Dear · Harta Karun · Meracacacau · reblog · they're said

Membeli Sepatu

Oleh mba avinaninasia.

Saya adalah tipikal perempuan yang malas berputar-putar keliling pusat perbelanjaan untuk berbelanja. Belanja apapun itu, termasuk membeli sepatu. Jika saya masuk ke mall (lebih tepatnya bukan mall-mall semacam Grand Indonesia, Plaza Indonesia ya.. haha) dengan niat membeli sepatu, maka yang saya lakukan adalah melihat detil satu toko yang saya kunjungi pertama, kemudian berputar-putar ke beberapa toko berikutnya.

Jika tidak ada yang cocok, maka dengan mudahnya saya akan menyimpulkan, saya tidak akan jatuh hati pada sepatu di toko manapun, karena saya anggap semuanya sama.

Namun, jika ada yang cocok pada sebuah sepatu pada satu toko, saya benar-benar tidak akan mau melihat-lihat toko sepatu lagi, karena sebuah alasan. Tidak mau menyesal.

Sepatu yang telah saya pilih dengan kombinasi model, ukuran, dan harga yang sesuai, adalah sepatu terbaik untuk saya, tanpa perlu dibanding-bandingkan lagi dengan sepatu yang akan saya temui di perjalanan keluar mall, jika saya masih melirik sepatu di toko lain.

Saya sudah lupa, hal itu berlangsung sejak kapan. Sepertinya, sejak saya hidup di kota ribuan mall, Jakarta. Yang jelas, saya agak kesal jika berbelanja dengan para ciwi yang hobi lirik-lirik toko setelah membeli sepatu, padahal dia tidak berniat membeli lagi, kemudian kebanyakan berakhir menyesal karena telah membeli sesuatu yang tidak lebih baik dari yang ia temui belakangan. Atau kadang saya juga kesal jika harus berbelanja dengan para ciwi-ciwi yang memutari seluruh sudut pusat perbelanjaan, kemudian berakhir membeli produk di toko yang pertama kali kita masuki. Dont get me wrong, saya tidak benar-benar kesal, hanya saya tidak memilih cara tersebut untuk menghadapi pusat perbelanjaan. ;p

Pada intinya, ada satu hal yang saya berusaha pegang teguh. Ketika sudah memutuskan berhenti mencari, maka hal yang perlu kau lakukan selanjutnya hanyalah mensyukuri apa yang kau miliki; mengingat bahwa apa yang kau miliki adalah yang terbaik untukmu, dengan segala kondisinya.

Syaratnya satu. Meminta pada Allah.

Sebelum memilih, Kau meminta pada Allah untuk mengarahkan pilihanmu.

Setelah memilih, Kau meminta Allah untuk menguatkan pilihanmu dengan segala hikmah-Nya.

Mungkin, di tengah perjalanan, kau akan menemui beragam pilihan baru, yang sudah (hampir) tidak mungkin dipilih, maka kau harus sadar betul, itu ujian yang teramat nyata. Tapi karena kau melibatkan Allah sejak awal, maka kau telah sadar bahwa kau tahu akan menemui ujian tersebut, dan yakin akan mampu menghadapinya.

Serius banget ya soal membeli sepatu? Ya. Saya kan anaknya emang serius. =P

tulisan mba anin dua tahun yang lalu :”), libatkan Allaah, yaa Rabbi :”””

*pict from google.

Advertisements
Belajar · challenge · Hikmah · sejarah

Hikmah Mempelajari Sejarah : Mengenalkan Makna Cinta yang Sesungguhnya (2)

“Hidup dan matiku akan bersamamu
(Al hayatu hayatuk wal mautu mautuk).
(Fatimah binti Abdul Malik)

“ya Rasulullah, aku mencintaimu seperti aku mencintai diriku sendiri”, ucap Umar ibnu Khattab suatu ketika.

Rasulullah shallahualaihi wassalam tersenyum mendengarnya, beliau menjawab. “Tidak wahai ‘Umar. Engkau harus mencintaiku melebihi cintamu pada diri dan keluargamu.”

“ya Rasulullah, mulai saat ini engkau lebih kucintai daripada apapun didunia ini”. Jawab Umar dengan lantang.

Begitu mudahkah bagi orang semacam Sayyidina ‘Umar ibn Al Khaththab menata ulang cintanya dalam sekejap? Begitu mudahkah cinta diri digeser kebawah untuk memberi ruang lebih besar bagi cinta pada Sang Nabi? Dalam waktu yang sangat singkat, hanya sekejap.

“Ternyata cinta” kata ustad Salim A Fillah dalam bukunya Jalan Cinta Para Pejuang, “bagi Sayyidina ‘Umar adalah kata kerja. Maka menata ulang cinta baginya hanyalah menata ulang kerja dan amalnya dalam mencintai. Ia tak berumit-rumit dengan yang ada dalam hati. Biarlah hati menjadi makmum bagi kerja-kerja cinta yang dilakukan oleh amal shalihnya”.

Fatimah binti Abdul Malik adalah simbol wanita terhebat dan ternyaman hidupnya pada zamannya. Bagaimana tidak? ayahnya adalah khalifah, kakaknya menjadi khalifah, adiknya menjadi khalifah, dan suaminya pun adalah seorang khalifah. Sebuah anugerah yang membuat banyak orang mengharapkan sekiranya mereka seberuntung Fatimah binti Abdul Malik.

Umar bin Abdul Aziz, suami dari Fatimah binti Abdul Malik pun bukanlah seorang yang biasa. Ia adalah putra Abdul Al-Aziz bin Marwan bin Hakam, Gubernur Mesir saat itu. Lahir dari keluarga ningrat membuatnya terbiasa hidup dalam standar kelas bangsawan. Harga bajunya 130 dinar atau setara dengan 260 juta (1 dinar, terbuat dari emas 22 karat dengan berat 4,25 gr, dengan taksiran kasar 1 dinar sama dengan 2 juta rupiah pada saat ini). Ketika beliau bersekolah di Madinah, Pamannya Abdul Malik bin Marwan, setiap bulannya memberi uang saku 2000 dinar/bulan (setara 4 milyar hari ini). Parfum yang dipakainya seharga 1000 dirham, bahkan orang-orang tahu bila Umar pernah melewati suatu jalan hanya karena wangi parfumnya.

Namun apa yang terjadi ketika Umar bin Abdul Aziz dengan terpaksa di baiat menjadi seorang khalifah, menggantikan khalifah sebelumnya, Sulaiman bin Abdul Malik yang baru saja wafat?.

“Para pecinta sejati tak suka berjanji”, kata Anis Matta dalam serial cintanya, “tetapi, begitu mereka memutuskan untuk mencintai, Mereka akan segera membuat rencana untuk memberi”. Dan Umar bin Abdul Aziz membuktikannya, bahwa ialah sang pecinta sejati.

Cinta pada Rabb-nya dan cinta yang besar pada rakyatnya mengubah gaya hidup Umar bin Abdul Aziz.

Setelah di baiat menjadi khalifah, ia memanggil istrinya. Fatimah binti Abdul Malik, ia berkata kepada istrinya, “Wahai Fatimah, jika engkau menginginkan Allah dan Rasulnya maka bersiap siaplah untuk hidup denganku. Dengan kehidupan yang berbeda dari kehidupan kita sebelumnya. Namun jika engkau menghendaki kemewahan dunia dan harta, maka kemarilah dan aku berikan kepadamu namun setelah itu kita berpisah”.

Umar menyadari bahwa Fatimah, istrinya adalah seorang wanita yang sedari kecilnya tidak pernah merasakan hidup susah. Maka ia tidak ingin memaksakan keinginannya kepada istrinya.

Lalu dijawab oleh Fatimah dengan mantap, “Hidup dan matiku akan bersamamu (Al hayatu hayatuk wal mautu mautuk).” Dari sini kita sama-sama mengetahui, bahwa Umar tidaklah sendiri berjuang untuk menjadi seorang pecinta sejati di negri yang diamanahi kepadanya.

Maka hiduplah mereka dalam kesederhanaan bahkan sangat sederhana. Kehidupan yang membuat para petugas pemberi zakat di negerinya kesulitan untuk membagi-bagikan zakat penduduk di sana. Para petugas pemberi zakat ini kesulitan, mereka kesulitan untuk mencari orang-orang fakir miskin yang berhak diberikan zakat. Karena semua penduduknya tidak ada yang memenuhi kriteria sebagai golongan yang berhak menerima zakat. Pemberian cinta Umar bin Abdul Aziz berbuah keberkahan bagi negerinya.

“Kalau cinta berawal dan berakhir karena Allaah,
maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada Nya,
pengenjawantahan ibadah hati yang paling hakiki:
selamanya memberi yang bisa kita berikan,
selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai.”
(M. Anis Matta)

Jauh beribu tahun setelahnya dan beribu kilometer jaraknya, di sebuah negeri kepulauan yang bernama Indonesia, kita pun dapat menyaksikan beragam episode romantis dari pembuktian cinta oleh mereka para pejuang untuk satu kemerdekaan Indonesia.

Salah satunya saya temukan di buku Leiden!-nya kang Dea Tantyo. Apa yang lebih romantis, dari surat cinta yang ditulis oleh seorang pejuang kemerdekaan kepada istrinya yang diselipi kata meredeka dengan format capslock dan tambahan tanda seru?.

bismillahirrohmannirrohiim, MERDEKA! Dinda sayang, terima kasih atas surat Dinda yang menyenangkan hati itu. Dalam keadaan yang sesungguhnya merupakan bala, masih juga dapat kita menyaksikan nikmat Allah yang dalam kesukaran dapat juga memberikan kelapangan.

Kanda seperti yang sudah kerap dinda katakan, rupanya diperlakukan Allah dengan istimewa, sebab itu baiklah kita bersyukur memuji Allah atas rahmat karunia-Nya yang terang terbukti dan dengan sabar menantikan dengan harap apa-apa takdir-Nya tentang itu.

Sementara itu yakinlah Dinda akan cinta kasih sayang kanda dan terimalah peluk ciumku dengan salam dan doa. Berkenaan dengan masa mendatang, tenangkan hati dengan harapan dan percaya kepada Allah Subhana wa taala. Tetap sabar dan tawakal.

(surat ini ditulis Haji Agus Salim untuk sang istri, Zainatun Nahar. Saat beliau tengah berjuang, menukar hidup demi kemerdekaan bangsa Indonesia).

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas Kelas Menulis Online (KMO) batch 14 :).

Belajar · challenge · Hikmah · sejarah

Hikmah Mempelajari Sejarah : Mengenalkan Makna Cinta yang Sesungguhnya (1)

Aku akan tetap bersama rakyat Indonesia, kalah atau menang
(K’tut Tantri)

Cinta jenis apa yang membuat seorang perempuan kelahiran Skotlandia dan berkebangsaan Amerika untuk turut serta dalam kemerdekaan suatu bangsa yang bahkan tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya?. Bermula dari kegalauan seorang perempuan bernama Murial Pearson yang memutuskan untuk pergi dan menetap di Bali setelah membeli tiket bioskop secara acak dan memutuskan untuk menonton film berjudul Bali: The Last Paradise.

Siapa sangka, keputusan spontanitasnya membawanya turut andil dalam proses perjuangan kemerdekaan Indonesia di Surabaya. Jika Bung Tomo melakukan agitasi untuk mengobarkan api semangat arek-arek Suroboyo. Perempuan bule ini, Murial Pearson, sejarah kemerdekaan Indonseia kemudian mengenalnya dengan K’tut Tantri mengudara dengan bahasa inggris menyiarkan upaya perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Dalam pengantar untuk Revolt in Paradise, Bung Tomo menyampaikan, Saya tidak akan melupakan detik-detik di kala Tantri dengan tenang mengucapkan pidato di muka mikropon, sedangkan bom-bom dan peluru-peluru mortar berjatuhan dengan dahsyatnya di keliling pemancar Radio Pemberontakkan.

Perjuangan membuktikan kecintaannya terhadap tanah air Indonesia bukanlah tanpa halangan, beberapa kali Tantri di tangkap, dipenjarakan dan diinterogasi panjang di dalam penjara. Keteguhan sikapnya untuk turut berjuang bersama rakyat Indonesia membuat tentara Indonesia di bawah pimpinan Bung Tomo berusaha untuk membebaskannya. Setelah bebas, ia diberi dua pilihan untuk kembali ke negerinya dengan jaminan pengamanan tentara Indonesia atau tetap berjuang bersama pejuang Indonesia.

Apa pilihannya? Apa pilihan dari seorang perempuan kelahiran Skotlandia, berkebangsaan Amerika yang sedang berada di negri orang, dan baru saja dibebaskan setelah beberapa hari lamanya disiksa dan diinterogasi panjang di dalam penjara?.

Tantri, wanita ini dengan mantapnya memilih pilihan kedua untuk tetap berada di Indonesia, bersama para pejuang Indonesia. Atas pilihannya, Tantri dipercaya untuk mengelola siaran radio perjuangan. Dalam siaran tersebut, Ktut Tantri menyeru dalam bahasa Inggris kepada negera-negara lain menceritakan upaya perjuangan kemerdekaan Indonesia. Suaranya mengudara tiap malam.

“Aku akan tetap dengan rakyat Indonesia, kalah atau menang. Sebagai perempuan Inggris barangkali aku dapat mengimbangi perbuatan sewenang-wenang yang dilakukan kaum sebangsaku dengan berbagai jalan yang bisa kukerjakan,” tulis K’tut Tantri dalam Revolt in Paradise.

Pilihannya untuk bergabung dalam perjuangan bangsa Indonesia meraih kemerdekaan itu membuat kalangan pers internasional menjulukinya “Surabaya Sue” atau penggugat dari Surabaya.

“Kemanusiaan itu”, kata bunda Helvy Tiana Rosa, “tak mengenal batas negara dan agama. Ia tumbuh dari keajaiban nuranimu tanpa sekat, tanpa musim”.

Cinta yang dimiliki Murial Pearson adalah cinta yang menjadikannya manusia. Senyata-nyata manusia yang lengkap dengan keberadaan hati nurani yang menuntunnya untuk turut adil dalam memperjuangkan kemanuasiaan.

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas Kelas Menulis Online (KMO) batch 14 :).

Belajar · challenge · Dear

Mengapa Saya Harus Menulis?

fountain-pen-image

Bismillaah,

Keberanian tak selalu tentang selempang senjata. Bahkan pedang, ujar Volatire, tak lebih tajam dari kata-kata. “Satu peluru hanya mampu menembus satu kepala. Tapi tulisan mampu menembus ribuan bahkan jutaan jiwa!” ujar Sayyid Quthb.

Mengapa saya harus menulis? (1)

Karena menjadi makhluk-Nya yang bermanfaat adalah suatu keharusan, maka tentu setiap hal yang dilakukan harus bernilai dan bermakna. Salah satu caranya adalah dengan membuat sebuah tulisan yang tidak hanya sekedar rangkaian kalimat, namun juga membawa ruh yang mampu member makna bagi pembacanya . Eh tapi juga, bukan hanya membawa makna bagi orang lain tanpa memberikan makna bagi diri sendiri sebelumnya. Dari, oleh dan untuk diri sendiri.

de3dec2ebbf9d48876c883e73b5276c4--writer-quotes-literary-quotes

Mengapa saya harus menulis? (2)

Karena saya harus memilih, jalur apa yang akan saya tempuh untuk menjadikan saya lebih dari sekedar pernah “Ada” di bumi. Seperti Gandhi, kah? Seperti Imam Laits, kah? Atau seperti Bung Karno, kah?.

Gandhi yang tulisannya mampu menyatukan 59 suku bangsa, 200 juta kepala dan meredam perbedaan antar agama, kemudian menginspirasi rakyat melawan kolonialisme Inggris.

Imam Laits yang para Ulama bersaksi bahwa; andaikan Imam Laits ini menuliskan segala fatwa dan ilmunya dalam lembaran buku, niscaya akan ada satu mazhab lagi selain 4 mazhab yang kita kenal. Beliau, sebagaimana kesaksian Ulama, adalah ilmuwan Muslim yang sama cerdasnya dengan Imam Syafii. Perbedaannya adalah, Imam Laits amat tangguh dalam berorasi dan memberi pencerahan pengetahuan, namun tidak mengabadikannya dalam tulisan. Itulah mengapa murid-muridnya jua kesulitan mengumpulkan khazanah keilmuan beliau.

Atau seperti Bung Karno yang sudah sama-sama kita ketahui dengan kepandaian beliau dalam menulis dan dahsyatnya beliau saat berorasi. Banyak kata-katanya kini masih berputar-putar dalam khazanah kebangsaan kita, tulisannya pun mengilhami bangsa Asia Afrika untuk merdeka di zaman kolonialisme Eropa. (Edghar Hamas, 2016).

Maka, karena saya bukanlah orang yang cukup pandai dalam berbicara didepan khalayak ramai, saya memilih jalur menulis, yang semoga bisa memberikan inspirasi kebaikan, terutama menginspirasi kebaikan untuk diri sendiri.

Bahkan sebuah batu bata saja memiliki jalannya untuk menjadi sekedar ‘ada’. Ia bisa menjadi bagian dari dinding sebuah rumah ibadah, sebuah tempat yang dapat mendekatkan manusia dengan Penciptanya, atau juga menjadi sebuah rumah tempat sebuah keluarga saling membantu dan memberikan contoh keteladanan dalam lingkup masyarakat terkecil. Atau juga bisa menjadi sebuah sekolah tempat setiap orang belajar untuk kelak dapat mengajarkan ragam ilmu yang membawa kebermanfaatan untuk dunia dan seisinya.

writing-from-the-heart-by-lorrie-porter

Mengapa saya harus menulis? (3)

Karena saya sadar, amal saya masih kurang banyak untuk menyelamatkan saya kelak dihari perhitungan, maka semoga tetesan tinta yang tertuang mampu menjadi simpanan kebaikan yang terus mengalir melebihi usia hidup saya di dunia. Simpanan yang menyelamatkan saya kelak. In syaa Allaah, aamiin :”).

 

*all images from google.


tulisan dibuat untuk memenuhi tugas #1 KMO Club batch 14.

 

 

Dear · sejarah · Ukhuwwah

6 Juni

ukhuwah
pict from google

Suatu hari, di acara jamuan makan malam di kediaman Mr. Sartono, di Jatinegara. Berkumpul para sahabat Bung Karno, sekaligus sedikit perayaan atas kembalinya Bung Karno dari tempat pembuangan di Bengkulu.

Disana berkumpul Bung Hatta, para sahabat dan handai taulan. Terlebih ada Ny. Rachim beserta anaknya, Rahmi (17th), ramah tamah berjalan santai. Sampai usai, tak ada yang spesial, kecuali Bung Karno menatap lekat hadirin yang datang. Acara selesai.

Beberapa hari kemudian Bung Karno, datang ke rumah keluarga besar Ny. Rachim dan bertanya tiba-tiba, “Siapa wanita paling cantik di Bandung?”. Agak terkejut, Ny. Rachim menyebutkan satu persatu nama wanita cantik yang dikenalnya.

Waktu berlalu. Kemerdekaan diraih. Bung Karno datang kembali ke Bandung, berkunjung ke rumah Ny. Rachim. Saat itu malam hari. “Begini,” kata Bung Karno, “Saya mau melamar.” “Melamar siapa?” Tanya Ny. Rachim. “Rahmi”, jawab Bung Karno. “Untuk sahabat saya Hatta”

Ah, Soekarno – Hatta. Entah jenis persahabatan apa yang diperagakan para founding father kita. Debat, saling serang argumen, ketidaksetujuan, memenuhi hari-hari Soekarno dan Hatta. Tapi tak sekalipun menggeser persahabatan keduanya.

Dulu, di tahun 1956, Bung Hatta memutuskan untuk berhenti sebagai wakil Bung Karno, alasannya karena Bung Karno telah semakin otoriter. Mereka pun sering terlibat silang pendapat tajam. Tapi saat Bung Karno menjelang akhir hayat, dan dalam sebuah pertemuan terakhir, mereka berdua menangis, bergenggaman tangan, mengenang persahabatan panjang selama masa perjuangan.

Dan hari itu, di Bandung, Bung Karno rela datang malam hari ke rumah Ny. Rachim, demi memikirkan masa depan sahabatnya. Melamar Rahmi untuk Hatta.

Hatta pernah berjanji takkan menikah sebelum merdeka. Sejak saat itu Bung Karno mencatat dalam jiwanya masa depan sahabatnya, mempersiapkan pasangan untuk Hatta.

Bung Karno dan Bung Hatta adalah teladan persahabatan sejati. Bukan karena keduanya tak pernah bertikai, tetapi karena mereka tak pernah rela melepas tali persahabatan.

[“Teladan Indonesia – Persahabatan Abadi Soekarno – Hatta”, Leiden! karya Dea Tantyo.[

Surabaya, seratus tujuh belas tahun yang lalu. Dari pasangan Bapak Raden Soekami Sosrodiharjo dan Ibu Ida Ayu Nyoman Rai, lahirlah seorang bayi laki-laki yang bernama Koesno Sosrodiharjo.

Kelak, si Koesno Sosrodiharjo ini ditakdirkan Allah untuk menjadi perantara bagi kemerdekaan suatu bangsa yang telah dengan tabahnya mencicipi penjajahan selama lebih dari 3500 tahun lamanya. Yap, beliau lah sang Proklamator kebanggaan Indonesia :“))

Bekasi, dua puluh bla bla bla tahun yang lalu xP. Telah lahir seorang anak perempuan, anak kedua dari Ayah dan Ibu nya, serta menjadi adik perempuan bagi kakak laki-laki nya.

Kelak, si anak perempuan ini tumbuh mendewasa menjadi kebanggaan keluarganya :”)

dan menjadi salah satu sahabat terbaik yang Allaah takdirkan bagi beberapa orang di muka bumi ini, saya salah satunya alhamdulillaah :“)

jazaakillah khoiron ukhti :),
untuk pernah membuatku percaya bahwa aku tak sendiri, dan tidak pernah berjuang sendirian :”),

untuk rangkulan hangat, sapaan manis, dan genggaman tangan yang tak pernah lepas membersamai :“)

untuk yang terdepan mengingatkan ketika lalai, yang pertama hadir ketika sakit (ah, selalu bikin melting kalo inget ini, pas lagi sakit T_T), ketika tangan Ibu terlampau jauh untuk diraih, ada tangan anti yang dengan lembutnya membelai dan mengusap lembut tangan ini T__T.

untuk senantiasa mengingatkan, bahwa kite, walaupun di Solo, akhwat Jakarta, juga punya izzah dan iffah! :”), dan untuk merangkai mimpi bersama “besok, kalo kita balik ke jakarta, kita warnain jakarta sama warna kita ya ukh :)”

dan untuk semua doa, ucapan, perbuatan dan prasangka baik anti :“))

..persahabatan sejati bukan karena tak pernah bertikai, tapi karena tak pernah rela melepas tali persahabatan..

baarakaLlahu fii umrik ummah ‘Aliyah dan Ali :”))

semoga anti sekeluarga selalu juara sehatnya, juara semangatnya, dan full barokah dari Nya 🙂

aamiin.

uhibbukifillah :*

====

kenapa Soekarno?

karena anti selalu menjawab, “tanggal lahir ku sama kaya bung karno”.

:“)

challenge · reblog

Ramadan Istimewa

Catatan Kajian Tarhib Ramadhan oleh Ustadz Oemar Mita, disampaikan pada hari Ahad, 6 Mei 2018 di Masjid Istiqlal.

Keutamaan Ramadhan laiknya keutamaan Nabi Yusuf dibanding dengan 11 saudaranya yang lain (tidak ada yang menjadi Nabi). Laiknya keutamaan sinar matahari dibanding dengan sinar bintang-bintang yang lain. Sinar matahari bisa menerangi seantero bumi, sedang sinar bintang tidak.

Para sahabat di zaman dulu, sudah mencium sensasi Ramadhan 6 bulan sebelum kedatangannya. 6 bulan sebelum datang Ramadhan, para sahabat berdo’a agar dipertemukan dengan bukan Ramadhan dan diberi keselamatan di dalamnya. 6 bulan setelah bulan Ramadhan, para sahabat berdo’a agar amal-amal selama bukan Ramadhan diterima oleh Allah.

Ramadhan adalah parade ibadah terbesar yang Allah gulirkan di muka bumi, olimpiadenya orang-orang beriman.

Keutamaan Ramadhan :

1. Ramadhan adalah waktu emas untuk beribadah, untuk memohon ampun kepada Allah, untuk menghapus dosa-dosa.

“Celaka sekali orang yang mendapati bulan Ramadhan dan ia keluar dalam keadaan belum terampuni dosanya.”

2. Allah mengistimewakan amal. Allah langsung yang menjaga amal seorang hamba di bulan Ramadhan. Saking besarnya balasan amal di bulan Ramadhan, Allah tidak sebutkan detailnya. Berbeda dengan amal yang lain, Allah sebutkan keutamaannya. Maka inilah kesempatan emas untuk investasi amal terbaik. 1 hari Ramadhan yang dilewati seorang hamba di dunia dengan ikhtiar maksimal, akan sangat membedakan kedudukannya di surga.

Apa Saja yang Harus Kita Lakukan?

1. Cek Keimanan

Hal pertama yang harus dilakukan adalah memastikan hati tidak tersengat kemunafikan. Bagaimana kriteria munafik? 1) benci kpd Rasulullah, 2) benci kpd apa pun yang disampaikan Rasulullah, 3) mendustakan Rasulullah, 4) mendustakan apa yang disampaikan Rasulullah, 5) benci ketika orang kagir kalah dan muslimin menang.

2. Bertaubat dan Beristighfar

Karena ketika kita bawa dosa dan maksiat memasuki Ramadhan, itu akan menjadi penghalang kenikmatan ibadah di bulan Ramadhan. Jika 10 hari pertama berhasil, Allah tambahkan ketaatan dan kenikmatan ibadah di 10 hari kedua. Jika 10 hari kedua berhasil, Allah semakin tambahkan lagi keberhasilan di 10 hari terakhir, biidznillah.

3. Perbanyak Do’a

Agar Allah sampaikan kita di bulan Ramadhan dengan sehat dan selamat (selamat dari kelalaian dan kemalasan).

4. Pilih Amal Terbaik

Prioritaskan untuk Alqur’an. *tambahan dari Ust. Amir, “Imam Syafi’i ketika memasuki bulan Ramadhan, cuti dari kegiatan yang lain. Imam Syafi’i mendedikasikan sebulan penuh waktunya untuk Alqur’an. Imam Syafi’i selama Ramadhan mengkhatamkan Alqur’an sebanyak 60 kali.”

5. Jadilah Pencuri Pahala

Beri makan orang yang berpuasa. Kamu bisa berinfaq ke pondok pesantren, masjid-masjid, palestine dan syuriah. Setiap orang yang kita beri makan untuk berbuka puasa, pahala puasanya untuk kita (juga) tanpa mengurangi pahala puasa baginya.

Wallahu a’lam bishowab.

ditulis oleh Baiq Muna 🙂

Hikmah · reblog · they're said

Marhaban ya Ramadhan

Sumber Tulisan :”).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “marhaban” diartikan sebagai “kata seru untuk menyambut atau menghormati tamu (yang berarti selamat datang).” Ia sama dengan ahlan wa sahlan yang juga dalam kamus tersebut diartikan “selamat datang.”

Walaupun keduanya berarti “selamat datang”, tetapi penggunaannya berbeda. Para ulama tidak menggunakan ahlan wa sahlan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan, melainkan “marhaban ya Ramadhan”.

Ahlan terambil dari kata ahl yang berarti “keluarga”, sedangkan sahlan berasal dari kata sahl yang berarti mudah. Juga berarti “dataran rendah” karena mudah dilalui, tidak seperti “jalan mendaki”. Ahlan wa sahlan, adalah ungkapan selamat datang, yang dicelahnya terdapat kalimat tersirat yaitu, “(Anda berada di tengah) keluarga dan (melangkahkan kaki di) dataran rendah yang mudah.”

Marhaban terambil dari kata rahb yang berarti “luas” atau “lapang”, sehingga marhaban menggambarkan bahwa tamu disambut dan diterima dengan dada lapang, penuh kegembiraan serta dipersiapkan baginya ruang yang luas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya. Dari akar kata yang sama dengan “marhaban”, terbentuk kata rahbat yang antara lain berarti “ruangan luas untuk kendaraan, untuk memperoleh perbaikan atau kebutuhan pengendara guna melanjutkan perjalanan.

”Marhaban ya Ramadhan berarti “Selamat datang Ramadhan” mengandung arti bahwa kita menyambutnya dengan lapang dada, penuh kegembiraan dan suasana nyaman kita.

Marhaban ya Ramadhan, kita ucapkan untuk bulan suci itu, karena kita mengharapkan agar jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah Ta’alaa :).

Harta Karun · KisahParaNabi · reblog

Nouman Ali Khan: Reconnect with Qur’an

oleh Novie Ocktaviane Mufti

Al-Qur’an boleh jadi ada dalam keseharian kita. Kita membacanya, mendengarnya, atau bahkan membawanya kemana-mana. Tapi, mengapa kita tidak terkoneksi dengannya?

Assalamu’alaikum! Jika kamu sampai pada tulisan ini, berarti kamu sedang membaca ulasan kajian Reconnect with Al-Qur’an yang dibawakan oleh Ustadz Nouman Ali Khan di Mesjid Istiqlal kemarin (6 Mei 2016). Siapakah beliau? Beliau ini adalah seorang ustadz dari Amerika, yang terkenal dengan lecturenya yang membahas Al-Qur’an dengan mengupas bahasa hingga ke akar-akarnya. Sebagai penulis yang akrab dengan kata dan diksi, bagi saya itulah yang membuat kajian-kajian beliau punya daya tarik tersendiri. Alasan yang sama jugalah yang kemarin membuat saya (dan teman-teman) ingin datang, bertemu, dan belajar langsung dari beliau.

Dari kajian-kajian yang sebelumnya pernah saya datangi, kajian dengan ustadz Nouman kemarin boleh dibilang kajian yang terpadat. Pernahkah kamu melihat siaran langsung shalat Idul Fitri di Mesjid Istiqlal dari televisi? Nah, seperti itulah kurang lebih keramaian yang terjadi: mesjid penuuuuh sekali dengan lautan manusia. Ruang utama yang sudah sedemikian luasnya itu padat sampai ke tepinya, belum lagi ditambah dengan lantai 2 dan 3 yang tidak kalah padatnya. Dalam akun Instagram pribadinya, Ustadz Nouman memperkirakan bahwa saat itu mesjid dipenuhi oleh sekitar 14.000 orang. Menariknya, 90% dari orang-orang yang datang ini adalah anak-anak muda di usia produktif. Maa syaa Allah.

screenshot_20180506_192255

Lalu, apa yang saya dapatkan dari kajian Reconnect with Qur’an kemarin itu? Berikut adalah reviewnya. Silahkan disimak, ya! Semoga bermanfaat.

BERAWAL DARI KISAH NABI IBRAHIM

Kajian yang berdurasi kurang lebih 3 jam ini disampaikan dalam bahasa Inggris. Dalam sesi pertama, kajian dimulai dengan membahas kisah Nabi Ibrahim. Awalnya saya bingung mengapa bukan langsung membahas Al-Qur’an hingga saya bertanya-tanya di dalam hati tentang apa hubungan antara kisah itu dan reconnect with Qur’an. Kebingungan itu, yang mungkin juga dirasakan oleh orang-orang yang lainnya, sepertinya tertebak oleh ustadz Nouman hingga beliau bilang, “It might sounds not connected with our topic, but you have to listen it until the end so you can conclude what’s the connection between Ibrahim and reconnect with the Qur’an.” Penasaran kan? Iya, sama saya juga! Baca sampai selesai, ya!

Nabi Ibrahim lahir diantara orang-orang yang menolak petunjuk Allah hingga dapat dikatakan bahwa beliaulah satu-satunya orang yang menerima petunjuk tersebut. Suatu hari, beliau pernah bertanya-tanya tentang siapa Allah hingga setelah melewati berbagai perenungan akhirnya beliau memiliki sebuah kesimpulan diri, “Allah bukan hanya yang menciptakanku, tapi juga yang memberiku petunjuk. Dia tidak hanya memberiku makanan untuk dimakan dan minuman untuk melepaskan dahaga, tapi Dia juga secara terus-menerus memberiku petunjuk. Allah tidak hanya berkuasa membuatku mati, tapi Dia juga berkuasa untuk membuatku dihidupkan kembali.” (Silahkan cek lebih lanjut di Q.S Asy-Syu’ara : 78-82)

Nabi Ibrahim berbeda dengan nabi-nabi yang lain karena merupakan satu-satunya nabi yang paling banyak berdoa kepada Allah. Di tengah gempuran ujian, beliau banyak berdoa kepada Allah hingga doa beliau terabadikan di dalam Al-Qur’an,

“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku ilmu dan masukanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shaleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah ayahku sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, dan surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa, dan neraka Jahim diperlihatkan dengan jelas kepada orang-orang yang sesat.” (QS Asy-Syu’ara : 83-91)

Menariknya, Nabi Ibrahim tidak begitu saja langsung berdoa kepada Allah. Sebelumnya, beliau terlebih dahulu memohon ampun kepada Allah (forgive me), kemudian ia meminta petunjuk untuk dapat melihat kebenaran sebagai kebenaran dan melihat kesalahan sebagai kesalahan (guide me), lalu ia pun meminta kekuatan kepada Allah untuk dapat menjalankan apa yang menjadi petunjuk-Nya dengan sepenuh ketaatan (give me power). Kalau kita? Bagaimana cara kita berdoa? Doa apa yang kita mohonkan kepada-Nya?

Allah ternyata mengabulkan doa baik Nabi Ibrahim, bahkan lebih dari apa yang dimintakannya. Beliau meminta kepada Allah agar anaknya menjadi keturunan yang dapat melahirkan generasi muslim karena adanya sebuah harapan akan terbentuknya Muslim Ummah. Lalu apa yang terjadi? Dari Ibrahim lahirlah banyak nabi dan keturunan-keturunan shalih, termasuk juga Rasulullah yang masih ada dalam satu garis keturunan dengannya. Beliau meminta agar kisah hidupnya menjadi pelajaran bagi orang lain dan menjadi buah tutur perkataan yang baik. Lalu apa yang terjadi? Beliau menjadi bapaknya umat muslim, yang hingga saat ini pun kisah hidupnya menjadi teladan dalam banyak aspek kehidupan. Beliau meminta agar keturunannya mendapatkan petunjuk, maka permintaan itu terjawab dengan adanya Al-Qur’an. Maa syaa Allah.

LALU, APA KAITANNYA KISAH NABI IBRAHIM DENGAN RECONNECT WITH QUR’AN?

Al-Qur’an adalah cara Allah berkomunikasi dengan kita, sedangkan doa adalah cara kita berkomunikasi dengan Allah.

Keduanya adalah bentuk komunikasi 2 arah yang akan dapat membuat kita terus terkoneksi dengan Allah. Seperti Nabi Ibrahim, yang dilakukan beliau melalui doa adalah juga upaya beliau untuk terkoneksi dengan Allah. Tersebab ujian-ujian yang telah berhasil dilalui dengan penuh kesabaran, maka Allah memberi Nabi Ibrahim ‘hadiah’ dengan terjawabnya doa-doa beliau. Poinnya adalah, setiap doa dan juga bacaan Al-Qur’an yang berangkat dari hati adalah cara bagaimana kita membentuk komunikasi 2 arah dengan Allah.

MENGAPA AL-QUR’AN ISTIMEWA?

Bayangkan kamu sedang berada dalam kondisi yang sangat bingung. Sebabnya bisa apa saja, misalnya sedang tersesat di sebuah perjalanan. Lalu, seorang teman datang kepadamu menunjukkan kemana jalan yang perlu kamu tempuh. Bagaimana perasaanmu? Begitulah perumpamaan Al-Qur’an, ia hadir sebagai nur atau cahaya yang menyelamatkan kita dari kegelapan.

Al-Qur’an boleh jadi ada dalam keseharian kita. Kita membacanya, mendengarnya, atau bahkan membawanya kemana-mana. Tapi, mengapa kita tidak terkoneksi dengannya?

Jawabannya adalah karena kita tidak mengenal dengan baik apa dan bagaimana Al-Qur’an itu sendiri. Mungkin kita hanya membaca tanpa memahami mengapa kita membutuhkannya untuk ada di dalam kehidupan kita. Padahal, ada 3 keutamaan Al-Qur’an. Apa sajakah itu?

Pertama, ia adalah nasehat (advice) bagi kita. Dengan semua kisah, sejarah, aturan, dan kandungan-kandungan Al-Qur’an, sebenarnya ia tidak hanya berbicara mengenai itu semua, tapi juga berbicara mengenai kita. Seperti yang dikatakan oleh Ustadz Nouman, “The Qur’an is talking about you!”

Kedua, ia adalah penyembuh bagi hati kita (Qur’an heals your heart). Apapun kondisi hati kita, entah itu sedang merasa takut, bergejolak, bahagia, dan lain-lain, Al-Qur’an adalah satu yang dapat menenangkannya. Hati kita, termasuk seluruh perasaan di dalamnya itu ada dalam genggaman Allah, Dialah yang berkuasa membolak-balikkanya. Kabar baiknya, ternyata Al-Qur’an hadir sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada hati kita.

Ketiga, Al-Qur’an adalah pemberi petunjuk (guidance) kepada kita. Dengan Al-Qur’an, kita dapat membedakan halal-haram dan juga benar-salah. Selain itu, ia juga berisi solusi-solusi di dalamnya, yang mungkin belum pernah kita alami atau pikirkan sebelumnya.

“You have to believe that Allah will advise you, heals you, and guide you through Al-Qur’an.” – Nouman Ali Khan

Apa yang Al-Qur’an suguhkan kepada kita adalah harapan, kebahagiaan, cinta, petunjuk, pembeda, dan juga kasih sayang. Maka, orang-orang yang hatinya terpaut dengan Al-Qur’an seharusnya bersikap positif dan bahagia. Sudahkah kita demikian?

KITA BUTUH AL-QUR’AN, LEBIH DARI KEBUTUHAN MAKAN DAN MINUM DI KESEHARIAN

Setiap hari kita butuh makan sebab kita tentu akan lapar jika tidak makan. Tapi, ternyata manusia bisa tahan untuk tidak makan selama satu hari. Setiap hari kita juga butuh minum sebab kita akan haus jika tidak minum. Tapi, ternyata manusia bisa tahan untuk tidak minum selama satu hari. Tahukah kamu ada yang lebih penting bagi kita dibandingkan keduanya? Ya, petunjuk dari Allah jauh lebih kita butuhkan daripada sekedar makan dan minum. Kita membutuhkan petunjuk, guidance, regular guidance.

Bicara soal petunjuk berarti bicara pula soal hati. Petunjuk akan sampai di hati. Karenanya, Al-Qur’an seharusnya tidak hanya terletak di mata, lisan, dan pikiran kita saja. Tapi, ia harus terletak di hati. Masalahnya, ada jarak yang jauhnya mungkin sangat signifikan antara Al-Qur’an dengan hati kita. Lalu, apa yang perlu kita lakukan?

Pertama, buatlah hati kita selalu terkoneksi dengan Al-Qur’an, sedikit demi sedikit. Mulailah dengan membacanya, mendengarkannya, memahami maknanya, dan sertakanlah hati kita ketika melakukannya. Sadarilah pula bahwa Al-Qur’an berisi bahasa-bahasa cinta Allah kepada kita.

Kedua, pelajarilah Al-Qur’an untuk mendidik diri kita sendiri sebelum mengajarkannya kepada orang lain. Bagikanlah kebaikan Al-Qur’an yang didapat kepada orang lain tanpa menggurui mereka. Dan yang terpenting, jangan gunakan kalimat-kalimat Allah dalam Al-Qur’an untuk menyakiti hati orang lain.

Sekian review kajian Reconnect with Qur’an. Terakhir, ada satu kalimat pengingat dari Ustadz Nouman Ali Khan yang semoga bisa membuat kita bersemangat untuk kembali membangun koneksi dan kedekatan dengan Al-Qur’an,

“Apakah arti mendasar dari kembali terkoneksi dengan Al-Qur’an? Ialah kembali terkoneksi dengan apa-apa yang Allah katakan di dalamnya. Sebab, Al-Qur’an jauh lebih baik daripada apapun yang dikumpulkan manusia: uang, benda-benda, atau followers sekalipun.” – Nouman Ali Khan

___

Terima kasih sudah menyimak. Saya menyadari kalau kemampuan listening saya masih perlu banyak dilatih. Oleh karena itu, review ini ditulis setelah berdiskusi offline di kereta dengan teman seperjalanan dan juga diskusi online dengan teman-teman di grup Qaf Indonesia. Meskipun demikian, mohon maaf ya kalau ternyata masih banyak kekurangan dan keterbatasan. Baarakallahu fiik 🙂

Belajar · challenge · Dear · Harta Karun · Hikmah · Meracacacau · reblog · Selftalk · they're said

Suami dan Kulkas

(((dear myself, please remember this)))

oleh Alifah Syamsiyah.

alkisah, ada seorang wanita yang akan menggugat cerai suaminya. tapi sebelum ke pengadilan, ia meminta nasihat terakhir kepada seorang ustadz, untuk lebih meyakinkan dirinya dengan keputusan besar yang akan ia buat. kepada sang ustadz wanita itu menceritakan semua keburukan suaminya: pekerjaan yang belum mapan, tidak bisa mengurus rumah tangga, tidak mahir mengurus anak, dsb.

di akhir cerita, ustadz itu berkomentar sederhana, “ibu, mohon maaf, tapi sepertinya ibu salah menggunakan barang.” wanita itu jelas tak mengerti, nih ustadz gimana sih, kan saya lagi cerita tentang suami, kok malah bahas barang, begitu batinnya.

seakan bisa membaca pikiran wanita tersebut, sang ustadz melanjutkan penjelasannya, “mungkin ibu bingung dengan perkataan saya. tapi coba sekarang ibu bayangkan. ibu baru saja membeli kulkas. kulkas merek terkenal dengan teknologi paling mutakhir. sayangnya, ibu malah mengutuki kulkas itu karena ia tidak bisa menyiarkan siaran berita, tidak bisa memutar video, atau mencuci piring yang kotor. kalau begini, yang salah si kulkas atau si ibu?”

wanita itu menyimak, masih belum menangkap maksud sang ustadz.

“jelas si kulkas tidak salah, karena ia diciptakan untuk menyimpan barang atau makanan agar tidak cepat busuk. kalau kulkas tidak bisa memutar video, seharusnya ibu tidak mengutuki kulkas karena itu bukanlah fungsinya.

begitu pula dengan suami ibu. tujuan utama dari pernikahan adalah mendapatkan ridho suami. jika pekerjaannya kini belum mapan, atau ia belum bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan sempurna, bersabarlah. setidaknya itu bukan fungsinya yang utama. setidaknya ibu tidak kehilangan fungsi utamanya: keridhoan suami. karena itulah kunci surga seorang wanita.

kalau saya boleh memberikan saran, coba ibu pikirkan baik-baik lagi keputusan ibu. saya punya tips sederhana yang bisa ibu lakukan sembari ibu memikirkan ulang keputusan besar ini. cobalah setiap malam, sebelum ibu dan suami tidur, tanyakan pada suami, “bang/a’/kang/mas, berapa persen keridhoannya sama aku hari ini?” kalau jawabannya belum 100%, coba ibu lakukan apapun yang bisa membuatnya ridho 100%. ibu bisa memijatnya, membuatkannya minuman hangat, dan hal-hal lain yang membuat keridhoannya utuh kembali. ibu tidak bisa menjamin kalau masih ada hari esok setelah ibu tidur malam itu, bukan? jangan sampai menutup hari tanpa membawa kunci surga dari keridhoan suami ibu.”

nasehat itu menggugah jiwa wanita itu. ia kembali ke rumahnya, tertarik untuk mencoba nasihat sang ustadz mulai malam nanti.

singkat cerita, beberapa hari setelahnya wanita itu kembali ke rumah sang ustadz dan menceritakan perubahan yang terjadi pada suaminya. setelah beberapa malam rutin menjalankan nasihat itu, perilaku suaminya perlahan berubah, ia menjadi semakin sayang pada dirinya, semakin giat bekerja, dan mengurus rumah tangga. ridho dan berkah Allah pun turun, meliputi keluarga mereka.

taat pada suami terkadang bukan perkara mudah, apalagi kalau keegoisan sedang menguasai jiwa.

tapi disanalah kunci surga berada. tak tanggung-tanggung, seorang istri yang taat diberikan keistimewaan untuk memasuki surga dari pintu mana saja yang ia suka!.

.

.

.
catatan: tulisan ini terinspirasi dari sebuah nasihat singkat yang disebarkan di whatsapp, sayangnya penulis tidak bisa mengecek sumber asli dari cerita ini.

Pict from Google.

Dear · Harta Karun · Hikmah · they're said

Mulia

Al Qur’an adalah kitab mulia yang memuliakan 🙂

Al Qur’an diturunkan Allaah kepada nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam, dan menjadikan Rasulullaah, Rasul paling mulia diantara para nabi dan rasul 🙂

Al Qur’an diturunkan di bulan Ramadhan, bulan yang penuh kemuliaan 🙂

dan Al Qur’an diturunkan pada malam lailatul qadr, malam paling mulia yang bernilai 1000 bulan 🙂

begitu juga,
bagi mereka yang hati, lisan dan perilakunya senantiasa terpaut dengan Al Qur’an, Allaah akan memuliakan mereka 🙂

“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahlul Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan hamba pilihanNya” (HR. Ahmad)

~ustadzah Aini 🙂