Hikmah · reblog

Tentang Babi

pict from pinterest

oleh ust. Hafidin Ahmad Luthfie.

Allah swt mengharamkan babi dalam Al-Qur`an pada empat tempat saja. Dalam Surat Al-Baqoroh ayat 173, Surat Al-Maidah ayat 3, Surat Al-An’aam ayat 145, dan Surat An-Nahl ayat 115.

Ketika Allah swt mengharamkan babi dalam Al-Qur`an di Jazirah Arobiyyah saat itu tak ada sama sekali binatang tersebut.

Bangsa Arab di masa jahiliyah tak pernah satu kalipun menyebut babi dalam syair dan prosa mereka sebagaimana mereka menyebut binatang-binatang ternak yang lain.

Hal ini menunjukkan babi tak ditemukan di tengah lingkungan dan kehidupan mereka. Serta tak ditemukan dalam sejarah bangsa Arab sejak zaman Nabi Ibrahim as sampai Nabi Muhammad saw.

Satu-satunya kabilah Arab yang memelihara dan makan babi adalah Bani Taghlib sebuah puak (pecahan) dari Bani Bakar bin Wail keturunan dari Robi’ah. Kabilah ini beragama nashrani. Menurut para ahli tarikh awalnya mereka hidup di Jazirah Arobiyyah. Namun sejak abad ke 7 masehi mereka sudah migrasi ke Iraq.

Dan ketika Nabi Muhammad saw hijrah ke Yatsrib (“Madinah Munawwaroh”) di sana tak ada kabilah Arab yang memelihara dan makan babi. Bahkan kaum yahudi di Yatsrib pun tidak memelihara dan makan babi karena syariat mereka mengharamkannya.

Karena itu, sebagian ulama mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw belum pernah melihat binatang babi.

Menariknya Allah swt mengharamkan makan babi justru sejak fase dakwah Islam di Makkah. Sejak dini Islam sudah melarang dan mengharamkan babi. Surat An-Nahl dan Surat Al-An’aam yang diantara ayatnya melarang dan mengharamkan makan babi adalah surat makkiyyah; turun sebelum hijrah.

Mengapa diharamkan padahal di Makkah tak ada satu ekor pun babi? Mengapa diharamkan padahal tak ada orang quraiys yang makan babi? Sangat unik terdapat ayat makkiyyah yang bicara tentang tasyri’. Dan tasyri’ itu tentang larangan makan babi.

Menarik juga setelah hijrah ke Yatsrib Allah swt menguatkan larangan makan babi. Allah swt turunkan Surat Al-Baqoroh dan Surat Al-Maidah. Mengapa diharamkan makan babi sementara di Kota Yatsrib tak ada babi? Mengapa diharamkan sementara bangsa Arab dan bangsa yahudi di sana tak ada yang makan babi?.

Bangsa Arab tak makan babi karena syariat Nabi Ibrahim as mengharamkan babi. Ini adalah diantara syariat Nabi Ibrahim as yang masih dijaga bangsa Arab di masa jahiliyah.

Dan menarik juga semua ayat yang melarang dan mengharamkan babi justru sebelum ditaklukkannya Persia dan Romawi.

Inilah salah satu kemukjizatan Al-Qur`an. Al-Qur`an sesungguhnya ingin mengkhabarkan tentang kondisi babi di akhir zaman. Al-Qur`an sebenarnya tengah mengkhithob generasi umat Islam modern. Karena babi di masa kekuasaan dan kejayaan Islam tak dipelihara dan dijumpai serta dimanfaatkan kaum muslimin di negeri mereka. Namun justru sekarang babi adalah binatang yang termasuk paling besar populasinya di dunia. Dan produk industri yang berasal dari babi justru paling luas sebarannya dalam kehidupan manusia modern termasuk di tengah umat muslim.

Produk olahan makanan, minuman, kesehatan, kerumahtanggaan dll kebanyakan berasal atau bersinggungan dengan babi.

Babi ini bukan sekadar haram dimakan namun juga haram diperjualbelikan serta dimanfaatkan. Nabi Muhammad saw bersabda:

إن الله إذا حرم على قوم أكل شيء حرم عليهم ثمنه

Artinya: “Sesungguhnya Allah bila mengharamkan atas suatu kaum makan sesuatu Dia juga haramkan atas mereka harganya.”

Babi yang haram bukan hanya dagingnya. Al-Qur`an menyebut “daging babi” saja bukan berarti boleh konsumsi tulangnya, lemaknya, kulitnya, enzim-enzim serta zat-zat yang berasal dari organnya. Al-Qur`an bicara berdasarkan “aghlabiyyah” atau kebiasaan sebagian manusia di daerah tertentu. Biasanya yang diambil dari babi adalah dagingnya.

Dalam kaedah ilmu ushul fiqh dikatakan:

ذكر بعض أفراد العام بحكمه لا يخصصه

Artinya: “Menyebutkan sebagian satuan-satuan dari yang umum dengan hukumnya tidak berarti mengkhususkannya.”

Advertisements
challenge · reblog · they're said

Agar Menghafal Al Qur’an Terasa Nikmat

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

8 HAL AGAR MENGHAFAL AL-QUR’AN TERASA NIKMAT

Berikut ini adalah 8 hal yg insya Allah membuat kita merasa nikmat menghafal Al-Qur’an.

Tips ini kami dapatkan dari ust. Deden Makhyaruddin yang menghafal 30 juz dalam 19 hari (setoran) dan 56 hari untuk melancarkan.

Tapi uniknya, beliau mengajak kita untuk berlama-lama dalam menghafal.

Pernah beliau menerima telepon dari seseorang yang ingin memondokkan anaknya di pesantren beliau.

“ustadz.. menghafal di tempat antum itu berapa lama untuk bisa khatam??”

“SEUMUR HIDUP” jawab ust. Deden dengan santai.

Meski bingung, Ibu itu tanya lagi “targetnya ustadz???”

“targetnya HUSNUL KHOTIMAH, MATI DALAM KEADAAN PUNYA HAFALAN jawab ust. Deden.

“Mm.. kalo pencapaiannya ustadz???” Ibu itu terus bertanya.

“pencapaiannya adalah DEKAT DENGAN ALLAH kata ust. Deden.

Menggelitik, tapi sarat makna.
Prinsip beliau,

“CEPAT HAFAL itu datangnya dari ALLAH, sedangkan “INGIN CEPAT HAFAL (bisa jadi) datangnya dari hawa nafsu dan syaithan”

(Sebelum membaca lebih jauh, saya harap anda punya komitmen terlebih dahulu untuk meluangkan waktu 1 jam per hari khusus untuk qur’an. Kapanpun itu, yg penting durasi 1 jam)

Mau tahu lebih lanjut, yuk kita pelajari 8 prinsip dari beliau beserta sedikit penjelasan dari saya.

 

1. MENGHAFAL TIDAK HARUS HAFAL

wp-image-74904316.jpg

Allah memberi kemampuan menghafal dan mengingat yang berbeda-beda pada tiap orang.

Bahkan imam besar dalam ilmu qiroat, guru dari Hafs -yg mana bacaan kita merujuk pada riwayatnya- yaitu Imam Asim menghafal Al-Quran dalam kurun waktu 20 tahun.

Target menghafal kita bukanlah ‘ujung ayat’ tapi bagaimana kita menghabiskan waktu (durasi) yg sudah kita agendakan HANYA untuk menghafal.

 

2. BUKAN UNTUK DIBURU-BURU, BUKAN UNTUK DITUNDA-TUNDA

Kalau kita sudah menetapkan durasi, bahwa dari jam 6 sampe jam 7 adalah WAKTU KHUSUS untuk menghafal misalnya,

Maka berapapun ayat yang dapat kita hafal tidak jadi masalah.
Jangan buru-buru pindah ke ayat ke-2 jika ayat pertama belum benar-benar kita hafal.
Nikmati saja saat2 ini.. saat2 dimana kita bercengkrama dengan Allah.

1 jam lho.. untuk urusan duniawi 8 jam betah, hehe.
Toh 1 huruf 10 pahala bukan??

So jangan buru2…
Tapi ingat!
Juga bukan untuk ditunda-tunda.. habiskan saja durasi menghafal secara ‘PAS’

 

3. MENGHAFAL BUKAN UNTUK KHATAM, TAPI UNTUK SETIA BERSAMA QUR’AN.

Kondisi HATI yang tepat dalam menghafal adalah BERSYUKUR bukan BERSABAR.
Tapi kita sering mendengar kalimat “menghafal emang kudu sabar”, ya kan??
Sebenarnya gak salah, hanya kurang pas saja.

Kesannya ayat-ayat itu adalah sekarung batu di punggung kita, yang cepat-cepat kita pindahkan agar segera terbebas dari beban (khatam).

Bukankah di awal surat Thoha Allah berfirman bahwa Al-Qur’an diturunkan BUKAN SEBAGAI BEBAN.

Untuk apa khatam jika tidak pernah diulang??

Setialah bersama Al-Qur’an.

 

4. SENANG DIRINDUKAN AYAT

Ayat-ayat yang sudah kita baca berulang-ulang namun belum juga nyantol di memory, tu ayat sebenarnya lagi kangen sama kita.

Maka katakanlah pada ayat tersebut “I miss you too…” hehe.

Coba dibaca arti dan tafsirnya… bisa jadi tu ayat adalah ‘jawaban’ dari ‘pertanyaan’ kita. Jangan buru2 suntuk dan sumpek ketika gak hafal-hafal, senanglah jadi orang yang dirindukan ayat..

 

5. MENGHAFAL SESUAP-SESUAP

Nikmatnya suatu makanan itu terasa ketika kita sedang memakannya, bukan sebelum makan bukan pula setelahnya.

Nikmatnya menghafal adalah ketika membaca berulang2.

Dan besarnya suapan juga harus pas di volume mulut kita agar makan terasa nikmat.

Makan pake sendok teh gak nikmat karena terlalu sedikit, makan pake sendok nasi (entong) bikin muntah karena terlalu banyak.

Menghafalpun demikian.

Jika “amma yatasa alun” terlalu panjang, maka cukuplah “amma” diulang-ulang, jika terlalu pendek maka lanjutkanlah sampai “anin nabail adzim” kemudian diulang-ulang.

Sesuaikan dengan kemampuan ‘mengunyah’ masing-masing anda.

 

6. FOKUS PADA PERBEDAAN, ABAIKAN PERSAMAAN“

Fabi ayyi alaa’i rabbikuma tukadz dziban” jika kita hafal 1 ayat ini, 1 saja! maka sebenarnya kita sudah hafal 31 ayat dari 78 ayat yg ada di surat Ar-Rahman.

Sudah hampir separuh surat kita hafal.

Maka ayat ini dihafal satu kali saja, fokuslah pada ayat sesudahnya dan sebelumnya yang merangkai ayat tersebut.

 

7. MENGUTAMAKAN DURASI

Seperti yang dijelaskan di atas, komitmenlah pada DURASI bukan pada jumlah ayat yg akan dihafal.

Ibarat argo taxi, keadaan macet ataupun di tol dia berjalan dengan tempo yang tetap.

Serahkan 1 jam kita pada Allah.. syukur2 bisa lebih dari 1 jam.

1 jam itu gak sampe 5 persen dari total waktu kita dalam sehari…!!!
5 persen untuk qur’an.

 

8. PASTIKAN AYATNYA BERTAJWID

Cari guru yang bisa mengoreksi bacaan kita.

Bacaan tidak bertajwid yg ‘terlanjur’ kita hafal akan sulit dirubah/diperbaiki di kemudian hari (setelah kita tahu hukum bacaan yang sebenarnya).

Jangan dibiasakan otodidak untuk Al-Qur’an… dalam hal apapun yg berkaitan dengan Al-Qur’an; membaca, mempelajari, mentadabburi, apalagi mengambil hukum dari Al-Quran.

NB: setiap point dari 1 – 8 saling terkait…

Semoga bermanfaat, niat kami hanya ingin berbagi..
Mungkin ini bisa jadi solusi bagi teman-teman yang merasa tertekan, bosan, bahkan capek dalam menghafal.

Kami yakin ada yg tidak setuju dengan uraian di atas, pro-kontra hal yg wajar karena setiap kepala punya pikiran dan setiap hati punya perasaan.

Oh ya, bagi penghafal pemula jangan lama2 berkutat dalam mencari2 metode menghafal yang cocok dan pas, dewasa ini banyak buku ataupun modul tentang menghafal Al-Qur’an dengan beragam judulnya yg marketable.

Percayalah..
1 metode itu untuk 1 orang, si A cocok dengan metode X, belum tentu demikian dengan si B, karena si B cocok dengan metode Y.

Dan yakini sepenuhnya dalam hati bahwa menghafal itu PENELADANAN PADA SUNNAH NABI …!!! BUKAN PENERAPAN PADA SUATU METODE

Satu lagi.. seringkali teman kita menakut-nakuti “jangan ngafal.. awas lho, kalo lupa dosa besar”.. hey, yg dosa itu MELUPAKAN, bukan LUPA. !!!!!!!!!

Imam masjidil Harom pernah lupa sehingga dia salah ketika membaca ayat, apakah dia berdosa besar???

Oke ya…
Semoga kita masuk syurga dengan jalan MENGHAFAL & Meng’AMAL Al-Qur’an.
Amiin…
selamat menghafal…

 

Dear · Hikmah · reblog

Am I Left Behind

oleh Yasir Mukhtar

Ada sebuah penyakit, saya tidak tahu nama resminya. Tapi kita namakan saja “Sindrom Ketinggalan Balapan”. Indikasinya begini:

• Kamu sedang belajar atau meniti karir, tapi have no idea kamu mau jadi seperti apa di ujungnya nanti.

• Kamu ngeliat figur-figur hebat di bidang kamu. Di satu sisi kamu jadi bersemangat, di sisi lain kamu jadioverwhelmed karena ngerasa banyak banget hal yang mesti kamu pelajari untuk berada pada posisi seperti mereka.

• Efek lainnya juga, mungkin kamu jadi ngerasa ketinggalan, atau bahkan ngerasa udah salah jalan selama ini.

• Lalu kamu ngerasa tahun-tahun yang sudah kamu lalui kamu habiskan begitu saja, agak sia-sia. Kesal dan menyesal rasanya.

• Terlebih, kalau figur yang kamu lihat adalah teman sebaya kamu. Ada yang udah sampai di sana, ada yang udah jadi ini, ada yang sudah menghasilkan itu. Rasanya pengen mencet tombol restart hidup–andai saja ada.

Apa yang mesti dipikirkan-dilakukan dalam kondisi begitu?

Penanganan pertama: “Ingat, hakikat yang paling hakiki tentang hidup, bahwa kita semua akan mati, lalu semua cita-cita, pencapaian, karir–betapapun cemerlangnya, akan berakhir. Tutup buku. Apa yang penting adalah amal yang kita niatkan, persembahkan, untuk Sang Pencipta.

Penganan kedua: “Ingat, semua orang berproses. Semua yang ada di puncak pernah mendaki dari bawah. Jika kita masih di bawah, santai aja. Panik tidak akan membuat kita tiba-tiba berada di puncak. Tenang. Terus bejalan, selangkah demi selangkah. Lakukan sekecil apapun upaya kamu untuk menjadi versi lebih baik dari diri kamu, setiap hari, setiap waktu.”

Penanganan ketiga: “Ingat, hidup bukan balapan. Yang lebih dahulu menjadi hebat tidak membuatnya superior secara permanen dibanding kita; suatu saat kita bisa melampauinya. Terlebih, yang di mata kita sudah hebat, barangkali payah dan berantakan dalam sekian aspek–yang mungkin kita baik di sana. Kasih sayang keluarga, pertemanan yang berkualitas, ibadah yang khusyu’–banyak sekali hal yang matters dalam hidup yang tidak perlu syarat untuk memilikinya.

Oke, sementara segitu dulu.

Tarik nafaaas, hembuskan. Ayo kita jalan lagi, selangkah demi selangkah.

It does not matter how slowly you go as long as you do not stop.

Bismillah.

Hikmah · reblog · they're said

Tentang Obrolan Kita

Oleh Edgar Hamas

Betapa sahajanya lelaki itu, setelah dua tahun sebelumnya adalah lelaki paling hitam harum rambutnya, menjadi paling sederhana sisirannya. Yang tadinya bajunya menjuntai berhias pernak-pernik China, di akhir hidupnya menjadi seorang dengan banyak tambalan di jubahnya. Ia, telah mengubah kerajaan duniawi yang timurnya di pegunungan India dan baratnya di Atlantik, menjadi negeri langit yang membentang di duapertiga bumi. Dialah Sang Umar bin Abdul Aziz.

Dalam dua tahun, Khalifah Umar mengubah Kerajaan Bani Umayyah yang penuh hutang dan kerusuhan, tersulut pemberontakan dan ketimpangan, menjadi negeri berkah yang tak ada penerima zakat. Bukan karena tak ada zakat, tapi karena tidak ada lagi yang masuk kriteria penerimanya. Semua telah berkecukupan! Apa caranya?

Di awal pemerintahannya, orang-orang seringkali bertemu dan berdiskusi santai tentang, “bagaimana rumahmu, apakah telah kau tinggikan?”, “bagaimana kendaramu, sudahkah kau hias dia?” “Bagaimana istrimu, sudah kau beli perhiasan baru untuknya?”

Maka Umar bin Abdul Aziz memulai sebuah obrolan baru dengan pejabat-pejabatnya. Ia biasakan untuk menemui manusia dan bertanya, “bagaimana malammu, kau isi dengan tahajjud?”, “bagaimana hartamu, sudah kau zakatkan?”, “bagaimana puasamu sunnahmu, masihkah istiqomah?”

Umar ini, dikenal mudah sekali bergaul dengan rakyatnya. Kehidupannya dan gaya kesehariannya ditiru oleh banyak orang, bahkan gaya berjalannya hingga hari ini ditiru dengan gaya “Al Masyu Al Umari”. Maka, tren baru obrolan itu segera menyebar di setiap kalangan; priyayinya sampai jelatanya, intelektualnya sampai awamnya.

Dan efek dari bahasan obrolan itu, lahirlah komunitas masyarakat yang orientasinya bukan lagi apa yang ada di atas bumi, namun apa yang terjanjikan di alam langit. Bukan lagi mendapat materi, tapi bagaimana menjadikan materi sebagai mesiu untuk melesat ke alam surgawi.

Obrolan kita sehari-hari menentukan kualitas kita. Kita bicara apa, berdiskusi apa, berkomentar tentang apa, semuanya adalah bias dari apa yang sebenarnya menjadi pusat perhatian kita dalam hidup ini. Maka, coba lihat ke belakang, sebenarnya apa perhatian terbesar kita? Lihat aja obrolannya.

Meracacacau

Bekerja di Hari Sabtu

“Pada mulanya agama yahudi adalah agama Tauhid yang diturunkan Allaah kepada Bani Israil untuk memuliakan mereka diantara kaum-kaum lainnya yang satu masa dengan mereka. Namun mereka melakukan penyimpangan dan mencampuradukkannya dengan paganisme. Kitab Taurat diwarnai dengan ungkapan yang tidak pantas untuk Allaah. Misalnya, mereka mengatakan Allaah merasa kelelahan pada hari ke-enam setelah menciptakan alam raya. Maka, Dia pun beristirahat pada hari ketujuh (Sab’a/ Sabtu). Inilah mengapa bangsa Yahudi mengharamkan diri untuk bekerja dihari Sabtu

— The Great Story of Muhammad page 40-41
.
.
.
Kesimpulan ngasal nya,
maka berbahagialah bagi mereka-mereka yang dihari Sabtu masih bekerja atau melakukan ragam aktifitas. Karena ini salah satu bentuk upaya untuk menyelisihi keyakinan dan kebiasaan kaum yahudi. hihihi:P

#kesimpulantidakshohih:P
#ngebahagiaindirisendiri:D

Harta Karun · Hikmah

Matematika, Mukjizat yang Kita Telantarkan

4d80ca69458c323ff53fd4b26f7f02bd
image from Pinterest

Oleh: Habiburrahman El Shirazy (Sastrawan Nasional)

Ada guyonan di kalangan pesantren. Ilmu matematika, ilmu fisika, ilmu biologi, dan sejenisnya itu tidak begitu penting, sebab kelak di alam kubur tidak ditanyakan oleh malaikat Munkar dan Nakir. Justru ilmu nahwu itu sangat penting. Sebab, konon, Imam Sibawaih—seorang ulama besar pakar ilmu Nahwu—ketika wafat di alam kubur dia ditanya oleh malaikat, “Man Rabbuka?” (Siapa Tuhanmu?). Dengan tenang, Imam Sibawaih gantian bertanya, “Kata ‘Man’ dalam kalimat ‘Man Rabbuka?’ Itu kedudukannya mubtada` apa khabar? Itu isim apa fi`il? Mubtada`, khabar, isim, fi`il adalah istilah-istilah dalam ilmu nahwu.

Terang saja, kedua malaikat itu pucat tidak bisa menjawab sebab malaikat hanya tahu apa yang diajarkan oleh Tuhan saja. Malaikat itu lalu pergi menemui Tuhan dan menanyakan perihal yang ditanya oleh Imam Sibawaih. Tuhan lalu memerintahkan agar Imam Sibawaih tidak usah ditanya-tanya lagi. Alhasil, Imam Sibawaih lolos dengan gemilang dari pertanyaan malaikat di alam kubur.

Itu sekadar ilustrasi, betapa “agung” ilmu alat di pesantren tempat saya belajar saat itu. Sejak itu fokus perhatian saya bergeser. Yang asalnya sangat suka matematika, kini saya sangat suka ilmu alat. Saya berlomba dengan teman satu kamar di pesantren untuk banyak-banyakan hafalan bait-bait Alfiyah Ibnu Malik. Matematika jadi telantar. Dan, itu berlanjut hingga masuk madrasah aliyah, dan bahkan hingga masuk kuliah di Al Azhar University.

Barulah ketika masuk di Al Azhar University Cairo, meskipun di Jurusan Hadis, kesadaran pentingnya ilmu matematika itu tumbuh kembali. Meskipun saya sadari sudah agak terlambat.

Ternyata sesungguhnya matematika itu juga bisa dikatakan ilmu Islam. Matematika tak terpisahkan dari ilmu-ilmu syariat yang termaktub dalam Al-Quran dan Hadis. Menghitung waris itu pakai matematika, ilmu falak untuk mengetahui kalender hijriah yang terkait dengan ibadah shalat dan puasa juga menggunakan ilmu matematika, pembagian zakat juga menggunakan ilmu matematika. Bahkan, salah satu faktor kemenangan Rasulullah Saw. dalam Perang Badar juga karena ketepatan Rasulullah Saw. dalam menggunakan ilmu matematika.

Menurut Sun Tzu dalam karya fenomenalnya The Art of War, salah satu faktor penting meraih kemenangan dalam sebuah peperangan adalah mengetahui kekuatan diri sendiri dan mengetahui kekuatan lawan.

Ibnu Hisyam dalam kitabnya Al Sirah al Nabawiyyah menceritakan sebelum Perang Badar, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Sa`ad bin Abi Waqqash, dan beberapa orang sahabat Nabi Saw. berhasil menangkap dua orang budak pasukan Quraisy. Ketika itu Rasulullah Saw. bertanya kepada budak tersebut,

“Beri tahukan kepadaku perihal orang-orang Quraisy, berapa jumlah mereka?” Kedua budak itu menjawab, “Mereka ada di balik bukit pasir yang engkau lihat di pinggiran paling jauh itu.” Beliau bertanya, “Berapa jumlah mereka?” Keduanya menjawab, “Banyak.” Beliau bertanya lagi, “Berapa kekuatan mereka?” Keduanya menjawab, “Kami tidak tahu.” Beliau lalu bertanya, “Berapa ekor unta yang mereka sembelih setiap harinya?” Keduanya menjawab, “Kadang-kadang sehari sembilan ekor, kadang-kadang sepuluh ekor.” Rasulullah Saw., bersabda, “Kalau begitu, mereka antara 900 hingga 1.000 orang.” Lalu, beliau bertanya lagi, “Siapa saja di antara mereka yang merupakan pemuka Quraisy?” Keduanya menjawab, “Utbah dan Syaibah bin Rabi`ah, Abu Al-Bukhturi bin Hisyam, Hakim bin Hizam, Naufal bin Khuwailid, Al-Harits bin Amir, Thaimah bin Adi, An-Nadlr bin Al-Harits, Zam`ah bin Al-Aswad, Abu Jahal bin Hisyam, dan Umayyah bin Khalaf dan nama-nama lain yang disebut keduanya.

Rasulullah Saw. lalu menghadap ke khalayak pasukan Muslim, “Inilah (penghuni) Mekah telah melemparkan kepada kalian kekayaan.”

Dalam cerita yang dideskripsikan oleh Ibnu Hisyam tersebut, tampak sekali Rasulullah Saw. mengetahui secara presisi kondisi dan kekuatan musuh. Jarak antara pasukan kaum Muslim dan pasukan musuh, bisa diketahui oleh Rasulullah dengan detail melalui keterangan salah seorang budak, “Mereka ada di balik bukit pasir yang engkau lihat di pinggiran paling jauh itu.” Jarak adalah hitungan matematika. Kekuatan musuh juga sangat detail dikorek oleh Rasulullah Saw. Ketika dua budak itu menjawab, “Pasukan Quraisy menyembelih unta setiap hari. Kadang sembilan ekor, kadang-kadang sepuluh ekor.” Maka Rasulullah Saw. langsung tahu jumlah mereka “Kalau begitu, mereka antara 900 hingga 1.000 orang.” Sebab satu ekor unta bisa untuk dimakan kira-kira seratus orang. Lalu, beliau menanyakan jumlah pemuka kaum Quraisy dan disebutlah nama-nama. Itu kelihatannya sekadar nama. Namun, hal itu terkait juga dengan hitungan matematis kekuatan masing-masing orang pemilik nama. Hal itu akan sangat menentukan ketika nanti terjadi duel satu lawan satu. Siapa lawan siapa?

Dan, ketika duel satu lawan satu, majulah dari kalangan pasukan Quraisy tiga orang ahli perang mereka; Utbah bin Rabi`ah dan Syaibah bin Rabi`ah—keduanya bersaudara—dan Al-Walid bin Utbah. Mereka bertiga ingin berhadapan dengan para sahabat nabi dari kalangan Muhajir.

Rasulullah Saw. mengirim tiga orang kesatria yang akan mengimbangi kekuatan dan keahlian keduanya. Itu tak luput dari hitungan matematika. Jam terbang memainkan pedang, kekuatan sabetan pedang, kecepatan sabetan pedang, kelincahan gerak, semuanya adalah ukuran matematika. Rasulullah Saw. tidak akan menghadapkan sahabat beliau yang kurang lincah bermain pedang menghadapi jawara ahli pedang kaum Quraisy. Yang lebih tinggi hitungan jam terbangnya dalam perang akan beliau tandingi dengan kesatria yang memiliki jam terbang tidak kalah. Jam terbang adalah juga hitungan matematika.

Maka Rasulullah mengirimkan Ubaidah, Hamzah, dan Ali. Ubaidah yang agak tua berduel dengan Utbah yang juga tua. Hamzah menghadapi Rabi`ah dan Ali menghadapai Al-Walid. Hamzah dan Ali tidak membiarkan lawan mereka sama sekali, dalam satu dua kali terjang Rabi`ah dan Al-Walid terkapar. Sementara Ubaidah dan Utbah sama-sama memberi satu tikaman. Hamzah dan Ali lalu membantu membereskan Utbah. Dalam duel satu lawan satu, kesatria kaum Muslim menang gemilang.

Itu sekadar satu contoh bahwa ilmu matematika bahkan sangat berguna untuk memenangkan perang terpenting dalam sejarah peradaban Islam, yaitu Perang Badar. Tentu saja di atas segalanya, kemenangan adalah karena pertolongan Allah Swt.

Seorang hamba Allah yang cerdas menggunakan logika ilmu matematika bisa melampaui kualitas ibadah hamba Allah yang lugu tidak menggunakan logika matematika. Contoh hal ini adalah kisah tentang zikir Juwairiyah, istri Rasulullah Saw.

Imam Muslim meriwayatkan, “Nabi Saw. keluar dari sisi Juwairiyah pagi-pagi untuk shalat Subuh di masjid. Beliau kembali (ke kamar Juwairiyah) pada waktu Duha, sementara dia (Juwairiyah) masih di sana. Rasulullah bertanya, “Kau masih duduk seperti ketika kutinggalkan tadi?” Juwairiyah menjawab, “Iya”. Maka Rasulullah Saw. bersabda, “Sungguh aku beri tahukan kepadamu empat kalimat sebanyak tiga kali, jika empat kalimat itu dibandingkan dengan apa yang kau baca sejak tadi pagi akan mampu mengimbanginya. Empat kalimat itu adalah: Subhanallah wa bihamdihi `adada khalqihi, wa ridha nafsihi wa zînata `arsyihi wa midada kalimatihi.”

Dalam hadis itu Juwairiyah berzikir sejak subuh hingga duha. Mungkin jumlahnya sampai ribuan. Dan, zikir itu bisa diimbangi dengan zikir yang memakai logika matematika yang canggih yang diberitahukan oleh Rasulullah Saw., yaitu zikir ini dibaca tiga kali: Subhanallah wa bihamdihi `adada khalqihi, wa ridha nafsihi wa zînata `arsyihi wa midada kalimatihi. Yang artinya, Maha Suci Allah dan Maha Terpuji Dia, sebanyak ciptaan-Nya, dan sebanyak rida diri-Nya, dan sebanyak perhiasan arsy-Nya dan sejumlah kalimat-kalimat-Nya. Siapa yang tahu jumlah ciptaan Allah? Hanya Allah saja. Sebanyak itulah jumlah zikir yang dilafalkan pada pagi itu. Logika canggih matematika yang diajarkan oleh Rasulullah Saw.

Kecerdasan dan keahlian matematika memang terbukti telah membuat hidup manusia semakin berkualitas.

Matematika itu sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari kita. Dan, pemahaman yang baik tentang logika matematika bisa menjadikan kita memiliki semacam “mukjizat” dalam menyelesaikan kehidupan sehari-hari kita.

Bahwa matematika bisa juga dimaknai lebih “dalam”, tidak sebatas pada angka-angka. Dicontohkan begini, tentang bilangan prima misalnya. Coba ditelaah lebih dalam. Pengertian bilangan prima adalah bilangan yang hanya mempunyai dua faktor, 1 dan bilangan itu sendiri. Yaitu 2, 3, 5, 7, 11, ….

Bilangan prima itu mengandung satu nilai falsafah hidup. Dalam kehidupan ini, kita harus memiliki sebuah prinsip bahwa sesungguhnya penentu kesuksesan dan keberhasilan masa depan kita ada dua: Tuhan Sang Pencipta dan diri kita sendiri. Satu itu adalah Tuhan. Tuhan Maha Esa. Keyakinan bahwa Tuhan adalah penentu kesuksesan membawa konsekuensi pada penyampaian nilai-nilai spiritual yang selalu inheren dalam setiap diri manusia. Namun, kita harus ikhtiar. Kitalah yang sesungguhnya faktor penting kesuksesan dan keberhasilan kita. Bukan orang lain. Tuhan Yang Maha Penyayang sangat melihat ikhtiar dan usaha kita. Bukan usaha orang lain.

Contoh lain, tentang vektor, juga bisa diresapi makna tersiratnya. Menurut pengertiannya, vektor adalah besaran yang mempunyai titik pangkal dan arah. Ada dua unsur yang menentukan sebuah vektor yaitu titik pangkal dan arahnya. Filosofi hidup agak dalam bisa dihayati dari teori ini bahwa dalam kehidupan ini ada dua unsur yang sangat penting, yaitu niat dan tujuannya. Keduanya harus baik dan positif. Niat hidup ini adalah ibadah dan membawa kemanfaatan bagi sebanyak mungkin orang dan lingkungan kita. Jika niat belum tepat, harus diluruskan dan diperbaiki dulu.

Ada sebuah pertanyaan: apa gunanya belajar matematika bila kita tahu kita tidak akan pernah menggunakannya?

Sebagai contoh, di UMass, Amherst semua mahasiswa bidang ilmu sosial harus mengambil mata kuliah Kalkulus pada tahun pertama mereka. Tentu saja banyak aplikasi matematika dalam disiplin ilmu sosial, termasuk untuk pemodelan matematikanya. Nah, sekarang bagaimana bila seorang mahasiswa ekonomi sangat ingin bekerja di bisnis dan sangat yakin tidak akan berhubungan sama sekali dengan matematika lagi setelah lulus? Bukankah akan sia-sia dia mempelajari Kalkulus?

Jawabannya: TIDAK!

Alasannya karena (1) tidak ada mahasiswa yang tahu persis apakah dia tidak akan pernah memerlukan matematika pada masa datang dan (2) matematika adalah akal. “Ini masuk akal” atau “ini tidak masuk akal” adalah kesimpulan dari sebuah proses berlogika dan logika adalah matematika. Dengan matematika kita diajarkan untuk runtut dalam berpikir dan melihat segala unsur yang terlibat. Dengan kata lain, matematika mengajarkan kita untuk tidak membuat kesimpulan yang melompat. Benjamin Peirce, yang dianggap sebagai matematikawan kelas dunia pertama dari Amerika, menuliskan bahwa matematika adalah the science that draws necessary conclusions, ilmu pengetahuan untuk menarik kesimpulan.

Sumber Bacaan :
Tuhan Pasti Ahli Matematika, Hadi Susanto, Bentang Pustaka, 2015

Saya sendiri anak lulusan Biologi FMIPA 🙂
dan saya bersyukur Allaah menakdirkan saya untuk mempelajarinya 🙂

Betapa setiap materinya semakin membukakan fikir, betapa Allaah Maha Kuasa, Maha Hebat dan Maha Sempurna atas setiap detail penciptaannya. :“)

challenge · Hikmah

Teruslah Menghafal!

Jika tidak memiliki target ingin menjadi seorang hafidzhah, setidaknya milikilah target untuk wafat dalam keadaan membawa berapapun hafalan ayat-ayat Nya. Dengan begitu, kita akan selalu termotivasi untuk menghafal. Meskipun sedikit.

— Ustadzah pernah berpesan, “teruslah menghafal, meskipun ga banyak, meskipun gak hafalhafal, meskipun rasanya gak mungkin jadi hafidzah. Seandainya Allah memanggil kita secara tibatiba, semoga diakhirat kelak akan dibersamakan dengan para syuhada dan golongan penghafal Al Qur’an. Karena kita termasuk golongan orangorang penghafal Al Qur’an, insyaaLlaah. Hanya saja kita belum selesai menghafal 30 juz karena Allaah sudah memanggil kita lebih dahulu.

@bringmetojannah

#pesandariolehdanuntukdiripribadi #proyekseumurhidup✊🏻 #jalannyamasihpanjangdanakansangatpanjang :””

Yaaa Rabb :”””