Meracacacau · review · Uneguneg

tentang Dilan

Bismillaah..

Maaf nih, saya ngga ngikutin dan sedang mencari cara mudah untuk catch-up. Jadi, mengapa Dilan ini istimewa?

Ada pertanyaan ini saat membuka laman dashboard tumblr saya pagi ini. Menarik!:), pertanyaannya menarik, bukan jawabannya yang menarik, he he 😛

apa yang membuat anak ke-empat dari 5 bersaudara, dari pasangan Ayah dan Bunda ini menjadi sosok yang menarik perhatian beberapa hari terakhir? Iyap, karena kisahnya yang berasal dari Novel itu diangkat ke layar lebar.

Hari ini, Selasa pagi, sehari sebelum akhir bulan Januari, sehari sebelum terjadinya gerhana bulan total kata BMKG. Sejuk, Jakarta bagian timur, sedari pagi sudah dikunjungi gerimis. Matahari nya tetap bersinar menghangatkan, walau hangatnya belum juga terasa di pemukaan epidermis kulit (begimana mau berasa diruangan full AC -___-). Alhamdulillaah ‘alaa kulli haal :”).

Ahad malam, beberapa jam sebelum tengah malam saya sudah menamatkan membaca Dilan 1, Dia adalah Dilanku tahun 1990. Dilan 2, Dia adalah Dilanku tahun 1991 dan Milea belum dibaca, dan sama sekali ga tertarik untuk melanjutkan menamatkan trilogy ini. Kenapa? Karena Dilan 2 dan Milea katanya ceritanya sedih, dan saya ga mau ikutan sedih :P.

Ahad siang sebelum adzhan dzuhur berkumandang dari Masjid samping rumah, ketiga novel ini sudah ada ditangan, baru mulai membaca beberapa halaman, sudah banyak di interupsi oleh adek semata wayang, “mbaa iihh, apalan iihh”, “apaaalllaan mbaa, bukan malah baca dilan”, “mbaa ihh, parah bangat ih, apalan dulu”. Huwaa MasyaaLlaah ya adek sholeha semata wayang ini, wkwk, yang terus ngingetin dengan jadwal setoran tiap ahad sore.

Baru kemudian, saat malam hari, saat si adek semata wayang sudah tertidur, terkerukup (?) oleh selimut biru Winnie the Pooh-nya, saya mulai melanjutkan membacanya. Sekali baca langsung sampai tamat. Novel yang sangat ringan, tidak banyak berisi paragraph yang berisi deskripsi yang panjang, kebanyakan malah percakapan-percakapan singkat, seperti:

“kamu pernah nangis?” kutanya.
“waktu bayi, pengen minum”
“bukan ih!”
kataku. “Pas udah besar. Pernah nangis?”
“kamu tau caranya supaya aku nangis”
dia nanya
“gimana?”
“gampang.”
“iya gimana?”
“menghilanglah kamu di bumi”

“kamu tahu gak?”
“tahu apa?”
Nandan balik nanya
“Aku mencintai Milea”
Nandan tersenyum sekilas sambil memandangku. Rani, Dito dan Jenar pada ketawa. Mukaku pasti merah.
“tapi, malu mau bilang,” kata Dilan.
“itu, sudah bilang?” kata Nandan.
Nandan ketawa kecil, tapi ada rasa keselnya.
“aku kan bilang ke kamu, bukan ke dia.”
“dia denger, kan?”tanya Nandan.
“mudah-mudahan”.

Tidak perlu berhari-hari untuk menamatkannya, lagi juga saya ingin segera menyudahi rasa penasaran ini, wkwk. Dilan, dari covernya saja sudah tak asing di mata. Novelnya sering terlihat, berjejer-jejer di rak buku kalo kebetulan sedang mampir ke Gramed, Gunung Agung atau Salemba. Yakan Best Seller, hhe. Tapi kemarin-kemarin belum tertarik dan tidak tertarik sama sekali untuk mebacanya. Bersebab dari suksesnya gembar-gembor media mengenai novel ini, barulah kemarin berasa keppo pengen tahu kisahnya kayak apa, tapi sama sekali ga pengen nonton filmnya :P.

saya rasa ada sisi ‘parenting’ yang ingin disampaikan oleh bang pidi di buku ini.
saya kagum pada dua perempuan yang jadi the center of life nya dilan dan milea; mama, dan bunda .

i adore mama and bunda so much

hadirnya mama bunda dalam buku ini membuat saya berandai-andai, kelak, jika saya menjadi ibu, saya pun ingin seperti mamanya milea, dan atau bundanya dilan

working mom sama bu ibu yg suka gitaran sop? .
bukan

mamah mamah yang gapapa anaknya pacaran dibawa jalan-jalan sampe malem sop? .
bukan .

tapi mama dan bunda yang embrace heart warmingly whatever their children face,
qu kagum pada mama yang peluk milea saat milea tersebab dia takut dilan dipecat dari sekolah,
yang seakan2 lewat pelukannya she told milea that “anak ibu kuat, anak ibu bisa hadapi ini semua, every single thing shall pass”. qu juga kagum pada bunda yang meminta komitmen dilan dengan berdiskusi santai, bertukar pikiran, menawarkan value yang ingin disampaikan tanpa memaksa

buku dilan – milea, buat saya ga cuma menceritakan “how to move on from unfinished story”, tapi juga bercerita tentang sosok yang selalu ada, selalu siap menjadi tempat kembali.

ini salah satu review dari salah satu adik sholiha :P, yang saya rasa, saya ga bisa ga sepakat dengan apa yang dituliskan Shofi diatas :”). Sehabis membaca Dilan, iya saya kagum dengan kedua sosok Ibu dari kedua tokoh utama novel ini. Bagaimana mereka bisa menjadi sosok yang sangat nyaman, sehingga mampu membuat anak-anaknya bisa seleluasa dan sejujur itu menceritakan setiap yang dialami dan dirasakannya kepada Ibu dan Bunda nya. Even, itu Dilan sekalipun, anak geng motor cuy padahal ceritanya.

Dilan, sebagai tokoh utama disini pun juga tak kalah menarik :”),
bukan, bukan karena kepandaian-nya dalam menggombali Milea.

ada beberapa hal menarik dari sosoknya di novel ini,
Dilan, di usia nya yang semuda itu (masih kelas 11 ceritanya),
sudah sangat menggandrungi sastra, dan dia sangat suka sekali membaca!:).
bahkan, dinovel ini diceritakan si Dilan udah khatam loh baca Tafsir Al Qur’an 30 Juz karya Buya Hamka, nahloh keren kan? :P,

Dilan yang sangat setia kawan, yang sangat supel, yang sangat suka bersosialisasi. Tukang koran, tukang sayur, tukang pos, tukang nasi goreng sampai petugas PLN, semuanya pernah menjadi perantara Dilan mengirimkan coklatnya untuk Milea, haha :D.

Dilan juga pemberani. Walaupun caranya terkesan kurang sopan, tapi bagaimana cara Dilan memperingatkan guru BP nya yang suka bertindak kasar dan semena-mena kepada para muridnya cukup membuat pukulan telak bagi siapapun kita –yang mengaku sudah besar dan dewasa- yang membacanya.

“aku bukan melawan guru, Bu. aku melawan Suripto,”
“Ibuku juga guru, kakakku juga guru”
“aku tidak bisa memaklumi guru yang begitu”
“hormatilah orang lain kalau ingin dihormati,”
“siapapun dia, biar guru juga, kalau ga menghargai orang lain, ga akan dihargai”
“jangan karena guru, jadi berbuat seenaknya,”


“ya, kita tidak bisa mengkritik tanpa lebih dulu memahami apa yang kita kritik itu. Termasuk kita tidak bisa menghakimi anak remaja tanpa kita memahami kehidupannya. Orangtua seharusnya bisa memahami anak-anak, bukan sebaliknya. Jangan anak-anak yang dipaksa harus memahami orangtua. Anak-anak belum mengerti apa-apa, meskipun tentu saja harus kita berikan pemahaman” kata Bunda nya Dilan di novel ini, so a wise yaa :”)).

Sebelum membaca ini, saya bertanya pendapatnya mengenai novel ini kepada salah seorang bunda :P, bunda-nya Raisya [salah satu hal yang menyentuh adalah ketika kamu tahu, salah satu teman baikmu saat SMA memberikan nama putri pertamanya sama dengan nama yang kamu punya, walaupun kenyataannya mah ga ada kaitanya sama sekali, wkwk]. Si Bunda sudah khatam Dilan 1 dan Dilan 2 jauh sebelumnya.

“aku gimana ya ta, pas baca itu kayak makan kerupuk aja gitu. Tapi penasaran juga yang katanya orang itu bagus. Mungkin karena prinsip kita beda ya, jadi aneh aja, aku liat anak muda begitu amat. Dan sesungguhnya bagi aku, buku ini kurang bermakna bangat, wkwk. Tapi leh uga mau baca yang ketiga, wkwk”

eh btw,
rumah (orangtua) nya si Dilan tuh masih mayan deket dari rumah orangtua saya, masih satu daerah di Pondok Kopi :”). Inpo yang sungguh sangat unfaedah, wk.

Advertisements
Belajar · Dear · review · they're said

Menjadi Ayah Nomor Satu

oleh Muhammad Akhyar

Saya tak tahu apa yang menjadi motif Andrea Hirata sehingga dalam novel-novelnya senantiasa muncul tokoh Ayah. Uniknya, dalam cerita orang-orang Melayu itu, gambaran ayah yang ia hadirkan jauh dari stereotip laki-laki Melayu yang kebetulan menjadi ayah. Sebagai orang Melayu Kampung, paham benar saya tabiat ayah-ayah di kehidupan orang-orang Melayu. Ayah dalam tradisi Melayu adalah sosok patriarch, pihak yang ditakuti anak ketika mereka belum berangkat mengaji. Hal ini sama sekali tak tampak pada diri Seman Said Harun ayah Ikal di Tetralogi Laskar Pelangi dan Sebelas Patriot, Zamzami ayah Enong di Dwilogi Padang Bulan, Sabari bin Insyafi di novel Ayah, hingga Sobirinudin ayah daripada Sobrinudin alias Sobri alias Hob alias Bang Ganjal Lemari di Sirkus Pohon.

Ayah-ayah yang ada pada tulisan-tulisan Andrea Hirata bukanlah macam ayah kebanyakan yang dimiliki anak-anak Melayu Kampung. Jenis ayah yang tahunya cuma mencari duit lalu memberikannya duit itu kepada sang isteri setelah sebelumnya telah ia belikan beberapa bungkus rokok dan segelas kopi susu jelas jangankan hadir, menyerempet pun tidak pada ayah-ayah di cerita Andrea Hirata.

Ayah-ayah ajaib yang lain dari pada yang lain dalam ceritera Andrea Hirata ini sedikit banyak selalu berhasil membangkitkan kenangan saya pada ayah saya sendiri. Ayah saya berbagi beberapa sifat dengan ayah Ikal, Enong, Amiru, dan tentu saja Hob. Ragam sifat itu, entah bagaimana, saya kira adalah perangai yang mestilah diadopsi oleh laki-laki manapun di dunia jika mereka ingin dianggap sebagai ayah nomor satu.

Diam itu Emas

Orang-orang Melayu memiliki beberapa kearifan tak tercatat. Salah satunya adalah jika seorang pria Melayu tak pandai berpencak silat, paling tidak ia harus mahir bersilat lidah. Dan lagi-lagi, para ayah ajaib karangan Andrea Hirata tak mahir dalam hal-ihwal silat ini. Ayah-ayah ini mungkin adalah pengikut Nabi Muhammad sejati. Mereka paham benar bagaimana menjalankan hadis yang berbunyi,

barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.

Tentu pembaca Andrea masih ingat fragmen ketika Seman Said Harun bersepeda belasan kilometer lengkap dengan safari kantong empat untuk menghadiri pembagian rapor anaknya. Saat anaknya mendapat prestasi atau sebaliknya, ia tak banyak berkomentar. Ia cukup menepuk bahu anaknya lalu berucap salam ketika hendak pulang kembali ke Gantong. Akan tetapi, sedikitnya kata-kata yang mereka keluarkan dalam keseharian, membuat anak-anak mereka begitu fasih menafsirkan apa-apa makna yang tersaji dari gerak tubuh ayah mereka, dari raut wajah ayah mereka. Apakah sedang sedih. Apakah sedang merasa bangga.

Miskin Boleh, Menyerah Jangan

Ayah-ayah dalam novel Andrea tak pernah punya profesi mentereng. Pekerjaan mereka berkisar di antara pendulang timah, buruh batako, hingga penjual minuman ringan di stadion kabupaten. Meskipun demikian mereka bukanlah tipikal laki-laki Melayu yang pagi-pagi masih bersarung kemudian ketika petang menjelang berangkat ke kedai kopi untuk menumpang membaca koran dan membahas isu politik terkini lalu baru pulang ketika jamaah Isya sudah tak tersisa lagi di masjid.

Lihatlah Zamzami yang ingin membelikan Kamus Bahasa Inggris Satu Miliar Kata kepada anaknya Enong. Ia bekerja jauh lebih keras di tambang, sehabis itu jika kebetulan sedang ada orkes Melayu akan tampak Zamzami berjualan nira. Hari Sabtu ketika tambang libur, ia berangkat ke laut untuk mencari kerang. Hari Minggu ketika tambang juga libur, ia menjual tebu yang ia kupas dan potong kecil-kecil lalu ditusuk dengan lidi. Bangun Pagi, Let’s Go!

Nasihat Itu Diperlihatkan Bukan Diperdengarkan

Saya tak tahu buku psikologi apa yang dibaca Andrea sehingga ia tahu saripati ajaran dari tokoh Social Cognitive Psychology, Albert Bandura, children learn by what you do, not what you say. Sobirinudin tak pernah berceramah jikalau perbuatan jujur itu adalah batas antara orang beriman dan yang bukan. Syahdan, Sobirinudin membantu seorang juragan kopra menurunkan kopra dari perahu. Entah bagaimana sang juragan berlebih membayar Sobirunudin. Sobirinudin menitipkan kelebihan uang tujuh ribu Rupiah itu kepada nelayan yang bertempat tinggal yang sama dengan juragan kopra. Lama berselang, ternyata sang juragan telah meninggal dunia. Nelayan yang dititipkan uang mengembalikan uang kepada Sobirinudin. Sobirinudin kemudian mencari-cari sanak famili dari juragan. Baru sepuluh tahun kemudian ia berhasil menemukan cucu si juragan untuk kemudian mengembalikan uang tujuh ribu tadi, meskipun lembaran uang itu tentu saja sudah tak laku lagi. Sungguh perilaku yang membuat saya berujar “mantap jiwa” ketika membaca bagian ini.

Mencintai Bukanlah Perkara BasaBasi

Jika anakmu berprestasi tentu mudah bagimu berkoar-koar ke semua teman-temanmu, handai taulanmu, karib kerabatmu, “itu anak saya!” Lalu bagaimana jika anakmu ternyata sebaliknya? Ia memilih berkarir di bidang yang tak engkau harapkan. Ia menekuni pendidikan yang tak engkau rekomendasikan. Ia mencintai orang yang tak engkau sukai. Pendek kata, ia melakukan hal-hal yang tak akan mungkin engkau bisa banggakan. Itulah yang harus dihadapi Sobirinudin terhadap anak nomor empatnya Hob. Anak laki-laki pertama dan keduanya adalah pejabat di PN Timah. Yang ketiga PNS di kantor Syahbandar. Anak bungsunya, Azizah SD hingga SMA selalu peringkat satu. Sementara Hob, lulus SMP pun TIDAK. Astagfirullah.

Lalu apa pandangan Sobirinudin? Ia tak mengutuk anaknya. Ia tak mengatakan, “itu salah isteriku.” Ia malah selalu menganggap Hob sebagai pemain cadangan andalan alias super sub yang disimpannya untuk satu pertandingan final yang menentukan nanti. Mirip-mirip bagaimana Sir Alex memperlakukan Ole Gunnar Solskjær di Manchester United. Sobirinudin adalah pelatih yang sabar. Ia tabah menunggu sepuluh, lima belas, hingga dua puluh tahun untuk kemudian membiarkan anaknya masuk ke lapangan sebagai pemain pengganti, lalu membuat satu keajaiban. Mencintai bagi orang-orang macam begini berarti mempercayai. Dan anak-anak yang dibesarkan dengan cara seperti ini selalu tahu bahwa setiap kepercayaan tak bisa tidak harus dibayar, bisa lunas segera, bisa pula dicicil selagi nyawa masih di raga.

Jika kamu, masih berminat untuk menjadi ayah nomor satu, semoga catatan ini bisa membantumu mewujudkan impianmu itu. Ojeh?

*all pict taken from Pinterest :”)

review

Habiskan Saja Gajimu

11048649_10205377836794003_6011686737942276495_n

Buku ini judulnya “Habiskan Saja Gajimu” karya Ahmad Gozali seorang financial planner dg “spesialisasi” investasi emas batangan. Intinya penghasilan yang diperoleh harus dibagi ke dalam beberapa pos sampai habis.

Ada 4 pos dalam pengeluaran yaitu:
1. Sosial (zakat, infak, sedekah, derma, dll)
2. Cicilan Utang (kredit rumah, kredit kendaraan, dll).
3. Saving (tabungan dana cadangan, setoran investasi, premi asuransi, dll).
4. Biaya Hidup (belanja konsumsi, transportasi, pulsa hp, listrik telepon air, internet, uang sekolah dan les anak, uang saku ayah-ibu-anak, beli baju-sepatu-kosmetik, nonton bioskop, sosialisasi di cafe, dll).

Di dalam buku ini, Gozali menekankan untuk mengeluarkan penghasilan yang bersifat fix terlebih dahulu. Tidak bisa ditawar, tidak bisa dikurangi. Oleh karenanya, pengeluaran sosial disebut sebagai pengeluaran fix.
Setelah kita memperoleh uang, maka yang harus dilakukan adalah bayar zakat 2.5%. Memang sih risiko tidak mengeluarkan zakat tidak langsung terlihat, tapi masalahnya pengeluaran ini sudah diwajibkan sebesar 2.5% oleh Sang Maha Pemberi Rejeki. Bayar zakat, sedekah, atau berderma itu akan selalu membawa kebaikan untuk kita sendiri. Ketika kita mengingat dan menolong orang lain, maka nanti orang lain akan menolong kita juga. Lagian kalau kita tidak mengeluarkan kewajiban yang diminta Allah, kalau Dia berhenti kasih kita rejeki gimana? Hayooo…

Pengeluaran fix kedua adalah membayar cicilan hutang. Ketika mengajukan KPR misalnya, maka cicilan yang harus dibayar per bulan sudah fix dan tidak bisa ditawar lagi. Berbeda dengan pengeluaran sosial, cicilan memberikan risiko tersendiri.

Saving alias menabung menjadi pengeluaran fix terakhir. Menabung penting untuk masa depan. Tabungan ini akan membantu ketika kita mengalami kesulitan di masa mendatang. Tapi sayangnya banyak dari kita yang menabung berdasarkan sisa penghasilan bulanan which is nearly impossible. Yaa, menurut ngana dengan banyaknya tawaran diskon dan bombardir iklan, itu bisa?

Pengeluaran yang paling fleksibel adalah biaya hidup. Setelah mengeluarkan zakat, bayar cicilan, dan menabung…sisa dari pengeluaran kita silahkan dihabiskan untuk biaya hidup! Yeay, ayo belanja!
Ya, bisa aja sih semuanya dihabiskan untuk belanja…tapi harus diingat, ketika penghasilan kita tetap sedangkan pengeluaran fix tidak bisa diganggu gugat dan harga kebutuhan hidup terus naik… pengeluaran ini akhirnya harus bisa dikorbankan.

Misalnya, harga BBM naik dan memang skrg turun lagi, tapi kan harga makanan gak ada yang turun. Akhirnya, kita yang harus “turun kelas” yang sebelumnya makan di rumah makan padang, jadi makan di warteg. Atau yang sebelumnya minum kopi di starbucks setiap hari, yaa terpaksa turun jadi minum kopi abc susu bikinan OB. Kan sama-sama kopi toh?

Okelah kalau masih single, gampang diatur soal biaya hidup. Nah, kalau sudah berumah tangga gimana? Harus bayar listrik, air, telepon bayar sekolah dan les anak, dll. Kata penulisnya, pengeluaran itu masih tetap fleksibel. Tagihan listrik, air, telepon masih bisa dihemat dengan cara pakai listrik, air, dan telepon secukupnya (ya mau gak mau hidup tanpa AC, ya emang duitnya cekak…gimana dong? Pakai kipas angin juga adem).
Biaya sekolah anak? Ya, dengan terpaksa sekolahkan anak di SD negeri yang katanya gratis. Sekolah negeri gak berkualitas? Tugas utama mendidik anak kan ada pada orang tua, bukan 100% tanggung jawab institusi sekolah.

Kata buku ini, jangan pernah membuat perut kita kenyang. Jika setelah gajian, kita mengeluarkan uang untuk biaya hidup dahulu seperti belanja konsumsi maka itu akan membuat kita kenyang. Orang yang kenyang akan bersikap tenang dan akhirnya terjebak di comfort zone. Sedangkan semua orang lapar pasti ganas dan akhirnya jadi kreatif.

Simulasi pengeluaran yang diajarkan di buku sbb:
Penghasilan 100%
Sosial. 2.5%
Cicilan utang. 30%
Saving. 10%
Sisa: 57.5%

Nah 57.5 itu yang jumpalitan dipikirkan bagaimana cara agar semua biaya hidup dapat terpenuhi dengan sejumlah itu. Kalau gak cukup? Cari kerjaan dengan gaji lebih baik, cari kerjaan tambahan. Keadaan terhimpit justru akan membuat kita bergerak, itu pasti.

Important words:
Pay your God first.
Saving dulu, baru Shopping 🙂

source: mefanny.tumblr.com

—–

I’ve tried and it worked for me 🙂
dengan sedikit penyesuaian di beberapa pos persentase 🙂
seperti di pos cicilan hutang, 30% itu terlalu banyak :p
karena alhamdulillah ga punya tanggungan cicilan 😀
jadinya dipindahkan beberapa persen ke pos lain dan atau buat pos baru 🙂

review

TENTANG KAMU : Novel Tere Liye Rasa Dan Brown

tentang-kamu

 

Bismillah..

Tentang keberadaan buku ini, mungkin sudah bukan menjadi rahasia umum lagi bagi para penggemar novel di Indonesia, apalagi bagi pembaca setianya Bang Darwis yah :”)

Maka, karena saya bukanlah penggemar novel dan juga bukan pembaca setia karya-karya nya Bang Darwis, saya malah baru tahu kalau Bang Darwis menerbitkan novel terbarunya dengan judul “Tentang Kamu” justru saat saya memegang langsung bukunya untuk pertama kali :”).

Dan to be honest, ini adalah novel Tere Liye pertama saya :”)), bukan yang pertama dibaca tentunya. Ada beberapa judul novel Tere Liye yang juga sudah saya baca, dengan meminjam dari teman kost ataupun membaca gratis di Gramedia, haha 😀

Sebuah hadiah yang sangat menyenangkan dari salah satu sahabat kesayangan saya di sana :”), *walau pada awalnya yang bersangkutan sempet tidak mau mengakui perbuatannya 😛

Garis besarnya novel ini seperti buku biografi dari seorang wanita bernama Sri Ningsih. Di awal kisah kita mungkin tidak akan menduga bahwa sebagian besar cerita dalam buku ini akan banyak menceritakan tentang perjalanan hidup seorang Sri Ningsih, dari sebelum lahirnya sampai akhir hidupya di usia 70 tahun.

Apa yang istimewa dari seorang Sri Ningsih?

Diawal kisah hanya diceritakan Sri Ningsih merupakan salah satu penghuni panti jompo di daerah Quay d’Orsay, kota Paris, Prancis. Seorang wanita tua yang meninggal karena sakit diusia 70 tahun, tanpa diketahui siapa keluarga dan sanak saudaranya.

Tidak ada yang istimewa memang,
sampai diketahui bahwa wanita tua ini meninggalkan harta warisan yang tak sedikit. Satu miliyar poundsterling atau setara dengan 19 triliun rupiah.

Inilah yang menjadikan Zaman Zulkarnaen, seorang pemuda 30 tahun berkebangsaan Indonesia yang berkerja di sebuah firma hukum yang khusus menangani harta warisan di Belgrave Square, London, UK menyusuri satu persatu lembaran hidup Sri Ningsih. Demi menemukan ahli waris yang berhak menerima harta warisan senilai 19 triliun rupiah, jika tidak harta warisan ini akan jatuh ketangan Kerajaan Inggris.

Ternyata selain meninggalkan harta warisan yang istimewa jumlahnya, Sri Ningsih juga memiliki kisah hisup yang sungguh luar biasa istimewa.

Kisah hidup Sri Ningsih ditelusuri Zaman melalui buku diary Sri Ningsih. Sebuah buku catatan sederhana. Hanya ada sepuluh halaman yang berisi tulisan, dibagi menjadi lima bagian, dengan masing-masing bagian terdiri dari dua halaman. Dan tiap halamannya hanya berisikan satu dua paragraph pendek.

Melalui catatan yang ditulis oleh Sri Ningsih, kita akan dibawa pergi menggunakan mesin waktu flash back, mengulang kembali kisah hidupnya dari awal, dari tujuh puluh tahun silam. Bermula dari kisah ayahnya yang adalah seorang pelaut tangguh yang kemudian menetap di sebuah pulau yang mendapat gelar pulau terpadat di dunia, sebuah pulau yang jika dilihat dari atas pesawat, hanya akan terlihat deretan atap rumah panggung yang saling bertautan satu sama lain, sebuah pulau yang tak sedikitpun menyisakan lahan hijau walau sedikit, yang karenanya kambing-kambing disana bahkan terbiasa memakan koran karena sulitnya menemukan rumput untuk dimakan.

Sebuah pulau yang berjarak 70 kilometer arah barat dari kota Sumbawa. Pulau Bungin, nama pulau nya. Pulau Bungin, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Surprise! Saya baru tahu tentang Pulau Bungin ini untuk pertama kalinya :P, paraaah? Iyaa.

Berawal dari Pulau Bungin, ke Surakarta hingga Jakarta. Tiga daerah di Indonesia ini yang kemudian menjadi saksi bagaimana anak seorang pelaut yang yatim piatu sejak kecilnya tumbuh dan berkembang menjadi sosok wanita yang sangat cerdas, tangguh dan memiliki kesabaran tanpa batas. Kisah hidupnya tak hanya terbatas di Indonesia saja, perempuan yang kecilnya pernah dijuluki sebagai ‘anak yang dikutuk’, yang tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi ini bahkan di usianya yang menginjak 60 tahun, telah menggenapi perjalanannya mengelilingi dunia ke lima benua.

Kisah hidup Ibu Sri Ningsih memang sungguh luar biasa istimewanya. Jika kalian pernah membaca novel Api Tauhid, maka alur kisah di novel ini pun mirip-mirip dengan cara Kang Abik menyampaikan kisah hidup Said Nursi. Bedanya tentu, Said Nursi adalah tokoh nyata dan Sri Ningsih hanya tokoh fiktif.

Dengan latar belakang tahun 60an sampai 2000an yang menjadi latar kehidupan Sri Ningsih remaja hingga dewasa, dalam novel ini akan ditemui beberapa sisipan peristiwa besar yang terjadi diantara tahun ini, yang membawa dampak bagi kehidupan Sri Ningsih dan masyarakat Indonesia bahkan dunia. Tidak hanya peristiwa besar yang terjadi di Indonesia saja, seperti peristiwa pemberontakan PKI dan peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari) di tahun 1974. Awal tahun 2000 yang menjadi dimulainya millennia baru pun ternyata membawa guncangan yang cukup hebat bagi masyarakat dunia.

Dunia dihebohkan oleh peristiwa Y2K (Year 2 Kilo), masalah penanggalan computer dan millennium bug. Eror yang terjadi karena system penanda tahun computer di seluruh dunia sudah terlanjur di setting dengan dua digit akhir (dengan asusmsi dua digit awalnya 19), maka tahun 00 akan dianggap sama dengan tahun 1900. Dunia melakukan migrasi system penanda tahun besar-besaran, atau jika tidak system keuangan, perbankan, penerbangan, penggajian, keamanan, persenjataan, dan data-data penting lainnya akan menjadi kacau balau karena computer keliru mengenali tanggal. Dan yang paling mengkhawatirkan adalah system nuklir dan rudal akan mengalami gagal fungsi.

Pada judul tulisan ini saya mengatakan “Novel Tere Liye Rasa Dan Brown” :”), jujur ini yang pertama kali saya rasakan saat mulai membaca novel ini. Penuh misteri dan teka-teki. Seperti Profesor Langdon yang berusaha memecahkan teka-teki yang tersembunyi dari rangkaian tulisan pada Diagramma Galileo Galilei di Angel and Demond, maka seperti inilah Zaman berusaha menguak kisah hidup Sri Ningsih melalui buku diary, demi untuk menemukan jejak keluarga atau saudara yang berhak untuk diberikan warisan Sri Ningsih. Bukan perjalanan yang mudah tentu.

Dalam perjalanan Zaman membuka tabir kisah hidup Sri Ningsih inilah, pembaca dapat menemukan banyak serakan inspirasi dan hikmah yang bisa diambil dan dipelajari. Tentang makna kesabaran, persahabatan sejati, prasangka baik, bersyukur dan kerja keras pantang menyerah. Juga tentang betapa mahalnya harga sebuah hati yang selalu bersabar dan tak pernah diisi oleh prasangka buruk, baik itu kepada orang lain, terutama kepada Penciptanya. Juga tentang apa sebenarnya yang sungguh-sungguh kita inginkan, disaat-saat terakhir kita hidup di dunia ini?.

 

“aku tidak akan menangis sedih karena semuanya berakhir, aku akan tersenyum bahagia karena semua hal itu pernah terjadi”

 

Novel yang menarik!

 

 

 

 

Harta Karun · review

EXTRAORDINARY!

extraordinary-071016

 

Sampai saya membaca buku ini, saya antara percaya ga percaya dengan diri saya yang memesan dan membaca buku ini :p *is this a real me? 😀

Whoaaa, Leadership book.
iyyess, I was reading a leadership book 😀

Extraordinary, adalah buku kedua dari Leadership Talk series-nya kang Dea Tantyo.
Setelah sebelumnya dibuku pertamanya, LEIDEN! saya dibuat untuk lebih mengenal dan jatuh cinta dengan para founding father Indonesia :”) –recommended!–

Di buku kedua ini, saya kembali dibuat jatuh cinta dengan mereka :”))

Aaaiih, mereka :”)
*speechless*

Betapa Allah sungguh Maha Baik-nya telah menakdirkan mereka untuk menjadi salah satu  bagian dari rangkaian skenario kemerdekaan bangsa ini :”).

ternyata kita (pernah) punya banyak pemimpin teladan,
ternyata kita (pernah) punya pahlawan yang benar-benar pahlawan,
ternyata kita (pernah) mempunyai mereka yang benar-benar punya cinta untuk Indonesia dan rakyatnya :”((,
dan kita juga (pernah) punya pemimpin yang sangat dekat dengan Rabb-nya :).

Kita pernah punya, Alhamdulillah.
Dan insyaaLlah stock nya masih ada, kan yah? 😀

“mengapa banyak kisah masa lampau begitu hangat tiba di hati kita?”
“mengapa seringkali cerita tentang founding fathers terasa manis di jiwa?”
Jawabannya mungkin karena kita sedang rindu dengan masa lalu,
Atau mungkin kita sedang rindu dengan contoh perihidup yang menawarkan keteladanan.

(Extraordinary, page 3)

Ah, iyaa..
Melihat Indonesia kini, siapa yang tak merindukan mereka? :”(

Sebelum membaca buku ini, asli saya belum pernah kenal sama ibu Tantri dan Bapak Hoegong *parah yah -__-
Murial Pearson namanya, beliau kelahiran Skotlandia dan berkebangsaan Amerika. Namun apa yang beliau lakukan pada tanggal 10 November 1945?

Saat Bung Tomo mengobarkan semangat juang para arek suroboyo dengan seruan takbir dan merdeka nya yang melegenda itu. Beliau, Ibu Tantri dengan tenangnya menyampaikan pidato melalui mikropon tentang perjuangan rakyat Indonesia, beliau menyampaikannya di tengah guncangan bom dan peluru mortar yang berjatuhan dengan dahsyatnya di keliling pemencar Radio.

Tekad beliau tidak bergeser sedikitpun, “saya akan tetap dengan rakyat Indonesia, kalah atau menang” ujar beliau lantang. Love you madam! :”)

Bapak Hoegong Imam Santoso,
konon katanya beliau adalah salahsatu polisi legendaris yang pernah dimiliki oleh bangsa ini. Beliaulah, bapak polisi yang tetap tak segan untuk turun ke jalan mengatur lalu lintas walau saat itu beliau menyandang status sebagai Kapolri bintang empat. Beliau, yang walau mempunyai jabatan yang cukup terpandang, tetap menggunakan bajaj sebagai alat transportasinya. Beliau yang bahkan untuk memenuhi kewajibannya sebagai warga Negara yang baik, harus dibantu Bapak Ali Sadikin untuk melunasi tagihan PBB nya.

“di Indonesia hanya ada dua polisi yang tidak bisa disogok, polisi tidur dan polisi Hoegeng”, ujar bapak presiden Republik Indonesia yang ke-empat. Proud of you pak!

Pernah ada masa di tengah Republik ini, saat seorang pemimpin negara, Soekarno namanya, menggadaikan baju pribadi uuntuk memenuhi kebutuhan tetangganya sebesar 3 rupiah 60 sen yang diperlukannya.

Pernah ada masa di tengah Republik ini, ketika seorang menteri keuangan Sjafruddin Prawiranegara yg mengurusi uang negara, justru tak punya uang. Sampai sang istri berjualan sukun goreng untuk menyambung hidup.

Pernah ada masa di tengah Republik ini, ketika seorang Wakil Presiden, Mohammad Hatta tak pernah bisa membeli sepatu impian hingga akhir hayatnya. Pria luar biasa ini, bahkan merelakan diri tak menikah sebelum Indonesia merdeka.

Pernah ada masa di Republik ini, ketika “Sang Raja” Sri Sultan Hamengkubuwono IX dgn rendah hati menjnjing belanjaan rakyatnya di Pasar Kranggan. Tak sungkan membantu. Ia sembunyikan jabatannya.

Pernah ada masa di Republik ini ketika seorang Menteri Luar Negeri, diplomat besar Indonesia, “The Grand Oldman” Haji Agus Salim, tak pernah punya rumah, dan berpindah-pindah kontrakan selama hidup. Padahal saat itu ialah guru dari banyak pemimpin dan pejuang Indonesia; Soekarno, Roem, Kasman.

Indonesia dibangun atas keajaiban. Keajaiban akhlak, keajaiban teladan, keajaiban pengorbanan dan keajaiban untuk terus member dan member, meski keterbatasan menempa diri.

Dan suatu saat nanti, yakinlah semua akan berulang. “Dongeng” nyata itu akan kita bacakan kepada putra-putri kita sebelum tidurnya. Hingga menelusup kedalam batin mereka. Lalu menulang sumsum pada perbuatan mereka. Biarkan mereka mendengarnya. Biarkan mereka mengingatnya. Lalu biarkan mereka memilih jalan takdir mereka sendiri untuk membesarkan Indonesia. (Extraordinary, page 304)

Dalam kata pengantarnya, penulis sudah menyampaikan bahwa seri yang kedua ini agak sedikit berbeda dari seri yang pertama. Lebih runut dan sedikit lebih bermuatan teori leadership-nya, namun tetap mudah untuk dicerna oleh orang kayak saya, hhe 😛

Tidak jauh berbeda dengan Leiden!, pada buku ini kita juga akan diajak bertemu dengan para tokoh inspiratif, who is the real leader. Setiap frasa yang berkaitan dengan kepemimpinan akan disertai dengan banyak kisah teladan yang penuh inspirasi didalamnya.

Still recommended! 🙂

 

*catatan penting ga penting :P*

–tak…–

Satu hal yang ‘tiba-tiba’ menjadi perhatian saya dibuku ini,
Setiap kata yang muncul setelah kata ‘tak’ pasti akan ikut tersambung dengan kata ‘tak’ didepannya sehingga menjadi satu kata.

Seperti: takhanya, takgentar, takpanas, takdingin, takada, takrelevan, takmudah, takkalah, takpernah dan tak tak yang lainnya, hhe 😀

((((( kurang kerjaan bangat ya saya ngomentarin ini 😛 )))))

 

–Daftar Pustaka—

Salah satu yang pembeda antara Leiden! Dan Extraordinary adalah adanya list daftar pustaka di buku yang kedua ini. Dan saya sukkaaa :”)). Sangat menyenangkan bisa mengetahui referensi bacaan dari tulisan-tulisan inspiratif. Sembari berharap someday saya bisa ikutan baca list buku-buku yang menjadi referensi bacaan penulis inspiratif itu :”) *bilamanakah someday itu akan tiba 😛

–guru sejarah–

Setelah saya membaca buku ini, -dengan sotoynya- saya sempat terlintas ingin menjadi guru sejarah :P, haha :D.

Betapa ingin sekali memberitahukan kepada adik adik kita yang unyu-unyu itu, bahwa Indonesia itu dibangun oleh banyak cinta, perjuangan, pengorbanan, ketulusan dan keteladanan. Betapa ingin sekali rasanya menanam dan memupuk rasa cinta pada bangsa ini, hingga akhirnya ia tumbuh rindang di dalam dada dada mereka. Hingga kelak ketika mereka besar dan menemukan ada sesuatu yang jelek dan buruk tentang bangsa ini, mereka tahu bahwa ada sesuatu yang sedang salah, ada yang sakit, ada yang perlu diobati agar semuanya kembali membaik. Mereka sadar bahwa merekalah dokternya, merekalah yang akan mengobatinya. Bukan menghindarinya atau malah turut mengutukinya.

.
.
.

terakhir,
terima kasih kak sudah memilih jalan ini 🙂
jalan sebagai ‘penjaga gawang’ kalau kakak bilang,
yang merekam kehangatan kisah para founding fathers bangsa kita, yang mengenalkan amal yang pernah mereka buat. Dan yang mengenalkan betapa berharganya Indonesia.

Harta Karun · review

Adriana – Labirin Cinta di Kilometer Nol

7747600

 

Salah satu novel keren yang pernah saya baca 🙂

Pertama kali tertarik untuk membacanya justru setelah selesai menonton filmya *iyap, film dengan judul yang sama*, padahal mah biasa-biasanya lebih tertarik untuk membaca sumber asli ceritanya dulu sebelum nonton film nya.

Ini termasuk novel roman, tapi ini beda! 🙂
Ini termasuk novel sejarah, tapi ga ngebosenin! 🙂
Trust me 😀 *eh ga boleh, ntar syirik :p*

Ceritanya bermula dari perjumpaan tak sengaja antara Mamen dan seorang wanita di Lift Perpustakaan Nasional. Secara garis besar isi dari novel ini adalah kisah perjuangan bagaimana si Mamen ini bisa bertemu lagi dengan Adriana, wanita yang telah memikatnya pada pertemuan di Lift Perpustakaan Nasional. Aslinya bisa dibuat simple karena hanya memperjuangkan untuk bertemu lagi, namun di sini dalam buku ini tak dibuat se-simple itu :). Maka inilah kisah perjuangan Mamen. Pemuda yang malas belajar sejarah yang akhirnya harus membedah sejarah, karena dengan begitu dia bisa bertemu dan mendapatkan Adriana, si gadis cantik, cerdas dan misterius.

Jika karpet itu berganti lima kali, aku akan menjumpaimu di tempat dua ular saling berlilitan pada tongkatnya, saat Proklamasi dibacakan. Harinya adalah tiga setelah Fatahillah mengusir Portugis dari Pelabuhan Sunda Kelapa.

Ini adalah teka-teki pertama yang muncul di awal kisah dalam novel ini. Teka-teki pertama yang menjadi awal dari rangkaian teka-teki sejarah yang menjadi daya tarik bagi novel ini.

Masanya sampai pada perang Diponegoro. Namun orang-orang merana itu tahu, saat mati, jasad mereka akan merana terkubur jauh dari tanah tumpah darah mereka sendiri.

Aku yang menunggumu adalah Adriana, pada mimpinya yang tak pernah mati. Dia menjual mobilnya untuk membangunku, temui aku di tempat aku menunjuk.

Pada waktu wafatku, Adriana. Besok saat tiga dalam satu berakhir. Sang penari harus menemui tuan tanahnya di kepala naga saat gelap. Tempat di mana anak panah Arjuna Berada. Cari dan bawalah padaku panah itu. Pada saat tiga menjadi satu dimulai. Aku adalah negeriku yang kuhadiahkan pada kota ini.

Naiklah ke punggungku dan lihatlah bintang di langit, apa yang kau temukan? Terbanglah ke sana dengan jubah yang dijaga dua malaikat. Temui aku dikubangan lumpur tempat kerbau memadu kasih, pada saat mereka meresmikan aku. Bawalah bingkisan hatimu untuk hatiku. Temui aku pada apa yang dikatakan polisi tentang politikus Betawi itu.

Membaca novel ini, pembaca secara tidak langsung diajak oleh penulis untuk menguak sejarah dan makna dari simbol-simbol dan monumen-monumen yang menjadi ke-khas-an kota DKI Jakarta :). Melalui teka-teki yang diberikan Adriana, pembaca diajak berkeliling Jakarta. Mulai dari Patung Selamat Datang, Semanggi, Bundaran HI, Patung Pancoran, hingga Monas sebagi landmark kota Jakarta. Masing-masing teka-teki merujuk pada satu peristiwa bersejarah yang terjadi di kota Jakarta tempo dulu.

Beberapa orang yang menulis resensi tentang novel ini mengatakan cara penulisan novel ini mirip dengan Angel and Demon-nya Dan Brown.

Bagi saya yang *mengklaim* menyukai sejarah, maka novel ini adalah salah satu novel yang recommended untuk dibaca :). Dan satu hal yang penting adalah banyak pengetahuan baru yang benar-benar baru saya ketahui setelah membaca novel ini. *ini mah emang saya nya yang kudet, padahal tadi ngakunya suka sejarah #mlipir terus krukupan -__-*.

Seperti kapan waktu tepatnya saat Bapak Proklamator kita membacakan naskah proklamasi. Selama ini yang saya ketahui dari zaman masih jadi siswa dan mahasiswa adalah bahwa naskah proklamasi dibacakan pada pukul 10.00 WIB, padahal ketika sedang dibacakan saat itu Indonesia sendiri belum memiliki pembagian waktu dan masih mengikut pembagian waktu Tokyo yang berbeda kuranglebih 2 jam dengan Waktu Indonesia bagian Barat saat ini.

Saya juga baru tahu kalau ternyata bandara udara pertama kali yang dimiliki Indonesia adalah Bandara Udara Kemayoran, dulu saya kira Bandara Soekarno Hatta. Dan tempat yang dulu dijadikan Bandara Kemayoran kini berubah fungsi dan menjadi tempat tujuan favorit warga Jakarta ketika kota ini bertambah usia setiap tahunnya. Sekarang baru ngeh, kenapa PRJ itu tempatnya luas bangat yak :). Dan baru tahu juga kalau Patung Pancoran yang disebut juga Patung Dirgantara, yang terlihat seperti seseorang yang sedang menunjuk itu, menunjuk kearah bandara udara Kemayoran.

Atau mungkin banyak yang sudah dengar kisah Bapak Hatta dengan sepatu impiannya, yang sampai akhir usia beliau belum mampu untuk membelinya. Padahal beliau pernah menduduki posisi orang terpenting di Negara ini :(.

Kejadiannya persis beberapa saat sebelum Bung Karno wafat. Beliau terbaring di Wisma Yuso. Keadaan Bung Karno yang semakin kritis membuat Pemerintahan Soeharto mengizinkan beberapa kerabat membesuk beliau.

Beliau, bapak itu, wakil presiden pertama kita pun datang menjenguk.

“Hatta, kau di sini?”

“Ya, bagaimana keadaanmu, No?” tanya Pak Hatta.

Bukannya menjawab Bung Karno malah balik bertanya, “Hoe gaat het met jou?” Bagaimana kabarmu. Selanjutnya tak ada yang didengar Pak Hatta lagi dari bibir Soekarno selain kata “Schoenen” yang artinya sepatu.

Sepatu, apa makna sepatu yang disebut Bung Karno pada Pak Hatta?

Tahun 1851, Carl Franz Bally dan saudaranya Fritz, di basement rumah mereka di Schonenwerd di Distrik Solothurn, Swiss mendirikan usaha sepatu yang diberi label ‘Bally & Co’. Usaha ini berkembang dengan cepat keluar Swiss. Sepatu merk ‘Bally’ ini kemudian melangkah menjelajah Eropa, hingga benua Amerika dan akhirnya tiba di Asia. Kini butik khusus sepatu mewah ini berada di hampir seluruh kota ternama di Amerika Utara. (page 130)

Seseorang kemudian wafat pada Maret 1980. Dan ketika keluarganya membereskan berkas-berkas di meja laki-laki yang baru saja dikebumikan itu, mereka menemukan sebuah potongan iklan koran terbitan akhir tahun lima puluhan yang digunting dengan rapi.

Apa isi potongan iklan itu?

Iklan yang memuat alamat penjual sepatu Bally di Jakarta.

Beliau ternyata sangat memimpikan memiliki sepatu itu. Sampai akhir hayatnya, seorang Bung Hatta tak pernah mampu membeli sepatu impiannya itu. Padahal sebagai wakil Presiden, beliau bisa saja meminta orang-orang, pengusaha untuk membelikannya atau memakai uang negara. Tapi tidak dia lakukan. (page 131)

Proud of you Mister :’)

Dan masih banyak lagi hal-hal yang benar-benar baru saya ketahui tentang kota kelahiran saya, tentang ibukota negara ini dan tentang mereka yang sangat mencintai bangsa ini :).

Recommended lah :).

Saudagar Baghdad dari Betawi karya Alwi Shahab adalah salah satu efek setelah saya membaca novel Adriana – Labirin Cinta di Kilometer Nol ini :). Benar-benar jadi ketagihan dan pengen ngeppoin lebih dalam tentang sejarah kota Jakarta. Bedanya buku tulisan Abah Alwi ini sudah sulit untuk dicari –nemu sih di toko buku online tapi buku bekas dan liat harganya langsung pengen nyembunyiin dompet :P–. Alhamdulillah, Maha Baik Allah yang memberikan kemudahan untuk tetap bisa baca buku ini :).

Melanjutkan tulisan yang sebelumnya masih di folder draft :). Novel ini sudah selesai dibaca dua tahun yang lalu *ketahuan ngendap di draft nya berapa lama -__-*.

 

Referensi:

Tentang sejarah pembagian waktu di Indonesia — http://historia.id/sains-teknologi/kisah-zona-waktu-di-indonesia

 

 

 

Harta Karun · review

LEIDEN!

582060_ce4a9e0f-85f8-4727-8c4e-5b2846a0119eSaya langsung jatuh cinta seketika pada buku ini sesaat setelah selesai membaca kalimat di lembaran kata pengantar yang disampaikan penulis.

Pertama kalinya mengetahui buku ini, sekitar seminggu yang lalu ketika membaca salah satu tulisan di akun tumblr pak sohibuliman, beberapa postingannya diambil dari buku Leiden!, karya kang Dea Tantyo.

Saat baca untuk pertama kali postingan yang diambil dari buku ini, saya langsung suka! Dan langsung saat itu juga browsing bagaimana cara mendapatkan buku ini. Alhamdulillah, walau sempat was-was diawal karena takut sudah sold out, Allah masih menakdirkan kita berjodoh :))

Secara keseluruhan saya suka sama buku ini,
Eh salah, suka bangat!
Aaaaakkk…
Awesome to the max! 🙂
*okeh ini lebay :P*

Jarang-jarang lho saya *dengan sepenuh kesadaran diri tanpa paksaan apapun atau siapapun :P* menyengaja membaca buku yang berbau leadership dan sejenisnya 😛, (apalagi di kondisi saya yang sekarang) abis biasanya yang sudah-sudah buku-buku bertemakan sejenis ini berisikan kumpulan teori-teori yang membuat saya tetiba pusing dan lapar (?).

Leiden berbeda!

“Bangsa kita butuh inspirasi. Butuh teladan. Butuh contoh yang telah menulang sumsum antara kata dan perbuatan. Butuh model kepemimpinan yang lahir dari pola Leading by Example” (Leiden, pg.xv)

Yap, main point nya adalah Leading by Example.

Memimpin dengan contoh. Karena bagi saya pribadi, lebih mudah dan lebih cepat mencerna apa yang saya lihat (keteladanan) dibanding apa yang saya dengar. Masih inget kaidah dakwah yang pertama? “Al Qudwah qobla Ad Dakwah”

Di buku ini, yang memang jenisnya adalah buku bibliografi kita akan banyak bertemu dengan para tokoh inspiratif, who is the real leader. Soekarno, Hatta, Agus Salim, M. Natsir, Hamka, Umar, Khalid, Hasan Al Banna, Sayyid Quthb, Ahmad Yasin, Gandhi, Roosevelt, Soe Hok Gie, Bruce Lee, Kadet Soewoko, Hamengku Buwono IX, Nelson Mandela, hingga Marcus Tullius Cicero dan masih banyak nama lainnya.

Banyak bangat yah?! 🙂
iyah banyak dan kesemua-an kisahnya wow!

Halaman per halaman nya menyimpan banyak rasa dan suasana.
tiba-tiba tersenyum kagum waktu baca kisahnya Roosevelt, Jendral Soedirman dan Bp. Handry Satriago. Ada yang kenal dengan nama terakhir yang saya sebut?

Atau tersenyum haru waktu baca kisahnya Pak Mohammad Natsir yang lebih memilih pulang dengan dibonceng sepeda oleh ajudannya sesaat setelah beliau meletakkan jabatannya sebagai mentri. Jangan berpikir beliau pencitraan yak!, selama beliau menjalankan amanahnya sebagai mentri, beliau selalu tampil sederhana dan sangat bersahaja. Pakaian beliau untuk menjabat adalah jas dengan tambalan. “pakaianya,” ujar George Mc Turnan Kahin, “sungguh tak menggambarkan ia seorang menteri dalam pemerintahan”.

Dan semakin bergetar haru, ketika Raja Faisal – Raja Arab Saudi saat itu –berkata “M. Natsir bukan hanya pemimpin Islam di Indonesia saja, tapi juga pemimpin Islam di dunia, pemimpin kami-kami ini” huwaaaa T_T

Bisa juga di salah satu halamanya dibuat tersipu malu, ketika membaca balasan surat cintanya Pak Agus Salim untuk istrinya 🙂, isinya cuma tiga paragraf pendek, di awali dengan kalimat basmallah dan MERDEKA! *seriusan ada kata merdeka dengan capslock on dan tanda seru*. Kalimatnya sederhana, tapi berasa romantisnya :p. tidak ada kata-kata rayuan atau pujian untuk istrinya, satu-satunya kalimat yang mengandung pujian yang ada di dalam surat itu adalah “sebab itu baiklah kita bersyukur memuji Allah atas rahmat karunia-Nya”

Dan tersenyum sambil tak henti-henti nya berbisik “keren, keren, keren” dalam hati.
Prof. Schermerhon, Perdana Mentri Belanda (1945-1946) pernah berkata tentang siapa Haji Agus Salim. “Orang tua yang sangat pandai ini adalah seorang jenius. Ia mampu berbicara dan menulis secara sempurna dalam sedikitnya 9 bahasa. Kelemahannya hanya satu: beliau – Haji Agus Salim – hidup melarat”.

Pernah dengar kisah tentang kejeniusan Agus Salim di event Konferensi Buruh se-Dunia (ILO) di Jenawa, Swis??

Hari itu pada tahun 1929-1930, Himpunan Serikat Buruh Belanda menunjuk Agus Salim untuk mewakili mereka hadir di konferensi ILO.

Bersiap menaiki podium, semua meremehkan Agus Salim yang tampil sangat sederhana dengan kopiah dan jenggutnya. Bahkan beberapa dari mereka mengejek dengan suara “embek”. Beliau tidak menghiraukan, sesampai di podium berdiri tegak. Haji Agus Salim memulai pidatonya.

Then miracle happened: Paragraf 1 pidatonya, beliau sampaikan fasih dengan bahasa Belanda. Paragraf 2 dengan bahasa Inggris. Paragraf 3 dengan bahasa Jerman. Paragraf 4 dengan bahasa Perancis.

Semua mata terbelalak, mendengar Agus Salim berbicara lantang tentang kekejian kolonial kepada seisi ruangan di forum besar Internasional dalam 4 bahasa sekaligus. Jenewa terpukau.

Dan efeknya bukan main: Akibat gugatan Agus Salim di Forum Internasional itu, AS dan beberapa Negara Eropa tidak mau lagi membeli hasil kebun Hindia Belanda yang diperoleh dari hasil kekejaman tanam paksa. Ekspor Belanda diboikot. Ekonomi Belanda mulai terpuruk dan Bangsa Indonesia mulai menjejaki perjuangan kemerdekaan.

Allahu Akbar! Merdeka! :))

Baru baca sampai chapter 3 nya aja (dari keseluruhan 14 chapter) rasa-rasanya udah pengen teriak “I would like to declare myself as Agus Salim and Mohammad Natsir new big fan” 😛 😀

Dan suasana-suasana hati lainnya yang gak jauh-jauh dari kagum, terpesona, terharu, dan tersipu 🙂

Huaaa benar benar awesome to the max! 🙂

Buku ini terdiri dari 276 halaman yang dibagi menjadi 14 chapter, berisikan point-point utama yang berkaitan dengan Leadership yang tentunya selalu ada kisah teladan yang penuh inspirasi didalamnya.

Saat menulis ini, saya baru akan menuju Chapter 11. Tapi rasanya sudah gak sabar ingin memberitahu tentang ke-keren-an buku ini 🙂

Very, very, very recommended! 🙂

PS:
Tadi diawal saya bilang memang cukup aneh bagi saya pribadi untuk membaca buku tentang leadership di kondisi saya yang seperti ini –tidak sedang dalam suatu organisasi dan tidak sedang memegang suatu amanah di lembaga tertentu–.

Tapi percaya deh, buku ini masih tetap recommended buat siapapun yang ingin mengenal Founding Father Negara kita, atau buat yang ingin makin tambah bangga sebagai seorang Muslim, atau juga buat yang ingin mengenal deretan manusia yang turut membangun skenario kepemimpinan di Indonesia dan dunia. Atau sekedar buat bahan cerita agar obrolannya jadi lebih bermutu 😛, percaya ga percaya saya selalu mengulang kembali kisah yang sehabis saya baca di buku ini ke adik saya 🙂,

“tau gak dek, Jendral Soedirman itu orangnya kurus dan punya penyakit asma, sering kambuh juga, makanya suka dibopong pakai tenda sama pasukannya, dan kerennya katanya beliau hidup hanya dengan satu paru-paru”

Lagi juga,
Bukankah setiap dari kita adalah pemimpin?
Dan bukankah setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya?

“Suka tidak suka, setiap orang yang hidup sesungguhnya terlibat dalam proses kepemimpinan. Paling tidak, ia dituntut untuk memimpin dirinya sendiri untuk survive.” (Leiden, pg.11)