Belajar · challenge · Hikmah · sejarah

Hikmah Mempelajari Sejarah : Mengenalkan Makna Cinta yang Sesungguhnya (2)

“Hidup dan matiku akan bersamamu
(Al hayatu hayatuk wal mautu mautuk).
(Fatimah binti Abdul Malik)

“ya Rasulullah, aku mencintaimu seperti aku mencintai diriku sendiri”, ucap Umar ibnu Khattab suatu ketika.

Rasulullah shallahualaihi wassalam tersenyum mendengarnya, beliau menjawab. “Tidak wahai ‘Umar. Engkau harus mencintaiku melebihi cintamu pada diri dan keluargamu.”

“ya Rasulullah, mulai saat ini engkau lebih kucintai daripada apapun didunia ini”. Jawab Umar dengan lantang.

Begitu mudahkah bagi orang semacam Sayyidina ‘Umar ibn Al Khaththab menata ulang cintanya dalam sekejap? Begitu mudahkah cinta diri digeser kebawah untuk memberi ruang lebih besar bagi cinta pada Sang Nabi? Dalam waktu yang sangat singkat, hanya sekejap.

“Ternyata cinta” kata ustad Salim A Fillah dalam bukunya Jalan Cinta Para Pejuang, “bagi Sayyidina ‘Umar adalah kata kerja. Maka menata ulang cinta baginya hanyalah menata ulang kerja dan amalnya dalam mencintai. Ia tak berumit-rumit dengan yang ada dalam hati. Biarlah hati menjadi makmum bagi kerja-kerja cinta yang dilakukan oleh amal shalihnya”.

Fatimah binti Abdul Malik adalah simbol wanita terhebat dan ternyaman hidupnya pada zamannya. Bagaimana tidak? ayahnya adalah khalifah, kakaknya menjadi khalifah, adiknya menjadi khalifah, dan suaminya pun adalah seorang khalifah. Sebuah anugerah yang membuat banyak orang mengharapkan sekiranya mereka seberuntung Fatimah binti Abdul Malik.

Umar bin Abdul Aziz, suami dari Fatimah binti Abdul Malik pun bukanlah seorang yang biasa. Ia adalah putra Abdul Al-Aziz bin Marwan bin Hakam, Gubernur Mesir saat itu. Lahir dari keluarga ningrat membuatnya terbiasa hidup dalam standar kelas bangsawan. Harga bajunya 130 dinar atau setara dengan 260 juta (1 dinar, terbuat dari emas 22 karat dengan berat 4,25 gr, dengan taksiran kasar 1 dinar sama dengan 2 juta rupiah pada saat ini). Ketika beliau bersekolah di Madinah, Pamannya Abdul Malik bin Marwan, setiap bulannya memberi uang saku 2000 dinar/bulan (setara 4 milyar hari ini). Parfum yang dipakainya seharga 1000 dirham, bahkan orang-orang tahu bila Umar pernah melewati suatu jalan hanya karena wangi parfumnya.

Namun apa yang terjadi ketika Umar bin Abdul Aziz dengan terpaksa di baiat menjadi seorang khalifah, menggantikan khalifah sebelumnya, Sulaiman bin Abdul Malik yang baru saja wafat?.

“Para pecinta sejati tak suka berjanji”, kata Anis Matta dalam serial cintanya, “tetapi, begitu mereka memutuskan untuk mencintai, Mereka akan segera membuat rencana untuk memberi”. Dan Umar bin Abdul Aziz membuktikannya, bahwa ialah sang pecinta sejati.

Cinta pada Rabb-nya dan cinta yang besar pada rakyatnya mengubah gaya hidup Umar bin Abdul Aziz.

Setelah di baiat menjadi khalifah, ia memanggil istrinya. Fatimah binti Abdul Malik, ia berkata kepada istrinya, “Wahai Fatimah, jika engkau menginginkan Allah dan Rasulnya maka bersiap siaplah untuk hidup denganku. Dengan kehidupan yang berbeda dari kehidupan kita sebelumnya. Namun jika engkau menghendaki kemewahan dunia dan harta, maka kemarilah dan aku berikan kepadamu namun setelah itu kita berpisah”.

Umar menyadari bahwa Fatimah, istrinya adalah seorang wanita yang sedari kecilnya tidak pernah merasakan hidup susah. Maka ia tidak ingin memaksakan keinginannya kepada istrinya.

Lalu dijawab oleh Fatimah dengan mantap, “Hidup dan matiku akan bersamamu (Al hayatu hayatuk wal mautu mautuk).” Dari sini kita sama-sama mengetahui, bahwa Umar tidaklah sendiri berjuang untuk menjadi seorang pecinta sejati di negri yang diamanahi kepadanya.

Maka hiduplah mereka dalam kesederhanaan bahkan sangat sederhana. Kehidupan yang membuat para petugas pemberi zakat di negerinya kesulitan untuk membagi-bagikan zakat penduduk di sana. Para petugas pemberi zakat ini kesulitan, mereka kesulitan untuk mencari orang-orang fakir miskin yang berhak diberikan zakat. Karena semua penduduknya tidak ada yang memenuhi kriteria sebagai golongan yang berhak menerima zakat. Pemberian cinta Umar bin Abdul Aziz berbuah keberkahan bagi negerinya.

“Kalau cinta berawal dan berakhir karena Allaah,
maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada Nya,
pengenjawantahan ibadah hati yang paling hakiki:
selamanya memberi yang bisa kita berikan,
selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai.”
(M. Anis Matta)

Jauh beribu tahun setelahnya dan beribu kilometer jaraknya, di sebuah negeri kepulauan yang bernama Indonesia, kita pun dapat menyaksikan beragam episode romantis dari pembuktian cinta oleh mereka para pejuang untuk satu kemerdekaan Indonesia.

Salah satunya saya temukan di buku Leiden!-nya kang Dea Tantyo. Apa yang lebih romantis, dari surat cinta yang ditulis oleh seorang pejuang kemerdekaan kepada istrinya yang diselipi kata meredeka dengan format capslock dan tambahan tanda seru?.

bismillahirrohmannirrohiim, MERDEKA! Dinda sayang, terima kasih atas surat Dinda yang menyenangkan hati itu. Dalam keadaan yang sesungguhnya merupakan bala, masih juga dapat kita menyaksikan nikmat Allah yang dalam kesukaran dapat juga memberikan kelapangan.

Kanda seperti yang sudah kerap dinda katakan, rupanya diperlakukan Allah dengan istimewa, sebab itu baiklah kita bersyukur memuji Allah atas rahmat karunia-Nya yang terang terbukti dan dengan sabar menantikan dengan harap apa-apa takdir-Nya tentang itu.

Sementara itu yakinlah Dinda akan cinta kasih sayang kanda dan terimalah peluk ciumku dengan salam dan doa. Berkenaan dengan masa mendatang, tenangkan hati dengan harapan dan percaya kepada Allah Subhana wa taala. Tetap sabar dan tawakal.

(surat ini ditulis Haji Agus Salim untuk sang istri, Zainatun Nahar. Saat beliau tengah berjuang, menukar hidup demi kemerdekaan bangsa Indonesia).

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas Kelas Menulis Online (KMO) batch 14 :).

Advertisements
Belajar · challenge · Hikmah · sejarah

Hikmah Mempelajari Sejarah : Mengenalkan Makna Cinta yang Sesungguhnya (1)

Aku akan tetap bersama rakyat Indonesia, kalah atau menang
(K’tut Tantri)

Cinta jenis apa yang membuat seorang perempuan kelahiran Skotlandia dan berkebangsaan Amerika untuk turut serta dalam kemerdekaan suatu bangsa yang bahkan tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya?. Bermula dari kegalauan seorang perempuan bernama Murial Pearson yang memutuskan untuk pergi dan menetap di Bali setelah membeli tiket bioskop secara acak dan memutuskan untuk menonton film berjudul Bali: The Last Paradise.

Siapa sangka, keputusan spontanitasnya membawanya turut andil dalam proses perjuangan kemerdekaan Indonesia di Surabaya. Jika Bung Tomo melakukan agitasi untuk mengobarkan api semangat arek-arek Suroboyo. Perempuan bule ini, Murial Pearson, sejarah kemerdekaan Indonseia kemudian mengenalnya dengan K’tut Tantri mengudara dengan bahasa inggris menyiarkan upaya perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Dalam pengantar untuk Revolt in Paradise, Bung Tomo menyampaikan, Saya tidak akan melupakan detik-detik di kala Tantri dengan tenang mengucapkan pidato di muka mikropon, sedangkan bom-bom dan peluru-peluru mortar berjatuhan dengan dahsyatnya di keliling pemancar Radio Pemberontakkan.

Perjuangan membuktikan kecintaannya terhadap tanah air Indonesia bukanlah tanpa halangan, beberapa kali Tantri di tangkap, dipenjarakan dan diinterogasi panjang di dalam penjara. Keteguhan sikapnya untuk turut berjuang bersama rakyat Indonesia membuat tentara Indonesia di bawah pimpinan Bung Tomo berusaha untuk membebaskannya. Setelah bebas, ia diberi dua pilihan untuk kembali ke negerinya dengan jaminan pengamanan tentara Indonesia atau tetap berjuang bersama pejuang Indonesia.

Apa pilihannya? Apa pilihan dari seorang perempuan kelahiran Skotlandia, berkebangsaan Amerika yang sedang berada di negri orang, dan baru saja dibebaskan setelah beberapa hari lamanya disiksa dan diinterogasi panjang di dalam penjara?.

Tantri, wanita ini dengan mantapnya memilih pilihan kedua untuk tetap berada di Indonesia, bersama para pejuang Indonesia. Atas pilihannya, Tantri dipercaya untuk mengelola siaran radio perjuangan. Dalam siaran tersebut, Ktut Tantri menyeru dalam bahasa Inggris kepada negera-negara lain menceritakan upaya perjuangan kemerdekaan Indonesia. Suaranya mengudara tiap malam.

“Aku akan tetap dengan rakyat Indonesia, kalah atau menang. Sebagai perempuan Inggris barangkali aku dapat mengimbangi perbuatan sewenang-wenang yang dilakukan kaum sebangsaku dengan berbagai jalan yang bisa kukerjakan,” tulis K’tut Tantri dalam Revolt in Paradise.

Pilihannya untuk bergabung dalam perjuangan bangsa Indonesia meraih kemerdekaan itu membuat kalangan pers internasional menjulukinya “Surabaya Sue” atau penggugat dari Surabaya.

“Kemanusiaan itu”, kata bunda Helvy Tiana Rosa, “tak mengenal batas negara dan agama. Ia tumbuh dari keajaiban nuranimu tanpa sekat, tanpa musim”.

Cinta yang dimiliki Murial Pearson adalah cinta yang menjadikannya manusia. Senyata-nyata manusia yang lengkap dengan keberadaan hati nurani yang menuntunnya untuk turut adil dalam memperjuangkan kemanuasiaan.

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas Kelas Menulis Online (KMO) batch 14 :).

Dear · sejarah · Ukhuwwah

6 Juni

ukhuwah
pict from google

Suatu hari, di acara jamuan makan malam di kediaman Mr. Sartono, di Jatinegara. Berkumpul para sahabat Bung Karno, sekaligus sedikit perayaan atas kembalinya Bung Karno dari tempat pembuangan di Bengkulu.

Disana berkumpul Bung Hatta, para sahabat dan handai taulan. Terlebih ada Ny. Rachim beserta anaknya, Rahmi (17th), ramah tamah berjalan santai. Sampai usai, tak ada yang spesial, kecuali Bung Karno menatap lekat hadirin yang datang. Acara selesai.

Beberapa hari kemudian Bung Karno, datang ke rumah keluarga besar Ny. Rachim dan bertanya tiba-tiba, “Siapa wanita paling cantik di Bandung?”. Agak terkejut, Ny. Rachim menyebutkan satu persatu nama wanita cantik yang dikenalnya.

Waktu berlalu. Kemerdekaan diraih. Bung Karno datang kembali ke Bandung, berkunjung ke rumah Ny. Rachim. Saat itu malam hari. “Begini,” kata Bung Karno, “Saya mau melamar.” “Melamar siapa?” Tanya Ny. Rachim. “Rahmi”, jawab Bung Karno. “Untuk sahabat saya Hatta”

Ah, Soekarno – Hatta. Entah jenis persahabatan apa yang diperagakan para founding father kita. Debat, saling serang argumen, ketidaksetujuan, memenuhi hari-hari Soekarno dan Hatta. Tapi tak sekalipun menggeser persahabatan keduanya.

Dulu, di tahun 1956, Bung Hatta memutuskan untuk berhenti sebagai wakil Bung Karno, alasannya karena Bung Karno telah semakin otoriter. Mereka pun sering terlibat silang pendapat tajam. Tapi saat Bung Karno menjelang akhir hayat, dan dalam sebuah pertemuan terakhir, mereka berdua menangis, bergenggaman tangan, mengenang persahabatan panjang selama masa perjuangan.

Dan hari itu, di Bandung, Bung Karno rela datang malam hari ke rumah Ny. Rachim, demi memikirkan masa depan sahabatnya. Melamar Rahmi untuk Hatta.

Hatta pernah berjanji takkan menikah sebelum merdeka. Sejak saat itu Bung Karno mencatat dalam jiwanya masa depan sahabatnya, mempersiapkan pasangan untuk Hatta.

Bung Karno dan Bung Hatta adalah teladan persahabatan sejati. Bukan karena keduanya tak pernah bertikai, tetapi karena mereka tak pernah rela melepas tali persahabatan.

[“Teladan Indonesia – Persahabatan Abadi Soekarno – Hatta”, Leiden! karya Dea Tantyo.[

Surabaya, seratus tujuh belas tahun yang lalu. Dari pasangan Bapak Raden Soekami Sosrodiharjo dan Ibu Ida Ayu Nyoman Rai, lahirlah seorang bayi laki-laki yang bernama Koesno Sosrodiharjo.

Kelak, si Koesno Sosrodiharjo ini ditakdirkan Allah untuk menjadi perantara bagi kemerdekaan suatu bangsa yang telah dengan tabahnya mencicipi penjajahan selama lebih dari 3500 tahun lamanya. Yap, beliau lah sang Proklamator kebanggaan Indonesia :“))

Bekasi, dua puluh bla bla bla tahun yang lalu xP. Telah lahir seorang anak perempuan, anak kedua dari Ayah dan Ibu nya, serta menjadi adik perempuan bagi kakak laki-laki nya.

Kelak, si anak perempuan ini tumbuh mendewasa menjadi kebanggaan keluarganya :”)

dan menjadi salah satu sahabat terbaik yang Allaah takdirkan bagi beberapa orang di muka bumi ini, saya salah satunya alhamdulillaah :“)

jazaakillah khoiron ukhti :),
untuk pernah membuatku percaya bahwa aku tak sendiri, dan tidak pernah berjuang sendirian :”),

untuk rangkulan hangat, sapaan manis, dan genggaman tangan yang tak pernah lepas membersamai :“)

untuk yang terdepan mengingatkan ketika lalai, yang pertama hadir ketika sakit (ah, selalu bikin melting kalo inget ini, pas lagi sakit T_T), ketika tangan Ibu terlampau jauh untuk diraih, ada tangan anti yang dengan lembutnya membelai dan mengusap lembut tangan ini T__T.

untuk senantiasa mengingatkan, bahwa kite, walaupun di Solo, akhwat Jakarta, juga punya izzah dan iffah! :”), dan untuk merangkai mimpi bersama “besok, kalo kita balik ke jakarta, kita warnain jakarta sama warna kita ya ukh :)”

dan untuk semua doa, ucapan, perbuatan dan prasangka baik anti :“))

..persahabatan sejati bukan karena tak pernah bertikai, tapi karena tak pernah rela melepas tali persahabatan..

baarakaLlahu fii umrik ummah ‘Aliyah dan Ali :”))

semoga anti sekeluarga selalu juara sehatnya, juara semangatnya, dan full barokah dari Nya 🙂

aamiin.

uhibbukifillah :*

====

kenapa Soekarno?

karena anti selalu menjawab, “tanggal lahir ku sama kaya bung karno”.

:“)

Belajar · Harta Karun · reblog · sejarah · they're said

Darimana Kita Memulai Untuk Mentadabburi Sejarah Islam?

oleh Edgar Hamas

Beberapa waktu lalu, saya membuat Instagram Story tentang “3 Hal yang Menjadikan Sejarah Islam Inspirasi Hidupmu”, dan banyak teman-teman yang kemudian menanyakan, bukan bermaksud apa-apa, namun mereka merasa nyaman dengan sajian tadabbur sejarah yang sering kami tulis. Alhamdulillah.

Saya ingin sampaikan kepada teman-teman, mentadabburi sejarah itu seperti nonton film atau membaca novel. Bedanya, yang ini kenyataan, dan lebih menginspirasi. Permasalahannya adalah, masih sedikit sejarawan muslim yang menyajikan konten-konten sejarah dengan bahasa yang mudah dimengerti.

Pun, banyak sekali sejarawan ini yang berfokus tentang hal yang bertele-tele, seperti tanggal dan tahun yang begitu banyak, tokoh yang begitu rumit dikenali, dan pemilihan bahasan yang terlalu berat, seperti konflik kerajaan, politik, silsilah, dan banyak lagi; walaupun sebenarnya itu penting, namun takutnya, kita malah kehilangan hikmahnya.

Maka dari itu, izinkan dalam tulisan ini, saya ingin mengusulkan poin-poin, yang saya menikmatinya, tentang bagaimana dan darimana kita akan asyik mentadabburi sejarah.

Pertama, Mulailah dari Rasulullah ﷺ

Perjalanan hidup Rasulullah ﷺ itu, cool banget. Sangat menginspirasi. Hanya dalam waktu 22 tahun, seorang lelaki di kota tengah padang pasir Arabia, menjadi tokoh yang dikagumi oleh bangsa-bangsa di penjuru bumi.

Bacalah karakter Rasulullah ﷺ, kehebatannya, sifat-sifat beliau ﷺ yang diabadikan dalam Al Qur’an dan hadits. Penting: bacalah dengan sudut pandang kamu ingin mengenal seseorang yang kamu sangat menggemarinya. Buku-buku karya Ust Salim A Fillah akan menemanimu mengenal Rasulullah ﷺ dengan lebih bersahabat.

Kedua, kenali 10 Shahabat yang Dijamin Masuk Surga

Generasi Shahabat itu ada 100 ribu. Semuanya hebat-hebat, semuanya keren-keren, semuanya menggugah. Namun, ringkasannya bisa kamu dapatkan pada 10 sahabat yang dijamin masuk Surga. Mereka bukan nabi, bukan juga rasul, namun karakter dan perjalanan hidupnya akan mengilhami siapapun yang membacanya.

Seorang bisnisman akan nge-fans dengan Utsman bin Affan atau Abdurrahman bin Auf. Seorang aktivis pasti suka dengan gaya Umar yang jenius dan Abu Bakar yang prestatif. Seorang ilmuwan pasti akan jatuh cinta pada kehebatan Ali menganalisa dan menghasilkan fatwa. Dan masih banyak lagi.

Saya jatuh cinta pada 10 Shahabat ini ketika buku “10 Sahabat yang Dijamin Masuk Surga” yang ditulis oleh Muhammad Ahmad Isa. Tidak tebal, tapi bagus sekali penyampaiannya.

Ketiga, generasi sahabat pada umumnya.

Selain 10 sahabat yang dijamin masuk surga, masih sangat banyak sahabat-sahabat Rasulullah yang membuat saya pribadi tergugah untuk selalu menjadi pribadi yang hebat. Salman Al Farisi misalnya, sang pencari kebenaran. Bilal misalnya, seorang yang kokoh dalam keyakinan. Khalid bin Walid, The Warrior. Amr bin Ash, sang diplomat ulung.

Untuk membacanya, selalu, buku yang saya usulkan ke teman-teman adalah Biografi 60 Shahabat Rasulullah ﷺ karya Khalid Muhammad Khalid.

Keempat, tentang Pahlawan-pahlawan Islam sepeninggal Rasulullah.

Ini dia, yang masih harus banyak digarap oleh para sejarawan muslim. Generasi emas umat Islam tidak hanya menjadi gelar sahabat saja. Nyatanya, para pahlawan yang hidup di zaman keemasan Islam adalah tokoh-tokoh yang sangat enerjik dan mengagumkan. Seperti Imam Syafi’i, Nizamul Mulk, Shalahuddin Al Ayyubi, Muhammad Al Fatih, dan banyak lagi.

Ada banyak buku-buku yang membahas tentang pahlawan Islam ini, saya tidak bisa memilihkan salah satunya, sebab saya masih jatuh cinta pada buku “Miah Udzama Ummatil Islam Ghayyaru Majra At Tarikh” (100 Tokoh Umat Islam yang Mengubah Sejarah) karya Jihad Turbani.

Entah, sampai sekarang belum ada yang menerjemahkan, atau apa saya yang tidak tahu. Sebenarnya ada penerbit yang sudah menerjemahkan, namun belakangan diketahui belum minta izin ke Jihad Turbani. Ah, sayang sekali.

Teman-teman tapi masih bisa melihat terjemahan video-video Jihad Turbani dalam channel YouTube beliau, (جهاد الترباني) insyallah ada yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia walaupun belum semuanya.

Kelima, tentang Peradaban Islam

Teman-teman, kamu mungkin belum sepenuhnya percaya, dulu itu orang-orang Eropa disebut gaul kalo mereka pake bahasa Arab. Dulu itu, mata uang Islam jadi mata uang internasional, kapal-kapal kita ada di pelabuhan Italia, Inggris dan Perancis. Amerika Serikat pernah membayar pajak pada negeri Islam 70 tahun lamanya.

Darimana kita mengetahui itu? Dari bacaan-bacaan kita tentang peradaban Islam. Sejauh ini, pembahasan ini sangatlah sedikit dan masih perlu dikembangkan. Saya bertekad bisa mewujudkannya. Doakan yaa.

Namun, sebagai pembuka, teman-teman bisa membaca buku “Lost Islamic History” karya Firas Al Khateeb yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Banyak juha channel-channel YouTube yang membahas tentang peradaban Islam yang hebat ini. Search saja dengan keyword yang tepat.

Masih sangat banyak, fakta-fakta hebat Sejarah Islam yang jika kita mentadabburinya, akan membuat kita benar-benar bangga menjadi muslim, membuat kita bangun dari amnesia 500 tahun ini, dan kembali merebut takdir kemenangan kita.

Belajar · challenge · Harta Karun · Hikmah · Meracacacau · sejarah

Guru Sejarah

tumblr_okj0szey3f1th2yi3o1_1280

picture taken from here

Sebagian ulama berkata, “kisah adalah sebagian dari tentara Allah yang diturunkan ke bumi”. Dan bukankah lebih dari separuh ayat Al Qur’an diturunkan dalam bentuk kisah-kisah umat terdahulu?“
–status FB mba Fitry Ratnasari-

Bismillaah,

Sejak dua tahun yang lalu sampai dengan saat saya menulis tulisan ini, saya mempunyai sebuah keinginan baru. Ingin menjadi guru sejarah!. Kalimat ini pernah saya tulis sekitar dua tahun lalu ketika menulis review dari sebuah buku leadership series yang sangat keren.

Kenapa guru sejarah? Saat menuliskan review tersebut saya juga katakan, betapa saya sangat ingin menceritakan kisah-kisah kepada adik-adik generasi muda masa kini, tentang betapa kita baik sebagai seorang muslim ataupun sebagai Warga Negara Indonesia pernah memiliki masa-masa kejayaan. Masa kejayaan yang tidak begitu saja didapat atau diberikan, ada banyak kisah perjuangan dan pengorbanan yang mendahuluinya. Semangat berkontribusi untuk bisa mengulang kembali masa-masa kejayaan ini yang ingin sekali saya tularkan kepada adik-adik masa kini :”). Pun juga, perasaan bangga sebagai seorang Muslim dan sebagai orang Indonesia yang sedini mungkin ingin saya tempelkan lekat-lekat kepada adik-adik generasi muda saat ini.

“Tidak ada yang baru di muka bumi ini”
[DR. Raghib Sirjani].

Maka, langit yang sedang menaungi kita hari ini, adalah juga langit yang sama yang menaungi Rasulullaah shallahu ‘alaihi wassalam ketika pertama kali menerima wahyu sebagai seorang Nabi dan Rasul juga kelak sebagai pemberi syafaat bagi kita, umatnya di akhir zaman ini. Juga langit yang sama, yang menaungi perjuangan beliau dan para sahabat hingga bisa mewarnai islam ke hampir 2/3 bagian bumi :”).

Matahari yang sedang menyinari kita saat ini, juga adalah matahari yang sama, yang menghangatkan Panglima Jendral Soedirman keluar masuk hutan dengan hanya sebuah paru-parunya yang berfungsi baik, walau harus ditandu oleh para ajudannya, bergerilya demi menunjukkan kepada dunia Internasional, bahwa Negara Indonesia masih ada dan belum sama sekali bertekuk lutut, walaupun Sang Presiden kita saat itu sudah berada dalam tawanan Pemerintahan Belanda. Juga Matahari yang sama yang menemani The Grand Old Man, KH. Agus Salim berangkat menghadiri Konferensi ILO di Jenewa, Swis. Beliau sampaikan pidatonya dengan sangat berani. Paragraf 1 pidatonya, beliau sampaikan dengan bahasa Belanda, paragraph 2 dengan bahasa Inggris, paragraph 3 dengan bahasa Jerman dan paragraph 4 dengan bahasa Prancis!. Pidato Agus Salim yang berisi gugatan atas kekejaman tanam paksa Belanda ini mampu membuat Amerika dan beberapa Negara Eropa tidak mau lagu membeli hasil kebun Hindia Belanda, yang perlahan membuat perekonomian Belanda terpuruk dan Indonesia mulai menjejaki perjuangan kemerdekaan. Allahu Akbar, Merdeka!:”)

Dan saya yakin, matahari yang teriknya sering di-keluh-i oleh kebanyakan dari kita saat sedang mengkritik pedas kondisi bangsa dan negara ini, adalah juga matahari yang sama yang menemani Bapak Proklamator kita menyampaikan teks proklamasi sebagai deklarasi atas kemerdekaan bangsa dan negara ini.

Setiap guru punya gaya mendidiknya masing-masing. Dan apakah kamu tahu apa salah satu “lahjah tarbiyah”, apa gaya Dzat Sang Mahabesar untuk mendidik manusia? Jawabannya: Mengisahkan sejarah. “Belajar sejarah secara umum, dan sejarah Islam secara khusus adalah kata kerja untuk generasi Robbani”, kata DR. Raghib Sirjani. [edgarhamas]

Hasil dari sebuah proses pembelajaran, baik itu belajar sejarah atau belajar hal apapun adalah mampu membuat kita semakin tunduk meng-hamba kepada Nya, dan tentu juga berhasil menggerakkan kita untuk dapat mengaplikasikannya dalam sebuah amal. Belajar sejarah bukan hanya tentang bagaimana mengingat sebuah kisah, tokoh, waktu kejadian atau peristiwa. Lebih dari itu, bagaimana dengan belajar sejarah kita mampu mentadabburi dan mengambil sebanyak-banyaknya hikmah dari setiap ketetapan kehendak-Nya yang telah terjadi.

Maka untuk bisa belajar sejarah dengan baik, selain dengan banyak membaca dan mendengar. Tentu harus juga dekat-dekat dengan Sang Pemilik Ilmu, meminta kepada-Nya untuk dapat ditunjukkan ilmu yang bermanfaat dan yang membawa keberkahan. Tidak buru-buru menarik kesimpulan sebelum membaca lebih banyak referensi juga bisa menjadi kunci keselamatan.

Dalam dunia digital seperti saat ini, setiap penuntut ilmu akan makin dimanjakan dengan kemudahan dan kecepatan dalam mengakses materi apapun. Hal ini bisa membawa keutungan namun juga bisa membawa malapetaka sekaligus. Kebenaran dan kebatilan sebuah informasi semakin terlihat abu-abu warnanya. Berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan sebuah informasi menjadi sangat utama. Ini yang masih menjadi PR utama bagi saya pribadi, bagaimana menahan diri untuk tidak terburu-buru menelan sebuah informasi tanpa dikunyah terlebih dahulu.

saat menuliskan ini,
saya belum mempunyai anak sendiri :”))
namun, keinginan untuk menjadi guru sejarah itu semoga tetap bergelora sampai nanti kelak Allaah mengizinkan beberapa hamba-Nya lahir dari rahim saya :D, minimal menjadi guru sejarah bagi anak-anak saya kelak. Saat ini sudah mulai latihan, menjadi guru sejarah dari seorang remaja berusia 17 tahun, adik semata wayang yang alhamdulillah walaupun terpakasa, wkwk dengan ridha mendengarkan saya bercerita.


Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas Nice Home Work (NHW) Program Matrikulasi Institute Ibu Profesional #Batch 5 Jakarta 4. Materi 1: Adab Menuntut Ilmu.

Harta Karun · Hikmah · reblog · sejarah

Mengenang Aurangzeb dan Tanggung Jawab Atas Cinta

bibi-ka-maqbara-116
This is not Taj Mahal. It’s Bibi Ka Maqbara. Photo credit

oleh Muamar Salim

Ada yang tidak mengenal Taj Mahal? Bangunan megah yang dibangun oleh Syah Jehan, Raja Mughal, untuk istrinya yang telah wafat. Bangunan ini dibuat sebagai hadiah terakhir untuk sang istri, dan tempat bersemayamnya jasad sang istri. Orang-orang banyak menyebutnya sebagai monumen cinta paling legendaris. Maka tak aneh ketika bangunan ini dinobatkan sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia.

Atas bangunan megah ini, Syah Jehan pun disebut-sebut sebagai salah satu raja paling romantis. Dan kisah asmaranya dengan sang istri juga disebut-sebut sebagai salah satu kisah paling legendaris sepanjang masa. Maka Syah Jehan, istrinya, dan Taj Mahal dikenang sepanjang masa sebagai satu paket kenangan atas cinta.

Ada yang menarik ketika kita lebih cermat membaca sejarah tentang hal ini. Tentang sebuah kisah cinta yang lebih agung yang diperankan oleh karakter lain. Kisah yang tak banyak dielu-elukan sejarah. Karena yang lebih menarik bagi sejarah untuk dicatatnya adalah kisah cinta yang melankolis dan dramatis seperti Syah Jehan, istrinya, dan Taj Mahal.

Maka di sudut sejarah tentang melankolisme cinta ini tersebutlah Aurangzeb. Anak sang raja, pemangku tahta sepeninggal ayahnya yang tak banyak dikenangi orang di abad sekarang. Hal itu wajar, karena ia seperti menjadi antitesis bagi sejarah romantisme ayah dan ibunya. Aurangzeb, setelah ia memegang tahta Mughal, ia penjarakan ayahnya. Begitu yang tertulis pada sejarah populer.

Aurangzeb memenjarakan ayahnya bukan tanpa alasan. Tapi dengan alasan yang kuat dan rasa cinta yang agung menuntutnya melakukan itu. Meski ia pun berat hati untuk melakukannya. Tapi baginya, cinta selalu memiliki prioritas. Ayahnya, Syah Jehan, demi membangun Taj Mahal sebagai hadiah untuk istrinya, dia biarkan puluhan ribu budak hindu mati dalam masa pembangunannya. Demi membangun Taj Mahal sebagai bentuk cinta untuk istrinya, dia habiskan semua pemasukan negara dan membiarkan bertahun-tahun kas negara kosong hingga tak mampu melakukan fungsi pelayanan pada rakyatnya.

Aurangzeb merasakan ada berkah yang hilang dari negaranya. Maka saat ia mengampu tahta kerajaan, dia jalankan kewajiban yang berat itu; menghukum ayahnya sendiri. Mungkin sejarah akan mencatat Aurangzeb sebagai penguasa yang bengis bahkan kepada ayahnya sendiri. Tapi Aurangzeb punya pemahamannya sendiri atas tanggung jawab dan cinta. Ayahnya pun tak dibiarkan semena-mena di dalam penjara. Ia utus saudara perempuannya untuk selalu menemani dan merawat ayahnya di penjara. Dan saat ayahnya meninggal ia pun menguburkan jasad ayahnya di samping ibunya di Taj Mahal sebagai bentuk penghormatan atas cinta mereka berdua.

Aurangzeb memimpin negara dengan apa adanya. Ia tak banyak mengambil untung dari pemasukan negara. Penghasilan utamanya malah berasal dari anyaman topi yang dia buat dan jual, serta jasa menyalin teks al qur’an. Pada masa pemerintahannya pemasukan tahunan negara mencapai seratus juta rupee, yang menurut para sejarawan adalah yang terbesar di seluruh dunia pada masa itu. Pada pemerintahannya pula, wilayah kekuasaan kerajaan Mughal adalah yang terluas dari raja-raja sebelumnya dan sesudahnya.

Aurangzeb tak banyak meninggalkan peninggalan-peninggalan megah untuk dikenang orang-orang sesudahnya, sebagaimana kebiasaan raja-raja sebelumnya. Bangunan termegah yang pernah dibuatnya adalah masjid Badshahi di Lahore, yang selama 330 tahun menjadi masjid terbesar di dunia. Ada satu lagi bangunan yang dibuat di masanya. Bibi Ka Maqbara. Bangunan persemayaman untuk istrinya. Bangunan ini tak secara langsung diperintahkan dibuat olehnya melainkan atas permintaan anaknya, Azam Shah, untuk menandingi kemegahan Taj Mahal. Tentu saja Aurangzeb menolak, dan melarang para pekerja mengangkuti batu-batu dalam perjalanannya. Tapi karena anaknya merajuk, maka Aurangzeb mengalokasikan dana hanya sebesar 700 ribu rupee untuk pembangunannya.

Maka jadilah bangunan ini dan dinamai Bibi Ka Maqbara, tempat persemayaman sang wanita. Bangunan ini tampak mirip dengan Taj Mahal tapi sangat berbeda jauh dari sisi arsitektur dan kemewahan. Wajar saja, dengan anggaran hanya 700 ribu rupee, yang dibandingkan dengan Taj Mahal yang memakan 32 juta rupee. Padahal pemasukan negara tiap tahun pada masa pemerintahan Aurangzeb sekitar 100 juta rupee. Tapi ia menyadari bahwa kekayaan negara itu bukan miliknya semata. Bahkan makam raja yang shalih ini pun tak seperti makam raja-raja sebelumnya yang megah-megah. Terletak beberapa kilometer dari Bibi Ka Maqbara makam istrinya, makamnya rata dengan tanah, dengan tenda kayu sebagai peneduh yang terbuka sisi-sisinya. Sangat sederhana untuk ukuran seorang raja.

“Aku datang seorang diri, dan pergi seperti orang asing. Aku tak tahu siapa diriku ini, dan apa yang telah aku lakukan,” ujarnya pada Azam Shah anaknya di masa-masa menjelang wafatnya. Tak ada kebanggaan baginya yang terlalu besar untuk bisa ia sombongkan. Kita belajar tentang makna cinta dari Aurangzeb. Bahwa cinta sejatinya adalah tanggung jawab. Cintanya pada ayahnya membuatnya harus bersikap adil, memenjarakan ayahnya atas kedzaliman pada budak-budak hindu saat membangun Taj Mahal. Tapi ia juga memperlakukan ayahnya dengan layak selama di penjara, dan dimakamkan bersama ibunya sebagai bentuk penghormatan yang tinggi. Cintanya pada rakyatnya membuatnya harus semaksimal mungkin melayani rakyatnya. Mengambil gaji secukupnya, dan bahkan penghasilan utamanya dari menjual anyaman topi dan salinan al qur’an. Cintanya pada Tuhannya, membuatnya tak menjadi sombong sebagai seorang raja, maka ia menghadap pada Tuhannya dengan apa adanya, dengan makam yang rata dengan tanah dan sangat sederhana.

Di Indonesia hari ini, kita merindukan pemimpin yang tahu tanggung jawabnya. Pemimpin yang tahu bahwa cinta berarti memberi. Bahwa mencintai rakyat, berarti bekerja untuk kesejahteraan rakyatnya.

Harta Karun · Hikmah · reblog · sejarah

Mahkamah Samarkand

samarkand
Samarkand – The Capital of Tamerlane

oleh Hafidz (fatihfatah.tumblr.com)

Setelah Qutaibah bin Muslim dan pasukannya menaklukan Samarkand yang terletak di Uzbekistan. Maka, Samarkand menjadi kawasan dari kekhalifahan islam yang saat itu Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifahnya. Kita tau bahwa Umar bin Abdul Aziz adalah cicit dari Umar bin Khattab. Dan kedua Umar ini termahsyur akan kepemimpinannya, ke-zuhud-annya dan karena keadilannya. Bahkan Khalifah Umar bin Abdul Aziz berusaha mengembalikan kondisi negara dan kekhalifahan yang saat itu bergelimang harta dan kemewahan kembali kepada keadaan saat bagaimana 4 khalifah pertama memimpin (Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib).

Maka pemuka pemuka Samarkand yang tidak terima atas islam yang berlaku di negeri mereka mencari ide bagaimana agar Samarkand kembali ke seperti sedia kala sebelum Islam masuk dan menguasai. Sampailah mereka pada suatu ide, bahwa mereka mengetahui bahwa khalifah Umar bin Abdul Aziz terkenal sebagai orang yang adil. Maka mereka memutuskan bahwa jika memang pemimpin kaum muslimin saat itu orang yang adil, ada kesempatan mereka untuk menggugat kaum muslimin di pengadilan.

Diutuslah perwakilan pemuka Samarkand berangkat ke Damaskus, suriah untuk “mencari keadilan” dari khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Kejadian di Damaskus

Sesampainya perwakilan pemuka Samarkand di Damaskus, ia terbelalak dengan keindahan kota dan kehebatan gedung gedung megah yang menjulang di Damaskus. Rumah rumah yang bagus, Masjid yang megah dan istana yang besar. Dengan meminta bantuan penduduk sekitar, perwakilan pemuka Samarkand itu meminta ditunjukkan rumah Khalifah bin Abdul Aziz.

Dalam bayangannya dengan kekuasaan kekhalifahan Islam pada saat itu yang membentang dari Spanyol sampai mendekati China, dengan ibu kota pemerintahan yang megah, maka sudah pastilah pemimpin kaum muslimin adalah seorang besar yang sangat disegani. Namun sampailah mereka pada suatu rumah biasa dimana ada sepasang suami istri yang sedang memperbaiki dinding rumah mereka. Sang suami sedang menambal dinding dengan lumpur dan sang istri mengaduk lumpur. Dan yang mengantar perwakilan pemuka Samarkand itu mengatakan, “inilah rumah Khalifah”. Sampai sampai ia tidak percaya.

Setelah Menjadi Khalifah

Fatimah binti Abdul Malik adalah istri dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Simbol Wanita terhebat dan ter-nyaman hidupnya. Ayahnya adalah khalifah, kakaknya menjadi khalifah, adiknya menjadi khalifah, dan suaminya pun pada akhirnya menjadi khalifah. Benar benar sebuah anugerah dan membuat banyak orang mengharapkan sekiranya mereka seberuntung Fatimah binti Abdul Malik. Lahir dan besar dari keluarga khalifah, anak dari khalifah, saudara khalifah dan istri dari khalifah.

Umar bin Abdul Aziz pun tidak kalah mewahnya. Lahir dari keluarga ningrat membuatnya terbiasa untuk hidup dalam standar hidup “kelas bangsawan”. Sebagai contoh harga bajunya 130 dinar atau setara dengan 260 juta (1 dinar, terbuat dari emas 22 karat dengan berat 4,25 gr, dengan taksiran kasar 1 dinar sama dengan 2 juta rupiah pada saat ini). Ketika beliau bersekolah di Madinah, Pamannya Abdul Malik bin Marwan, setiap bulannya memberi uang saku 2000 dinar/bulan (setara 4 milyar hari ini) untuk Umar bin Abdul Aziz. Parfumnya, bahkan cara jalan Umar pada saat itu menjadi trend anak anak muda.

Namun yang terjadi ketika Umar bin Abdul Aziz di bai’at menjadi khalifah, segera setelah pulang dari pemakaman dari Sulaiman bin Abdul Malik maka pasukan pengawal khalifah sudah menyambut Umar bin Abdul Aziz lengkap dengan kuda terbaik bagi sang Khalifah baru. Dan Umar bin Abdul Aziz segera bertanya

“Apa ini semua?” tanya Umar.

“Ini adalah kendaraan khalifah” jawab pasukan pengawal

“Jual ini semua, masukkan hasi penjualannya ke baitul mal dan bawa kan kepadaku bhigal (peranakan kuda dan keledai)” perintah Umar.

Setelah di bai’at menjadi khalifah, ia pun memanggil segera istrinya. Fatimah binti Abdul Malik, wanita yang hidupnya dari kecil tidak pernah susah. Dan ia katakan kepada istrinya “Wahai Fatimah, jika engkau menginginkan Allah dan Rasulnya maka bersiap siaplah untuk hidup denganku. Dengan kehidupan yang berbeda dari kehidupan kita sebelumnya. Namun jika engkau menghendaki kemewahan dunia dan harta, maka kemarilah dan aku berikan kepadamu namun setelah itu kita berpisah”. Lalu dijawab oleh Fatimah “Hidup dan matiku akan bersamamu (Al hayatu hayatuk wal mautu mautuk)”.

Maka hiduplah mereka dalam kesederhanaan bahkan sangat sederhana.

Sesuatu Yang Tidak Ada Di Peradaban Lain

Maka menghadaplah perwakilan pemuka Samarkand kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

“Ya Khalifah, saya datang dari Samarkand untuk mengadukan suatu perkara dan meminta keadilan” kata perwakilan pemuka Samarkand

“Apa itu?” tanya Khalifah.

“Bukankah dalam islam sebelum pasukan muslim menaklukan suatu wilayah mereka akan memberikan 3 pilihan? Untuk masuk islam, jika tidak maka membayar jizyah, jika tidak maka berperang?” tanya pemuka Samarkand.

“Begitulah Rasul kami mengajarkan” Jawab Khalifah

“Maka kami meminta keadilan atas apa yang dilakukan pasukan muslimin di Samarkand yang tidak lebih dahulu memberi kami pilihan tersebut dan langsung menyergap kami” adu sang pemuka Samarkand.

Khalifah langsung menulis surat sangat pendek dan singkat, dan mengatakan “bawa surat ini kepada wakilku di Samarkand” perintah khalifah kepada pemuka Samarkand

Maka dibawalah surat tersebut ke gubernur Samarkand, dan ketika dibaca isinya adalah “adililah antara Qutaibah bin Muslim dan Masyarakat Samarkand” dan Khalifa menunjuk Hakim Jumaiy bin Hadzir Al Baji untuk memimpin pengadilan tersebut.

Maka dipanggilah Qutaibah kembali ke Samarkand, karena setelah berhasil menaklukan Samarkand, Qutaibah segera bergegas untuk misi dakwah selanjutnya.

Kembalilah Qutaibah bin Muslim ke Samarkand sebagai orang yang digugat oleh pemuka Samarkand. Dan dimulailah pengadilan tersebut.

Hakim : Benarkah sebelum memerangi Samarkand engkau tidak lebih dulu memberikan pilihan kepada mereka?

Qutaibah : Benar, namun saya punya alasan. Perang adalah penu tipu daya. Samarkand yang bertanah subur dan makmur ini jika aku berikan pilihan maka mereka akan punya kesempatan untuk membangung kekuatan untuk mengalahkan kami sehingga kami kalah dari mereka. Oleh karena itu aku tidak memberikan pilihan dan langsung menaklukannya.

Hakim : Bagaimanapun alasanmu namun Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk memberikan pilihan terlebih dahulu. Berarti dalam kasus ini engkau yang bersalah, maka sekarang. Tarik mundur seluruh pasukanmu dari Samarkand, dan ulangi kembali dari awal (penaklukannya) dengan memberikan pilihan terlebih dahulu

Kita tidak pernah melihat kepatuhan seperti ini bahkan keadilan seperti ini di peradaban lain. Maka Qutaibah tanpa banyak berbicara langsung memerintahkan seluruh pasukannya keluar dari Samarkand dan bersiap mengulangi penaklukannya.

Melihat fenomena keadilan dan budi pekerti luhur dari pemimpin sampai pasukan kaum muslimin. Maka segera dengan tanpa paksaan para pemuka Samarkand akhirnya mengucap dua kalimat syahadat dan masuk islam.

Notes : Ditulis kembali oleh saya dengan bebas setelah mengikuti kajian Ustadz Herfi Ghulam Faizi Lc, Penulis buku Umar bin Abdul Aziz 29 Bulan Mengubah Dunia. Semoga Allah melindungi saya dari kebodohan dan kesalahan dalam menyampaikan.

reblog · sejarah · Ukhuwwah

Innamal Aqshaa ‘Aqiidah

INNAMAL AQSHAA ‘AQIIDAH

oleh Fauzia Azzahra

Sesungguhnya Al Aqsha adalah aqidah. Begitu syiar yang dijunjung ratusan warga Timur Tengah ketika unjuk rasa bebaskan Al Aqsha dari tangan penjajah.

Sempat saya bertanya-tanya mengapa masyarakat Palestina menolak memasuki Masjid Al Aqsha melalui gerbang elektronik yang dipasang penjajah Israel. Bukankah yang terpenting adalah mendirikan sholat di dalamnya? Menghidupkan rumah Allah dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat? Dan sebagai muslim, tentu tidak mungkin masuk masjid dengan membawa logam atau senjata berbahaya, bukan?

Berikut catatan yang saya coba pahami dari tulisan Ketua Persatuan Ulama Palestina wilayah Khon Younis Muhammad Sulaiman Nashrullah dengan sedikit tambahan.

1. Bahwasanya keadaan Masjid Al Aqsha yang tanpa azan dan sholat tidak akan membahayakan umat beriman (yang memang hatinya telah terpaut akan kewajiban dan kebutuhan ini). Bahkan kita bisa lihat bagaimana mereka tetap mengumandangkan azan di pelataran masjid dan menggelar shaf panjang tuk mendirikan shalat. Masjid Al Aqsha akan senantiasa baik-baik saja dengan segudang upaya penutupan dari penjajah Israel selama penduduknya juga senantiasa menolak persyaratan-persyaratan dari penjajah. Mengapa demikian?

Sebab yang membahayakan Masjid Al Aqsha adalah ketika kita memasukinya dengan hina. Kita bukan kriminalis yang harus diperiksa ketika hendak beribadah.

2. Memasuki Al Aqsha melalui gerbang elektronik bukan satu-satunya jalan membebaskan masjid. Justru memasukinya sama saja kita membiarkan penguasaan penjajah Yahudi menang di atas kita. Jika untuk demikian saja kita lemah (menurut pada peraturan Yahudi), entah bagaimana ke depannya paksaan-paksaan penjajah merebut Al Aqsha. Dan entah bagaimana semakin tamaknya Yahudi terhadap tanah dan jiwa Palestina.

3. Sesungguhnya menetap di luar Al Aqsha dan memperjuangkannya sampai perang hingga syahid merupakan jihad yang mashlahah. Serta menganjurkan orang-orang beriman untuk turut memperjuangkan bebaskan Al Aqsha dan mendirikan sholat di dalamnya dengan kemuliaan.

4. Penolakan warga Al Quds juga menyingkap dan membongkar kepalsuan terhadap permukaan dunia selama ini. Menjelaskan bahwa siapa sebenarnya yang menjajah dan merebut Al Aqsha secara paksa? Hingga untuk azan dan sholat di dalamnya saja dilarang. Hingga untuk memasukinya saja harus melalui cara yang tak patut. Menjauhkan Al Aqsha dari penghuninya secara perlahan namun kejam.

5. Memohon untuk sholat di dalam Masjid Al Aqsha kepada penjajah berhati batu tidak menghasilkan kemuliaan apa pun. Sebaliknya, yang demikian justru melukai kemuliaan dan kehormatan. Bahkan disebutkan dalam tulisan aslinya perbuatan tersebut tidak mendatangkan pahala, justru menodai diri dengan dosa; karena pada dasarnya secara tak langsung mengakui kekuasaan musuh Allah. Apa Allah dan Rasul-Nya ridho?

6. Sesungguhnya kewajiban kita hari ini adalah membebaskan tanah Nabi bermi’raj itu. Membebaskan Masjid Suci ketiga umat Islam. Membebaskan masjid kedua yang dibangun di bumi ini dari penjajah Israel. Baik dengan senjata ataupun kata. Bukan rela sholat di dalamnya dengan mematuhi perintah musuh. Barang siapa yang masih berleha-leha dari memperjuangkan (membebaskannya), maka perlu dipertanyakan fitroh dan pemahamannya. Apa sudah terbalik dan berpenyakit

Maka wahai Abnaul Quds, pilihan kita hanya dua, sholat di Masjid Al Aqsha dalam keadaan mulia atau melawan penjajahan hingga syahid meski di ambang pintu Al Aqsha. Tidak ada kesempatan untuk lemah, tunduk dan pasrah terhadap aturan-aturan penjajah!

Demikian pesan yang disampaikan Muhammad Sulaiman. Catatan yang cukup menjawab pertanyaan saya perihal Al Aqsha. Maka tak ragu saya mencatumkan judul demikian. Bahwa benar, urusan Palestina adalah urusan umat Islam. Perkara Al Aqsha adalah perkara keyakinan yang harus diperjuangkan. Hingga tak ragu kita teriakkan, “Bir ruuh, bid dam, nafdhiika yaa Aqsha!”, dengan ruh dan darah kita persembahkan untuk Aqsha. Dan tak ragu pula kita perjuangkan cita-cita bersama, hidup mulia atau mati syahid!

Allahu ta’aala a’lam.

Hikmah · KisahSahabat · reblog · sejarah

Kami Menamai Anak Kami Untuk Musuh-Musuh Kami dan Menamai Budak Kami Untuk Kami Sendiri

Para orang tua akan berusaha memberikan nama terbaik bagi buah hati mereka. Sampai-sampai ada buku khusus yang hanya berisi nama-nama. Buku itu dibua agar para orang tua mudah memilihkan nama yang mulia. Hal ini berlaku sedari dulu, kecuali di masyarakat Arab jahiliyah.

Membaca buku-buku sejarah bangsa Arab atau syair-syair Arab klasik, kita akan jumpai nama-nama yang buruk ,mengerikan, dan tidak disukai. Seperti nama nenek moyang orang Quraisy, termasuk nenek moyang Nabi ﷺ, adalah Qushay bin Kilab bin Murrah. Sedangkan Nabi ﷺ bersabda,

“Sedangkan nama yang paling buruk adalah Harb dan Murrah.” (HR. Abu Dawud, Bab Pengubahan Nama, No. 4950).

Kita juga tahu nama kakek sahabat yang mulia Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu adalah Harb.

Kilab artinya anjing-anjing. Murrah artinya pahit. Dan Harb artinya peperangan.

Nama-nama Arab lainnya adalah Sahm yang artinya anak panah. Alat untuk membunuh. Ada yang namanya Duqaisy, binatang kecil. Kemudian Muqatil (pembunuh), Muharib (orang yang berperang), Dharar (membahayakan), Asad (singa), Namr (macan tutul). Ada pula seorang sahabat yang namanya Hanzhalah yang artinya buah yang sangat pahit. Ada yang namanya Hazn (kasar) diganti oleh Nabi ﷺ dengan Sahl (lembut), dll.

Di sisi lain, mereka namai budak-budak mereka dengan nama yang indah dan bermakna baik. Seperti, Marzuq (yang diberi rezeki), Mahbub (yang dicintai), Falah (yang sukses), Farah (yang bahagia), Najah (yang berhasil), Salim (yang selamat), dll.

Tentang hal ini, Abu Duqaisy al-Kilabi pernah ditanya, “Mengapa kalian (orang-orang Arab) menamai anak-anak kalian dengan nama-nama yang buruk. Seperti Kalb (anjing) dan Dzi’bun (srigala). Sementara budak-budak kalian dinamai dengan nama-nama terbaik. Seperti Marzuq dan Rabah?”

“Kami menamai anak-anak kami untuk musuh kami. Dan menamai budak-budak kami untuk kami,” jawab Abu Duqaisy al-Kilabi.

Maksudnya adalah anak-anak mereka dibutuhkan pada saat bertempur menghadapi musuh. Nama-nama itu disebut dengan lantang di medan perang untuk menggertak dan membuat mental musuh ciut. Di sisi lain, nama-nama itu untuk mengangkat moral pasukan sendiri. Ketika nama Muqatil (sang pembunuh) dipanggil dengan lantang di medan tempur, maka akan menimbulkan kesan di barisan musuh. Dan kebanggaan di barisan pasukan sendiri.

Sedangkan budak-budak mereka, dibutuhkan siang dan malam. Budak-budak itu selau bersama mereka di rumah. Mereka senang menyebut nama-nama yang baik itu untuk melayani mereka.

Bimbingan Islam

Islam memerintahkan umatnya untuk membaguskan nama anak. Dan sudah semestinya kaum muslimin memilih nama-nama yang dicintai oleh Allah ﷻ. Nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman. Nama yang paling benar adalah Harits dan Hammam…” (HR. Abu Dawud, Bab Pengubahan Nama, No. 4950).

Pelajaran

Pertama: Orang Arab menamai anak mereka dengan nama buruk bukan untuk mendoakan keburukan bagi si anak. Tapi untuk menjadikan mereka sebagai ancaman para musuh. Walaupun demikian tetap diganti oleh Rasulullah ﷺ.

Kedua: Tidak semua orang yang hidup di masa jahiliyah memperlakukan budak mereka dengan buruk.

Ketiga: Islam mengganti nama-nama buruk dengan nama yang baik, apapun alasan penamaan tersebut.

Keempat: Para orang tua hendaknya memperhatikan arti dari nama-nama yang mereka berikan kepada anak-anak mereka. Walaupun dari bahasa Arab, bisa jadi maknanya buruk.

Daftar Pustaka:
– Harb, Thalal. TT. Syarh Diwan Muhalhal bin Rabi’ah. Ad-Dar al-Amaliyah.
– al-Qalqasynadi. 1987. Shubh al-A’sya fi Shina’ah al-Insya. Damaskus: Dar al-Fikr.
– al-Qahthani, Said bin Ali. 2015. Panduan Lengkap Tarbiyatul Aulad. Solo: Zamzam.

…. 

tulisan asli diambil dari sini

Harta Karun · sejarah

Tahukah Kamu?

tumblr_opo0iw8XOW1th2yi3o1_400tumblr_opo0iw8XOW1th2yi3o2_400tumblr_opo0iw8XOW1th2yi3o3_400tumblr_opo0iw8XOW1th2yi3o4_400tumblr_opo0iw8XOW1th2yi3o5_400

tumblr_opo0iw8XOW1th2yi3o6_400
image from here

“Sebagimana kamu adalah akumulasi orang-orang di sekitarmu, maka zamanmu kini jugalah akumulasi dari zaman-zaman sebelummu.”

 

oleh Eghar Hamas

Apa yang membuat di kota-kota Indonesia, alun-alun kota selalu diiringi di hadapannya balai kota dan di hadapannya yang lain dibangun masjid agung?

Semua itu tidak terjadi secara mendadak. Para Sunan, mereka adalah perintis tata kota Jawa pertama-tama, merangkai alun-alun berdampingan dengan pendopo jua masjid agung, sebagai lambang; bahwa Islam dan politik tak bisa dipisahkan. Sebagai simbol; bahwa negarawan yang hebat tetaplah hamba Allah yang Mahaagung, dan di saat yang sama pula, para Ahli Ibadah haruslah jua mengisi panggung-panggung negara.

Di lain negeri, sebuah puncak bersalju di Spanyol berdiri tegak. Ia putih bersih, meninggi di hamparan lembah hijau dan padang rumput. Nama puncak itu adalah Almanzor, masyhur sebab ia dikunjungi para pendaki gunung di seantero Eropa. Sekedar nama kah? Tidak. Ia, dahulunya adalah markas tentara Islam yang dipimpin oleh Hajib bin Mansur, titik tertinggi Spanyol sekaligus terdekat dengan Perancis. Ya, Al Manshur menjadi Almanzor.

Di kepulauan Malta dekat Italia, ada sebuah monumen bernama Point Dragut, kebanggaan penduduk Malta karena di tempat itu, musuh terbesar mereka yang gagah berani dibunuh oleh ksatria salib. Dragut adalah pelaut perkasa yang membuat lonceng gereja Italia berhenti berdenting kala kapalnya singgah di pelabuhan Venesia dan Genia. Mitos saja kah? Tidak, tempat bernama Point Dragut itu adalah tempat dimana seorang Mujahid Khilafah Utsmani bernama Turgut Reis menjemput syahidnya. Ia, berhasil menyelamatkan ribuan muslimin Andalusia dari kekejaman kristen Spanyol. Kesyahidan datang ketika ia memberantas markas perompak di Malta, yang sayang, sejarah indah itu dibuat kabur.

“Sebagimana kamu adalah akumulasi orang-orang di sekitarmu, maka zamanmu kini jugalah akumulasi dari zaman-zaman sebelummu.”