Dear · reblog

Sejak Sajak

sejaksajak
thanks canva!:”)

pusi Bunda Helvy Tiana Rosa

(Cinta selalu bekerja dengan cara rahasia
ketika saatnya tiba
Ia kirimkan padamu
getar tanpa sapa
dan binar tanpa rencana)

Sejak bertemu denganmu
tak ada yang lebih biru dari waktu
Ia melipat pagi dan senja
jadi satu dalam sakuku
tanpa kompromi

Sejak bertemu denganmu
tak ada yang lebih jejak dari sajak
ia lahir dan beranak pinak
dari tiap kata, gerak,
bahkan diammu

Sejak kita bertemu
pancaran matamu adalah syair ribuan hari
yang menyihir airmata jadi kuntum kuntum asa
tubuh kita menjelma rumah rumah pasi
di dada jalan
setia menampung sejarah,
kenangan atas perjumpaan
dan perpisahan berkali kali.

Sejak bertemu denganmu
Sejak sajak, sejak kita

(Depok, 2013)

Advertisements
Belajar · Dear · Hikmah · reblog · Selftalk · Tarbiyah · they're said

Pasrah

“mintalah hati yang lapang, agar seberat apapun titah-Nya, tidak menyisakan gerutu dari lisan kita. Sebab memang hanya mereka yang dilapangkan dadanya yang mau menerima cahaya itu sepenuhnya”
–Nina Lathifah–

Sabar
Syukur

oleh Urfa Qurrota Ainy

Seringkali kita menasihati diri kita atau orang lain untuk bersyukur dan bersabar dalam menghadapi persoalan kehidupan.

Namun, pernahkah kita merasa bahwa sabar dan syukur yang sudah kita upayakan belum bisa menjadi jawaban bagi keresahan dan belum cukup untuk membuat hati tenang?

Mungkin memang sabar dan syukur saja tidak cukup. Ada satu hal yang seringkali terlupa, yaitu berpasrah.

Yuli Suliswidiawati, seorang psikolog dan terapis DEFT, baru-baru ini menulis buku berjudul “Menggapai Hidup Bahagia.” Buku ini berisi tentang cara-cara agar kita bisa bahagia dan tidak terbelenggu oleh memori tentang pengalaman buruk di masa lalu. Lengkap dengan cerita pengalaman beliau saat menerapi klien-kliennya.

Satu hal yang membuat klien-klien itu akhirnya berhasil menghancurkan belenggu masa lalu dan akhirnya ‘sembuh’, yaitu karena mereka berpasrah. Hal ini yang menjadi ciri khas dari terapi Ibu Yuli. Pada setiap terapi, beliau membimbing klien untuk mengatakan “Ya Allah, aku pasrah..” (atau sesuai Tuhan yang diyakini klien).

Semakin kita pasrah, semakin mudah untuk ‘sembuh’. Semakin kita menolak, semakin kita ‘sakit’.

Pasrah (surrender) lebih tinggi derajatnya dari penerimaan (acceptance). Berpasrah berarti menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada Allah. Penyerahan diri inilah yang akan membuat kita ridha atau senang hati menjalani kehidupan. Kita yakin bahwa diri kita milik Allah dan Dia berhak melakukan apa saja sesuai kehendak-Nya.

Dengan berpasrah, artinya kita melepas diri dari segala keterikatan. Keterikatan pada masa lalu yang buruk, pada ketakutan, rasa bersalah, rasa takut, rasa murka, rasa dendam, cemas, dan sebagainya. Dan hanya berpegang pada satu tali yaitu tali Allah. Al-Urwatul Wutsqa, tali yang sangat kuat.

Hakikat Islam adalah mengajak manusia untuk berserah sepenuhnya. Kata ‘Islam’ berasal dari kata ‘aslama’ yang berarti berserah. Karena itulah Islam menjadi agama yang paling sesuai dengan fitrah manusia.

….

Kalau dulu,
Saya suka sekali merapal kalimat ini berulang-ulang,
yaa Rabb, jadikanlah hamba termasuk kedalam golongan hambaMu yang gemar bersabar dan bersyukur

Sekarang,
Saya suka sekali merapal kalimat ini berulang-ulang,
Yaa Rabb, hamba berpasrah memohonkan apa yang terbaik bagi hamba yang menurut Engkau baik, dan berikanlah kepada hamba kesabaran, keikhlasan dan kekuatan untuk dapat menjalani apaapa yang Engkau takdirkan untuk hamba

Kalo katanya mba Nina Lathifah (lagi:p):)

“terserah Allah saja, asal terbaik menurut Allah bagi dunia terlebih akhirat…
Kalau sudah terserah Allah, selanjutnya tinggal minta:

Hati yang ridha

Udah.
Sesederhana itu pintanya :)”

 

All Pict from Pinterest :)

Belajar · challenge · Harta Karun · Hikmah · reblog

Melalui Waktu Kita Belajar

oleh Kang Dedi Setiawan

“Time never stops. Why should we?” begitu kata Jack Heuer. Tentu bukan kebetulan kalau Jack mengaitkan kehidupan dengan entitas waktu.

Jack memang cucu dari Edouard Heuer. Nama yang terakhir itu merupakan founder TAG Heuer, brand jam tangan terkenal asal Swiss. Seratus lima puluh tahun lalu, Edouard merintis bisnisnya dengan membuka watchmaking workshop di Cornol, Swiss.

Seolah lahir untuk dinobatkan sebagai kebanggaan orang-orang sejagad, jam yang dipakai oleh orang-orang ternama seperti Barack Obama, Leonardo diCaprio, Tiger Woods, dan Brad Pitt itu terus berinovasi. Pada 1914 TAG Heuer mengeluarkan jam tangan khusus untuk pilot, lalu mengeluarkan produk jam tangan tahan air pada 1939. Pada 1963, sukses dengan produk yang terinspirasi dari para pembalap di ajang Carrera Panamericana. Dan seri Carrera itu berlanjut hingga tahun ini.

TAG_Heuer_Men_CAV518BFC6237_Grand_Carrera_Automatic
pict from Bukalapak. yang penasaran harganya 98.300.000 😛 (nol nya ga kebanyakan kok :D)

 

 

Kembali pada Jack, tentu bukan kebetulan ia mengeluarkan kalimat yang menjadi TAG Heuer spirit itu. Betul katanya, waktu tidak pernah berhenti. Putaran jarum dan detak detik jam akan berhenti, tapi tidak dengan waktu. Hari akan selesai dan malam akan usai, tapi tidak dengan waktu. Kehidupan dunia akan berakhir, tapi waktu terus berlanjut.

Dan dari waktu-waktu yang tak pernah berhenti itu, tidakkah kita mengambil inspirasi? Nyatanya, ada orang-orang yang tidak berhenti walau jasadnya mati. Sebutlah itu nama-nama semisal Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wasallam, Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Ustman bin Affan, Ahmad Dahlan, Hasyim Asyhari, A. Hassan, dan seterusnya. Sebut juga misalnya Soekarno, M. Hatta, M. Natsir, Sjahrir, Tan Malaka, dan seterusnya. Mereka orang-orang yang tetap “hidup” sampai sekarang.

Ah, alangkah sebentarnya hidup jika hanya diukur sampai batas kematian jasad. Amal baik dan warisan ilmu membuat orang-orang yang telah mati bisa “hidup” sampai kapan pun jua. Jasad memang akan lemah lalu mati, tapi amal kebaikan tidak. Pertanggungjawaban senantiasa menanti, maka idealnya amal kebaikan tak boleh terhenti. Menyadari waktu yang tak pernah berhenti, tidakkah kita tertarik mewarisi amal dan ilmu yang tak hanya abadi, tetapi juga terus tumbuh dan berkembang? Wallahu’alam.

Belajar · Dear · Meracacacau · reblog · Selftalk · they're said · Uneguneg

Cinta yang Berdaya

pict from pinterest 🙂

mba Dea Mahfudz says

Dulu pas ada temen bilang bahwa cinta itu identik dengan kata “i will die for you”, sekarang rasanya beda. Buat gue cinta itu juga tentang menjaga diri sendiri biar tetep kuat, sehat badan, sehat pikiran juga. Biar kita bisa nemenin orang-orang yang kita sayang di saat-saat sulit.

gue jadi inget obrolan sama temen tempo hari. Intinya dia bilang ke gue,

“Kalo orang yang lo sayang ketimpa kesulitan, lo jangan ikutan drama. Lo harus waras dan ngelakuin hal paling realistis yang lo bisa buat nguatin orang yang lo sayang”

Hidup itu maraton. Kalo kita bisa ngelewatin satu ujian, di depan nanti bakal ada ujian lagi. Bukan gw suudzon sama Allah. Tapi yang namanya hidup, sunnatullahnya kayak gitu. Manusia ga mungkin hidup tanpa masalah. Yang terpenting kalo kita ada masalah, jangan tenggelam dalam tangis sampai hidup kita stuck di situ doang. Kita harus buru-buru sadar dan bertindak dengan waras.

then,
gue nyadar bahwa romantisme cinta bukan
“kalo kamu nangis, aku juga ikut nangis, kalo kamu jatuh, aku juga jatuh”

melainkan,

“kalo kamu nangis, aku yang bakal ngajarin kamu hapus air mata. Kalo kamu jatuh, aku yang bakal ngajarin kamu buat naik lagi”

kenapa ngajarin? kenapa nggak bantu?

sebab manusia punya tanggung jawab atas dirinya sendiri. Gue mau cinta gue kelak ngasih ruang buat orang yang gue sayang untuk menumbuhkan diri sendiri. Bukan cinta yang attached yang seandainya gue pergi, orang yang gue sayang bakal kehilangan segalanya sampai kehilangan semangat hidup juga.

i will try giving you the maps, the fuel,
but you have to reach your dream by your own hand.

===

and,
pak Hafidz says,

Gimana udah ketemu?” Tanya Ummiku sambil menggoda.

“Apanya, Mi?” Jawabku datar

“Kamu nih pura pura gatau, coba deh emang tipe mu yang gimana?” Beliau menanyakan kembali

“yang kuat, Mi. Pertama, karena kesuksesan laki laki itu ditentukan dari siapakah Ibunya dan siapakah Istrinya. Kemudian, karena dari awal aku sadar, aku ini tipikal yang aktif dan pengen terus terlibat dengan banyak orang diluar sana untuk memberi manfaat. Menjadi sebaik baik manusia. Di tambah aku ini insinyur Mi. Yang nature pekerjaannya akan sering pergi – pergi…” Saya mulai menjawab karena mengerti arah pertanyaannya kemana

“ …ditambah itu aku punya mimpi mimpi dalam hidup ini. Kesemuanya itu kalo tidak orang yang kuat, aku takut cuma akan menyakitinya. Dia harus kuat dan tahu apa yang harus dilakukan ketika aku tidak ada di rumah dan anak kami nanti demam, ketika listrik di rumah korslet dan tidak menyala, dia harus kuat dan memahami ketika ingin bermanja namun suaminya pergi karena urusan orang banyak. Tentulah harus seorang yang kuat dan hebat, karena semanjak akad maka cita citanya menjadi cita citaku dan tidak ada lagi kata dia dan aku, kesemuanya tentang kami.” Kataku mengakhiri sambil tersenyum.

Dan dalam hati aku berkata pada diri sendiri,

“Dan yang paling penting dari itu semua adalah, dia harus kuat, karena aku tidak akan mengajarinya untuk menjadi lemah dan payah. Sehingga ketika aku benar benar harus pergi dari sisinya dia akan tetap menjadi kuat dan hebat, melanjutkan hidupnya, merawat anak anak dan mimpi mimpi kami.”

Belajar · challenge · Harta Karun · Hikmah · Selftalk · Tarbiyah · they're said

Seperti Inilah Seharusnya Kita Berprasangka

ditulis ulang dari ust. Noorahmat Mubarak.

Thalhah bin Abdurrahman bin Auf adalah sosok paling dermawan di kalangan Quraisy pada zamannya. Ketika dalam kondisi sulit, istrinya pernah berkata kepadanya, “Aku tidak melihat kaum yang keterlaluan melebihi kawan-kawanmu!”

Thalhah terhenyak dan berkata, “kenapa? Mengapa kamu berkata seperti itu? Apa alasanmu?”

Istrinya menjawab, “Mereka dekat denganmu saat kamu berkecukupan, tapi mereka meninggalkanmu saat kamu dalam kesusahan.”

Dengan bijak Thalhah menjawab,

“itu justru menunjukkan kebaikan mereka. Mereka datang saat aku kuat dan bisa membantu mereka dan mereka tidak mendatangiku saat aku tidak mampu berbuat (membantu), karena mereka tak ingin membebani diriku.”

Imam Al-Maawardi menyebutkan kisah ini dalam kitabnya yang masyhur, “Adabud Dunya wad Dien”, lalu beliau memberikan komentar, “Lihatlah bagaimana kemuliaan Thalhah sehingga dia menakwilkan sikap kurang baik para sahabatnya terhadap dirinya sebagai perlakuan baik. Dan tindakan yang sekilas bisa diartikan pengkhianatan namun dia anggap sebagai kesetiaan. Inilah kemuliaan dan keutamaan sejati, dan begitulah karakter orang-orang mulia, mereka berprasangka baik atas kekhilafan yang dilakukan saudaranya.”

(Adabud Dunya wad Dien, Imam al-Mawardi).

kewajiban kita sebagai seorang muslim terhadap saudaranya adalah dengan berprasangka baik terlebih dahulu :”).

Salamatus sadr. Padahal ini landasan paling dasar sebelum menjalin sebuah ikatan ukhuwah. Biarlah melabeli predikat teman sejati atau bukan teman sejati menjadi tanggungan para malaikat yang mencatat setiap niat dan amal yang tampak dan tak tampak dalam penglihatan kita. Tugas kita jauh lebih besar, menjaga hati dari segala prasangka yang tidak menyehatkan jiwa :”).

wallahu a’lam bis showab.

Dear · Harta Karun · reblog · they're said

Mencintai Orang Baik

reason
image from Pinterest

oleh teh Urfa Qurrota Ainy

Kebaikan itu magis. Kita senang melihat perbuatan baik. Kita senang pada orang yang berbuat kebaikan. Orang baik punya daya tarik.

Kita pun boleh jadi mencintai seseorang karena dalam pandangan kita, orang tersebut baik. Tak peduli jika orang lain tak sepakat dengan kita. Kita selalu bisa melihat sisi baik dari orang yang kita cintai. Dan berharap kita bisa membuat orang lain juga bisa melihat sisi baik tersebut.

Mencintai orang baik seperti mudah. Ada banyak hal yang bisa kita kagumi darinya secara spontan. Semua orang akan berpikir kita begitu beruntung memilikinya sebagai seseorang yang dicintai.

Tapi, pada kenyataannya tidak selalu semudah itu.

Mencintai orang baik berarti memahami bahwa kebaikannya dibutuhkan oleh banyak orang. Bukan hanya oleh kita. Sebagai konsekuensi dari menjadi orang baik, tentu ia juga disayangi oleh banyak orang. Bukan hanya oleh kita.

Kita tahu bahwa ia baik bukan hanya pada kita. Tetapi pada semua orang. Itu berarti selain ia sebagai kekasih, atau suami, istri, ayah atau ibu yang baik, ia pun seorang anak yang berbakti pada kedua orang tuanya, teman yang suka membantu, pelayan masyarakat yang mengayomi, pekerja yang profesional, juga pemimpin yang berdedikasi.

Mencintai orang baik berarti memahami bahwa di hatinya bukan hanya ada kita. Hatinya memiliki banyak ruang untuk mengasihi banyak orang. Waktunya dibagi kepada banyak orang yang membutuhkan. Akalnya digunakan untuk memikirkan banyak orang.

Mencintai orang baik juga berarti memahami bahwa kita tak bisa egois dan berpikir bahwa ia milik kita. Karena akan selalu ada celah-celah yang dimanfaatkan para penggoda untuk menghembuskan perasaan iri dan cemburu.

Sejak detik pertama, mencintai orang baik berarti rela. Rela untuk tidak selalu jadi yang utama. Rela untuk mendukung tanpa keluh kesah. Rela untuk mendoakan tanpa lelah.

Berharap dipersatukan dengan orang baik ibarat mendambakan hujan. Kita tak bisa memintanya untuk jatuh di halaman rumah kita saja.

 

Harta Karun · Hikmah · reblog · sejarah

Mengenang Aurangzeb dan Tanggung Jawab Atas Cinta

bibi-ka-maqbara-116
This is not Taj Mahal. It’s Bibi Ka Maqbara. Photo credit

oleh Muamar Salim

Ada yang tidak mengenal Taj Mahal? Bangunan megah yang dibangun oleh Syah Jehan, Raja Mughal, untuk istrinya yang telah wafat. Bangunan ini dibuat sebagai hadiah terakhir untuk sang istri, dan tempat bersemayamnya jasad sang istri. Orang-orang banyak menyebutnya sebagai monumen cinta paling legendaris. Maka tak aneh ketika bangunan ini dinobatkan sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia.

Atas bangunan megah ini, Syah Jehan pun disebut-sebut sebagai salah satu raja paling romantis. Dan kisah asmaranya dengan sang istri juga disebut-sebut sebagai salah satu kisah paling legendaris sepanjang masa. Maka Syah Jehan, istrinya, dan Taj Mahal dikenang sepanjang masa sebagai satu paket kenangan atas cinta.

Ada yang menarik ketika kita lebih cermat membaca sejarah tentang hal ini. Tentang sebuah kisah cinta yang lebih agung yang diperankan oleh karakter lain. Kisah yang tak banyak dielu-elukan sejarah. Karena yang lebih menarik bagi sejarah untuk dicatatnya adalah kisah cinta yang melankolis dan dramatis seperti Syah Jehan, istrinya, dan Taj Mahal.

Maka di sudut sejarah tentang melankolisme cinta ini tersebutlah Aurangzeb. Anak sang raja, pemangku tahta sepeninggal ayahnya yang tak banyak dikenangi orang di abad sekarang. Hal itu wajar, karena ia seperti menjadi antitesis bagi sejarah romantisme ayah dan ibunya. Aurangzeb, setelah ia memegang tahta Mughal, ia penjarakan ayahnya. Begitu yang tertulis pada sejarah populer.

Aurangzeb memenjarakan ayahnya bukan tanpa alasan. Tapi dengan alasan yang kuat dan rasa cinta yang agung menuntutnya melakukan itu. Meski ia pun berat hati untuk melakukannya. Tapi baginya, cinta selalu memiliki prioritas. Ayahnya, Syah Jehan, demi membangun Taj Mahal sebagai hadiah untuk istrinya, dia biarkan puluhan ribu budak hindu mati dalam masa pembangunannya. Demi membangun Taj Mahal sebagai bentuk cinta untuk istrinya, dia habiskan semua pemasukan negara dan membiarkan bertahun-tahun kas negara kosong hingga tak mampu melakukan fungsi pelayanan pada rakyatnya.

Aurangzeb merasakan ada berkah yang hilang dari negaranya. Maka saat ia mengampu tahta kerajaan, dia jalankan kewajiban yang berat itu; menghukum ayahnya sendiri. Mungkin sejarah akan mencatat Aurangzeb sebagai penguasa yang bengis bahkan kepada ayahnya sendiri. Tapi Aurangzeb punya pemahamannya sendiri atas tanggung jawab dan cinta. Ayahnya pun tak dibiarkan semena-mena di dalam penjara. Ia utus saudara perempuannya untuk selalu menemani dan merawat ayahnya di penjara. Dan saat ayahnya meninggal ia pun menguburkan jasad ayahnya di samping ibunya di Taj Mahal sebagai bentuk penghormatan atas cinta mereka berdua.

Aurangzeb memimpin negara dengan apa adanya. Ia tak banyak mengambil untung dari pemasukan negara. Penghasilan utamanya malah berasal dari anyaman topi yang dia buat dan jual, serta jasa menyalin teks al qur’an. Pada masa pemerintahannya pemasukan tahunan negara mencapai seratus juta rupee, yang menurut para sejarawan adalah yang terbesar di seluruh dunia pada masa itu. Pada pemerintahannya pula, wilayah kekuasaan kerajaan Mughal adalah yang terluas dari raja-raja sebelumnya dan sesudahnya.

Aurangzeb tak banyak meninggalkan peninggalan-peninggalan megah untuk dikenang orang-orang sesudahnya, sebagaimana kebiasaan raja-raja sebelumnya. Bangunan termegah yang pernah dibuatnya adalah masjid Badshahi di Lahore, yang selama 330 tahun menjadi masjid terbesar di dunia. Ada satu lagi bangunan yang dibuat di masanya. Bibi Ka Maqbara. Bangunan persemayaman untuk istrinya. Bangunan ini tak secara langsung diperintahkan dibuat olehnya melainkan atas permintaan anaknya, Azam Shah, untuk menandingi kemegahan Taj Mahal. Tentu saja Aurangzeb menolak, dan melarang para pekerja mengangkuti batu-batu dalam perjalanannya. Tapi karena anaknya merajuk, maka Aurangzeb mengalokasikan dana hanya sebesar 700 ribu rupee untuk pembangunannya.

Maka jadilah bangunan ini dan dinamai Bibi Ka Maqbara, tempat persemayaman sang wanita. Bangunan ini tampak mirip dengan Taj Mahal tapi sangat berbeda jauh dari sisi arsitektur dan kemewahan. Wajar saja, dengan anggaran hanya 700 ribu rupee, yang dibandingkan dengan Taj Mahal yang memakan 32 juta rupee. Padahal pemasukan negara tiap tahun pada masa pemerintahan Aurangzeb sekitar 100 juta rupee. Tapi ia menyadari bahwa kekayaan negara itu bukan miliknya semata. Bahkan makam raja yang shalih ini pun tak seperti makam raja-raja sebelumnya yang megah-megah. Terletak beberapa kilometer dari Bibi Ka Maqbara makam istrinya, makamnya rata dengan tanah, dengan tenda kayu sebagai peneduh yang terbuka sisi-sisinya. Sangat sederhana untuk ukuran seorang raja.

“Aku datang seorang diri, dan pergi seperti orang asing. Aku tak tahu siapa diriku ini, dan apa yang telah aku lakukan,” ujarnya pada Azam Shah anaknya di masa-masa menjelang wafatnya. Tak ada kebanggaan baginya yang terlalu besar untuk bisa ia sombongkan. Kita belajar tentang makna cinta dari Aurangzeb. Bahwa cinta sejatinya adalah tanggung jawab. Cintanya pada ayahnya membuatnya harus bersikap adil, memenjarakan ayahnya atas kedzaliman pada budak-budak hindu saat membangun Taj Mahal. Tapi ia juga memperlakukan ayahnya dengan layak selama di penjara, dan dimakamkan bersama ibunya sebagai bentuk penghormatan yang tinggi. Cintanya pada rakyatnya membuatnya harus semaksimal mungkin melayani rakyatnya. Mengambil gaji secukupnya, dan bahkan penghasilan utamanya dari menjual anyaman topi dan salinan al qur’an. Cintanya pada Tuhannya, membuatnya tak menjadi sombong sebagai seorang raja, maka ia menghadap pada Tuhannya dengan apa adanya, dengan makam yang rata dengan tanah dan sangat sederhana.

Di Indonesia hari ini, kita merindukan pemimpin yang tahu tanggung jawabnya. Pemimpin yang tahu bahwa cinta berarti memberi. Bahwa mencintai rakyat, berarti bekerja untuk kesejahteraan rakyatnya.

Harta Karun · Hikmah · reblog · sejarah

Mahkamah Samarkand

samarkand
Samarkand – The Capital of Tamerlane

oleh Hafidz (fatihfatah.tumblr.com)

Setelah Qutaibah bin Muslim dan pasukannya menaklukan Samarkand yang terletak di Uzbekistan. Maka, Samarkand menjadi kawasan dari kekhalifahan islam yang saat itu Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifahnya. Kita tau bahwa Umar bin Abdul Aziz adalah cicit dari Umar bin Khattab. Dan kedua Umar ini termahsyur akan kepemimpinannya, ke-zuhud-annya dan karena keadilannya. Bahkan Khalifah Umar bin Abdul Aziz berusaha mengembalikan kondisi negara dan kekhalifahan yang saat itu bergelimang harta dan kemewahan kembali kepada keadaan saat bagaimana 4 khalifah pertama memimpin (Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib).

Maka pemuka pemuka Samarkand yang tidak terima atas islam yang berlaku di negeri mereka mencari ide bagaimana agar Samarkand kembali ke seperti sedia kala sebelum Islam masuk dan menguasai. Sampailah mereka pada suatu ide, bahwa mereka mengetahui bahwa khalifah Umar bin Abdul Aziz terkenal sebagai orang yang adil. Maka mereka memutuskan bahwa jika memang pemimpin kaum muslimin saat itu orang yang adil, ada kesempatan mereka untuk menggugat kaum muslimin di pengadilan.

Diutuslah perwakilan pemuka Samarkand berangkat ke Damaskus, suriah untuk “mencari keadilan” dari khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Kejadian di Damaskus

Sesampainya perwakilan pemuka Samarkand di Damaskus, ia terbelalak dengan keindahan kota dan kehebatan gedung gedung megah yang menjulang di Damaskus. Rumah rumah yang bagus, Masjid yang megah dan istana yang besar. Dengan meminta bantuan penduduk sekitar, perwakilan pemuka Samarkand itu meminta ditunjukkan rumah Khalifah bin Abdul Aziz.

Dalam bayangannya dengan kekuasaan kekhalifahan Islam pada saat itu yang membentang dari Spanyol sampai mendekati China, dengan ibu kota pemerintahan yang megah, maka sudah pastilah pemimpin kaum muslimin adalah seorang besar yang sangat disegani. Namun sampailah mereka pada suatu rumah biasa dimana ada sepasang suami istri yang sedang memperbaiki dinding rumah mereka. Sang suami sedang menambal dinding dengan lumpur dan sang istri mengaduk lumpur. Dan yang mengantar perwakilan pemuka Samarkand itu mengatakan, “inilah rumah Khalifah”. Sampai sampai ia tidak percaya.

Setelah Menjadi Khalifah

Fatimah binti Abdul Malik adalah istri dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Simbol Wanita terhebat dan ter-nyaman hidupnya. Ayahnya adalah khalifah, kakaknya menjadi khalifah, adiknya menjadi khalifah, dan suaminya pun pada akhirnya menjadi khalifah. Benar benar sebuah anugerah dan membuat banyak orang mengharapkan sekiranya mereka seberuntung Fatimah binti Abdul Malik. Lahir dan besar dari keluarga khalifah, anak dari khalifah, saudara khalifah dan istri dari khalifah.

Umar bin Abdul Aziz pun tidak kalah mewahnya. Lahir dari keluarga ningrat membuatnya terbiasa untuk hidup dalam standar hidup “kelas bangsawan”. Sebagai contoh harga bajunya 130 dinar atau setara dengan 260 juta (1 dinar, terbuat dari emas 22 karat dengan berat 4,25 gr, dengan taksiran kasar 1 dinar sama dengan 2 juta rupiah pada saat ini). Ketika beliau bersekolah di Madinah, Pamannya Abdul Malik bin Marwan, setiap bulannya memberi uang saku 2000 dinar/bulan (setara 4 milyar hari ini) untuk Umar bin Abdul Aziz. Parfumnya, bahkan cara jalan Umar pada saat itu menjadi trend anak anak muda.

Namun yang terjadi ketika Umar bin Abdul Aziz di bai’at menjadi khalifah, segera setelah pulang dari pemakaman dari Sulaiman bin Abdul Malik maka pasukan pengawal khalifah sudah menyambut Umar bin Abdul Aziz lengkap dengan kuda terbaik bagi sang Khalifah baru. Dan Umar bin Abdul Aziz segera bertanya

“Apa ini semua?” tanya Umar.

“Ini adalah kendaraan khalifah” jawab pasukan pengawal

“Jual ini semua, masukkan hasi penjualannya ke baitul mal dan bawa kan kepadaku bhigal (peranakan kuda dan keledai)” perintah Umar.

Setelah di bai’at menjadi khalifah, ia pun memanggil segera istrinya. Fatimah binti Abdul Malik, wanita yang hidupnya dari kecil tidak pernah susah. Dan ia katakan kepada istrinya “Wahai Fatimah, jika engkau menginginkan Allah dan Rasulnya maka bersiap siaplah untuk hidup denganku. Dengan kehidupan yang berbeda dari kehidupan kita sebelumnya. Namun jika engkau menghendaki kemewahan dunia dan harta, maka kemarilah dan aku berikan kepadamu namun setelah itu kita berpisah”. Lalu dijawab oleh Fatimah “Hidup dan matiku akan bersamamu (Al hayatu hayatuk wal mautu mautuk)”.

Maka hiduplah mereka dalam kesederhanaan bahkan sangat sederhana.

Sesuatu Yang Tidak Ada Di Peradaban Lain

Maka menghadaplah perwakilan pemuka Samarkand kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

“Ya Khalifah, saya datang dari Samarkand untuk mengadukan suatu perkara dan meminta keadilan” kata perwakilan pemuka Samarkand

“Apa itu?” tanya Khalifah.

“Bukankah dalam islam sebelum pasukan muslim menaklukan suatu wilayah mereka akan memberikan 3 pilihan? Untuk masuk islam, jika tidak maka membayar jizyah, jika tidak maka berperang?” tanya pemuka Samarkand.

“Begitulah Rasul kami mengajarkan” Jawab Khalifah

“Maka kami meminta keadilan atas apa yang dilakukan pasukan muslimin di Samarkand yang tidak lebih dahulu memberi kami pilihan tersebut dan langsung menyergap kami” adu sang pemuka Samarkand.

Khalifah langsung menulis surat sangat pendek dan singkat, dan mengatakan “bawa surat ini kepada wakilku di Samarkand” perintah khalifah kepada pemuka Samarkand

Maka dibawalah surat tersebut ke gubernur Samarkand, dan ketika dibaca isinya adalah “adililah antara Qutaibah bin Muslim dan Masyarakat Samarkand” dan Khalifa menunjuk Hakim Jumaiy bin Hadzir Al Baji untuk memimpin pengadilan tersebut.

Maka dipanggilah Qutaibah kembali ke Samarkand, karena setelah berhasil menaklukan Samarkand, Qutaibah segera bergegas untuk misi dakwah selanjutnya.

Kembalilah Qutaibah bin Muslim ke Samarkand sebagai orang yang digugat oleh pemuka Samarkand. Dan dimulailah pengadilan tersebut.

Hakim : Benarkah sebelum memerangi Samarkand engkau tidak lebih dulu memberikan pilihan kepada mereka?

Qutaibah : Benar, namun saya punya alasan. Perang adalah penu tipu daya. Samarkand yang bertanah subur dan makmur ini jika aku berikan pilihan maka mereka akan punya kesempatan untuk membangung kekuatan untuk mengalahkan kami sehingga kami kalah dari mereka. Oleh karena itu aku tidak memberikan pilihan dan langsung menaklukannya.

Hakim : Bagaimanapun alasanmu namun Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk memberikan pilihan terlebih dahulu. Berarti dalam kasus ini engkau yang bersalah, maka sekarang. Tarik mundur seluruh pasukanmu dari Samarkand, dan ulangi kembali dari awal (penaklukannya) dengan memberikan pilihan terlebih dahulu

Kita tidak pernah melihat kepatuhan seperti ini bahkan keadilan seperti ini di peradaban lain. Maka Qutaibah tanpa banyak berbicara langsung memerintahkan seluruh pasukannya keluar dari Samarkand dan bersiap mengulangi penaklukannya.

Melihat fenomena keadilan dan budi pekerti luhur dari pemimpin sampai pasukan kaum muslimin. Maka segera dengan tanpa paksaan para pemuka Samarkand akhirnya mengucap dua kalimat syahadat dan masuk islam.

Notes : Ditulis kembali oleh saya dengan bebas setelah mengikuti kajian Ustadz Herfi Ghulam Faizi Lc, Penulis buku Umar bin Abdul Aziz 29 Bulan Mengubah Dunia. Semoga Allah melindungi saya dari kebodohan dan kesalahan dalam menyampaikan.