Harta Karun · reblog

Filsafat Syukur

Oleh Urfa Qurrata’ainy 

Seiring bertambahnya waktu, bacaan, dan obrolan, cara dan alasan bersyukur pun akan berubah.

Waktu kepala kita belum bisa mencerna hal-hal abstrak seperti konsep pahala, kebaikan berlipat ganda, dan surga neraka, kita merasa sudah bersyukur manakala sudah mengucapkan “terima kasih” dan “alhamdulillah.”

Alasan kita bersyukur pun terpaut erat dengan sesuatu yang berasal dari luar diri kita. Seperti saat saya kecil, rasanya bersyukur sekali jika teman sebangku saya lebih jelek nilainya daripada saya. Jahat memang, tapi perasaan bahwa hidup saya lebih baik daripada orang lain adalah alasan bersyukur yang saat itu cukup masuk akal.

Namun alasan tersebut tidak adil buat mereka yang nilainya paling jelek. Tidak ada yang nilainya lebih jelek lagi di kelas, apakah alasan untuk bersyukur lantas menjadi hilang?

Sedikit banyak, cara dan alasan seperti itu masih terbawa meski usia tak lagi kanak-kanak.

Tapi, rasanya bersyukur tidak mesti demikian jahatnya.

Saya berpikir, apakah untuk bisa menjadi seorang yang bersyukur, kita harus memulai dengan merasa lebih baik dari orang lain dan menganggap orang lain tidak lebih beruntung dari kita?

Jika kita bersyukur karena memiliki sesuatu, lantas apa yang membuat kita akan bersyukur saat kita tidak memiliki apa-apa?

Bagaimana jika kita bersyukur bukan karena hidup kita begini di saat hidup orang lain tidak begini, bukan karena kita memiliki ini sementara orang lain tidak memiliki ini. Bagaimana jika kita bersyukur karena Allah sangat baik, semata-mata hanya karena Allah memang sangat baik, kepada semua makhluk.

Bagaimana jika syukur tidak lagi digantungkan pada hal-hal di luar diri kita, sehingga ada tidaknya syukur tidak lagi ditentukan oleh musim ini dan itu.

Bagaimana jika kita memulai menjadi seorang yang bersyukur dengan sepenuhnya menyadari, bahwa bersyukur, layaknya mencintai, adalah pekerjaan mulia yang tidak mensyaratkan apapun. Yatanpa syarat.

Advertisements
KisahSahabat · reblog

#Lebihdekatdengansahabat 7: Hudzaifah ibnul Yaman

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan, 🙂

Kemarin kita telah mencoba mengulik lagi ingatan kita bersama tentang sahabat mulia bernama Bilal, sekarang kita akan melanjutkan perjalanan lebih dekat dengan sahabat Rasulullah yang lain. Sahabat yang akan kita intip peri hidupnya kali ini tak kalah istimewa dibandingkan sahabat-sahabat yang telah diperkenalkan sebelumnya. Sekarang kita akan memulai kisah sahabat ini dengan melompat beberapa ratus tahun silam, kita akan menuju kota Madain di zaman Amirul Mukminin, Umar.

Saat itu penduduk Madain berduyun-duyun keluar untuk menyambut kedatangan wali negeri mereka yang baru saja diangkat oleh Umar. Antusiasme mereka muncul tak lain karena sudah lama hati mereka rindu untuk bertemu muka dengan sahabat Nabi yang mulia ini, yang telah banyak mereka dengar tuturan orang-orang mengenainya.

Ketika mereka sedang sibuk menunggu rombongan yang hendak datang, muncullah di hadapan mereka seorang laki-laki dengan wajah berseri-seri. Ia mengendarai seekor keledai yang beralaskan kain usang, sedang kedua kakinya teruntai ke bawah, kedua tangannya memegang roti serta garam sedang mulutnya sedang mengunyah.

Itulah sahabat Rasulullah, Hudzaifah ibnul Yaman. Demi melihat hal ini sungguh bingunglah dan hampir-hampir tak percayalah penduduk kota Madain. Mereka belum pernah melihat corak kepemimpinan dengan gaya hidup sederhana seperti itu baik di masa kerajaan Persi atau sebelumnya. Lalu Hudzaifah meneruskan perjalanan sedang orang-orang berkerumun mengelilinginya. Ketika ia melihat mereka menatapnya seolah menunggu amanat, lalu berkatalah ia:

“Jauhilah oleh kalian tempat-tempat fitnah!”

Mereka, penduduk kota Madain pun lanjut bertanya, “di manakah tempat-tempat fitnah itu duhai Abu Abdillah?”

Ia menjawab:

“Pintu-pintu para pembesar. Seseorang di antara kalian masuk menemui mereka dan mengatakan ucapan palsu serta memuji perbuatan baik yang tak pernah mereka lakukan.”

Begitulah Hudzaifah, tegas tidak mengenal basa-basi. Tidak ada kalimat samar-sama yang diucapkannya. Baginya kehidupan yang baik itu adalah yang jelas dan gamblang, sementara yang jelek ialah yang gelap dan samar-samar. Hal ini muncul dari kebiasaannya yang memang agak berbeda dengan sahabat-sahabat Nabi yang lain. Berikut kita simak penuturannya.

“Orang-orang menanyakan kepada Rasulullah tentang kebaikan, tetapi saya menanyakan kepadanya tentang kejahatan, karena takut akan terlibat di dalamnya. Pernah kubertanya: ‘Duhai Rasulullah, dulu kita berada dalam kejahiliyahan dan diliputi kejahatan, lalu Allah mendatangkan kepada kita kebaikan ini, apakah di balik kebaikan ini ada kejahatan?’ ‘Ada,’ ujarnya. ‘Kemudian apakah setelah kejahatan masih ada lagi kebaikan?’ tanyaku pula. ‘Memang, tetapi kabur dan bahaya.’ ‘Apa bahaya itu?’ ‘Yaitu segolongan umat mengikuti sunnah bukan sunnahku dan mengikuti petunjuk bukan petunjukku. Kenalilah mereka olehmu dan laranglah.’ ‘Kemudian setelah kebaikan tersebut masih adakah lagi kejahatan?’ tanyaku pula. ‘Masih,’ ujar Nabi, ‘yakni para tukang seru di pintu neraka. Barangsiapa menyambut seruan mereka, akan mereka lemparkan ke dalam neraka.’ Lalu kutanyakan kepada Rasulullah, ‘ya Rasulullah, apa yang harus saya perbuat bila saya menghadapi hal demikian?’ Ujar Rasulullah, ‘senantiasa mengikuti jamaah kaum Muslimin dan pemimpin mereka.’ ‘Bagaimana kalau mereka tidak punya jamaah dan tidak pula pemimpin?’ ‘Hendaklah kamu tinggalkan golongan itu semua, walaupun kamu akan tinggal di rumpun kayu sampai kamu menemui ajal dalam keadaan demikian.‘”

Begitulah sahabat Rasulullah yang satu ini. Di kala sahabat lain berkutat dengan sumber-sumber kebaikan, ia mempelajari sungguh-sungguh sumber-sumber kejahatan. Alasannya jelas, ia takut terlibat di dalamnya.

 

taken from muhammadakhyar.tumblr.com

KisahSahabat · reblog · Tak Berkategori

#Lebihdekatdengansahabat 6: Bilal bin Rabah

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan,:)

Jika kita kemarin sudah menyimak bagaimana Hamzah mengenal Islam dan bagaimana pilunya Rasulullah melihat mayat pamannya itu rusak selepas pertempuran di Uhud sekarang kita akan melanjutkan perkenalan ke seorang sahabat lainnya. Muslim di seluruh dunia jika ditanya siapa saja sahabat Rasulullah yang mereka kenal, paling tidak akan menyebutkan para khalifah selepas Nabi meninggal, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Namun, pasti ada satu lagi nama sahabat yang akan disebut. Sahabat yang oleh Umar dijuluki:

“Abu Bakar adalah pemimpin kita, yang telah memerdekakan pemimpin kita.”

Anda tepat duhai teman, orang itu adalah Bilal bin Rabah. Orang yang kita dilontarkan pujian oleh Umar sebagai pemimpin kita, pasti akan langsung menunduk dan membasahi pipinya dengan air mata, dan berkata,

“Saya ini hanyalah seorang Habsyi, dan kemarin saya seorang budak belian!”

Silahkan anda tanya anak-anak Muslim di penjuru Bumi, mereka akan fasih menceritakan siapa itu Bilal dan bagaimana perjuangannya untuk mempertahankan tauhid yang telah dipegangnya. Siapa yang lupa, kata “Ahad Ahad Ahad” yang ia terus ucapkan ketika tubuh hitam kerempengnya diletakkan di gurun pasir panas kemudian di atasnya ditimpa dengan batu yang besar, agar ia melepaskan kata-kata tadi dari mulutnya dan menggantinya dengan satu kata saja dari nama-nama tuhan orang Mekkah saat itu.

Siapa pula yang tak mengenal Bilal, seorang tamsil betapa Islam tidak pernah mengenal perbedaan warna kulit, betapa Islam tidak pernah mengenal strata sosial, bahwa budak belian kemarin sore, bahwa seorang Habsyi berkulit hitam kemarin petang, tetapi ketika ia sudah mengucapkan syahadat, ia apapun status sosialnya, adalah seorang Muslim. Derajatnya sekarang ditentukan oleh Allah sesuai kadar takwanya. Dan Bilal sebagaimana sering disampaikan Rasulullah adalah orang yang suara sandalnya sudah terdengar di surga.

Lebih dari sekadar itu, Bilal adalah orang pertama yang menyerukan adzan untuk memanggil umat dan melanjutkan hidupnya bersama Rasulullah hingga Rasulullah meninggal dunia. Ketika itu ia datang menuju khalifah pertama yang begitu kita cintai, Abu Bakar untuk mencurahkan isi hatinya,

“Duhai Khalifah Rasulullah, saya mendengar beliau bersabda, amal orang Mukmin yang utama adalah berjihad fi sabilillah. Saya ingin berjuang di jalan Allah sampai saya meninggal dunia.”

Mendengar pernyataan Bilal ini, Abu Bakar bertanya padanya,

“Siapa lagi yang akan menjadi muaddzin bagi kami?”

Dengan air mata berlinang Bilal menjawab,

“Saya tak akan menjadi muaddzin lagi bagi orang lain setelah Rasulullah.”

Abu Bakar menolak permintaan dan berusaha membujuk Bilal untuk tetap di Madinah.

Kemudian Bilal berujar,

“Seandainya anda memerdekakan saya dulu adalah untuk kepentingan anda, baiklah saya terima permintaan anda itu. Tetapi bila anda memerdekakan saya karena Allah, biarkanlah diri saya untuk Allah sesuai dengan maksud baik anda itu.”

Abu Bakar pun tidak bisa lagi berbuat apa-apa, ia berkata, “tak lain saya memerdekakanmu waktu itu duhai Bilal, semata-mata karena Allah.”

Adakah kalian bingung, duhai teman-teman demi menyimak fragmen ini? Fragmen betapa kerasnya Bilal menolak untuk melantunkan adzan setelah masa-masa hidup dengan Rasulullah selesai. Jika kalian ingin tahu sebabnya, tak lain tak bukan adalah ketidakkuasaan Bilal untuk mengeluarkan suara ketika adzan yang ia kumandangkan dengan suaranya yang merdu itu, sampai pada kalimat,

“Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.”

Kalimat itu membuat kenangan lamanya pada Rasulullah bangkit kembali, suaranya tertelan oleh kesedihan dan digantikan cucuran tangis dan air mata. Karena alasan ini pulalah ia memutuskan pindah dari Madinah menuju Syria.

Hingga pada suatu ketika, Umar sebagai Amirul Mukminin datang ke Syria. Orang-orang menggunakan kesempatan itu dan memohon ke khalifah untuk meminta Bilal menjadi muaddzin bagi satu salat saja. Amirul Mukminin pun memanggil Bilal, ketika waktu salat tiba. Bilal pun melantunkan adzan terakhirnya. Sahabat-sahabat yang pernah mendapati Rasulullah di waktu Bilal menjadi muaddzinnya sama-sama menangis mencucurkan air mata yang tak pernah mereka lakukan selama ini. Sedang yang paling keras tangisnya di antara mereka adalah Umar.

 

taken from muhammadakhyar.tumblr.com

KisahSahabat · reblog

#Lebihdekatdengansahabat 5: Hamzah bin Abdul Mutthalib

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan, 🙂

Kemarin kita telah mencoba mengenal lebih dekat sahabat nabi bernama Sa’ad. Seorang sahabat yang dijuluki Abdurrahman bin ‘Auf sebagai “singa yang menyembunyikan kukunya” ketika ia diminta oleh Umar memberi rekomendasi siapa yang pantas memimpin pasukan Muslim untuk menghadapi tentara Persia. Nah, sekarang kita akan melangkah ke seorang sahabat yang begitu luar biasa. Sahabat yang juga merupakan paman Nabi, Hamzah.

Siapa yang tak kenal Hamzah? Tentu kita sudah lazim mendengar nama besar ini. Dia adalah salah satu orang yang disegani di kota Mekkah. Ketika ia masuk Islam, kaum muslim yang sedikit merasa terlindungi dari intimidasi kaum kafir Quraisy di Mekkah saat itu. Siapa pula yang tak mengenal kedahsyatan sahabat yang dikenal sebagai Singa Allah ini di medan laga. Ia adalah salah seorang sahabat yang menghancurkan tentara Mekkah di perang Badar. Dan karena hal inilah, ia dan tentunya Rasul, adalah orang yang paling diburu di medan tempur berikutnya, Uhud.

Siapa pula yang tak kenal dia yang jasadnya terbujur kaku di perang Uhud. Yang nyawanya direnggut oleh budak yang tangkas melempar tombak bernama Wahsyi. Yang terbunuhnya ia adalah impian terbesar dari seorang perempuan bernama Hindun, yang akhirnya membayar Wahsyi untuk membunuh Hamzah dan mengambil hatinya untuk ia kunyah. Fakta yang membuat Nabi tak bisa menahan matanya untuk berkaca-kaca. Betapa belum pernah ia menjumpai perilaku orang Arab yang begitu jauh dari nilai adat mereka anut. Kebiadaban itu adalah merusak mayat dan mayat itu adalah Hamzah, paman beliau. Rasulullah sampai berkata:

“Tak pernah aku menderita musibah seperti yang kuderita dengan peristiwa seperti anda sekarang ini. Dan tidak satu suasana pun yang lebih menyakitkan hatiku seperti suasana sekarang ini.”

Saat-saat perpisahan seperti ini, tidak ada penghormatan yang lebih utama yang ditemui Rasulullah daripada mensalatkannya bersama-sama dengan seluruh syuhada, seorang demi seorang. Jasad Hamzah dibawa ke tempat salat di medan laga, kemudian disalatkan oleh Rasulullah bersama para sahabat. Kemudian dibawa lagi ke sana seorang syahid lain dan disalatkan oleh Rasul. Mayat itu diangkat tetapi Hamzah dibiarkan di tempatnya, lalu dibawa lagi syahid ketiga dan dibaringkan di dekat Hamzah dan disalatkan pula oleh Rasul. Begitulah syuhada-syuhada itu didatangkan, satu demi satu, disalatkan oleh Rasulullah orang demi orang, hingga bila dihitung Hamzah disalatkan sebanyak tujuh puluh kali oleh Rasulullah.

Ah, sungguh tak kuat rasanya membayangkan peristiwa getir itu. Mari kita berpindah sejenak ke masa di awal Islam mulai tersiar di Mekkah. Masa ketika Hamzah belum lagi memeluk Islam sebagai keyakinannya. Saat itu Hamzah sudah tahu apa yang dilakukan oleh keponakannya itu. Hanya saja, Hamzah bukanlah sekadar paman bagi Rasul, ia juga adalah saudara sepersusuan, teman sepermainan, serta sahabat dari awal masa kehidupan. Ia tahu benar kualitas Muhammad. Muhammad di matanya adalah pribadi yang tanpa noda dan sampai dewasa adalah orang yang paling bisa dipercaya di kota Mekkah. Hingga sampailah pada suatu ketika…

Hamzah keluar dari rumahnya dengan menjinjing busur. Tujuannya jelas pergi berburu. Berburu adalah kegemarannya. Kira-kira setengah hari ia lakukan kegiatannya ini, ia pergi ke Ka’bah untuk bertawaf. Setibanya di dekat Ka’bah, ia ditemui oleh seorang pelayan wanita Abdullah bin Jud’an. Pelayan itu berkata, “Wahai Abu Umarah, seandainya anda melihat apa yang dialami oleh keponakan anda Muhammad baru-baru ini! Abul Hakam bin Hisyam, ketika mendapatkan Muhammad sedang di duduk di sana, disakitinya dan dimakinya, hingga mengalami hal-hal yang tidak diinginkan!

Demi mendengar cerita itu, Hamzah tertegun sejenak. Bergegaslah ia menuju Ka’bah. Belum sampai ia di sana, kelihatanlah olehnya Abul Hakam bin Hisyam atau biasa dikenal Abu Jahal di pekarangannya yang sedang dikelilingi oleh beberapa orang pembesar Quraisy. Dalam ketenangan yang mencekam itu, Hamzah maju menuju Abu Jahal. Ia lepaskan busurnya dan dipukulkannya busur itu ke kepala Abu Jahal hingga luka dan mengeluarkan darah. Hamzah membentak Abu Jahal,

“Kenapa kamu cela dan kami maki Muhammad, padahal aku telah menganut agamanya dan mengatakan apa yang dikatakannya. Nah, cobalah ulangi kembali makianmu itu kepadaku jika kamu berani!”

Suasana pun berubah, perkataan Hamzah tadi bagaikan petir di siang bolong di telinga para pembesar Quraisy. Keislaman Hamzah adalah bencana besar. Bencana yang sungguh-sungguh besar bagi orang-orang Quraisy pada saat itu.

Hamzah pun pulang. Di saat inilah pikirannya kembali bimbang. Ia tidak dapat menyangkal kualitas keponakan dan kebenaran apa yang ia bawa. Tetapi ia tidak ingin mengambil keyakinan tersebut dalam kondisi sedang marah. Ia kembali memikirkan apa yang telah ia lakukan. Tatkala alam pikirannya buntu tentang apa yang harus ia lakukan, ia pun menyerah. Pahlawan bangsa Arab ini akhirnya meminta pertolongan kepada yang ghaib. Di sisi Ka’bah, sambil wajahnya menengadah ke langit, ia memohon dan berdoa agar memperoleh petunjuk kepada yang haq dan jalan yang lurus. Beginilah penuturan sahabat Nabi yang mulia ini tentang masa-masa kebimbangannya itu,

“Kemudian timbullah sesal dalam hatiku karena meninggalkan agama nenek moyang dan kaumku… dan aku pun diliputi kebingungan hingga mata tak hendak tidur… Lalu pergilah aku ke Ka’bah dan memohon kepada Allah agar membukakan hatiku untuk menerima kebenaran dan melenyapkan segala keraguan. Allah pun mengabulkan permohonanku itu dan memenuhi hatiku dengan keyakinan. Aku pun segera menemui Rasulullah dan memaparkan keadaanku padanya, didoakannya kepada Allah agar ditetapkan-Nya hatiku dalam agama-Nya.”

Begitulah sahabat yang mulia ini memulai lembar baru hidupnya, sebagai pembela Islam.

taken from muhammadakhyar.tumblr.com

Harta Karun · Hikmah · reblog · Selftalk

“Sampai Jumpa di Neraka”

Kalau ngomongin surga dan neraka, ada dua hal yang pertama-tama terlintas di pikiran : Pertama, ini bahasan serem dan… b e r a t, o m! Kadang saking ngerasa ini terlalu berat, kita jadi cenderung ngga mau ngomongin soal ini. Ditambah karena ada semacam stereotip “Huh! Kayak situ pemilik cap surga dan neraka aja!” yang dilabelkan pada orang-orang yang berusaha menyiarkan ajaran agama, obrolan macam gini jadi rada-rada sensitif. Akhirnya, ya, urung diomongin. Takut dikira ekstremis. Padahal, keimanan seseorang ngga utuh kalau ngga meyakini adanya surga dan neraka (percaya pada akhirat adalah bagian dari rukun iman, jadi ngga usah didebat lagi penting enggaknya beriman pada surga dan neraka). Dari keyakinan itulah bisa muncul dorongan untuk mikirin, terlebih, nyiapin diri untuk menuju ke sana.

Kedua, yang langsung terlintas di pikiran adalah bayangan soal k e m a t i a n. Ngomongin mati ngga kalah seremnya. Gimana supaya ngomongin kematian bisa sambil santai? (Eh dibahas tuh di buku Psikologi Kematian karya Prof Komaruddin.) Hm. Gimana ya, diomongin ngga diomongin, namanya kematian pasti menghampiri. Kalau diomongin, minimal kita jadi ngeh kalau kita ga hidup lama, mesti siap-siap. Iya kan ya?

Hitung mundurnya juga kita ngga tau udah sampe angka berapa. Yang bikin nyesek itu kan ketika kita mikir bakal mati nanti saat udah tua, saat ibadah lagi rajin-rajinnya, ikut pengajian lagi getol-getolnya, nongkrongnya pun di masjid, eh padahal bisa jadi waktu yang kita punya tinggal seputaran rotasi Bumi saja. Yang lebih super nyesek, ketika kita mikir kita masih bakal ketemu orang tua, adik kakak, sanak saudara, teman kerabat yang kita sayangi dan bercanda gurau seperti biasa, lalu Allah menjemput satu per satu orang yang kita sayangi itu ke haribaan-Nya, sebelum kita sempat bertemu lagi.

Jadi, mari memberanikan diri untuk memikirkan dan membicarakan topik yang satu ini. Sesuatu yang pasti akan terjadi. Jangan lari, karena bisa jadi kematian sedang berlari menuju…..k i t a :“

Oke, cukup prolognya. Mumpung ada 10 menit waktu me time, saya ingin deh berbagi soal ilmu yang saya dapet dari seorang guru via suami saya mengenai surga dan neraka.

Saya tuh suka penasaran ingin nyari tahu, ketika ada orang yang dengan santai ngomong kalau dia mending masuk neraka aja karena biar bisa bareng sama artis-artis idolanya–sedangkan surga dianggap membosankan karena isinya orang2 yang ngga dia sukai.

“Sampai jumpa di neraka!” ujarnya.

Penasaran ingin tahu kenapa bisa mikir gitu. Apa karena putus asa, apa marah, atau sebatas bercanda? Mudah-mudahan canda aja sih. Kalau putus asa, mudah-mudahan beralih jadi punya harapan deh. Amin..

Soalnya, yang bikin saya bingung, di neraka masih sempet kenalan gitu?

Pada surat An-Nisa ayat 13-14, Allah menggambarkan kondisi penghuni surga dan neraka. Yang menarik, ada perbedaan pilihan kata yang digunakan oleh Allah dalam menggambarkan keadaan penghuni surga dan penghuni neraka. Supaya to the point, saya langsung sebutkan saja perbedaan katanya ya.

Jadi, dalam ayat 13, Allah menceritakan kondisi penghuni surga, dan di situ, untuk menyebut kekalnya surga bagi penghuninya, Allah menggunakan kata “Khaalidiina fiihaa abadan.” Garis bawahi kata “khalidiina.” Kata tersebut berarti kekal. Yang patut direnungkan, kata tersebut berbentuk jamak. Padahal konteks dalam ayat tersebut  menceritakan penghuni surga dengan menggunakan bentuk kata tunggal, “penghuni surga”, bukan para “penghuni surga.”

Sementara itu, di ayat selanjutnya, pada saat menyebutkan kekalnya neraka bagi penghuninya, digunakan kata “Khaalidan abadan.” Garis bawahi kata “Khaalidan.” Sebaliknya dari ayat penghuni surga, kata “khaalidan” merupakan bentuk kata tunggal.

Sebagai info, dalam bahasa Arab, predikat (kata sifat dan kata kerja) bentuknya berbeda-beda untuk setiap jenis subjek. Tidak seperti bahasa Indonesia, misalnya, yang penggunaan kata kerja dan sifat sama saja bentuknya untuk semua subjek. Contoh, kalimat “Aku pergi,“kalau subjek berubah menjadi “kami” (jamak), maka predikatnya tetap sama, “Kami pergi.” Sementara itu, dalam bahasa Arab tidak begitu. Kata “pergi” arti dasarnya adalah “Dzahaba”.  ”Aku pergi” dalam bahasa Arab (yang bentuk present tense) artinya “Adzhabu/Ana adzhabu” sedangkan “Kami pergi” artinya  ”Nadzhabu/Nahnu nadzhabu.“

Kurang lebih analogi di atas serupa dengan perbedaan ”Khalidan” dan “Khalidiina.” Kata “khalidan” merupakan predikat untuk subjek tunggal (dia). Sementara kata “khalidiina” merupakan predikat untuk subjek jamak (mereka).

Pertanyaannya, apa yang ingin Allah sampaikan kepada kita lewat perbedaan tersebut? Adakah pelajaran yang bisa dipetik darinya?

Menurut gurunya suami saya, Bu Titin (beliau anggota tim penyusun tafsir Alquran Unisba), ini merupakan petunjuk Ilahi bahwasanya………………………..

………………………………………………………………………….

eh serius amat sik! XP

Agak serem gimana gitu nih nulisnya, fiuhhh.

Gini deh, inti atomnya adalah, kalau mau ke neraka (amit-amit sihhhh), ngga perlu ngundang-ngundang, ajak kanan-kiri, narik depan-belakang. Ngga perlu juga janjian buat ketemu di sana.

Karena…n g g a  n g a r u h, S o b :“(

Di sana, penghuninya ngga bisa ‘menikmati’ neraka bersama-sama pujaan hati dan idola. Di sana ngga ada acara reunian, ngga ada acara meet and greet, ngga ada acara jumpa kangen. Ngga bakal ada…..

Karena… Balasan yang bakal diberikan di neraka itu buat individu per individu. Di ayat tadi, predikat yang digunakan adalah ”Khaalidan,“ artinya kekal sendirian. Iya sob, sendirian. Setiap penghuni akan sibuk dengan balasannya masing-masing. Saking beratnya itu balasan, ngga bakal sempet ada pikiran buat nengokin temen. Ngga bakal..

Dan itu sebabnya bentuk siksaan di sana bukan sebatas siksaan fisik. Tapi juga meliputi siksaan psikologis. Di ujung ayat 14 tadi disebut kata ”Muhiin.“ Artinya bukan sebatas siksaan yang pedih, tapi siksaan yang meliputi siksaan fisik dan psikologis, sehingga berlipat-lipat ganda penderitaan yang disebabkannya. Contoh siksaan psikologis ya itu salah satunya: Kesendirian.

Menjomblo bertahun-tahun aja udah bisa bikin galau dan stres, gimana kalau ini.. Sendirian…di neraka :((((((((

Beda sama penghuni komplek sebelahnya, Surga yang kita rindukan (Karena Surga yang Tak Dirindukan udah jadi judul film). Di sana, balasan yang diberikan bisa dinikmati bersama-sama. Maka pilihan katanya ”Khaalidiina,“ yang maknanya: mereka yang menghuni surga bakal bisa berkumpul lagi dengan orang tua, anak, keluarga, saudara, tetangga, kecengan, idola, panutan. Menikmati balasan dari Allah bersama-sama. Reunian, meet and greet, temu kangen, ramah tamah, semuanya bisa dilakukan..kalau d i  s u r g a.

Ngga berlebihan kalau Ayah Ibu kita sering banget berdoa supaya bisa dikumpulkan lagi sebagai sepasang kekasih di surga. Juga berdoa supaya bisa reunian lagi sama anak-anaknya, menantu-menantunya, cucu-cucunya,  di dalam surga. Hiks…..

Dan ngga heran kalau para sahabat Nabi begitu bersuka cita menyambut kematiannya. Abu Bakar ra, misalnya. Menjelang maut menjemput, ia justru berbahagia. Sebab tak ingin menunggu lebih lama lagi untuk bertemu sahabat yang amat disayanginya dan amat dirindukannya, Rasulullah Muhammad saw. Sampai-sampai beliau bertanya-tanya menjelang nafas terakhirnya, “Pada hari apa Rasul wafat? Pada usia berapa Rasul wafat?” Dan mengetahui bahwa beliau pun akan tiba pada penghujung hayatnya pada hari Senin, pada usia 63, yakni hari dan usia yang sama dengan ketika sang baginda wafat, bersukalah dirinya menyambut Izra’il. Bersuka karena ia akan reuni dengan Nabi Muhammad, dengan Hamzah, dan dengan para mukminin di tempat terbaik.

Begitu pula Utsman bin ‘Affan yang saat dibunuh tengah dalam keadaan shaum. Sebelumnya, ia bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad, Abu Bakar ra, dan Umar bin Khattab. Di mimpi tersebut, Nabi mengundang Utsman untuk hadir di tengah-tengah mereka, berbuka puasa bersama mereka. Maka kematian bukan menjadi sesuatu yang ditakuti oleh Utsman. Bagaimana mungkin ia takut, jika ia telah ditunggu untuk berkumpul kembali bersama sahabat-sahabatnya di tempat yang dijanjikan-Nya?

Lebih dari tentang surga dan reuni dengan orang terkasih, apa sihh yang bisa mengalahkan perasaan suka cita yang hadir karena mereka-mereka itu, para Nabi, sahabat, dan mukminin, dapet kesempatan untuk bertemu dengan Dia Yang Maha Segalanya, Yang Maha Esa, Maha Penyayang dan Pengasih, Allah Subhaanahu wa ta’ala? The ultimate goal of every step we take, every road we choose, every pray we ask for. Berjumpa dengan Tuhan seluruh alam. :”””” Allahumma….

Lalu…kita gimana? 

Bisa ngga ya kita mempersiapkan kematian dengan baik? Mampu ngga ya kita menyambut kematian dengan lapang dada, bahkan, penuh suka cita, semata-mata karena sudah siap dengan bekal yang dibawa? Nyampe ngga ya hati kita untuk meyakini bahwa kematian adalah jalan untuk bertemu dengan-Nya?

Setidak-tidaknya, mari kita beranikan diri untuk berharap pada Allah agar digolongkan dalam golongan penghuni surga. Memelihara harapan itu penting. Bagaimana kita menetapkan prasangka kita di antara rasa cemas dan harap. Jangan sampai kita menjadi orang yang putus asa dari rahmat-Nya, enggan berusaha menuju ke surga, dan dengan mudahnya berkata, “Sampai jumpa di neraka.”

***

Sangat menarik bagaimana pilihan-pilihan kata dalam Alquran menggambarkan keluasan ilmu Allah Swt. Baru belajar soal perbedaan penggunaan kata dan dampaknya aja saya mah udah takjub luar biasa dengan kitab-Nya yang satu ini (pake istilah ‘yang satu ini’ karena ada kitab-kitab lain kan, Zabur, Taurat, Injil, yang juga wajib diimani). Pantes banget sih kalau Alquran mampu mengambil hati para penyair di zaman Nabi Muhammad saw. Dilihat dari susunan kata, rima, pilihan kata, makna, kandungan, aseli ini bacaan yang ajaib! Mukjizat terbesar! Luar biasa!

Maka tak heran jika ia diberikan sebuah ruang VVIP di hati umat Muslim, yang dijaga dengan bodyguard yang sangat berhati-hati. Semoga Allah merahmati kita dengan Alquran….

.
.
.
taken from urfa-qurrota-ainy.tumblr.com

KisahSahabat · reblog

#Lebihdekatdengansahabat 4: Sa’ad bin Abi Waqqash

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan, 🙂

Bagaimana kabarnya hari ini saudara? Sembari menunggu waktu berbuka, mari kita lanjutkan perjalanan kita menelusuri jejak para sahabat Rasulullah. Setelah kemarin kita telah bertemu dengan sahabat Nabi yang luar biasa, Abu Dzar dari kabilah Ghifar, sekarang kita akan bertemu sosok yang merupakan satu-satunya orang yang dijamin oleh Rasulullah dengan jaminan kedua orang tua beliau. Jaminan itu dilontarkan Rasul di tengah deru perang Uhud, beliau berkata:

“Panahlah hai Sa’ad! Ibu bapakku menjadi jaminan bagimu!”       

Selain itu Rasulullah pun pernah berdoa untuknya,

“Ya Allah, tepatkanlah bidikan panahnya dan kabulkanlah doanya.”

Ya, itulah dia Sa’ad bin Abi Waqqash. Orang yang ketika memanah selalu tepat dan ketika berdoa selalu dikabulkan oleh Allah, karena doa Nabi tadi. Orang yang masuk Islam selagi berusia 17 tahun dan termasuk tiga orang pertama yang masuk Islam. Hal ini pernah diceritakannya sendiri, katanya:

“Pada suatu saat saya memperoleh kesempatan termasuk tiga orang pertama yang masuk Islam.”

Sa’ad termasuk sahabat yang memiliki tempat yang istimewa di sisi Rasul. Bila ia datang kepada Rasul yang sedang berada di antara sahabat-sahabat yang lain, Rasul senantiasa menyambutnya dengan ucapan selamat sambil bergurau,

“Ini dia pamanku, siapa orang yang punya paman seperti pamanku ini?”

Suatu kali ketika Rasulullah sedang duduk bersama sahabat, tiba-tiba beliau menatap dan menajamkan pandangannya ke arah ufuk bagai seseorang yang sedang menunggu bisikan atau kata-kata rahasia. Kemudian beliau menoleh kepada para sahabat, beliau berkata:

“Sekarang akan muncul di hadapan tuan-tuan seorang laki-laki penduduk surga.”

Para sahabat pun menengok ke kiri kanan dan ke setiap arah untuk melihat siapakah kiranya orang yang berbahagia dan beruntung memperoleh karunia seperti itu. Dan, ya, tak lama kemudian muncullah orang yang sedang coba kita kenali ini, dialah Sa’ad bin Abi Waqqash.

Tentu saja apa yang didapat oleh Sa’ad bukanlah tanpa usaha. Kekuatan iman seorang Sa’ad berkali-kali mendapat ujian. Salah satu ujian yang ia temui dalam mempertahankan keimanannya akan saya ceritakan sebentar lagi. Ujian yang pasti akan menggetarkan siapapun, ujian yang bahkan seorang Umar, khalifah kedua setelah masa kenabian tidak bisa melupakannya. Inilah kisah Sa’ad yang begitu menggetarkan itu.

Keimanan begitu ditentang oleh ibunya. Ketika itu segala usaha dilakukannya untuk menghalangi putranya dari agama Allah selalu gagal, hingga akhirnya ia menempuh jalan yang tidak dapat tidak, pasti akan melemahkan semangat Sa’ad. Ketika semangat ini menurun, ibunya berharap bisa membawanya ke pangkuan agama berhala dan kembali kepada kaum kerabatnya.

Wanita itu, menyatakan diri mogok makan dan minum hingga Sa’ad bersedia kembali ke agama nenek moyang dan kaumnya. Namun, Sa’ad tidak berubah pendirian juga. Ketika keadaan ibunya sudah demikian gawat, beberapa orang keluarganya membawa Sa’ad kepadanya untuk menyaksikannya kali terakhir, dengan harapan hatinya akan melunak. Tentu saja sebagai seorang anak, demi menyaksikan keadaan ibunya, hancur luluh hatinya. Tak sampai hatinya tetapi keimanannya kepada Allah dan Rasulullah tak bisa ditawar lagi.

“Demi Allah, ketahuilah duhai Ibunda, seandainya bunda mempunyai seratus nyawa, lalu ia keluar satu per satu, tidaklah daku akan meninggalkan Agama ini walau ditebus dengan apa pun juga. Maka terserahlah kepada bunda, apakah bunda mau makan atau tidak…”

Akhirnya ibunya pun mundur teratur dan turunlah wahyu yang mendukung pendirian Sa’ad serta mengucapkan selamat kepadanya,

“Dan seandainya kedua orang tua memaksamu untuk mempersekutukan Aku padahal itu tidak sesuai dengan pendapatmu, janganlah kamu mengikuti keduanya.” (Q.S. Luqman: 15)

Begitulah kisah Sa’ad. Betapa perjuangan mempertahankan iman terkadang hadirnya tidak dari jauh, tidak dari luar, ia bisa saja datang dari orang-orang terdekat, dari orang-orang yang kita cintai.

taken from muhammadakhyar.tumblr.com

KisahSahabat · reblog

#Lebihdekatdengansahabat 3: Abu Dzar Al Ghifari

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan, 🙂

Kemarin kita telah menyimak kisah yang dituturkan oleh Salman Al-Farisi mengenai perjuangannya untuk menemukan Islam. Luar biasa bukan? Sekarang, kita akan berkenalan dengan sosok luar biasa lainnya. Beliau termasuk orang-orang yang memeluk Islam di waktu awal turunnya risalah kenabian pada Rasulullah. Sahabat ini bernama Abu Dzar Al-Ghifari. Ghifar adalah suatu kabilah yang tiada taranya dalam soal menempuh jarak. Mereka menjadi tamsil perbandingan dalam melakukan perjalanan yang luar biasa. Oleh karena itulah, ketika Abu Dzar memperkenalkan diri kepada Rasulullah, terbukalah senyum lebar di kedua bibir beliau, sementara wajahnya diliputi rasa kagum dan takjub.

Pada saat Abu Dzar mengucapkan syahadat, dakwah yang disampaikan Rasulullah masihlah dalam metode sembunyi-sembunyi, demi melihat ini bertanyalah Abu Dzar:

“Wahai Rasulullah, apa yang harus saya kerjakan menurut anda?” “Kembalilah kepada kaummu sampai ada perintahku nanti,” ujar Rasulullah. “Demi Tuhan yang menguasai nyawaku,” kata Abu Dzar pula, “saya takkan kembali sebelum meneriakkan Islam dalam masjid!”

Beginilah tabiat sahabat Rasulullah yang satu ini, radikal dan revolusioner. Abu Dzar pergi menuju Masjidil Haram dan menyerukan sekeras-kerasnya

“Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyahadu anna muhammadar rasullullah.”

Sudah bisa diduga, akibat perbuatannya ini, ia mendapat pukulan dari orang-orang kafir di Mekkah hingga akhirnya tubuhnya rubuh. Meskipun pada akhirnya peristiwa ini tidak berakhir pada kematian karena ia diselamatkan oleh paman Nabi, Abbas, ia kembali mengulangi perbuatannya esok harinya. Ia pun kembali rubuh. Demi melihat hal ini Rasulullah kembali mengulang perintahnya agar Abu Dzar kembali pulang kepada kaumnya.

Kemudian satu pertanyaan tersisa tentu di hati kita masing-masing, apakah sahabat Nabi ini hanya bisa berteriak-teriak. Menginginkan perubahan radikal tanpa melakukan apapun lagi setelah itu. Hanya bisa kesal dengan keadaan yang ada tetapi tidak berakhir pada tindakan nyata. Apakah itu akhir dari keislaman Abu Dzar? Untuk menjawabnya, mari kita intip peristiwa yang terjadi di Madinah, lama setelah pulangnya Abu Dzar ke kaumnya, masa ketika Nabi sudah hijrah ke Madinah.

Suatu hari, satu barisan panjang yang terdiri atas para pengendara dan pejalan kaki menuju pinggiran kota, meninggalkan kepulan debu di belakang mereka. Kalau bukanlah bunyi takbir yang bergemuruh, tentulah yang melihat akan menyangka mereka itu suatu pasukan tentara musuh yang hendak menyerang kota.

Rombongan itu semakin dekat, lalu masuk ke dalam kota. Jelas, arah yang mereka tuju adalah masjid Rasulullah dan rumah kediamannya. Setelah diperhatikan lebih dekat, jelaslah sudah sekarang, rombongan itu tidak lain adalah kabilah-kabilah Ghifar dan Aslam yang dikerahkan semuanya oleh Abu Dzar dan tanpa kecuali telah masuk Islam, laki-laki, perempuan, orang tua, remaja, dan anak-anak.

Takjublah Rasulullah melihat hal ini. Beberapa waktu yang lampau ia takjub ada seorang laki-laki dari Ghifar yang menyatakan keislaman dan sekarang yang datang adalah seluruh warga Ghifar yang menyatakan keislamannya. Rasulullah melayangkan pandangannya kepada wajah-wajah yang berseri-seri, pandangan yang diliputi rasa haru dan cinta kasih. Sambil menoleh ke kabilah Ghifar, ia bersabda:

Kabilah Ghifar telah di-ghafar (diampuni) oleh Allah.

Kemudian sambil menghadap kepada kabilah Aslam, ia bersabda:

Kabilah Aslam telah di-salam (diterima dengan damai) oleh Allah.

Begitulah kisah Abu Dzar, sahabat yang oleh Rasulullah digambarkan dengan,

Takkan pernah ada lagi dijumpai di bawah langit ini, orang yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar.

 

taken from muhammadakhyar.tumblr.com

 

 

KisahSahabat · reblog

#Lebihdekatdengansahabat 2: Salman Al Farisi

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan, selamat menjalankan ibadah Ramadan. 🙂

Kemarin kita sudah berkenalan dengan duta Islam pertama. Pemuda Mekkah yang baik parasnya, baik tuturnya. Sekarang kita akan lanjutkan perjalanan menuju keeping perkenalan berikutnya. Dialah Salman Al-Farisi. Seorang sahabat yang berasal dari Persia. Usulan yang begitu revolusioner dalam hal pembuatan parit di sekeliling Medinah untuk menangkis serangan lawan, tentu sudah menjadi lahapan teman-teman semua bukan? Nah, saat ini kita akan mencoba memperhatikan langsung tutur kata beliau dalam menceritakan pengalaman hidupnya sehingga akhirnya bisa bertemu dengan Islam.

“Aku berasal dari Isfahan, warga suatu desa yang bernama ‘Ji’. Bapakku seorang bupati di daerah itu dan aku merupakan makhluk Allah yang paling disayanginya. Aku membaktikan diri dalam agama Majusi, hingga diserahi tugas sebagai penjaga api yang bertanggung jawab atas nyalanya dan tidak membiarkannya padam.

Bapakku memiliki sebidang tanah, pada suatu hari aku disuruh ke sana. Dalam perjalanan ke tempat tujuan, aku lewat di sebuah gereja milik kamu Nasrani. Kudengar mereka sedang sembahyang, aku masuk ke dalam untuk melihat apa yang mereka lakukan. Aku kagum melihat cara mereka sembahyang dan kataku dalam hati: ‘Ini lebih baik dari apa yang aku anut selama ini!’ Aku tidak beranjak dari tempat itu sampai matahari terbenam dan tidak jadi pergi ke tanah milik bapakku serti tidak pula kembali pulang, hingga bapak mengirim orang untuk menyusulku.

Karena agama mereka menarik perhatianku, kutanyakan kepada orang-orang Nasrani dari mana asal-usul agama mereka. ‘Dari Syria’, ujar mereka.

Ketika telah berada di hadapan bapakku, kukatakan kepadanya: ‘Aku lewat pada suatu kaum yang sedang melakukan upacara sembahyang di gereja. Upacara mereka sangat mengagumkanku. Kuliat pula agama mereka lebih baik dari agama kita’. Kami pun berdiskusi dan berakhir dengan dirantainya kakiku dan dipenjarakannya aku.

Kepada orang-orang Nasrani kukirim berita bahwa aku telah menganut agama mereka. Kuminta pula agar bila datang rombongan dari Syria, supaya aku diberi tahu sebelum mereka kembali, karena aku akan ikut bersama mereka ke sana. Permintaanku itu mereka kabulkan, kuputuskan rantai, lalu meloloskan diri dari penjara dan menggabungkan diri kepada rombongan itu menuju Syria.

Sesampainya di sana kutanyakan seorang ahli dalam agama itu, dijawabnya bahwa ia adalah uskup pemilik gereja. Datanglah aku padanya, kuceritakan keadaanku. Akhirnya, tinggallah aku bersamanya sebagai pelayan, melaksanakan ajaran mereka dan belajar. Sayang uskup ini seorang yang tidak baik agamanya, karena dikumpulkannya sedekah dari orang-orang dengan alasan untuk dibagikan, ternyata disimpan untuk dirinya pribadi. Kemudian uskup itu wafat.

Mereka mengangkat orang lain sebagai gantinya. Dan kulihat tak seorang pun yang lebih baik agamanya dibanding uskup baru ini. Aku pun mencintainya sedemikian rupa, hingga hatiku merasa tak seorang pun yang lebih kucintai sebelum itu.

Dan tatkala ajalnya telah dekat, tanyaku padanya: ‘Sebagai anda maklumi, telah dekat saat berlakunya takdir Allah atas diri anda. Apakah yang harus kuperbuat dan siapakah yang sebaiknya harus kuhubungi?’ ‘Anakku,’ ujarnya, ‘tak seorang pun menurut pengetahuanku yang sama langkahnya dengan aku, kecuali seorang pemimpin yang tinggal di Mosul’. Lalu tatkala ia wafat aku pun berangkat ke Mosul dan menghubungi pendeta yang disebutkan tadi. Kuceritakan kepadanya pesan dari uskup tadi dan aku tinggal bersamanya selama waktu yang dikehendaki Allah.

Kemudian tatkala ajalnya telah dekat pula, kutanyakan kepadanya siapa yang harus kuturuti. Ditunjukkannyalah orang salih yang tinggal di Nasibin. Aku datang kepadanya dan kuceritakan perihalku, lalu tinggal bersamanya selama waktu yang dikehendaki Allah pula.

Tatkala ia hendak meninggal, kubertanya pula kepadanya. Disuruhnya aku menghubungi seorang pemimpin yang tinggal di Amuria, suatu kota yang termasuk wilayah Romawi. Aku berangkat ke sana dan tinggal bersamanya, sedang sebagai bekal hidup aku beternak sapi dan kambing beberapa ekor banyaknya.

Kemudian dekatlah pula ajalnya, kutanyakan padanya kepada siapa aku dipercayakan. Ujarnya: ‘Anakku, tak seorang pun yang kukenal serupa dengan kita keadaannya dan dapat kupercayakan engkau kepadanya. Tetapi sekarang telah dekat datangnya masa kebangkitan seorang Nabi yang mengikuti agama Ibrahim secara murni. Ia nanti akan hijrah ke suatu tempat yang ditumbuhi kurma dan terletak di antara dua bidang tanah berbatu-batu hitam. Seandainya kamu dapat pergi ke sana, temuilah dia. Ia mempunyai tanda-tanda yang jelas dan gambling. Ia tidak mau makan sedekah, sebaliknya bersedia menerima hadiah dan di pundaknya ada tanda kenabian yang bila kau melihatnya segeralah kau mengenalinya.’

Kebetulan pada suatu hari lewatlah suatu rombongan berkendaraan, lalu kutanyakan dari mana mereka datang. Tahulah aku bahwa mereka dari jazirah Arab, kataku kepada mereka: ‘Maukah kalian membawaku ke negeri kalian, sebagai imbalannya kuberikan kepada kalian sapi-sapi dan kambing-kambingku ini.’ ‘Baiklah,’ ujar mereka.

Demikianlah mereka membawaku serta dalam perjalanan hingga sampai di suatu negeri yang bernama Wadil Qura. Di sana aku mengalami penganiayaan, mereka menjualku kepada seorang Yahudi. Ketika tampak olehku banyak pohon kurma, aku berharap kiranya negeri ini yang disebutkan pendeta kepadaku dulu, yakni yang akan menjadi tempat hijrahnya Nabi yang ditunggu. Ternyata dugaanku meleset.

Mulai saat itu aku tinggal bersama orang yang membeliku, hingga pada suatu hari datang seorang Yahudi Bani Quraidhah yang membeliku darinya. Aku dibawanya ke Madinah dan demi Allah baru saja kulihat negeri itu, aku pun yakin itulah negeri yang disebutkan dulu.

Aku tinggal bersama Yahudi itu dan bekerja di perkebunan kurma milik Bani Quraidhah, hingga datang saat dibangkitkannya Rasulullah yang datang ke Madinah dan singgah pada Bani Amar bin Auf di Quba.

Pada suatu hari, ketika aku berada di puncak pohon kurma sedang majikanku sedang duduk di bawahnya, tiba-tiba datang seorang Yahudi saudara sepupunya yang mengatakan padanya: ‘Bani Qilah celaka. Mereka berkerumun mengelilingi seorang laki-laki di Quba yang datang dari Mekkah dan mengaku Nabi.’

Demi Allah, baru saja ia mengucapkan kata-kata itu, tubuhku pun bergetar keras hingga pohon kurma itu bagai bergoncang dan hampir saja aku terjatuh menimpa majikanku. Aku segera turun dan kataku kepada orang tadi: ‘Apa kata anda? Ada berita apakah?’

Majikanku mengangkat tangan lalu meninjuku sekuatnya, serta bentaknya: ‘Apa urusanmu dengan ini, ayo kembali ke pekerjaanmu!’ Aku pun kembalilah bekerja.

Setelah hari petang, kukumpulkan segala yang ada padaku, lalu keluar dan pergi menemui Rasulullah di Quba. Aku masuk kepadanya ketika beliau sedang duduk bersama beberapa orang anggota rombongan. Lalu kataku kepadanya: ‘Tuan-tuan adalah perantau yang sedang dalam kebutuhan. Kebetulan aku mempunyai persediaan makanan yang telah kujanjikan untuk sedekah. Dan setelah mendengar keadaan tuan-tuan, menurut hematku, tuan-tuanlah yang lebih layak menerimanya, dan makanan itu kubawa ke sini’. Lalu makanan itu kutaruh di hadapannya.

Makanlah dengan menyebut nama Allah.

Sabda Rasulullah kepada sahabatnya, tetapi beliau tak sedikit pun mengulurkan tangannya menjamah makanan itu. ‘Nah, demi Allah!’ kataku dalam hati, ‘inilah satu dari tanda-tandanya, bahwa ia tak mau memakan harta sedekah’.

Aku kembali pulang, tetapi pagi-pagi keesokan harinya aku kembali menemui Rasulullah sambil membawa makanan, serta kataku kepadanya: ‘Kulihat tuan tak hendak makan sedekah, tetapi aku mempunyai sesuatu yang ingin kuserahkan kepada tuan sebagai hadiah,’ lalu kutaruh makanan di hadapannya. Bersabdalah ia kepada sahabatnya:

Makanlah dengan menyebut nama Allah.

Dan beliaupun turut makan bersama mereka. ‘Demi Allah!’kataku dalam hati, ‘inilah tanda yang kedua, bahwa ia bersedia menerima hadiah’.

Aku kembali pulang dan tinggal di tempatku beberapa lama. Kemudian aku pergi mencari Rasulullah dan kutemui beliau di Baqi’, sedang mengiringkan jenazah dan dikelilingi oleh sahabat-sahabatnya. Ia memakai dua lembar kain lebar, yang satu dipakainya untuk sarung dan yang satu lagi sebagai baju.

Kuucapkan salam kepadanya dan kutolehkan pandangan hendak melihatnya. Rupanya ia mengerti akan maksudku, disingkapkannya kain burdah dari lehernya hingga Nampak pada pundaknya tanda yang kucari, yaitu tanda kenabian sebagai yang disebut oleh pendeta dulu.

Melihat itu aku meratap dan menciumnya sambil menangis. Lalu aku dipanggil menghadap oleh Rasulullah. Aku duduk di hadapannya, lalu kuceritakan kisahku kepadanya sebagai yang telah kuceritakan tadi.

Kemudian aku masuk Islam dan perbudakan menjadi penghalangku untuk menyertai perang Badar dan Uhud. Lalu pada suatu hari Rasulullah menitahkan padaku:

Mintalah pada majikanmu agar ia bersedia membebaskanmu dengan menerima uang tebusan.

Maka kumintalah kepada majikanku sebagaimana dititahkan Rasulullah, sementara Rasulullah menyuruh sahabat untuk membantuku dalam soal keuangan.

Demikian aku dimerdekakan oleh Allah dan hidup sebagai seorang Muslim yang bebas merdeka, serta mengambil bagian bersama Rasulullah dalam perang Khandaq dan peperangan lainnya.“

Begitulah kisah Salman, sahabat yang melakukan perjalanan mencari kebenaran dari Persia hingga Medinah, dari seorang anak pejabat hingga menjadi budak. Semua ia lakukan karena energi cinta, cinta kepada kebenaran.

taken from muhammadakhyar.tumblr.com

KisahSahabat · reblog

#Lebihdekatdengansahabat 1: Mush’ab bin Umair

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan 🙂

Sudah siap memulai perjalanan untuk lebih dekat dengan para sahabat Rasulullah?

Perkenalan kita akan dimulai dengan seseorang bernama Mush’ab bin Umair. Beliau adalah seorang pemuda Quraisy terkemuka, seseorang yang paling gagah dan tampah, penuh dengan semangat kepemudaan. Para ahli riwayat melukiskannya dengan “Seorang warga kota Mekkah yang mempunyai nama paling harum.” Tak hanya namanya yang harum, bahkan kabarnya banyak penduduk Mekkah yang meminta air cucian bajunya untuk dijadikan pengharum.

Ia dikenal sebagai duta Islam yang pertama. Ialah yang diutus oleh Rasulullah menuju Yatsrib (kemudian menjadi Madinah) untuk berdakwah di sana. Menurut salah satu riwayat yang ada, keberhasilan dakwah beliau dibuktikan dengan tidak adanya satu pun rumah di Medinah yang tidak ada seorang muslimnya pada saat Rasul sampai di kota itu setelah hijrah dari Mekkah.

Karena ini perkenalan saja sifatnya, saya akan mempercepat kisah ini hingga pada fragmen yang begitu menggetarkan. Kepingan kisah perjuangan yang begitu mengharukan. Kisah itu adalah penggalan cerita Mush’ab di perang Uhud. Mari kita menyimak saksi mata yang akan menceritakan saat-saat terakhir pahlawan besar kita ini.

Berkata Ibn Sa’ad: “Diceritakan kepada kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil al-Abdari dari bapaknya, ia berkata:

Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera di perang Uhud. Tatkala barisam Muslimin pecah, Mush’ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah seorang musuh berkuda, Ibnu Qumaiah namanya, lalu menebas tanganya hingga putus, sementara Mush’ab mengucapkan: ‘Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul’. Maka dipegangnya bendera di tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya hingga putus. Mush’ab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraih ke dada sambil mengucapkan: ‘Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul’. Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak dan menusukkannya hingga tombak itu pun patah. Mush’ab pun gugur dan bendera jatuh.”

Rasulullah bersama para sahabat datang meninjau medan pertempuran untuk menyampaikan perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai di tempat terbaringnya jasad Mush’ab bercucuranlah dengan deras air matanya. Berkata Khabbah ibn ‘Urrat:

“Kami hijrah di jalan Allah bersama Rasulullah saw dengan mengharap keridhaan-Nya, hingga pastilah sudah pahala di sisi Allah. Di antara kami ada yang telah berlalu sebelum menikmati pahalanya di dunia ini sedikit pun juga. di antaranya ialah Mush’ab bin Umair yang gugur di perang Uhud. Tak sehelai pun kain untuk menutupinya selain sehelai burdah. Andaikan ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua kakinya. Sebalinya bila ditutupkan ke kaki, terbukalah kepalanya. Rasulullah saw bersabda: ‘Tutupkanlah ke bagian kepalanya dan kakinya tutupilah dengan rumput idzkhir’.“

Kemudian dengan mengeluh memandangi burdah yang digunakan untuk kain tutupnya, seraya berkata:

“Ketika di Mekkah dulu, tak seorang pun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya dari padamu. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya dibalut sehelai burdah.”

Ah, itulah kisah Mush’ab, kisah yang selalu membuat saya bergidik membayangkannya. Kisah tranformasi seorang pemuda dari keluarga kaya menjadi seorang pewarta agama yang begitu memikat. Ia mampu memaksimalkan apa yang ia miliki, penampilan yang menarik, retorika yang mumpuni, untuk mengajak orang-orang di Medinah mengenal dan mencintai agama baru, Islam.
.
.
.
taken from muhammadakhyar.tumblr.com

 

 

KisahSahabat

Paradoksal Abu Bakar dan Umar

Dari dulu saya sebenarnya bertanya-tanya, mengapa kisah hidup Abu Bakar jauh lebih sedikit yang kita temukan daripada kisah Umar?

Lalu, tiap membaca kisah mereka dari hadist, ada sensasi aneh dan unik yang muncul. Misalnya, saat kita membaca kisah Umar, beliau selalu tampil sebagai seorang yang kuat, tegas, dan cenderung keras.

Abu Bakar sebalknya, tidak menonjol dan tidak mau menonjol. Abu Bakar selalu meringkuk di pojokan dan tidak nyaman jika diminta tampil. Namun, saat ia tampil, jawaban dan tindakan-tindakannya membelalakkan mata.

Abu Bakar jelas adalah seorang phlegmatis murni. Jika ia tak harus muncul, ia takkan mau muncul. Ketika harus muncul, Abu Bakar pun bicara dengan kerendahan hati luar biasa. Kata-katanya singkat, tindak-tanduknya mencerminkan “siapa sih saya, bukan apa-apa”. Wajahnya merah saat dipuji. Ia tidak suka dipuji. Gambaran fisiknya pun makin menguatkan asumsi itu, “kurus, tinggi, berkulit putih, terlihat ringkih, agak bungkuk, berjenggot putih, dan pendiam”, begitu gambaran umum fisik Abu Bakar.

Abu Bakar beramal dalam diam, tapi amalnya luar biasa. Amalnya adalah yang terbaik. Hanya beberapa amal yang sempat Umar pergoki. Namun, saat Umar berhasil “menangkap basah”, ia hanya bisa kicep melihat kualitas amal Abu Bakar.

“Sungguh, engkau telah membuat kesulitan tiap pemimpin yang menggantikanmu, wahai Abu Bakar”, keluh Umar. Umar memberikan pernyataan itu saat memergoki Abu Bakar tiap pagi datang ke rumah janda tua di pinggir Makkah. Abu Bakar memberishkan rumah janda tersebut dan memasakkan makanan untuknya. Ia mengurus janda itu tiap hari. Padahal, saat itu Abu Bakar adalah khalifah.

Begitu pula saat Nabi bertanya kala bincang setelah subuh. Saat ditanya siapa yang hari ini sudah bersedekah, menengok orang sakit, dan bertakziyah, tak ada satupun sahabat yang sudah melakukannya kecuali Abu Bakar. Ia mengangkat tangan, mengaku dalam malu, sementara sahabat lain terbengong.

Abu Bakar, jangan main-main. Masih jam 5 pagi dan Anda sudah bertakziyah, bersedekah, dan menjenguk orang sakit? Seperti apa Anda menjalani hari-hari Anda? Jam berapa Anda bangun? Dan Anda malu-malu dalam mengaku kepada nabi? Duh, apalah kami dibandingkan Anda.

Dengan karakter Abu Bakar yang seperti itu, wajar saja tak banyak kisah yang kita dapatkan.

Umar, dalam berbagai segi, adalah kebalikan Abu Bakar. Umar adalah potret sejati dari karakter Koleris murni. Keras, tegas, raksasa, pemaksa, dan cenderung keras. Fisik Umar digambarkan sebagai, “tinggi-besar, berotot, botak, keras, kasar, pandangan matanya tajam, garang – semua orang takut padanya”.

Kata-kata khas yang ia pakai kadang mirip preman pasar, “penggal saja!”, “aku akan membunuhmu!”, “kita harus melawan mereka!”, “wahai Rasululah, kenapa kita harus takut kepada Quraisy?”

Kenyataannya, Umar memang mantan preman pasar Ukazh. Sebelum masuk Islam, ia adalah tukang berkelahi dan jagoan Ukazh.

Sikapnya yang berani mengambil resiko memang luar biasa. Dan seperti karakter Koleris lainnya, kita melihat seorang yang menonjol. Koleris banyak sekali mengambil inisiatif untuk perubahan – dan bagi mereka, itu adalah sesuatu yang biasa mereka lakukan. Saat kau menginginkan ketenangan, panggil phlegmatis. Namun, saat kau merasa buntu, panggil Koleris. Koleris akan memecahkan kebuntuan-kebuntuanmu dengan cepat.

Dan itu pula yang dilakukan Umar. Saat jamaah muslim ketakutan di Makkah, Umar mengajak mereka berthawaf dan sholat di Ka’bah. Saat muslim yang lain hijrah diam-diam dalam malam, cuma Umar seorang yang menenteng pedang di bahunya sambil berteriak menantang di siang bolong, “Bagi yang mau menghadang aku untuk hijrah, silahkan!” Tak ada satupun orang yang menghadang Umar.

Makanya, dengan karakter Umar yang seperti itu, kisah tentang Umar membanjiri sirah nabawiyah Islam. Tidak heran.

Namun, ada satu hal yang unik, dan ini membuat kekaguman saya bertambah-tambah. Saat memilih pemimpin di Tsaqifah, mereka tidak memilih pemimpin yang menonjol. Mereka memilih pemimpin yang terbaik.

Abad 21 adalah abad ekstrovert. Saya yakin, andaikata ada pemilihan pemimpin antara Abu Bakar dan Umar tahun 2015 ini, Umar lah yang akan menang. Abad ini, orang yang lebih menonjol, lebih banyak berbicara, lebih banyak mengambil inisiatif, dia lah yang dipandang lebih baik. Setidaknya begitulah kata Susan Cain dalam bukunya Quiet. Pernahkah kamu berada dalam ruangan dan terpesona oleh orang yang banyak bicara dan aktif memberi ide, tapi kemudian kecewa karena ia tak bisa memimpin tim dan memberi hasil yang diharapkan?

Padahal, kepemimpinan bukan diukur dari seberapa baik ia bicara di depan publik. Ia bukan diukur dari keberaniannya untuk berorasi di depan orang-orang. Gandhi bukanlah orang yang jago pidato. King George X dari Inggris pun gagap saat coba bicara di depan rakyatnya (dan kemudian dibuatlah film King’s Speech untuk memotret fenomena itu).

Kepemimpinan, menurut saya, adalah lebih pada kemampuan membawa orang yang dipimpin untuk sampai ke tujuan. Jika demi sampai ke tujuan si pemimpin harus bagus bicara di depan publik ya bisa jadi. Tapi bukan itu fokusnya.

Makanya, ketika Utsman menjadi khalifah, ia jarang sekali pidato. Dan sekalinya pidato, ia cuma berpidato begini, “Sesungguhnya pemimpin yang terbaik adalah yang paling banyak kerjanya, bukan yang paling banyak bicaranya”. Lalu ia turun dari mimbar, meninggalkan jamaah muslimin yang bengong.

Peristiwa Tsaqifah – pemilihan pemimpin setelah wafatnya Nabi – tiba. Dari sinilah saya melihat cerminan karakter Abu Bakar dan Umar dengan sangat jelas dan kontras.

Abu Bakar dengan karakter phlegmatisnya benci tampil menonjol. Sebagai phlegmatis, Abu Bakar berpikir ia bukan apa-apa. Ia tak mau orang memandang dirinya. Kalau bisa, ia selalu ingin di pojokan saja.

Namun, hari ini berbeda. Situasi Tsaqifah sangat panas dan perlu keputusan. Walaupun Abu Bakar tak suka menjadi pusat perhatian, akhirnya ia maju dan memberikan usul. Ia meminta hadirin memilih antara Umar dan Abu Ubaidah sebagai pemimpin. Dalam kondisi biasa, kawan, seorang phlegmatis tak mau menonjol, tak mau memimpin. Namun, dalam kondisi terdesak dan kritis, saat ia melihat ia harus memimpin dan tak ada orang lain yang bisa, ia akan (terpaksa) tampil.

Dan di sinilah briliannya Umar. Ia tahu ia lebih menonjol dibanding Abu Bakar. Perawakannya lebih meyakinkan daripada Abu Bakar. FYI, menurut riset, orang dengan karakteristik tubuh tinggi besar dan kelihatan tegas lebih didambakan untuk menjadi pemimpin dibanding orang yang perawakannya kecil dan terlihat tidak tegas. Dan, tebak, kalau Umar memilih mengangkat diri menjadi pemimpin, takkan ada yang protes. Umar memang layak!

Tapi Umar menolak.

Ia tahu secara perawakan dan kasat mata, ia lah yang lebih cocok menjadi pemimpin. Tapi soal manusia terbaik, Abu Bakar lah orangnya. Saat itu adalah saat krisis, secara logika Koleris lah yang perlu mengambil alih. Tapi tidak, ia yang perawakannya “kurus dan ringkih” itulah yang dipilih sebagai pemimpin. Sang phlegmatis murni.

Selanjutnya adalah kisah tentang paradoksal. Abu Bakar yang dikenal pendiam dan tidak menonjol langsung tampil menjadi pemimpin yang luar biasa tegas, bahkan mengalahkan ketegasan Umar.

Saat Umar protes mengapa Abu Bakar memerangi kaum yang tidak membayar zakat, Abu Bakar balik menghardik Umar bahwa mereka memang harus diperangi. Saat Umar memprotes bahwa pasukan Usamah harus mundur, Abu Bakar menghardik Umar bahwa ia takkan menghentikan apa yang telah diperintahkan Rasulullah.

Ya, inti kepemimpinan adalah soal kemampuan membawa orang yang dipimpin demi mencapai tujuan. Dan Abu Bakar jelas orang yang paling memiliki kompeten di bidang itu. Maka, ketika dihadapkan sebuah tanggung jawab kepemimpinan, seorang phlegmatis akan mentransformasikan dirinya menjadi seorang -yang kadang- jauh berbeda. Seorang phlegmatis memang tak suka muncul, tapi ketika ia harus muncul, maka ia akan muncul.

Abu Bakar dan Umar. Kedua orang ini selalu saya pelajari kisah hidupnya dengan pendalaman yang jauh lebih mendalam dibanding kisah sahabat yang lain. Bagi saya, mereka adalah kisah persahabatan paradoks sekaligus unik luar biasa. Radiallahu Anhu (semoga Allah ridha kepada mereka)

Akhir kata, saya cuma bisa mengutip syair Imam Syafii untuk mengakhiri tulisan ini,

“Ya Allah, tempatkanlah aku bersama orang-orang saleh walaupun aku bukan termasuk bagian dari mereka”

 

source: wahyuawaludin.tumblr.com