Belajar · Harta Karun · reblog · sejarah · they're said

Darimana Kita Memulai Untuk Mentadabburi Sejarah Islam?

oleh Edgar Hamas

Beberapa waktu lalu, saya membuat Instagram Story tentang “3 Hal yang Menjadikan Sejarah Islam Inspirasi Hidupmu”, dan banyak teman-teman yang kemudian menanyakan, bukan bermaksud apa-apa, namun mereka merasa nyaman dengan sajian tadabbur sejarah yang sering kami tulis. Alhamdulillah.

Saya ingin sampaikan kepada teman-teman, mentadabburi sejarah itu seperti nonton film atau membaca novel. Bedanya, yang ini kenyataan, dan lebih menginspirasi. Permasalahannya adalah, masih sedikit sejarawan muslim yang menyajikan konten-konten sejarah dengan bahasa yang mudah dimengerti.

Pun, banyak sekali sejarawan ini yang berfokus tentang hal yang bertele-tele, seperti tanggal dan tahun yang begitu banyak, tokoh yang begitu rumit dikenali, dan pemilihan bahasan yang terlalu berat, seperti konflik kerajaan, politik, silsilah, dan banyak lagi; walaupun sebenarnya itu penting, namun takutnya, kita malah kehilangan hikmahnya.

Maka dari itu, izinkan dalam tulisan ini, saya ingin mengusulkan poin-poin, yang saya menikmatinya, tentang bagaimana dan darimana kita akan asyik mentadabburi sejarah.

Pertama, Mulailah dari Rasulullah ﷺ

Perjalanan hidup Rasulullah ﷺ itu, cool banget. Sangat menginspirasi. Hanya dalam waktu 22 tahun, seorang lelaki di kota tengah padang pasir Arabia, menjadi tokoh yang dikagumi oleh bangsa-bangsa di penjuru bumi.

Bacalah karakter Rasulullah ﷺ, kehebatannya, sifat-sifat beliau ﷺ yang diabadikan dalam Al Qur’an dan hadits. Penting: bacalah dengan sudut pandang kamu ingin mengenal seseorang yang kamu sangat menggemarinya. Buku-buku karya Ust Salim A Fillah akan menemanimu mengenal Rasulullah ﷺ dengan lebih bersahabat.

Kedua, kenali 10 Shahabat yang Dijamin Masuk Surga

Generasi Shahabat itu ada 100 ribu. Semuanya hebat-hebat, semuanya keren-keren, semuanya menggugah. Namun, ringkasannya bisa kamu dapatkan pada 10 sahabat yang dijamin masuk Surga. Mereka bukan nabi, bukan juga rasul, namun karakter dan perjalanan hidupnya akan mengilhami siapapun yang membacanya.

Seorang bisnisman akan nge-fans dengan Utsman bin Affan atau Abdurrahman bin Auf. Seorang aktivis pasti suka dengan gaya Umar yang jenius dan Abu Bakar yang prestatif. Seorang ilmuwan pasti akan jatuh cinta pada kehebatan Ali menganalisa dan menghasilkan fatwa. Dan masih banyak lagi.

Saya jatuh cinta pada 10 Shahabat ini ketika buku “10 Sahabat yang Dijamin Masuk Surga” yang ditulis oleh Muhammad Ahmad Isa. Tidak tebal, tapi bagus sekali penyampaiannya.

Ketiga, generasi sahabat pada umumnya.

Selain 10 sahabat yang dijamin masuk surga, masih sangat banyak sahabat-sahabat Rasulullah yang membuat saya pribadi tergugah untuk selalu menjadi pribadi yang hebat. Salman Al Farisi misalnya, sang pencari kebenaran. Bilal misalnya, seorang yang kokoh dalam keyakinan. Khalid bin Walid, The Warrior. Amr bin Ash, sang diplomat ulung.

Untuk membacanya, selalu, buku yang saya usulkan ke teman-teman adalah Biografi 60 Shahabat Rasulullah ﷺ karya Khalid Muhammad Khalid.

Keempat, tentang Pahlawan-pahlawan Islam sepeninggal Rasulullah.

Ini dia, yang masih harus banyak digarap oleh para sejarawan muslim. Generasi emas umat Islam tidak hanya menjadi gelar sahabat saja. Nyatanya, para pahlawan yang hidup di zaman keemasan Islam adalah tokoh-tokoh yang sangat enerjik dan mengagumkan. Seperti Imam Syafi’i, Nizamul Mulk, Shalahuddin Al Ayyubi, Muhammad Al Fatih, dan banyak lagi.

Ada banyak buku-buku yang membahas tentang pahlawan Islam ini, saya tidak bisa memilihkan salah satunya, sebab saya masih jatuh cinta pada buku “Miah Udzama Ummatil Islam Ghayyaru Majra At Tarikh” (100 Tokoh Umat Islam yang Mengubah Sejarah) karya Jihad Turbani.

Entah, sampai sekarang belum ada yang menerjemahkan, atau apa saya yang tidak tahu. Sebenarnya ada penerbit yang sudah menerjemahkan, namun belakangan diketahui belum minta izin ke Jihad Turbani. Ah, sayang sekali.

Teman-teman tapi masih bisa melihat terjemahan video-video Jihad Turbani dalam channel YouTube beliau, (جهاد الترباني) insyallah ada yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia walaupun belum semuanya.

Kelima, tentang Peradaban Islam

Teman-teman, kamu mungkin belum sepenuhnya percaya, dulu itu orang-orang Eropa disebut gaul kalo mereka pake bahasa Arab. Dulu itu, mata uang Islam jadi mata uang internasional, kapal-kapal kita ada di pelabuhan Italia, Inggris dan Perancis. Amerika Serikat pernah membayar pajak pada negeri Islam 70 tahun lamanya.

Darimana kita mengetahui itu? Dari bacaan-bacaan kita tentang peradaban Islam. Sejauh ini, pembahasan ini sangatlah sedikit dan masih perlu dikembangkan. Saya bertekad bisa mewujudkannya. Doakan yaa.

Namun, sebagai pembuka, teman-teman bisa membaca buku “Lost Islamic History” karya Firas Al Khateeb yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Banyak juha channel-channel YouTube yang membahas tentang peradaban Islam yang hebat ini. Search saja dengan keyword yang tepat.

Masih sangat banyak, fakta-fakta hebat Sejarah Islam yang jika kita mentadabburinya, akan membuat kita benar-benar bangga menjadi muslim, membuat kita bangun dari amnesia 500 tahun ini, dan kembali merebut takdir kemenangan kita.

Advertisements
Belajar · challenge · Dear · Harta Karun · reblog

MENJADIKAN DINDING RUMAH SEBAGAI SARANA EDUKASI DAN KREATIFITAS

Oleh : D Nita Purnama Sari

IMG-20170826-WA0000

Ketika si kecil sudah dapat memegang pensil atau crayon, meskipun kita sudah memberikan kertas atau buku gambar sekalipun, tapi si kecil ini lebih suka menggambar di dinding rumah. Betul tidak ?

Ya, anak-anak umumnya memang senang sekali menggambar. Nah, salah satu bidang atau media yang sering kali dijadikan sasaran crayon,pensil warna, ataupun alat tulis gambar lainnya adalah dinding.

Waaahhhh…. Dinding jadi sasaran empuk bangetlah buat anak.

Nah mulai dari situ kenapa tidak kita manfaatkan dinding rumah untuk sarana belajar anak ?

Jadi selain anak hanya mencoret-coret dinding, kita bisa memanfaatkan dinding itu untuk menstimulasi menambah kosa kata anak, membantu anak mengenal huruf abjad ataupun hijaiyah, berhitung dsb melalui dinding tersebut.

Dan sekaligus upaya saya untuk mengembangkan kreatifitas anak. Dengan membiarkan anak bereksplorasi yaitu menggunakan seluruh sarana yang ada di lingkungan kseharian anak sebagai media, termasuk dinding rumah.

Juga memberikan lingkungan yang PerMaTa InSAN untuk anak.

Per_Perhatian
Ma_Mandiri
Ta_cinTa
In_BermaIn
S_Santai
A_Aman
N_Nyaman

Karena memang anak-anak umur 2-4 tahun lebih suka membuat karya “masterpiece” di dinding.

Kenapa demikian ?

  • Karena jarak antara dinding dan memori anak sungguh dekat

Menurut psikologi dari Aminfainstitute Lembaga riset dan Konsultan Edukasi Berbasis Brain Based and Holictic Learning (Pendidikan Ramah Otak).

“Rasa terlibat dalam dunia di dalam gambar itu tidak akan di dapat ketika anak menggambar di bidang kertas”.

  • Dinding merupakan tempat yang strategis bagi anak.

Karena bila kita berjalan pasti sepanjang jalan melewati dinding dalam rumah.

Jadi upaya apa yang harus kita lakukan ?

1]. Kita bisa membuat space coret-coret anak

Beri anak sisi dinding khusus space coret-coret dan belajarnya, misal : di pojok rumah, atau di tempat yang sering anak membuat coretan gambar.

Lalu cat sisi dinding dengan warna hitam seperti layaknya papan tulis lalu beri anak kapur tulis untuk coret-coret karya gambarnya.

Atau kita bisa tempelkan papan tulis atau whiteboard yang kita bisa beli di toko buku, atau bisa juga membuat rol kertas besar untuk anak menggambar, kalaupun tidak ada kita bisa menempelkan beberapa kertas HVS di dinding.

a18b0d80f17d03d8e737e13203214344--playroom-colors-playroom-ideas

f8b0a36519b8fe5fd10144b3aca4eb31--magnetic-chalkboard-walls-kids-chalkboard

FB_IMG_1501831133204

Lalu buat peraturan boleh dan tidak boleh. “ Nak… boleh coret-coret di dinding asalkan disini…sini…dan disini….(menunjuk media yang kita buat), tapi tidak boleh di dinding disini…sini…dan disini (yang tidak ada media yang kita buat).”

2]. Membuat Gallery Karya anak

Kita bisa membuat gallery karya anak kita di sebelah papan tulis yang kita buat, untuk menempelkan karya lain yang anak buat.

Jadi, untuk anak bukan hanya pajangan hasil karya namun disana juga terkandung sebuah nilai penerimaan dan penghargaan yang tinggi atas hasil kerja/karya anak.

every child is an artist
source

3]. Membuat Mind Mapping

Apa itu Mind Mapping ?

Mind Mapping atau Peta Pikiran adalah metode mempelajari konsep yang ditemukan oleh Tony Buzan. Konsep ini didasarkan pada cara kerja otak kita menyimpan informasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otak kita tidak menyimpan informasi dalam kotak-kotak sel saraf yang terjejer rapi melainkan dikumpulkan pada sel-sel saraf yang berbercabang-cabang yang apabila dilihat sekilas akan tampak seperti cabang-cabang pohon. Maka, Mind Mapping merupakan sebuah metode untuk mengelola informasi secara menyeluruh berupa catatan yang lebih terstruktur.

Cara membuat mind mipping :

Pertama, Buatlah gambar atau tulisan yang melambangkan topic (main topic) atau topic utama di tengah kertas. Kedua, buat garis leku-lekuk yang menyambung dari gambar tngah yang tadi kita buat/main topic. Ketiga, beri nama pada setiap ide di atas atau bisa juga membuat gambar-gambar kecil mengenai masing-masing ide tersbut. Keempat,Dari stiap ide yang ada tarik garis penghubung lainnya, yang menyebar seperti cabang-cabang pohon. (sumber : penjelasan tentang Mind Mipping, Buku Bunda Cekatan,Ibu Septi Peni Wulandani, Institut Ibu Profesional)

Contoh Mind Mipping :

IMG_20170827_0001

4]. Membuat Flash Card

seperti Abjad,Hijaiyah,Angka, gantungan Rukun Islam, Tempelan Rukun Iman , nama-nama nabi ,papan pengingat waktu shalat, pengingat acara,papan bintang prestasi, busy board,rukun wudhu, madding keluarga atau hasil karya lainnya yang di tempelkan di dekat papan tulis yang kita buat untuk menstimulasi belajar anak.

14bd25ed70920e16f85c2aa72fdca87d--montessori-baby-toddler-busy-board-diy
contoh busy board
18671291_10207286727886519_3689482413407836575_n
papan pengingat waktu shalat
18740177_10207283994258180_6916218839744919897_n
Papan Bintang Kebaikan

IMG_20160518_193411

IMG_20160518_193238
Menghias Dinding menyambut Ramadhan

 

Lalu apa manfaatnya ?

  1. Anak merasa nyaman.
  2. Anak merasa senang karena keinginan dan rasa ingin tahunya (eksplore) tersalurkan dan terpenuhi.
  3. Memberikan kebebasan berekspresi.
  4. Mengmbangkan kemampuan visualnya.
  5. Memberikan rasa penghargaan kepada anak.
  6. Menumbuhkan rasa percaya diri anak.
  7. Membantu mengingat atau menghafal belajarnya.

 

PRINSIP !!!

1. Tidak ada anak yang nakal,yang ada adalah anak kratif.

2. Allah SWT tidak pernah membuat produk gagal, semua anak unik.

3. Kreatifitas itu bukan produk instan,harus dilatih terus menerus sejak dini.

 

“Beberapa hal yang perlu di perhatikan para orang tua (khususnya saya pribadi^^) adalah Berikan anak ruang kebebasan untuk bermain dan bereksplorasi biarkan anak memilih sendiri media bermainnya walaupun itu di dinding. Biarkan anak merasa tenang, nyaman dan menikmati proses kreativitasnya. Tugas kita sebagai orang tua hanya sebagai fasilitator yaitu mendukung dan memfasilitasi anak”

(Buku Bunda Sayang, Seri ibu Profesional#1, Memacu Kreatifitas Anak Sejak Dini)

Terimakasih

Wassalamu’alaikum wr.wb

Dear · Hikmah · reblog

Untukmu…

oleh uda Shidiq.

“Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir’aun yang menyembunyikan imannya berkata: “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: Tuhanku ialah Allah padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu… ” (QS Ghafir: 28)

Kita fokus ke dua kata saja ya dari ayat ini, yaitu “menyembunyikan imannya” (يكتم إيمانه)

Di sini terdapat ilmu bagi kita bahwa yang disembunyikan itu tetaplah tampak bagi Allah

Sehingga, mengambil pelajaran dari ilmu di atas kita tidak perlu rasanya memperlihatkan kesolehan kita misalkan, saat sebenarnya di sana Allah sudah sangat tahu kita sedang beramal soleh

Terutama di jaman seperti ini di mana hampir segala aspek kehidupan kita sudah dapat di nikmati oleh orang lain di sosial media, godaan untuk menampakkan amal itu sangat besar

Ayat ini tentunya tidak sedang berbicara tentang anjuran menyembunyikan keimanan, ayat ini hanya menunjukkan bahwa begitulah kekuasaan Allah, Allah mengetahui hal yang disembunyikan oleh hati, “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Ghafir: 19)

Juga teruntukmu yang mungkin sedang lelah beramal dalam kesendirian, tidak ada orang yang mengapresiasi atau memuji, ingatlah bahwa Allah sangat tahu akan amalmu, sudah cukuplah Allah yang tahu 🙂

pict from Pinterest.

Belajar · challenge · Dear · Meracacacau · Selftalk · Uneguneg

Andaikata (1)

Bismillaah..

“being a mom is a big deal, preparation is a must. Karena nasib peradaban ini dipercayakan pada tangan para ibu” –SuperbMom Wannabe-

Ada yang super duper menarik-narik fikir di pekan kemarin. Jika pada pekan sebelum pekan kemarin bisa dengan mudah mengerjakan Nice Homework ke-1 yang diberikan oleh Fasilitator, Alhamdulillah, biidznillah. Maka di pekan kemarin, sejenak setelah membaca Nice Homework ke-2 yang di posting bunda Fasilitator di laman google classroom, hanya bisa terdiam beberapa lama, wkwk.

NICE HOME WORK #2

Bunda, setelah memahami tahap awal menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga. Pekan ini kita akan belajar membuat “CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN”

  1. Sebagai individu
  2. Sebagai istri
  3. Sebagai ibu

Buatlah indikator yg kita sendiri bisa menjalankannya. Buat anda yang sudah berkeluarga, tanyakan kepada suami, indikator istri semacam apa sebenarnya yang bisa membuat dirinya bahagia, tanyakan kepada anak-anak, indikator ibu semacam apa sebenarnya yang bisa membuat mereka bahagia. Jadikanlah jawaban-jawaban mereka sebagai referensi pembuatan checklist kita.

Buat anda yang masih sendiri, maka buatlah indikator diri dan pakailah permainan “andaikata aku menjadi istri” apa yang harus aku lakukan, andaikata kelak aku menjad Ibu , apa yang harus aku lakukan.

Kita belajar membuat “Indikator” untuk diri sendiri.

Andaikata saya menjadi Istri dan menjadi Ibu, apa yang akan saya lakukan untuk bisa memperoleh gelar “kebanggaan keluarga”, gelar yang dinilai dan diuji langsung oleh anggota keluarga, yaitu Pak Suami dan anak-anak. Nah loh?!

Andaikata aku menjadi seorang istri

Beberapa tahun yang lalu, saat kehendak Nya membawa saya mendiami kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta untuk waktu yang bila perempuan mengandung, maka saya mulai menetap saat usia kandungannya masih 1 hari (?) wkwk dan akhirnya meninggalkan kamar kost saya saat si bayi dilahirkan sesuai due date-nya dan sudah berusia 20 hari. Ribet yak :P. Ingin bilang 10 bulan doang padahal wkwk. Saya pernah menyampaikan ini ke-mba murobbiyah saya saat di solo.

“mbaa, masa aku pengen nikah sekarang, cuma gegara biar ada yang bisa nganterin liqo sama pergi ke tatsqif”, kalimat ini keluar bukan tanpa sebab. Saat kemudian memutuskan untuk mengambil lowongan belajar kerja di salah satu instansi pemerintah yang letaknya ada di pucuk Gunung Kidul, saat itu pula saya mulai hijrah, mutasi liqo, keluar dari zona nyaman di kampus super ‘hijau’ ke dunia realita. Lha emang di kampus dunia fantasi? :P.

and the challenge begins,

Di sini, di gunung kidul, didaerah gading tepatnya, amat sangat susah menjumpai kendaraan umum level angkot. Jalan besarnya memang dilewati bus kecil dan tanggung antar kota, tapi nunggu bus nya pun bisa lama dan unpredictable waktunya dan maksimal hanya sampai pukul 17.00 bus jurusan Wonosari turun ke Yogyakarta. Maka bagi saya yang tidak membawa kendaraan apapun kesini, ini menjadi kendala terbesar bagi saya. Dan makin tambah ‘sesuatu’ karena jeng jeng jeng, liqo-an tempat saya dimutasi, yang sebagian besar berisikan ibu-ibu berdomisili asli di gunung kidul, menggunakan sistem liqo keliling. Jadilah tiap pekan, tempat liqonya bergilir ke rumah-rumah yang artinya keliling kabupaten gunung kidul. Makin tambah dramatis karena pertemuan pekanannya dilaksanakan setiap selasa sore, yes on the weekdays!. Senin malam biasanya maksimal japrian rumah siapa yang akan dikunjungi sampai di hp. Sekalipun disebutkan nama daerah sama ancer-ancer nya sama saja bagi saya, yang aktifits sehari-harinya hanya jalur kost ke kantor dan turun gunung tiap weekend menginap di kost-an waktu di solo, atau ke rumah mbah di klaten.

Alhamdulillah, ‘alaa kulli haal, dengan berbagai cara-Nya, setiap pekannya hampir selalu bisa sampai dan pulang kembali ke kost dengan sehat wal’afiat tanpa kurang satu apapun. Kalau di ingat-ingat sekarang benar-benar Maha Kuasa Allaah yang menakdirkan pun juga memudahkan hamba-Nya untuk menjalani kehendak-Nya. Mulai dari ke tempat liqo dianterin pakai motor sama anak SMP dan digiring sama anak-anak TK dan SD yang bersepeda, mereka ade-ade yang ikut TPA di mushalla belakang kantor :D, atau juga pernah berangkat diboncengin pakai moter gede sama ummahat usia 50 tahunan, wkwk “maaf yaa mba, motor saya lagi dipakai anak, ini dapat pinjaman motor tetangga, adanya motor ini ” kata si ummi saat saya takjub melihat si ummi dengan style rok-nya tapi naik motor gede :”). Saat pulang ba’da maghrib, jalan yang dilalui sudah cukup sepi dan gelap, bahkan di jalan besar pun bisa terlihat jelas beberapa Photuris lucicrescens yang hilir mudik entah kemana. Pernah juga saat akan menghadiri kajian tatsqif di salahsatu SDIT yang ada di pusat kota kabupatennya, berangkatnya saya nyasar, saya kebablasan ikut bus yang saya tumpangi sampai di terminal pemberhentian terakhirnya. Itu karena saya benar-benar belum tahu harus turun dimana -__-, saat pulang pun ternyata saya salah tempat berdiri menunggu angkot, yang setelah sekian jam saya menunggu, tidak ada satupun angkot yang lewat di depan saya. Ini, salah satu alasan terbesar saya sangat ingin menikah saat itu -___-.

Hingga, tibalah suatu hari, saya tersadar dan malah tersenyum-senyum mengingat alasan saya saat itu :”).

Bismillaah,
Suatu saat nanti, ketika Allah mengizinkan saya menyandang amanah sebagai seorang istri sebelum Allaah memanggil saya terlebih dahulu. Saya ingin belajar dan berusaha untuk menjadi istri yang berdaya, yang kebaikan-kebaikan apapun itu selagi bisa saya upayakan sendiri, akan saya usahakan tanpa menunggu atau bergantung dengan keberadaan Pak Suami. Misal, berangkat liqo, berangkat ke tatsqif, menjenguk orang sakit, dan lain-lain yang semisal dengan ini. Tentu, dengan meminta izin sebelumnya ke beliau, juga meminta untuk diantarkan, lha? Wkwk. Memintanya cukup sekali, jika beliau nya mengatakan kemungkinan tidak bisa mengantarkan kerena suatu udzhur lain yang lebih penting, maka insyaaLlaah saya tak akan memintanya untuk yang kedua kalinya. Juga tidak menjadikan bisa atau tidaknya beliau mengantarkan sebagai suatu patokan, jadi tidak nya saya mengahdiri suatu majelis kebaikan. Ridha dan izin dari beliau sudah cukup, insyaaLlah :”).

Beberapa tahun yang lalu, salah satu abang terbaik di kampus meninggal dunia, meninggalkan istri yang baru dinikahinya setahun sebelumnya dan bayi perempuan yang masih merah pipinya. Sebulan yang lalu, tiba-tiba saya mendapat pesan dari salah satu ukhti sholiha, berbincang-bincang sejenak menanyakan kabar sebelum akhirnya beliau menyampaikan maksud beliau untuk meminjam sejumlah dana. Awalnya saya tidak berkeinginan untuk menanyakan, tapi akhirnya betanya juga mengenai untuk apakah dana itu akan dipakai?. Dan Maha Baik Allaah yang menyisipkan setiap hikmah dan pembelajaran melalui setiap takdir kehendak-Nya. Ukhti sholiha ini menyampaikan bahwa uangnya akan digunakan untuk menebus HP nya yang sedang dijadikan jaminan. Suaminya beberapa waktu yang lalu baru diberikan ujian melalui sakit yang cukup lama, sehingga beliau resign dari tempat kerjanya. Saat ini baru sembuh dan sedang berusaha untuk kembali mencari pekerjaan. Sedangkan si ukhti sholiha ini sebelumnya juga memiliki usaha sampingan olshop, dan usahanya harus berhenti sejenak sebulan yang lalu karena ketiadaan hp.

Menyaksikan kisah kisah diatas, kemudian membuat saya merenungi salah satu dari 10 muwasshofat, Qadirun ‘alal kasbi. Kemampuan untuk mandiri berpenghasilan melalui cara yang benar. Saya ingin belajar dan berusaha untuk menjadi istri yang berdaya secara finansial, yang ini masih sangat jadi PR bagi saya. Bukan di masalah istri bekerja di luar atau istri full dirumah. Yang saya pikirkan bagaimana saya berusaha untuk mengasah suatu keterampilan yang itu bernilai, bermanfaat dan bisa digunakan untuk menghasilkan uang :P. Memasak misal, atau bikin kue, atau bikin kerajinan tangan. Yang keterampilan misal ini semua belum saya punya sekarang -__-. Semua keterampilan yang tetap tidak menanggalkan kodrat kita sebagai seorang wanita dan muslimah dan seorang istri juga seorang ibu kelak.

“Dan yang paling penting dari itu semua adalah, dia harus kuat. Sehingga ketika aku benar benar harus pergi dari sisinya dia akan tetap menjadi kuat dan hebat, melanjutkan hidupnya, merawat anak anak dan mimpi mimpi kami.”

Ini salah satu tulisan salah seorang bapak-bapak, yang saya spenuh sadar menyepakatinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Belajar · Dear · Hikmah · reblog · they're said

Ego

oleh khoiriyatifa.tumblr.com

Alkisah, ada seorang perempuan yang gagal ta’aruf

Em..mari kita perhalus bahasanya.

Alkisah ada seorang perempuan yang ta’arufnya tidak berlanjut ke khitbah. Berhenti pada kalimat “Sepertinya, setelah menimbang hal ini, lantas hal ini, prinsip saya masih sama.. dan saya tidak bisa. Semoga kita masih bisa berteman baik dan saling membantu setelah ini ya.” yang diutarakan oleh pihak laki-laki. Perempuan itu luruh perasaannya. Seperti ada harapan yang tiba-tiba sirna begitu saja. Alasannya klasik: perbedaan pendapat terkait perempuan yang bekerja dan tidak.

Pihak laki-laki menginginkan istri yang fokus pada rumah tangga. Pihak perempuan berpendapat bahwa alasannya tetap ingin bekerja bukan karena ego. Masih ada keluarga sebagai tanggungan, ada orang tua yang berharap anaknya berkembang, hingga suatu ketika suatu pertanyaan terlontar

“Coba antum yakinkan saya, kalau misal saya tidak bekerja dan antum meninggal lebih dulu sedangkan anak-anak masih membutuhkan biaya. Saya harus bagaimana?”

“Kita tidak boleh meragukan rejeki dari Allah.” jawab si laki-laki.

Oh, jawabannya benar, tapi tidak konkrit. Perempuan itu tidak yakin.

Perbincangan terkait hal itu terjadi berkali-kali, berbelit-belit, tidak menemukan titik ujung hingga keduanya jatuh sakit. Berlebihan memang.

Hingga muaranya, semua selesai, tidak berlanjut.

Kegagalan, dalam hal ini kegagalan ta’aruf, membuat kita belajar bahwa harapan itu harus dikendalikan sedemikian rupa sehingga tidak berlebihan. Bahwa jalan di depan masih sangat jauh. Bertemu banyak orang dengan keegoisannya masing-masing (termasuk dalam hal kriteria pasangan) membuat saya berfikir bahwa sebelum menikah -bahkan kalau perlu sebelum memutuskan hendak berta’aruf- kita harus sudah bisa mengendalikan ego kita sendiri, bersiap dengan segala hal yang di luar kehendak, bersiap menerima hal-hal tidak prinsipil yang masih bisa ditolerir. Hal-hal prinsipil ini ukurannya tentu agama. Jika agama tidak membolehkan, maka jangan. Yang berada di luar itu, tentu butuh kerelaan kita untuk menerima (yang penerimaannya sangat tergantung pada ego kita masing-masing)

Belajar dari kegagalan ta’aruf, kita bisa mengambil pembelajaran bahwa se-tidak-masuk-kriteria-pun teman ta’aruf kita tersebut, kita tidak boleh membandingkannya dengan siapapun, tidak dibenarkan membenci, tidak boleh menjelekkan prinsipnya, mencela egonya dan hal tidak pantas lainnya. Hal yang dimulai dengan bismillah, tentu harusnya diakhiri dengan alhamdulillah apapun hasilnya. Niat baik harus diakhiri dengan keikhlasan yang baik.

Dari kajian pra nikah yang pernah diikuti, ego merupakan satu bahasan penting. Ego, bagian diri kita yang kita harus ‘deal with it’ sebelum melangkah jauh ke pernikahan. Sebab yang akan bersama kita kelak adalah manusia yang tidak sempurna, yang akan terus bertumbuh setiap hari, berubah pemikirannya, berubah fisik dan perilakunya, berubah-ubah sedih dan bahagianya. Maka, alih-alih menetapkan kriteria yang ‘almost perfect’ mari mencoba menyelami diri sendiri “Sebenarnya apa yang kita bisa beri dan kita butuhkan dari sebuah pernikahan?” sambil berdoa kepada Allah agar segera dimampukan.

Pada akhirnya, semoga setiap niat baik kita untuk menuju Surga (bersama), mendapat jalan yang baik dari-Nya 🙂

SemangkA! Semangat karena Allah!.

Harta Karun · Tarbiyah

Al Amal

Banyak orang merasa telah beramal, tetapi tak ada buah apapun yang ia petik dari amalnya, baik itu perubahan sifat, kelembutan hati ataupun kearifan budi dan keterampilan beramal. Bahkan tak sedikit diantara mereka beramal jahat tetapi salah mengira beramal baik. Karenanya, Al Qur’an selalu mengaitkan amal dengan keshalihan, jadilah amal shalih. Kata shalih tidak sekedar bermakna baik, karena untuk makna ini sudah tersedia istilah-istilah khusus, seperti hasan, khair, ma’ruf, birr (kebaikan) dan lain-lain. Sedangkan shalih adalah suatu pengertian tentang harmoni dan tanasuk-nya (keserasian) suatu amal dengan sasaran, tunttunan, tuntutan dan daya dukung. Amal disebut shalih bila pelakunya selalu mengisi ruang dan waktu yang seharusnya diisi.

Seorang pendusta atau pengingkar agama tidak selalu mengambil bentuk penghujat yang arogan terhadap agama. Ia dapat tampil sebagai pengamal yang dermawan atau bahkan pelaku shalat yang khusyu. Namun pada saat yang bersamaan, Allaah menyebutnya sebagai pendusta agama karena ia menghardik si yatim dan tidak menganjurkan orang untuk member makan si miskin (QS. Al Ma’un ayat 2-3). Dakwah adalah kerja yang amat mulia, karenanya harus dilakukan dengan memenuhi dua syarat utama, yaitu al ikhlas was shawab.

Ikhlas karena dilakukan semata-mata untuk dan karena Allaah. Shawab (benar) karena dilakukan berlandaskan sunnah Rasulullaah shalallahu ‘alaihi wassalam. Mungkin seseorang menampakkan diri berdakwah ke jalan Allaah, tetapi sesungguhnya ia telah berdakwah ke jalan dirinya, demikian catatan dan komentar Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Kitabut Tauhid dan Al Allamah Abdullah bin Alawi Al Haddad dalam Ad Da’watut Taammah.

Betapa banyak amal menjadi berlipat ganda nilainya oleh niat yang baik dan itu tak akan terjadi bila pelakunya tak punya ilmu tentang hal tersebut. Dan demikian pula sebaliknya. Barangsiapa yang beramal tanpa melandasinya dengan ilmu, maka bahayanya akan lebih banyak daripada manfaatnya, sebagaimana amal tanpa niat jadinya anaa (kelelahan) dan niat tanpa ikhlas jadinya habaa (Debu, kesia-siaan) dan ikhlas tanpa tahqiq (realisasi) jadinya ghutsaa (buih).

Kita tidak punya kekuatan apapun untuk melarang orang bekerja dalam lingkup amal islami, bahkan mereka yang menjalaninya dengan cara yang kita nilai merugikan perjuangan. Ya, pada saatnya kita mendapatkan penyikapan salah dari masyarakat sebagai reaksi salah atas aksi salah yang dilakukan para aktifis amal islami. Qadliyah (problema) kaum khawarij dan berbagai gerakan lainnya menunjukkan fenomena para pengamal, dari ikhlas menuju fiqh, sampai yang opurtunis dan pemanfaat jargon.

Alkisah disuatu masa, seorang alim menyelamatkan seekor beruang yang terhimpit sebatang pohon besar. Sebagai tanda terima kasihnya atas jasa sang syaikh, ia berikrar untuk menjadi pengawalnya yang setia. Dan memang ia buktikan itu. Suatu hari sang syaikh tertidur kelelahan. Sesuai ikrarnya, beruang menjaga syaikh dengan setia, agar tak mendapat bahaya atau gangguan. Ada sesuatu yang menjengkelkannya, yaitu seekor lalat yang hinggap-pergi di wajah sang syaikh, sehingga membuat tidur syaikh menjadi tidak nyaman. Inilah saatnya sang beruang membuktikan loyalitasnya. Ia angkat batu besar dan dihantamkannya ke seekor lalat yang sedang hinggap di dahi sang syaikh. Pecah kepalanya dan entah kemana larinya sang lalat jahanam itu.

pict taken from Pinterest.

Tulisan ini merupakan rangkaian karya dari Almarhum Ust. Rahmat Abdullah yang pernah dimuat di majalah Tarbawi dengan mengambil tema-tema refleksi seputar Al Arkan Al ‘Asyarah, Hasan Al Banna.

Harta Karun · Tarbiyah

Al Ikhlas : Ikhlas dan Shidq

Mengagumkan bila dicermati hubungan atara ikhlas dan shidq. Ikhlas artinya menjaga diri dari perhatian makhluk dan shidq artinya menjaga diri dari perhatian nafsu. Seorang mukhlis tak punya riya’ (pamer diri) dan seorang shidq tak punya ijab nafsi (kagum diri), demikian Abu Ali Ad Daqqaq mengurai.

Ka’ab bin Malik pantas mendapatkan bintang shidq. Hukuman berat diterimanya dengan ikhlas. Ia sadar berurusan dengan Allaah, bukan dengan masyarakat yang sebenarnya sangat menghormatinya. Meskipun, Ia pun yakin, bahkan Rasulullaah shalallahu ‘alaihi wassalam pasti akan percaya bila ia membuat-buat alasan untuk absen nya dari perang Tabuk. Tak kurang 50 hari berlalu dalam keterasingan yang berat. Kemanapun ia pergi tak seorangpun menyapa atau menjawab sapaannya. Saat Raja Ghassan menawarkan suaka politik dan posisi di kerajaannya, bagi Ka’ab ini juga adalah bala bencana. Maka ia buktikan loyalitasnya dengan kejujuran yang mengagumkan (QS. At Taubah ayat 118).

Banyak ulama yang tak henti-hentinya mengkritik dan meluruskan pemerintah, sementara Sang Amir tak pernah jemu memenjarakannya. Namun, saat Sang Amir menggaungkan perintah jihad, mereka tampil di depan tanpa dendam pribadi. “Jihad adalah ibadahku kepada Allaah dan maksiat Amir itu adalah urusan Amir dengan Tuhannya, kritik sudah kulancarkan”, demikian paradigm para mukhlisin. Khalid bin Walid dengan tegas menjawab pertanyaan heran, mengapa ia mau-mau nya berperang dibawah komando orang lain, sementara ia baru saja dimakzulkan dari posisi panglima? “Aku berjihad karena Allaah, bukan karena Umar.

Betapa mengerikan keterasingan pengamal yang selalu saja dihantui apa kata orang. Sunyi terdampar di gurun riya’, tersungkur di jurang ujub, segala ketakutan ada disana, kecuali takut kepada Allaah ta’ala.

Tulisan ini merupakan rangkaian karya dari Almarhum Ust. Rahmat Abdullah yang pernah dimuat di majalah Tarbawi dengan mengambil tema-tema refleksi seputar Al Arkan Al ‘Asyarah, Hasan Al Banna.

Harta Karun · Tarbiyah

Al Ikhlas : Orang-Orang yang Ringkih Jiwa

Bal’am bin Baura, Walid bin Mughirah dan Abdullah bin Ubay adalah profil kaum berilmu yang tak berfaham. Yang pertama, jelas-jelas bersebrangan dengan nabi Musa ‘alaihissalam dan perjuangannya, lalu bermanis-manis dengan kubangan Fir’aun. Adakah perbedaan yang cukup gelap antara Fir’aunisme kemarin dan Fir’aunisme hari ini? Yang membuat Bal’am – Bal’am kontemporer membelanya mati-matian?

Adakah kedunguan melebihi kedunguan Walid yang diawal-awal laporan ilmiahnya tentang Al Qur’an terang-terangan menutup semua jalan bagi penolakan Al Qur’an sebagai kalam Allaah? “Kalau mantra kita sudah tahu, kalau ucapan manusia kita sudah tak asing, kalau puisi akulah pakarnya”. Gemeretak gigi orang awam di Darun Nadwah rupanya lebih mengerikan baginya, sehingga diakhir persentasinya, ia mengeluarkan konklusi yang sangat bertentangan dengan muqaddimah yang disampaikannya, “Al Qur’an adalah sihir, lihatlah ia sudah memisahkan anak dari orangtuanya dan budak dari tuan nya!” sergahnya.

Abdullah bin Ubay si batang balok yang tersandar (QS. Al Munaafiqun ayat 4), menarik penampilannya dan manis mempesona tutur katanya. Kandidat pemimpin tertinggi Madinah pra hijrah ini yang telah berbunga-bunga hatinya melihat peluang besar, sehingga membuatnya lupa akan prinsip Al fadlu liman shadaq (kemuliaan untuk yang jujur) dan dirinya terobesesi oleh pemeo Al fadlu liman sabaq (kemuliaan bagi yang lebih dulu), berdasarkan makna senioritas, dan bukan kapasitas. Ia lupa bahwa sabaqiyah (senioritas) itu menjadi bermakna dengan shidqiyah (ketulusan dan kejujuran). Tetapi penyakit nifaq merasukinya, dan loyalitas tak dimilikinya. yang tersisa hanya tinggal kepentingan dan kedengkian. Jadilah ia orang yang manis dimuka dan mengutuk dibelakang, beriman di mulut dan kafir didalam hati.

Pada ketiga tokoh ini sangat menonjol ambisi terhadap kekayaan, jabatan dan syuhrah (popularitas), tersurat dataupun tersirat. Dalam kamus mereka, kehormatan tak lagi punya tempat dan kejujuran hanya impian orang-orang pander. Namun madzhab langka ini sekarang menjadi trend.

pict from pinterest.

Tulisan ini merupakan rangkaian karya dari Almarhum Ust. Rahmat Abdullah yang pernah dimuat di majalah Tarbawi dengan mengambil tema-tema refleksi seputar Al Arkan Al ‘Asyarah, Hasan Al Banna.