Dear · Meracacacau · rumah · Uneguneg

Dear Annisaa’ :”)

“halloo, assalammu’alaykum, namanya siapa :)?”

“Annissaa” jawabmu diiringi sebuah senyuman manis:”)

dear nisaa :),
hay adik -dengan senyuman- manis, senang bisa bertemu denganmu! :”)
***
“nisaa ini sebelumnya sudah pernah belajar ngaji, tapi karena sudah lama ga belajar lagi, sudah banyak yang lupa katanya”, pesan bapak sesaat setelah perkenalan ku dengan nisaa.
“oh okey! 🙂 gapapa ya nisaa, kita mulai nginget nginget lagi dari awal yah :)”
“iyah!”, jawabmu dengan penuh semangat. Dan terima kasih untuk turut serta melampirkan senyuman manismu (lagi) 🙂
dear nisaa :),
Tidak apa kalo sekarang lupa. Kita akan berusaha untuk mengingat-ingatnya kembali :”), setelah ingat kembali, kita minta sama Allah semoga ingatan kali ini diridhoi-Nya dan senantiasa dijaga oleh Nya 🙂
***
“kalo yang ini huruf apa?”
“hmm” gumam mu sambil kemudian melihat kearahku “ga tau kak :”( “, ucapmu kemudian sambil tertunduk terdiam.
dear nisaa :),
hay, ndak apa adik manis :”).
Ga usah malu, karena lebih keren-an mengaku belum tahu daripada sok tahu :p. Dan kita sama-sama belajar untuk menjadi tahu. Bukan, bukan menjadi tahu yang jadi sok tahu. Tapi menjadi tahu, bagaimana kita seharusnya menghamba kepada Nya :”).
***
“Nisaa terakhir dulu, ngajinya sampai mana? :”)”
“Iqro 5 kak, tapi karena kelamaan ga ngaji lagi jadi lupa semua :”(.”
dear nisaa :),
Terima kasih nisaa, untuk menyadarkan kakak, bahwa Allah benar-benar Maha Kuasa dan Berkehendak. Tidak ada satu makhluk-pun yang bisa menjamin apapun, bahkan yang ada pada dirinya sekalipun. Semuanya atas kehendak Nya dan dibawah kuasa Nya.
yaa muqalibul qulub tsabit qolbi ‘ala dinnik.
***
“Eh, nisaa udah kelas berapa sekarang?”
“Kelas 5 kak”
dear nisaa :),
selamat nisaa, kamu juara keren-nya dan berani-nya! :”).
Disaat mungkin banyak teman-teman sebaya nisaa yang ga mau ambil pusing karena belum bisa ngaji, tapi nisaa mau ambil pusing (?), mau datang dan belajar dari awal lagi, walau masih ditemenin mama, gapapa nisaa tetep juara keren-nya! :”)
***
“hari ini sampai sini dulu yah :), nisaa udah keren kok. Karena cuma mengingat ngingat kembali, insyaaLlah kalo sering diulang nanti bisa inget dan lancar lagi ya nisaa bacanya :”).”
“iya kak” jawabmu. Dan hey, senyum manis itu lagi!:)
“mba, disini ngajinya tiap hari apa aja ya mba? Soalnya anissaa tiap senin, rabu, jum’at ada les sampai sore, maghrib baru sampai rumah”, tanya mama nisaa yang sedari tadi menemani nisaa –dan juga menemani mobile phone beliau :”(–
“ooh, waah nissa padat ya jadwalnya” kataku sambil melirikmu yang hanya terdiam sambil menundukan kepala.
“Oiya mba, disini juga diajarin cara sholat juga ga mba?”
“Iya bu, insyaaLlah diajarin. Tiap hari Jum’at sama ustadz Lukman diajarin cara belajar wudhu sama sholat, nanti belajarnya gabung barengan sama yang anak laki-laki”
“yah hari jum’at yah, ga bisa dong nisaa nya”
“iya ibu, ustadz Lukman bisa nya tiap hari jum’at aja.”
dear nisaa :),
huaa berasa pengen langsung meluk kamu dek :”(.
BaarakaLlahufiikum nisaa, semoga Allah senantiasa menjaga nisaa, menjadikan nisaa anak cerdas yang sholih dan mensholihkan, yang menjadi kebanggaan mama papa nisaa didunia dan akhirat. Aamiin ({}) :”””””))
*pengen meluk mamanya nisaa jugaa »»» gemmmmeeesss to the max! >.<«««
Advertisements
challenge · KisahParaNabi

#KisahParaNabi 23: Kisah Nabi Musa as (1)

Sebagian ulama berkata, “kisah adalah sebagian dari tentara Allah yang diturunkan ke bumi”. Dan bukankah lebih dari separuh ayat Al Qur’an diturunkan dalam bentuk kisah-kisah umat terdahulu?. Kali ini saya akan mencoba mencuplik kisah dari Para Nabi sebelum hadirnya Rasulullah saw. Apa yang akan saya sampaikan disini hanya berupa ringkasan, tentunya karena keterbatasan pengetahuan saya mengenai hal ini. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk menulis ringkasan ini adalah “Kisah Para Nabi” karya Ibnu Katsir. Selamat membaca 🙂

 

Bismillah :”),

Nama lengkapnya adalah Musa bin Imran bin Qahits bin Azir bin Lawi bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim.

“Dan ceritakanlah (Muhammad), kisah Musa di dalam Kitab (Al Qur’an). Dia benar-benar orang terpilih, seorang rasul dan nabi. Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung (Sinai) dan kami dekatkan dia untuk bercakap-cakap. Dan Kami telah menganugerahkan sebagian rahmat Kami kepadanya, yaitu (bahwa) saudaranya, Harun menjadi seorang Nabi.“ (QS. Maryam: 51-53)

Allah menyebutkan kisah Musa di sejumlah tempat terpisah didalam Al Qur’an, sebagian dipaparkan secara panjang lebar dan sebagian lainnya secara singkat. Dalam QS. Al Qashash ayat 1-6, Allah menyebutkan, Ia membacakan kisah Musa dan Fir’aun dengan benar kepada nabi Nya, Muhammad saw, yaitu kisah nyata, dimana orang yang mendengarnya seakan-akan menyaksikan langsung kejadiannya.

Nabi Musa diutus Allah kepada Bani Israil. Bani Israil berasal dari keturunan Nabi Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim Khalilullah. Saat itu, mereka adalah penduduk bumi terbaik. Mereka hidup dibawah kuasa seorang raja yang tiran, zalim, kafir dan keji yang memperbudak mereka.

Salah satu penyebab yang mendorong si raja melakukan berbagai tindakan keji kepada kaum bani Israil adalah karena sebuah berita yang mengatakan bahwa dari keturunan bani Israil akan lahir seorang anak yang akan menghancurkan kekuasaan raja Mesir. Berita ini secara turun menurun sangat santer terdengar di kalangan bani Israil. Kaum Qibthi juga membicarakannya, hingga sampailah berita ini kepada Fir’aun. Seketika itu juga, dia memerintahkan untuk membunuh seluruh anak laki-laki keturunan Bani Israil untuk mengantisipasi kelahiran anak yang dimaksud. Namun apa boleh buat, qodarullah, kewaspadaan sama sekali tidak bisa menghindari dari takdir Nya.

“Sungguh, Fir’aun telah berbuat sewenang-wenag di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil), dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka.” (QS. Al Qashash: 4)

As-Suddi meriwayatkan dalam tafsir Ath Thabari, suatu malam Fir’aun bermimpi ada kobaran api yang datang dari arah Baitul Maqdis, api tersebut membakar seluruh rumah-rumah penduduk Mesir dan seluruh kaum Qibthi. Namun api tersebut tidak membahayakan Bani Israil. Saat bangun, Fir’aun kemudian mengumpulkan seluruh paranormal dan tukang sihir miliknya dan menceritakan perihal mimpi yang dialaminya. Fir’aun bertanya kepada mereka terkait mimpi tersebut, mereka berkata “akan lahir seorang bayi laki-laki dari kalangan Bani Israil, ia akan menghancurkan penduduk Mesir”. Sebab inilah, Fir’aun kemudian meminstruksikan untuk membunuh semua bayi laki-laki.

Fir’aun sangat mewaspadai agar anak laki-laki yang dimaksud tidak lahir. Ia menunjuk sejumlah laki-laki dan dukun beranak untuk berpatroli memeriksa para wanita hamil dan mendata waktu kelahiran mereka. Jika ada bayi laki-laki yang lahir, si bayi akan langsung disembelih saat itu juga oleh para algojo.

Sejumlah mufassir menyebutkan, kaum Qibthi mengeluh minimnya populasi Bani Israil kepada Fir’aun karena bayi laki-laki dari kalangan mereka dibunuh. Selain itu, Fir’aun juga mengkhawatirkan akan minimnya jumlah budak -yang berasal dari kaum laki-laki Bani Israil- yang akan melakukan pekerjaan-pekerjaan berat untuknya. Akhirnya, ia memerintahkan untuk membunuh bayi laki-laki secara bergantian setiap dua tahun sekali.

Nabi Harun lahir pada tahun dimana hukuman mati bagi bayi laki-laki tidak diberlakukan, sedangkan Musa lahir pada tahun dimana bayi laki-laki harus dibunuh. Ibu musa sedih sekali dan sudah mengantisipasi sejak pertama kali mengandung Musa. Atas kehendak Allah, pada saat mengandung nabi Musa, perut ibu Musa tidak terlalu terlihat besar, kehilannya hampir tidak terlihat. Setelah melahirkan Musa, ibu Musa mendapatkan ilham untuk meletakkan bayi Musa didalam sebuah peti yang diikatkan dengan seutas tali. Rumahnya tepat di hulu sungai Nil. Ia menyusui Musa, kemudian ketika ia khawatir akan kehadiran seseorang, ia meletakkan Musa di peti itu lalu dilepaskannya ke sungai sementara talinya tetap ia pegang. Setelah keadaan aman, ia akan menarik peti itu dan kembali mendekap bayi Musa.

===

Holaa, I’m back :p

Setelah seminggu lebih tidak memenuhi challenge :”(, dikarenakan beberapa sebab yang meminta untuk lebih diperhatikan dan diprioritaskan 😛

Alhamdulillah ‘ala kulli hal 😀

challenge · KisahParaNabi

#KisahParaNabi 22: Kisah Nabi Yunus as.

Sebagian ulama berkata, “kisah adalah sebagian dari tentara Allah yang diturunkan ke bumi”. Dan bukankah lebih dari separuh ayat Al Qur’an diturunkan dalam bentuk kisah-kisah umat terdahulu?. Kali ini saya akan mencoba mencuplik kisah dari Para Nabi sebelum hadirnya Rasulullah saw. Apa yang akan saya sampaikan disini hanya berupa ringkasan, tentunya karena keterbatasan pengetahuan saya mengenai hal ini. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk menulis ringkasan ini adalah “Kisah Para Nabi” karya Ibnu Katsir. Selamat membaca 🙂

 

“Dan (ingatlah kisah) ZunNun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, ‘Tidak ada Rabb selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim’. Maka kami kabulkan doanya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al Anbiyaa’: 87-88).

Para ahli tafsir menyampaikan, nabi Yunus diutus Allah kepada kaum Nainawi, suatu perkampungan di daerah Mossul, dekat Kuffah. Nabi Yunus menyeru mereka untuk menyembah dan beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Namun kebanyakan dari mereka menolaknya dan berlaku semena-mena dengan tetap berada pada kekafirannya. Karena keadaan ini berlangsung cukup lama, akhirnya Yunus pergi meninggalkan mereka, dan mengancam siksa akan turun menimpa mereka setelah tiga hari.

Sejumlah salaf dan khalaf menuturkan, saat Yunus pergi meninggalkan mereka, Allah memberikan ilham kepada mereka untuk bertobat dan kembali ke jalan kebenaran, mereka menyesali perbuatan yang telah mereka lakukan terhadap nabi mereka sebelumnya. Mereka berdoa sepenuh hati, memohonkan ampunan kepada Allah.

Karena permohonan ampunan itulah, Allah kemudian melenyapkan azab yang akan menimpa mereka. “Ketika mereka (kaum Yunus) itu beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia” (QS. Yunus: 98).

Sayangnya nabi Yunus tidak mengetahui akan perubahan yang terjadi pada kaumnya, ia pergi meninggalkan kaumnya dengan perasaan kesal di hati. Kemudian ia menaiki sebuah kapal. Dalam perjalanannya di atas laut, kapal yang ditumpangi nabi Yunus terombang-ambing karena keberatan muatan. Kapal tersebut hampir tenggelam.

Hingga pada akhirnya, para penumpang kapal membuat sebuah kesepakatan. Mereka akan melakukan sebuah undian, bagia siapapun namanya yang muncul, maka dia harus rela dikeluarkan dari kapal (dilempar kelaut) untuk meringankan beban muatan kapal.

Undian pun berlangsung, ternyata yang keluar adalah nama Yunus. Pada awalnya seluruh penumpang tidak rela jika Yunus yang harus dikeluarkan dari kapal. Hingga akhirnya para penumpang kapal kembali membuat undian, dan nama Yunus keluar kembali dalam undian yang kedua. Yunus kemudian berdiri dan menyingsingkan lengan baju untuk terjun sendiri kedalam laut, namun seluruh penumpang kapal menahannya. Mereka membuat undian untuk yang ketiga kalinya. Dan untuk ketiga kalinya pula, nama Yunus keluar dalam undian. Qadarullah, Allah sudah menyiapkan suatu hal besar padanya.

“Dan sungguh, Yunus benar-benar termasuk salah seorang Rasul, (ingatlah) ketika dia lari, ke kapal yang penuh muatan, kemudian dia ikut diundi ternyata dia termasuk orang-orang yang kalah (dalam undian). Maka dia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela” (QS. Ash Shaffat: 139-142).

Saat undian Yunus keluar, ia dilemparkan ke lautan. Allah ‘Azza wa Jalla kemudian mengirimkan seekor ikan besar dari lautan hijau yang langsung menelan Yunus. Allah memerintahkan ikan tersebut untuk tidak memakan daging dan mematahkan tulang Yunus. Ikan besar itu membawa Yunus berkelana ke segala penjuru lautan. Menurut salah satu pendapat, ikan besar tersebut kemudian ditelan ikan lain yang lebih besar.

Para mufassir berbeda pendapat mengenai berapa lamanya Yunus berada didalam perut ikan besar. Ada yang mengatakan sehari, ada juga yang mengatakan tiga hari, yang lain mengatakan tujuh hari. Sa’id bin Abu Hasan dan Abu Malik mengatakan Yunus berada didalam perut ikan selama 40 hari. Wallahu a’lam, hanya Allah yang Maha Tahu berapa lamanya Yunus berada didalam perut ikan.

Saat berada didalam perut ikan besar, Yunus mengira bahwa dia sudah mati. Ia kemudian menggerakkan tubuhnya dan ternyata masih bergerak. Ia mengetahui bahwa ia masih hidup, ia kemudian bersungkur sujud kepada Allah. Didalam perut ikan, Yunus mendengar ikan-ikan dilautan bertasbih kepada Ar Rahman. Bahkan Yunus juga mendengar tasbih pasir-pasir di lautan kepada Rabb pemilik tujuh langit, tujuh bumi dan segala yang ada diantara keduanya.

“..maka sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak berzikir (bertasbih) kepada Allah, niscaya dia akan tetap tinggal diperut ikan itu sampai hari berbangkit..”. Saat berada didalam perut ikan, Yunus mendapatkan wahyu untuk senantiasa berzkir mengucapkan kalimat “Tidak ada Rabb selain Engkau, Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim”.

Karena ke-Maha Penyayang-nya, Allah mengabulkan doa Yunus. “Kemudian Kami lemparkan dia kedaratan yang tandus, sedang dia dalam keadaan sakit. Kemudian untuk dia Kami tumbuhkan sebatang pohon dari jenis labu” (QS. Ash Shaffat: 145-146). Ketika ikan besar memuntahkan Yunus kesebuah daratan yang tandus, ia dalam keadaan yang sangat lemah. Allah kemudian menumbuhkan sebuah pohon dari jenis labu.

Sebagian ulama mengatakan, salah satu hikmah dibalik ditumbuhkannya pohon labu untuk nabi Yunus (yang sedang dalam kondisi lemah) karena terdapat banyak manfaat dari pohon labu. Daun pohon labu sangat lembut, rindang dan tidak dikerubungi lalat. Buahnya bisa dimakan sejak masih muda ataupun matang, dan bisa dimakan langsung tanpa perlu dimasak. Kulit dan bijinya juga bisa dimakan. Selain menumbuhkan sebatang pohon labu untuk Yunus, Abu Hurairah mengatakan Allah juga mengirimkan seekor kambing kepada Yunus. Kambing ini memberikan susunya pada Yunus setiap pagi dan sore. Ini semua adalah rahmat, nikmat dan kebaikan yang Allah berikan untuk Yunus.

Dalam riwayat Imam Ahmad, Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang muslim berdoa dalam meminta sesuatu kepada Rabb-nya dengan doa Zun Nun kala berada didalam perut ikan bersar –‘Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim’–, melainkan doanya pasti dikabulkan.”

“Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman” (QS. Al Anbiyaa’:88). Ini adalah syarat dari Allah bagi siapapun yang berdoa kepadanya.

===

Keinget cerita ini,
Suatu siang,
Ketika kami sedang duduk melingkar diagenda rutin pekanan kami,
Saat sesi sharing, salah satu teman saya menanyakan kepada Murobbiyah kami, tentang bagaimana ya misal langsung pergi pindah rumah, karena tidak tahan akan perilaku para tetangga yang sudah maksimal nyebelinnya (suka ngegosipin keluarga teman saya ini).

“anti sudah berusaha mendekati tetangga-tetangga anti, dan nyoba buat mengklarifikasi omongan-omongan mereka?”

“belum mba, males. Kayaknya percuma dijelasin juga, orang-orangnya pada kayak gitu :”(”

“males???, Terus anti mau langsung pergi pindah gitu aja???, Anti mau ditelen ikan besar kayak nabi Yunus!” jawab murobbiyah saya sekenanya.

#nevergiveup!
#jangancapek(apalagiberhenti)menyerukepadaAllah
#kaloenggakmauditelenikanbesar 😛
#iniserius!:)

challenge · Harta Karun

#KisahParaNabi 21: Kisah Umat-Umat yang Dibinasakan Secara Keseluruhan (2)

Sebagian ulama berkata, “kisah adalah sebagian dari tentara Allah yang diturunkan ke bumi”. Dan bukankah lebih dari separuh ayat Al Qur’an diturunkan dalam bentuk kisah-kisah umat terdahulu?. Kali ini saya akan mencoba mencuplik kisah dari Para Nabi sebelum hadirnya Rasulullah saw. Apa yang akan saya sampaikan disini hanya berupa ringkasan, tentunya karena keterbatasan pengetahuan saya mengenai hal ini. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk menulis ringkasan ini adalah “Kisah Para Nabi” karya Ibnu Katsir. Selamat membaca 🙂

 

Kisah Kaum Yasin

“Dan buatlah suatu perumpamaan bagi mereka, yaitu penduduk negri, ketika utusan-utusan datang kepada mereka (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya, kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga (utusan itu) berkata, ‘Sungguh, kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu’.” (QS. Yasin: 13-14).

Diriwayatkan secara masyhur dari sebagian besar kalangan salaf dan khalaf bahwa negri yang dimaksud dalam surat Yasin ini adalah Anthakia. Di negri ini tinggal seorang raja yang bernama Anthikhas bin Antikhas. Ia menyembah berhala, begitu juga dengan kaumnya. Untuk itulah kemudian Allah mengutus tiga orang rasul kepada mereka, ketiganya bernama Shadiq, Mashduq dan Syalum. Namun, baik sang Raja maupun kaumnya, mayoritas menolak ajakan yang disampaikan oleh ketiga rasul tersebut.

“Kamu ini hanyalah manusia seperti kami, dan (Allah) Yang Maha Pengasih tidak menurunkan sesuatu apapun, kamu hanyalah pendusta belaka” (QS. Yasin: 15). Sama seperti yang dikatakan oleh umat-umat yang mendustakan para rasul sebelumnya. Mereka menolak ajaran mereka (para rasul) dengan dalih bahwa mereka sama-sama manusia.

“Allah mengetahui bahwa kami adalah para utusan-Nya. Dan kewajiban kami hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.” (QS. Yasin: 16-17) Jawab para utusan Allah atas penolakan kaum Yasin. “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu. Sungguh jika kamu tidak berhenti menyeru kami, niscaya kami rajam kamu. Dan kamu pasti akan merasakan siksaan yang pedih dari kami” (QS. Yasin: 18), mereka kaum Yasin berkata bahwa mereka bernasib sial karena kehadiran para utusan Allah tersebut. Mereka bahka menyampaikan ancaman akan menyakiti para Rasul jika mereka tidak berhenti menyeru kepada kaumnya.

Dalam ayat ke-20 sampai 21 surat Yasin, kita akan menemui salah satu kisah termahsyur yang terdapat dalam surat ini. Menurut beberapa riwayat, namanya Habib bin Mara, dia berprofesi sebagai tukang kayu. Habib inilah yang diabadikan Allah dalam ayat ke 20, “Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas, dia berkata, ‘Wahai kaumku! Ikutilah utusan-utusan itu. Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk’.” Saat kaumnya melakukan penolakan dan mengancam para utusan Allah, Habib datang dengan bergegas untuk membela para rasul dan menyatakan beriman kepada mereka. Dia juga mengajak kaumnya untuk beriman kepada apa yang dibawa oleh para utusan Allah, dikarenakan mereka membawa kebenaran murni tanpa meminta upah atau imbalan.

Setelah itu, ia menyeru kepada kaumnya untuk beribadah kepada Allah semata, melarang mereka untuk menyembah apapun yang sama sekali tidak bisa memberikan kebermanfaatan baik didunia maupun akhirat (QS. Yasin: 22-24). Kemudian ia berkata kepada para rasul, “Sesungguhnya, aku telah beriman kepada Rabbmu, maka dengarkanlah (pengakuan keimanan) ku” (QS. Yasin: 25). Menurut salah satu pendapat, makna ayat ini adalah ‘maka dengarkanlah kata-kataku dan jadilah saksi untukku dihadapan Rabb kalian. Sedangkan pendapat lain menyebutkan dia menyampaikan secara terang-terangan di hadapan kaumnya, pengakuan keimanan kepada ajaran yang dibawa para utusan tersebut.

Menurut salah satu pendapat, setelah menyampaikan pengakuan keimanan dihadapan kaumnya, Habib dibunuh dengan cara dirajam, yang lain menyebutkan dengan cara dipotong-potong, yang lain menyebut dengan cara dikeroyok beramai-ramai lalu dibunuh. Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Ibnu Ma’ud, ia mengatakan, “Mereka menginjak-injak orang itu hingga ususnya keluar”.

“Dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke surga’” (QS. Yasin: 26), Allah mempersilahkan kepadanya Habib untuk masuk kedalam surga, setelah sebelumnya ia meninggal terbunuh oleh kaumnya karena menunjukkan keimanannya. Saat merasakan kebahagian didalam surga, ia mengatakan ‘Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui apa yang menyebabkan Rabbku memberi ampunan kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang telah dimuliakan’ (QS. Yasin: 26-27).

Ibnu Abbas mengatakan, “Ia menasehati kaumnya saat masih hidup ‘Wahai kaumku! Ikutilah utusan-utusan itu’. Dan juga setelah wafatnya, ‘Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui apa yang menyebabkan Rabbku memberi ampunan kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang telah dimuliakan’.” (HR. Ibnu Abi Hatim). Ia sangat menyayangi kaumnya dan menginginkan kebaikan untuk kaumnya, untuk itulah ia berharap agar kaumnya mengetahui kenikmatan yang ia raih.

Dan setelah dia (meninggal), Kami tidak menurunkan suatu pasukan pun dari langit kepada kaumnya, dan Kami tidak perlu menurunkannya. Tidak ada siksaan terhadap mereka melainkan dengan satu teriakan saja, maka seketika itu mereka mati (QS. Yasin: 28-29)

Setelah wafatnya Habib, Allah tidak menurunkan satu pasukan pun untuk menyiksa mereka yang telah mendustakan para rasul-Nya dan membunuh wali Nya. Para mufassir mengatakan, “Allah mengirimkan Jibril kepada mereka. Jibril kemudian mengangkat dua pintu gerbang kota mereka, setelah itu Jibril berteriak kencang ‘Dengan satu teriakan saja, maka seketika itu mereka mati’. Teriakan itu membuat mereka semua terdiam tak bersuara, tak bergerak, dan tidak ada satu matapun yang berkedip.”

challenge · KisahParaNabi

#KisahParaNabi 20: Kisah Umat-Umat yang Dibinasakan Secara Keseluruhan (1)

Sebagian ulama berkata, “kisah adalah sebagian dari tentara Allah yang diturunkan ke bumi”. Dan bukankah lebih dari separuh ayat Al Qur’an diturunkan dalam bentuk kisah-kisah umat terdahulu?. Kali ini saya akan mencoba mencuplik kisah dari Para Nabi sebelum hadirnya Rasulullah saw. Apa yang akan saya sampaikan disini hanya berupa ringkasan, tentunya karena keterbatasan pengetahuan saya mengenai hal ini. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk menulis ringkasan ini adalah “Kisah Para Nabi” karya Ibnu Katsir. Selamat membaca 🙂

 

Kisah Penduduk Rass

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa, kitab Taurat sesudah Kami binasakan generasi-generasi terdahulu” (QS. Al Qashas: 43).

Ayat diatas menegaskan bahwa setelah Allah menurunkan Taurat, maka Allah menghentikan azab keseluruhan ummat atau Allah tidak lagi membinasakan suatu kaum dengan azab dari langit atau bumi, kecuali penduduk suatu negri yang wujud mereka diubah menjadi kera.

Dalam QS. Al Furqan: 38-39, Allah berfirman “Dan (telah Kami bianasakan) kaum Ad dan Tsamud dan penduduk Rass serta banyak (lagi) generasi diantara (kaum-kaum) itu. Dan masing-masing telah Kami jadikan perumpamaan dan masing-masing telah Kami hancurkan sehancur-hancurnya”. Dan dalam QS. Qaf: 12-14, Allah berfirman “Sebelum mereka, kaum Nuh, penduduk Rass dan Tsamud telah mendustakan (rasul-rasul) dan (demikian juga) kaum Ad, kaum Fir’aun dan kaum Luth”.

Penduduk Rass adalah nenenk moyang dari kaum Ad. Ibnu Abbas mengatakan “Rass adalah nama sebuah sumur di Adribijan”.

Alkisah, Penduduk Rass tinggal di wilayah Hadhur. Mereka memiliki sebuah sumur yang mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan minum dan irigasi perswahan. Suatu ketika, setan muncul dihadapan mereka dalam wujud sebenarnya dan mengatakan, “Sungguh, aku tidak mati. Aku hanya tidak terlihat oleh kalian, sehingga aku bisa melihat apa yang kalian lakukan”. Kemudian setan juga memerintahkan mereka untuk membuat tabir penghalang antara mereka dengannya, dan dibalik tabir itulah setan memberitahukan kepada penduduk Rass bahwa ia tidak akan mati selamanya. Mayoritas penduduk Rass mempercayainya dan sangat senang dengan keberadaan seseorang yang dapat hidup abadi diantara mereka, mereka terfitnah dan akhirnya menyembahnya.

Allah kemudian mengutus seorang nabi kepada penduduk Rass. Nabi itu memberitahukan kepada penduduk Rass bahwa yang mereka ajak bicara dan yang mereka sembah dibalik tabir itu adalah setan. Nabi itu juga memberikan peringatan kepada mereka untuk berhenti dan tidak menyembahnya lagi, dan memerintahkan mereka untuk beribadah kepada Allah semata.

As Suhaili menuturkan, “Nabi itu bernama Hanzhalah bin Shafwan, ia diberikan wahyu saat tidur. Penduduk Rass lantas memperlakukan Hanzhalah dengan semena-mena, membunuhnya dan melemparkannya ke dalam sumur. Sumur air tersebut kemudian mongering, mereka pun akhirnya ditimpa dahaga yang sangat akibat kehilangan sumber air minum. Pepohonan mereka mongering dan tidak mampu berbuah, negri mereka hancur dan berubah menjadi sangat tandus dan liar setelah sebelumnya nyaman untuk ditempati, mereka terpisah setelah sebelumnya menyatu dan berkumpul. Mereka semua binasa. Tempat-tempat mereka kemudian dihuni oleh Jin dan binatang-binatang liar, sehingga yang terdengar hanya suara Jin dan auman binatang buas”.

===

no comment 😀

to be honest, saya baru pertama kali tahu tentang penduduk Rass ini setelah membaca buku Ibnu Katsir ini, *parah bangat yah –__–, bahkan saya juga baru tahu kalo nama mereka juga terdapat di dalam Al Qur’an.

Dan bagi yang penasaran dan langsung buka Al Qur’an terjemahan, pada ayat 38 di surat ke-25 ini kita akan menemui sebuaah catatan kecil yang mengatakan bahwa Penduduk Rass adalah penduduk nabi Syu’aib as. *Nahloh!. Wallahu a’lam bis showab.

Terlepas dari perbedaan ini–yang saya juga berlepas diri darinya, karena keterbatasan pengetahuan saya mengenai hal ini—, tetap yah bagi mereka yang enggan menerima nasihat kebaikan, ajakan bertauhid maka kelak Allah akan menurunkan kuasa-Nya untuk menyadarkan umat ciptaan Nya, baik yang sedang berdusta saat itu maupun umatnya yang memiliki keinginan untuk mencontoh perilaku mereka sebelumnya. Seharusnya ini bisa menjadi pelajaran dan pengingatan bagi kita, ya kan? :).

challenge · Harta Karun

#KisahParaNabi 19: Kisah Nabi Zulkifli as

Sebagian ulama berkata, “kisah adalah sebagian dari tentara Allah yang diturunkan ke bumi”. Dan bukankah lebih dari separuh ayat Al Qur’an diturunkan dalam bentuk kisah-kisah umat terdahulu?. Kali ini saya akan mencoba mencuplik kisah dari Para Nabi sebelum hadirnya Rasulullah saw. Apa yang akan saya sampaikan disini hanya berupa ringkasan, tentunya karena keterbatasan pengetahuan saya mengenai hal ini. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk menulis ringkasan ini adalah “Kisah Para Nabi” karya Ibnu Katsir. Selamat membaca 🙂

“Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Zulkifli. Mereka semua termasuk orang-orang yang sabar. Dan Kami masukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sungguh, mereka termasuk orang-orang yang Shalih” (QS. Al Anbiyaa’: 85-86).

“Dan ingatlah Ismail, Ilyasa’ dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik”. (QS. Shad: 48).

Tekstual ayat Al Qur’an menyebut Zulkifli dengan pujian bersamaan dengan para tokoh nabi yang lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa beliau adalah seorang nabi. Ibnu Jarir dan Abu Najih meriwayatkan dari Mujahid mengatakan bahwa Zulkifli bukanlah seorang nabi, ia hanyalah seorang yang shalih. Wallaahu a’alam.

Ia menjamin kaumnya untuk mengurus persoalan mereka, memutuskan perkara diantara mereka dengan adil. Ia melakukan semuanya, karenanya ia disebut Zulkifli.

Dalam kisah yang diriwayatkan oleh Ibnu Jariri dan Ibnu Abi Hatim, “Saat Yasa’ beranjak tua, ia berkata, ‘Aku akan menunjuk seseorang sebagai penggantiku untuk mengurus kaumku selagi aku masih hidup, agar bisa melihat bagaimana kerjanya’. Ia kemudian mengumpulkan semua orang lalu mengatakan, ‘Siapa yang mau menerima tiga hal dariku, akan kutunjuk sebagai penggantiku; puasa pada siang hari, shalat pada malam hari dan tidak marah’.”

Seseorang berdiri dan menyanggupi persyaratan yang disampaikan Yasa’. Yasa’ bertanya, ‘kau sanggup berpuasa pada siang hari, shalat pada malam hari dan tidak marah?’. ‘Ya’, jawab orang tersebut. Namun, Yasa’ menolak orang tersebut pada hari itu. Yasa’ kemudian mengatakan hal yang sama pada hari yang lain, semua orang terdiam, tetapi kemudian orang yang sebelumnya mengajukan diri, kembali berdiri dan menjawab ‘Aku’. Akhirnya Yasa’ menunjuk orang tersebut sebagai penggantinya. Dan orang tersebut adalah Zulkifli.

Setelah Zulkifli terpilih  sebagai pengganti Yasa’ untuk mengurusi urusan ummat. Dia melakukan semua persyaratan yang diajukan kepadanya sebelumnya. Hingga Iblis menjadi ‘gerah’ dan berkata kepada setan, “godalah dia”. Setelah berusaha untuk menggodanya, setan tidak berhasil. Akhirnya Iblis mengatakan, “Biar aku yang menghadapinya”.

Iblis kemudian menemui Zulkifli dalam wujud orang tua renta dan fakir. Iblis menemuinya pada saat Zulkifli tengah tidur siang –ia tidak pernah tidur di siang hari selain pada saat itu-.

Iblis mengetuk pintunya, Zulkifli bertanya, ‘Siapa itu?’. Iblis menjawab, ‘Orang tua yang teraniaya’. Zulkifli bangun dan membukakan pintu untuknya. Iblis yang berwujud sebagai orang tua renta itu kemudian mengarang cerita untuk menyampaikan permasalahannya. ‘Aku dan kaumku terlibat permusuhan. Mereka memperlakukan diriku secara semena-mena, melakukan ini dan itu kepadaku’. Iblis terus bercerita. Hingga Zulkifli berkata kepadanya untuk datang menemuinya di sore hari nanti, ‘Jika kau mau datang sore nanti, aku akan mengembalikkan hakmu’.

Pada sore harinya, Zulkifli duduk didalam majelisnya. Ia menanti-nanti kehadiran orang tua yang datang menemuinya di siang tadi, namun ia tak kunjung melihatnya. Pada keesokkan harinya, Iblis kembali datang menemuinya. Ia mengarang-ngarang cerita kembali. ‘Kaumku adalah kaum yang paling buruk. Saat melihatmu duduk memutuskan perkara dengan adil, mereka mengatakan akan memberikan hakku. Namun setelah engkau pergi, mereka akan kembali mengingkari hakku’. ‘Kembalilah sore nanti’, pinta Zulkifli kembali.

Pada sore harinya, kembali Zulkifli duduk didalam majelisnya untuk memutuskan perkara diantara orang-orang yang bertikai. Namun orang tua yang sudah menemuinya dua kali tak jua kunjung datang. Maka ia pulang ke rumahnya. Ia ingin beristirahat sejenak, untuk itu ia berpedan kepada salah satu dari keluarganya untuk menyampaikan kepada siapapun yang ingin menemuinya, untuk kembali datang menemuinya nanti setelah dia beristirahat.

Pada saat itulah, iblis kembali datang ke rumahnya dalam wujud yang masih sama, lelaki tua yang renta. Salah satu keluarganya mengatakan bahwa dia tidak bisa menemui Zulkifli pada saat ini. Saat Iblis tidak berbuat apa-apa, ia melihat ada sebuah lubang di dinding rumah, ia lalu memanjatnya, hingga bisa masuk kedalam rumah.

Zulkifli terbangun dan terkaget melihat lelaki tua sudah berada didalam rumahnya. Iblis kemudian mengakui bahwa dirinya adalah musuh Allah, ‘kau membuatku tak berdaya dalam segala hal, akhirnya aku melakukan semua yang kau lihat ini untuk membuatmu marah’.

Karena itulah Allah menyebutnya ‘Zulkifli’ (Sanggup), karena ia sanggup menjamin untuk melaksanakan suatu hal, dan ia penuhi janjinya itu.

===

Tidak banyak kisah yang bisa disampaikan dalam Al Qur’an tentang nabi ini :). Dalam Al Qur’an pun nama nabi Zulkifli hanya muncul sebanyak dua kali (pada ayat yang tertulis di atas). Walaupun sedikit kisahnya, tetap ya 🙂 ada banyak teladan yang bisa dicontoh. Menepati janji :). Jika kita membuat janji atas dasar karena Nya, maka percayalah Dia akan membantu kita untuk memenuhinya dengan berbagai cara-Nya :).

challenge · KisahParaNabi

#KisahParaNabi 18: Kisah Nabi Ayyub as

Sebagian ulama berkata, “kisah adalah sebagian dari tentara Allah yang diturunkan ke bumi”. Dan bukankah lebih dari separuh ayat Al Qur’an diturunkan dalam bentuk kisah-kisah umat terdahulu?. Kali ini saya akan mencoba mencuplik kisah dari Para Nabi sebelum hadirnya Rasulullah saw. Apa yang akan saya sampaikan disini hanya berupa ringkasan, tentunya karena keterbatasan pengetahuan saya mengenai hal ini. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk menulis ringkasan ini adalah “Kisah Para Nabi” karya Ibnu Katsir. Selamat membaca 🙂

 

“..Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu,..

–QS. Al A’raaf ayat 164–

 

Bismillah,

Kisah nabi yang akan kita bahas pada kesempatan kali ini adalah kisah nabi yang akan mementahkan setiap alasan yang dipunya oleh manusia akhir zaman yang tidak mampu bersabar dalam menghadapi ujian-Nya.

Namanya Ayyub bin Mush bin Razah bin Aish bin Ishaq bin Ibrahim Al Khalil. Menurut beberapa sumber, istrinya bernama Laya binti Mansa bin Ya’qub as.

Ulama tafsir, sejarah dan yang lainnya mengatakan bahwa Ayyub pada awalnya adalah orang yang sangat kaya raya, memiliki berbagai jenis harta, mulai dari binatang ternak, budak, hewan, tanah yang terbentang dari Tsaniyah sampai Hauran.

Dikisahkan, pada suatu ketika Allah mengambil semua kenikmatan yang ada pada diri Ayyub. Ia terkena penyakit yang menimpa seluruh bagian tubuhnya. Semuanya bagian tubuhnya sakit, namun tidak dengan lisan dan hatinya. Dengan hati dan lisan yang masih tersisa, Ayyub senantiasa berdzikir kepada Nya.

Rasulullah pernah bersabda yang diriwayatkan dalam kitab Shahih, “manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang saleh, berikutnya orang yang paling mulia (tingkatan dan kedudukannya)”.

Maka inilah beliau, nabi Ayyub. As-Suddi mengatakan sangat parahnya penyakit nabi Ayyub, sampai membuat daging-dagingnya mudah terlepas dan terjatuh dari tubuhnya. Karena kasihan melihat kondisi suaminya, istrinya berkata, “Wahai suamiku, andai engkau berdoa kepada Rabb-mu agar diberikan jalan keluar”. Ayyub menjawabnya dengan penuh ketawakalan atas ketetapan yang diberikan Allah kepadanya, “Aku telah hidup sehat selama 70 tahun, lantas apakah 70 tahun berikutnya untuk aku habiskan dalam kesabaran karena Allah, terasa lama?”.

Untuk membantu perekonomian keluarga, dan dikarenakan sakit yang diderita oleh nabi Ayyub. Maka istri nabi Ayyub lah yang berkerja, ia berkerja pada orang lain agar mendapat upah untuk memenuhi kebutuhannya dan suaminya.

Diriwayatkan dari Mujahid, “nabi Ayyub adalah manusia pertama yang terkena penyakit cacar”. Para mufassir berbeda pendapat mengenai berapa lamanya Ayyub menghadapi penyakitnya. Wahab bin Munabih mengatakan bahwa nabi Ayyub tertimpa ujian selama 33 tahun. Anas mengatakan 7 tahun. Sedangkan Hamid mengatakan 18 tahun.

Nabi Ayyub setiap kali membuang hajat, tangannya selalu berpegangan pada tangan istrinya, hingga hajatnya selesai. Sampai suatu ketika, istrinya tidak kunjung datang, lalu Allah mewahyukan kepada Ayyub, “Hentakkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum” (QS. Shad: 42). Ayyub kemudian melaksanakan yang diperintahkan padanya, Allah kemudian memancarkan mata air yang sejuk. Allah juga memerintahkannya untuk mandi dan meminum air tersebut. Kemudian dengan kuasa Nya, Allah menghilangkan segala penyakit dan gangguan yang ada pada dirinya secara lahir dan batin. Allah menggantikannya dengan kesehatan lahir batin.

Saat istrinya datang, ternyata Ayyub tidak ada. Istrinya lama menunggunya, sampai Ayyub datang dan menghampiri istrinya. Ujian yang menimpa nabi Ayyub telah hilang. Allah mengembalikan kesehatan dan kerupawanan wajahnya. Saat melihat Ayyub, istrinya menanyakan kepadanya, “semoga Allah memberkahimu. Apa engkau melihat nabi Allah yang sedang tertimpa ujian itu? Demi Allah yang Maha Kuasa untuk menimpakan ujian seperti itu, aku tidak melihat seorang pun yang mirip dengannya melebihimu, andai dia sehat”. Istri nabi Ayyub belum mengenali bahwa laki-laki rupawan yang berdiri dihadapannya adalah suaminya, yang dengan kehendak Allah telah diangkat segala penyakitnya. “inilah aku orangnya” jawab nabi Ayyub.

“Dan Kami anugrahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan kami lipat gandakan jumlah mereka, sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang berpikiran sehat” (QS. Shad: 43). Allah mengembalikan harta benda miliknya dan melipatgandakannya, juga menggantikan keluarganya.

Menurut riwayat Ibnu Jarir dalam tafsir Ath Thabari, Ayyub memiliki dua tempat untuk menimbun hasil panen, satunya untuk menimbun gandum dan satunya lagi untuk menimbun jelai. Allah mengutus dua awan. Ketika awan tersebut berada diatas tempat penyimpanan gandum, awan tersebut menurunkan hujan emas hingga meluap. Sementara awan yang satunya menurunkan hujan perak di tempat penyimpanan jelai hingga meluap.

Ada yang menyebutkan, Allah menghidupkan kembali keluarganya yang telah meninggal. Pendapat lain menyatakan, Allah menggantikan keluarganya didunia dan akan menyatukan mereka semua di akhirat kelak. Ibnu Abbas mengatakan, Allah mengembalikan usia muda pada istrinya dan membuatnya lebih cantik, hingga melahirkan 26 anak lelaki untuk Ayyub.

“Dan ambillah seikat (rumput) dengan tanganmu, lalu pukullah dengan itu dan janganlah engkau melanggar sumpah” (QS. Shad: 44). Dikisahkan ketika Ayyub sakit, setan datang dalam wujud seorang tabib yang datang kepada istrinya dan meresepkan obat untuk Ayyub. Istri Ayyub kemudian menemui Ayyub dan memberitahukan hal itu padanya, Ayyub tahu si tabib adalah setan yang menyamar. Karena kesal dengan istrinya maka Ayyub bersumpah untuk mencambuknya selam seratus kali. Firman-Nya diatas adalah sebuah keringanan dari Allah kepada hamba Nya yang bertakwa, terlebih kepada istrinya yang sabar lagi mengharap pahala dan seorang pendamping yang setia.

Mujahid mengatakan, pada hari kiamat kelak, Allah akan menjadikan Sulaiman sebagai hujjah bagi orang-orang yang dilimpahi harta dan kekuasaan yang melimpah, Yusuf sebagai hujjah bagi orang-orang yang mulia, sedangkan Ayyub sebagai hujjah bagi orang-orang yang tertimpa ujian.

 

challenge · KisahParaNabi

#KisahParaNabi 17: Kisah Nabi Yusuf as (3)

Sebagian ulama berkata, “kisah adalah sebagian dari tentara Allah yang diturunkan ke bumi”. Dan bukankah lebih dari separuh ayat Al Qur’an diturunkan dalam bentuk kisah-kisah umat terdahulu?. Kali ini saya akan mencoba mencuplik kisah dari Para Nabi sebelum hadirnya Rasulullah saw. Apa yang akan saya sampaikan disini hanya berupa ringkasan, tentunya karena keterbatasan pengetahuan saya mengenai hal ini. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk menulis ringkasan ini adalah “Kisah Para Nabi” karya Ibnu Katsir. Selamat membaca 🙂

 

Menurut beberapa pendapat, setelah Isthafir bin Ruhaib –mentri Mesir yang merawat Yusuf- meninggal, Yusuf menikahi istrinya, Zulaikha. Dan Yusuf mendapatinya masih ‘suci’ karena suaminya tidak punya keinginan terhadapnya. Zulaikha kemudian melahirkan dua anak dari Yusuf, yaitu Afrayim dan Mansa.

Dalam QS. Yusuf: 58-62 dikisahkan bagaimana saudara-saudara Yusuf datang ke Mesir untuk meminta bahan makanan. Ini terjadi setelah masa kemarau panjang menimpa berbagai penjuru negri secara merata. Pada saat itu, Yusuf menjabat sebagai penguasa urusan agama dan dunia kawasan Mesir. Saat mereka masuk, Yusuf mengenali mereka namun mereka tidak mengenali Yusuf.

“Dan ketika dia (Yusuf) menyiapkan bahan makanan untuk mereka. Dia berkata ‘Bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu (Bunyamin)”. Yusuf meminta saudara-saudaranya untuk datang kembali bersama Bunyamin. “Tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan takaran dan aku adalah penerima tamu yang terbaik?. Maka jika kamu tidak membawanya kepadaku, maka kamu tidak akan mendapat jatah (gandum) lagi dariku dan jangan kamu mendekatiku”. Nabi Yusuf berusaha agar mereka membawa saudaranya dengan memberikan dorongan dan ancaman kepada mereka.

Allah menuturkan kisah mereka setelah pulang dan menemui ayah mereka. “Wahai ayah kami! Kami tidak akan mendapat jatah (gandum) lagi, (jika tidak membawa saudara kami), sebab itu biarkanlah saudara kami pergi bersama kami”. Nabi Ya’qub sangat menjaga Bunyamin, karena darinyalah Ya’qub dapat mengobati rasa rindunya kepada Yusuf. Pada awalnya nabi Ya’qub merasa sangat berat untuk melepas Bunyamin. Setelah mengambil janji terhadap anak-anaknya bahwa mereka akan menjaga Bunyamin (QS. Yusuf: 66), maka dia melepaskan Bunyamin untuk turut pergi bersama saudara-saudaranya.

Yusuf: 69-79 mengisahkan bagaimana Yusuf bertemu kembali dengan adik kandungnya, Bunyamin setelah sekian lama berpisah. Allah mengisahkan, saat mereka (saudara-saudara Yusuf) masuk bersama Bunyamin. Yusuf menempatkan Bunyamin didekatnya dan memberitahukannya secara rahasia bahwa ia adalah saudaranya dan mengatur siasat agar Bunyamin tetap berada ditempatnya.

Yusuf memerintahkan pelayannya untuk meletakkan sebuah gelas miliknya kedalam barang-barang bawaan milik Bunyamin. Setelah itu Yusuf memberitahukan kepada mereka, bahwa salahsatu dari mereka telah mencuri gelas milik raja. Saat dilakukan pemeriksaan, dan ditemukan gelas milik raja didalam tas milik Bunyamin “Mereka berkata, ‘Jika dia mencuri, maka sungguh sebelum itu saudaranya pun pernah pula mencuri”, maksud mereka adalah Yusuf. “Kedudukanmu justru lebih buruk. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu terangkan”, jawab Yusuf menyembunyikan kejengkelan didalam hatinya (QS. Yusuf: 77).

Karena tertangkap basah ditemukannya gelas milik raja didalam barang bawaan Bunyamin, maka Bunyamin ditahan di Mesir. Saudara-saudaranya kembali pulang ke rumah tanpanya. Sesampainya mereka dirumah, mereka mengabarkan tentang tertangkapnya Bunyamin kepada ayahnya. Hal ini tentu membuat ayahnya semakin bersedih (QS. Yusuf: 80-87).

Allah mengabarkan dalam QS. Yusuf: 88-93, tentang saudara-saudara Yusuf yang kembali ke Mesir untuk meminta kepada Yusuf agar berkenan mengembalikan adik mereka, Bunyamin. Kala melihat kondisi saudara-saudaranya yang semakin kesusahan, saat itulah Yusuf memperkenalkan dirinya. “Aku Yusuf, dan ini saudaraku. Sungguh, Allah telah melimpahkan karunia Nya kepada kami”.

Mengetahui bahwa sang penguasa Mesir dihadapan mereka adalah Yusuf, saudara yang telah mereka buang kedalam sumur, membuat mereka terkejut dan langsung meminta maaf dan mengakui kesalahan mereka, “Sesungguhnya kami adalah orang yang bersalah (berdosa)”. Nabi Yusuf memaafkan mereka. “Dia (Yusuf) berkata, ‘Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu. Mudah-mudahan Allah mengampuni kamu. Dan Dia Maha Penyayang diantara para penyayang”.

Setelah itu Yusuf meminta mereka untuk kembali pulang sambil membawa baju miliknya untuk diberikan kepada ayahnya. Yusuf juga memerintahkan mereka untuk membawa serta seluruh keluarga mereka ke Mesir.

“Maka ketika telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diusapkannya (baju itu) ke wajahnya (Ya’qub), lalu dia dapat melihat kembali”. Sebelumnya dikisahkan, sepeninggal Yusuf dan Bunyamin, nabi Ya’qub sangat bersedih dan sering berdoa sambil menangis, sehingga mengganggu penglihatanya. Setelah diusapkan baju Yusuf ke wajahnya, maka seketika itu pula penglihatan nabi Ya’qub menjadi kembali sehat.

Maka tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf: Yusuf merangkul ibu bapanya dan dia berkata: Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman”. Dan ia menaikkan kedua ibu-bapaknya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf: “Wahai ayahku inilah takbir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah setan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Yusuf: 99-100)

===

Kisah nabi Yusuf as mengajarkan kita. Kisah nabi Yusuf dalam Al Qur’an surat Yusuf, dimulai dari ayat 4 dan 5. Dan di ayat kelima itu nabi Yusuf berkata kepada Ayahnya, bahwa dia bermimpi melihat 11 bintang, bulan dan matahari sujud tunduk kepadanya. Lalu ayat ke-6 sampai ayat ke-99 itu hanya kisah perjuangan nabi Yusuf, dia dimasukkan kedalam sumur, dijadikan budak, dijual, dipenjara, digoda zulaikha, dan cobaan-cobaan yang lainnya. Sampai diayat 100 nabi Yusuf berhasil menjadi raja, lalu dia panggil ayah dan saudara-saudaranya, kemudian dia dudukkan ayahnya di singgasananya, lalu dia berkata pada ayahnya “ayahku, ini mimpi yang dulu ku katakan padamu, dan sungguh Allah telah baik menjadikannya kenyataan”.

Maka, kalau kita beriman kepada nabi Yusuf, kisah nabi Yusuf mengajarkan kepada kita kalau kisah hidup kita bukan dimulai kemarin, dari siapa kita lahir, apa latar belakang kita, darimana dulu kita sekolah atau kuliah, apa pekerjaan kita sekarang. Tapi kisah hidup kita dimulai dari saat kita mulai berani mengatakan apa mimpi kita, apa yang kita inginkan di hadapan Nya. Dan kisah hidup kita hanya pantas diakhiri seperti nabi Yusuf saat kita berhasil mendapatkan apa yang pernah kita gambarkan tadi, kemudian kita katakan pada orang-orang yang pernah kita katakan mimpi kita: “Sungguh Allah telah baik untuk menjadikannya kenyataan”. << dua paragraph ini saya ambil dari rekaman salahsatu kajian MQFM :”). Sangat Inspiratif :).