Tak Berkategori

Saya dan Siyasi

saya bukan anak bem.
sejak hari pertama berstatuskan mahasiswa pun saya sama sekali tidak berniat untuk mengenal lembaga ini lebih dalam, apalagi mendaftarkan diri untuk menjadi calon pengurusnya.

tidak,
tidak berminat sama sekali.
saat itu.

dan sebisa mungkin menghindari ajakan ajakan yang mengarah kesana :p.

politik,
bukanlah hal yang masuk dalam rentetan list hal yang saya sukai untuk saya pelajari, pahami, diskusikan dengan orang lain dan sejenisnya.

bukan,
bukan sama sekali.
saat itu.

ketidaksukaan ini tentu sangat bersesuaian dengan karakter saya yang cenderung pendiam, tidak suka tampil, tidak kritis, dan cinta perdamaian :d.

demo,
adalah satu hal yang akan saya anti-kan dengan status saya sebagai mahasiswa.

saya terlalu minim ilmu, minim wawasan, minim bacaan, minim informasi terkait topik-topik yang diusung untuk disuarakan dalam demo demo yang dilakukan oleh anak anak bem.

saya terlalu plegmatis,
kata temen saya yang anak psikologi.
saya mengamini.
untuk semua hal yang masih buram -dikarenakan minim informasi- dihadapan saya, sebisa mungkin akan saya hindari.

alasan ini,
yang semakin mendoktrin diri saya untuk segera menarik diri dari ajakan ajakan berdemo.

kalo aksi palestina,
tentu berbeda,
isu palestina, suriah, rohingya dan isu sejenisnya sangat jelas hitam dan putihnya.

untuk aksi palestina,
saya akan bersemangat untuk mengikutinya.
untuk demo,
i’m sorry to say big no.
saat itu.

qadarullaah,
maha baik Allaah atas setiap kehendak Nya untuk hamba Nya :”).

hampir sebagian besar sahabat sahabat perjuangan saya di kampus adalah anak da’awy, -yaiyalah, wkwkwk-.

dan sahabat sahabat terbaik saya, kebanyakan adalah mereka mereka yang sedari awal sudah mencemplungkan diri dalam dunia yang bernuansa ke-siyasi-an, baik itu bem, dema, dan kammi.

pun,
adik adik kos yang dulu paling sering keluar bareng, paling sering ngobrol bareng jugalah adik adik yang tumbuh dan berkembang dalam lembaga lembaga siyasi kampus.

agak lucu memang.
mungkin pada akhirnya,
karena sering terkena paparan obrolan-obrolan yang bernuansa siyasi, rasa penasaran saya mulai tergugah hingga akhirnya menjadi tertarik :”).

sampai suatu saat,
saya sampaikan niat ingin ikut mendaftar di open recruitment kepengurusan bem (saya lupa dulu pengennya ikut bem apa? kayaknya sih ke bem-u) ke salah satu mba senior di kampus, dan jawaban beliau adalah,
“jangan dek, ndak usah.”

hingga sampai akhirnya saya melepas status kemahasiswaan, saya tidak pernah merasakan menjadi bagian dari kepengurusan lembaga siyasi kampus manapun.

oh ada ding,
saya pernah ikut dm-1,
walaupun terlambat beberapa tahun dari tahun seharusnya angkatan saya ikut,
but it’s okay,
saya bangga dan bersyukur tentu,
karena saat itu mampu untuk menaklukkan rasa ketidaksukaan saya akan suatu hal yang baik :”).

bersebab telah mengikuti dm-1 tidak serta merta menjadikan saya pengurus kammi -iyalah-,
tapi setidaknya nama saya tertulis dalam deretan daftar nama ab-1 -walaupun belum pernah ngecek beneran ada apa engga, wk-
.
.
.
“berbahagialah mereka yang tak tahu politik”, begitu awal paragraf yang terkutip di awal paragraf buku warisan sang murobbi, bab penggodok batu karya ustadz rahmat abdullah.

“lebih berbahagia lagi mereka yang tahu politik dan mau berpolitik untuk menjinakkan politik” lanjut beliau.

Advertisements
Tak Berkategori

Setiap Kita Perempuan adalah Mawar Berduri

⁠⁠⁠Setiap kita perempuan adalah mawar berduri.

Mawar itu sempurna karena ada durinya.
Mawar itu sempurna justru karena punya duri.

Cuma banyak orang bilang, duri pada mawar itu mengurangi keindahan mawar, merusak mawar, mengganggu mawar. Padahal duri itulah yang menjadikan mawar dikatakan mawar. Duri itulah yang membuat mawar dikatakan sempurna.

Saya gambarkan setiap perempuan seperti mawar. Dan duri itu adalah aturan Allaah bagi setiap perempuan.

Seperti duri pada mawar, banyak yang bilang aturan Allaah bagi perempuan itu merusak keindahan perempuan, membuat perempuan susah gaul, susah beraktifitas. Padahal seperti duri pada mawar, aturan itu juga yang membuat perempuan dikatakan perempuan.

Maka setiap kita perempuan adalah mawar berduri,
kita adalah perempuan dengan apa yang Allaah mau untuk kita lakukan akan kita lakukan,
dengan apa yang Allaah mau untuk kita kenakan akan kita kenakan,
apa yang Allaah mau untuk kita rasakan akan kita rasakan,
apa yang Allaah mau untuk kita katakan akan kita katakan,
apa yang Allaah mau untuk kita lakukan akan kita lakukan..

Maka setiap kita perempuan adalah mawar berduri,
kita adalah perempuan dengan apa yang Allaah mau, Allaah mau, Allaah mau ada pada diri kita :”)

.

Credit post rekaman kajian MQ FM dengan beberapa perubahan :”)

Credit Quote @farhahits dengan sedikit perubahan :”)

Tak Berkategori

Menyatukan Frekuensi

munir 2

Pernah suatu saat saya terbayang, sebenarnya apa sih yang membuat Suciwati kala itu begitu mantap menerima pinangan Munir; lelaki yang “sukses” menjadi “buronan” aparat pemerintah karena keberanian level singa dalam mengungkap borok dalam kasus penegakan hukum dan HAM di Indonesia. Tapi seketika rasa penarasan saya terjawab karena teringat sebuah kalimat, bahwa seorang lelaki bermental singa, tentu layak mendapatkan perempuan yang bermental singa pula. Saya rasa, keduanya memang klop. Laiknya pedang bertemu baju besinya yang saling menjaga, menguatkan, dan mendukung. Kisah Munir dan orang-orang bermental pejuang yang semisal dengannya, memang selalu menarik diungkap dari sisi yang berbeda. Sebagai wanita, tentu kita perlu tertarik untuk menelisik kisah sepak terjang sang istri. Apa yang membuatnya seberani itu bersuamikan lelaki yang namanya –jika boleh dikatakan–, “di-blacklist pemerintah”, karena dianggap membahayakan kaum elite yang haus harta, tahta, dan tentu saja… darah.

“Pahlawan adalah Martir Kebebasan.”

Saya teringat kata-kata Suciwati tentang sang suami, yang diungkapkannya…

View original post 744 more words

KisahSahabat · reblog · Tak Berkategori

#Lebihdekatdengansahabat 6: Bilal bin Rabah

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan,:)

Jika kita kemarin sudah menyimak bagaimana Hamzah mengenal Islam dan bagaimana pilunya Rasulullah melihat mayat pamannya itu rusak selepas pertempuran di Uhud sekarang kita akan melanjutkan perkenalan ke seorang sahabat lainnya. Muslim di seluruh dunia jika ditanya siapa saja sahabat Rasulullah yang mereka kenal, paling tidak akan menyebutkan para khalifah selepas Nabi meninggal, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Namun, pasti ada satu lagi nama sahabat yang akan disebut. Sahabat yang oleh Umar dijuluki:

“Abu Bakar adalah pemimpin kita, yang telah memerdekakan pemimpin kita.”

Anda tepat duhai teman, orang itu adalah Bilal bin Rabah. Orang yang kita dilontarkan pujian oleh Umar sebagai pemimpin kita, pasti akan langsung menunduk dan membasahi pipinya dengan air mata, dan berkata,

“Saya ini hanyalah seorang Habsyi, dan kemarin saya seorang budak belian!”

Silahkan anda tanya anak-anak Muslim di penjuru Bumi, mereka akan fasih menceritakan siapa itu Bilal dan bagaimana perjuangannya untuk mempertahankan tauhid yang telah dipegangnya. Siapa yang lupa, kata “Ahad Ahad Ahad” yang ia terus ucapkan ketika tubuh hitam kerempengnya diletakkan di gurun pasir panas kemudian di atasnya ditimpa dengan batu yang besar, agar ia melepaskan kata-kata tadi dari mulutnya dan menggantinya dengan satu kata saja dari nama-nama tuhan orang Mekkah saat itu.

Siapa pula yang tak mengenal Bilal, seorang tamsil betapa Islam tidak pernah mengenal perbedaan warna kulit, betapa Islam tidak pernah mengenal strata sosial, bahwa budak belian kemarin sore, bahwa seorang Habsyi berkulit hitam kemarin petang, tetapi ketika ia sudah mengucapkan syahadat, ia apapun status sosialnya, adalah seorang Muslim. Derajatnya sekarang ditentukan oleh Allah sesuai kadar takwanya. Dan Bilal sebagaimana sering disampaikan Rasulullah adalah orang yang suara sandalnya sudah terdengar di surga.

Lebih dari sekadar itu, Bilal adalah orang pertama yang menyerukan adzan untuk memanggil umat dan melanjutkan hidupnya bersama Rasulullah hingga Rasulullah meninggal dunia. Ketika itu ia datang menuju khalifah pertama yang begitu kita cintai, Abu Bakar untuk mencurahkan isi hatinya,

“Duhai Khalifah Rasulullah, saya mendengar beliau bersabda, amal orang Mukmin yang utama adalah berjihad fi sabilillah. Saya ingin berjuang di jalan Allah sampai saya meninggal dunia.”

Mendengar pernyataan Bilal ini, Abu Bakar bertanya padanya,

“Siapa lagi yang akan menjadi muaddzin bagi kami?”

Dengan air mata berlinang Bilal menjawab,

“Saya tak akan menjadi muaddzin lagi bagi orang lain setelah Rasulullah.”

Abu Bakar menolak permintaan dan berusaha membujuk Bilal untuk tetap di Madinah.

Kemudian Bilal berujar,

“Seandainya anda memerdekakan saya dulu adalah untuk kepentingan anda, baiklah saya terima permintaan anda itu. Tetapi bila anda memerdekakan saya karena Allah, biarkanlah diri saya untuk Allah sesuai dengan maksud baik anda itu.”

Abu Bakar pun tidak bisa lagi berbuat apa-apa, ia berkata, “tak lain saya memerdekakanmu waktu itu duhai Bilal, semata-mata karena Allah.”

Adakah kalian bingung, duhai teman-teman demi menyimak fragmen ini? Fragmen betapa kerasnya Bilal menolak untuk melantunkan adzan setelah masa-masa hidup dengan Rasulullah selesai. Jika kalian ingin tahu sebabnya, tak lain tak bukan adalah ketidakkuasaan Bilal untuk mengeluarkan suara ketika adzan yang ia kumandangkan dengan suaranya yang merdu itu, sampai pada kalimat,

“Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.”

Kalimat itu membuat kenangan lamanya pada Rasulullah bangkit kembali, suaranya tertelan oleh kesedihan dan digantikan cucuran tangis dan air mata. Karena alasan ini pulalah ia memutuskan pindah dari Madinah menuju Syria.

Hingga pada suatu ketika, Umar sebagai Amirul Mukminin datang ke Syria. Orang-orang menggunakan kesempatan itu dan memohon ke khalifah untuk meminta Bilal menjadi muaddzin bagi satu salat saja. Amirul Mukminin pun memanggil Bilal, ketika waktu salat tiba. Bilal pun melantunkan adzan terakhirnya. Sahabat-sahabat yang pernah mendapati Rasulullah di waktu Bilal menjadi muaddzinnya sama-sama menangis mencucurkan air mata yang tak pernah mereka lakukan selama ini. Sedang yang paling keras tangisnya di antara mereka adalah Umar.

 

taken from muhammadakhyar.tumblr.com

Meracacacau · Tak Berkategori · Uneguneg

Tahan

tumblr_o15qckdmyc1uxbgkuo1_540

tahu gak?
apa salah satu hal yang bisa bikin aktifitas -yang katanya dakwah- kita nonsense dan useless terutama di mata orang-orang terdekat kita?

Keluar rumah ba’da subuh, baru kembali ke rumah lagi ba’da maghrib. Atau sudah kembali ba’da dzuhur, hanya untuk berganti baju dan langsung capcus lanjut ke agenda berikutnya. Atau bagaimana jika malamnya baru sampai rumah jam setengah dua belas malam dan baru bisa bersiap untuk tidur jam satu kurang, setelah sebelumnya mempersiapkan keperluan untuk agenda keberangkatan ba’da subuh nanti.

Dari langit yang masih gelap karena sang surya belum menampakkan diri sampai bertemu gelapnya langit lagi saat sang surya telah kembali ke peraduannya, semuanya dinikmati di jalan. Dan semuanya dinikmati di saat weekend :”)

Maka saat pulang kerumah,
Badan capai? Jelas.
Lappperr? Bangat :p.
Pengen langsung tidur? Sangat.

Kalau saya Normalnya sih gitu :p

Setelah weekdays full dengan rutinitas sehari-hari dari pagi sampai sore. Tentu menjadi hal yang sangat biasa jika menginginkan weekend yang full leyeh-leyeh (?) :p.

Tapi bukankah, katanya seorang dai memang bukan orang yang biasa? :p ((please! Don’t imagine superhero, haha))

“wal takum minkum ummatun yad’uuna ilal khoiri wa ya’muruuna bil ma’ruuf, wa yanhauna ‘anil munkar…”

..dan hendaklah ada diantara kamu, segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar..

Ini nih, ayat yang sering jadi pedoman mereka-mereka yang mengklaim dirinya sebagai seorang dai, mereka-mereka yang memilih untuk mengambil peran menjadi yang ‘segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar’ itu. Mereka-mereka yang memilih untuk tidak cukup menjadi hanya sekedar manusia biasa. Mereka-mereka yang memutuskan untuk menjadikan dirinya sebagai penyeru, penyambung risalah yang telah disampaikan dengan sempurna oleh Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam.

Maka iya,
apa yang dikerjakannya pun biasanya sedikit berbeda dengan apa yang dikerjakan oleh kebanyakan orang-orang biasa pada hari libur :).

Namun tetap sebagai seorang manusia yang bukan superhero (?) :P,
Maka tentu berasa sekali letihnya tubuh setelah sepagi tadi sudah melakukan beragam aktifitas fisik yang membuat pori-pori kulit mengeluarkan ribuan tetes buliran keringat *lebay yes, haha. Atau jika tidak banyak melakukan aktifitas fisik, ragam aktifitas fikir sepertinya juga memberikan effect keletihan yang sama pada tubuh *sokteubeut:p.

Disaat-saat seperti inilah,
biasanya kepulangan kerumah,
selain untuk mengistirahatkan tubuh dari keletihan,
juga menjadi ajang untuk menumpahkan semua keluhan yang dirasakan selama seharian tadi. *bukan kebiasaan banyak orang kali yah, kebiasaan saya pribadi lebih tepatnya. Hiks!:”””(
Teringat perkataan seorang ustadz,
“antum tahu gak?, apa salah satu hal yang bisa bikin aktifitas -yang katanya dakwah- kita nonsense dan useless terutama di mata orang-orang terdekat kita?” Tanya beliau. “Mengeluh” jawab beliau kemudian.

Iya, mengeluh. Grumble.

Menurut KBBI, mengeluh/me·nge·luh/ memiliki arti menyatakan susah (karena penderitaan, kesakitan, kekecewaan, dan sebagainya). Lihat dari artinya, kayaknya mengeluh itu sudah menderita yang sangat bangat ya? :”(

Sedikit ucapan keluhan yang terlontar dalam lisan kita setiap habis melakukan aktifitas –yang katanya dakwah- ternyata membawa dampak yang sangat luar biasa, bagi penanaman pemahaman terhadap aktifitas dakwah pun juga frame yang terbentuk tentang seorang dai.

Apalagi jika yang mendengarkan keluhan kita itu adalah keluarga kita sendiri, yang notabene memiliki perhatian dan kasih sayang yang melimpah ruah untuk kita.

Coba fikir, ibu mana yang hanya diam saja waktu anaknya mengeluh dan bercerita kalau dia habis disuruh lari 10 puteran gedung, terus setelahnya kepalanya pusing, perutnya mual dan akhirnya muntah. Yakin, besok-besoknya kalau mau minta izin pergi untuk agenda yang sama, akan diiringi dengan kalimat-kalimat negatif tentang agenda tersebut. *pengalaman 😛

Maka,
Tahanlah semampu yang kita bisa :”)

Tahan diri untuk tidak mengeluh di depan orangtua kita, di depan keluarga kita, dan di depan manusia siapapun.

Coba tengok kisah para nabi atau kisah dari baginda Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam –dia sang sebaik-baik teladan-.
Sekalipun mereka mendapatkan kesakitan, penderitaan, kekecewaan yang pastinya jauh berkali-kali lipat daripada yang kita alami, apa pernah ditemui ayat atau shiroh yang menceritakan mereka yang sedang mengeluh?

Eh ternyata ada, 😀

iya beneran ada.
please check your holy Qur’an, Surah Al Furqon:30, Yusuf: 86, Al Anbiyaa’:83.

disana disampaikan secara jelas, kepada siapa para teladan kita itu menyampaikan segala keluh kesahnya. :”)

Tidak kepada istri-istrinya, tidak kepada anak-anaknya. Tidak kepada satupun manusia. Mereka menyampaikannya langsung kepada Dia, Sang Pemilik segala kuasa. Sang Pemilik Semua Urusan.

I feel ashamed of being sad when my case in the hands of Allah (Anonymous)

Maka iya,
Tahanlah semampu yang kita bisa :”)

missal dirasa sudah ndak kuat,
buru-buru ke kamar mandi terdekat,
rendem kepala biar dingin, eh 😛
maksudnya ambil air untuk wudhu,
dirikan sholat, atau baca surat cinta Nya,
atau bisa juga dengan duduk mojok sendirian sambil mengangkat kedua tangan,
sampaikan apa yang sedang kita rasakan, tentang keletihan jasad, kepenatan fikir, ke-sesak-an hati.
setelahnya minta pada-Nya untuk diberikan kekuatan dan kemudahan untuk berusaha menjadi hambaNya yang gemar bersabar dan bersyukur :”).

 

Sibuk itu indah, lelah itu nikmat.
Karena ini bermakna bermanfaatnya usia, insyaallah :”)

 

 

 

Tak Berkategori

Bundelan Azharologia

bundel

(Tuhan Maha Romantis, Konspirasi Semesta dan Seribu Wajah Ayah)

 

Bismillah..

Azhar Nurun Ala, sebuah nama yang tak begitu asing bagi saya. Tapi juga bukan berarti saya sangat mengenalnya. Namanya beberapa kali terbaca di beberapa quote yang bertebaran di dashboard tumblr saya.

Dia adalah penulis, saya tahu. Judul bukunya apa, belum sampai tahu, tapi jika disebutkan satu persatu judulnya, insyaaLlah dengan pede saya jawab “oh yang itu” :P, karena memang judulnya tak asing di telinga, banyak yang membicarakannya, lagi-lagi ini karena yang mereka bicarakan beberapa muncul di halaman dashboard tumblr saya :D.

Dan karena muncul di dashboard tumblr juga-lah :P, bundelan buku ini bisa sampai ditangan saya empat hari setelah saya memutuskan untuk membelinya. Dengan izin dan kehendak Nya tentunya. Dan guess what?, dalam kurun waktu 24 jam sejak kedatangannya, dua buku dari satu bundel yang berisi 5 buku ini sudah habis dibaca :”).

Tuhan Maha Romantis dan Konspirasi Semesta adalah dua judul yang pertama-tama saya baca. Setelah membaca buku yang pertama, saya sungguh-sungguh percaya bahwa Allah benar-benar Maha Romantis, bagaimana tidak? Rangkaian kata yang tertulis dalam kisah novel ini benar-benar memiliki kadar romantis yang cukup bikin baper, haha. Sedang yang menulisnya hanyalah seorang hamba, sebagian kecil dari ciptaan-Nya yang ada di planet biru ini. Maka sudah pasti tentu yang menciptakannya memiliki kadar romantis yang lebih melebihi dari semua ciptaannya. Yang paling Maha Romantis, tentunya.

Seribu Wajah Ayah, adalah buku ketiga yang saya baca habis di hari kedua bundelan ini tiba di rumah saya. Alhamdulillah, Maha Berkehendak Allah yang membuat saya membaca ini diurutan yang ketiga (?) :”), buku ini benar-benar menyelamatkan saya dari jebakan terbayang-bayang kisahnya seseorang dengan buah kiwi :P.

Berbeda dengan dua judul buku sebelumnya yang saya baca, buku ini lebih membutuhkan waktu yang cukup lama untuk saya membacanya. Bukan, bukan karena jumlah halaman yang lebih banyak. Tidak, halamannya tidak lebih banyak dari dua judul sebelumnya sepertinya. Namun muatan yang berada dalam rangkaian kata di tiap lembarnya, benar-benar meransang otak saya untuk turut berpikir dan merenunginya, ditambah sesekali mengambil jeda untuk berhenti membaca, mengambil jeda untuk mengulang kembali membaca kalimat-kalimat yang baru beberapa detik yang lalu dibaca, mengambil jeda untuk menyadari ada sesuatu yang sesak di dada ini, ada sesuatu yang mulai panas di tepi kedua mata ini yang memaksa untuk keluar, ada sesuatu yang tanpa sadar tiba-tiba menarik otot-otot dan syaraf di sekitar bibir ini untuk mencipta sebuah senyuman haru, yang tanpa sadar ada aliran hangat yang mulai membasahi kedua pipi ini.

Speechless,
buku yang sangat bagus!:)
saya turut bersyukur atas Kuasa-Nya, Dia menggerakkan hati penulis untuk menjadikan kumpulan buah kontemplasinya ini –katanya penulis- tidak hanya untuk disimpan sendiri :”)

Sebuah kisah yang benar-benar penuh dengan pemaknaan. Pemaknaan tentang banyak hal yang terjadi di dalam kehidupan yang sementara ini. Pemaknaan-pemaknaan yang sukses membuat pembacanya –saya misalnya- untuk turut merenungi dan melihat kembali kedalam diri sendiri.

Honestly, saya cukup ragu ketika akan memutuskan untuk membeli atau tidak bundelan buku ini. Pertama karena bundelan ini berisi novel (Tuhan Maha Romantis, Seribu Wajah Ayah dan Konspirasi Semesta) dan antalogi puisi, prosa dan cerpen (Ja(t)uh dan Cinta Adalah Perlawanan), untuk buku dengan bentuk novel saya memang membutuhkan berbagai pertimbangan yang lebih lama dan lebih mikir (?) untuk memutuskan jadi atau tidaknya membelinya bila dibandingkan keinginan untuk membeli buku yang lain, yang bukan novel. Seringnya tidak jadi, dan mencari alternative lain dengan mencari referensi siapa yang sekiranya punya dan bisa dipinjami :P.

Puisi dan prosa, ini yang menjadi alasan saya beberapa kali mengurungkan keinginan saya untuk mengirimkan sebuah pesan dengan format pemesanan bundel ke  nomor pemesanan yang sudah saya simpan dari beberapa hari sebelumnya, dari waktu pertama kali saya membaca postingan tentang bundelan buku ini di dashboard tumblr saya.

Saya bukanlah penggemar puisi dan prosa, walau salah seorang sahabat saya kerap kali mengirimkan saya beberapa rangkaian puisi hasil karya nya. Iya, ukhti yang satu ini sangat menyukai puisi :”). Dia juga ahli merangkai kata dan menyusunnya dengan indah dalam judul-judul puisi karyanya. Kok tahu indah? Iya –bagi saya- indah aja dibacanya, walaupun kadang –seringkali- tidak mengerti maksud dari rangkaian katanya. Paraaahh :P, yang seringkali juga berujung dengan pertanyaan, “ini puisi maksudnya apa?, buat siapa?” hahaha. Malu bertanya sesat dijalan :D.

Eh tapi,
salah satu dari 3 novel di bundelan ini yang sudah saya baca,
ada salah satu halaman yang menyampaikan,
bahwa Puisi memiliki dua dunia,
dunia penulis dan dunia pembaca,
yang masing-masing dari keduanya memiliki kebebasan untuk meng-interpretasi-kan suatu puisi dari sudut pandang dunianya,
dua dunia ini bisa jadi beririsan bisa juga tidak berisrisan dalam memaknai sebuah puisi yang sama. Semua bebas meng-interpretasi-kan menurut kacamatanya, menurut fikirannya dan menurut perasaan hati saat membacanya.

meskipun sahabat saya juga mengamini hal diatas, tentang dua dunia dalam puisi, tetap bagi saya butuh dan penting untuk bertanya tentang maksud dari rangkaian kata dalam puisinya. Biar dunia saya dan nya tidak terlalu jauh beririsannya :D.

Alhamdulillah ‘alaa kulli haal :”).
missal ditanya, menyesalkah akhirnya setelah memilih untuk memiliki bundel ini?
saya jawab enggaaaakk! :”),
walau sampai detik ini, saya masih belum berencana mengumpulkan niat untuk mengkhatamkan dua judul sisanya :P, sekali saya membuka beberapa halaman, membacanya dan mencoba untuk memahaminya, tapi tetap menghasilkan lebih banyak kerutan di kening –tanda ga mudeng dan ga ngerti maksud dari tulisan puisi dan prosanya- :P. Padahal pakai bahasa Indonesia ya nulisnya, tetap ga mudeng. Apalagi kalo pakai bahasa Rusia? 😛

 

.

.

.

 

Eh ada yang pernah bilang ke saya,
“biasanya yang mudeng sama puisi-puisi dan prosa-prosa tentang cinta kayak gituh tuh orang-orang yang lagi jatuh cinta, ta!”

 

:”)

 

Tak Berkategori

Menunggu: Tak Selamanya Semembosankan Itu…

Dewi Nur Aisyah

“Patience is not the ability to wait. Waiting is a fact of life. Patience is the ability to keep a good attitude while waiting” (Joyce Meyers)

Setiap orang pasti pernah mengalami masa menunggu. Mulai dari menunggu yang simpel seperti menunggu antrian, menunggu bus atau kereta datang, hingga menunggu jodoh datang (cie cieee…). Ada begitu banyak catatan deretan tunggu yang kita lakukan dalam hidup.

Yang baru lulus kuliah, kita menunggu datangnya panggilan kerja.

Yang ingin melanjutkan sekolah ke universitas ternama, menunggu keputusan diterima, atau mungkin menunggu keputusan beasiswa, atau bahkan keduanya.

Yang masih single (uhuk2), menunggu datangnya pinangan ke KUA.

Yang sudah menikah, menunggu kedatangan buah hati pertama.

Yang sudah Allah rezekikan mengandung anak pertama, menunggu kelahiran buah hati tercinta.

Begitupun saat kita menunggu terkabulnya setiap bait-bait doa dari lisan yang meminta.

View original post 787 more words