendengarnya.
.
“Memangnya, ada apa dengan cincin yang kita pakai?” Tanyamu heran.
.
“Aku berharap selain ia menjadi pengikat biduk rumah tangga kita, ia juga merentangkan masa melebihi umur kita kelak. Rentangan-rentangan berupa generasi yang melanjutkan perjalanan dakwah Nabi kita yang bermula dari cincinnya. Generasi yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah dan Rasul-Nya pun mencintai mereka. Begitulah aku memulai niatku saat meminangmu.” Ujarku sambil kembali menempelkan kepalaku ke kepalamu.
.
Mendengarnya kau tersenyum simpul dan merajuk lembut di pundakku. “Begitu pula niatku saat menerima pinanganmu.” Ujarmu sambil menggenggam jemariku.

 

source: muamarsalim.tumblr.com

Harta Karun

#6 Mengenalmu: Diantara Tapak Kakimu

tumblr_ohcwcfqkpl1qcl4yko1_1280

Serampai cerita menyampaikan rindu kepada Al Mustofa. Disadur dari kitab Asy Syamil Al Muhammadiyah karya Imam At Tirmidzi. Hanya sebatas interpretasi tekstual yang dituang dalam cerita dialog imaginer, bukan syarah ataupun ulasan ilmiah.

 

Aku ingat tentang suatu hadits yang pernah sama-sama kita dengar di majelis pengajian Tuan Guru. Saat itu kau dan aku masih mengkhidmat ilmu di sebuah madrasah di pelosok Tanah Sasak. “hadits yang mewariskan cinta,” ujarmu menjuluki hadits itu.
.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik secara marfu’, “Hendaklah kalian saling memberi hadiah, karena hal itu dapat mewariskan kecintaan dan menghilangkan kedengkian.”
.
Maka tersebab hadits ini para santri selalu merutinkan tradisi bertukar hadiah di madrasah setiap bermulanya bulan Ramadhan. Tak hanya itu, kita pun masih selalu menjaga kebiasaan ini setiap kali kita melakukan pertemuan. Karena serampung mengkhidmat ilmu di madrasah, kita berpisah tempat cukup jauh, maka pertemuan kita yang sesekali itu selalu kita langgengkan dengan hadiah.
.
Di Jogja, setelah menyelesaikan urusan-urusan di hari itu, aku menyempatkan diri mengunjungi gerai dagangan seorang shalih. Ia dan grup musiknya, dulunya idola anak-anak muda dan dewasa. Menghabiskan usia mudanya dalam dunia penuh gemerlap, ternyata Allah menakdirkan jalan cahaya kepadanya. Jadilah ia berhijrah menuju kebaikan yang diridhai Allah. Ia tanggalkan kegemerlapan masa lalu dan menyusuri jalan hijrahnya dalam kesederhanaan.
.
Di gerainya saat aku melihat replika sandal Rasulullah dan pin berbentuk alas sandal Rasulullah, tetiba saja aku teringat dirimu. Bagaimana tidak, belum lagi aku temui kawan yang sebesar engkau dalam mencintai Rasulullah. Kau habiskan malam-malammu di madrahsah dulu sebelum tidur dengan membaca kitab-kitab yang membahas sirah Rasulullah. “Aku ingin mengenali Rasulullah sekenal-kenalnya. Agar di padang Mahsyar nanti, aku bisa mengenalinya seketika tanpa harus menunggunya menyeru kepadaku untuk meneguk air dari telaga kautsar.” Ujarmu saat aku menanyai perihal kebiasaanmu kala itu.
.
Maka demi mengingati ‘hadits yang mewariskan cinta’ itu, tanpa berpikir dua kali aku beli sepasang replika sandal dan tiga buah pin alas sandal Rasulullah itu sebagai hadiah untukmu dan aku kirim ke alamat rumahmu. Aku ingin kita selalu mewarisi cinta meskipun tak berada di tempat yang sama. Lebih dari itu sebenarnya aku ingin mewarisi kecintaanmu yang begitu besar kepada baginda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
.
Saat itu selepas shalat Ashar dan aku masih duduk-duduk di pelataran masjid, ponselku berdering. Kulihat layar ponsel dan ternyata kau yang menghubungikan. Maka segera kuangkat ponsel untuk bersambung dengan suaramu.
.
“Terima kasih hadiah yang kau kirim telah sampai kepadaku dengan selamat.” Ucapmu selepas kita saling salam dan bertanya kabar.
.
“Apa kau suka?” Tanyaku penasaran.
.
“Tentu saja. Kau tahu, aku bahkan sempat melinangkan air mata saat membuka hadiah darimu. Kau membuatku teringat dengan obrolan-obrolan malam kita membahas Rasulullah saat di madrasah dulu.” Jawabmu yang membuatku lega.
.
“Ya, aku juga masih ingat saat-saat itu. Sandal itu bahkan secara spesifik mengingatkanku pada suatu malam kita berbincang membahas sandal Rasulullah. Kau sampai harus menggambar di papan tulis untuk membantuku mendapat gambaran yang jelas tentang sandal Rasulullah.” Ujarku mengenang masa-masa di madrasah dulu.
.
“Ya aku ingat sekali malam itu. Kau begitu antusias dan seksama mendengarkan penjelasanku akan bentuk sandal Rasulullah. Padahal malam itu sudah cukup larut dan telah lewat waktu bagi kita untuk tidur. Tapi karenamu melihatmu akupun berusaha menahan kantukku saat itu.” Sahutmu menyambung kenang-kenangan masa itu.
.
“Aku ingat begitu banyak hal kau ceritakan padaku hanya dari membahas sandal Rasulullah. Dari sandal Rasulullah saja aku mendapat berbagai pelajaran berharga tentang adab, akhlak, menjaga keselamatan, hingga qana’ah dan kezuhudan.” Ujarku melanjutkan.
.
“Ya, kau tahu, sandalnya memiliki dua tali pengikat, satu di antara ibu jari dan jari telunjuk, satu lagi di antara jari tengah dan jari manis kaki. Dan terbilang istimewa, karena saat masyarakat Arab suka memakai sandal yang berbulu, sandal Rasulullah tidak memiliki bulu. Persis seperti replika yang kau hadiahkan padaku.” Ujarmu.
.
“Benar. Sandalnya terbuat dari kulit hewan yang bagus, dibuat dengan baik. Bagian depannya melindungi jari-jari dari batu, jarum dan semisalnya. Bagian belakangnya juga dibuat sehingga bisa melindungi tumit beliau yang lunak. Beliau sangat memperhatikan keterjagaan diri sebagai bentuk mensyukuri nikmat Allah.” Lanjutku.
.
“Benar sekali. Suatu kali pernah saat saat Rasulullah hendak memasukkan kakinya ke sandal, seekor burung tiba-tiba datang dan menyergap sandal Rasulullah. Burung itu membawa terbang sandal Rasulullah kemudian dijatuhkannya, Ternyata ada seekor ular di dalam sandal itu yang kemudian keluar ketika sandal jatuh. Setelah itu Rasulullah selalu membiasakan dan mengingatkan para sahabat untuk mengibas sandal atau sepatu sebelum dipakai.” Sahutmu melanjutkanku.
.
“Beliau juga mengajarkan untuk berperilaku seimbang. Beliau tidak suka memakai sandal hanya sebelah saat berjalan. Satu kaki memakai sandal, satunya tidak beralas. Ini menunjukkan ketidakseimbangan yang bisa menyebabkan kerugian bagi diri sendiri. Selain hal itu menampakkan akhlak yang kurang baik. Apabila memakai sandal, maka pakai keduanya, atau tidak sama sekali. Begitulah yang beliau ajarkan, sebagaimana yang kau jelaskan padaku di malam itu.” Lanjutku.
.
“Iya, begitu juga saat memakai dan melepas sandal. Beliau memakai dengan memulai dari kaki kanan, dan ketika melepas memulai dari kaki kiri. Adab seperti ini juga berlaku terhadap setiap apa yang kita kenakan selain sandal.” Ujarmu menambahkan.
.
“Benar sekali. Beliau juga mencontohkan bagaimana adab saat membawa sandal. Beliau membawanya dengan tangan kiri, yaitu dengan jari kelingking yang mengait membawa sandal tersebut. Beruntunglah sahabat Abdullah ibnu Mas’ud yang mendapat kemuliaan sebagai pembawa sandal Rasulullah.” Ujarku kemudian.
.
“Aku jadi teringat, beberapa hari setelah malam itu kita berbincang tentang sandal Rasulullah, aku bermimpi. Dalam mimpiku, sekilas aku melihat tanganmu membawa salah satu sandal dan tanganku membawa satunya lagi, kita bersama-sama berjalan menuju arah yang sama. Jauh kuamati saat bermimpi itu, aku dapat memastikan sandal itu mirip dengan ciri-ciri sandal Rasulullah. Tapi mimpiku hanya sebatas itu, kemudian aku terbangun.” Ujarmu yang membuatku sedikit terperangah.
.
“Benarkah? Jangan-jangan…” Tanyaku mencoba meyakinkan.
.
“Ya, aku juga berharap seperti itu. Selepas bangun dari mimpi itu, aku sempat berdoa semoga Allah menjadikan aku dan dirimu sebagai pembawa sandal Rasulullah di akhirat kelak. Sebagaimana Abdullah ibnu Mas’ud yang mendapatkan kemuliaan itu di dunia.” Ujarmu dari balik ponsel yang seakan menghembuskan angin sejuk ke telingaku.
.
“Amiin ya Rabb.” Jawabku mengamini doamu.
.
Senyumku simpul setelah bertelepon denganmu sore itu. Lantas kupandangi langit sekitar yang cukup teduh. Pandanganku jauh ke depan. Mataku nanar. “Layakkah aku ya Rabb?” ujarku lirih.
.

source: muamarsalim.tumblr.com

Harta Karun

#5 Mengenalmu: Kain-Kain Pakaianmu

tumblr_oh7ce4kxiu1qcl4yko1_1280

Serampai cerita menyampaikan rindu kepada Al Mustofa. Disadur dari kitab Asy Syamil Al Muhammadiyah karya Imam At Tirmidzi. Hanya sebatas interpretasi tekstual yang dituang dalam cerita dialog imaginer, bukan syarah ataupun ulasan ilmiah.

 

Ahad itu pagi-pagi sekali kau mengajakku pergi ke pasar baju bekas. “Bantu aku mencari baju. Barangkali masih ada yang cukup layak kubeli. Biasanya awal bulan masih banyak yang bisa dipilih.” Ucapmu kala itu, sambil menaiki sepeda kita masing-masing.
.
Kau suka sekali pergi ke tiga tempat ‘bekas’. Pasar baju bekas, buku bekas, dan barang bekas. Dan sialnya kau selalu bisa mengajakku untuk menemanimu berpetualang di dunia bekas itu, atau mungkin lebih karena aku tak punya banyak alasan untuk menolak ajakanmu. Hingga aku sampai hafal, sebagian besar pakaian yang kau pakai berasal dari pasar baju bekas.
.
“Uwakku baru pulang dari melayar. Dia beri aku uang saku lumayan banyak. Kalau kau mau, aku ingin membelikanmu kaos baru. Di Ramayana mungkin? Sebagai terima-kasihku karena kau telah membantuku belajar di tingkat kelas kemarin. Akhirnya aku bisa dapat peringkat sepuluh besar untuk pertama kalinya.” Ujarku menyampaikan maksud.
.
“Ah tak perlu. Mmm, atau begini saja, kalau kau mau, bayarkan saja salah satu baju bekas yang aku beli sekiranya ada baju yang cocok nanti?” Jawabmu menawar sambil cekikikan.
.
“Tentu saja, ayo.” Sahutku sambil mempercepat kayuhan sepeda kita.
.
Sepanjang jalan aku mengingat-ingat kembali perbincangan kita di waktu silam. Saat aku menanyakan kenapa kau lebih suka membeli baju bekas padahal secara kemampuan orang tuamu kau bisa membeli yang lebih baik.
.
“Entahlah. Mungkin ini bermula saat aku kecil dulu.” Ujarmu menjawabku.
.
“Ceritakanlah.” Sahutku meminta.
.
“Saat kecil dulu, rezeki finansial ayahku tidak seperti saat ini, alhamdulillah.” Ujarmu memulai cerita.

Saat itu menjelang hari raya. Seperti biasa, setiap orang tua membelikan baju baru untuk anak mereka pakai di hari raya. Kau menunggu ayahmu pulang, berharap sore itu ia akan mengajakmu membeli baju baru.
.
Ayahmu pun pulang, dan setelah berada di kamarnya beberapa saat dengan ibumu, beliau keluar kamar dan mengajakmu membeli baju baru. Kau tampak sangat senang saat itu.
.
Ia memboncengmu dan ibumu dengan sepeda motornya. Kau di depan, ibumu di belakang. Kalian menuju toko baju di pusat kota. Ini pertama kalinya kau diajak langsung untuk membeli baju baru. Tahun-tahun yang lalu, Ayahmu selalu menghadiahkannya di rumah.
.
Setelah membeli baju barumu, kalian naik kembali ke kendaraan. Kau mengira kalian akan pulang. Ternyata ayahmu berbelok melawan arah jalan pulang. Kau pun mengira beliau menuju toko lain untuk membeli baju baru untuk ibumu dan dirinya. Sebagaimana tahun-tahun yang lalu, kau melihat mereka juga memakai baju baru di hari raya.
.
Ternyata dugaanmu salah lagi. Ayahmu membawa kendaraan menuju ke pasar yang tak jauh dari ruko-ruko di pusat kota. Pasar baju bekas. Kaupun jadi sedikit heran awalnya. Sesampainya disana kau bertanya kepada ayahmu perihal keherananmu.
.
“Ayah, apakah ayah sudah beli baju baru untuk ayah dan ibu?” Tanyamu.
.
“Iya nak, ini kita mau mencari baju baru untuk ayah dan ibu.” Jawabmu tenang. Kau pun semakin heran.
.
“Kok mencari disini? Bukankah ini pasar baju bekas?” Tanyamu masih keheranan.
.
“Iya benar, Nak. Kita cari, semoga ada baju yang cocok untuk ibu dan ayah.” Jawab ayahmu.
.
“Sebelum-sebelumnya, ayah dan ibu juga beli baju untuk hari raya di sini?” Tanyamu lagi. Ayah dan ibumu hanya tersenyum mendengar pertanyaanmu.
.
Ayahmu melihat wajahmu masih penuh dengan keheranan. Ia pun mengajakmu duduk di sebuah bangku. Sementara ibumu memilah-milah dan melihat-lihat pakaian demi pakaian yang terpajang dimana-mana.
.
“Kakekmu sering bercerita kepada ayah dan teman-teman ayah waktu kecil dulu di Surau setelah mengaji.” Ujar ayahmu memulai cerita setelah kita duduk di bangku.
.
“Cerita apa, Yah?” Tanyamu.
.
“Cerita tentang Rasulullah.” Jawab ayahmu. “Kakek menceritakan bahwa Rasulullah itu paling baik budinya. Paling rendah hati diantara kaumnya. Padahal beliau terkenal sebagai al-amin dan berasal dari keluarga yang terpandang diantara suku Quraisy. Apalagi setelah itu beliau diutus menjadi Rasulullah. Lengkap sudah kemuliaannya.” Lanjut ayahmu bercerita.
.
“Tapi Rasulullah dengan segala kemuliaannya tetap halus budinya. Tetap rendah hati dan tak pernah menonjolkan kesombongan atau kebanggaan. Sebagai seorang panutan dan tuntunan di kota Madinah, beliau menyukai memakai pakaian yang terbuat dari katun yang kasar. Baik dari gamisnya, pakaian atasan, sarung, atau kain selimut, kebanyakan terbuat dari bahan yang kasar dari Yaman atau Qatar.” Ujar ayahmu masih bercerita.
.
“Apakah Rasulullah tidak pernah berpakaian yang halus dan bagus?” Tanyamu kemudian.
.
“Pernah. Tapi hanya untuk keperluan-keperluan tertentu saja yang memang membutuhkan berpakaian yang bagus. Malah pakaian-pakaian bagusnya lebih sering digunakan untuk beribadah kepada Allah. Sedangkan kesehariannya memakai pakaian biasa dalam bergaul dengan umatnya.” Jawab ayahmu panjang lebar.
.
“Lalu kenapa ayah beli baju bekas. Bukannya saat hari raya kita perlu berpakaian bagus?” Tanyamu tidak puas.
.
“Baju bekas belum tentu tidak bagus, kan? Banyak baju bagus yang bisa ditemukan di tempat ini. Bahkan kamu tidak mengira kan kalau baju baru ayah dan ibu selama ini dibeli dari sini?” Jawab ayahmu dengan senyum.
.
“Rasulullah mengajarkan kita untuk rendah hati. Sedangkan berpakaian itu salah satu jalan masuk kesombongan. Terkadang manusia berpakaian untuk menyombongkan atau membanggakan diri. Karenanya Rasulullah ketika memakai pakaian akan berdoa seperti ini: Allahumma lakal hamdu kama kasautanihi, as’aluka khairahu wa kahira ma suni’a lahu wa a’udzubika min syarrihi wa syarri ma suni’a lahu. (Segala puji bagi Allah yang telah memberikanku pakaian ini. Aku meminta kepadaMu kebaikan pakaian ini, dan kebaikan yang disebabkannya, dan aku berlindung kepadamu dari keburukan pakaian ini dan keburukan yang disebabkannya).” Jawab ayahmu panjang lebar.
.
“Ayah ceritakan padaku lebih banyak tentang bagaimana Rasulullah berpakaian.” Tanyamu semakin penasaran tentang Rasulullah.
.
“Rasulullah suka memakai pakaian berbentuk gamis. Karena ia lebih mudah dikenakan dan tidak membebani tubuh. Beliau memiliki pakaian berwarna putih, merah, hijau, dan hitam. Dan warna putih adalah yang paling disukainya untuk berpakaian, karena lebih suci dan bersih. Beliau sering memakai surban imamah berwarna hitam, bahkan hingga khutbah terakhirnya. Ketika memakai pakaian warna merah, beliau akan terlihat sangat mempesona.” Cerita ayahmu panjang lebar.
.
“Beliau juga memiliki kain selimut berwarna hijau dan bercorak dari Yaman. Beliau menyelimuti tubuhnya saat keluar menuju masjid di saat kurang sehat. Caranya bersurban sangat khas. Beliau menyisakan ujung kain surban terjuntai di belakang, di pertengahan kedua bahunya. Sahabat banyak yang menirunya, seperti Abdullah bin Umar, bahkan anaknya pun menirunya juga. Begitulah membekasnya pesona Rasulullah di mata para sahabat”
.
“Beliau berpakaian dengan sangat proporsional. Lengan bajunya tidak terlalu pendek, tidak terlalu panjang, tepat sekitar pergelangan tangan. Begitu juga ketika memakai sarung, tidak melebihi mata kaki supaya terhindar dari najis. Beliau menasehati sahabatnya seperti itu agar terhindar dari najis fisik dan najis hati. Kesombongan adalah diantara najis hati. Orang-orang sombong dahulu identik dengan pakaian yang menjuntai dan terseret-seret. Begitulah Rasulullah mencontohkan umatnya berpakaian.” Ujar ayahmu mengakhiri ceritanya.
.
“Ayah, aku juga ingin berpakaian seperti Rasulullah, pakaian yang tidak membuat sombong dan tidak juga membuat hina.” Ujarmu bersemangat.
.
“Itu baik sekali, Nak. Ayah memang masih hanya mampu untuk membeli pakaian bekas. Tapi ingatlah Nak, bahkan di saat kau memiliki kemampuan yang lebih baik nanti, tetaplah rendah hati dan tidak berbangga diri. Membeli baju bekas memang bisa untuk melatih berrendah hati, tetapi yang terpenting kau harus menerapkannya di semua aspek kehidupan, tak hanya ketika berpakaian. Mengerti, Nak?” Tanya ayahmu memastikan.
.
“Mengerti, Yah.” Jawabmu mantap. Lalu ayahmu pun mengajakmu bangkit untuk menyusul ibumu yang masih sibuk memilah-milah pakaian.

“Begitulah ceritanya, yang awalnya hanya untuk latihan, aku malah jadi lebih suka membeli baju bekas.” Jawabmu mengakhiri cerita sambil menyengir kuda.
.
Akupun tersadar dari ingatan masa silam itu saat tak terasa kita sudah sampai di pasar baju bekas. Mengingat-ingat perbincangan silam itu, aku jadi merasa iri padamu. Iri pada kebiasaan ‘aneh’mu ini yang berangkat dari keinginan meniru Rasulullah. Aku bahkan masih sering lupa untuk berdoa seperti yang diajarkan Rasulullah saat memakai pakaian. Apakah aku berpakaian untuk berbangga diri? atau untuk mensyukuri nikmat Allah? aku bahkan tak bisa memastikannya.

 

source: muamarsalim.tumblr.com

Harta Karun

#4 Mengenalmu: Membelai Rambutmu (2)

tumblr_oh5fqiw5zg1qcl4yko1_1280

Serampai cerita menyampaikan rindu kepada Al Mustofa. Disadur dari kitab Asy Syamil Al Muhammadiyah karya Imam At Tirmidzi. Hanya sebatas interpretasi tekstual yang dituang dalam cerita dialog imaginer, bukan syarah ataupun ulasan ilmiah.

Di tempatku berdiri, di tepi selat Bosphorus yang memisah tanah Asia dan Eropa, angin berhembus ringan menerpa-nerpa kulitku. Mataku menyipit sesekali menahan deru angin. Sejauh pandangku hanya laut dan tanah Asia. Agak jauh di samping kiri berdiri gagah jembatan Sultan Mehmet. Menopang mobil-mobil yang bergerak melintasi benua. Aku sedang menunggu kawan Turki-ku. Ia berjanji mengantarku mengunjungi Museum Istana Topkapi, tempat peninggalan-peninggalan Kesultanan Utsmani tersimpan.
.
Kau tampak tenang bersandar di latar Surau menunggu waktu Ashar. Matamu terpejam, mulutmu bergumam-gumam. Apa yang sedang kau lantunkan itu? Hafalan Qur’anmu kah? Atau senandung Burdah? Atau kau sedang berwirid sore? Aku tak tahu pasti. Yang kutahu kau menyukai ketiganya, dan hampir selalu merutinkannya.
.
“trrr, trrr, trrr.” Ponselmu berdering. tentu saja, aku sedang meneleponmu dari dalam istana Topkapi. Melihat namaku di layar ponselmu, kau dengan sergap mengangkatnya.
.
“Assalamu’alaikum.” Ucapmu dari ujung ponselmu.
.
“Waalaikumussalam.” Jawabku.
.
“Disana jam berapa?” Tanyamu. Pertanyaan pertama yang selalu kau tanyakan tiap kali kita bertelepon. Entahlah, kau begitu antusias mengetahui perbedaan waktu antar tempat.
.
“Menjelang tengah hari, jam sebelas.” Jawabku sambil melirik jam tangan.
.
“Hmm.” Gumammu. Membuatku menyeringai heran.
.
“Bagaimana kabar ibumu?” Tanyaku penasaran setelah terakhir kali kita menyambung suara dan aku mengetahui kesehatannya sedang tidak baik.
.
“Alhamdulillah sudah jauh lebih baik. rasa pening di kepalanya sudah mulai berkurang.” Jawabmu.
.
“Aku sedang di Museum Istana Topkapi. dan tahukah kau apa yang sedang ada di hadapanku?” Ujarku membuatmu penasaran.
.
“Ah, sebentar, Istana Topkapi, ada apa saja disana ya? coba aku ingat-ingat.” Ujarmu sambil berpikir beberapa waktu. “Ah, rambut Rasulullah?” Ucapmu menebak.
.
“Yup, benar. di depanku ada rambut Rasulullah. Rambut dari janggut tepatnya.” Jawabku sambil memandangi sehelai rambut di dalam tabung bening berbingkai warna kuning keemasan.
.
“Kukira kau tidak terlalu antusias dengan barang-barang peninggalan seperti itu?” Tanyamu sedikit meledek.
.
“Ya sebenarnya seperti itu. Kau tahu kita besar di lingkungan dengan tradisi keilmuan yang berbeda. Karenanya aku tak terbiasa mengantusiasi hal-hal semacam ini. Tapi apa kau tak ingat perbincangan alot kita saat itu? Ya setidaknya setelah itu aku jadi paham tentang keistimewaan pribadi Rasulullah, mulai dari perbuatan sampai semua anggota fisiknya.” Jawabku.
.
“Ya aku tahu. Aku hanya menggodamu, kok. Aku tahu ketidak-antusiasanmu itu sama sekali tak mengurangi kecintaan dan kerinduanmu pada Rasulullah. Masih menyala kan, bara rindu itu?” Ujarmu bertanya.
.
“Masih. Masih menyala. Bahkan sepertinya semakin nyala dengan kedatanganku kesini dan berdiri di depan rambut Rasulullah. Entahlah, magis benar pesona kecintaan kita ini.” Jawabku.
.
“Ah, kau membuatku jadi iri padamu, bisa melihat langsung rambut Rasulullah.” Ujarmu iri.
.
“Aku ingat dalam perbincangan kita dulu, kau menceritakan kepadaku betapa istimewanya helai-helai rambut Rasulullah. Sampai orang-orang berebut mendapatkan barang sehelai rambut Rasulullah saat ia sedang bercukur di Mina ketika umrah. Beliau terkadang membagikan sendiri rambutnya kepada para shahabat, dan di lain waktu meminta Abu Thalhah Al Anshari untuk membagikannya.” Ujarku mengingat perbincangan yang telah lalu.
.
“Benar. Kau tentu ingat sahabat Khalid bin Walid, sang panglima perang kaum muslimin. Dia selalu menyimpan rambut Rasulullah di songkoknya saat berperang. Dia memiliki beberapa helai rambut Rasulullah bagian depan. Dia sengaja memilih helai-helai bagian depan, terlebih posisinya sebagai yang terdepan di medan perang.” Ujarmu melanjutkan.
.
“Ya. Bahkan pernah di perang Yarmuk, songkoknya jatuh entah dimana. Maka dia dan sebagian pasukan sibuk mencari songkok itu. Dan kita tahu, tidak ada perang yang berakhir kekalahan ketika dipimpin olehnya.” Lanjutku mengenang.
.
“Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal, ia memiliki tiga helai rambut. Biasa ia cium dan tempelkan pada matanya, atau dicelupkan ke dalam air untuk diminum. Begitu juga saat ia wafat, ia berwasiat untuk meletakkan dua helai pada matanya, dan sehelai lainnya pada mulutnya, dan dilaksanakan oleh anaknya.” Lanjutmu masih mengenang.
.
“Iya benar. Sebagaimana Ummu Salamah isteri Rasulullah. Manusia banyak berdatangan kepadanya dalam keadaan sakit. Lalu ia memberikan air minum dalam cawan yang didalamnya ada beberapa helai rambut Rasulullah untuk diminum oleh mereka yang sakit.” Lanjutku meneruskan.
.
“Ya, manusia berharap kesembuhan dari Allah dengan berwasilah melalui peninggalan Rasulullah yang penuh berkah.” Lanjutmu.
.
“Benar, selama mereka meyakini bahwa Allah adalah yang mendatangkan kesembuhan dan satu-satunya pemilik qudrah dan iradah, maka berwasilah dengan keberkahan Rasulullah adalah sesuatu yang dibenarkan. Begitu kau menjelaskan kepadaku dulu.” Ujarku selanjutnya.
.
“Hei, maukah kau membantuku? mungkin akan terasa sedikit aneh, tapi aku sangat berharap kau mau membantuku.” Pintamu kemudian.
.
“Tentu saja aku mau membantumu. Katakan saja.” Jawabku memastikan.
.
“Kita bisa melakukan video-call kan? Mari melakukannya. Aku ingin ibuku dapat melihat rambut Rasulullah secara langsung meskipun lewat layar ponsel. Aku berharap, meskipun tidak bisa menyentuhnya langsung, atau meminum air darinya, setidaknya dengan melihatnya langsung semoga Allah menyegerakan kesembuhan untuk Ibuku.” Pintamu menjelaskan.
.
“Tentu saja. Mari kita sambungkan.” Jawabku. Kau pun bergegas berlari pulang ke rumah menemui Ibumu yang sedang berbaring di kamar.
.
“Ibu, lihatlah ini, rambut Rasulullah.” Ujarmu pada Ibumu yang sedikit terkejut.
.
“Masya Allah, Allahu Akbar. Allahumma shalli alaihi wasallim.” Gumam ibumu seraya menyentuh layar ponselmu dengan jari-jarinya. Kau lihat air mata menggantung di sudut matanya. Kaupun nanar melihatnya dan tak lepas-lepas bershalawat di dalam hatimu. Aku di sudut lain pun tak kuasa menahan haru melihat dari balik layar ponselku.
.
“Ya Rabb, Engkaulah yang maha menyembuhkan setiap penyakit, maka atas kecintaan kami kepada kekasihmu Muhammad, berikanlah kesembuhan kepada kami, penyakit-penyakit fisik kami, penyakit-penyakit hati kami. Agar tersampailah salam kami kepadanya, agar tertuntaslah rindu kami mengecup keningnya. Engkaulah Ya Rabb, yang maha mengabulkan segala pinta.” Doaku dalam hati.
.
.
Catatan:
Di dalam Kitab Asy Syamail tidak dimuat riwayat-riwayat tentang keberkahan rambut Rasulullah. Saya sertakan disini karena menjadi bagian penting dari memahami tentang keberkahan rambut Rasulullah. Riwayat-riwayatnya diambil dari berbagai sumber hadits, atsar, dan aqwal yang berderajat kuat, seperti dari Shahih Bukhari & Muslim, Mu’jamul Kabir, Umdatul Qari, Siyar A’lam An Nubala, serta yang lainnya. Para ulama bersepakat tentang keberkahan rambut Rasulullah (seminimalnya oleh jumhur mayoritas). Semoga tambahan tulisan ini bisa membantu kita memahami keberkahan Rasulullah secara menyeluruh, bahwa Allah Azza wa Jalla memberkahi Rasulullah hingga ke ujung rambutnya dan apa-apa yang tertinggal darinya. Dengannya, semoga sempurna kecintaan dan kerinduan kita kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

 

source: muamarsalim.tumblr.com

Harta Karun

#3 Mengenalmu: Membelai Rambutmu

tumblr_oh3lbygndt1qcl4yko1_1280

Serampai cerita menyampaikan rindu kepada Al Mustofa. Disadur dari kitab Asy Syamil Al Muhammadiyah karya Imam At Tirmidzi. Hanya sebatas interpretasi tekstual yang dituang dalam cerita dialog imaginer, bukan syarah ataupun ulasan ilmiah.

Sejenak kau pandangi anak-anak bermain riang diantara ladang yang mengering agak jauh dari tempatmu. Sayup suara mereka sama sekali tak menganggu ketenanganmu. Kau duduk tenang diatas dipan di tengah ladang yang diteduhi atap anyaman bambu. Pandanganmu jauh, menyapu ladang-ladang yang kering selepas panen. Diujung sana tampak gunung bersentuhan dengan langit senja yang mulai kemuning.
.
Sesaat lalu angin berhembus halus dari kananmu. Menyibak rambutmu. Menembus diantara helai-helai, menukik-nukik menyentuhi kulit kepalamu. Tiba-tiba saja membawamu kembali kepada ingatan masa silam. Saat dirimu seusia anak-anak yang bermain riang agak jauh dari tempatmu itu.
.
Di kamar tidur yang tak jauh dari dapur itu, ibumu menyibak halus rambutmu. Kau telah amat rapi, dengan baju ‘taqwa’ yang halus, dan sarung setinggi lutut yang dipakai di luaran, khas anak-anak melayu. Sesaat lagi kau hendak menuju Surau, bersiap berarak dengan sebayamu dalam pawai mengingati kelahiran Rasulmu yang mulia.
.
Ibumu masih dengan halus menyibak rambutmu. Menyeka sisa-sisa air yang membasahi helai-helainya. Dengan senyum khasnya, serta mata yang berbinar memandang rambutmu.
.
“Kau tahu, Nak? Rambutmu mirip sekali dengan rambut Rasulullah.” Ujar ibumu dengan mata yang menatap teduh.
.
“Benarkah, Bu?” Tanyamu penasaran.
.
“Iya. Dulu Ato’mu sering menceritakan pada Ibu saat kecil dulu. Rasulullah memiliki rambut yang tak keriting, tak juga lurus layu. Seperti rambutmu ini.” Jawab Ibumu membuatmu mengembangkan senyum.
.
“Apakah panjangnya juga seperti punyaku, Bu?” Tanyamu semakin penasaran.
.
“Terkadang panjang rambutnya sampai pertengahan daun telinganya, dan pernah pula panjang mendekati bahu. Jadi panjang rambutmu pernah sama dengan panjang rambutnya, karena rambut Beliau pasti pernah seukuran rambutmu sebelum lebih panjang.” Jawabmu dengan sedikit tergelak bercanda.
.
“Berarti rambut Ibu tidak mirip Rasulullah karena terlalu panjang dan layu.” Jawabmu membalas. Mendengarnya, Ibumu lalu mencolek halus ujung hidungmu sambil tersenyum.
.
“Rasulullah menyisir rambut diawali dari kanan terlebih dulu. Semua pekerjaan baik ia mulai dari kanan. Jadi Nak, engkau juga mulakanlah hal-hal baik dari kanan.” Ujar Ibumu menasehatimu sambil mulai menyisir rambutmu dari kanan.
.
“Iya Bu, kak Ustadz di Surau juga sering mengingatkan. Kecuali masuk kamar mandi atau melepas pakaian dan semisalnya, Kan?” Tanyamu memastikan.
.
“Alhamdulillah anak Ibu sudah pandai.” Ujarnya bangga. “Dulu Rasulullah menyisir rambut ke arah belakang menyamai kebiasaan Ahlul Kitab. Tidak membelahnya ke samping seperti kebiasaan Kaum musyrikin saat itu. Beliau lebih senang meenyesuaikan diri dengan Ahlul Kitab dan menyelisihi kaum musyrikin. Hal itu beliau lakukan sebelum Allah juga memerintahkan untuk tidak menyerupai Ahlul Kitab. Sehingga Rasulmu dan agama Islam yang didakwahkannya memiliki wibawa dan karakter yang khas.” Lanjut Ibumu panjang lebar, dan kau termangut-mangut mendengarkannya.
.
“Bu, apakah rambut Rasulullah beruban?” Tanyamu melanjutkan.
.
“Rambut beliau beruban namun tak terlalu banyak, dan terkadang beliau menyemirnya dengan warna merah. Kau tahu mengapa gerangan sebagian rambut beliau beruban?” Jawab ibu dengan pertanyaan balik.
.
“Mmm, tidak tahu, Bu.” Jawabmu menyerah.
.
“Rambutnya beruban karena beban berat dari beberapa surah yang diwahyukan Allah kepadanya. Surah Hud, Al Waqi’ah, Al Mursalat, An Naba’, dan At Takwir benar-benar berat dipikul Rasulmu sehingga membuatnya beruban.” Jawab ibumu dengan nanar yang kau lihat di matanya saat mengucapkannya.
.
“Ya Allah, berat sekali beban tugas Rasulullah.” Ucapmu polos.
.
“Karenanya, jangan lepas untuk bershalawat kepadanya. Terutama nanti saat berjalan pawai, ucapkanlah shalawat kepadanya sepanjang perjalananmu. Sanggup?” Pinta ibumu.
.
“Iya Bu, insyaAllah saya akan banyak shalawat sepanjang jalan nanti. Shalawat seperti saat duduk tasyahud shalat, kan?” Jawabmu menyanggupi, diiringi anggukan kepala ibumu, tetap dengan senyum khasnya.
.
“Oh ya, Rasulullah juga suka memakai celak, lho. Kamu mau Ibu olesi celak punya Ibu?” Tanyanya menantang sambil memasangkan songkok hitam diatas kepalamu.
.
“Mmm, tidak dulu bu, belum berani. Takut kena mata.” Jawabmu kisut diiringi gelak halus ibumu.
.
“Baiklah, sekarang kamu sudah rapi. Saatnya pergi ke Surau bertemu teman-temanmu. Ajak mereka berbanyak-banyak shalawat kepada Rasulullah” Ujar ibumu sambil memegang kedua pundakmu. Kau pun mencium takzim tangan ibumu dan bergegas menuju Surau yang tak jauh dari rumahmu itu.
.
Sayup suara salah satu anak yang agak keras menyadarkanmu dari ingatan masa silammu. Angin sekali lagi berhembus halus membelai ujung-ujung rambutmu. Membuat matamu nanar menahan rasa-rasa yang berkelindan atas ingatan masa silam itu.
.
“Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad, wa ala ali sayyidina Muhammad. Kama shallaita ala sayyidina Ibrahim, wa ala ali sayyidina Ibrahim. Ya Allah aku bersore hari diatas kesucian Islam, diatas kalimat keikhlasan, diatas agama Nabiku Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan diatas jalan Bapak kami Ibrahim yang hanif.” Ucapmu lirih lalu bangkit berjalan pulang menyusuri pematang-pematang. Di ujung sana langit telah kemuning, dan matahari segera menuju peraduan.

 

source: muamarsalim.tumblr.com

 

Harta Karun

#2 Mengenalmu: Tanda di Punggungmu

tumblr_oh1ooiwjij1qcl4yko1_1280

Serampai cerita menyampaikan rindu kepada Al Mustofa. Disadur dari kitab Asy Syamil Al Muhammadiyah karya Imam At Tirmidzi. Hanya sebatas interpretasi tekstual yang dituang dalam cerita dialog imaginer, bukan syarah ataupun ulasan ilmiah.

 

“Setiap perkara memiliki penanda.” Ujarmu memecah hening di tengah gelap jalan kita pulang dari Surau.
.
“Seluruhnya?” Sahutku sambil tetap sibuk memperhatikan alas jalan yang kuterangi dengan petromak.
.
“Iya seluruhnya. Begitu juga tugas kenabian. Penandanya dimiliki oleh semua Nabi dan Rasul. Pun juga Muhammad (alaihissalatu wassalam). Dan penanda yang dimilikinya, sekaligus menjadi segel yang menutup tugas kenabian.” Lanjutmu panjang lebar.
.
“Ah, berarti tersebab itu Kyai Najih menyebutnya khatamun nubuwah.” Ujarku seketika menyadarinya
.
“Letaknya di antara kedua bahunya. Bentuknya seperti tonjolan pipih berwarna merah sebesar telur burung dara.” Ujarmu melanjutkan.
.
“Ada beberapa riwayat mengatakan ditengahnya tertulis sesuatu. Apa benar?” Tanyaku penasaran.
.
“Ya, itu masih diperselisihkan para periwayat. Tapi yang jelas, di sekitarnya dikelilingi bulu-bulu. Seorang sahabat pernah memijat punggungnya dan merasakan bulu-bulu itu.” Jawabmu.
.
“Tiap kali mengingat tanda kenabian, aku selalu mengingat sahabat Salman Al Farisi.” Ujarku sambil berbelok ke kanan mengikuti arah jalan.
.
“Tentu saja. Kisahnya dikenang manusia. Berlalu dari satu tempat ke tempat lain mengejar kebenaran. Bertahun-tahun lamanya.” Ucapmu mengiyakanku.
.
“Hatiku bergetar tiap kali mengingat kisahnya. Sambil menangis sesenggukan ia cium tanda kenabian di punggung Rasulullah setelah ia memastikan kebenaran tanda-tanda yang dipetuahkan guru terakhirnya sebelum meninggal. Penantian lamanya akhirnya telah sampai juga.” Lanjutku mengenangnya.
.
“Menurutmu, apakah kita masih akan mengimaninya, seandainya tak ada tanda di punggungnya?” Tanyamu sembari mengambil petromak dari tanganku.
.
“Tentu saja. kepadanya, kita beriman bukan karena satu tanda. Tapi seluruh kehidupannya adalah penanda. Akhlaknya, kesehariannya, bicara, duduk, dan diamnya.” Jawabku mantap.
.
“Kau benar. Aku ingat betapa pemurahnya ia membantu Salman bebas dari perbudakan dengan menanam sendiri 300 biji kurma yang tumbuh dan berbuah di tahun yang sama, serta memberinya 1600 dirham sebagai tebusan kemerdekaannya.” Ujarmu.
.
“Benar. Atau ketika salah seorang sahabat melihat tanda kenabian di punggungnya, sahabat itu kemudian memanjat doa memohonkan ampunan Allah kepadanya. Lalu ia pun membalas dengan doa yang sama kepada sahabat itu. Kecintaan kita ini senantiasa memintakan ampunan atas seluruh umatnya.” Lanjutku meneruskanmu.
.
“Bahkan di selingkung cerita tentang tanda kenabiannya, kita temukan bahwa penanda itu tak hanya satu. Bahkan setelah tanda di punggungnya itu sudah tak ada kini, penanda lainnya tetap menyebar di seluruh penjuru bumi.” Ujarmu memaknai.
.
“Hei, janjikan aku satu hal.” Ucapku kepadamu.
.
“Apakah itu?”
.
“Kalau kau menemuinya kelak dan aku tidak bersamamu, titipkan ciumku pada tanda di punggungnya. Sampaikan padanya aku pernah begitu merindukan bertemu dengannya.” Pintaku.
.
“Hmm, Maaf aku tak bisa. Tapi aku mau kita saling memegang janji untuk senantiasa saling menarik lengan apabila salah satu menjauh dari jalan yang mengantarkan pertemuan dengannya. Aku ingin kita bisa bersama-sama mencium tanda itu di punggungnya. Seperti Salman.” Jawabmu.
.
“Baiklah. Tolong bantu aku.” Ujarku pelan memandangi punggungmu yang berjalan di depanku.
.

source: muamarsalim.tumblr.com

Meracacacau · rumah

Mereka yang dirinya terpaut Masjid

Angkot KWK 25 merah sebenarnya bukan termasuk angkutan langka di wilayah timur Jakarta, apalagi di daerah Rawamangun. Salah satu angkutan umum favorit sebagian anak-anak SMA 36 sepertinya. Tapi entah kenapa angkutan ini menjadi cukup langka bila sudah mendekati daerah Pondok Kopi, dan menjadi sangat langka di daerah Stasiun Cakung. Padahal rute utama angkutan umum ini adalah Stasiun Cakung-Terminal Rawamangun (PP). Rute yang kurang potensial mungkin menurut abang-abang angkot 25, melihat trayek yang hampir mirip juga dimiliki angkot 26.

Siang itu saya berdiri cukup lama di depan RS. Islam Pondok Kopi menunggu KWK 25. Saya bisa saja menaiki angkot apapun yang melintas di jalan ini, dengan konsekuensi harus rela berjalan beberapa ratus meter meter dari turunnya ankot untuk sampai dirumah. Berbeda jika saya menaiki angkot 25, angkotnya akan berhenti pas di depan jalan masuk rumah. Biasanya saya tidak se’ngeyel’ ini sama diri saya, saya akan merela diri berjalan. Tapi tidak siang ini, saya mau menunggu angkot 25, kukuh saya dalam hati.

Bersiap menunggu KWK 25 di daerah Pondok Kopi sama dengan bersiap diri untuk mengeluarkan energy kesabaran yang berlebih. Lebay yes :P. Dengan perbandingan sekitar 20:1 dengan angkot 03 merah, atau 10:1 dengan angkot 20 dan 26 yang melintas di jalan raya yang sama :D.

Mu’adzhin masjid RS. Islam sudah mengumandangkan azan zuhurnya beberapa menit yang lalu, dan saya baru saja keluar dari sebuah minimarket ketika melihat angkot 25 kosong melintas di depan minimarket, yang secara otomatis saya langsung berlari sambil berteriak dan melambaikan tangan ke arah bapak supir angkot 25 “Pak!”. Si bapak supir angkot 25 melihat saya, namun beliau tidak menghentikan mobilnya. Beliau hanya melambatkan mobilnya, melihat saya sambil melambaikan salah satu tangannya dan kemudian beliau mengangkat kedua tangannya ke atas dan mendekapnya di dada -seperti gerakan takbiratul ihram saat akan memulai sholat-, beliau kemudian menganggukan kepalanya ke arah saya, seolah ingin mengatakan “maaf”.

aaaiih si bapak, bikin saya makin meleleh di bawah teriknya matahari siang itu :”).

Melihat jam di layar mobile phone. Saya putuskan, cukup. Saat ini, saya  tidak akan membuang waktu lagi untuk menunggu angkot 25 melintas di jalan ini yang begitu sangat unpredictable :P. Saya langsung mencegat angkot 03 yang pertama melintas di depan saya. Okeh tak apa berjalan lagi beberapa belas menit untuk sampai rumah. Walaupun telat, setidaknya tidak semakin telat untuk memenuhi panggilan-Nya.
And guess what?,
saat saya melewati masjid dekat rumah, di halaman masjidnya terparkir angkot 25 –___–
ndak sampai ngelirik di dalam masjid sih, ini angkot 25 yang tadi atau bukan, ada bapak angkot 25 yang tadi atau engga. Saya lebih ga siap kalo ternyata ini angkot 25 yang tadi dan ada bapaknya juga, haha :D. sudah terlanjur keringetan jalan kaki soalnya, heu :P.

===
Ada sebuah momen ketika saya masih sangat kecil, saat itu malam hari saya ingat. Ketika saya sedang akan memakan sesuatu, roti sepertinya. Di rotinya ada beberapa semut –tidak banyak, satu atau dua semut kayaknya- sedang asyik melintas mondar mandir di pemukaan roti yang akan saya makan. Spontan saya memberitahukan itu kepada ibu saya “ibu, di rotinya ada semut”, Ibu saya kemudian memerintahkan saya untuk mematikan lampu. Tanpa banyak bertanya dan tidak dipikirkan juga, saya menuruti perintah ibu untuk mematikan lampu. Setelah lampu mati, saya bertanya kepada ibu, dengan tangan yang masih memegang roti. “kok lampunya dimatiin bu? kenapa emang?”. Ibu saya mendekati saya, sambil berkata “nah lampunya udah mati, semutnya udah ndak ada, udah ga keliatan lagi kan, rotinya bisa dimakan”. Mendengar yang disampaikan ibu, saya hanya ber”oooh” yang disambut dengan tawa lepas beberapa orang keluarga yang sedang berkumpul di ruang tengah saat itu.

Sampai dengan saat ini, kejadian itu masih beberapa kali di ceritakan ulang oleh Ibu, bapak, kakak atau bulik saya yang menjadi saksi hidup kejadian itu. Dan parahnya selalu sukses membuat adik saya tertawa terpingkal-pingkal.

“Namanya Ridho Illahi”.
begitu yang ibu bilang ketika saya bertanya tentang seorang anak laki-laki yang sering sekali datang ke masjid, padahal rumahnya tidak berada di dekat lingkungan masjid. Saya sudah besar, dan saya menyakini diri saya bahwa saya tidak akan dengan mudah di’kerjai’ lagi oleh ibu saya. Maka saya tidak begitu saja mempercayai jawaban ibu saya. “kalo ga percaya tanya aja sendiri”, kata Ibu saya menguatkan jawabannya. Dan ini membuat saya semakin cenderung mempercayai jawaban beliau –__–.

Okeh kita panggil saja dia Ridho,
saya belum pernah banyak mengobrol dengannya,
dibanding dengan Abdu, Liza, Ani, Nurul, Adip dan Adnan –anak-anak yang sering bermain di masjid- dia paling banyak diam nya. Oh atau mungkin tidak diam, hanya saja memang tidak terlalu dekat dengan saya, saya beberapa kali melihatnya asyik berlarian berkejar-kejaran dengan temannya di masjid. Jadi Ridho tidak pendiam, hanya mungkin kami belum dekat :”). Jika anak-anak yang lain saya sudah tahu betul keluarganya, rumahnya yang mana, bapak-ibunya siapa, sekolahnya dimana dan kelas berapa, sedangkan Ridho, saya hanya tahu daerah tempat dia tinggal, tidak tahu persis bahkan.
Kata Ibu, Ridho rumahnya di RT sebelah, yang jaraknya lumayan untuk ‘sekedar’ datang 5-10 menit sholat di masjid daerah kami –padahal setahu saya di dekat daerah tempat tinggalnya juga terdapat musholla-. Usianya sekitaran anak kelas 5 atau 6 SD. Berbeda dari anak laki-laki biasanya yang ikut sholat di masjid, Ridho selalu berpakaian rapih dengan baju koko, sarung dan lengkap dengan peci nya. Tidak hanya hadir saat waktu sholat wajib tiba, Ridho juga bahkan sangat rajin ikut mengaji bareng dengan anak-anak yang lainnya selepas sholat maghrib sampai menjelang waktu azan Isya.

“iya si Ridho rajin bangat, kata bapak Ridho juga suka bantuin Pak Zul (bapak Zul adalah marbot/takmir masjid kami) bantu nyapu, pernah bantuin ngepel juga. Kadang juga suka azan, suaranya bagus” begitu kata Ibu. Saya mempercayainya :P. Setiap waktu mengaji seba’da sholat maghrib di masjid, saya beberapa kali dengan seksama mendengar Ridho membaca Al Qur’an. Selain Liza, Ridho juga adalah adik favorit saya, haha :D. Untuk anak seusia mereka, dan diluar lingkungan yang sangat islami lho yah (mereka juga sekolah di sekolah negri), bagi saya bisa membaca Al Qur’an dengan makhrojul huruf cukup dan tajwid yang benar itu kereen paraaah :”)). Jauh lah kalo dibandingkan saya diusia mereka dulu. Bangga sangat sama orangtua yang mengajarkan putra-putri nya Al Qur’an sedari kecil :”)). baarakaLlahu fiikum :”))

===

Ramdahan yang lalu cukup ada yang berbeda,
ada yang menemani Pak Zul tidur di masjid.
seorang bapak paruh baya dan seorang anak laki-laki kecil yang berusia sekitaran 8 atau 9 tahun.

jadi ceritanya,
kata bapak saya,
si bapak ini sedang berpisah sementara dengan istrinya,
sedangkan si anak laki-laki yang dibawanya adalah anak beliau dari istri yang sebelumnya,
*semoga mudeng yah 😛

Apa permasalahannya?
saya pribadi ndak tahu dan ndak mau tahu.
bapak saya juga tidak tahu dan tidak mau mencari tahu juga,
yang bapak tahu hanya bagaimana berupaya membujuk si bapak untuk tidak berlama-lama berpisah dengan istri dan keluarganya.

Bukan, bukan karena takut menyusahkan pihak masjid.
Justru kehadiran si bapak ini malah sangat membantu, hehe 😛
Saat Ramdhan, dimana setiap sorenya masjid akan selalu ramai dipenuhi oleh orang-orang yang akan berbuka puasa di masjid, kehadiran si bapak sangat membantu :”). Bapaknya juga baik hati sekali dengan rajinnnya selalu siap membantu menyiapkan makanan ta’jil dan membantu Pak Zul merapihkan dan membersihkan selatsar masjid yang dipakai untuk makan dan minum berbuka puasa. Si adik, anak laki-lakinya juga dengan sigapnya langsung membantu apa saja yang sedang dikerjakan ayahnya saat itu.

Tapi ini Ramadhan,
bulan istimewa, dimana kasih sayang Nya menyeruak ke seluruh semesta :”)

dimana setiap kelurga berkumpul bersama untuk makan sahur dan berbuka puasa :”))
bulan dimana, selain ingin berdekat-dekat dengan Sang Maha Pencipta juga sama inginnya untuk semakin erat dengan orang-orang terkasih.

Alhamdulillah,
mendekati malam-malam terakhir ramadhan,
si bapak dan anak-lakinya sudah berpamitan untuk meninggalkan masjid :”)
untuk kembali pulang ke keluarga dan rumahnya.

“kenapa bapaknya malah ke masjid ya pak?” tanya Ibu saya ke bapak saya, saat sedang membicarakan kehadiran si Bapak dan anak laki-lakinya di masjid.

“Alhamdulillah ibu perginya ke masjid, kan bisa sekalian ibadah mumpung bulan ramadhan” celetuk saya 😛

Teringat dengan salah satu sahabat yang mulia, Abu Turab panggilan kesukaannya. Ia memilih untuk segera menuju masjid seketika setelah pertengkaran rumah tangga dengan istrinya. Disana, ketika ia sedang bersandar pada dinding masjid Nabawi, Rasulullah mendatanginya dan mengusap debu yang ada di pundaknya kemudian beliau berkata, “duduklah duhai Abu Turab.” Semenjak inilah kemudian menantu Rasulullah, suami dari Fatimah binti Muhammad Rasulullah saw ini sangat senang bila dipanggil dengan panggilan Abu Turab.

===

Dan ada satu lagi,

beliau hanya seorang laki-laki biasa,
usianya sudah jauh melewati setengah abad,
kepalanya sudah hampir memutih tertutupi oleh uban,
rumah keduanya adalah masjid,
jika tak dijumpai di rumah, maka kemungkinan besar beliau ada di masjid sebelah rumahnya,

beliau yang selalu menyempatkan diri untuk ikut sholat berjama’ah di masjid, walau hujan deras sekalipun,
beliau yang bila tak kebagian turut bersama rombongan sholat jama’ah karena suatu uzur atau sebab,
maka ia akan tetap mendirikan sholat di masjid sebelah rumahnya, tidak dirumahnya, tapi di masjid walaupun sholat sendiri :”))
beliau yang lebih suka menghabiskan waktunya berlama-lama mengurusi masjid,
beliau, ayah saya :”))

===

seperti janjiNya,
dalam salah satu sabda yang pernah disampaikan oleh Rasul-Nya,
tentang golongan-golongan yang Allah berjanji akan memberikan naungan-Nya,
dihari dimana tidak ada yang dapat memberikan naungan kecuali naungan dari Nya,
“..dan mereka yang hatinya hatinya bergantung ke masjid..”

maka baarakaLlah :”))
bagi mereka (laki-laki) yang hatinya senantiasa terpaut di masjid yang kelak akan dapat merasakan kebenaran dari janji Nya :”))

Harta Karun

#1 Mengenalmu:Bersama Rupa Tubuhmu

tumblr_ogzlhgeijs1qcl4yko1_1280

Serampai cerita menyampaikan rindu kepada Al Mustofa. Disadur dari kitab Asy Syamil Al Muhammadiyah karya Imam At Tirmidzi. Hanya sebatas interpretasi tekstual yang dituang dalam cerita dialog imaginer, bukan syarah ataupun ulasan ilmiah.

 

“Tidakkah kau rindu kepadanya?” Tanyamu sambil merentang tangan menjaga keseimbangan berjalan diatas pematang.
.
“Rindu. Sangat rindu.” Jawabku sambil memandang keatas langit yang mulai berawan.
.
“Kau tahu? perawakannya tidak terlalu tinggi ataupun pendek. Tingginya sedang diantara kaumnya. Mungkin seperti kita diantara teman-teman sekolah.” Ujarmu membayangkan sosok yang sedang kita bicarakan itu. Membuatku tersenyum ringan.
.
“Ya. Rambutnya ikal, tidak keriting ataupun layu. Mungkin persis punyamu.” Sahutku. Kau pun menyibak rambutmu mendengarnya.
.
“Tapi rambutnya panjang sampai ke bahu. Bahunya pun bidang. Tidak gemuk ataupun kurus. Pasti tampak gagah kalau bisa dipandang langsung.” Ujarmu sambil melompati celah air antara dua petak sawah.
.
“Kau ingat teman kita Farid yang keturunan Arab itu, yang kulitnya putih kemerah-merahan? Mungkin kulitnya pun tak jauh dari itu.” Sahutku mengingatkan kepada seorang kawan.
.
“Ya aku ingat. Dagunya juga tak lancip, dengan wajah yang agak bundar. Matanya hitam pekat dengan bulu mata yang lentik. Pasti rupawan sekali wajah yang ia punya.” Lanjutmu sambil membelai daun-daun padi yang sudah cukup tinggi.
.
“Ya. Dia juga pemilik adab yang mulia. Jika berpaling, berpaling seluruh badannya. Perangainya lembut dan ramah dalam pergaulan.” Ujarku sambil memandang sekumpulan awan berarak pelan.
.
“Ya. Tuturnya lembut. Dengan gigi seri yang renggang, ketika ia bicara seakan keluar cahaya diantara gigi serinya. Hatinya juga paling pemurah diantara manusia.” Sahutmu sambil berdiam sesaat mengamati serangga yang hinggap di punggung tanganmu.
.
“Aku rasa orang yang pernah bertemu dengannya akan menaruh hormat padanya.” Ujarku yakin.
.
“Tentu saja. Mereka yang pernah berkumpul dengannya pasti akan mencintainya. Mereka akan selalu berujar bahwa belum pernah mereka menemukan orang seistimewa beliau. Sebelum atau sesudahnya.” Jawabmu mantap.
.
“Ya. Dia memang yang paling istimewa. Putra dari garis darah yang istimewa. Yang mewarisi pula kemiripan wajah dari moyangnya, sang penghulu garis darah paling istimewa.” Lanjutku sambil memetik sebutir biji padi paling kuning.
.
“Dia dan moyangnya Ibrahim. Menurutmu, apakah kita bisa berjumpa dengan keduanya?” Tanyamu tiba-tiba.
.
“Semoga.” Jawabku lirih.

 

source: muamarsalim.tumblr.com

review

TENTANG KAMU : Novel Tere Liye Rasa Dan Brown

tentang-kamu

 

Bismillah..

Tentang keberadaan buku ini, mungkin sudah bukan menjadi rahasia umum lagi bagi para penggemar novel di Indonesia, apalagi bagi pembaca setianya Bang Darwis yah :”)

Maka, karena saya bukanlah penggemar novel dan juga bukan pembaca setia karya-karya nya Bang Darwis, saya malah baru tahu kalau Bang Darwis menerbitkan novel terbarunya dengan judul “Tentang Kamu” justru saat saya memegang langsung bukunya untuk pertama kali :”).

Dan to be honest, ini adalah novel Tere Liye pertama saya :”)), bukan yang pertama dibaca tentunya. Ada beberapa judul novel Tere Liye yang juga sudah saya baca, dengan meminjam dari teman kost ataupun membaca gratis di Gramedia, haha 😀

Sebuah hadiah yang sangat menyenangkan dari salah satu sahabat kesayangan saya di sana :”), *walau pada awalnya yang bersangkutan sempet tidak mau mengakui perbuatannya 😛

Garis besarnya novel ini seperti buku biografi dari seorang wanita bernama Sri Ningsih. Di awal kisah kita mungkin tidak akan menduga bahwa sebagian besar cerita dalam buku ini akan banyak menceritakan tentang perjalanan hidup seorang Sri Ningsih, dari sebelum lahirnya sampai akhir hidupya di usia 70 tahun.

Apa yang istimewa dari seorang Sri Ningsih?

Diawal kisah hanya diceritakan Sri Ningsih merupakan salah satu penghuni panti jompo di daerah Quay d’Orsay, kota Paris, Prancis. Seorang wanita tua yang meninggal karena sakit diusia 70 tahun, tanpa diketahui siapa keluarga dan sanak saudaranya.

Tidak ada yang istimewa memang,
sampai diketahui bahwa wanita tua ini meninggalkan harta warisan yang tak sedikit. Satu miliyar poundsterling atau setara dengan 19 triliun rupiah.

Inilah yang menjadikan Zaman Zulkarnaen, seorang pemuda 30 tahun berkebangsaan Indonesia yang berkerja di sebuah firma hukum yang khusus menangani harta warisan di Belgrave Square, London, UK menyusuri satu persatu lembaran hidup Sri Ningsih. Demi menemukan ahli waris yang berhak menerima harta warisan senilai 19 triliun rupiah, jika tidak harta warisan ini akan jatuh ketangan Kerajaan Inggris.

Ternyata selain meninggalkan harta warisan yang istimewa jumlahnya, Sri Ningsih juga memiliki kisah hisup yang sungguh luar biasa istimewa.

Kisah hidup Sri Ningsih ditelusuri Zaman melalui buku diary Sri Ningsih. Sebuah buku catatan sederhana. Hanya ada sepuluh halaman yang berisi tulisan, dibagi menjadi lima bagian, dengan masing-masing bagian terdiri dari dua halaman. Dan tiap halamannya hanya berisikan satu dua paragraph pendek.

Melalui catatan yang ditulis oleh Sri Ningsih, kita akan dibawa pergi menggunakan mesin waktu flash back, mengulang kembali kisah hidupnya dari awal, dari tujuh puluh tahun silam. Bermula dari kisah ayahnya yang adalah seorang pelaut tangguh yang kemudian menetap di sebuah pulau yang mendapat gelar pulau terpadat di dunia, sebuah pulau yang jika dilihat dari atas pesawat, hanya akan terlihat deretan atap rumah panggung yang saling bertautan satu sama lain, sebuah pulau yang tak sedikitpun menyisakan lahan hijau walau sedikit, yang karenanya kambing-kambing disana bahkan terbiasa memakan koran karena sulitnya menemukan rumput untuk dimakan.

Sebuah pulau yang berjarak 70 kilometer arah barat dari kota Sumbawa. Pulau Bungin, nama pulau nya. Pulau Bungin, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Surprise! Saya baru tahu tentang Pulau Bungin ini untuk pertama kalinya :P, paraaah? Iyaa.

Berawal dari Pulau Bungin, ke Surakarta hingga Jakarta. Tiga daerah di Indonesia ini yang kemudian menjadi saksi bagaimana anak seorang pelaut yang yatim piatu sejak kecilnya tumbuh dan berkembang menjadi sosok wanita yang sangat cerdas, tangguh dan memiliki kesabaran tanpa batas. Kisah hidupnya tak hanya terbatas di Indonesia saja, perempuan yang kecilnya pernah dijuluki sebagai ‘anak yang dikutuk’, yang tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi ini bahkan di usianya yang menginjak 60 tahun, telah menggenapi perjalanannya mengelilingi dunia ke lima benua.

Kisah hidup Ibu Sri Ningsih memang sungguh luar biasa istimewanya. Jika kalian pernah membaca novel Api Tauhid, maka alur kisah di novel ini pun mirip-mirip dengan cara Kang Abik menyampaikan kisah hidup Said Nursi. Bedanya tentu, Said Nursi adalah tokoh nyata dan Sri Ningsih hanya tokoh fiktif.

Dengan latar belakang tahun 60an sampai 2000an yang menjadi latar kehidupan Sri Ningsih remaja hingga dewasa, dalam novel ini akan ditemui beberapa sisipan peristiwa besar yang terjadi diantara tahun ini, yang membawa dampak bagi kehidupan Sri Ningsih dan masyarakat Indonesia bahkan dunia. Tidak hanya peristiwa besar yang terjadi di Indonesia saja, seperti peristiwa pemberontakan PKI dan peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari) di tahun 1974. Awal tahun 2000 yang menjadi dimulainya millennia baru pun ternyata membawa guncangan yang cukup hebat bagi masyarakat dunia.

Dunia dihebohkan oleh peristiwa Y2K (Year 2 Kilo), masalah penanggalan computer dan millennium bug. Eror yang terjadi karena system penanda tahun computer di seluruh dunia sudah terlanjur di setting dengan dua digit akhir (dengan asusmsi dua digit awalnya 19), maka tahun 00 akan dianggap sama dengan tahun 1900. Dunia melakukan migrasi system penanda tahun besar-besaran, atau jika tidak system keuangan, perbankan, penerbangan, penggajian, keamanan, persenjataan, dan data-data penting lainnya akan menjadi kacau balau karena computer keliru mengenali tanggal. Dan yang paling mengkhawatirkan adalah system nuklir dan rudal akan mengalami gagal fungsi.

Pada judul tulisan ini saya mengatakan “Novel Tere Liye Rasa Dan Brown” :”), jujur ini yang pertama kali saya rasakan saat mulai membaca novel ini. Penuh misteri dan teka-teki. Seperti Profesor Langdon yang berusaha memecahkan teka-teki yang tersembunyi dari rangkaian tulisan pada Diagramma Galileo Galilei di Angel and Demond, maka seperti inilah Zaman berusaha menguak kisah hidup Sri Ningsih melalui buku diary, demi untuk menemukan jejak keluarga atau saudara yang berhak untuk diberikan warisan Sri Ningsih. Bukan perjalanan yang mudah tentu.

Dalam perjalanan Zaman membuka tabir kisah hidup Sri Ningsih inilah, pembaca dapat menemukan banyak serakan inspirasi dan hikmah yang bisa diambil dan dipelajari. Tentang makna kesabaran, persahabatan sejati, prasangka baik, bersyukur dan kerja keras pantang menyerah. Juga tentang betapa mahalnya harga sebuah hati yang selalu bersabar dan tak pernah diisi oleh prasangka buruk, baik itu kepada orang lain, terutama kepada Penciptanya. Juga tentang apa sebenarnya yang sungguh-sungguh kita inginkan, disaat-saat terakhir kita hidup di dunia ini?.

 

“aku tidak akan menangis sedih karena semuanya berakhir, aku akan tersenyum bahagia karena semua hal itu pernah terjadi”

 

Novel yang menarik!