Harta Karun · Tarbiyah

Al Amal

Banyak orang merasa telah beramal, tetapi tak ada buah apapun yang ia petik dari amalnya, baik itu perubahan sifat, kelembutan hati ataupun kearifan budi dan keterampilan beramal. Bahkan tak sedikit diantara mereka beramal jahat tetapi salah mengira beramal baik. Karenanya, Al Qur’an selalu mengaitkan amal dengan keshalihan, jadilah amal shalih. Kata shalih tidak sekedar bermakna baik, karena untuk makna ini sudah tersedia istilah-istilah khusus, seperti hasan, khair, ma’ruf, birr (kebaikan) dan lain-lain. Sedangkan shalih adalah suatu pengertian tentang harmoni dan tanasuk-nya (keserasian) suatu amal dengan sasaran, tunttunan, tuntutan dan daya dukung. Amal disebut shalih bila pelakunya selalu mengisi ruang dan waktu yang seharusnya diisi.

Seorang pendusta atau pengingkar agama tidak selalu mengambil bentuk penghujat yang arogan terhadap agama. Ia dapat tampil sebagai pengamal yang dermawan atau bahkan pelaku shalat yang khusyu. Namun pada saat yang bersamaan, Allaah menyebutnya sebagai pendusta agama karena ia menghardik si yatim dan tidak menganjurkan orang untuk member makan si miskin (QS. Al Ma’un ayat 2-3). Dakwah adalah kerja yang amat mulia, karenanya harus dilakukan dengan memenuhi dua syarat utama, yaitu al ikhlas was shawab.

Ikhlas karena dilakukan semata-mata untuk dan karena Allaah. Shawab (benar) karena dilakukan berlandaskan sunnah Rasulullaah shalallahu ‘alaihi wassalam. Mungkin seseorang menampakkan diri berdakwah ke jalan Allaah, tetapi sesungguhnya ia telah berdakwah ke jalan dirinya, demikian catatan dan komentar Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Kitabut Tauhid dan Al Allamah Abdullah bin Alawi Al Haddad dalam Ad Da’watut Taammah.

Betapa banyak amal menjadi berlipat ganda nilainya oleh niat yang baik dan itu tak akan terjadi bila pelakunya tak punya ilmu tentang hal tersebut. Dan demikian pula sebaliknya. Barangsiapa yang beramal tanpa melandasinya dengan ilmu, maka bahayanya akan lebih banyak daripada manfaatnya, sebagaimana amal tanpa niat jadinya anaa (kelelahan) dan niat tanpa ikhlas jadinya habaa (Debu, kesia-siaan) dan ikhlas tanpa tahqiq (realisasi) jadinya ghutsaa (buih).

Kita tidak punya kekuatan apapun untuk melarang orang bekerja dalam lingkup amal islami, bahkan mereka yang menjalaninya dengan cara yang kita nilai merugikan perjuangan. Ya, pada saatnya kita mendapatkan penyikapan salah dari masyarakat sebagai reaksi salah atas aksi salah yang dilakukan para aktifis amal islami. Qadliyah (problema) kaum khawarij dan berbagai gerakan lainnya menunjukkan fenomena para pengamal, dari ikhlas menuju fiqh, sampai yang opurtunis dan pemanfaat jargon.

Alkisah disuatu masa, seorang alim menyelamatkan seekor beruang yang terhimpit sebatang pohon besar. Sebagai tanda terima kasihnya atas jasa sang syaikh, ia berikrar untuk menjadi pengawalnya yang setia. Dan memang ia buktikan itu. Suatu hari sang syaikh tertidur kelelahan. Sesuai ikrarnya, beruang menjaga syaikh dengan setia, agar tak mendapat bahaya atau gangguan. Ada sesuatu yang menjengkelkannya, yaitu seekor lalat yang hinggap-pergi di wajah sang syaikh, sehingga membuat tidur syaikh menjadi tidak nyaman. Inilah saatnya sang beruang membuktikan loyalitasnya. Ia angkat batu besar dan dihantamkannya ke seekor lalat yang sedang hinggap di dahi sang syaikh. Pecah kepalanya dan entah kemana larinya sang lalat jahanam itu.

pict taken from Pinterest.

Tulisan ini merupakan rangkaian karya dari Almarhum Ust. Rahmat Abdullah yang pernah dimuat di majalah Tarbawi dengan mengambil tema-tema refleksi seputar Al Arkan Al ‘Asyarah, Hasan Al Banna.

Advertisements
Harta Karun · Tarbiyah

Al Ikhlas : Ikhlas dan Shidq

Mengagumkan bila dicermati hubungan atara ikhlas dan shidq. Ikhlas artinya menjaga diri dari perhatian makhluk dan shidq artinya menjaga diri dari perhatian nafsu. Seorang mukhlis tak punya riya’ (pamer diri) dan seorang shidq tak punya ijab nafsi (kagum diri), demikian Abu Ali Ad Daqqaq mengurai.

Ka’ab bin Malik pantas mendapatkan bintang shidq. Hukuman berat diterimanya dengan ikhlas. Ia sadar berurusan dengan Allaah, bukan dengan masyarakat yang sebenarnya sangat menghormatinya. Meskipun, Ia pun yakin, bahkan Rasulullaah shalallahu ‘alaihi wassalam pasti akan percaya bila ia membuat-buat alasan untuk absen nya dari perang Tabuk. Tak kurang 50 hari berlalu dalam keterasingan yang berat. Kemanapun ia pergi tak seorangpun menyapa atau menjawab sapaannya. Saat Raja Ghassan menawarkan suaka politik dan posisi di kerajaannya, bagi Ka’ab ini juga adalah bala bencana. Maka ia buktikan loyalitasnya dengan kejujuran yang mengagumkan (QS. At Taubah ayat 118).

Banyak ulama yang tak henti-hentinya mengkritik dan meluruskan pemerintah, sementara Sang Amir tak pernah jemu memenjarakannya. Namun, saat Sang Amir menggaungkan perintah jihad, mereka tampil di depan tanpa dendam pribadi. “Jihad adalah ibadahku kepada Allaah dan maksiat Amir itu adalah urusan Amir dengan Tuhannya, kritik sudah kulancarkan”, demikian paradigm para mukhlisin. Khalid bin Walid dengan tegas menjawab pertanyaan heran, mengapa ia mau-mau nya berperang dibawah komando orang lain, sementara ia baru saja dimakzulkan dari posisi panglima? “Aku berjihad karena Allaah, bukan karena Umar.

Betapa mengerikan keterasingan pengamal yang selalu saja dihantui apa kata orang. Sunyi terdampar di gurun riya’, tersungkur di jurang ujub, segala ketakutan ada disana, kecuali takut kepada Allaah ta’ala.

Tulisan ini merupakan rangkaian karya dari Almarhum Ust. Rahmat Abdullah yang pernah dimuat di majalah Tarbawi dengan mengambil tema-tema refleksi seputar Al Arkan Al ‘Asyarah, Hasan Al Banna.

Harta Karun · Tarbiyah

Al Ikhlas : Orang-Orang yang Ringkih Jiwa

Bal’am bin Baura, Walid bin Mughirah dan Abdullah bin Ubay adalah profil kaum berilmu yang tak berfaham. Yang pertama, jelas-jelas bersebrangan dengan nabi Musa ‘alaihissalam dan perjuangannya, lalu bermanis-manis dengan kubangan Fir’aun. Adakah perbedaan yang cukup gelap antara Fir’aunisme kemarin dan Fir’aunisme hari ini? Yang membuat Bal’am – Bal’am kontemporer membelanya mati-matian?

Adakah kedunguan melebihi kedunguan Walid yang diawal-awal laporan ilmiahnya tentang Al Qur’an terang-terangan menutup semua jalan bagi penolakan Al Qur’an sebagai kalam Allaah? “Kalau mantra kita sudah tahu, kalau ucapan manusia kita sudah tak asing, kalau puisi akulah pakarnya”. Gemeretak gigi orang awam di Darun Nadwah rupanya lebih mengerikan baginya, sehingga diakhir persentasinya, ia mengeluarkan konklusi yang sangat bertentangan dengan muqaddimah yang disampaikannya, “Al Qur’an adalah sihir, lihatlah ia sudah memisahkan anak dari orangtuanya dan budak dari tuan nya!” sergahnya.

Abdullah bin Ubay si batang balok yang tersandar (QS. Al Munaafiqun ayat 4), menarik penampilannya dan manis mempesona tutur katanya. Kandidat pemimpin tertinggi Madinah pra hijrah ini yang telah berbunga-bunga hatinya melihat peluang besar, sehingga membuatnya lupa akan prinsip Al fadlu liman shadaq (kemuliaan untuk yang jujur) dan dirinya terobesesi oleh pemeo Al fadlu liman sabaq (kemuliaan bagi yang lebih dulu), berdasarkan makna senioritas, dan bukan kapasitas. Ia lupa bahwa sabaqiyah (senioritas) itu menjadi bermakna dengan shidqiyah (ketulusan dan kejujuran). Tetapi penyakit nifaq merasukinya, dan loyalitas tak dimilikinya. yang tersisa hanya tinggal kepentingan dan kedengkian. Jadilah ia orang yang manis dimuka dan mengutuk dibelakang, beriman di mulut dan kafir didalam hati.

Pada ketiga tokoh ini sangat menonjol ambisi terhadap kekayaan, jabatan dan syuhrah (popularitas), tersurat dataupun tersirat. Dalam kamus mereka, kehormatan tak lagi punya tempat dan kejujuran hanya impian orang-orang pander. Namun madzhab langka ini sekarang menjadi trend.

pict from pinterest.

Tulisan ini merupakan rangkaian karya dari Almarhum Ust. Rahmat Abdullah yang pernah dimuat di majalah Tarbawi dengan mengambil tema-tema refleksi seputar Al Arkan Al ‘Asyarah, Hasan Al Banna.

Harta Karun · Tarbiyah

Al Ikhlas : Hati Tanpa Jelaga

Hati bening seorang alim penaka gelas Kristal yang bening dan bersih, akan memancarkan cahaya ilmunya. Sementara ada orang yang detik demi detik tutur kata, karya dan kehadirannya menjerumuskan kedalam jurang sengsara.

Sulit untuk mendapatkan hati yang bening dan amal yang ikhlas tanpa kejujuran. Kejujuran yang sering disalah artikan dengan sekedar bicara benar, ternyata lebih dari itu. Ia adalah kejujuran terhada Al Khaliq. Ia adalah kejujuran terhadap bisikan hati nurani. Pada akhirnya bukti kebenaran itu akan nampak dalam kejujuran mereka kepada Allaah atas semua janji yang mereka buat. “Sedikitpun tidak mengubah pendirian mereka, apakah mereka itu gugur terlebih dahulu atau menunggu”. (QS. Al Ahzaab ayat 23)

Hakikat shidiq adalah bahwa engkau tetap jujur dalam berbagai kondisi (sulit dan bahaya), meskipun engkau dapat selamat dari hal tersebut hanya dengan berdusta, demikian prinsip Junaid Al Baghdadi. Tentu saja ini tidak boleh bertentangan dengan penghapusan hukum dusta dalam kondisi penyelamatan saudara beriman dari kedzhaliman orang lain, mendamaikan dua saudara yang berseteru dan dusta dalam taktik berperang.

Apa yang membuat orang sekaliber Bal’am bisa kehilangan integritas diri, hanyut dalam pusaran lumpur dunia? Ada konflik yang tidak disadarinya, melawan kehendak Allaah yang sangat berkuasa untuk mengangkatnya tinggi-tinggi, tetapi ia sendiri yang mengikuti gravitasi dunia dan hawa nafsu yang menahan laju jelajahnya kea lam tinggi, akhlada ilal ardl wat taba’a hawah (QS. Al A’raaf ayat 176).

Betapa mengerikan kemiskinan hati bila melanda kaum berilmu. Mereka merasa rendah diri karena dunia yang tak berpihak, bersebrangan dengan posisi tinggi dan jauh dari kedudukan basah. Mungkin ia telah lupa, kemiskinan itu bukanlah dosa, walau tidak menyenangkan. Mungkin karena pentingnya mengenal profil biang kerok ini, sampai-sampai Al Qur’an membuka kisahnya dengan “Bacakan kepada mereka,” dan menutupnya dengan “Maka ceritakanlah kisah-kisah ini, semoga mereka berfikir”. (QS. Al A’raaf ayat 176-176).

pict Dawn At Lake Louise Photograph, taken from Pinterest.

Tulisan ini merupakan rangkaian karya dari Almarhum Ust. Rahmat Abdullah yang pernah dimuat di majalah Tarbawi dengan mengambil tema-tema refleksi seputar Al Arkan Al ‘Asyarah, Hasan Al Ba

Harta Karun · Tarbiyah

Al Ikhlas

“Tak akan sampai kepada Allaah, daging dan darah qurban itu, akan tetapi yang akan sampai kepada-Nya ialah taqwa dari kamu” (QS. Al Hajj ayat 37).

Banyak orang berharta dengan banyak hutang. Banyak lagi orang miskin dengan banyak hutang. Ada orang kaya amal dengan banyak tuntutan yang harus dilunasinya di hari pembalasan kelak. Ada juga orang yang sederhana amalnya, dengan ketulusan tiada tara. Pujian tak membuatnya bertambah gairah dan celaan tak menghambatnya dari meningkatkan amal kebajikan. Ia ada ditengah keramaian dan jiwanya sendiri menghadap Khaliqnya, tanpa berharap dan peduli terhadap penilaian manusia.

Tiga hal yang tak patut hati seorang mu’min kering atasnya; 1. Ikhlas beramal karena Allaah, 2. Tulus terhadap para pemimpin (dengan nasihat dan koreksi), 3. Setia kepada Jama’ah Muslimin, karena dos mereka meliput dari belakang mereka. (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Hakim, Abu Daud dan Tirmidzi).

Banyak hal yang Nampak sederhana, tetapi terabaikan, sementara obsesi besar sering menjadi symbol kebersamaan yang tak pernah terwujud atau takkan pernah terwujud, karena para pendukungnya tak pernah memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh, kecuali sebagai symbol status.

Hasan Al Bashri mencurahkan kebeningan hatinya di zam

an yang rasanya begitu perlu penjernihan. “Tak ada lagi yang tersisa dari kenikmatan hidup, kecuali tiga hal: 1. Saudara yang kau selalu mendapatkan kebaikannya, biala engkau menyimpang ia akan meluruskanmu, 2. Shalat dalam keterhimpunan (jasad, hati dan fikiran), 3. Cukuplah kebahagiaan hidup dicapai, bila kelak tak seorangpun punya celah meuntutmu di hari peradilan kelak.”

Ketika seseorang berusaha keras untuk beramal tanpa berfikir keuntungan apa yang akan ia dapatkan, ia disebut mukhlis, artinya orang yang menyerahkan amalnya kepada Allaah dengan sepenuh hati tanpa pamrih duniawi. Pada saat ia mendapatkan dorongan beramal tanpa ingat apapun kecuali ridha Allaah, ia menjadi mukhlas, artinya orang yang dijadikan mukhlis.

Ada orang yang hanya dengan melihatnya, itu cukup membuatmu ingat kepada Allaah, bicaranya cukup menambah amalmu dan amalnya cukup mebuatmu rindu akhirat.

 

Tulisan ini merupakan rangkaian karya dari Almarhum Ust. Rahmat Abdullah yang pernah dimuat di majalah Tarbawi dengan mengambil tema-tema refleksi seputar Al Arkan Al ‘Asyarah, Hasan Al Banna.

Harta Karun · Tarbiyah

Al Fahmu : Ilmu dan Kelapangan Wawasan

Berapa banyak pedang diperlukan untuk mengembalikan kaum Khawarij yang memecah belah jama’ah (Syaqqal Asha)? Kaum ini sesat bukan karena tidak sholat, shaum atau jihad. Keras telapak tangan mereka dan menghitam dahi mereka lantaran sujudnya yang lama. Kurus badan mereka karena puasanya yang intensif. Saat pedang merobek perut dan memburai usus mereka, melompat kalimat yang menakjubkan, “Aku bersegera kepada Mu yan Rabbi agar Engkau ridha” (QS. Taahaa ayat 84). Bahkan ketika Rasulullaah shallahu ‘alaihi wassalam ditanya tentang sifat mereka, beliau menjawab, “Kalian akan meremehkan shalat kalian dibandingkan dengan shalat mereka dan shiam kalian dengan shiam mereka”.

Fiqh (kedalaman ilmu dan keluasan wawasan) tak menggenapi kehidupan intelektualitas mereka. Tapi Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu cukup menggunakan ketajaman argumentasinya untuk mengembalikan 1/3 dari puluhan ribu kaum pemberontak Khawarij. Oleh karena itulah kaum Khawarij –dan aliran nyeleneh lainnya sepanjang zaman- selalu menghindari fuqaha yang mereka anggap selalu mematikan aspirasi dan membenturkan mereka dengan tanda tanya yang musykil. Belum terjadi apa-apa ketika sesepuh kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam mengusulkan agar dibangun tugu-tugu peringatan di tempat biasanya duduk tokoh-tokoh terhormat mereka: Wadda, Suwa, Yauq, Yaghuts, dan Nasr. Barulah setelah generasi ini wafat dan ilmu telah dilupakan orang, maka tugu-tugu itupun mulai disembah.

Suatu hari Abu Hasan Asy Syadzili kedatangan rombongan tamu, para ulama dan fuqaha. Mereka sempat tersinggung ketika ia bertanya, “Apakah kalian orang-orang yang mendirikan shalat?”. Mereka menjawab, “Mungkinkah, ‘fuqaha’ seperti kami tidak shalat?!”. Dengan tenang dilayangkanlah pertanyaan yang membuat mereka tersipu-sipu, “Apakah kalian adalah orang yang bebas dari gelisah? bila ditimpa musibah tidak putus asa dan bila mendapat nikmat tidak menjadi bakhil?” (QS. Al Ma’aarij ayat 19-23).

Diantara karunia besar datangnya Rasul penutup adalah mata dunia dibuka dan era akal sehat dimulai, bebas dari mitos-mtos dan manipulasi orang-orang ‘pintar’ (licik) atas rakyat yang lugu dan setia. Inilah tonggak peralihan dari pengabdian manusia kepada sesama manusia, menuju pengabdian hanya kepada Allaah Ta’alaa saja.

Mungkin, karena kekhasan Islam dalam mengharagai ilmu dan akal sehat, secara khusus Syaikh Alawi Al Maliki membuka Simthud Durar (Untaian Mutiara), antalogi sanjungannya kepada Rasulullaah shalallahu ‘alaihi wassalam dengan kekhususan ini,

Segala puji bagi Allaah

yang telah melebihkan kita

dengan Musthafa Nabi pilihan

yang mengangungkan pendidikan.

Tulisan ini merupakan rangkaian karya dari Almarhum Ust. Rahmat Abdullah yang pernah dimuat di majalah Tarbawi dengan mengambil tema-tema refleksi seputar Al Arkan Al ‘Asyarah, Hasan Al Banna.

Harta Karun · Tarbiyah

Al Fahmu : Ilmu antara Tahu dan Mau

Apa kabar penghafal sekian banyak ayat, pelahap sekian banyak kitab dan pembahas sekian banyak qadhaya yang belum beranjak dari tataran tahu untuk bersiap menuju mau? Siapakah engkau, wahai pengendara yang menerobos larangan masuk kawasan berbahaya? Siapakah engkau, yang diminta memilih antara madu dan racun, kurma dan bara, lalu dengan sadar melahap bara mencampakkan kurma, menenggak racun dan membuang madu? Alim, jahil atau sakitkah engkau?

Siapakah gerangan engkau yang tiba-tiba menemukan diri berada disebuah tempat yang nyaman dan membuatmu tak pernah berpikir untuk pergi, karena tuan rumah tempat kau tinggal tak pernah menagih rekening listrik, buah dan sayuran, kolam renang dan landasan pesawat, menu dan lahan berburu. Kau menikmatinya berpuluh tahun, namun tak pernah sedikitpun bertanya: Siapa pemilik rumah ini? Apa kewajibanmu disana? Kemana lagi engkau sesudah ini?

Engkau yang telah menghabiskan seluruh usia untuk penjelajahan ilmu yang memberitahukanmu berapa miliar tahun umur bumi, bagaimana akurasi, peredaran bumi, matahari dan galaksi, ketepatan ekosistem dan karakter benda, lalu menuduh wahyu itu kuno karena telah melewati masa seribu empat ratus tahun? Tak punyakah engkau segenggam rasa malu untuk pergi mencari planet lain yang lebih muda? Seandainya engkau jumpai yang lebih muda, sadarkah engkau bahwa itu bukan ciptaanmu?

Siapakah engkau, wahai penjaga kebun anggur yang disuruh mengantarkan untaian anggur, lalu pergi dengan lagak seperti pemilik kebun dan tak mau kembali lagi, karena si pemabuk telah mempesonamu dengan kepandaiannya mengubah anggur menjadi arak? Engkau tak punya secuil kearifan ilmu.

Pict: Earth as seen through the Hubble telescope (taken from Pinterest)

Tulisan ini merupakan rangkaian karya dari Almarhum Ust. Rahmat Abdullah yang pernah dimuat di majalah Tarbawi dengan mengambil tema-tema refleksi seputar Al Arkan Al ‘Asyarah, Hasan Al Banna.

Harta Karun · Tarbiyah

Al Fahmu : Pemeliharaan Tradisi Keilmuan

Betapapun hebatnya perusakan yang dilakukan pasukan Tartar terhadap kitab-kitab para ulama, itu menjadi tak berarti jika dibandingkan dengan apa yang berkembang di dunia keilmuan. Darah daging ilmu telah membekas dihati para ulama. Seorang imam pergi bermusafir berbulan-bulan ‘hanya’ untuk mencari satu hadits singkat. Seorang ulama produktif menulis di penghujung malam dan esoknya juru salin baru dapat menyelesaikan transkripnya dalam waktu 10 jam.

Tradisi keilmuan juga menyangkut etika pergaulan. Hampir tidak pernah ditemukan ulama yang datang ke depan pintu Sultan kecuali ia penjilat atau seseorang yang sudah sampai ke tingkat ma’rifat yang tinggi. Seorang alim yang zuhud menghindari sultan dan orang-orang kaya karena takut fitnah dunia, sementara ulama yang arif billah (mengenal Allaah) datang kepada raja, untuk menasehati dan mengingatkan mereka.

Harun Al Rasyid meminta Imam Malik untuk datang menziarahinya, “agar anak-anak kami dapat ikut mendengarkan kitab Al Muwattha,” jelasnya. Dengan penuh keyakinan, dijawabnya permintaan tersebut oleh Imam Malik, “Semoga Allaah menjayakan Amirul Mukminin. Ilmu itu datang dari lingkungan kalian (Baitun Nubuwah). Jika kalian memuliakannya ia jadi mulia dan jika kalian merendahkannya ia jadi hina. Ilmu harus didatangi, bukan mendatangi.”

Ketika akhirnya sang sultan menyuruh kedua putranya datang ke Masjid untuk mengaji bersama rakyat, Imam Malik mengatakan, “Dengan syarat, mereka tidak boleh melangkahi bahu jama’ah dan duduk di posisi mana saja yang terbuka untuk mereka”.

Sebagai Imam pembela sunnah yang sangat konsisten melaksanakannya, Imam Syafi’I dikenal sangat kokoh dalam menyampaikan argumentasinya. Kepiawaiannya saat berdiskusi dilandasi oleh keikhlasannya yang sangat luar biasa. “Setiap kali aku berdebat dengan seseorang, selalu kuberharap Allaah mengalirkan kebenaran dari lisannya,” begitu ujar Imam Syafi’i.

Tulisan ini merupakan rangkaian karya dari Almarhum Ust. Rahmat Abdullah yang pernah dimuat di majalah Tarbawi dengan mengambil tema-tema refleksi seputar Al Arkan Al ‘Asyarah, Hasan Al Banna.

Harta Karun · Tarbiyah

Al Fahmu

Tidak ada perintah meminta tambahan seperti perintah meminta tambahan ilmu. Bahkan perintah ini diarahkan kepada Rasul pilihan Shallahu ‘alaihi wassalam. Dan katakanlah: Yaa Rabbi, tambahkanlah aku ilmu (QS. Taahaa ayat 114). Bagi Ashabul Kahfi, sesudah iman tambahan nikmat lainnya adalah berupa Huda (petunjuk) yang hakikatnya juga adalah ilmu.

Kecuali efek kesombongan yang sebenarnya bukan anak kandung ilmu, seluruh dampak ilmu adalah kebajikan. Bukanpun ketika seseorang terlanjur salah jalan, ia mengambil peran sebagai pelurus. Ia selalu jujur, asal si empunya mau jujur. “Lewat beberapa masa, aku menuntut ilmu dengan motivasi yang salah, tetapi sang ilmu tak pernah mau dituntut kecuali hanya karena Allaah,” ucap Al Ghazali.

Tentu saja sesorang tidak harus mengumpulkan ilmu sebagai kolektor tanpa ada komitmen amal, karena hal seperti ini dapat dilakukan oleh hard disc, diskette, pita perekam atau mata pensil. Bagaimana ilmu menjadi serangkaian informasi yang mengantar penuntutnya kepada kearifan, itulah soal besar yang menjadi batu ujian para ulama. “Sesungguhnya yang takut kepada Allaah diantara para hamba-Nya yaitu ulama” (QS. Faatir ayat 28).

Dengan melihat hubungan dan kedudukan ilmu, nyatalah bahwa yang dimaksud dengan ilmu dan kemuliaannya itu adalah ilmu nafi’ (ilmu yang bermanfaat). Karena itulah, maka seluruh kata ilmu (baik dalam Al Qur’an maupun Hadits) maksudnya adalah ilmu nafi’, menurut Ibnu Athaillah. Selebihnya ia menjadi beban tanggungjawab dan penyesalan, karena berhenti pada jidal (debat), mubahah (kebanggaan) dan alat untuk menarik keuntungan dunia.

Ilmu selalu membuat si empunya semakin rendah hati, sensitif dan sungguh-sungguh.

Tulisan ini merupakan rangkaian karya dari Almarhum Ust. Rahmat Abdullah yang pernah dimuat di majalah Tarbawi dengan mengambil tema-tema refleksi seputar Al Arkan Al ‘Asyarah, Hasan Al Banna.

Dear · Hikmah · mentoring · Meracacacau · Tarbiyah · Ukhuwwah · Uneguneg

Orang Indonesia kan begitu

duh dek,
orang Indonesia mana yang sudah tega menanamkan judge ini kepada anak belia spertimu yang bahkan negara saja belum menyatakanmu dewasa.

sedih.

yang bilang kalimat ini ga hanya omdo, nyatanya saat janjian berangkat bersama untuk rihlah pengurus Rohis, si Kaput Rohis ini adalah orang kedua yang datang beberapa puluh menit sebelum waktu kesepakatan :”).

siapa yang datang pertama?
ada si R, sang Ketua Rohis :”).

“R mah emang gitu kak orangnya, selalu datang ontime, eh before time :D”

maasyaaLlaah :”),

R ini, kalau mendengar penuturan langsung dari kakak alumni ikhwan, awalnya sama sekali ga tertarik untuk jadi ketua Rohis. R menolak untuk memegang amanah itu.

“tapi, pas R abis dilantik jadi ketua Rohis, R ngejapri ane, dia tanya ‘Kak, apa yang harus disiapkan untuk menjadi Ketua Rohis yang baik?'”.

Huwaaa tetiba langsung melted :”””).

R si ketua Rohis yang penampakannya paling sholih 😅, yang berusaha untuk selalu ontime, yang saat rihlah kemarin, seorang diri mencatat dibuku catatan saat sesi materi berlangsung, yang mengajukan pertanyaan terakhir kepada pemateri “Kak, kakak pernah ngerasa capek gak ngurusin dakwah?, boleh capek ga sih kak?”

:””),

AlhamduliLlaah,
AlhamduliLlaah,
Alhamdulillaahirobbil ‘aalamiin,

karena si Kaput dan R adalah salah dua dari anak muda yang dimiliki Indonesia saat ini :”), mereka adalah calon generasi yang akan mewujudkan setiap asa dan doa baik untuk Indonesia di masa depan, insyaaLlaah :”).

sampai suatu hari nanti, yang akan terdengar adalah,

“oke kak, kita berangkat jam setengah 8. insyaaLlaah teman teman semuanya sudah hadir lengkap di stasiun jam setengah 8. kan, orang Indonesia begitu :”).