Meracacacau · Tarbiyah · Uneguneg

Mengais Hikmah-Nya

Bismillahirrohmannirrohiim..

“mba oct, aku ngerasa di sini kok gimana gitu yaa,
Aku tak lagi membina dan berkecimpung dalam aktivitas dakwah,
Gak kaya duluu, rapat-mabit, T_T hampaaaa”

Isi whatsapp dari salah satu adik [yang mengambil pilihan untuk merantau ke salah satu kota penyangga Jakarta]  beberapa waktu yang lalu..

Surat Sakti

Salah satu hal yang mungkin akan sangat terasa,
Ketika kita mulai melangkahkan kaki keluar dari gerbang kampus,
Dengan membawa ‘surat sakti’ yang menjadi awalan dimulainya perubahan-perubahan itu.

Sebuah surat beramplop putih dengan nama kita tertera lengkap dan jelas di depannya,
Sebuah surat yang juga menjadi pintu dibukanya dunia baru itu..
Haha ini terlalu lebay :p

Tapi sejatinya,
Inilah yang saya rasakan..
Ketika bertahun-tahun kau tak perlu repot mencari bahan obrolan untuk teman-teman ‘se-lingkaran’mu,
Ketika bertahun-tahun kau pun tak perlu berfikir panjang untuk merencanakan bagaimana caramu untuk bisa hadir ontime di ‘kencan’ rutinan mu,
Ketika bertahun-tahun dengan mudahnya bisa langsung berbagi, bercerita, berpergian bersama dengan teman se-lingkaran..
Ketika bertahun-tahun terbiasa,

Kini, dengan perantara surat sakti itu,
Akan ada banyak pelajaran baru yang harus segera dipelajari.!

Menunggu minibus yang juga tak kunjung datang walaupun hampir satu  jam berdiri di pinggir jalan.
Menembus kebun tebu dan kebun jati dengan jalanan yang menyerupai jalanan offroad 😀
Ditemani pasukan Photuris lucicrescens yang menari-menari dengan cahaya terangnya di sepanjang jalanan beraspal yang mulai sepi dilewati kendaraan…
*ketika jam setengah tujuh malam disana, berasa jam setengah sepuluh malam disini :p*
Blusukan melewati gang-gang sempit di padatnya perkampungan di Ibu Kota,
Sampai berjalan santai sambil tersenyum melewati bapak satpam penjaga di depan salah satu kompleks perumahan besar, melewati rumah-rumah indah dengan pagarnya yang hampir semuanya menjulang tinggi ditambah deretan mobil-mobil yang berbaris rapih di setiap sudutnya :).

Alhamdulillah,
Selalu ada saja cara-Nya untuk membawaku ke ‘kencan rutinan’ itu,
Dan selalu ada saja kepingan hikmah dan pengalaman baru di setiap perjalanan menujunya 🙂

Bahkan lewat cara yang  tak terlintas sedikitpun dipikiran,
Seperti diboncengin naik motor gede sama umahat ‘perkasa’, hehe 😀
Atau dianterin dan di iringi sama adek-adek TPA naik sepeda 😛
Alhamdulillah semuanya nyata dan menjadi kepingan tersendiri dalam susunan puzzle  dalam merangkak perlahan di jalan ini 🙂

Dan lagi-lagi,
Semuanya bermula dari surat sakti itu.

 

Mencari Amanah

“mba.oct sekarang kesibukannya apa?”

Tanya seorang, eh lebih tepatnya beberapa orang adik tingkat di berbagai media..
Apa kesibukan saya? Haha malah jadi balik nanya ke diri sendiri -_-‘

+ “kalo sekarang, bukan lagi kita yang dimintai amanah dek,. Tapi kita yang menjemput berbagai amanah itu. Kuncinya tetap bergerak untuk mencari ladang amal”

-“berarti kita yang cari-cari ya mba?”

+ “yupz, kita yang pro aktif. Tanya-tanya tentang kondisi dakwah disini (di lingkungan tempat kita berada) dan tanyakan apa yang bisa kita bantu?. Hati-hati, kelamaan ga menyibukkan diri dalam agenda kebaikkan bisa kurang menyehatkan buat ruhiyah diri. Takutnya malah jadi terbiasa dan keasyikan ‘ga sibuk’ dan parahnya kalo kita sampai menarik diri dari agenda-agenda kebaikan yang ada di depan mata”

Huuffttt…

Stabilooo-in, garis bawahi dan dikasih tanda pentung yang banyak.
“Kuncinya tetap bergerak untuk mencari ladang amal”.

Tiba-tiba jadi teringat dengan BBM dari salah satu adik,
“ada beda gak mba, hidup di kota mungil sama di kota metro?”
“hehe, beda. Mungkin terasa berbeda karena atmosfer perekenomiannya (?) juga berbeda,..

*atmosfer perekonomian disini berkorelasi dengan biaya yang akan dikeluarkan untuk satu kali makan, haha yang dipikirin tetep harga satu porsi makanan, maklum masih mental anak kost 😛*

..tapi seringkali lebih menikmati saat-saat masih di solo atau di gunkid. Ketika ‘letakkan dunia di tangan dan akhirat di hati’ lebih terasa ringan untuk di realisasikan.” Jawabku saat itu.

Berada di dalam ruang udara yang pekat oleh gairah berlomba akan dunia, akan melunturkan kepekaan untuk membedakan mana yang haq dan mana yang bathil, mana yang halal dan mana yang haram.
(gurunda ust. Salim A Fillah dalam Lapis-Lapis Keberkahan)

Beberapa bulan menjalani hidup di kota kelahiran yang notabene merupakan salah satu kota metropolitan di negri ini, membuatku secara sadar merasakannya sendiri. Ketika atmosfer ‘gairah berlomba akan dunia’ terasa sangat pekat disini..

Lalu kemudian,
Apa mau menyalahkan kotanya?
Atau mau menyalahkan  orang-orang di dalamnya?

Hehe..
Ga gitu juga kan?

Karena ternyata kuncinya,
Bukan terletak dimana posisi kita berada sekarang,
Bukan pula sebagai apa kita sekarang,
Tapi, ada di dalam diri kita sendiri.

Bagaimana kita menyikapi perubahan yang ada dan sikap apa yang bisa kita ambil untuk mengarahkan agar perubahan itu menjadi jalan kita menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Atau minimal menjaga diri untuk tetap dalam keadaan ‘baik’.

 

Merasa Sendiri

“selalu begini, padahal udah hampir setahun disini, tetep aja merasa sendiri, ga punya teman. Bukan Cuma merasa, nyatanya mereka memang sudah punya dunia sendiri T.T huwaaaa…”

“aku ngerasa sendiri mba :’(..masalahnya disini aku kan hanya kenal sama teman-teman liqo aja. Dan hanya seminggu sekali ketemu, diluar liqo seolah kami seperti punya urusan masing-masing.”

Hampir mirip kan dua pernyataan diatas? 😛

Sebenarnya malu untuk mengakuinya, tapi pernyataan yang pertama adalah isi keluhan yang saya sampaikan lewat SMS kepada salah satu sahabat sekaligus penasihat bijak saya, hihi. Dan pernyataan kedua dikirimkan oleh salah satu adik sholeha yang saat ini sedang berada di suatu daerah yang istimewa disana 🙂

Saya hampir ga bisa menahan senyum, waktu membaca pesan yang disampaikannya di whatsapp tadi malam. Berasa dejavu, dan berusaha membayangkan seperti apa si penasihat bijak saya ketika beberapa waktu yang lalu menerima pesan galau saya sore itu. 🙂

Disetiap masa
Disetiap tempat
Selalu ada sosok teman.
Ketika rasa sendiri mulai terasa,
Ketika teman mulai menghilang,
Saatnya cari teman yang lain.
Kita bisa menjadi teman bagi seseorang,
Namun karena banyak alasan,
kita akan menemukan ada orang-orang yang kelak akan menjadi teman kita,
atau sekedar kita temani.

Dengan kondisi seperti itu,
Kita tahu satu hal yang pasti: Allah akan selalu ada.
Dia akan selalu menemani,
Selalu membersamai,
Dan tak akan pergi.
Kecuali kita sendiri yang meninggalkan-Nya.

Dan inilah balasan yang diberikan sahabat saya waktu itu.
Yang kemudian saya forward ke adik sholeha yang tadi..

Hanya berselang beberapa detik,
Si adik sholeha membalas dengan emot menangis 😥
Dan dengan emot yang sama juga saya membalas pesan dari sahabat saya waktu itu..

Menangis, bukan hanya terwujud dalam emot di aplikasi. Nyatanya waktu menerima pesan diatas saya menangis tersunggukan. Its so deep. Seperti mendapat siraman air dingin yang kemudian menyadarkan saya..

Astaghfirullahaladzhim..

Ternyata benar,
Berasa ga sih?,
Ketika kita sedang merasa sendiri,
Saat itulah kita mulai menyadari hadir-Nya dan keberadaan-Nya yang sangat dekat.
Dan kita lebih merasakan perasaan sangat membutuhkan-Nya..

Allahu Robbi..

Tidakkah kita sadar,
Jangan-jangan ini merupakan salah satu cara-Nya menyadarkan kita,
Kalau lagi-lagi dan selalu memang hanya Dia satu-satunya tempat kita bersandar dan menaruh semua asa.
Bukan keluarga, bukan sahabat, dan juga bukan Murobbi.
Tapi hanya Dia, one and the only one tempat kita bersandar.

Dan saat rasa sendiri itu datang menyapa,
Mungkin Dia sedang rindu,
Rindu kita untuk datang mendekati Nya, mengadu pada Nya, menceritakan semua hal pada Nya, meminta pertolongan-Nya dan juga meminta untuk selalu ditemani oleh-Nya..

T.T

Ya Robbi..

 

Lebay

“tau gak saat lebay itu bikin kita mudah mengingat Allah, merasa betapa kita itu lemah”

‘lebay’ adalah istilah yang saya tunjukkan kepada diri saya sendiri ketika lagi labil, gak karuan, lagi galau parah, yang ujung-ujungnya ngirim sms sambil nangis.. *haha lebay bangat kan 😛

Dan yang nyebelin,
Semenjak ada rasa sendiri itu muncul dan menyapa,
Sahabat karibnya ikut-ikutan datang dan menyapa, >_<
Dan perkenalkan, namanya: Sensitif.

Entah kenapa,
Saya berasa kalo tingkat sensitifitas saya bertambah,
pasca menjalani kehidupan diluar gerbang kampus.
Mungkin karena faktor ke’terbiasa’an diatas.

Sensitifnya,

Saya jadi mudah terbawa suasana ketika menemukan hambatan-hambatan yang aslinya sepele ketika saya sedang dalam keadaan stabil -_-‘

Seperti,
ketika harus berangkat sendiri untuk menuju tempat tatsqif,
ketika harus sendirian yang membersamai acara rihlah adik-adik,
ketika ternyata benar-benar sendirian di sebuah acara temu kader, yang tak satupun kau mengenal wajahnya. Bahkan teman satu halaqoh atau Murobbi sendiri tak kunjung kau temui wajahnya.

Hal-hal sepele ini yang bisa membuat saya jadi lebay,
Menangis dan mengeluhkan semuanya..

Padahal nih ya,
Kalo mau merenung sejenak,
Sejenak ajaa..
Juga bisa ada banyak hal baik yang bisa dapatkan, walaupun kita sendiri 🙂
Seperti perjalanan yang lebih cepat, karna ga pake janjian atau tunggu-menunggu dulu *dasar akhwat, haha*
Seperti lebih khusyuk mendengarkan dan mencatat  materi, karna ga ada temen buat diajak ngobrol, hehe *klo ini kebiasaan saya :p*
Atau bahkan kita bisa menemukan dan berkenalan dengan teman baru :),
malah lebih asyik kan 🙂

***

PS: peluk terhangat untukmu saudari-saudariku yang sedang merasa sedih dan sendiri. Eh tau gak? Katanya perasaan merasa sendiri itu cuma mitos lhoo.. :P. iya ternyata Cuma mitos, jadi jangan dipercaya yak? 😛

Karena kamu memang ga pernah akan sendirian, selalu ada Dia yang menemani, dan juga siap sedia insyaaLlah hamba-hambaNya yang standby untuk siap dibagi ceritanya oleh kamu, iya kamu :).

 

Advertisements
Selftalk · Uneguneg

Agen Muslim

“kemarin waktu naik commuterline, di deket pintu ada dua orang mba-mba akhwat berdiri mba,. Jilbabnya besar. Terus waktu minum, mereka juga jongkok dulu sebelum minum.”

Kata adik saya memulai ceritanya..

“nah disebelah aku pas ada mba-mba ****** (ga perlu disebutkan lah yah :D, yang intinya jika dilihat sekilas ada kemungkinan besar mereka bukan muslim), mereka ngomong sambil bisik-bisik. Tapi karena aku disebelahnya pas, aku denger mereka ngomong apa”

“mba-mba yang satunya bilang: ‘ihh emang ga panas apa yah, ditutup begitu. Gua aja yang ngeliatnya udah gerah. Mana baju panjangnya bangat lagi. Terus juga mau minum aja ribet bangat yah? Minum mah tinggal minum ajah ya, ngapain pake jongkok dulu. Hehe kalo gua pengen nyuruh mba-mba nya maen ke rumah gua, terus ngepel rumah gua pake bajunya (yang panjang itu)”

“Terus septi ngapain?” tanyaku pada adikku yang mengakhiri ceritanya..

“septi cuma diem, nunduk ke bawah aja” jawab adikku lugu..

Allahu Akbar!

Saya juga memang hanya terdiam saat mendengar adik saya menceritakan hal diatas.

Diam,
namun ada sesuatu di dalam diri ini yang terasa sakit, ingin marah, sekaligus sedih dan ingin menangis.
Semuanya memiliki rasa yang sama kuatnya, bergemuruh di dalam dada.
“yaa Allah” seru ku dalam hati.

“kasihan yah mereka sampe kegerahan gitu ngeliatnya, padahal mah kita yang pake jilbab mah biasa aja ya dek?” tanyaku.

“iya, tau tuh” jawab adikku menyepakati pernyataanku.

Sengaja menanyakannya,
Hanya memastikan bahwa adik semata wayang tidak terpengaruh atas apa yang baru di dengarnya tadi.

 

Instropeksi.

Memang tidak bisa dipungkiri,
Rasanya marah sekali waktu mendengar cerita (nyata) diatas.
Namun kemudian, timbul pula sebuah pertanyaan: apa yah, yang membuat mereka sampai ‘tega’ mengatakan hal itu kepada kita?

Klo mau menggunakan logika sekalipun,
Jelas tidak ada interaksi antara mba-mba akhwat dengan mereka yang merugikan mereka.

Ah iya,
Mungkin mba-mba itu pernah mengalami trauma dengan orang yang penampakannya mirip atau menyerupai kedua mba akhwat tadi. Mungkin.. trauma itu yang kemudian membuatnya bisa dengan cepat men-judge orang-orang yang kemudian memiliki penampilan yang sama akhwat tadi.

Mungkiiiinn lho yah…

Berbeda dengan mereka,

Kalo kita orang islam, dicontohkan sama Rasulullah saw untuk bisa mengedepankan prasangka baik, kepada siapapun. Jadi ga berani gituh gampang nge-judge orang, apalagi yang baru ketemu.

 

Agen muslim

Menjadi agen muslim yang baik,
Begitu kira-kira point utama yang bisa saya ambil dari bukunya mba Hanum Salsabila Rais “99 Cahaya di Langit Eropa”.

Suka ga suka,
*seharusnya sih suka, hehe
Kita sebagai seorang muslim,
Apalagi kita muslimah,
Akan selalu membawa kemana-kemana identitas diri kita sebagai orang Islam, kemanapun kita pergi.

Jadinya perlu ga sih punya sikap jaim?
Uhmm.. saya rasa itu penting dan butuh.
Eits, tapi bukan jaim yang menjadikan kita munafik lho ya?!
Na’udzhubillahmindzalik..

Jadi misalnya begini,
Kalo dulu kita punya kebiasaan yang super ekspresif dalam meluapkan amarah atau ketidaksukaan kita akan sesuatu melalui lisan kita,

Ketika kemudian kita sudah tahu mengenai pentingnya menjaga lidah, menahan amarah dan menjaga perasaan saudara kita, perlahan-lahan ketika rasa marah itu sudah meluap-luap minta dikeluarkan, buru-buru kita istighfar, tahan diri dengan tetap diam. Dan segera ambil wudhu jika memungkinkan..

Pokoknya mengendalikan diri kita, supaya tidak sampai mengeluarkan kata-kata yang membuat kita menyesal telah mengucapkannya.

Tappii ituu sulit?
Emaaanngg..

Tapi insyaaLlah, klo terus pelan-pelan dipraktekkan, nanti bisa jadi kebiasaan baru kita.
insyaaLlah.

Jaim seperti ini yang saya maksudkan,
Jaim untuk selalu berproses, untuk selalu melatih diri menjadi lebih baik,
Kepada siapapun, dimanapun dan kapanpun.

Karena,
Lagi-lagi setiap kita adalah cerminan bagi saudara muslim kita yang lainnya,
Dan tidak hanya sebatas cerminan untuk saudara muslim di Indonesia saja, tapi juga di seluruh dunia.

Pun juga dengan saudara-saudara muslim kita yang berarti adalah cermin bagi diri kita.
maka jika salah satu dari kita retak, pada siapa kemudian diri ini akan berkaca?

Seberapa besar cintamu pada saudaramu terukur dari seberapa kuat usahamu untuk menghindarkan saudaramu tersebut dari kelalaian dan perbuatan dosa. Begitu kata mba ‘sampai langit’ yang ditulisnya di rumah tumblr-nya 🙂

Lalu,
Ayo!
Kita sama-sama belajar untuk menjadi muslimah yang menyenangkan,
Bagi keluarga kita, sahabat-sahabat kita, tetangga kita, orang-orang yang mengenal kita, orang-orang yang tidak mengenal kita dan kepada seluruh makhluk-Nya di bumi ini..

Karena,
Islam itu Rahmatan lil ‘alamin,
Rahmat untuk semuanya..

Dan karena kita orang islam itu,
Maka kita-lah agen Rahmatan lil ‘alamin itu.. 🙂

 

Jakarta,
January 12, 2015
Ditemani rintik rahmat-Nya yang turun satu demi satu membasahi dan menyuburkan bumi,

Alhamdulillah.

PS: lagi-lagi dibuat bersyukur karena telah ditakdirkan untuk lahir sebagai muslim dan ditempatkan di Indonesia. Ga kebayang aja, kalo di sini si mba diatas Cuma bisa sebatas ‘ingin’, mungkin di tempat lain, sudah ada saudara-saudara kita yang diperlakukan seperti itu.. T.T

Allahummansur ikhwana al muslimiin, wal mujahidiina fi suriiya, fi falistiin, fi gaza, fi misry, fi turky, fi rohingya, fi kullii makaan wa kulli zamaan.. Aamiin.