Belajar · challenge · Dear · Harta Karun · Hikmah · Meracacacau · reblog · Selftalk · they're said

Suami dan Kulkas

(((dear myself, please remember this)))

oleh Alifah Syamsiyah.

alkisah, ada seorang wanita yang akan menggugat cerai suaminya. tapi sebelum ke pengadilan, ia meminta nasihat terakhir kepada seorang ustadz, untuk lebih meyakinkan dirinya dengan keputusan besar yang akan ia buat. kepada sang ustadz wanita itu menceritakan semua keburukan suaminya: pekerjaan yang belum mapan, tidak bisa mengurus rumah tangga, tidak mahir mengurus anak, dsb.

di akhir cerita, ustadz itu berkomentar sederhana, “ibu, mohon maaf, tapi sepertinya ibu salah menggunakan barang.” wanita itu jelas tak mengerti, nih ustadz gimana sih, kan saya lagi cerita tentang suami, kok malah bahas barang, begitu batinnya.

seakan bisa membaca pikiran wanita tersebut, sang ustadz melanjutkan penjelasannya, “mungkin ibu bingung dengan perkataan saya. tapi coba sekarang ibu bayangkan. ibu baru saja membeli kulkas. kulkas merek terkenal dengan teknologi paling mutakhir. sayangnya, ibu malah mengutuki kulkas itu karena ia tidak bisa menyiarkan siaran berita, tidak bisa memutar video, atau mencuci piring yang kotor. kalau begini, yang salah si kulkas atau si ibu?”

wanita itu menyimak, masih belum menangkap maksud sang ustadz.

“jelas si kulkas tidak salah, karena ia diciptakan untuk menyimpan barang atau makanan agar tidak cepat busuk. kalau kulkas tidak bisa memutar video, seharusnya ibu tidak mengutuki kulkas karena itu bukanlah fungsinya.

begitu pula dengan suami ibu. tujuan utama dari pernikahan adalah mendapatkan ridho suami. jika pekerjaannya kini belum mapan, atau ia belum bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan sempurna, bersabarlah. setidaknya itu bukan fungsinya yang utama. setidaknya ibu tidak kehilangan fungsi utamanya: keridhoan suami. karena itulah kunci surga seorang wanita.

kalau saya boleh memberikan saran, coba ibu pikirkan baik-baik lagi keputusan ibu. saya punya tips sederhana yang bisa ibu lakukan sembari ibu memikirkan ulang keputusan besar ini. cobalah setiap malam, sebelum ibu dan suami tidur, tanyakan pada suami, “bang/a’/kang/mas, berapa persen keridhoannya sama aku hari ini?” kalau jawabannya belum 100%, coba ibu lakukan apapun yang bisa membuatnya ridho 100%. ibu bisa memijatnya, membuatkannya minuman hangat, dan hal-hal lain yang membuat keridhoannya utuh kembali. ibu tidak bisa menjamin kalau masih ada hari esok setelah ibu tidur malam itu, bukan? jangan sampai menutup hari tanpa membawa kunci surga dari keridhoan suami ibu.”

nasehat itu menggugah jiwa wanita itu. ia kembali ke rumahnya, tertarik untuk mencoba nasihat sang ustadz mulai malam nanti.

singkat cerita, beberapa hari setelahnya wanita itu kembali ke rumah sang ustadz dan menceritakan perubahan yang terjadi pada suaminya. setelah beberapa malam rutin menjalankan nasihat itu, perilaku suaminya perlahan berubah, ia menjadi semakin sayang pada dirinya, semakin giat bekerja, dan mengurus rumah tangga. ridho dan berkah Allah pun turun, meliputi keluarga mereka.

taat pada suami terkadang bukan perkara mudah, apalagi kalau keegoisan sedang menguasai jiwa.

tapi disanalah kunci surga berada. tak tanggung-tanggung, seorang istri yang taat diberikan keistimewaan untuk memasuki surga dari pintu mana saja yang ia suka!.

.

.

.
catatan: tulisan ini terinspirasi dari sebuah nasihat singkat yang disebarkan di whatsapp, sayangnya penulis tidak bisa mengecek sumber asli dari cerita ini.

Pict from Google.

Advertisements
Dear · Hikmah · KisahSahabat · reblog · Selftalk

Sungguh, jika Allah mengambil satu; maka Allah sisakan yang lebih banyak

Tersenyumlah, ada hikmah di dalamnya. Jangan sampai kau berputus asa..

…akan aku sematkan pada awal tulisan kali ini.

Jangan, kumohon jangan. Jangan menggerutu pada takdir dan ketetapan yang ditentukan oleh Ar-Rahman. Jangan menyimpan banyak pertanyaan, jangan membiarkan singkatnya kalimat tanya ‘kenapa?’ membuat imanmu goyah dan runtuh sebab merasa Allah memberikan ujian yang terlalu berat. Terlalu besar, dan terlalu rumit untuk akhirnya ditawakkal-kan.

Seberapapun kita akan dibuat berkali-kali jatuh, akan selalu ada kekuatan untuk bangkit jika Allah menjadi tempat yang dituju. Sebagaimanapun kita akan dibuat berurai-urai air mata, akan selalu ada setitik cahaya, untuk akhirnya menyapu dan menyirnakan badai kesedihan di dalam jiwa. Jika masih Allah, yang menjadi tempat kita memuarakan segala rasa.

Saudaraku, apapun yang sedang menimpamu hari ini.. kuyakin, kau kuat. Lebih kuat dari sekuat yang kau kira. Meski aku tak mengetahui, bagaimana kau sedang dibuat berdarah-darah, aku yakin, in syaa Allah, selagi iman itu masih terpancar dari balik dadamu, kau mampu. Dan kau akan berhasil melewatinya. Ingatlah, tentang apa yang Allah katakan,

“Kamu benar-benar akan diuji pada hartamu dan dirimu” (QS. Ali ‘Imran 186)

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ‘Inna lillahi wa inna illaaihi ra’jiun” (QS. Al baqarah 155-156)

Demikianlah..

“Seorang Mukmin pasti akan diuji pada harta, jiwa, anak dan keluarganya.”

Saudaraku, pernahkah kita mendengar kisah Urwah bin Az-Zubair dengan ujian yang Allah berikan kepadanya? Dan sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda,

“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dengan besarnya ujian. Sesungguhnya, apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Siapa yang ridha dengan ujian itu, maka ia akan mendapat keridhaan-Nya. Siapa yang membencinya maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya”

Tersebutlah, pada suatu hari seorang Khalifah dari bani Umayyah, Al-Walid bin Abdul Malik, mengundang Urwah bin Az-Zubair untuk mengunjungi istananya di Damaskus. Adalah sebagai wujud sapaan cinta, untaian hormat dari sang Khalifah. Urwah memenuhi undangan tersebut dengan menggandeng anak sulungnya.

Disaat Urwah berbincang-bincang pada majelis sang Khalifah, anak sulungnya diantarkan oleh pengawal untuk mengunjungi tempat dibagian istana mana pun yang dia suka. Hati anak sulungnya terpikat untuk melihat kuda-kuda khalifah. Dan,

‘Bughh!’

Seorang pengawal lari tergopoh-gopoh menghadap Khalifah juga Urwah,

“Wahai Khalifah, sesungguhnya telah terjadi begini dan begini,” Pengawal tersebut menceritakan detailnya, “dan sekarang, sang anak telah berpulang menghadap Allah Subhaanahu wa Ta’ala.”

Siapa yang mampu menduga? Ternyata dalam suka ria nya sang anak, salah seekor kuda menendangnya hingga terpelanting jatuh ketanah dan terinjak-injak oleh kuda yang sedang berlari di atasnya, dan saat itu juga, ia meninggal dunia. Dialah sang anak sulung Urwah bin Az-Zubair. Seorang anak kesayangan yang Urwah harapkan mampu menjadi penerus ilmunya. Maka mampukah kita membayangkan bagaimana reaksinya kala itu?

‘Urwah tersenyum dan ia berkata “Innalillahi wa inna illaaihi ra’jiun”

Maka saat itu juga Urwah sendiri yang turun keliang lahat untuk menguburkan anaknya. Setelah usai pemakaman, dalam dzikir dan ayat-ayat Al-Qur’an yang sedang ia jadikan permohonan agar Allah berikan kesabaran, tiba-tiba betisnya terasa begitu sakit yang luar biasa. Kakinya terserang penyakit langka yang memaksanya untuk harus diamputasi.

Berkatalah salah seorang ahli pengobatan kepercayaan Khalifah, “Ini harus diamputasi. Dan Wahai Imam, kami akan memberikanmu seteguk minuman yang memabukkan, agar sakit yang ditimbulkan takkan terasa olehmu.”

“Tidak” Jawab ‘Urwah, “Sungguh, aku tidak akan menggunakan sesuatu yang haram demi mendapatkan kesehatanku kembali. Dan aku tidak ingin salah satu bagian dari tubuhku hilang tanpa aku merasakan sakitnya. Ku serahkan semuanya kepada Allah.”

Maka setelah berapa tabib itu berunding, mereka memutuskan agar Khalifah memberikan beberapa orang untuk memegangi ‘Urwah ketika melakukan proses pemotongan kakinya yang manual.

Maa syaa Allah! Pemotongan kaki yang manual. Sekali lagi, manual.

Dengan cepat ‘Urwah berkata, “Aku tidak membutuhkannya, biarlah aku memalingkannya dengan dzikir dan tasbih ketika kalian memotongnya.”

Tak terbayang, bagaimana pedih dan perihnya daging yang dikupas tanpa bius sedikitpun. Tulang yang digergaji, dan darah yang terus mengucur darinya. Tak heran, beberapa kali ‘Urwah meringis kesakitan, “Hassi… Hassi..” katanya. Ia bermakna, suatu rasa sakit yang luar biasa terasa

Sesudah proses amputasi selesai, darah tak kunjung berhenti. Maka cara satu-satunya adalah dengan mencelupkannya pada minyak panas. ‘Urwah menyetujui. Saat kakinya dicelupkan kedalam minyak panas yang mendidih, ia menjerit, lalu pingsan, dan dikatakan bahwa ‘Urwah pingsan dalam waktu yang lama. Satu hari.

Hati ini rasanya mengerdil, sungguh.

Bagaimana, bagaimana jika kiranya ujian yang ‘Urwah hadapi menimpa seseorang diantara kita? Baru saja sesaat dia kehilangan anaknya, dia harus pula kehilangan kakinya dengan proses yang luarbiasa menyakitkannya. Disini, bukankah kita melihat, bagaimana kokoh jiwa haba yang beriman kepada-Nya? dan benarlah, bahwa Allah menguji hamba-hambaNya sesuai dengan kadar keimanannya. Cukuplah, ini sebagai bukti, betapa pancaran iman itu telah memenuhi seluruh penjuru ruang hati ‘Urwah bin Az-Zubair.

Sang Khalifah merasa kasihan dan ingin menghibur ‘Urwah. Namun ia bingung, ia tidak memiliki cara untuk menghiburnya. Namun cara Allah lebih menakjubkan, datanglah seorang lelaki buta kepada Khalifah, dan dia bercerita

“Wahai Amirul Mukminin!”, seru laki-laki buta tersebut, “dulu tidak ada seorang pun dari bani Abas yang lebih kaya dariku, lebih banyak anak-anak selain diriku. Aku tinggal disuatu lembah, dan banjir besar menerjang kaumku. Tak ada lagi hartaku, tak tersisa lagi anak-anakku kecuali hanya seorang bayi dan seekor unta.”

“Namun unta tersebut hendak melarikan diri, aku mengejarnya dan meninggalkan anakku. Maka kudengar teriakan bayi, ternyata anakku sudah berada di mulut serigala. Aku kembali hendak mengejarnya, namun sia-sia, serigala tersebut telah memakannya. Aku berbalik lagi, kukejar unta yang kabur, dan saat sudah dekat dengannya, salah satu kakinya menyepak wajahku. Hingga hancurlah keningku dan buta mataku.”

Sang Khalifah mendapatkan apa yang dia cari, Maha Baik Allah mengirim laki-laki untuk ‘Urwah. Sebab, ujiannya jauh lebih berat dari ‘Urwah. Diutuslah laki-laki tersebut kepada ‘Urwah untuk menceritakannya. Seusai ia bercerita, ‘Urwah berkata,

“Innalillahi wa inna illaaihi ra’jiun…”

Dalam do’anya, ‘Urwah berkata,

“Ya Allah, dulu aku memiliki empat anggota badan, dua tangan dan dua kaki. Lalu Engkau mengambil satu darinya dan Engkau menyisakan tiga darinya, maka segala puji bagi-Mu. Dulu aku memiliki empat orang putra, lalu Engkau mengambil salah satu darinya dan Engkau menyisakan tiga darinya, maka segala puji bagi-Mu.” isak ‘Urwah, “Demi Allah, seandainya Engkau mengambil, pasti Engkau menyisakan, dan seandainya Engkau memberi ujian pasti Engkau memberi kesembuhan.”

~

Inilah, ‘Urwah bin Az-Zubair. Inilah, kisah-kisah seorang hamba yang Allah berikan ujian hebat luarbiasa. Belum lagi, jika kita melihat ujian para Nabi.

Maka…. segala puji, hanya bagi Allah..

Inilah salah satu dari sekian rintik hujan yang Allah berikan, yang menyimpan berkah, menyimpan maksud dan tujuan.

Rasulullah ﷺ bersabda,

“Ujian itu akan selalu menimpa seorang hamba sampai Allah membiarkannya berjalan di atas bumi dengan tidak memiliki dosa.”

Dan cukuplah, segala ujian yang Allah berikan kepada kita menjadi sebaik-baiknya cara Allah membersihkan dosa-dosa kita. Sebab sungguh, apalah arti sakit di dunia jika dibandingkan dengan sakit di akhirat.. apalah arti tangis di dunia, jika dibandingkan dengan tangis karena siksa dan penyesalan di akhirat..

Mari, bukan lagi memfokuskan kepada apa yang telah hilang dan pergi. Melainkan, kepada apa yang masih Allah sisakan dari segala yang sudah tidak dimiliki. Betapa, betaaapa Allah Maha Baik. Dari sekian sakit yang mungkin bisa dihitung dengan hitungan jari, mampukah kita menghitung nikmat sehat yang sudah Allah beri? Mampukah kita mengkalkulasi, berapa banyak biaya oksigen yang Allah beri dari kita terlahir di muka bumi ini? Yakinkah.. kita merasa aman, jika tiba-tiba jantung ini bermasalah?

Maka bacalah, apa yang sudah tertulis pada judul tulisan kali ini.. :’)

–Ibn Sabil [quraners.tumblr.com]

—–

maasyaaLlaah :“)),

saya pertama kali membaca kisah ‘Urwah bin Zubair di buku Ibunda Para Ulama-nya Sufyan bin Fuad Baswedan :))

terberkahilah ‘Urwah yang dilahirkan dalam salahsatu keluarga yg istimewa 🙂

Ayahnya, Zubair bin Awwam adalah salahsatu dari sahabat yang dijamin Rasulullah sebagai penghuni Jannah-Nya 🙂

Ibunya adalah si Wanita pemilik dua ikatan, Asma binti Abu Bakar 🙂

Bibinya adalah ummul mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha 🙂

Kakeknya adalah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam :”))

apa yang ingin saya sampaikan? 🙂

bukan, bukan tentang keluarga shalih sudah pasti tentu melahirkan keturunan yang shalih. Belum pasti tentunya, karena sekelas nabi Adam, Nuh ‘alaihissalam saja, salahsatu anaknya memilih menjadi seorang yang ingkar :“(. Juga berlaku sebaliknya, dari seorang ayah yang pembuat dan penyembah berhala-lah Nabi Ibrahim dibesarkan, juga salahsatu sahabat mulia Abdullah bin Abdullah bin Ubay yang mengalir dalam dirinya darah dari Abdullah bin Ubay bin Salul, sang dedengkot kaum Munafik di Madinah saat itu.

iyah 🙂

ini semua tentang pilihan :), pilihan apa yang akan menemani kita dalam menjalani setiap kehendak yang ditetapkan-Nya untuk kita :”),

pilih untuk fokus yang ada, atau yang hilang? 🙂

Belajar · challenge · Dear · Meracacacau · Selftalk · Uneguneg

Andaikata (1)

Bismillaah..

“being a mom is a big deal, preparation is a must. Karena nasib peradaban ini dipercayakan pada tangan para ibu” –SuperbMom Wannabe-

Ada yang super duper menarik-narik fikir di pekan kemarin. Jika pada pekan sebelum pekan kemarin bisa dengan mudah mengerjakan Nice Homework ke-1 yang diberikan oleh Fasilitator, Alhamdulillah, biidznillah. Maka di pekan kemarin, sejenak setelah membaca Nice Homework ke-2 yang di posting bunda Fasilitator di laman google classroom, hanya bisa terdiam beberapa lama, wkwk.

NICE HOME WORK #2

Bunda, setelah memahami tahap awal menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga. Pekan ini kita akan belajar membuat “CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN”

  1. Sebagai individu
  2. Sebagai istri
  3. Sebagai ibu

Buatlah indikator yg kita sendiri bisa menjalankannya. Buat anda yang sudah berkeluarga, tanyakan kepada suami, indikator istri semacam apa sebenarnya yang bisa membuat dirinya bahagia, tanyakan kepada anak-anak, indikator ibu semacam apa sebenarnya yang bisa membuat mereka bahagia. Jadikanlah jawaban-jawaban mereka sebagai referensi pembuatan checklist kita.

Buat anda yang masih sendiri, maka buatlah indikator diri dan pakailah permainan “andaikata aku menjadi istri” apa yang harus aku lakukan, andaikata kelak aku menjad Ibu , apa yang harus aku lakukan.

Kita belajar membuat “Indikator” untuk diri sendiri.

Andaikata saya menjadi Istri dan menjadi Ibu, apa yang akan saya lakukan untuk bisa memperoleh gelar “kebanggaan keluarga”, gelar yang dinilai dan diuji langsung oleh anggota keluarga, yaitu Pak Suami dan anak-anak. Nah loh?!

Andaikata aku menjadi seorang istri

Beberapa tahun yang lalu, saat kehendak Nya membawa saya mendiami kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta untuk waktu yang bila perempuan mengandung, maka saya mulai menetap saat usia kandungannya masih 1 hari (?) wkwk dan akhirnya meninggalkan kamar kost saya saat si bayi dilahirkan sesuai due date-nya dan sudah berusia 20 hari. Ribet yak :P. Ingin bilang 10 bulan doang padahal wkwk. Saya pernah menyampaikan ini ke-mba murobbiyah saya saat di solo.

“mbaa, masa aku pengen nikah sekarang, cuma gegara biar ada yang bisa nganterin liqo sama pergi ke tatsqif”, kalimat ini keluar bukan tanpa sebab. Saat kemudian memutuskan untuk mengambil lowongan belajar kerja di salah satu instansi pemerintah yang letaknya ada di pucuk Gunung Kidul, saat itu pula saya mulai hijrah, mutasi liqo, keluar dari zona nyaman di kampus super ‘hijau’ ke dunia realita. Lha emang di kampus dunia fantasi? :P.

and the challenge begins,

Di sini, di gunung kidul, didaerah gading tepatnya, amat sangat susah menjumpai kendaraan umum level angkot. Jalan besarnya memang dilewati bus kecil dan tanggung antar kota, tapi nunggu bus nya pun bisa lama dan unpredictable waktunya dan maksimal hanya sampai pukul 17.00 bus jurusan Wonosari turun ke Yogyakarta. Maka bagi saya yang tidak membawa kendaraan apapun kesini, ini menjadi kendala terbesar bagi saya. Dan makin tambah ‘sesuatu’ karena jeng jeng jeng, liqo-an tempat saya dimutasi, yang sebagian besar berisikan ibu-ibu berdomisili asli di gunung kidul, menggunakan sistem liqo keliling. Jadilah tiap pekan, tempat liqonya bergilir ke rumah-rumah yang artinya keliling kabupaten gunung kidul. Makin tambah dramatis karena pertemuan pekanannya dilaksanakan setiap selasa sore, yes on the weekdays!. Senin malam biasanya maksimal japrian rumah siapa yang akan dikunjungi sampai di hp. Sekalipun disebutkan nama daerah sama ancer-ancer nya sama saja bagi saya, yang aktifits sehari-harinya hanya jalur kost ke kantor dan turun gunung tiap weekend menginap di kost-an waktu di solo, atau ke rumah mbah di klaten.

Alhamdulillah, ‘alaa kulli haal, dengan berbagai cara-Nya, setiap pekannya hampir selalu bisa sampai dan pulang kembali ke kost dengan sehat wal’afiat tanpa kurang satu apapun. Kalau di ingat-ingat sekarang benar-benar Maha Kuasa Allaah yang menakdirkan pun juga memudahkan hamba-Nya untuk menjalani kehendak-Nya. Mulai dari ke tempat liqo dianterin pakai motor sama anak SMP dan digiring sama anak-anak TK dan SD yang bersepeda, mereka ade-ade yang ikut TPA di mushalla belakang kantor :D, atau juga pernah berangkat diboncengin pakai moter gede sama ummahat usia 50 tahunan, wkwk “maaf yaa mba, motor saya lagi dipakai anak, ini dapat pinjaman motor tetangga, adanya motor ini ” kata si ummi saat saya takjub melihat si ummi dengan style rok-nya tapi naik motor gede :”). Saat pulang ba’da maghrib, jalan yang dilalui sudah cukup sepi dan gelap, bahkan di jalan besar pun bisa terlihat jelas beberapa Photuris lucicrescens yang hilir mudik entah kemana. Pernah juga saat akan menghadiri kajian tatsqif di salahsatu SDIT yang ada di pusat kota kabupatennya, berangkatnya saya nyasar, saya kebablasan ikut bus yang saya tumpangi sampai di terminal pemberhentian terakhirnya. Itu karena saya benar-benar belum tahu harus turun dimana -__-, saat pulang pun ternyata saya salah tempat berdiri menunggu angkot, yang setelah sekian jam saya menunggu, tidak ada satupun angkot yang lewat di depan saya. Ini, salah satu alasan terbesar saya sangat ingin menikah saat itu -___-.

Hingga, tibalah suatu hari, saya tersadar dan malah tersenyum-senyum mengingat alasan saya saat itu :”).

Bismillaah,
Suatu saat nanti, ketika Allah mengizinkan saya menyandang amanah sebagai seorang istri sebelum Allaah memanggil saya terlebih dahulu. Saya ingin belajar dan berusaha untuk menjadi istri yang berdaya, yang kebaikan-kebaikan apapun itu selagi bisa saya upayakan sendiri, akan saya usahakan tanpa menunggu atau bergantung dengan keberadaan Pak Suami. Misal, berangkat liqo, berangkat ke tatsqif, menjenguk orang sakit, dan lain-lain yang semisal dengan ini. Tentu, dengan meminta izin sebelumnya ke beliau, juga meminta untuk diantarkan, lha? Wkwk. Memintanya cukup sekali, jika beliau nya mengatakan kemungkinan tidak bisa mengantarkan kerena suatu udzhur lain yang lebih penting, maka insyaaLlaah saya tak akan memintanya untuk yang kedua kalinya. Juga tidak menjadikan bisa atau tidaknya beliau mengantarkan sebagai suatu patokan, jadi tidak nya saya mengahdiri suatu majelis kebaikan. Ridha dan izin dari beliau sudah cukup, insyaaLlah :”).

Beberapa tahun yang lalu, salah satu abang terbaik di kampus meninggal dunia, meninggalkan istri yang baru dinikahinya setahun sebelumnya dan bayi perempuan yang masih merah pipinya. Sebulan yang lalu, tiba-tiba saya mendapat pesan dari salah satu ukhti sholiha, berbincang-bincang sejenak menanyakan kabar sebelum akhirnya beliau menyampaikan maksud beliau untuk meminjam sejumlah dana. Awalnya saya tidak berkeinginan untuk menanyakan, tapi akhirnya betanya juga mengenai untuk apakah dana itu akan dipakai?. Dan Maha Baik Allaah yang menyisipkan setiap hikmah dan pembelajaran melalui setiap takdir kehendak-Nya. Ukhti sholiha ini menyampaikan bahwa uangnya akan digunakan untuk menebus HP nya yang sedang dijadikan jaminan. Suaminya beberapa waktu yang lalu baru diberikan ujian melalui sakit yang cukup lama, sehingga beliau resign dari tempat kerjanya. Saat ini baru sembuh dan sedang berusaha untuk kembali mencari pekerjaan. Sedangkan si ukhti sholiha ini sebelumnya juga memiliki usaha sampingan olshop, dan usahanya harus berhenti sejenak sebulan yang lalu karena ketiadaan hp.

Menyaksikan kisah kisah diatas, kemudian membuat saya merenungi salah satu dari 10 muwasshofat, Qadirun ‘alal kasbi. Kemampuan untuk mandiri berpenghasilan melalui cara yang benar. Saya ingin belajar dan berusaha untuk menjadi istri yang berdaya secara finansial, yang ini masih sangat jadi PR bagi saya. Bukan di masalah istri bekerja di luar atau istri full dirumah. Yang saya pikirkan bagaimana saya berusaha untuk mengasah suatu keterampilan yang itu bernilai, bermanfaat dan bisa digunakan untuk menghasilkan uang :P. Memasak misal, atau bikin kue, atau bikin kerajinan tangan. Yang keterampilan misal ini semua belum saya punya sekarang -__-. Semua keterampilan yang tetap tidak menanggalkan kodrat kita sebagai seorang wanita dan muslimah dan seorang istri juga seorang ibu kelak.

“Dan yang paling penting dari itu semua adalah, dia harus kuat. Sehingga ketika aku benar benar harus pergi dari sisinya dia akan tetap menjadi kuat dan hebat, melanjutkan hidupnya, merawat anak anak dan mimpi mimpi kami.”

Ini salah satu tulisan salah seorang bapak-bapak, yang saya spenuh sadar menyepakatinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Belajar · Dear · Hikmah · reblog · Selftalk · Tarbiyah · they're said

Pasrah

“mintalah hati yang lapang, agar seberat apapun titah-Nya, tidak menyisakan gerutu dari lisan kita. Sebab memang hanya mereka yang dilapangkan dadanya yang mau menerima cahaya itu sepenuhnya”
–Nina Lathifah–

Sabar
Syukur

oleh Urfa Qurrota Ainy

Seringkali kita menasihati diri kita atau orang lain untuk bersyukur dan bersabar dalam menghadapi persoalan kehidupan.

Namun, pernahkah kita merasa bahwa sabar dan syukur yang sudah kita upayakan belum bisa menjadi jawaban bagi keresahan dan belum cukup untuk membuat hati tenang?

Mungkin memang sabar dan syukur saja tidak cukup. Ada satu hal yang seringkali terlupa, yaitu berpasrah.

Yuli Suliswidiawati, seorang psikolog dan terapis DEFT, baru-baru ini menulis buku berjudul “Menggapai Hidup Bahagia.” Buku ini berisi tentang cara-cara agar kita bisa bahagia dan tidak terbelenggu oleh memori tentang pengalaman buruk di masa lalu. Lengkap dengan cerita pengalaman beliau saat menerapi klien-kliennya.

Satu hal yang membuat klien-klien itu akhirnya berhasil menghancurkan belenggu masa lalu dan akhirnya ‘sembuh’, yaitu karena mereka berpasrah. Hal ini yang menjadi ciri khas dari terapi Ibu Yuli. Pada setiap terapi, beliau membimbing klien untuk mengatakan “Ya Allah, aku pasrah..” (atau sesuai Tuhan yang diyakini klien).

Semakin kita pasrah, semakin mudah untuk ‘sembuh’. Semakin kita menolak, semakin kita ‘sakit’.

Pasrah (surrender) lebih tinggi derajatnya dari penerimaan (acceptance). Berpasrah berarti menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada Allah. Penyerahan diri inilah yang akan membuat kita ridha atau senang hati menjalani kehidupan. Kita yakin bahwa diri kita milik Allah dan Dia berhak melakukan apa saja sesuai kehendak-Nya.

Dengan berpasrah, artinya kita melepas diri dari segala keterikatan. Keterikatan pada masa lalu yang buruk, pada ketakutan, rasa bersalah, rasa takut, rasa murka, rasa dendam, cemas, dan sebagainya. Dan hanya berpegang pada satu tali yaitu tali Allah. Al-Urwatul Wutsqa, tali yang sangat kuat.

Hakikat Islam adalah mengajak manusia untuk berserah sepenuhnya. Kata ‘Islam’ berasal dari kata ‘aslama’ yang berarti berserah. Karena itulah Islam menjadi agama yang paling sesuai dengan fitrah manusia.

….

Kalau dulu,
Saya suka sekali merapal kalimat ini berulang-ulang,
yaa Rabb, jadikanlah hamba termasuk kedalam golongan hambaMu yang gemar bersabar dan bersyukur

Sekarang,
Saya suka sekali merapal kalimat ini berulang-ulang,
Yaa Rabb, hamba berpasrah memohonkan apa yang terbaik bagi hamba yang menurut Engkau baik, dan berikanlah kepada hamba kesabaran, keikhlasan dan kekuatan untuk dapat menjalani apaapa yang Engkau takdirkan untuk hamba

Kalo katanya mba Nina Lathifah (lagi:p):)

“terserah Allah saja, asal terbaik menurut Allah bagi dunia terlebih akhirat…
Kalau sudah terserah Allah, selanjutnya tinggal minta:

Hati yang ridha

Udah.
Sesederhana itu pintanya :)”

 

All Pict from Pinterest :)

Belajar · Dear · Meracacacau · reblog · Selftalk · they're said · Uneguneg

Cinta yang Berdaya

pict from pinterest 🙂

mba Dea Mahfudz says

Dulu pas ada temen bilang bahwa cinta itu identik dengan kata “i will die for you”, sekarang rasanya beda. Buat gue cinta itu juga tentang menjaga diri sendiri biar tetep kuat, sehat badan, sehat pikiran juga. Biar kita bisa nemenin orang-orang yang kita sayang di saat-saat sulit.

gue jadi inget obrolan sama temen tempo hari. Intinya dia bilang ke gue,

“Kalo orang yang lo sayang ketimpa kesulitan, lo jangan ikutan drama. Lo harus waras dan ngelakuin hal paling realistis yang lo bisa buat nguatin orang yang lo sayang”

Hidup itu maraton. Kalo kita bisa ngelewatin satu ujian, di depan nanti bakal ada ujian lagi. Bukan gw suudzon sama Allah. Tapi yang namanya hidup, sunnatullahnya kayak gitu. Manusia ga mungkin hidup tanpa masalah. Yang terpenting kalo kita ada masalah, jangan tenggelam dalam tangis sampai hidup kita stuck di situ doang. Kita harus buru-buru sadar dan bertindak dengan waras.

then,
gue nyadar bahwa romantisme cinta bukan
“kalo kamu nangis, aku juga ikut nangis, kalo kamu jatuh, aku juga jatuh”

melainkan,

“kalo kamu nangis, aku yang bakal ngajarin kamu hapus air mata. Kalo kamu jatuh, aku yang bakal ngajarin kamu buat naik lagi”

kenapa ngajarin? kenapa nggak bantu?

sebab manusia punya tanggung jawab atas dirinya sendiri. Gue mau cinta gue kelak ngasih ruang buat orang yang gue sayang untuk menumbuhkan diri sendiri. Bukan cinta yang attached yang seandainya gue pergi, orang yang gue sayang bakal kehilangan segalanya sampai kehilangan semangat hidup juga.

i will try giving you the maps, the fuel,
but you have to reach your dream by your own hand.

===

and,
pak Hafidz says,

Gimana udah ketemu?” Tanya Ummiku sambil menggoda.

“Apanya, Mi?” Jawabku datar

“Kamu nih pura pura gatau, coba deh emang tipe mu yang gimana?” Beliau menanyakan kembali

“yang kuat, Mi. Pertama, karena kesuksesan laki laki itu ditentukan dari siapakah Ibunya dan siapakah Istrinya. Kemudian, karena dari awal aku sadar, aku ini tipikal yang aktif dan pengen terus terlibat dengan banyak orang diluar sana untuk memberi manfaat. Menjadi sebaik baik manusia. Di tambah aku ini insinyur Mi. Yang nature pekerjaannya akan sering pergi – pergi…” Saya mulai menjawab karena mengerti arah pertanyaannya kemana

“ …ditambah itu aku punya mimpi mimpi dalam hidup ini. Kesemuanya itu kalo tidak orang yang kuat, aku takut cuma akan menyakitinya. Dia harus kuat dan tahu apa yang harus dilakukan ketika aku tidak ada di rumah dan anak kami nanti demam, ketika listrik di rumah korslet dan tidak menyala, dia harus kuat dan memahami ketika ingin bermanja namun suaminya pergi karena urusan orang banyak. Tentulah harus seorang yang kuat dan hebat, karena semanjak akad maka cita citanya menjadi cita citaku dan tidak ada lagi kata dia dan aku, kesemuanya tentang kami.” Kataku mengakhiri sambil tersenyum.

Dan dalam hati aku berkata pada diri sendiri,

“Dan yang paling penting dari itu semua adalah, dia harus kuat, karena aku tidak akan mengajarinya untuk menjadi lemah dan payah. Sehingga ketika aku benar benar harus pergi dari sisinya dia akan tetap menjadi kuat dan hebat, melanjutkan hidupnya, merawat anak anak dan mimpi mimpi kami.”

Belajar · challenge · Harta Karun · Hikmah · Selftalk · Tarbiyah · they're said

Seperti Inilah Seharusnya Kita Berprasangka

ditulis ulang dari ust. Noorahmat Mubarak.

Thalhah bin Abdurrahman bin Auf adalah sosok paling dermawan di kalangan Quraisy pada zamannya. Ketika dalam kondisi sulit, istrinya pernah berkata kepadanya, “Aku tidak melihat kaum yang keterlaluan melebihi kawan-kawanmu!”

Thalhah terhenyak dan berkata, “kenapa? Mengapa kamu berkata seperti itu? Apa alasanmu?”

Istrinya menjawab, “Mereka dekat denganmu saat kamu berkecukupan, tapi mereka meninggalkanmu saat kamu dalam kesusahan.”

Dengan bijak Thalhah menjawab,

“itu justru menunjukkan kebaikan mereka. Mereka datang saat aku kuat dan bisa membantu mereka dan mereka tidak mendatangiku saat aku tidak mampu berbuat (membantu), karena mereka tak ingin membebani diriku.”

Imam Al-Maawardi menyebutkan kisah ini dalam kitabnya yang masyhur, “Adabud Dunya wad Dien”, lalu beliau memberikan komentar, “Lihatlah bagaimana kemuliaan Thalhah sehingga dia menakwilkan sikap kurang baik para sahabatnya terhadap dirinya sebagai perlakuan baik. Dan tindakan yang sekilas bisa diartikan pengkhianatan namun dia anggap sebagai kesetiaan. Inilah kemuliaan dan keutamaan sejati, dan begitulah karakter orang-orang mulia, mereka berprasangka baik atas kekhilafan yang dilakukan saudaranya.”

(Adabud Dunya wad Dien, Imam al-Mawardi).

kewajiban kita sebagai seorang muslim terhadap saudaranya adalah dengan berprasangka baik terlebih dahulu :”).

Salamatus sadr. Padahal ini landasan paling dasar sebelum menjalin sebuah ikatan ukhuwah. Biarlah melabeli predikat teman sejati atau bukan teman sejati menjadi tanggungan para malaikat yang mencatat setiap niat dan amal yang tampak dan tak tampak dalam penglihatan kita. Tugas kita jauh lebih besar, menjaga hati dari segala prasangka yang tidak menyehatkan jiwa :”).

wallahu a’lam bis showab.

Belajar · challenge · Dear · reblog · Selftalk · they're said

Ngafalin aja!

oleh Naily Makarima

Begini lho. Menghafal cepat itu bukan prestasi. Menghafal lambat juga bukan kelemahan. Tapi yang terpenting ada pada keistiqomahan dalam menghafal.

Misalnya:

Kalau sehari setor hafalan satu kaca, yaudah seterusnya satu kaca. Jangan sampai ada yang bolong. Kalau dilebihkan misal 2 kaca ya gapapa. Cuma pokoknya yang satu kaca itu diistiqomahin aja terus tiap hari. Disuruh ngulang gegara ga lancar? Yasudah ngulang aja. Namanya juga lagi mendawamkan istiqomah yakan?

Terus kalau misal kita sudah hafal 5 juz keatas nih. Sehari misal komitmen dideres 1 juz, yasudah 1 juz terus tiap hari. Jangan sampai seharipun kelewat ga deres minimal 1 juz itu. Lebih lebih kalau sehari 2,3 atau 4 juz. Nanti abis subuh 2 juz, abis dhuhur 1 juz, malemnya mau tidur 1 juz, misalnya. Misal hafal sejuz, berarti komitmen sehari harus nderes 3 lembar. Ya pokoknya seharipun jangan lewatin 3 lembar itu.

Ini bukan soal keren enggaknya. Juga bukan soal berat mudahnya. Ini cuman soal kebiasaan. Kalo kerasa berat itu cuma masalah belum biasa doang kayaknya. Asli. Nanti juga kebiasa sendiri kok. Allah selalu nolong insyaAllah.

Yang terpenting, selalu bumikan hati. Seterbang apapun pujian. Sedalam apapun jatuh bangun didalam tanah. Kalau lancar jangan banggain diri berlebih lebih. Kalau ga lancar juga jangan berkecil hati. Menghafal Qur’an bukan soal sebanyak apa hafalan kita. Serius deh.

Jadi kalau mau ngafalin, yaudah ngafalin aja. Ngaji aja tiap hari. Gausah mikir lancar enggaknya. Mikir istiqomahnya aja. Yang penting tuh tiap hari ngaji aja gitu. Nanti tau tau udah 30 juz sendiri deh.

Target sih sangat perlu banget. Cuman jangan dipikir targetnya. Think about target less, do more and keep istiqomah yakan?

Kadang nih, kadang berkahnya kita bukan terletak pada banyaknya hafalan atau banyaknya deresan lho. Tapi dari keistiqomahan. Sama aja kan tiap seminggu nderes 5 juz tapi ada hari bolong yang nggak dibuat nderes?

Dan yang paling utama adalah, ikhlas. Kalau menghafal itu ikhlas buat Allah doang, pasti, dijamin seratus persen utuh, akan baik, berkah dan hasilnya keren. Dunyo akhirot insyaAllah. Begitulah.

Harta Karun · Hikmah · Quote · reblog · Selftalk · Tarbiyah

Tidak Akan Iri, Apalagi Kufur

Orang yang sendiri diuji dengan kesendiriannya. Orang yang menikah diuji dengan pernikahannya. Orang yang punya anak diuji dengan anaknya. Orang yang bekerja diuji dengan pekerjaannya. Orang yang sekolah diuji dengan ilmunya. Orang yang punya diuji dengan kepunyaannya. Orang yang tidak punya diuji dengan ketidakpunyaannya, dan seterusnya.

Jika kita menyadari semua yang manusia alami (di dunia ini), bahagia-sedih, susah-mudah, lebih-kurang adalah ujian, tidak akan kita merasa iri apalagi kufur.

Sesederhana itu.

-Urfa Qurrota Ainy.

Belajar · reblog · Selftalk

Musuh Terbesar Seorang Ibu

f12f99678da3ce86c8653d5b0ef99480
image from here

Musuh terbesar seorang Ibu bukanlah pornografi dan pornoaksi yang rentan memapar otak anak-anaknya. Bukan pula kekerasan seksual yang mengintai langkah pendek anak-anaknya. Bukan pula paham radikalisme yang bisa menjangkiti keyakinan anak-anaknya. Semua itu musuh kita bersama, namun ada yang lebih berbahaya dari itu semua.

Musuh ini tak tampak. Hadirnya sulit dideteksi oleh indera. Memata-matai dari sangat dekat. Mudah datang tanpa diundang. Mudah menginfeksi tanpa diketahui. Halus dan perlahan-lahan. Musuh itu adalah stigma bahwa profesi Ibu (rumah tangga) adalah pekerjaan biasa.

Menghabiskan hari-hari di rumah untuk merawat anak sekaligus menyelesaikan pekerjaan rumah yang itu-itu lagi sangat berpeluang membuat Ibu terjebak dalam rutinitas yang kaku, beku, dan membuat jenuh. Kadang Ibu membayangkan betapa menyenangkan jika Ibu bisa travelling dengan teman-teman seperti saat Ibu lajang. Namun sekarang hidup tak sesederhana itu.

Melihat rekan-rekan satu sekolah dulu sudah mencapai jenjang karir tertentu di perusahaan-perusahaan besar, atau menjadi pengusaha, atau sedang studi lanjutan di negeri lain, kadang-kadang bisa membuat Ibu kehilangan makna. Ibu mulai menilai diri Ibu sebagai orang biasa, yang tidak hebat, yang tidak keren, yang tidak bergengsi. Dan membuat Ibu perlahan-lahan melepaskan mimpi-mimpi dan standar-standar profesional seorang Ibu.

Ibu harus memasak masakan sehat agar keluarga sehat. Ibu harus menjaga kesehatan agar tidak sakit–karena keluarga membutuhkan Ibu. Ibu harus mengelola keuangan agar pemasukan seimbang dengan pengeluaran. Ibu harus mendidik dan memberi contoh baik agar anak ikut-ikutan menjadi baik.

Semua standar itu kalah oleh perasaan minder dan tak berharga.Self-esteem rendah, kebahagiaan Ibu menurun, Ibu pun akan sulit menjalani peran dengan baik.

Lalu Ibu merasa tidak perlu belajar, untuk apa seorang Ibu menjadi terpelajar? Lalu yang paling menakutkan, Ibu berhenti berdoa–padahal kunci langit ada di lisan Ibu yang tulus.

Ibu pun menjalani hari hanya untuk menanti malam tiba, lalu menghabiskan malam untuk istirahat agar cepat bertemu esok. Tak ada hari istimewa, setiap hari sama : penuh dengan rutinitas yang membosankan. Hilang sudah semangat bermain dengan anak, hilang sudah dorongan memasak makanan sehat, hilang sudah harapan untuk membangun keluarga hebat.

Ibu pun sepenuhnya menerima tanpa perlawanan, bahwa pekerjaan Ibu rumah tangga memang pekerjaan biasa.

Itulah musuh terbesar seorang Ibu, jauh lebih berbahaya daripada pornografi, kekerasan seks, penyimpangan perilaku seksual, kecanduan gawai, paham radikalisme, liberalisme, dan sederet permasalahan lain yang mengancam di luar sana.

Mengapa lebih berbahaya?

Karena yang harus dilawan adalah pikiran dan perasaan Ibu sendiri.

tulisan aslinya teh urfa 🙂

Hikmah · reblog · Selftalk

Tips Adil Dalam Berbicara

51a3a3f9aa01e421f2a7453a3828aa98
image from here

Kita sudah kenyang dengan nyinyiran-nyinyiran di media. Kalau nyinyir bisa dikonversi ke makanan, mungkin dunia kita sudah bebas dari bencana kelaparan. Membuat kesal, memang. Tapi, hidup di dunia, bersama miliaran manusia lain, tidak mungkin kita bisa membuat semua orang senang.

Yang kita tidak suka dari nyinyir adalah, seringkali isinya tidak adil dan berlebih-lebihan. Padahal, meskipun kita benci, kita tetap diharuskan untuk berbuat adil, bukan?

Perkara adil memang perkara yang rumit. Namun yang pasti, adil harus dimulai sejak dalam perasaan dan pikiran. Dalam berbicara, meski bermaksud nyinyir atau mengritik sekali pun, adil pun tetap perlu ditegakkan.
Sebagian besar kita sangat senang berbicara. Namun, tak banyak yang pandai berhati-hati. Sedang kehati-hatian adalah tangga menuju adil. Berikut beberapa tips untuk menjadi pembicara yang berhati-hati dan adil.

1. Menghindari penggunaan istilah yang mengandung kesan hiperbolis seperti : Selalu, nggak pernah, mana mungkin. Terutama ketika kita berbicara dengan emosi (emosi yang baik maupun yang buruk).

Contoh A :

a. “Anakku tuh ya, SELALU saja susah kalau saya ajak shalat ke masjid.”

Gimana kalau anaknya nyeletuk balik, “Ayah tuh, ya, SELALU saja melihatku buruk. Emang Ayah SELALU sempurna apa?”

b. “Suamiku NGGA PERNAH mengerti kalau aku capek mengurus rumah”

Definisi ngga pernah itu = kuantitasnya nol. Coba diingat lagi dengan lebih jernih, benar-benar ngga pernah atau ngga ingat?

c. “Apa katamu? Kamu akan berubah? MANA MUNGKIN!”

Ragu-ragu boleh, tapi jangan berlebihan juga sih. Nanti beneran ngga bisa berubah lagi.

d. “Aku SELALU suka penampilan kamu!”

Meskipun ini maksudnya memuji, tapi saya merasa ini kurang hati-hati. Selalu suka? Kalau lagi dasteran tetep suka ga?

Bandingkan dengan Contoh B:

a. Anakku sudah LEBIH DARI LIMA KALI ogah-ogahan kalau saya ajak ke masjid.

b. Suamiku JARANG bisa mengerti kondisiku yang capek karena ngurus rumah.

c. Apa katamu? Kamu akan berubah? Maaf, AKU SANGSI.

d. Aku SUKA penampilan kamu!

Coba perhatikan mana yang lebih enak dibaca dan lebih masuk akal, contoh A atau B?

Menurut saya, penggunaan istilah hiperbolis, baik dalam konteks negatif maupun positif, seperti dalam contoh A, berpeluang membuat subjek terjebak pada ketidakadilan juga generalisasi yang subjektif.

Kecuali memang datanya menunjukkan demikian. Misalnya : “Matahari ngga pernah telat terbit dan terbenam.” Ya ini mah memang objektif.

Hal tersebut bisa diminimalkan dengan memilih istilah yang lebih fair dan lebih objektif seperti beberapa contoh di contoh B.

Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.

2. Menggunakan kata “Sebagian, sekelompok, dsb” dan lebih berhati-hati dalam penggunaan keseluruhan populasi apalagi jika tidak didasari data.

Contoh A :

a. “SEMUA laki-laki itu sama saja! Kurang ajar SEMUA!”

Eh, emangnya sudah pernah bertemu semua laki-laki dari awal zaman Nabi Adam yang jumlahnya bermiliar-miliar?

b. “Muslim? MEREKA adalah teroris!”

Shahrukh Khan muslim lho, tapi dia bukan teroris, dia artis!

Contoh B :

a. “Di antara miliaran laki-laki yang ada di Bumi, kenapa aku bertemu dengan PARA LELAKI yang kurang ajar?”

b. “Ada KELOMPOK-KELOMPOK di kaum Muslim yang senang menebarkan teror”

Hmmm.. Kesan yang terbacanya berbeda bukan?

Penggunaan kata “sebagian” alih-alih “seluruh” untuk sesuatu yang tidak dapat dipastikan kebenarannya (kecuali dengan melakukan penelitian kepada seluruh populasi), akan membuat kita lebih berhati-hati dalam melabeli seseorang.

Stereotip muncul karena ketidakhati-hatian dalam membedakan mana yang persoalan individu, mana yang persoalan kelompok, mana yang persoalan populasi. Jangan terjebak.

3. Menyebutkan dengan spesifik objek atau subjek yang dimaksud, terutama kalau bentuk komunikasinya tulisan (seperti di medsos) supaya konteks tulisan ngga melebar, supaya nggak ada yang ge-er dan salah sangka.

Contoh A :

“Yang bodoh tapi ngerasa pinter makin banyak aja nih.”

Siapa sih yang dimaksud? #sensi. Setiap kita menulis di medsos, tulisan kita akan dibaca oleh ratusan hingga ribuan orang, bahkan lebih. Kamu ngga kepengen kan orang-orang itu merasa sakit hati dan kesal karena mengira ujaran “bodoh” kamu itu ditujukan buat mereka? Bisa-bisa mereka komentar balik, “Iya setuju! Salah satunya pembuat status ini!”

Karena itu, coba lebih spesifik deh. Ya tapi ngga perlu sebut nama juga sih. Harusnya memang ngga perlu juga ya ngomong nyinyir-nyinyir begitu. Tapi kalau sudah ngga tahan ingin nyinyir, nyinyirlah secara tepat sasaran.

Contoh B :

“Banyak orang berkomentar tentang apa yang tidak mereka ketahui. Merasa tahu, merasa pintar, merasa benar. Padahal sebenarnya tidak.”

Sama-sama nyinyir juga. Tapi subjeknya jelas, yaitu : Orang yang berkomentar tentang apa yang tidak mereka ketahui. Nyinyir akan lebih tepat sasaran.

—-

Memang, berbicara adalah salah satu bentuk kebebasan dalam berpendapat. Tapi, jangan lupa bahwa kebebasan adalah tanggung jawab yang tertunda. Apa yang kita bicarakan bisa berdampak luas, bisa baik bisa juga buruk.

Sebelum berbicara, berhati-hatilah memilih kata-kata. Agar di hari nanti, hidup kita tidak menjadi sulit karena lisan kita sendiri. Think before speak, think before type.

Wallahu a’lam bisshawwab.

tulisan asli dari teh urfa 🙂