Dear · Harta Karun · Meracacacau · reblog · they're said

Membeli Sepatu

Oleh mba avinaninasia.

Saya adalah tipikal perempuan yang malas berputar-putar keliling pusat perbelanjaan untuk berbelanja. Belanja apapun itu, termasuk membeli sepatu. Jika saya masuk ke mall (lebih tepatnya bukan mall-mall semacam Grand Indonesia, Plaza Indonesia ya.. haha) dengan niat membeli sepatu, maka yang saya lakukan adalah melihat detil satu toko yang saya kunjungi pertama, kemudian berputar-putar ke beberapa toko berikutnya.

Jika tidak ada yang cocok, maka dengan mudahnya saya akan menyimpulkan, saya tidak akan jatuh hati pada sepatu di toko manapun, karena saya anggap semuanya sama.

Namun, jika ada yang cocok pada sebuah sepatu pada satu toko, saya benar-benar tidak akan mau melihat-lihat toko sepatu lagi, karena sebuah alasan. Tidak mau menyesal.

Sepatu yang telah saya pilih dengan kombinasi model, ukuran, dan harga yang sesuai, adalah sepatu terbaik untuk saya, tanpa perlu dibanding-bandingkan lagi dengan sepatu yang akan saya temui di perjalanan keluar mall, jika saya masih melirik sepatu di toko lain.

Saya sudah lupa, hal itu berlangsung sejak kapan. Sepertinya, sejak saya hidup di kota ribuan mall, Jakarta. Yang jelas, saya agak kesal jika berbelanja dengan para ciwi yang hobi lirik-lirik toko setelah membeli sepatu, padahal dia tidak berniat membeli lagi, kemudian kebanyakan berakhir menyesal karena telah membeli sesuatu yang tidak lebih baik dari yang ia temui belakangan. Atau kadang saya juga kesal jika harus berbelanja dengan para ciwi-ciwi yang memutari seluruh sudut pusat perbelanjaan, kemudian berakhir membeli produk di toko yang pertama kali kita masuki. Dont get me wrong, saya tidak benar-benar kesal, hanya saya tidak memilih cara tersebut untuk menghadapi pusat perbelanjaan. ;p

Pada intinya, ada satu hal yang saya berusaha pegang teguh. Ketika sudah memutuskan berhenti mencari, maka hal yang perlu kau lakukan selanjutnya hanyalah mensyukuri apa yang kau miliki; mengingat bahwa apa yang kau miliki adalah yang terbaik untukmu, dengan segala kondisinya.

Syaratnya satu. Meminta pada Allah.

Sebelum memilih, Kau meminta pada Allah untuk mengarahkan pilihanmu.

Setelah memilih, Kau meminta Allah untuk menguatkan pilihanmu dengan segala hikmah-Nya.

Mungkin, di tengah perjalanan, kau akan menemui beragam pilihan baru, yang sudah (hampir) tidak mungkin dipilih, maka kau harus sadar betul, itu ujian yang teramat nyata. Tapi karena kau melibatkan Allah sejak awal, maka kau telah sadar bahwa kau tahu akan menemui ujian tersebut, dan yakin akan mampu menghadapinya.

Serius banget ya soal membeli sepatu? Ya. Saya kan anaknya emang serius. =P

tulisan mba anin dua tahun yang lalu :”), libatkan Allaah, yaa Rabbi :”””

*pict from google.

Advertisements
Hikmah · reblog · they're said

Marhaban ya Ramadhan

Sumber Tulisan :”).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “marhaban” diartikan sebagai “kata seru untuk menyambut atau menghormati tamu (yang berarti selamat datang).” Ia sama dengan ahlan wa sahlan yang juga dalam kamus tersebut diartikan “selamat datang.”

Walaupun keduanya berarti “selamat datang”, tetapi penggunaannya berbeda. Para ulama tidak menggunakan ahlan wa sahlan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan, melainkan “marhaban ya Ramadhan”.

Ahlan terambil dari kata ahl yang berarti “keluarga”, sedangkan sahlan berasal dari kata sahl yang berarti mudah. Juga berarti “dataran rendah” karena mudah dilalui, tidak seperti “jalan mendaki”. Ahlan wa sahlan, adalah ungkapan selamat datang, yang dicelahnya terdapat kalimat tersirat yaitu, “(Anda berada di tengah) keluarga dan (melangkahkan kaki di) dataran rendah yang mudah.”

Marhaban terambil dari kata rahb yang berarti “luas” atau “lapang”, sehingga marhaban menggambarkan bahwa tamu disambut dan diterima dengan dada lapang, penuh kegembiraan serta dipersiapkan baginya ruang yang luas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya. Dari akar kata yang sama dengan “marhaban”, terbentuk kata rahbat yang antara lain berarti “ruangan luas untuk kendaraan, untuk memperoleh perbaikan atau kebutuhan pengendara guna melanjutkan perjalanan.

”Marhaban ya Ramadhan berarti “Selamat datang Ramadhan” mengandung arti bahwa kita menyambutnya dengan lapang dada, penuh kegembiraan dan suasana nyaman kita.

Marhaban ya Ramadhan, kita ucapkan untuk bulan suci itu, karena kita mengharapkan agar jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah Ta’alaa :).

Belajar · challenge · Dear · Harta Karun · Hikmah · Meracacacau · reblog · Selftalk · they're said

Suami dan Kulkas

(((dear myself, please remember this)))

oleh Alifah Syamsiyah.

alkisah, ada seorang wanita yang akan menggugat cerai suaminya. tapi sebelum ke pengadilan, ia meminta nasihat terakhir kepada seorang ustadz, untuk lebih meyakinkan dirinya dengan keputusan besar yang akan ia buat. kepada sang ustadz wanita itu menceritakan semua keburukan suaminya: pekerjaan yang belum mapan, tidak bisa mengurus rumah tangga, tidak mahir mengurus anak, dsb.

di akhir cerita, ustadz itu berkomentar sederhana, “ibu, mohon maaf, tapi sepertinya ibu salah menggunakan barang.” wanita itu jelas tak mengerti, nih ustadz gimana sih, kan saya lagi cerita tentang suami, kok malah bahas barang, begitu batinnya.

seakan bisa membaca pikiran wanita tersebut, sang ustadz melanjutkan penjelasannya, “mungkin ibu bingung dengan perkataan saya. tapi coba sekarang ibu bayangkan. ibu baru saja membeli kulkas. kulkas merek terkenal dengan teknologi paling mutakhir. sayangnya, ibu malah mengutuki kulkas itu karena ia tidak bisa menyiarkan siaran berita, tidak bisa memutar video, atau mencuci piring yang kotor. kalau begini, yang salah si kulkas atau si ibu?”

wanita itu menyimak, masih belum menangkap maksud sang ustadz.

“jelas si kulkas tidak salah, karena ia diciptakan untuk menyimpan barang atau makanan agar tidak cepat busuk. kalau kulkas tidak bisa memutar video, seharusnya ibu tidak mengutuki kulkas karena itu bukanlah fungsinya.

begitu pula dengan suami ibu. tujuan utama dari pernikahan adalah mendapatkan ridho suami. jika pekerjaannya kini belum mapan, atau ia belum bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan sempurna, bersabarlah. setidaknya itu bukan fungsinya yang utama. setidaknya ibu tidak kehilangan fungsi utamanya: keridhoan suami. karena itulah kunci surga seorang wanita.

kalau saya boleh memberikan saran, coba ibu pikirkan baik-baik lagi keputusan ibu. saya punya tips sederhana yang bisa ibu lakukan sembari ibu memikirkan ulang keputusan besar ini. cobalah setiap malam, sebelum ibu dan suami tidur, tanyakan pada suami, “bang/a’/kang/mas, berapa persen keridhoannya sama aku hari ini?” kalau jawabannya belum 100%, coba ibu lakukan apapun yang bisa membuatnya ridho 100%. ibu bisa memijatnya, membuatkannya minuman hangat, dan hal-hal lain yang membuat keridhoannya utuh kembali. ibu tidak bisa menjamin kalau masih ada hari esok setelah ibu tidur malam itu, bukan? jangan sampai menutup hari tanpa membawa kunci surga dari keridhoan suami ibu.”

nasehat itu menggugah jiwa wanita itu. ia kembali ke rumahnya, tertarik untuk mencoba nasihat sang ustadz mulai malam nanti.

singkat cerita, beberapa hari setelahnya wanita itu kembali ke rumah sang ustadz dan menceritakan perubahan yang terjadi pada suaminya. setelah beberapa malam rutin menjalankan nasihat itu, perilaku suaminya perlahan berubah, ia menjadi semakin sayang pada dirinya, semakin giat bekerja, dan mengurus rumah tangga. ridho dan berkah Allah pun turun, meliputi keluarga mereka.

taat pada suami terkadang bukan perkara mudah, apalagi kalau keegoisan sedang menguasai jiwa.

tapi disanalah kunci surga berada. tak tanggung-tanggung, seorang istri yang taat diberikan keistimewaan untuk memasuki surga dari pintu mana saja yang ia suka!.

.

.

.
catatan: tulisan ini terinspirasi dari sebuah nasihat singkat yang disebarkan di whatsapp, sayangnya penulis tidak bisa mengecek sumber asli dari cerita ini.

Pict from Google.

Dear · Harta Karun · Hikmah · they're said

Mulia

Al Qur’an adalah kitab mulia yang memuliakan 🙂

Al Qur’an diturunkan Allaah kepada nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam, dan menjadikan Rasulullaah, Rasul paling mulia diantara para nabi dan rasul 🙂

Al Qur’an diturunkan di bulan Ramadhan, bulan yang penuh kemuliaan 🙂

dan Al Qur’an diturunkan pada malam lailatul qadr, malam paling mulia yang bernilai 1000 bulan 🙂

begitu juga,
bagi mereka yang hati, lisan dan perilakunya senantiasa terpaut dengan Al Qur’an, Allaah akan memuliakan mereka 🙂

“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahlul Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan hamba pilihanNya” (HR. Ahmad)

~ustadzah Aini 🙂

challenge · Dear · Harta Karun · Hikmah · they're said

Allaah Tidak Minta Kesempurnaan

nak.ig
image from here :”)

oleh NAK Indonesia

Ada pemikiran fatalistik yang berkembang di masyarakat dalam konteks pendidikan. Mungkin di antara kita pun ada yang pernah merasakan ditekan orang tuanya karena masalah peringkat di sekolah dengan ungkapan, “Lalu buat apa kami mengirimmu untuk bersekolah?” “Apa gunanya jadi peringkat kedua?”

Banyak anak yang tumbuh dengan budaya seperti ini akhirnya berpikir bahwa mereka baru berguna hanya jika menjadi yang terbaik. Jika tidak jadi yang terbaik, maka mereka tidak berguna. Banyak orang yang tidak bisa lepas dari cara berpikir ini hingga dewasa dan mengalami depresi.

Depresi ini kemudian tidak hanya berpengaruh dalam konteks pendidikan saja. Namun berpengaruh juga kepada kepribadian mereka, misalnya terhadap akan jadi orang tua seperti apa mereka, akan jadi suami atau istri seperti apa mereka, bahkan bisa juga berpengaruh pada kehidupan beragama mereka.

Mereka bertanya kepada diri mereka, “Kalau saya bukan orang yang terbaik imannya, apa gunanya beribadah?” Mereka akan putus asa untuk beribadah, termasuk salat. Kita pun sering mendengar alasan mengherankan. “Saya kan bukan manusia sempurna, saya tidak bisa menjalankan semua ajaran agama ini!” Cara berpikir seperti akan hancur hanya dengan satu kata yaitu, “ahsanu amala” (QS. Al Mulk ayat 2). Ada beberapa terjemahan ayat “Ayyukum ahsanu ‘amalaa” ini dengan “siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.” Terjemahan ini kurang tepat. Yang lebih tepat adalah “Siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.”

Ahsanu adalah “Ism Tafdhiil lil Muqooronah” yang tujuannya untuk perbandingan. Kata Ahsanu bukan “Af’alu Tafdhiil” karena “Mudhoof” . Kata Ahsanu di sini juga tidak menggunakan “Alim Laam Ta’riif”. Jika disebut, “Al-ahsanu ‘amalaa” seperti pada, “Bil-alkhsariina ‘amaalaa” maka baru bermakna paling (superlatif) sehingga artinya adalah terbaik. Jika tidak ada “alif Laam Ta’riif”, maka maknanya adalah perbandingan (komparatif) sehingga artinya adalah lebih baik.

Perbedaan penerjemahan ini membawa konsekuensi serius mengenai apa yang Allah inginkan atas kita. Sebab ada perbedaan antara “lebih baik” dan “terbaik“. Hanya mungkin ada satu saja yang terbaik, tidak mungkin ada dua orang yang terbaik. Sebab “Terbaik” berarti nomor satu. Padahal selalu akan ada orang yang lebih baik daripada kita.

Dari sisi individu saja kita tidak bisa mengatakan, “Akhirnya, saya menjadi yang terbaik yang saya bisa.” Karena mungkin besok kita bisa melakukan yang lebih baik lagi. Yang dapat kita katakan adalah, “Alhamdulillah, hari ini saya bekerja lebih baik.” Kalau kita bandingkan antarindividu, setiap orang berbeda ketika melakukan yang lebih baik. Ada yang melakukan lebih baik secara perlahan, yang lain bisa dengan cepat.

Sebagian ada yang bersedia memberi semua harta mereka demi Allah, sebagian orang lain hanya dapat memberi satu persen apa yang mereka miliki, dan itu tetap lebih baik daripada tidak ada. Tidak masalah.

Semua orang membuat kemajuan dengan jalan ceritanya masing-masing. Ini adalah hal yang indah dan rahmat yang Allah tetapkan dalam agama ini bahwa Allah tidak meminta kesempurnaan, tetapi perbaikan. Bukan melihat siapa yang terbaik, tetapi melihat siapa yang mengambil langkah untuk memperbaiki diri.

Disadur dari video penjelasan ustadz Nouman Ali Khan :”).

 

Belajar · Harta Karun · reblog · sejarah · they're said

Darimana Kita Memulai Untuk Mentadabburi Sejarah Islam?

oleh Edgar Hamas

Beberapa waktu lalu, saya membuat Instagram Story tentang “3 Hal yang Menjadikan Sejarah Islam Inspirasi Hidupmu”, dan banyak teman-teman yang kemudian menanyakan, bukan bermaksud apa-apa, namun mereka merasa nyaman dengan sajian tadabbur sejarah yang sering kami tulis. Alhamdulillah.

Saya ingin sampaikan kepada teman-teman, mentadabburi sejarah itu seperti nonton film atau membaca novel. Bedanya, yang ini kenyataan, dan lebih menginspirasi. Permasalahannya adalah, masih sedikit sejarawan muslim yang menyajikan konten-konten sejarah dengan bahasa yang mudah dimengerti.

Pun, banyak sekali sejarawan ini yang berfokus tentang hal yang bertele-tele, seperti tanggal dan tahun yang begitu banyak, tokoh yang begitu rumit dikenali, dan pemilihan bahasan yang terlalu berat, seperti konflik kerajaan, politik, silsilah, dan banyak lagi; walaupun sebenarnya itu penting, namun takutnya, kita malah kehilangan hikmahnya.

Maka dari itu, izinkan dalam tulisan ini, saya ingin mengusulkan poin-poin, yang saya menikmatinya, tentang bagaimana dan darimana kita akan asyik mentadabburi sejarah.

Pertama, Mulailah dari Rasulullah ﷺ

Perjalanan hidup Rasulullah ﷺ itu, cool banget. Sangat menginspirasi. Hanya dalam waktu 22 tahun, seorang lelaki di kota tengah padang pasir Arabia, menjadi tokoh yang dikagumi oleh bangsa-bangsa di penjuru bumi.

Bacalah karakter Rasulullah ﷺ, kehebatannya, sifat-sifat beliau ﷺ yang diabadikan dalam Al Qur’an dan hadits. Penting: bacalah dengan sudut pandang kamu ingin mengenal seseorang yang kamu sangat menggemarinya. Buku-buku karya Ust Salim A Fillah akan menemanimu mengenal Rasulullah ﷺ dengan lebih bersahabat.

Kedua, kenali 10 Shahabat yang Dijamin Masuk Surga

Generasi Shahabat itu ada 100 ribu. Semuanya hebat-hebat, semuanya keren-keren, semuanya menggugah. Namun, ringkasannya bisa kamu dapatkan pada 10 sahabat yang dijamin masuk Surga. Mereka bukan nabi, bukan juga rasul, namun karakter dan perjalanan hidupnya akan mengilhami siapapun yang membacanya.

Seorang bisnisman akan nge-fans dengan Utsman bin Affan atau Abdurrahman bin Auf. Seorang aktivis pasti suka dengan gaya Umar yang jenius dan Abu Bakar yang prestatif. Seorang ilmuwan pasti akan jatuh cinta pada kehebatan Ali menganalisa dan menghasilkan fatwa. Dan masih banyak lagi.

Saya jatuh cinta pada 10 Shahabat ini ketika buku “10 Sahabat yang Dijamin Masuk Surga” yang ditulis oleh Muhammad Ahmad Isa. Tidak tebal, tapi bagus sekali penyampaiannya.

Ketiga, generasi sahabat pada umumnya.

Selain 10 sahabat yang dijamin masuk surga, masih sangat banyak sahabat-sahabat Rasulullah yang membuat saya pribadi tergugah untuk selalu menjadi pribadi yang hebat. Salman Al Farisi misalnya, sang pencari kebenaran. Bilal misalnya, seorang yang kokoh dalam keyakinan. Khalid bin Walid, The Warrior. Amr bin Ash, sang diplomat ulung.

Untuk membacanya, selalu, buku yang saya usulkan ke teman-teman adalah Biografi 60 Shahabat Rasulullah ﷺ karya Khalid Muhammad Khalid.

Keempat, tentang Pahlawan-pahlawan Islam sepeninggal Rasulullah.

Ini dia, yang masih harus banyak digarap oleh para sejarawan muslim. Generasi emas umat Islam tidak hanya menjadi gelar sahabat saja. Nyatanya, para pahlawan yang hidup di zaman keemasan Islam adalah tokoh-tokoh yang sangat enerjik dan mengagumkan. Seperti Imam Syafi’i, Nizamul Mulk, Shalahuddin Al Ayyubi, Muhammad Al Fatih, dan banyak lagi.

Ada banyak buku-buku yang membahas tentang pahlawan Islam ini, saya tidak bisa memilihkan salah satunya, sebab saya masih jatuh cinta pada buku “Miah Udzama Ummatil Islam Ghayyaru Majra At Tarikh” (100 Tokoh Umat Islam yang Mengubah Sejarah) karya Jihad Turbani.

Entah, sampai sekarang belum ada yang menerjemahkan, atau apa saya yang tidak tahu. Sebenarnya ada penerbit yang sudah menerjemahkan, namun belakangan diketahui belum minta izin ke Jihad Turbani. Ah, sayang sekali.

Teman-teman tapi masih bisa melihat terjemahan video-video Jihad Turbani dalam channel YouTube beliau, (جهاد الترباني) insyallah ada yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia walaupun belum semuanya.

Kelima, tentang Peradaban Islam

Teman-teman, kamu mungkin belum sepenuhnya percaya, dulu itu orang-orang Eropa disebut gaul kalo mereka pake bahasa Arab. Dulu itu, mata uang Islam jadi mata uang internasional, kapal-kapal kita ada di pelabuhan Italia, Inggris dan Perancis. Amerika Serikat pernah membayar pajak pada negeri Islam 70 tahun lamanya.

Darimana kita mengetahui itu? Dari bacaan-bacaan kita tentang peradaban Islam. Sejauh ini, pembahasan ini sangatlah sedikit dan masih perlu dikembangkan. Saya bertekad bisa mewujudkannya. Doakan yaa.

Namun, sebagai pembuka, teman-teman bisa membaca buku “Lost Islamic History” karya Firas Al Khateeb yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Banyak juha channel-channel YouTube yang membahas tentang peradaban Islam yang hebat ini. Search saja dengan keyword yang tepat.

Masih sangat banyak, fakta-fakta hebat Sejarah Islam yang jika kita mentadabburinya, akan membuat kita benar-benar bangga menjadi muslim, membuat kita bangun dari amnesia 500 tahun ini, dan kembali merebut takdir kemenangan kita.

Belajar · Dear · Hikmah · reblog · they're said

Ego

oleh khoiriyatifa.tumblr.com

Alkisah, ada seorang perempuan yang gagal ta’aruf

Em..mari kita perhalus bahasanya.

Alkisah ada seorang perempuan yang ta’arufnya tidak berlanjut ke khitbah. Berhenti pada kalimat “Sepertinya, setelah menimbang hal ini, lantas hal ini, prinsip saya masih sama.. dan saya tidak bisa. Semoga kita masih bisa berteman baik dan saling membantu setelah ini ya.” yang diutarakan oleh pihak laki-laki. Perempuan itu luruh perasaannya. Seperti ada harapan yang tiba-tiba sirna begitu saja. Alasannya klasik: perbedaan pendapat terkait perempuan yang bekerja dan tidak.

Pihak laki-laki menginginkan istri yang fokus pada rumah tangga. Pihak perempuan berpendapat bahwa alasannya tetap ingin bekerja bukan karena ego. Masih ada keluarga sebagai tanggungan, ada orang tua yang berharap anaknya berkembang, hingga suatu ketika suatu pertanyaan terlontar

“Coba antum yakinkan saya, kalau misal saya tidak bekerja dan antum meninggal lebih dulu sedangkan anak-anak masih membutuhkan biaya. Saya harus bagaimana?”

“Kita tidak boleh meragukan rejeki dari Allah.” jawab si laki-laki.

Oh, jawabannya benar, tapi tidak konkrit. Perempuan itu tidak yakin.

Perbincangan terkait hal itu terjadi berkali-kali, berbelit-belit, tidak menemukan titik ujung hingga keduanya jatuh sakit. Berlebihan memang.

Hingga muaranya, semua selesai, tidak berlanjut.

Kegagalan, dalam hal ini kegagalan ta’aruf, membuat kita belajar bahwa harapan itu harus dikendalikan sedemikian rupa sehingga tidak berlebihan. Bahwa jalan di depan masih sangat jauh. Bertemu banyak orang dengan keegoisannya masing-masing (termasuk dalam hal kriteria pasangan) membuat saya berfikir bahwa sebelum menikah -bahkan kalau perlu sebelum memutuskan hendak berta’aruf- kita harus sudah bisa mengendalikan ego kita sendiri, bersiap dengan segala hal yang di luar kehendak, bersiap menerima hal-hal tidak prinsipil yang masih bisa ditolerir. Hal-hal prinsipil ini ukurannya tentu agama. Jika agama tidak membolehkan, maka jangan. Yang berada di luar itu, tentu butuh kerelaan kita untuk menerima (yang penerimaannya sangat tergantung pada ego kita masing-masing)

Belajar dari kegagalan ta’aruf, kita bisa mengambil pembelajaran bahwa se-tidak-masuk-kriteria-pun teman ta’aruf kita tersebut, kita tidak boleh membandingkannya dengan siapapun, tidak dibenarkan membenci, tidak boleh menjelekkan prinsipnya, mencela egonya dan hal tidak pantas lainnya. Hal yang dimulai dengan bismillah, tentu harusnya diakhiri dengan alhamdulillah apapun hasilnya. Niat baik harus diakhiri dengan keikhlasan yang baik.

Dari kajian pra nikah yang pernah diikuti, ego merupakan satu bahasan penting. Ego, bagian diri kita yang kita harus ‘deal with it’ sebelum melangkah jauh ke pernikahan. Sebab yang akan bersama kita kelak adalah manusia yang tidak sempurna, yang akan terus bertumbuh setiap hari, berubah pemikirannya, berubah fisik dan perilakunya, berubah-ubah sedih dan bahagianya. Maka, alih-alih menetapkan kriteria yang ‘almost perfect’ mari mencoba menyelami diri sendiri “Sebenarnya apa yang kita bisa beri dan kita butuhkan dari sebuah pernikahan?” sambil berdoa kepada Allah agar segera dimampukan.

Pada akhirnya, semoga setiap niat baik kita untuk menuju Surga (bersama), mendapat jalan yang baik dari-Nya 🙂

SemangkA! Semangat karena Allah!.

Belajar · Dear · Harta Karun · Hikmah · Tarbiyah · they're said

Nasihat: Apakah Menikah Sama dengan Pacaran?

disalin dari laman nakindonesia.tumblr.com

Ketika ditanya tentang konsep pernikahan, mungkin yang kita bayangkan adalah segala hal yang indah. Cobaan yang sebelumnya ada akan hilang, kehidupan bahagia, indahnya membaca Quran berdua bersama pasangan, dunia serasa milik berdua. Begitu bukan?

Konsepsi kita tentang pernikahan sudah banyak dicemari oleh pemikiran modern, dimana yang ada hanyalah kesenangan. Jika kesulitan melanda, kita tinggal pergi begitu saja. Itu sebenarnya adalah konsep dari pacaran.

Bukankah menikah itu hal yang jauh lebih besar dibanding sekadar pacaran?

Akan ada hambatan, kesulitan, kita harus memahami kebiasaan pasangan, memahami keluarga pasangan, dsb. Biasanya ini terjadi setelah menikah selama beberapa tahun, karena yang terpikir di awal pernikahan adalah, “Aku sayang dia, apapun yang dia lakukan dapat kuterima…”. Namun setelah beberapa waktu, masalah kecilpun dapat menjadi besar. Hal ini tidak terjadi dalam pacaran, karena biasanya ketika kita bosan dengan seorang pacar, tinggal diputuskan lalu cari yang baru.

Menikah tidak sama dengan pacaran, menikah adalah sebuah komitmen yang sangat serius, bahkan Alquran menggunakan terminologi yang sangat kuat untuk hal ini;

وَالْمُحْصَنٰتُ, مُحْصِنِينَ

Kata “Ihsan” dalam bahasa Arab digunakan sebagai istilah untuk menempatkan seseorang di dalam benteng. Konsepnya adalah kondisi di luar benteng berbahaya, maka ada seseorang yang harus ditempatkan di dalam benteng. Siapa orang tersebut? Ialah sang istri. Siapa bentengnya? Tentu sang suami. Kondisi bahaya apa yang dimaksud? Segalanya. Mulai dari kesedihan, kesulitan, pendidikan, dan lainnya.

Jadi, ketika menikahi seseorang dengan alasan yang salah, hanya untuk memuaskan nafsu hormonal, maka kehidupan kedepan akan sulit dan menyedihkan. Namun ketika pernikahan diniatkan untuk menjalankan sunnah Allah, membentuk keluarga rabbani untuk menebar kebaikan di masyarakat, Insya Allah, Allah akan membantu.

Prinsip pernikahan yang harus digarisbawahi adalah;

Pikirkan tanggung jawab yang kamu emban, lupakan hak yang harusnya kamu terima.”

Mungkin terlihat sangat keras, namun hal tersebut harus dicoba. Untuk suami misalnya, pikirkan apa yang sedang dibutuhkan sang istri? apa yang dapat dilakukan? Kado apa yang cocok untuknya? Ketika sang istri berbuat salah, cepat lupakan dan maafkan, dsb.

Karena seharusnya kita tahu, ketika berekspektasi banyak kepada sesama manusia, termasuk kepada pasangan, kita mungkin akan kecewa. Ketika kita terus menuntut kepada pasangan agar berlaku lemah lembut, selalu menemani, selalu tersenyum, dsb, hal tersebut tidak akan berakhir dan akan berujung pada kekecewaan.

Kepada siapa orang beriman harusnya berharap? Tidak lain hanyalah kepada Allah, bukan kepada manusia. Manusia adalah makhluk yang lemah, tidak akan mampu memenuhi semua ekspektasi terhadap dirinya.

Ketika kita sudah terbiasa dengan prinsip di atas, lalu pasangan kita melakukan sesuatu yang kecil untuk kita, apa yang terjadi? Kita akan sangat bersyukur, bertambah rasa kasih sayangnya, bersyukur menjadi pasangannya… Karena sebenarnya kita tidak mengharap apapun darinya 🙂

-A-

Belajar · Dear · review · they're said

Menjadi Ayah Nomor Satu

oleh Muhammad Akhyar

Saya tak tahu apa yang menjadi motif Andrea Hirata sehingga dalam novel-novelnya senantiasa muncul tokoh Ayah. Uniknya, dalam cerita orang-orang Melayu itu, gambaran ayah yang ia hadirkan jauh dari stereotip laki-laki Melayu yang kebetulan menjadi ayah. Sebagai orang Melayu Kampung, paham benar saya tabiat ayah-ayah di kehidupan orang-orang Melayu. Ayah dalam tradisi Melayu adalah sosok patriarch, pihak yang ditakuti anak ketika mereka belum berangkat mengaji. Hal ini sama sekali tak tampak pada diri Seman Said Harun ayah Ikal di Tetralogi Laskar Pelangi dan Sebelas Patriot, Zamzami ayah Enong di Dwilogi Padang Bulan, Sabari bin Insyafi di novel Ayah, hingga Sobirinudin ayah daripada Sobrinudin alias Sobri alias Hob alias Bang Ganjal Lemari di Sirkus Pohon.

Ayah-ayah yang ada pada tulisan-tulisan Andrea Hirata bukanlah macam ayah kebanyakan yang dimiliki anak-anak Melayu Kampung. Jenis ayah yang tahunya cuma mencari duit lalu memberikannya duit itu kepada sang isteri setelah sebelumnya telah ia belikan beberapa bungkus rokok dan segelas kopi susu jelas jangankan hadir, menyerempet pun tidak pada ayah-ayah di cerita Andrea Hirata.

Ayah-ayah ajaib yang lain dari pada yang lain dalam ceritera Andrea Hirata ini sedikit banyak selalu berhasil membangkitkan kenangan saya pada ayah saya sendiri. Ayah saya berbagi beberapa sifat dengan ayah Ikal, Enong, Amiru, dan tentu saja Hob. Ragam sifat itu, entah bagaimana, saya kira adalah perangai yang mestilah diadopsi oleh laki-laki manapun di dunia jika mereka ingin dianggap sebagai ayah nomor satu.

Diam itu Emas

Orang-orang Melayu memiliki beberapa kearifan tak tercatat. Salah satunya adalah jika seorang pria Melayu tak pandai berpencak silat, paling tidak ia harus mahir bersilat lidah. Dan lagi-lagi, para ayah ajaib karangan Andrea Hirata tak mahir dalam hal-ihwal silat ini. Ayah-ayah ini mungkin adalah pengikut Nabi Muhammad sejati. Mereka paham benar bagaimana menjalankan hadis yang berbunyi,

barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.

Tentu pembaca Andrea masih ingat fragmen ketika Seman Said Harun bersepeda belasan kilometer lengkap dengan safari kantong empat untuk menghadiri pembagian rapor anaknya. Saat anaknya mendapat prestasi atau sebaliknya, ia tak banyak berkomentar. Ia cukup menepuk bahu anaknya lalu berucap salam ketika hendak pulang kembali ke Gantong. Akan tetapi, sedikitnya kata-kata yang mereka keluarkan dalam keseharian, membuat anak-anak mereka begitu fasih menafsirkan apa-apa makna yang tersaji dari gerak tubuh ayah mereka, dari raut wajah ayah mereka. Apakah sedang sedih. Apakah sedang merasa bangga.

Miskin Boleh, Menyerah Jangan

Ayah-ayah dalam novel Andrea tak pernah punya profesi mentereng. Pekerjaan mereka berkisar di antara pendulang timah, buruh batako, hingga penjual minuman ringan di stadion kabupaten. Meskipun demikian mereka bukanlah tipikal laki-laki Melayu yang pagi-pagi masih bersarung kemudian ketika petang menjelang berangkat ke kedai kopi untuk menumpang membaca koran dan membahas isu politik terkini lalu baru pulang ketika jamaah Isya sudah tak tersisa lagi di masjid.

Lihatlah Zamzami yang ingin membelikan Kamus Bahasa Inggris Satu Miliar Kata kepada anaknya Enong. Ia bekerja jauh lebih keras di tambang, sehabis itu jika kebetulan sedang ada orkes Melayu akan tampak Zamzami berjualan nira. Hari Sabtu ketika tambang libur, ia berangkat ke laut untuk mencari kerang. Hari Minggu ketika tambang juga libur, ia menjual tebu yang ia kupas dan potong kecil-kecil lalu ditusuk dengan lidi. Bangun Pagi, Let’s Go!

Nasihat Itu Diperlihatkan Bukan Diperdengarkan

Saya tak tahu buku psikologi apa yang dibaca Andrea sehingga ia tahu saripati ajaran dari tokoh Social Cognitive Psychology, Albert Bandura, children learn by what you do, not what you say. Sobirinudin tak pernah berceramah jikalau perbuatan jujur itu adalah batas antara orang beriman dan yang bukan. Syahdan, Sobirinudin membantu seorang juragan kopra menurunkan kopra dari perahu. Entah bagaimana sang juragan berlebih membayar Sobirunudin. Sobirinudin menitipkan kelebihan uang tujuh ribu Rupiah itu kepada nelayan yang bertempat tinggal yang sama dengan juragan kopra. Lama berselang, ternyata sang juragan telah meninggal dunia. Nelayan yang dititipkan uang mengembalikan uang kepada Sobirinudin. Sobirinudin kemudian mencari-cari sanak famili dari juragan. Baru sepuluh tahun kemudian ia berhasil menemukan cucu si juragan untuk kemudian mengembalikan uang tujuh ribu tadi, meskipun lembaran uang itu tentu saja sudah tak laku lagi. Sungguh perilaku yang membuat saya berujar “mantap jiwa” ketika membaca bagian ini.

Mencintai Bukanlah Perkara BasaBasi

Jika anakmu berprestasi tentu mudah bagimu berkoar-koar ke semua teman-temanmu, handai taulanmu, karib kerabatmu, “itu anak saya!” Lalu bagaimana jika anakmu ternyata sebaliknya? Ia memilih berkarir di bidang yang tak engkau harapkan. Ia menekuni pendidikan yang tak engkau rekomendasikan. Ia mencintai orang yang tak engkau sukai. Pendek kata, ia melakukan hal-hal yang tak akan mungkin engkau bisa banggakan. Itulah yang harus dihadapi Sobirinudin terhadap anak nomor empatnya Hob. Anak laki-laki pertama dan keduanya adalah pejabat di PN Timah. Yang ketiga PNS di kantor Syahbandar. Anak bungsunya, Azizah SD hingga SMA selalu peringkat satu. Sementara Hob, lulus SMP pun TIDAK. Astagfirullah.

Lalu apa pandangan Sobirinudin? Ia tak mengutuk anaknya. Ia tak mengatakan, “itu salah isteriku.” Ia malah selalu menganggap Hob sebagai pemain cadangan andalan alias super sub yang disimpannya untuk satu pertandingan final yang menentukan nanti. Mirip-mirip bagaimana Sir Alex memperlakukan Ole Gunnar Solskjær di Manchester United. Sobirinudin adalah pelatih yang sabar. Ia tabah menunggu sepuluh, lima belas, hingga dua puluh tahun untuk kemudian membiarkan anaknya masuk ke lapangan sebagai pemain pengganti, lalu membuat satu keajaiban. Mencintai bagi orang-orang macam begini berarti mempercayai. Dan anak-anak yang dibesarkan dengan cara seperti ini selalu tahu bahwa setiap kepercayaan tak bisa tidak harus dibayar, bisa lunas segera, bisa pula dicicil selagi nyawa masih di raga.

Jika kamu, masih berminat untuk menjadi ayah nomor satu, semoga catatan ini bisa membantumu mewujudkan impianmu itu. Ojeh?

*all pict taken from Pinterest :”)

Belajar · Dear · Harta Karun · reblog · they're said

3 Pertanyaan Unik tentang Jodoh & Nikah

half deen
pict from here

 

oleh Bunda Sinta Yudisia

Belum pernah nih, saya dapat pertanyaan unik macam begini!

Acara macam ini biasanya diminati oleh para muda-mudi usia 20 tahun ke atas yang sudah mulai memasuki usia nikah. Persiapan pra nikah menjadi pembahasan yang sangat dinamis serta menimbulkan banyak pertanyaan misterius. Biasanya, seminar pra nikah memunculkan pertanyaan-pertanyaan seperti apa dan bagaimana memilih jodoh, bagaimana meyakinkan orangtua, bagaimana belajar mencintai, apakah karier atau rumah tangga dulu dst.

Kali ini, di Rumah Keluarga Indonesia, Bangkalan, saya dapat pertanyaan menarik yang membuat makjleb dari peserta.

 

Masyaallah, Subhanallah…peserta yang masih berusia muda ini ternyata memiliki pemikiran matang dan sangat bijaksana. Saya sampai terkaget-kaget mendapat pertanyaan demikian.

3 pertanyaan unik yang diajukan mereka adalah :

  1. Perempuan kan posisinya menunggu. Bagaimana cara kita bersabar menerima takdir ketika mungkin, hingga meninggal kita tidak menikah?
  2. Biasanya seorang muslimah memilih lelaki sholih. Kalau saya tidak. Saya justru ingin mendapatkan lelaki yang biasa-biasa saja, dan ingin membimbingnya. Salahkah keinginan itu?
  3. Apakah pernikahan yang sudah berjalan 23 tahun, dapat dikatakan pernikahan yang barakah?
an naba 8
pict from here

Gadis Menunggu atau Mengajukan Diri?

Paradigma bahwa perempuan atau gadis menunggu dan menanti untuk dipilih, dipahami oleh masyarakat kita sebagai tindakan pasif. Padahal, dalam sejarah Islam, perempuan tidak selalu wajib menunggu. Contoh paling dikenal adalam masyarakat Islam adalah ketika bunda Khadijah mencari suami dan memilih nabi Muhammad Saw. Bunda Khadijah mengutus pembantunya untuk mencari tahu tentang pemuda Muhammad.

Apakah tindakah bunda Khadijah tercela? Tidak.

Bahkan tindakan beliau sangat mulia. Beliau mencari lelaki sholih, tidak peduli usia dan status sosial. Pemuda Muhammad saat itu belum menjadi Nabi dan beliau masih berstatus pedagang. Meski dikabarkan sebagai pedagang sukses, tentu secara kekayaan pemuda Muhammad belumlah sama seperti bunda Khadijah. Dalam hal ini, perempuan tidaklah diharamkan mengajukan diri kepada lelaki tetapi tetap melalui kaidah-kaidah syari. Ada beberapa kisah nyata dalam dunia sehari-hari.

 

Kisah 1

Sebut saja namanya Ayu. Ayu, berasal dari sebuah desa kecil di Jawa. Ia mengajukan diri untuk dinikahi oleh Umar, teman satu kampusnya. Tentu saja Umar terkejut dan dapat dipastikan, pemuda itu menolak. Muslimah berjilbab, aktivis rohis, kok mengajukan diri minta dinikahi? Kayak kebablasan, gitu! Tetapi Ayu rupanya bukan akhwat iseng yang main tembak ikhwan. Meski ditolak, Ayu mengajukan diri lagi untuk dinikahi Umar. Beberapa kali terjadi tolak menolak, Umar akhirnya penasaran mengapa Ayu berani mengajukan diri. Jawaban Ayu membuat Umar takluk.

“Umar, saya berasal dari sebuah desa kecil. Besar harapan saya saya kembali ke desa, dan membangun desa saya. Di kampung, hanya saya satu-satunya yang sekolah sampai tinggi. Kalau saya menikah dengan pemuda lain daerah, saya akan dibawa pergi. Sebagai istri yang taat tentu saya akan mengikutinya kemanapun. Tetapi saya sangat berharap bisa kembali ke kampung halaman, maka saya mencari tahu siapa pemuda kampung terdekat yang juga sekolah tinggi. Ternyata saya menemukan nama kamu, Umar. Maka saya mengajukan diri untuk dinikahi. Kalau kamu kembali ke kampungku, berarti saya juga bisa membangun desa saya yang masih tertinggal.”

Masyaallah.

Sungguh, cita-cita Ayu bukanlah cita-cita rendahan.

Ia menembak Umar bukan lantaran ia aktivis, cakep, terkenal di kampus, dambaan para gadis dan seterusnya. Kejujuran Ayu membuat Umar mantap untuk memilihnya. Alhamdulillah mereka kemudian menikah.

 

Kisah 2

Sebut namanya Ina.

Iapun mengajukan diri untuk dinikahi. Tetapi berbeda dengan Ayu, ia tidak punya calon untuk dituju. Kemiripan dengan Ayu adalah mereka sama-sama orang kampung yang kental dengan segala ragam tradisi, termasuk dijodohkan. Ina, selepas kuliah, tahu-tahu harus pulang kampung karena orangtuanya menjodohkannya dengan seorang pria. Tentu saja, Ina yang tengah belajar menjadi muslimah sejati, kalang kabut. Bagaimana ia dapat menerima pilihan orangtuanya? Jangankan memahami Islam secara kaffah, kebiasaan merokok dan melalaikan sholat masih dilakukan pemuda itu. Akhirnya Ina mengontak teman lelaki di kampusnya.

“Adakah ikhwan yang bersedia menikahi saya? Secepatnya melamar pada orangtua saya. Sebab saya dalam kondisi terdesak.”

Masyaallah…kesungguhan Ina untuk menjaga dirinya ternyata didengar Allah. Dia menggerakkan hati seorang pemuda sholih untuk segera melamarnya, hanya selang sehari ketika permintaan Ina terdengar di telinga para ikhwan. Alhamdulillah…Ina dan pemuda sholih itupun menunju pelamainan dan langgeng hingga kini.

 

Pembaca,

Tentu tidak semua gadis seberuntung Ayu dan Ina yang ketika meminta mengajukan diri, pemuda yang dituju berkenan meluluskan. Stigma masyarakat bahwa ketika perempuan minta dinikahi pasti ada “apa-apanya”. Naksir berat, tidak laku, atau bahkan sudah MBA. Wajar bila masyarakat melihat demikian, sebab di belahan dunia Timur, lelaki masih memegang tampuk kepemimpinan dengan gaya maskulin. Ngapain ngejar-ngejar nikah kalau bukan kepepet, kalau bukan karena punya maksud tersembunyi?

Namun kita bukan sedang membahasa bab feminisme di sini. Kita membahas kemaslahatan. Kadang, seorang pemuda memiliki banyak pertimbangan dan tidak melihat dari sisi yang lain. Sementara seorang gadis melihat dari sisi yang lain pula. Tidak megnapa seorang gadis membantu seorang pemuda untuk melihat dari sudut pandang lain bahwa kebutuhan menikah harus disegerakan karena berbagai hal : menjaga agama, tuntutan keluarga, kebutuhan diri sendiri dan seterusnya. Selama hati mencoba tulus dan jujur serta bersungguh-sungguh, Allah akan bukakan jalan. Dan, berhati-hatilah ketika seorang gadis mengajukan diri. Kaidah syari tetap dijaga, jangan melampaui batas dan menggunakan jalur tertutup atau rahasia. Tidak menembak di depan umum apalagi di media sosial!

Lalu bagaimana ketika lelaki yang diinginkan belum kunjung tiba?

Selalulah bersandar pada Allah.

Saya teringat seorang ustadz penghafal Quran yang memebrikan nasehat di kelas, ketika saya mengikuti kelas pembukaan menghafal Quran :

“Allah akan menepati janji sampai seorang hamba benar-benar mencari ilmu dan mengamalkannya.”

Saya baru akan jadi penghafal Quran kalau bersungguh-sungguh mencari ilmu tentang menghafal Quran sekaligus mengamalkannya. Insyaallah Dia akan bukakan jalan dalam penemuan jodoh impian ketika seorang manusia bersungguh-sungguh mencari ilmu dalam menyempurnakan ½ diin sekaligus mengamalkannya : mengamalkan cara berkomunikasi, mengamalkan cara besabar dan mengalah, mengamalkan cara mandiri finansial dst. Sebab ketika ilmu itu tidak dipelajari dengan sungguh-sungguh dan diamalkan, lalu terjadi pernikahan; akan terjadi pernikahan dan pembangkangan. Terjadi pernikahan dan ketidak pedulian. Terjadi pernikahan dan keegoisan. Terjadi pernikahan dengan segala unsur kerusakan. Dalam proses penantian itu, hari demi hari adalah tabungan pahala, tabungan keindahan balasan, tabungan berita gembira bagi seoarng hamba yang taat menjauhi maksiat demi meraih ridhoaNya dalam menjadi pangeran dan putri impian.

 

2b59c41f35cf10f5e36c5893aded3230
pict from here

Memilih Lelaki Biasa-biasa saja

Di awal acara, ditayangkan liputan patah hati netizen ketika Muzammil Hasballah menikah dengan Sonia. Duuuuh, sedihhhh. Cowok seperti itu jarang banget stoknya di atas muka bumi. Maka ketika sold out, hiks-hiks, hati patah deh…

Namun, ada seorang muslimah yang berani berpendapat : kalau saya ingin menikah dengan lelaki yang biasa-biasa karena ingin membantunya memahami agama, apakah salah?

Hm, Pembaca, segala sesuatu pasti ada konsekuensinya.

Punya suami atau istri penghafal Quran sangat membanggakan. Tetapi bukan berarti tidak ada tantangan. Seorang penghafal Quran, sebut saja namanya ustadz Sholih, sangat berhati-hati memilih makanan. Istrinya nggak bisa memasak sembarangan, membeli makanan pabrik di toko, sebab istri harus menjaga ustadz Sholih dari makanan tidak halal, bahkan makanan syubhat. Ustadz Sholih ini hanya mau makan masakan istrinya yang sudah terjamin kehalalannya. Repot kan? Nah, ternyata punya suami hafidz tetap aja ada ujiannya. Jangan dipikir enak, melejit followers, dipuja sana sini ketika punya suami hafidz!

Punya istri hafidzah juga begitu.

Ada seorang suami yang punya istri hafidzah. Ia menyadari betul keutamaan istrinya, maka ia rela mengerjakan seluruh pekerjaan rumah sembari menjadi pengusaha. Pekerjaan utama istrinya adalah menghafal Quran. Sebab, memang butuh waktu spesial untuk memelihara 30 juz. Dan , sang istri yang hafidzah itu lebih sering menerima undangan untuk mengisi pengajian. Eit, bukan berarti sang istri yang hafidzah ini menindas suami. Bukan, ya!. Ia juga rajin membantu usaha suami, rajin berbenah juga. Tetapi ketika pagi hari, saat dhuha para istri atau ibu biasanya sibuk memasak dan mencuci; sang hafidzahjustru sibuk murojaan Quran. Ia mengerjakan pekerjaan rumah di waktu yang lain. Tentu, memiliki istri hafidzah membanggakan, tetapi seorang suami juga harus siap dengan konsekuensinya.

 

Bagaimana dengan punya suami biasa-biasa saja?

Ini juga  bukan pilihan jelek, apalagi diniatkan untuk membimbing lelaki yang belum tahu agama menjadi tahu agama. Bayangkan pahala yang didapat seorang istri, semisal mampu mengajak suaminya yang bertatto untuk rajin ke masjid. Atau bagaimana punya suami perokok untuk jadi penyuka shaum sunnah. Atau yang tadinya suka nge mall, dugem, lalu suka main ke masjid dan mendengar kajian kitab. Besar banget pahal istri seperti ini kan? Tetapi seorang gadis harus siap. Bahwa memiliki suami yang biasa-biasa saja, ia harus berkorban banyak hal, terutama kondisi emosional. Lelaki yang biasa mungkin belum tahu hijab, sehingga kedekatannya dengan beberapa perempuan membuat istri cemburu. Lelaki biasa belum tahu syubhat dan halal, sehingga main terobos sana sini ketika cari uang.  Lelaki biasa-biasa saja mungkin masih harus dibangunkan untuk sholat, di saat istri ingin sekali diimami sholatnya dan mendengarkan bacaan Quran yang tartil.

Memiliki suami hafidz  atau suami biasa-biasa saja, tetap ada konsekuensinya!

Yang pasti, luruskan niat dan patuhi syariat.

39b039e78efed63a7713b0ae8c924351
pict from here

Apakah Pernikahan yang Tahan Lama itu Berarti Barakah?

Ini benar-benar pertanyaan menohok!

Disaat acara seminar pra nikah, saya dan suami diminta testimoni tentang perjalanan taaruf hingga menikah dan bertahan hingga sekarang (doakan ya Pembaca, kami langgeng hingga berkumpul di jannahNya ya…aamiin yaa Robbal ‘alamin).

Maka suami bercerita tentang proses taaruf yang singkat, disusul khitbah dan menikah. Saya pun bercerita tentang kondisi suami yang sesungguhnya masih sangat minim penghasilan ketika menikah dan hingga sekarang kami mencoba untuk tetap sabar dalam kejujuran sebagai pegawai negeri.  Alhamdulillah, kami bisa bertahan hingga 23 tahun pernikahan dengan segala badai, gelombang, suka duka, tangis dan tawa.

Lalu bertanyalah seorang pemuda : “apakah 23 tahun itu bermakna barakah?”

Sungguh, saya dan suami bertatapan mata ketika ditanya seperti itu. Salut dengan pertanyaan kritis dan menohok hingga ke ulu hati.

Kalau dibilang pernikahan sukses, kami tak berani mengakuinya. Sebab kesuksesan hanya dapat dilihat di akhir, di ujung, di titik semua berhenti : kematian dan yaumil akhir. Kami baru akan disebut pasangan suksses bila telah bersama-sama menapaki JannahNya sembari membawa anak cucu kami masuk ke istana syurga. Dan itu sungguh masih rahasia ribuan tahun ke depan yang hanya diketahui Allah Swt. Namun bila bicara keberkahan, saya menysukuri betapa Allah Swt rasanya melimpahkan keberkahan.

Barakah atau berkah, adalah kondisi ketika sesuatu baik yang berifat materi (uang, barang) atau immateri (waktu) memiliki nilai tambah atau nilai lebih dibanding nilai yang sesungguhnya. Misalnya, ketika anak kami masih kecil-kecil, saya berhitung secara jujur berapa seharusnya jumlah penghasilan suami dan saya bila ingin hidup “normal“ : nyicil rumah, nyicil sepeda motor, menyekolahkan anak-anak di sekolah Islam, makan makanan bergizi, dan seterusnya. Maka dicapai angka fantastis : puluhan juta! Dengan 4 anak dan tinggal di kota Surabaya, kami harus punya pengahsilan puluhan juta untuk hidup layak. Apalagi ketika suami ditempatkan di luar kota, seharusnya penghasilan berlipat-lipat lagi. Nyatanya penghasilan suami tidak sampai sekian.

Namun, alhamdulillah, kami senantiasa cukup.

Ada saja rezeqi yang Dia berikan.

Salah satunya adalah rezeqi anak-anak yamng insyaAllah, sholih-shalihah. Anak-anak yang bisa diajak prihatin. Anak yang tahu kalau ayahnya adalah pegawai negeri yang mencoba jujur.

Dulu, waktu anak saya yang pertama usia SMP, ia  hanya bawa sangu 5000. Itu sudah teramsuk transport, makan siang, dan jajan. Tetapi di akhir bulan ketika kami sedang 0 uang, si kakak masih ada  tabungan yang bisa digunakan untuk menyambung hidup. Sampai sekarang, kakak dan adik-adiknya terbiasa menabung dari uang jajan mereka yang jumlahnya jauh di bawah jumlah teman-temannya. Mereka kalau butuh beli alat gambar, sketch book, komik, buku, sepatu atau kebutuhan lain; tahu-tahu punya uang. Bahkan alhamdulillah, si kecil bisa punya HP dari hasilnya menang lomba menulis. Anak-anak bertekad untuk punya laptop, HP dan barang-barang bukan dari hasil mereka memitna orangtua.

“Lho, kok kamu bisa beli sepatu, Mas?” saya nanya ke abang nomer tiga.

“Aku dua minggu ini gak jajan sama sekali, “ katanya.

Bahkan, dua anak lelaki kami ketika SMA masih naik sepeda onthel sementara teman-temannya telah naik sepeda motor mengkilat bahkan sepeda motor ninja yang mahal harganya. Mereka tidak kehilangan harga diri, tidak kehilangan teman, tidak kehilagnan kebahagiaan meski harus bersabar. 4 anak kami terbiasa saling menasehati satu sama lain, saling memberi motivasi. Ketika yang satu punya masalah, maka yang lain akan mendengarkan dan memberi masukan. Bagi kami, situasi ini adalah keberkahan yang merupakan karunia Allah Swt.

Keberkahan yang lain adalah ketika kami bisa membeli rumah ditahun 2011, dengan sepenuh perjuangan. Rumah yang cukup luasnya, dengan cicilan yang terjangkau gaji suami. Saya memang berdoa kepada Allah : “ya Allah berikan kami rumah yang kami mampu mencicilnya, dekat masjid, dikelilingi tetangga yang sholih shalihah, fasilitas memadai seperti air-sampah dll.” Saya berdoa sedetil itu dan alhamdulillah, kami dapat rumah yang sekarang kami tempati. Setiap kali bertemu teman atau supir taksi online, mereka bertanya tentang rumah saya dan terbelalak : “Ibu beruntung sekali! Rumah gede segitu harganya murah banget.”

Itulah keberkahan Allah Swt.

Masih banyak lagi keberkahan-keberkahan yang lain.

Ketika anak-anak di bangku  SMA, teman-teman mereka sudah ikut les ini itu sejak awal kelas 3. Kami belum mampu meleskan mereka. Alasannya dapat ditebak. Rata-rata anak kami baru les menjelang ujian kelulusan. Alhamdulillah, si sulung dapat masuk UGM dan nomer dua di ITS. Itulah keberkahan. Bahwa ketika tidak tersedia uang untuk les ini itu, Allah Swt berikah rizqi berlipat dari sisi lain : anak-anak yang mau belajar meski harus pontang panting cari pinjaman soal.

Dalam hubungan suami istri, saya pun merasakan keberkahan.

Jangan dikira saya dan suami tidak pernah berselisih paham. Namanya suami istri, tentu ada hal-hal yang membuat kami berselisih dan marah satu sama lain. Namun alhamdulillah, kami biasanya marah sehari dua hari. Jarang sekali sampai tiga hari. Rasanya tidak betah, tidak nyaman kalau tidak bertegur sapa. Maka nanti salah satu akan memulai berbaikan sembari saling menyindir hehehehe.

Yah, inilah keberkahan.

Saya bukan perempuan paling cantik dan paling hebat.

Suami tentu juga bukan lelaki super seperti Thor, Captain America, Hulk atau Iron Man. Tetapi kami saling mencintai, insyaallah. Kalau hanya fisik, yah, saya sudah terdepak jauh-jauh hari. Jujur sajalah, lelaki ketika di kantor bertemu banyak perempuan yang jauh lebih mempesona. Bukannya saya tidak merawat diri, ya. Kata suami saya perempuan cantik (gomballlll…biar deh! Saya juga selalu memaksa suami supaya bilang saya yang paling cantik, kwkwkwkwk!) tetapi godaan di luar sana besar. Termasuk saya juga yang sering menjalani aktivitas di luar rumah.

Tetapi itulah keberkahan yang Allah Swt titipkan di keluarga kami hingga masih bertahan hingga sekarang dan semoga bertahan hingga maut menjelang : sedahsyat apapun orang yang kita temui di luar sana, semempesona apapun, bagaimanapun ia membuat hati kita jadi deg-degan dan berbunga-bunga; tetap saja, pasangan cinta yang telah menjalani hidup sekian lama adalah belahan hati terbaik yang pernah ada bagi diri kita.

Mungkin dia tidak lagi membuat deg-degan.

Tidak membuat berdesir-desir.

Tidak membuat mabuk kepayang seperti saat awal nikah dulu.

Tapi rasa bahagia, hangat, tenang, itu tetap ada dan itulah keberkahan. Betapa banyak  pernikahan yang terasa dingin, hambar, tak ada cahaya sama sekali dan tak ada lagi yang pantas dipertahankan dalam hubungan itu kecuali memang tinggal kunci perceraian yang menyelesaikan.

Rasanya, inilah keberkahan yang Allah titipkan.

Semoga, banyak pasangan di luar sana yang usai pernikahannya mencapai 20, 30, 50 tahun dan lebih; bukanlah pernikahan dalam keterpaksaan namun pernikahan dalam keberkahan. Aamiin yaa Robbal ‘alamiin…