Dear · Harta Karun · Meracacacau · reblog · they're said

Membeli Sepatu

Oleh mba avinaninasia.

Saya adalah tipikal perempuan yang malas berputar-putar keliling pusat perbelanjaan untuk berbelanja. Belanja apapun itu, termasuk membeli sepatu. Jika saya masuk ke mall (lebih tepatnya bukan mall-mall semacam Grand Indonesia, Plaza Indonesia ya.. haha) dengan niat membeli sepatu, maka yang saya lakukan adalah melihat detil satu toko yang saya kunjungi pertama, kemudian berputar-putar ke beberapa toko berikutnya.

Jika tidak ada yang cocok, maka dengan mudahnya saya akan menyimpulkan, saya tidak akan jatuh hati pada sepatu di toko manapun, karena saya anggap semuanya sama.

Namun, jika ada yang cocok pada sebuah sepatu pada satu toko, saya benar-benar tidak akan mau melihat-lihat toko sepatu lagi, karena sebuah alasan. Tidak mau menyesal.

Sepatu yang telah saya pilih dengan kombinasi model, ukuran, dan harga yang sesuai, adalah sepatu terbaik untuk saya, tanpa perlu dibanding-bandingkan lagi dengan sepatu yang akan saya temui di perjalanan keluar mall, jika saya masih melirik sepatu di toko lain.

Saya sudah lupa, hal itu berlangsung sejak kapan. Sepertinya, sejak saya hidup di kota ribuan mall, Jakarta. Yang jelas, saya agak kesal jika berbelanja dengan para ciwi yang hobi lirik-lirik toko setelah membeli sepatu, padahal dia tidak berniat membeli lagi, kemudian kebanyakan berakhir menyesal karena telah membeli sesuatu yang tidak lebih baik dari yang ia temui belakangan. Atau kadang saya juga kesal jika harus berbelanja dengan para ciwi-ciwi yang memutari seluruh sudut pusat perbelanjaan, kemudian berakhir membeli produk di toko yang pertama kali kita masuki. Dont get me wrong, saya tidak benar-benar kesal, hanya saya tidak memilih cara tersebut untuk menghadapi pusat perbelanjaan. ;p

Pada intinya, ada satu hal yang saya berusaha pegang teguh. Ketika sudah memutuskan berhenti mencari, maka hal yang perlu kau lakukan selanjutnya hanyalah mensyukuri apa yang kau miliki; mengingat bahwa apa yang kau miliki adalah yang terbaik untukmu, dengan segala kondisinya.

Syaratnya satu. Meminta pada Allah.

Sebelum memilih, Kau meminta pada Allah untuk mengarahkan pilihanmu.

Setelah memilih, Kau meminta Allah untuk menguatkan pilihanmu dengan segala hikmah-Nya.

Mungkin, di tengah perjalanan, kau akan menemui beragam pilihan baru, yang sudah (hampir) tidak mungkin dipilih, maka kau harus sadar betul, itu ujian yang teramat nyata. Tapi karena kau melibatkan Allah sejak awal, maka kau telah sadar bahwa kau tahu akan menemui ujian tersebut, dan yakin akan mampu menghadapinya.

Serius banget ya soal membeli sepatu? Ya. Saya kan anaknya emang serius. =P

tulisan mba anin dua tahun yang lalu :”), libatkan Allaah, yaa Rabbi :”””

*pict from google.

Advertisements
Belajar · challenge · Dear

Mengapa Saya Harus Menulis?

fountain-pen-image

Bismillaah,

Keberanian tak selalu tentang selempang senjata. Bahkan pedang, ujar Volatire, tak lebih tajam dari kata-kata. “Satu peluru hanya mampu menembus satu kepala. Tapi tulisan mampu menembus ribuan bahkan jutaan jiwa!” ujar Sayyid Quthb.

Mengapa saya harus menulis? (1)

Karena menjadi makhluk-Nya yang bermanfaat adalah suatu keharusan, maka tentu setiap hal yang dilakukan harus bernilai dan bermakna. Salah satu caranya adalah dengan membuat sebuah tulisan yang tidak hanya sekedar rangkaian kalimat, namun juga membawa ruh yang mampu member makna bagi pembacanya . Eh tapi juga, bukan hanya membawa makna bagi orang lain tanpa memberikan makna bagi diri sendiri sebelumnya. Dari, oleh dan untuk diri sendiri.

de3dec2ebbf9d48876c883e73b5276c4--writer-quotes-literary-quotes

Mengapa saya harus menulis? (2)

Karena saya harus memilih, jalur apa yang akan saya tempuh untuk menjadikan saya lebih dari sekedar pernah “Ada” di bumi. Seperti Gandhi, kah? Seperti Imam Laits, kah? Atau seperti Bung Karno, kah?.

Gandhi yang tulisannya mampu menyatukan 59 suku bangsa, 200 juta kepala dan meredam perbedaan antar agama, kemudian menginspirasi rakyat melawan kolonialisme Inggris.

Imam Laits yang para Ulama bersaksi bahwa; andaikan Imam Laits ini menuliskan segala fatwa dan ilmunya dalam lembaran buku, niscaya akan ada satu mazhab lagi selain 4 mazhab yang kita kenal. Beliau, sebagaimana kesaksian Ulama, adalah ilmuwan Muslim yang sama cerdasnya dengan Imam Syafii. Perbedaannya adalah, Imam Laits amat tangguh dalam berorasi dan memberi pencerahan pengetahuan, namun tidak mengabadikannya dalam tulisan. Itulah mengapa murid-muridnya jua kesulitan mengumpulkan khazanah keilmuan beliau.

Atau seperti Bung Karno yang sudah sama-sama kita ketahui dengan kepandaian beliau dalam menulis dan dahsyatnya beliau saat berorasi. Banyak kata-katanya kini masih berputar-putar dalam khazanah kebangsaan kita, tulisannya pun mengilhami bangsa Asia Afrika untuk merdeka di zaman kolonialisme Eropa. (Edghar Hamas, 2016).

Maka, karena saya bukanlah orang yang cukup pandai dalam berbicara didepan khalayak ramai, saya memilih jalur menulis, yang semoga bisa memberikan inspirasi kebaikan, terutama menginspirasi kebaikan untuk diri sendiri.

Bahkan sebuah batu bata saja memiliki jalannya untuk menjadi sekedar ‘ada’. Ia bisa menjadi bagian dari dinding sebuah rumah ibadah, sebuah tempat yang dapat mendekatkan manusia dengan Penciptanya, atau juga menjadi sebuah rumah tempat sebuah keluarga saling membantu dan memberikan contoh keteladanan dalam lingkup masyarakat terkecil. Atau juga bisa menjadi sebuah sekolah tempat setiap orang belajar untuk kelak dapat mengajarkan ragam ilmu yang membawa kebermanfaatan untuk dunia dan seisinya.

writing-from-the-heart-by-lorrie-porter

Mengapa saya harus menulis? (3)

Karena saya sadar, amal saya masih kurang banyak untuk menyelamatkan saya kelak dihari perhitungan, maka semoga tetesan tinta yang tertuang mampu menjadi simpanan kebaikan yang terus mengalir melebihi usia hidup saya di dunia. Simpanan yang menyelamatkan saya kelak. In syaa Allaah, aamiin :”).

 

*all images from google.


tulisan dibuat untuk memenuhi tugas #1 KMO Club batch 14.

 

 

Dear · sejarah · Ukhuwwah

6 Juni

ukhuwah
pict from google

Suatu hari, di acara jamuan makan malam di kediaman Mr. Sartono, di Jatinegara. Berkumpul para sahabat Bung Karno, sekaligus sedikit perayaan atas kembalinya Bung Karno dari tempat pembuangan di Bengkulu.

Disana berkumpul Bung Hatta, para sahabat dan handai taulan. Terlebih ada Ny. Rachim beserta anaknya, Rahmi (17th), ramah tamah berjalan santai. Sampai usai, tak ada yang spesial, kecuali Bung Karno menatap lekat hadirin yang datang. Acara selesai.

Beberapa hari kemudian Bung Karno, datang ke rumah keluarga besar Ny. Rachim dan bertanya tiba-tiba, “Siapa wanita paling cantik di Bandung?”. Agak terkejut, Ny. Rachim menyebutkan satu persatu nama wanita cantik yang dikenalnya.

Waktu berlalu. Kemerdekaan diraih. Bung Karno datang kembali ke Bandung, berkunjung ke rumah Ny. Rachim. Saat itu malam hari. “Begini,” kata Bung Karno, “Saya mau melamar.” “Melamar siapa?” Tanya Ny. Rachim. “Rahmi”, jawab Bung Karno. “Untuk sahabat saya Hatta”

Ah, Soekarno – Hatta. Entah jenis persahabatan apa yang diperagakan para founding father kita. Debat, saling serang argumen, ketidaksetujuan, memenuhi hari-hari Soekarno dan Hatta. Tapi tak sekalipun menggeser persahabatan keduanya.

Dulu, di tahun 1956, Bung Hatta memutuskan untuk berhenti sebagai wakil Bung Karno, alasannya karena Bung Karno telah semakin otoriter. Mereka pun sering terlibat silang pendapat tajam. Tapi saat Bung Karno menjelang akhir hayat, dan dalam sebuah pertemuan terakhir, mereka berdua menangis, bergenggaman tangan, mengenang persahabatan panjang selama masa perjuangan.

Dan hari itu, di Bandung, Bung Karno rela datang malam hari ke rumah Ny. Rachim, demi memikirkan masa depan sahabatnya. Melamar Rahmi untuk Hatta.

Hatta pernah berjanji takkan menikah sebelum merdeka. Sejak saat itu Bung Karno mencatat dalam jiwanya masa depan sahabatnya, mempersiapkan pasangan untuk Hatta.

Bung Karno dan Bung Hatta adalah teladan persahabatan sejati. Bukan karena keduanya tak pernah bertikai, tetapi karena mereka tak pernah rela melepas tali persahabatan.

[“Teladan Indonesia – Persahabatan Abadi Soekarno – Hatta”, Leiden! karya Dea Tantyo.[

Surabaya, seratus tujuh belas tahun yang lalu. Dari pasangan Bapak Raden Soekami Sosrodiharjo dan Ibu Ida Ayu Nyoman Rai, lahirlah seorang bayi laki-laki yang bernama Koesno Sosrodiharjo.

Kelak, si Koesno Sosrodiharjo ini ditakdirkan Allah untuk menjadi perantara bagi kemerdekaan suatu bangsa yang telah dengan tabahnya mencicipi penjajahan selama lebih dari 3500 tahun lamanya. Yap, beliau lah sang Proklamator kebanggaan Indonesia :“))

Bekasi, dua puluh bla bla bla tahun yang lalu xP. Telah lahir seorang anak perempuan, anak kedua dari Ayah dan Ibu nya, serta menjadi adik perempuan bagi kakak laki-laki nya.

Kelak, si anak perempuan ini tumbuh mendewasa menjadi kebanggaan keluarganya :”)

dan menjadi salah satu sahabat terbaik yang Allaah takdirkan bagi beberapa orang di muka bumi ini, saya salah satunya alhamdulillaah :“)

jazaakillah khoiron ukhti :),
untuk pernah membuatku percaya bahwa aku tak sendiri, dan tidak pernah berjuang sendirian :”),

untuk rangkulan hangat, sapaan manis, dan genggaman tangan yang tak pernah lepas membersamai :“)

untuk yang terdepan mengingatkan ketika lalai, yang pertama hadir ketika sakit (ah, selalu bikin melting kalo inget ini, pas lagi sakit T_T), ketika tangan Ibu terlampau jauh untuk diraih, ada tangan anti yang dengan lembutnya membelai dan mengusap lembut tangan ini T__T.

untuk senantiasa mengingatkan, bahwa kite, walaupun di Solo, akhwat Jakarta, juga punya izzah dan iffah! :”), dan untuk merangkai mimpi bersama “besok, kalo kita balik ke jakarta, kita warnain jakarta sama warna kita ya ukh :)”

dan untuk semua doa, ucapan, perbuatan dan prasangka baik anti :“))

..persahabatan sejati bukan karena tak pernah bertikai, tapi karena tak pernah rela melepas tali persahabatan..

baarakaLlahu fii umrik ummah ‘Aliyah dan Ali :”))

semoga anti sekeluarga selalu juara sehatnya, juara semangatnya, dan full barokah dari Nya 🙂

aamiin.

uhibbukifillah :*

====

kenapa Soekarno?

karena anti selalu menjawab, “tanggal lahir ku sama kaya bung karno”.

:“)

Belajar · challenge · Dear · Harta Karun · Hikmah · Meracacacau · reblog · Selftalk · they're said

Suami dan Kulkas

(((dear myself, please remember this)))

oleh Alifah Syamsiyah.

alkisah, ada seorang wanita yang akan menggugat cerai suaminya. tapi sebelum ke pengadilan, ia meminta nasihat terakhir kepada seorang ustadz, untuk lebih meyakinkan dirinya dengan keputusan besar yang akan ia buat. kepada sang ustadz wanita itu menceritakan semua keburukan suaminya: pekerjaan yang belum mapan, tidak bisa mengurus rumah tangga, tidak mahir mengurus anak, dsb.

di akhir cerita, ustadz itu berkomentar sederhana, “ibu, mohon maaf, tapi sepertinya ibu salah menggunakan barang.” wanita itu jelas tak mengerti, nih ustadz gimana sih, kan saya lagi cerita tentang suami, kok malah bahas barang, begitu batinnya.

seakan bisa membaca pikiran wanita tersebut, sang ustadz melanjutkan penjelasannya, “mungkin ibu bingung dengan perkataan saya. tapi coba sekarang ibu bayangkan. ibu baru saja membeli kulkas. kulkas merek terkenal dengan teknologi paling mutakhir. sayangnya, ibu malah mengutuki kulkas itu karena ia tidak bisa menyiarkan siaran berita, tidak bisa memutar video, atau mencuci piring yang kotor. kalau begini, yang salah si kulkas atau si ibu?”

wanita itu menyimak, masih belum menangkap maksud sang ustadz.

“jelas si kulkas tidak salah, karena ia diciptakan untuk menyimpan barang atau makanan agar tidak cepat busuk. kalau kulkas tidak bisa memutar video, seharusnya ibu tidak mengutuki kulkas karena itu bukanlah fungsinya.

begitu pula dengan suami ibu. tujuan utama dari pernikahan adalah mendapatkan ridho suami. jika pekerjaannya kini belum mapan, atau ia belum bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan sempurna, bersabarlah. setidaknya itu bukan fungsinya yang utama. setidaknya ibu tidak kehilangan fungsi utamanya: keridhoan suami. karena itulah kunci surga seorang wanita.

kalau saya boleh memberikan saran, coba ibu pikirkan baik-baik lagi keputusan ibu. saya punya tips sederhana yang bisa ibu lakukan sembari ibu memikirkan ulang keputusan besar ini. cobalah setiap malam, sebelum ibu dan suami tidur, tanyakan pada suami, “bang/a’/kang/mas, berapa persen keridhoannya sama aku hari ini?” kalau jawabannya belum 100%, coba ibu lakukan apapun yang bisa membuatnya ridho 100%. ibu bisa memijatnya, membuatkannya minuman hangat, dan hal-hal lain yang membuat keridhoannya utuh kembali. ibu tidak bisa menjamin kalau masih ada hari esok setelah ibu tidur malam itu, bukan? jangan sampai menutup hari tanpa membawa kunci surga dari keridhoan suami ibu.”

nasehat itu menggugah jiwa wanita itu. ia kembali ke rumahnya, tertarik untuk mencoba nasihat sang ustadz mulai malam nanti.

singkat cerita, beberapa hari setelahnya wanita itu kembali ke rumah sang ustadz dan menceritakan perubahan yang terjadi pada suaminya. setelah beberapa malam rutin menjalankan nasihat itu, perilaku suaminya perlahan berubah, ia menjadi semakin sayang pada dirinya, semakin giat bekerja, dan mengurus rumah tangga. ridho dan berkah Allah pun turun, meliputi keluarga mereka.

taat pada suami terkadang bukan perkara mudah, apalagi kalau keegoisan sedang menguasai jiwa.

tapi disanalah kunci surga berada. tak tanggung-tanggung, seorang istri yang taat diberikan keistimewaan untuk memasuki surga dari pintu mana saja yang ia suka!.

.

.

.
catatan: tulisan ini terinspirasi dari sebuah nasihat singkat yang disebarkan di whatsapp, sayangnya penulis tidak bisa mengecek sumber asli dari cerita ini.

Pict from Google.

Dear · Harta Karun · Hikmah · they're said

Mulia

Al Qur’an adalah kitab mulia yang memuliakan 🙂

Al Qur’an diturunkan Allaah kepada nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam, dan menjadikan Rasulullaah, Rasul paling mulia diantara para nabi dan rasul 🙂

Al Qur’an diturunkan di bulan Ramadhan, bulan yang penuh kemuliaan 🙂

dan Al Qur’an diturunkan pada malam lailatul qadr, malam paling mulia yang bernilai 1000 bulan 🙂

begitu juga,
bagi mereka yang hati, lisan dan perilakunya senantiasa terpaut dengan Al Qur’an, Allaah akan memuliakan mereka 🙂

“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahlul Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan hamba pilihanNya” (HR. Ahmad)

~ustadzah Aini 🙂

challenge · Dear · Harta Karun · Hikmah · they're said

Allaah Tidak Minta Kesempurnaan

nak.ig
image from here :”)

oleh NAK Indonesia

Ada pemikiran fatalistik yang berkembang di masyarakat dalam konteks pendidikan. Mungkin di antara kita pun ada yang pernah merasakan ditekan orang tuanya karena masalah peringkat di sekolah dengan ungkapan, “Lalu buat apa kami mengirimmu untuk bersekolah?” “Apa gunanya jadi peringkat kedua?”

Banyak anak yang tumbuh dengan budaya seperti ini akhirnya berpikir bahwa mereka baru berguna hanya jika menjadi yang terbaik. Jika tidak jadi yang terbaik, maka mereka tidak berguna. Banyak orang yang tidak bisa lepas dari cara berpikir ini hingga dewasa dan mengalami depresi.

Depresi ini kemudian tidak hanya berpengaruh dalam konteks pendidikan saja. Namun berpengaruh juga kepada kepribadian mereka, misalnya terhadap akan jadi orang tua seperti apa mereka, akan jadi suami atau istri seperti apa mereka, bahkan bisa juga berpengaruh pada kehidupan beragama mereka.

Mereka bertanya kepada diri mereka, “Kalau saya bukan orang yang terbaik imannya, apa gunanya beribadah?” Mereka akan putus asa untuk beribadah, termasuk salat. Kita pun sering mendengar alasan mengherankan. “Saya kan bukan manusia sempurna, saya tidak bisa menjalankan semua ajaran agama ini!” Cara berpikir seperti akan hancur hanya dengan satu kata yaitu, “ahsanu amala” (QS. Al Mulk ayat 2). Ada beberapa terjemahan ayat “Ayyukum ahsanu ‘amalaa” ini dengan “siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.” Terjemahan ini kurang tepat. Yang lebih tepat adalah “Siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.”

Ahsanu adalah “Ism Tafdhiil lil Muqooronah” yang tujuannya untuk perbandingan. Kata Ahsanu bukan “Af’alu Tafdhiil” karena “Mudhoof” . Kata Ahsanu di sini juga tidak menggunakan “Alim Laam Ta’riif”. Jika disebut, “Al-ahsanu ‘amalaa” seperti pada, “Bil-alkhsariina ‘amaalaa” maka baru bermakna paling (superlatif) sehingga artinya adalah terbaik. Jika tidak ada “alif Laam Ta’riif”, maka maknanya adalah perbandingan (komparatif) sehingga artinya adalah lebih baik.

Perbedaan penerjemahan ini membawa konsekuensi serius mengenai apa yang Allah inginkan atas kita. Sebab ada perbedaan antara “lebih baik” dan “terbaik“. Hanya mungkin ada satu saja yang terbaik, tidak mungkin ada dua orang yang terbaik. Sebab “Terbaik” berarti nomor satu. Padahal selalu akan ada orang yang lebih baik daripada kita.

Dari sisi individu saja kita tidak bisa mengatakan, “Akhirnya, saya menjadi yang terbaik yang saya bisa.” Karena mungkin besok kita bisa melakukan yang lebih baik lagi. Yang dapat kita katakan adalah, “Alhamdulillah, hari ini saya bekerja lebih baik.” Kalau kita bandingkan antarindividu, setiap orang berbeda ketika melakukan yang lebih baik. Ada yang melakukan lebih baik secara perlahan, yang lain bisa dengan cepat.

Sebagian ada yang bersedia memberi semua harta mereka demi Allah, sebagian orang lain hanya dapat memberi satu persen apa yang mereka miliki, dan itu tetap lebih baik daripada tidak ada. Tidak masalah.

Semua orang membuat kemajuan dengan jalan ceritanya masing-masing. Ini adalah hal yang indah dan rahmat yang Allah tetapkan dalam agama ini bahwa Allah tidak meminta kesempurnaan, tetapi perbaikan. Bukan melihat siapa yang terbaik, tetapi melihat siapa yang mengambil langkah untuk memperbaiki diri.

Disadur dari video penjelasan ustadz Nouman Ali Khan :”).

 

Dear · reblog

Pengabulan Doa

oleh Nay [nailymakarima.tumblr.com]

A : Menurutmu, ada nggak do’a yang sia-sia?

B : Nggak lah. Orang udah jelas-jelas Allah berfirman “Berdo’alah, maka akan Aku kabulkan..”

A : Iya ding. Tapi sayangnya, orang-orang suka mengeluh kalau do’anya belum dikabulin.

B : Mereka kurang sabar itu mah.

A : Maksudnya?

B : Mereka tergesa-gesa do’anya pingin segera dikabulkan. Nggak sabar. Padahal pasti do’a itu dikabulkan kalau kita terus bersabar.

A : ….

B : Harusnya tuh ya, kita malu sama Nabi Ibrahim. Kamu tahu Nabi Ibrahim berdo’a apa?

A : Apa?

B : Ya Allah, nanti diantara keturunanku penduduk Makkah ini tolong jadikan diantara mereka seorang Rosul yang akan membacakan untuk mereka ayat-ayatku. Mengajarkan kitab dan hikmah. Mensucikan mereka.

A : ……

B : Bayangannya Nabi Ibrahim itu nggak jauh-jauh lho. Cucunya Ismail atau cicitnya gitu, akan ada Rasul yang akan ada disana. Tapi, kamu tahu berapa lama do’a itu dikabulkan oleh Allaah?

A : Nggak tau. Berapa lama emang?

B : Kalau ikut hitungannya Ibnu Abbas 4200 tahun kemudian. Karena jarak antara nabi Muhammad ke nabi Isa 600 tahun. Nabi Isa ke nabi Musa 1200 tahun. Nabi Musa ke nabi Ibrahim 2400 tahun. Jadi kalau ditotal menjadi 4200 tahun. See, ada jarak 4200 tahun dari do’a yang dikabulkan dengan pengabulannya. Jadi, tidak ada yang sia-sia kan dalam do’a itu.

A : MashaAllah.. :”””

B : Jadi Allaah itu kalau memberi lebih baik daripada yang kita minta. Orang yang tidak pernah kita minta saja diberi. Jadi, kalau kita minta pastinya lebih baik dari yang kita minta. Kamu pernah minta nafas?

A : Nggak pernah… :””

B : Nah, nggak pernah kan. Kecuali kalau sejak tadi asmamu kumat. Haha. Tapi, Allah terus memberi udara kepada kita untuk bernafas. Maka, pada sesuatu yang kita minta, pastinya Allah memberi lebih baik.

A : Haha. Oh iya ya..

B : Coba perhatiin. Nabi Ibrahim itu cuman mendo’akan Makkah lho. Indonesia nggak dido’ain. Apalagi Jakarta. Haha. Tapi nyatanya? Allah mengabulkan seorang Rosul bukan buat Makkah doang. Tapi buat seluruh alam semesta. Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam.

A : Hahaha. Iya ya. Emm, kamu malu sama Nabi Ibrahim?

B : Malu lah 😭

A : Iya sama 😭

B : Makanya, yuk jangan pernah putus asa buat berdo’a. Untuk kita, untuk keturunan-keturunan kita nanti.

A : Siyaaaaap. InshaAllah. Hehehe.

أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

“Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.”

-Sura Al-Baqarah, Ayah 186-

.

pict from Pinterest.

Dear · Hikmah · KisahSahabat · reblog · Selftalk

Sungguh, jika Allah mengambil satu; maka Allah sisakan yang lebih banyak

Tersenyumlah, ada hikmah di dalamnya. Jangan sampai kau berputus asa..

…akan aku sematkan pada awal tulisan kali ini.

Jangan, kumohon jangan. Jangan menggerutu pada takdir dan ketetapan yang ditentukan oleh Ar-Rahman. Jangan menyimpan banyak pertanyaan, jangan membiarkan singkatnya kalimat tanya ‘kenapa?’ membuat imanmu goyah dan runtuh sebab merasa Allah memberikan ujian yang terlalu berat. Terlalu besar, dan terlalu rumit untuk akhirnya ditawakkal-kan.

Seberapapun kita akan dibuat berkali-kali jatuh, akan selalu ada kekuatan untuk bangkit jika Allah menjadi tempat yang dituju. Sebagaimanapun kita akan dibuat berurai-urai air mata, akan selalu ada setitik cahaya, untuk akhirnya menyapu dan menyirnakan badai kesedihan di dalam jiwa. Jika masih Allah, yang menjadi tempat kita memuarakan segala rasa.

Saudaraku, apapun yang sedang menimpamu hari ini.. kuyakin, kau kuat. Lebih kuat dari sekuat yang kau kira. Meski aku tak mengetahui, bagaimana kau sedang dibuat berdarah-darah, aku yakin, in syaa Allah, selagi iman itu masih terpancar dari balik dadamu, kau mampu. Dan kau akan berhasil melewatinya. Ingatlah, tentang apa yang Allah katakan,

“Kamu benar-benar akan diuji pada hartamu dan dirimu” (QS. Ali ‘Imran 186)

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ‘Inna lillahi wa inna illaaihi ra’jiun” (QS. Al baqarah 155-156)

Demikianlah..

“Seorang Mukmin pasti akan diuji pada harta, jiwa, anak dan keluarganya.”

Saudaraku, pernahkah kita mendengar kisah Urwah bin Az-Zubair dengan ujian yang Allah berikan kepadanya? Dan sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda,

“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dengan besarnya ujian. Sesungguhnya, apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Siapa yang ridha dengan ujian itu, maka ia akan mendapat keridhaan-Nya. Siapa yang membencinya maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya”

Tersebutlah, pada suatu hari seorang Khalifah dari bani Umayyah, Al-Walid bin Abdul Malik, mengundang Urwah bin Az-Zubair untuk mengunjungi istananya di Damaskus. Adalah sebagai wujud sapaan cinta, untaian hormat dari sang Khalifah. Urwah memenuhi undangan tersebut dengan menggandeng anak sulungnya.

Disaat Urwah berbincang-bincang pada majelis sang Khalifah, anak sulungnya diantarkan oleh pengawal untuk mengunjungi tempat dibagian istana mana pun yang dia suka. Hati anak sulungnya terpikat untuk melihat kuda-kuda khalifah. Dan,

‘Bughh!’

Seorang pengawal lari tergopoh-gopoh menghadap Khalifah juga Urwah,

“Wahai Khalifah, sesungguhnya telah terjadi begini dan begini,” Pengawal tersebut menceritakan detailnya, “dan sekarang, sang anak telah berpulang menghadap Allah Subhaanahu wa Ta’ala.”

Siapa yang mampu menduga? Ternyata dalam suka ria nya sang anak, salah seekor kuda menendangnya hingga terpelanting jatuh ketanah dan terinjak-injak oleh kuda yang sedang berlari di atasnya, dan saat itu juga, ia meninggal dunia. Dialah sang anak sulung Urwah bin Az-Zubair. Seorang anak kesayangan yang Urwah harapkan mampu menjadi penerus ilmunya. Maka mampukah kita membayangkan bagaimana reaksinya kala itu?

‘Urwah tersenyum dan ia berkata “Innalillahi wa inna illaaihi ra’jiun”

Maka saat itu juga Urwah sendiri yang turun keliang lahat untuk menguburkan anaknya. Setelah usai pemakaman, dalam dzikir dan ayat-ayat Al-Qur’an yang sedang ia jadikan permohonan agar Allah berikan kesabaran, tiba-tiba betisnya terasa begitu sakit yang luar biasa. Kakinya terserang penyakit langka yang memaksanya untuk harus diamputasi.

Berkatalah salah seorang ahli pengobatan kepercayaan Khalifah, “Ini harus diamputasi. Dan Wahai Imam, kami akan memberikanmu seteguk minuman yang memabukkan, agar sakit yang ditimbulkan takkan terasa olehmu.”

“Tidak” Jawab ‘Urwah, “Sungguh, aku tidak akan menggunakan sesuatu yang haram demi mendapatkan kesehatanku kembali. Dan aku tidak ingin salah satu bagian dari tubuhku hilang tanpa aku merasakan sakitnya. Ku serahkan semuanya kepada Allah.”

Maka setelah berapa tabib itu berunding, mereka memutuskan agar Khalifah memberikan beberapa orang untuk memegangi ‘Urwah ketika melakukan proses pemotongan kakinya yang manual.

Maa syaa Allah! Pemotongan kaki yang manual. Sekali lagi, manual.

Dengan cepat ‘Urwah berkata, “Aku tidak membutuhkannya, biarlah aku memalingkannya dengan dzikir dan tasbih ketika kalian memotongnya.”

Tak terbayang, bagaimana pedih dan perihnya daging yang dikupas tanpa bius sedikitpun. Tulang yang digergaji, dan darah yang terus mengucur darinya. Tak heran, beberapa kali ‘Urwah meringis kesakitan, “Hassi… Hassi..” katanya. Ia bermakna, suatu rasa sakit yang luar biasa terasa

Sesudah proses amputasi selesai, darah tak kunjung berhenti. Maka cara satu-satunya adalah dengan mencelupkannya pada minyak panas. ‘Urwah menyetujui. Saat kakinya dicelupkan kedalam minyak panas yang mendidih, ia menjerit, lalu pingsan, dan dikatakan bahwa ‘Urwah pingsan dalam waktu yang lama. Satu hari.

Hati ini rasanya mengerdil, sungguh.

Bagaimana, bagaimana jika kiranya ujian yang ‘Urwah hadapi menimpa seseorang diantara kita? Baru saja sesaat dia kehilangan anaknya, dia harus pula kehilangan kakinya dengan proses yang luarbiasa menyakitkannya. Disini, bukankah kita melihat, bagaimana kokoh jiwa haba yang beriman kepada-Nya? dan benarlah, bahwa Allah menguji hamba-hambaNya sesuai dengan kadar keimanannya. Cukuplah, ini sebagai bukti, betapa pancaran iman itu telah memenuhi seluruh penjuru ruang hati ‘Urwah bin Az-Zubair.

Sang Khalifah merasa kasihan dan ingin menghibur ‘Urwah. Namun ia bingung, ia tidak memiliki cara untuk menghiburnya. Namun cara Allah lebih menakjubkan, datanglah seorang lelaki buta kepada Khalifah, dan dia bercerita

“Wahai Amirul Mukminin!”, seru laki-laki buta tersebut, “dulu tidak ada seorang pun dari bani Abas yang lebih kaya dariku, lebih banyak anak-anak selain diriku. Aku tinggal disuatu lembah, dan banjir besar menerjang kaumku. Tak ada lagi hartaku, tak tersisa lagi anak-anakku kecuali hanya seorang bayi dan seekor unta.”

“Namun unta tersebut hendak melarikan diri, aku mengejarnya dan meninggalkan anakku. Maka kudengar teriakan bayi, ternyata anakku sudah berada di mulut serigala. Aku kembali hendak mengejarnya, namun sia-sia, serigala tersebut telah memakannya. Aku berbalik lagi, kukejar unta yang kabur, dan saat sudah dekat dengannya, salah satu kakinya menyepak wajahku. Hingga hancurlah keningku dan buta mataku.”

Sang Khalifah mendapatkan apa yang dia cari, Maha Baik Allah mengirim laki-laki untuk ‘Urwah. Sebab, ujiannya jauh lebih berat dari ‘Urwah. Diutuslah laki-laki tersebut kepada ‘Urwah untuk menceritakannya. Seusai ia bercerita, ‘Urwah berkata,

“Innalillahi wa inna illaaihi ra’jiun…”

Dalam do’anya, ‘Urwah berkata,

“Ya Allah, dulu aku memiliki empat anggota badan, dua tangan dan dua kaki. Lalu Engkau mengambil satu darinya dan Engkau menyisakan tiga darinya, maka segala puji bagi-Mu. Dulu aku memiliki empat orang putra, lalu Engkau mengambil salah satu darinya dan Engkau menyisakan tiga darinya, maka segala puji bagi-Mu.” isak ‘Urwah, “Demi Allah, seandainya Engkau mengambil, pasti Engkau menyisakan, dan seandainya Engkau memberi ujian pasti Engkau memberi kesembuhan.”

~

Inilah, ‘Urwah bin Az-Zubair. Inilah, kisah-kisah seorang hamba yang Allah berikan ujian hebat luarbiasa. Belum lagi, jika kita melihat ujian para Nabi.

Maka…. segala puji, hanya bagi Allah..

Inilah salah satu dari sekian rintik hujan yang Allah berikan, yang menyimpan berkah, menyimpan maksud dan tujuan.

Rasulullah ﷺ bersabda,

“Ujian itu akan selalu menimpa seorang hamba sampai Allah membiarkannya berjalan di atas bumi dengan tidak memiliki dosa.”

Dan cukuplah, segala ujian yang Allah berikan kepada kita menjadi sebaik-baiknya cara Allah membersihkan dosa-dosa kita. Sebab sungguh, apalah arti sakit di dunia jika dibandingkan dengan sakit di akhirat.. apalah arti tangis di dunia, jika dibandingkan dengan tangis karena siksa dan penyesalan di akhirat..

Mari, bukan lagi memfokuskan kepada apa yang telah hilang dan pergi. Melainkan, kepada apa yang masih Allah sisakan dari segala yang sudah tidak dimiliki. Betapa, betaaapa Allah Maha Baik. Dari sekian sakit yang mungkin bisa dihitung dengan hitungan jari, mampukah kita menghitung nikmat sehat yang sudah Allah beri? Mampukah kita mengkalkulasi, berapa banyak biaya oksigen yang Allah beri dari kita terlahir di muka bumi ini? Yakinkah.. kita merasa aman, jika tiba-tiba jantung ini bermasalah?

Maka bacalah, apa yang sudah tertulis pada judul tulisan kali ini.. :’)

–Ibn Sabil [quraners.tumblr.com]

—–

maasyaaLlaah :“)),

saya pertama kali membaca kisah ‘Urwah bin Zubair di buku Ibunda Para Ulama-nya Sufyan bin Fuad Baswedan :))

terberkahilah ‘Urwah yang dilahirkan dalam salahsatu keluarga yg istimewa 🙂

Ayahnya, Zubair bin Awwam adalah salahsatu dari sahabat yang dijamin Rasulullah sebagai penghuni Jannah-Nya 🙂

Ibunya adalah si Wanita pemilik dua ikatan, Asma binti Abu Bakar 🙂

Bibinya adalah ummul mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha 🙂

Kakeknya adalah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam :”))

apa yang ingin saya sampaikan? 🙂

bukan, bukan tentang keluarga shalih sudah pasti tentu melahirkan keturunan yang shalih. Belum pasti tentunya, karena sekelas nabi Adam, Nuh ‘alaihissalam saja, salahsatu anaknya memilih menjadi seorang yang ingkar :“(. Juga berlaku sebaliknya, dari seorang ayah yang pembuat dan penyembah berhala-lah Nabi Ibrahim dibesarkan, juga salahsatu sahabat mulia Abdullah bin Abdullah bin Ubay yang mengalir dalam dirinya darah dari Abdullah bin Ubay bin Salul, sang dedengkot kaum Munafik di Madinah saat itu.

iyah 🙂

ini semua tentang pilihan :), pilihan apa yang akan menemani kita dalam menjalani setiap kehendak yang ditetapkan-Nya untuk kita :”),

pilih untuk fokus yang ada, atau yang hilang? 🙂

Dear · Harta Karun · Hikmah · KisahParaNabi · reblog

Keluarga Imran

326
image from google

oleh Alifah Syamsiyah

Imran adalah satu diantara empat laki-laki role model yang disebut dalam Al-Qur’an: Adam, Nuh, keluarga Imran, dan keluarga Ibrahim.

Hmm sebentar, mengapa untuk Imran dan Ibrahim ditambahkan kata “keluarga”, tapi tidak bagi Adam dan Nuh? Itu karena di keluarga inti Adam dan Nuh, terdapat anggota keluarga yang tidak beriman kepada Allah.

Uniknya, Imran ini bukanlah nabi atau rasul, tapi Allah pilih namanya untuk diabadikan dalam Al-Quran. Ini membuktikan bahwa seharusnya tidak ada excuse bagi diri kita sehingga berkata, “Ah wajar saja dia kan nabi jadi bisa bla bla bla..” Memang nabi dan rasul adalah manusia pilihan Allah yang diberikan keistimewaan tertentu, tapi bukan berarti itu membuat kita inferior dalam berbuat kebaikan. Buktinya Allah telah memberikan satu contoh orang shalih yang bukan nabi dan juga rasul tapi masuk dalam manusia pilihanNya. Dialah Imran.

Bicara tentang keluarga Imran, tentu tak terlepas dari Maryam, putrinya. Saat mengandung, ibundanya Maryam yang tak lain adalah istri Imran ini pernah bernadzar bahwa anaknya akan ia didik untuk menjadi seorang yang mengabdikan dirinya kepada masjid. Ini menunjukkan betapa seorang ibu sudah mempersiapkan pendidikan bagi anaknya sedini mungkin. Ohya, kenapa ya nama istri Imran ini tidak pernah disebut? Ternyata hal ini menggambarkan bahwa kehebatan istri Imran dalam membesarkan anaknya tidak terlepas dari peran Imran dalam mendidik istrinya tersebut. Itulah kenapa disebut “istri Imran”, yang tidak lain untuk menunjukkan peran Imran dalam setiap kebaikan yang dilakukan istrinya.

Dalam keluarga ini juga dikenal nama Zakaria. Dialah paman Maryam yang juga terkait dengan proses pendidikan bagi Isa, putra Maryam. Zakaria banyak terlibat dalam proses pengurusan Isa. Pertanyaannya, mengapa bukan Imran? Beberapa ulama menyebutkan bahwa Imran sudah meninggal kala itu. Lagi-lagi ini menyiratkan hikmah bahwa peran keluarga besar itu juga berpengaruh pada proses tumbuh kembang seorang anak.

Semoga kita bisa belajar dan meneladani keluarga hebat ini, aamiin :”)

Belajar · challenge · Dear · Harta Karun · reblog

MENJADIKAN DINDING RUMAH SEBAGAI SARANA EDUKASI DAN KREATIFITAS

Oleh : D Nita Purnama Sari

IMG-20170826-WA0000

Ketika si kecil sudah dapat memegang pensil atau crayon, meskipun kita sudah memberikan kertas atau buku gambar sekalipun, tapi si kecil ini lebih suka menggambar di dinding rumah. Betul tidak ?

Ya, anak-anak umumnya memang senang sekali menggambar. Nah, salah satu bidang atau media yang sering kali dijadikan sasaran crayon,pensil warna, ataupun alat tulis gambar lainnya adalah dinding.

Waaahhhh…. Dinding jadi sasaran empuk bangetlah buat anak.

Nah mulai dari situ kenapa tidak kita manfaatkan dinding rumah untuk sarana belajar anak ?

Jadi selain anak hanya mencoret-coret dinding, kita bisa memanfaatkan dinding itu untuk menstimulasi menambah kosa kata anak, membantu anak mengenal huruf abjad ataupun hijaiyah, berhitung dsb melalui dinding tersebut.

Dan sekaligus upaya saya untuk mengembangkan kreatifitas anak. Dengan membiarkan anak bereksplorasi yaitu menggunakan seluruh sarana yang ada di lingkungan kseharian anak sebagai media, termasuk dinding rumah.

Juga memberikan lingkungan yang PerMaTa InSAN untuk anak.

Per_Perhatian
Ma_Mandiri
Ta_cinTa
In_BermaIn
S_Santai
A_Aman
N_Nyaman

Karena memang anak-anak umur 2-4 tahun lebih suka membuat karya “masterpiece” di dinding.

Kenapa demikian ?

  • Karena jarak antara dinding dan memori anak sungguh dekat

Menurut psikologi dari Aminfainstitute Lembaga riset dan Konsultan Edukasi Berbasis Brain Based and Holictic Learning (Pendidikan Ramah Otak).

“Rasa terlibat dalam dunia di dalam gambar itu tidak akan di dapat ketika anak menggambar di bidang kertas”.

  • Dinding merupakan tempat yang strategis bagi anak.

Karena bila kita berjalan pasti sepanjang jalan melewati dinding dalam rumah.

Jadi upaya apa yang harus kita lakukan ?

1]. Kita bisa membuat space coret-coret anak

Beri anak sisi dinding khusus space coret-coret dan belajarnya, misal : di pojok rumah, atau di tempat yang sering anak membuat coretan gambar.

Lalu cat sisi dinding dengan warna hitam seperti layaknya papan tulis lalu beri anak kapur tulis untuk coret-coret karya gambarnya.

Atau kita bisa tempelkan papan tulis atau whiteboard yang kita bisa beli di toko buku, atau bisa juga membuat rol kertas besar untuk anak menggambar, kalaupun tidak ada kita bisa menempelkan beberapa kertas HVS di dinding.

a18b0d80f17d03d8e737e13203214344--playroom-colors-playroom-ideas

f8b0a36519b8fe5fd10144b3aca4eb31--magnetic-chalkboard-walls-kids-chalkboard

FB_IMG_1501831133204

Lalu buat peraturan boleh dan tidak boleh. “ Nak… boleh coret-coret di dinding asalkan disini…sini…dan disini….(menunjuk media yang kita buat), tapi tidak boleh di dinding disini…sini…dan disini (yang tidak ada media yang kita buat).”

2]. Membuat Gallery Karya anak

Kita bisa membuat gallery karya anak kita di sebelah papan tulis yang kita buat, untuk menempelkan karya lain yang anak buat.

Jadi, untuk anak bukan hanya pajangan hasil karya namun disana juga terkandung sebuah nilai penerimaan dan penghargaan yang tinggi atas hasil kerja/karya anak.

every child is an artist
source

3]. Membuat Mind Mapping

Apa itu Mind Mapping ?

Mind Mapping atau Peta Pikiran adalah metode mempelajari konsep yang ditemukan oleh Tony Buzan. Konsep ini didasarkan pada cara kerja otak kita menyimpan informasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otak kita tidak menyimpan informasi dalam kotak-kotak sel saraf yang terjejer rapi melainkan dikumpulkan pada sel-sel saraf yang berbercabang-cabang yang apabila dilihat sekilas akan tampak seperti cabang-cabang pohon. Maka, Mind Mapping merupakan sebuah metode untuk mengelola informasi secara menyeluruh berupa catatan yang lebih terstruktur.

Cara membuat mind mipping :

Pertama, Buatlah gambar atau tulisan yang melambangkan topic (main topic) atau topic utama di tengah kertas. Kedua, buat garis leku-lekuk yang menyambung dari gambar tngah yang tadi kita buat/main topic. Ketiga, beri nama pada setiap ide di atas atau bisa juga membuat gambar-gambar kecil mengenai masing-masing ide tersbut. Keempat,Dari stiap ide yang ada tarik garis penghubung lainnya, yang menyebar seperti cabang-cabang pohon. (sumber : penjelasan tentang Mind Mipping, Buku Bunda Cekatan,Ibu Septi Peni Wulandani, Institut Ibu Profesional)

Contoh Mind Mipping :

IMG_20170827_0001

4]. Membuat Flash Card

seperti Abjad,Hijaiyah,Angka, gantungan Rukun Islam, Tempelan Rukun Iman , nama-nama nabi ,papan pengingat waktu shalat, pengingat acara,papan bintang prestasi, busy board,rukun wudhu, madding keluarga atau hasil karya lainnya yang di tempelkan di dekat papan tulis yang kita buat untuk menstimulasi belajar anak.

14bd25ed70920e16f85c2aa72fdca87d--montessori-baby-toddler-busy-board-diy
contoh busy board
18671291_10207286727886519_3689482413407836575_n
papan pengingat waktu shalat
18740177_10207283994258180_6916218839744919897_n
Papan Bintang Kebaikan

IMG_20160518_193411

IMG_20160518_193238
Menghias Dinding menyambut Ramadhan

 

Lalu apa manfaatnya ?

  1. Anak merasa nyaman.
  2. Anak merasa senang karena keinginan dan rasa ingin tahunya (eksplore) tersalurkan dan terpenuhi.
  3. Memberikan kebebasan berekspresi.
  4. Mengmbangkan kemampuan visualnya.
  5. Memberikan rasa penghargaan kepada anak.
  6. Menumbuhkan rasa percaya diri anak.
  7. Membantu mengingat atau menghafal belajarnya.

 

PRINSIP !!!

1. Tidak ada anak yang nakal,yang ada adalah anak kratif.

2. Allah SWT tidak pernah membuat produk gagal, semua anak unik.

3. Kreatifitas itu bukan produk instan,harus dilatih terus menerus sejak dini.

 

“Beberapa hal yang perlu di perhatikan para orang tua (khususnya saya pribadi^^) adalah Berikan anak ruang kebebasan untuk bermain dan bereksplorasi biarkan anak memilih sendiri media bermainnya walaupun itu di dinding. Biarkan anak merasa tenang, nyaman dan menikmati proses kreativitasnya. Tugas kita sebagai orang tua hanya sebagai fasilitator yaitu mendukung dan memfasilitasi anak”

(Buku Bunda Sayang, Seri ibu Profesional#1, Memacu Kreatifitas Anak Sejak Dini)

Terimakasih

Wassalamu’alaikum wr.wb