Harta Karun · Tarbiyah

Al Ikhlas : Hati Tanpa Jelaga

Hati bening seorang alim penaka gelas Kristal yang bening dan bersih, akan memancarkan cahaya ilmunya. Sementara ada orang yang detik demi detik tutur kata, karya dan kehadirannya menjerumuskan kedalam jurang sengsara.

Sulit untuk mendapatkan hati yang bening dan amal yang ikhlas tanpa kejujuran. Kejujuran yang sering disalah artikan dengan sekedar bicara benar, ternyata lebih dari itu. Ia adalah kejujuran terhada Al Khaliq. Ia adalah kejujuran terhadap bisikan hati nurani. Pada akhirnya bukti kebenaran itu akan nampak dalam kejujuran mereka kepada Allaah atas semua janji yang mereka buat. “Sedikitpun tidak mengubah pendirian mereka, apakah mereka itu gugur terlebih dahulu atau menunggu”. (QS. Al Ahzaab ayat 23)

Hakikat shidiq adalah bahwa engkau tetap jujur dalam berbagai kondisi (sulit dan bahaya), meskipun engkau dapat selamat dari hal tersebut hanya dengan berdusta, demikian prinsip Junaid Al Baghdadi. Tentu saja ini tidak boleh bertentangan dengan penghapusan hukum dusta dalam kondisi penyelamatan saudara beriman dari kedzhaliman orang lain, mendamaikan dua saudara yang berseteru dan dusta dalam taktik berperang.

Apa yang membuat orang sekaliber Bal’am bisa kehilangan integritas diri, hanyut dalam pusaran lumpur dunia? Ada konflik yang tidak disadarinya, melawan kehendak Allaah yang sangat berkuasa untuk mengangkatnya tinggi-tinggi, tetapi ia sendiri yang mengikuti gravitasi dunia dan hawa nafsu yang menahan laju jelajahnya kea lam tinggi, akhlada ilal ardl wat taba’a hawah (QS. Al A’raaf ayat 176).

Betapa mengerikan kemiskinan hati bila melanda kaum berilmu. Mereka merasa rendah diri karena dunia yang tak berpihak, bersebrangan dengan posisi tinggi dan jauh dari kedudukan basah. Mungkin ia telah lupa, kemiskinan itu bukanlah dosa, walau tidak menyenangkan. Mungkin karena pentingnya mengenal profil biang kerok ini, sampai-sampai Al Qur’an membuka kisahnya dengan “Bacakan kepada mereka,” dan menutupnya dengan “Maka ceritakanlah kisah-kisah ini, semoga mereka berfikir”. (QS. Al A’raaf ayat 176-176).

pict Dawn At Lake Louise Photograph, taken from Pinterest.

Tulisan ini merupakan rangkaian karya dari Almarhum Ust. Rahmat Abdullah yang pernah dimuat di majalah Tarbawi dengan mengambil tema-tema refleksi seputar Al Arkan Al ‘Asyarah, Hasan Al Ba

Advertisements
Meracacacau · review · Uneguneg

tentang Dilan

Bismillaah..

Maaf nih, saya ngga ngikutin dan sedang mencari cara mudah untuk catch-up. Jadi, mengapa Dilan ini istimewa?

Ada pertanyaan ini saat membuka laman dashboard tumblr saya pagi ini. Menarik!:), pertanyaannya menarik, bukan jawabannya yang menarik, he he 😛

apa yang membuat anak ke-empat dari 5 bersaudara, dari pasangan Ayah dan Bunda ini menjadi sosok yang menarik perhatian beberapa hari terakhir? Iyap, karena kisahnya yang berasal dari Novel itu diangkat ke layar lebar.

Hari ini, Selasa pagi, sehari sebelum akhir bulan Januari, sehari sebelum terjadinya gerhana bulan total kata BMKG. Sejuk, Jakarta bagian timur, sedari pagi sudah dikunjungi gerimis. Matahari nya tetap bersinar menghangatkan, walau hangatnya belum juga terasa di pemukaan epidermis kulit (begimana mau berasa diruangan full AC -___-). Alhamdulillaah ‘alaa kulli haal :”).

Ahad malam, beberapa jam sebelum tengah malam saya sudah menamatkan membaca Dilan 1, Dia adalah Dilanku tahun 1990. Dilan 2, Dia adalah Dilanku tahun 1991 dan Milea belum dibaca, dan sama sekali ga tertarik untuk melanjutkan menamatkan trilogy ini. Kenapa? Karena Dilan 2 dan Milea katanya ceritanya sedih, dan saya ga mau ikutan sedih :P.

Ahad siang sebelum adzhan dzuhur berkumandang dari Masjid samping rumah, ketiga novel ini sudah ada ditangan, baru mulai membaca beberapa halaman, sudah banyak di interupsi oleh adek semata wayang, “mbaa iihh, apalan iihh”, “apaaalllaan mbaa, bukan malah baca dilan”, “mbaa ihh, parah bangat ih, apalan dulu”. Huwaa MasyaaLlaah ya adek sholeha semata wayang ini, wkwk, yang terus ngingetin dengan jadwal setoran tiap ahad sore.

Baru kemudian, saat malam hari, saat si adek semata wayang sudah tertidur, terkerukup (?) oleh selimut biru Winnie the Pooh-nya, saya mulai melanjutkan membacanya. Sekali baca langsung sampai tamat. Novel yang sangat ringan, tidak banyak berisi paragraph yang berisi deskripsi yang panjang, kebanyakan malah percakapan-percakapan singkat, seperti:

“kamu pernah nangis?” kutanya.
“waktu bayi, pengen minum”
“bukan ih!”
kataku. “Pas udah besar. Pernah nangis?”
“kamu tau caranya supaya aku nangis”
dia nanya
“gimana?”
“gampang.”
“iya gimana?”
“menghilanglah kamu di bumi”

“kamu tahu gak?”
“tahu apa?”
Nandan balik nanya
“Aku mencintai Milea”
Nandan tersenyum sekilas sambil memandangku. Rani, Dito dan Jenar pada ketawa. Mukaku pasti merah.
“tapi, malu mau bilang,” kata Dilan.
“itu, sudah bilang?” kata Nandan.
Nandan ketawa kecil, tapi ada rasa keselnya.
“aku kan bilang ke kamu, bukan ke dia.”
“dia denger, kan?”tanya Nandan.
“mudah-mudahan”.

Tidak perlu berhari-hari untuk menamatkannya, lagi juga saya ingin segera menyudahi rasa penasaran ini, wkwk. Dilan, dari covernya saja sudah tak asing di mata. Novelnya sering terlihat, berjejer-jejer di rak buku kalo kebetulan sedang mampir ke Gramed, Gunung Agung atau Salemba. Yakan Best Seller, hhe. Tapi kemarin-kemarin belum tertarik dan tidak tertarik sama sekali untuk mebacanya. Bersebab dari suksesnya gembar-gembor media mengenai novel ini, barulah kemarin berasa keppo pengen tahu kisahnya kayak apa, tapi sama sekali ga pengen nonton filmnya :P.

saya rasa ada sisi ‘parenting’ yang ingin disampaikan oleh bang pidi di buku ini.
saya kagum pada dua perempuan yang jadi the center of life nya dilan dan milea; mama, dan bunda .

i adore mama and bunda so much

hadirnya mama bunda dalam buku ini membuat saya berandai-andai, kelak, jika saya menjadi ibu, saya pun ingin seperti mamanya milea, dan atau bundanya dilan

working mom sama bu ibu yg suka gitaran sop? .
bukan

mamah mamah yang gapapa anaknya pacaran dibawa jalan-jalan sampe malem sop? .
bukan .

tapi mama dan bunda yang embrace heart warmingly whatever their children face,
qu kagum pada mama yang peluk milea saat milea tersebab dia takut dilan dipecat dari sekolah,
yang seakan2 lewat pelukannya she told milea that “anak ibu kuat, anak ibu bisa hadapi ini semua, every single thing shall pass”. qu juga kagum pada bunda yang meminta komitmen dilan dengan berdiskusi santai, bertukar pikiran, menawarkan value yang ingin disampaikan tanpa memaksa

buku dilan – milea, buat saya ga cuma menceritakan “how to move on from unfinished story”, tapi juga bercerita tentang sosok yang selalu ada, selalu siap menjadi tempat kembali.

ini salah satu review dari salah satu adik sholiha :P, yang saya rasa, saya ga bisa ga sepakat dengan apa yang dituliskan Shofi diatas :”). Sehabis membaca Dilan, iya saya kagum dengan kedua sosok Ibu dari kedua tokoh utama novel ini. Bagaimana mereka bisa menjadi sosok yang sangat nyaman, sehingga mampu membuat anak-anaknya bisa seleluasa dan sejujur itu menceritakan setiap yang dialami dan dirasakannya kepada Ibu dan Bunda nya. Even, itu Dilan sekalipun, anak geng motor cuy padahal ceritanya.

Dilan, sebagai tokoh utama disini pun juga tak kalah menarik :”),
bukan, bukan karena kepandaian-nya dalam menggombali Milea.

ada beberapa hal menarik dari sosoknya di novel ini,
Dilan, di usia nya yang semuda itu (masih kelas 11 ceritanya),
sudah sangat menggandrungi sastra, dan dia sangat suka sekali membaca!:).
bahkan, dinovel ini diceritakan si Dilan udah khatam loh baca Tafsir Al Qur’an 30 Juz karya Buya Hamka, nahloh keren kan? :P,

Dilan yang sangat setia kawan, yang sangat supel, yang sangat suka bersosialisasi. Tukang koran, tukang sayur, tukang pos, tukang nasi goreng sampai petugas PLN, semuanya pernah menjadi perantara Dilan mengirimkan coklatnya untuk Milea, haha :D.

Dilan juga pemberani. Walaupun caranya terkesan kurang sopan, tapi bagaimana cara Dilan memperingatkan guru BP nya yang suka bertindak kasar dan semena-mena kepada para muridnya cukup membuat pukulan telak bagi siapapun kita –yang mengaku sudah besar dan dewasa- yang membacanya.

“aku bukan melawan guru, Bu. aku melawan Suripto,”
“Ibuku juga guru, kakakku juga guru”
“aku tidak bisa memaklumi guru yang begitu”
“hormatilah orang lain kalau ingin dihormati,”
“siapapun dia, biar guru juga, kalau ga menghargai orang lain, ga akan dihargai”
“jangan karena guru, jadi berbuat seenaknya,”


“ya, kita tidak bisa mengkritik tanpa lebih dulu memahami apa yang kita kritik itu. Termasuk kita tidak bisa menghakimi anak remaja tanpa kita memahami kehidupannya. Orangtua seharusnya bisa memahami anak-anak, bukan sebaliknya. Jangan anak-anak yang dipaksa harus memahami orangtua. Anak-anak belum mengerti apa-apa, meskipun tentu saja harus kita berikan pemahaman” kata Bunda nya Dilan di novel ini, so a wise yaa :”)).

Sebelum membaca ini, saya bertanya pendapatnya mengenai novel ini kepada salah seorang bunda :P, bunda-nya Raisya [salah satu hal yang menyentuh adalah ketika kamu tahu, salah satu teman baikmu saat SMA memberikan nama putri pertamanya sama dengan nama yang kamu punya, walaupun kenyataannya mah ga ada kaitanya sama sekali, wkwk]. Si Bunda sudah khatam Dilan 1 dan Dilan 2 jauh sebelumnya.

“aku gimana ya ta, pas baca itu kayak makan kerupuk aja gitu. Tapi penasaran juga yang katanya orang itu bagus. Mungkin karena prinsip kita beda ya, jadi aneh aja, aku liat anak muda begitu amat. Dan sesungguhnya bagi aku, buku ini kurang bermakna bangat, wkwk. Tapi leh uga mau baca yang ketiga, wkwk”

eh btw,
rumah (orangtua) nya si Dilan tuh masih mayan deket dari rumah orangtua saya, masih satu daerah di Pondok Kopi :”). Inpo yang sungguh sangat unfaedah, wk.

Harta Karun · Tarbiyah

Al Ikhlas

“Tak akan sampai kepada Allaah, daging dan darah qurban itu, akan tetapi yang akan sampai kepada-Nya ialah taqwa dari kamu” (QS. Al Hajj ayat 37).

Banyak orang berharta dengan banyak hutang. Banyak lagi orang miskin dengan banyak hutang. Ada orang kaya amal dengan banyak tuntutan yang harus dilunasinya di hari pembalasan kelak. Ada juga orang yang sederhana amalnya, dengan ketulusan tiada tara. Pujian tak membuatnya bertambah gairah dan celaan tak menghambatnya dari meningkatkan amal kebajikan. Ia ada ditengah keramaian dan jiwanya sendiri menghadap Khaliqnya, tanpa berharap dan peduli terhadap penilaian manusia.

Tiga hal yang tak patut hati seorang mu’min kering atasnya; 1. Ikhlas beramal karena Allaah, 2. Tulus terhadap para pemimpin (dengan nasihat dan koreksi), 3. Setia kepada Jama’ah Muslimin, karena dos mereka meliput dari belakang mereka. (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Hakim, Abu Daud dan Tirmidzi).

Banyak hal yang Nampak sederhana, tetapi terabaikan, sementara obsesi besar sering menjadi symbol kebersamaan yang tak pernah terwujud atau takkan pernah terwujud, karena para pendukungnya tak pernah memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh, kecuali sebagai symbol status.

Hasan Al Bashri mencurahkan kebeningan hatinya di zam

an yang rasanya begitu perlu penjernihan. “Tak ada lagi yang tersisa dari kenikmatan hidup, kecuali tiga hal: 1. Saudara yang kau selalu mendapatkan kebaikannya, biala engkau menyimpang ia akan meluruskanmu, 2. Shalat dalam keterhimpunan (jasad, hati dan fikiran), 3. Cukuplah kebahagiaan hidup dicapai, bila kelak tak seorangpun punya celah meuntutmu di hari peradilan kelak.”

Ketika seseorang berusaha keras untuk beramal tanpa berfikir keuntungan apa yang akan ia dapatkan, ia disebut mukhlis, artinya orang yang menyerahkan amalnya kepada Allaah dengan sepenuh hati tanpa pamrih duniawi. Pada saat ia mendapatkan dorongan beramal tanpa ingat apapun kecuali ridha Allaah, ia menjadi mukhlas, artinya orang yang dijadikan mukhlis.

Ada orang yang hanya dengan melihatnya, itu cukup membuatmu ingat kepada Allaah, bicaranya cukup menambah amalmu dan amalnya cukup mebuatmu rindu akhirat.

 

Tulisan ini merupakan rangkaian karya dari Almarhum Ust. Rahmat Abdullah yang pernah dimuat di majalah Tarbawi dengan mengambil tema-tema refleksi seputar Al Arkan Al ‘Asyarah, Hasan Al Banna.

Harta Karun · Tarbiyah

Al Fahmu : Ilmu dan Kelapangan Wawasan

Berapa banyak pedang diperlukan untuk mengembalikan kaum Khawarij yang memecah belah jama’ah (Syaqqal Asha)? Kaum ini sesat bukan karena tidak sholat, shaum atau jihad. Keras telapak tangan mereka dan menghitam dahi mereka lantaran sujudnya yang lama. Kurus badan mereka karena puasanya yang intensif. Saat pedang merobek perut dan memburai usus mereka, melompat kalimat yang menakjubkan, “Aku bersegera kepada Mu yan Rabbi agar Engkau ridha” (QS. Taahaa ayat 84). Bahkan ketika Rasulullaah shallahu ‘alaihi wassalam ditanya tentang sifat mereka, beliau menjawab, “Kalian akan meremehkan shalat kalian dibandingkan dengan shalat mereka dan shiam kalian dengan shiam mereka”.

Fiqh (kedalaman ilmu dan keluasan wawasan) tak menggenapi kehidupan intelektualitas mereka. Tapi Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu cukup menggunakan ketajaman argumentasinya untuk mengembalikan 1/3 dari puluhan ribu kaum pemberontak Khawarij. Oleh karena itulah kaum Khawarij –dan aliran nyeleneh lainnya sepanjang zaman- selalu menghindari fuqaha yang mereka anggap selalu mematikan aspirasi dan membenturkan mereka dengan tanda tanya yang musykil. Belum terjadi apa-apa ketika sesepuh kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam mengusulkan agar dibangun tugu-tugu peringatan di tempat biasanya duduk tokoh-tokoh terhormat mereka: Wadda, Suwa, Yauq, Yaghuts, dan Nasr. Barulah setelah generasi ini wafat dan ilmu telah dilupakan orang, maka tugu-tugu itupun mulai disembah.

Suatu hari Abu Hasan Asy Syadzili kedatangan rombongan tamu, para ulama dan fuqaha. Mereka sempat tersinggung ketika ia bertanya, “Apakah kalian orang-orang yang mendirikan shalat?”. Mereka menjawab, “Mungkinkah, ‘fuqaha’ seperti kami tidak shalat?!”. Dengan tenang dilayangkanlah pertanyaan yang membuat mereka tersipu-sipu, “Apakah kalian adalah orang yang bebas dari gelisah? bila ditimpa musibah tidak putus asa dan bila mendapat nikmat tidak menjadi bakhil?” (QS. Al Ma’aarij ayat 19-23).

Diantara karunia besar datangnya Rasul penutup adalah mata dunia dibuka dan era akal sehat dimulai, bebas dari mitos-mtos dan manipulasi orang-orang ‘pintar’ (licik) atas rakyat yang lugu dan setia. Inilah tonggak peralihan dari pengabdian manusia kepada sesama manusia, menuju pengabdian hanya kepada Allaah Ta’alaa saja.

Mungkin, karena kekhasan Islam dalam mengharagai ilmu dan akal sehat, secara khusus Syaikh Alawi Al Maliki membuka Simthud Durar (Untaian Mutiara), antalogi sanjungannya kepada Rasulullaah shalallahu ‘alaihi wassalam dengan kekhususan ini,

Segala puji bagi Allaah

yang telah melebihkan kita

dengan Musthafa Nabi pilihan

yang mengangungkan pendidikan.

Tulisan ini merupakan rangkaian karya dari Almarhum Ust. Rahmat Abdullah yang pernah dimuat di majalah Tarbawi dengan mengambil tema-tema refleksi seputar Al Arkan Al ‘Asyarah, Hasan Al Banna.

Harta Karun · Tarbiyah

Al Fahmu : Ilmu antara Tahu dan Mau

Apa kabar penghafal sekian banyak ayat, pelahap sekian banyak kitab dan pembahas sekian banyak qadhaya yang belum beranjak dari tataran tahu untuk bersiap menuju mau? Siapakah engkau, wahai pengendara yang menerobos larangan masuk kawasan berbahaya? Siapakah engkau, yang diminta memilih antara madu dan racun, kurma dan bara, lalu dengan sadar melahap bara mencampakkan kurma, menenggak racun dan membuang madu? Alim, jahil atau sakitkah engkau?

Siapakah gerangan engkau yang tiba-tiba menemukan diri berada disebuah tempat yang nyaman dan membuatmu tak pernah berpikir untuk pergi, karena tuan rumah tempat kau tinggal tak pernah menagih rekening listrik, buah dan sayuran, kolam renang dan landasan pesawat, menu dan lahan berburu. Kau menikmatinya berpuluh tahun, namun tak pernah sedikitpun bertanya: Siapa pemilik rumah ini? Apa kewajibanmu disana? Kemana lagi engkau sesudah ini?

Engkau yang telah menghabiskan seluruh usia untuk penjelajahan ilmu yang memberitahukanmu berapa miliar tahun umur bumi, bagaimana akurasi, peredaran bumi, matahari dan galaksi, ketepatan ekosistem dan karakter benda, lalu menuduh wahyu itu kuno karena telah melewati masa seribu empat ratus tahun? Tak punyakah engkau segenggam rasa malu untuk pergi mencari planet lain yang lebih muda? Seandainya engkau jumpai yang lebih muda, sadarkah engkau bahwa itu bukan ciptaanmu?

Siapakah engkau, wahai penjaga kebun anggur yang disuruh mengantarkan untaian anggur, lalu pergi dengan lagak seperti pemilik kebun dan tak mau kembali lagi, karena si pemabuk telah mempesonamu dengan kepandaiannya mengubah anggur menjadi arak? Engkau tak punya secuil kearifan ilmu.

Pict: Earth as seen through the Hubble telescope (taken from Pinterest)

Tulisan ini merupakan rangkaian karya dari Almarhum Ust. Rahmat Abdullah yang pernah dimuat di majalah Tarbawi dengan mengambil tema-tema refleksi seputar Al Arkan Al ‘Asyarah, Hasan Al Banna.

Harta Karun · Tarbiyah

Al Fahmu : Pemeliharaan Tradisi Keilmuan

Betapapun hebatnya perusakan yang dilakukan pasukan Tartar terhadap kitab-kitab para ulama, itu menjadi tak berarti jika dibandingkan dengan apa yang berkembang di dunia keilmuan. Darah daging ilmu telah membekas dihati para ulama. Seorang imam pergi bermusafir berbulan-bulan ‘hanya’ untuk mencari satu hadits singkat. Seorang ulama produktif menulis di penghujung malam dan esoknya juru salin baru dapat menyelesaikan transkripnya dalam waktu 10 jam.

Tradisi keilmuan juga menyangkut etika pergaulan. Hampir tidak pernah ditemukan ulama yang datang ke depan pintu Sultan kecuali ia penjilat atau seseorang yang sudah sampai ke tingkat ma’rifat yang tinggi. Seorang alim yang zuhud menghindari sultan dan orang-orang kaya karena takut fitnah dunia, sementara ulama yang arif billah (mengenal Allaah) datang kepada raja, untuk menasehati dan mengingatkan mereka.

Harun Al Rasyid meminta Imam Malik untuk datang menziarahinya, “agar anak-anak kami dapat ikut mendengarkan kitab Al Muwattha,” jelasnya. Dengan penuh keyakinan, dijawabnya permintaan tersebut oleh Imam Malik, “Semoga Allaah menjayakan Amirul Mukminin. Ilmu itu datang dari lingkungan kalian (Baitun Nubuwah). Jika kalian memuliakannya ia jadi mulia dan jika kalian merendahkannya ia jadi hina. Ilmu harus didatangi, bukan mendatangi.”

Ketika akhirnya sang sultan menyuruh kedua putranya datang ke Masjid untuk mengaji bersama rakyat, Imam Malik mengatakan, “Dengan syarat, mereka tidak boleh melangkahi bahu jama’ah dan duduk di posisi mana saja yang terbuka untuk mereka”.

Sebagai Imam pembela sunnah yang sangat konsisten melaksanakannya, Imam Syafi’I dikenal sangat kokoh dalam menyampaikan argumentasinya. Kepiawaiannya saat berdiskusi dilandasi oleh keikhlasannya yang sangat luar biasa. “Setiap kali aku berdebat dengan seseorang, selalu kuberharap Allaah mengalirkan kebenaran dari lisannya,” begitu ujar Imam Syafi’i.

Tulisan ini merupakan rangkaian karya dari Almarhum Ust. Rahmat Abdullah yang pernah dimuat di majalah Tarbawi dengan mengambil tema-tema refleksi seputar Al Arkan Al ‘Asyarah, Hasan Al Banna.

Harta Karun · Tarbiyah

Al Fahmu

Tidak ada perintah meminta tambahan seperti perintah meminta tambahan ilmu. Bahkan perintah ini diarahkan kepada Rasul pilihan Shallahu ‘alaihi wassalam. Dan katakanlah: Yaa Rabbi, tambahkanlah aku ilmu (QS. Taahaa ayat 114). Bagi Ashabul Kahfi, sesudah iman tambahan nikmat lainnya adalah berupa Huda (petunjuk) yang hakikatnya juga adalah ilmu.

Kecuali efek kesombongan yang sebenarnya bukan anak kandung ilmu, seluruh dampak ilmu adalah kebajikan. Bukanpun ketika seseorang terlanjur salah jalan, ia mengambil peran sebagai pelurus. Ia selalu jujur, asal si empunya mau jujur. “Lewat beberapa masa, aku menuntut ilmu dengan motivasi yang salah, tetapi sang ilmu tak pernah mau dituntut kecuali hanya karena Allaah,” ucap Al Ghazali.

Tentu saja sesorang tidak harus mengumpulkan ilmu sebagai kolektor tanpa ada komitmen amal, karena hal seperti ini dapat dilakukan oleh hard disc, diskette, pita perekam atau mata pensil. Bagaimana ilmu menjadi serangkaian informasi yang mengantar penuntutnya kepada kearifan, itulah soal besar yang menjadi batu ujian para ulama. “Sesungguhnya yang takut kepada Allaah diantara para hamba-Nya yaitu ulama” (QS. Faatir ayat 28).

Dengan melihat hubungan dan kedudukan ilmu, nyatalah bahwa yang dimaksud dengan ilmu dan kemuliaannya itu adalah ilmu nafi’ (ilmu yang bermanfaat). Karena itulah, maka seluruh kata ilmu (baik dalam Al Qur’an maupun Hadits) maksudnya adalah ilmu nafi’, menurut Ibnu Athaillah. Selebihnya ia menjadi beban tanggungjawab dan penyesalan, karena berhenti pada jidal (debat), mubahah (kebanggaan) dan alat untuk menarik keuntungan dunia.

Ilmu selalu membuat si empunya semakin rendah hati, sensitif dan sungguh-sungguh.

Tulisan ini merupakan rangkaian karya dari Almarhum Ust. Rahmat Abdullah yang pernah dimuat di majalah Tarbawi dengan mengambil tema-tema refleksi seputar Al Arkan Al ‘Asyarah, Hasan Al Banna.

Meracacacau · rumah · Uneguneg

Speak Up Girls! :)

“Di tempat itu arwah Umar akan menyertai kita! Dari sana jugalah kita akan memenuhi tugas-tugas kegerilyaan kita seperti yang biasa dilakukan oleh Umar. Kita akan memenuhi perintah Tuhan untuk memerangi orang kafir” ucap seorang wanita, yang juga adalah seorang Ibu.

Siapakah Umar yang dimaksud? Ialah Teuku Umar, suami terkasihnya yang gugur saat menyerang Belanda di Meulaboh pada 11 Februari 1899. “Orang kafir” tentu saja sebutan untuk para penjajah Belanda.

Siapa yang tak mengenal dengan sosok Umar bin Khattab, keberanian dan ketegasannya sampai-sampai membuat syaitan niscaya lebih memilih jalan lain jika melihat Umar berada di depan jalan yang akan dilewatinya. Jika syaitan saja tidak berani, maka siapakah yang berani untuk membantahnya?

“Wahai Amirul mukminin, apakah yang wajib kita ikuti itu Kitab Allah ataukah ucapanmu?” tanya seorang wanita menaggapi pernyataan Umar yang melarang memahalkan mahar pernikahan. Tak berhenti sampai disini, wanita ini kemudian mengutip firman Nya pada ayat ke-dua puluh surat Annisa sebagai bahan argumennya.

“Wanita ini benar dan Umar salah,” ucap Umar bin Khattab kemudian setelah mendengarkan ayat yang dibacakan oleh wanita tersebut. Umar membenarkan ucapan wanita tersebut dan mengakui kesalahannya di depan banyak orang.

:”)
menurut saya pribadi [mohon dikoreksi jika keliru],
tidak ada yang salah bagi kita, perempuan untuk menyampaikan pendapat di hadapan umum [tentunya selagi tetap dalam kaidah syariat yang diperbolehkan], apalagi jika dalam upaya untuk meluruskan suatu hal yang sudah jelas kekeliurannya. Dan bukankah salah satu jihad yang utama adalah perkataan yang benar di hadapan penguasa yang dzalim? :”)

maka,
jangan memilih diam untuk kesalahan yang sungguh sangat jelas terlihat. Pun juga jangan memilih diam, walaupun sesuatu yang salah itu tidak sedang menimpamu, anak-anakmu dan keluargamu. Dan tetaplah bersuara, sekalipun orang-orang terdekatmu tidak merespon niat baikmu :”).

terkisah,
ada seorang Ibu separuh baya, usianya akan genap 54, tahun ini insyaaLlaah :”). seorang ibu yang tinggal bersama keluarganya di daerah Pondok Kopi Jakarta Timur, wk :”)

:Walaupun suaminya dan anak-anaknya sepakat berkata “udah dibiarin aja sih bu” untuk kegelisahan beliau atas rusaknya (kemasan baik, expired masih lama, segel ok, tapi pas diminum rasanya asem, ga enak) susu UHT Indomilk 1000ml yang baru saja dibelinya Selasa malam kemarin.

“tapi kan susunya beneran udah ga enak, jadi ga bagus kalo diminum” keluh ibu tsb.

tanpa sepengetahuan keluarganya, Rabu pagi si Ibu menyampaikan keluhannya melalui nomor telepon Layanan Konsumen yang tertera di kemasan susu.

Then, it’s work :P:D,
Kamis siang, ada bapak bapak dari Indomilk datang berkunjung ke rumah si Ibu, mengecek langsung kondisi susu dan kemasannya, menyampaikan permintaan maaf dan memberikan bingkisan sebagai ganti untuk ketidaknyamanan atas kerusakan produk mereka.

Dan akhirnya, anak-anaknya yang kesenangan dapat banyak hadiah susu, hanya bisa berucap, “ibuu terbaaaiikk” wkwk :”))

Belajar · challenge · Harta Karun · Hikmah · Meracacacau · sejarah

Guru Sejarah

tumblr_okj0szey3f1th2yi3o1_1280

picture taken from here

Sebagian ulama berkata, “kisah adalah sebagian dari tentara Allah yang diturunkan ke bumi”. Dan bukankah lebih dari separuh ayat Al Qur’an diturunkan dalam bentuk kisah-kisah umat terdahulu?“
–status FB mba Fitry Ratnasari-

Bismillaah,

Sejak dua tahun yang lalu sampai dengan saat saya menulis tulisan ini, saya mempunyai sebuah keinginan baru. Ingin menjadi guru sejarah!. Kalimat ini pernah saya tulis sekitar dua tahun lalu ketika menulis review dari sebuah buku leadership series yang sangat keren.

Kenapa guru sejarah? Saat menuliskan review tersebut saya juga katakan, betapa saya sangat ingin menceritakan kisah-kisah kepada adik-adik generasi muda masa kini, tentang betapa kita baik sebagai seorang muslim ataupun sebagai Warga Negara Indonesia pernah memiliki masa-masa kejayaan. Masa kejayaan yang tidak begitu saja didapat atau diberikan, ada banyak kisah perjuangan dan pengorbanan yang mendahuluinya. Semangat berkontribusi untuk bisa mengulang kembali masa-masa kejayaan ini yang ingin sekali saya tularkan kepada adik-adik masa kini :”). Pun juga, perasaan bangga sebagai seorang Muslim dan sebagai orang Indonesia yang sedini mungkin ingin saya tempelkan lekat-lekat kepada adik-adik generasi muda saat ini.

“Tidak ada yang baru di muka bumi ini”
[DR. Raghib Sirjani].

Maka, langit yang sedang menaungi kita hari ini, adalah juga langit yang sama yang menaungi Rasulullaah shallahu ‘alaihi wassalam ketika pertama kali menerima wahyu sebagai seorang Nabi dan Rasul juga kelak sebagai pemberi syafaat bagi kita, umatnya di akhir zaman ini. Juga langit yang sama, yang menaungi perjuangan beliau dan para sahabat hingga bisa mewarnai islam ke hampir 2/3 bagian bumi :”).

Matahari yang sedang menyinari kita saat ini, juga adalah matahari yang sama, yang menghangatkan Panglima Jendral Soedirman keluar masuk hutan dengan hanya sebuah paru-parunya yang berfungsi baik, walau harus ditandu oleh para ajudannya, bergerilya demi menunjukkan kepada dunia Internasional, bahwa Negara Indonesia masih ada dan belum sama sekali bertekuk lutut, walaupun Sang Presiden kita saat itu sudah berada dalam tawanan Pemerintahan Belanda. Juga Matahari yang sama yang menemani The Grand Old Man, KH. Agus Salim berangkat menghadiri Konferensi ILO di Jenewa, Swis. Beliau sampaikan pidatonya dengan sangat berani. Paragraf 1 pidatonya, beliau sampaikan dengan bahasa Belanda, paragraph 2 dengan bahasa Inggris, paragraph 3 dengan bahasa Jerman dan paragraph 4 dengan bahasa Prancis!. Pidato Agus Salim yang berisi gugatan atas kekejaman tanam paksa Belanda ini mampu membuat Amerika dan beberapa Negara Eropa tidak mau lagu membeli hasil kebun Hindia Belanda, yang perlahan membuat perekonomian Belanda terpuruk dan Indonesia mulai menjejaki perjuangan kemerdekaan. Allahu Akbar, Merdeka!:”)

Dan saya yakin, matahari yang teriknya sering di-keluh-i oleh kebanyakan dari kita saat sedang mengkritik pedas kondisi bangsa dan negara ini, adalah juga matahari yang sama yang menemani Bapak Proklamator kita menyampaikan teks proklamasi sebagai deklarasi atas kemerdekaan bangsa dan negara ini.

Setiap guru punya gaya mendidiknya masing-masing. Dan apakah kamu tahu apa salah satu “lahjah tarbiyah”, apa gaya Dzat Sang Mahabesar untuk mendidik manusia? Jawabannya: Mengisahkan sejarah. “Belajar sejarah secara umum, dan sejarah Islam secara khusus adalah kata kerja untuk generasi Robbani”, kata DR. Raghib Sirjani. [edgarhamas]

Hasil dari sebuah proses pembelajaran, baik itu belajar sejarah atau belajar hal apapun adalah mampu membuat kita semakin tunduk meng-hamba kepada Nya, dan tentu juga berhasil menggerakkan kita untuk dapat mengaplikasikannya dalam sebuah amal. Belajar sejarah bukan hanya tentang bagaimana mengingat sebuah kisah, tokoh, waktu kejadian atau peristiwa. Lebih dari itu, bagaimana dengan belajar sejarah kita mampu mentadabburi dan mengambil sebanyak-banyaknya hikmah dari setiap ketetapan kehendak-Nya yang telah terjadi.

Maka untuk bisa belajar sejarah dengan baik, selain dengan banyak membaca dan mendengar. Tentu harus juga dekat-dekat dengan Sang Pemilik Ilmu, meminta kepada-Nya untuk dapat ditunjukkan ilmu yang bermanfaat dan yang membawa keberkahan. Tidak buru-buru menarik kesimpulan sebelum membaca lebih banyak referensi juga bisa menjadi kunci keselamatan.

Dalam dunia digital seperti saat ini, setiap penuntut ilmu akan makin dimanjakan dengan kemudahan dan kecepatan dalam mengakses materi apapun. Hal ini bisa membawa keutungan namun juga bisa membawa malapetaka sekaligus. Kebenaran dan kebatilan sebuah informasi semakin terlihat abu-abu warnanya. Berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan sebuah informasi menjadi sangat utama. Ini yang masih menjadi PR utama bagi saya pribadi, bagaimana menahan diri untuk tidak terburu-buru menelan sebuah informasi tanpa dikunyah terlebih dahulu.

saat menuliskan ini,
saya belum mempunyai anak sendiri :”))
namun, keinginan untuk menjadi guru sejarah itu semoga tetap bergelora sampai nanti kelak Allaah mengizinkan beberapa hamba-Nya lahir dari rahim saya :D, minimal menjadi guru sejarah bagi anak-anak saya kelak. Saat ini sudah mulai latihan, menjadi guru sejarah dari seorang remaja berusia 17 tahun, adik semata wayang yang alhamdulillah walaupun terpakasa, wkwk dengan ridha mendengarkan saya bercerita.


Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas Nice Home Work (NHW) Program Matrikulasi Institute Ibu Profesional #Batch 5 Jakarta 4. Materi 1: Adab Menuntut Ilmu.