Dear · Harta Karun · Meracacacau · reblog · they're said

Membeli Sepatu

Oleh mba avinaninasia.

Saya adalah tipikal perempuan yang malas berputar-putar keliling pusat perbelanjaan untuk berbelanja. Belanja apapun itu, termasuk membeli sepatu. Jika saya masuk ke mall (lebih tepatnya bukan mall-mall semacam Grand Indonesia, Plaza Indonesia ya.. haha) dengan niat membeli sepatu, maka yang saya lakukan adalah melihat detil satu toko yang saya kunjungi pertama, kemudian berputar-putar ke beberapa toko berikutnya.

Jika tidak ada yang cocok, maka dengan mudahnya saya akan menyimpulkan, saya tidak akan jatuh hati pada sepatu di toko manapun, karena saya anggap semuanya sama.

Namun, jika ada yang cocok pada sebuah sepatu pada satu toko, saya benar-benar tidak akan mau melihat-lihat toko sepatu lagi, karena sebuah alasan. Tidak mau menyesal.

Sepatu yang telah saya pilih dengan kombinasi model, ukuran, dan harga yang sesuai, adalah sepatu terbaik untuk saya, tanpa perlu dibanding-bandingkan lagi dengan sepatu yang akan saya temui di perjalanan keluar mall, jika saya masih melirik sepatu di toko lain.

Saya sudah lupa, hal itu berlangsung sejak kapan. Sepertinya, sejak saya hidup di kota ribuan mall, Jakarta. Yang jelas, saya agak kesal jika berbelanja dengan para ciwi yang hobi lirik-lirik toko setelah membeli sepatu, padahal dia tidak berniat membeli lagi, kemudian kebanyakan berakhir menyesal karena telah membeli sesuatu yang tidak lebih baik dari yang ia temui belakangan. Atau kadang saya juga kesal jika harus berbelanja dengan para ciwi-ciwi yang memutari seluruh sudut pusat perbelanjaan, kemudian berakhir membeli produk di toko yang pertama kali kita masuki. Dont get me wrong, saya tidak benar-benar kesal, hanya saya tidak memilih cara tersebut untuk menghadapi pusat perbelanjaan. ;p

Pada intinya, ada satu hal yang saya berusaha pegang teguh. Ketika sudah memutuskan berhenti mencari, maka hal yang perlu kau lakukan selanjutnya hanyalah mensyukuri apa yang kau miliki; mengingat bahwa apa yang kau miliki adalah yang terbaik untukmu, dengan segala kondisinya.

Syaratnya satu. Meminta pada Allah.

Sebelum memilih, Kau meminta pada Allah untuk mengarahkan pilihanmu.

Setelah memilih, Kau meminta Allah untuk menguatkan pilihanmu dengan segala hikmah-Nya.

Mungkin, di tengah perjalanan, kau akan menemui beragam pilihan baru, yang sudah (hampir) tidak mungkin dipilih, maka kau harus sadar betul, itu ujian yang teramat nyata. Tapi karena kau melibatkan Allah sejak awal, maka kau telah sadar bahwa kau tahu akan menemui ujian tersebut, dan yakin akan mampu menghadapinya.

Serius banget ya soal membeli sepatu? Ya. Saya kan anaknya emang serius. =P

tulisan mba anin dua tahun yang lalu :”), libatkan Allaah, yaa Rabbi :”””

*pict from google.

Advertisements
challenge · reblog

Ramadan Istimewa

Catatan Kajian Tarhib Ramadhan oleh Ustadz Oemar Mita, disampaikan pada hari Ahad, 6 Mei 2018 di Masjid Istiqlal.

Keutamaan Ramadhan laiknya keutamaan Nabi Yusuf dibanding dengan 11 saudaranya yang lain (tidak ada yang menjadi Nabi). Laiknya keutamaan sinar matahari dibanding dengan sinar bintang-bintang yang lain. Sinar matahari bisa menerangi seantero bumi, sedang sinar bintang tidak.

Para sahabat di zaman dulu, sudah mencium sensasi Ramadhan 6 bulan sebelum kedatangannya. 6 bulan sebelum datang Ramadhan, para sahabat berdo’a agar dipertemukan dengan bukan Ramadhan dan diberi keselamatan di dalamnya. 6 bulan setelah bulan Ramadhan, para sahabat berdo’a agar amal-amal selama bukan Ramadhan diterima oleh Allah.

Ramadhan adalah parade ibadah terbesar yang Allah gulirkan di muka bumi, olimpiadenya orang-orang beriman.

Keutamaan Ramadhan :

1. Ramadhan adalah waktu emas untuk beribadah, untuk memohon ampun kepada Allah, untuk menghapus dosa-dosa.

“Celaka sekali orang yang mendapati bulan Ramadhan dan ia keluar dalam keadaan belum terampuni dosanya.”

2. Allah mengistimewakan amal. Allah langsung yang menjaga amal seorang hamba di bulan Ramadhan. Saking besarnya balasan amal di bulan Ramadhan, Allah tidak sebutkan detailnya. Berbeda dengan amal yang lain, Allah sebutkan keutamaannya. Maka inilah kesempatan emas untuk investasi amal terbaik. 1 hari Ramadhan yang dilewati seorang hamba di dunia dengan ikhtiar maksimal, akan sangat membedakan kedudukannya di surga.

Apa Saja yang Harus Kita Lakukan?

1. Cek Keimanan

Hal pertama yang harus dilakukan adalah memastikan hati tidak tersengat kemunafikan. Bagaimana kriteria munafik? 1) benci kpd Rasulullah, 2) benci kpd apa pun yang disampaikan Rasulullah, 3) mendustakan Rasulullah, 4) mendustakan apa yang disampaikan Rasulullah, 5) benci ketika orang kagir kalah dan muslimin menang.

2. Bertaubat dan Beristighfar

Karena ketika kita bawa dosa dan maksiat memasuki Ramadhan, itu akan menjadi penghalang kenikmatan ibadah di bulan Ramadhan. Jika 10 hari pertama berhasil, Allah tambahkan ketaatan dan kenikmatan ibadah di 10 hari kedua. Jika 10 hari kedua berhasil, Allah semakin tambahkan lagi keberhasilan di 10 hari terakhir, biidznillah.

3. Perbanyak Do’a

Agar Allah sampaikan kita di bulan Ramadhan dengan sehat dan selamat (selamat dari kelalaian dan kemalasan).

4. Pilih Amal Terbaik

Prioritaskan untuk Alqur’an. *tambahan dari Ust. Amir, “Imam Syafi’i ketika memasuki bulan Ramadhan, cuti dari kegiatan yang lain. Imam Syafi’i mendedikasikan sebulan penuh waktunya untuk Alqur’an. Imam Syafi’i selama Ramadhan mengkhatamkan Alqur’an sebanyak 60 kali.”

5. Jadilah Pencuri Pahala

Beri makan orang yang berpuasa. Kamu bisa berinfaq ke pondok pesantren, masjid-masjid, palestine dan syuriah. Setiap orang yang kita beri makan untuk berbuka puasa, pahala puasanya untuk kita (juga) tanpa mengurangi pahala puasa baginya.

Wallahu a’lam bishowab.

ditulis oleh Baiq Muna 🙂

Hikmah · reblog · they're said

Marhaban ya Ramadhan

Sumber Tulisan :”).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “marhaban” diartikan sebagai “kata seru untuk menyambut atau menghormati tamu (yang berarti selamat datang).” Ia sama dengan ahlan wa sahlan yang juga dalam kamus tersebut diartikan “selamat datang.”

Walaupun keduanya berarti “selamat datang”, tetapi penggunaannya berbeda. Para ulama tidak menggunakan ahlan wa sahlan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan, melainkan “marhaban ya Ramadhan”.

Ahlan terambil dari kata ahl yang berarti “keluarga”, sedangkan sahlan berasal dari kata sahl yang berarti mudah. Juga berarti “dataran rendah” karena mudah dilalui, tidak seperti “jalan mendaki”. Ahlan wa sahlan, adalah ungkapan selamat datang, yang dicelahnya terdapat kalimat tersirat yaitu, “(Anda berada di tengah) keluarga dan (melangkahkan kaki di) dataran rendah yang mudah.”

Marhaban terambil dari kata rahb yang berarti “luas” atau “lapang”, sehingga marhaban menggambarkan bahwa tamu disambut dan diterima dengan dada lapang, penuh kegembiraan serta dipersiapkan baginya ruang yang luas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya. Dari akar kata yang sama dengan “marhaban”, terbentuk kata rahbat yang antara lain berarti “ruangan luas untuk kendaraan, untuk memperoleh perbaikan atau kebutuhan pengendara guna melanjutkan perjalanan.

”Marhaban ya Ramadhan berarti “Selamat datang Ramadhan” mengandung arti bahwa kita menyambutnya dengan lapang dada, penuh kegembiraan dan suasana nyaman kita.

Marhaban ya Ramadhan, kita ucapkan untuk bulan suci itu, karena kita mengharapkan agar jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah Ta’alaa :).

Harta Karun · KisahParaNabi · reblog

Nouman Ali Khan: Reconnect with Qur’an

oleh Novie Ocktaviane Mufti

Al-Qur’an boleh jadi ada dalam keseharian kita. Kita membacanya, mendengarnya, atau bahkan membawanya kemana-mana. Tapi, mengapa kita tidak terkoneksi dengannya?

Assalamu’alaikum! Jika kamu sampai pada tulisan ini, berarti kamu sedang membaca ulasan kajian Reconnect with Al-Qur’an yang dibawakan oleh Ustadz Nouman Ali Khan di Mesjid Istiqlal kemarin (6 Mei 2016). Siapakah beliau? Beliau ini adalah seorang ustadz dari Amerika, yang terkenal dengan lecturenya yang membahas Al-Qur’an dengan mengupas bahasa hingga ke akar-akarnya. Sebagai penulis yang akrab dengan kata dan diksi, bagi saya itulah yang membuat kajian-kajian beliau punya daya tarik tersendiri. Alasan yang sama jugalah yang kemarin membuat saya (dan teman-teman) ingin datang, bertemu, dan belajar langsung dari beliau.

Dari kajian-kajian yang sebelumnya pernah saya datangi, kajian dengan ustadz Nouman kemarin boleh dibilang kajian yang terpadat. Pernahkah kamu melihat siaran langsung shalat Idul Fitri di Mesjid Istiqlal dari televisi? Nah, seperti itulah kurang lebih keramaian yang terjadi: mesjid penuuuuh sekali dengan lautan manusia. Ruang utama yang sudah sedemikian luasnya itu padat sampai ke tepinya, belum lagi ditambah dengan lantai 2 dan 3 yang tidak kalah padatnya. Dalam akun Instagram pribadinya, Ustadz Nouman memperkirakan bahwa saat itu mesjid dipenuhi oleh sekitar 14.000 orang. Menariknya, 90% dari orang-orang yang datang ini adalah anak-anak muda di usia produktif. Maa syaa Allah.

screenshot_20180506_192255

Lalu, apa yang saya dapatkan dari kajian Reconnect with Qur’an kemarin itu? Berikut adalah reviewnya. Silahkan disimak, ya! Semoga bermanfaat.

BERAWAL DARI KISAH NABI IBRAHIM

Kajian yang berdurasi kurang lebih 3 jam ini disampaikan dalam bahasa Inggris. Dalam sesi pertama, kajian dimulai dengan membahas kisah Nabi Ibrahim. Awalnya saya bingung mengapa bukan langsung membahas Al-Qur’an hingga saya bertanya-tanya di dalam hati tentang apa hubungan antara kisah itu dan reconnect with Qur’an. Kebingungan itu, yang mungkin juga dirasakan oleh orang-orang yang lainnya, sepertinya tertebak oleh ustadz Nouman hingga beliau bilang, “It might sounds not connected with our topic, but you have to listen it until the end so you can conclude what’s the connection between Ibrahim and reconnect with the Qur’an.” Penasaran kan? Iya, sama saya juga! Baca sampai selesai, ya!

Nabi Ibrahim lahir diantara orang-orang yang menolak petunjuk Allah hingga dapat dikatakan bahwa beliaulah satu-satunya orang yang menerima petunjuk tersebut. Suatu hari, beliau pernah bertanya-tanya tentang siapa Allah hingga setelah melewati berbagai perenungan akhirnya beliau memiliki sebuah kesimpulan diri, “Allah bukan hanya yang menciptakanku, tapi juga yang memberiku petunjuk. Dia tidak hanya memberiku makanan untuk dimakan dan minuman untuk melepaskan dahaga, tapi Dia juga secara terus-menerus memberiku petunjuk. Allah tidak hanya berkuasa membuatku mati, tapi Dia juga berkuasa untuk membuatku dihidupkan kembali.” (Silahkan cek lebih lanjut di Q.S Asy-Syu’ara : 78-82)

Nabi Ibrahim berbeda dengan nabi-nabi yang lain karena merupakan satu-satunya nabi yang paling banyak berdoa kepada Allah. Di tengah gempuran ujian, beliau banyak berdoa kepada Allah hingga doa beliau terabadikan di dalam Al-Qur’an,

“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku ilmu dan masukanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shaleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah ayahku sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, dan surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa, dan neraka Jahim diperlihatkan dengan jelas kepada orang-orang yang sesat.” (QS Asy-Syu’ara : 83-91)

Menariknya, Nabi Ibrahim tidak begitu saja langsung berdoa kepada Allah. Sebelumnya, beliau terlebih dahulu memohon ampun kepada Allah (forgive me), kemudian ia meminta petunjuk untuk dapat melihat kebenaran sebagai kebenaran dan melihat kesalahan sebagai kesalahan (guide me), lalu ia pun meminta kekuatan kepada Allah untuk dapat menjalankan apa yang menjadi petunjuk-Nya dengan sepenuh ketaatan (give me power). Kalau kita? Bagaimana cara kita berdoa? Doa apa yang kita mohonkan kepada-Nya?

Allah ternyata mengabulkan doa baik Nabi Ibrahim, bahkan lebih dari apa yang dimintakannya. Beliau meminta kepada Allah agar anaknya menjadi keturunan yang dapat melahirkan generasi muslim karena adanya sebuah harapan akan terbentuknya Muslim Ummah. Lalu apa yang terjadi? Dari Ibrahim lahirlah banyak nabi dan keturunan-keturunan shalih, termasuk juga Rasulullah yang masih ada dalam satu garis keturunan dengannya. Beliau meminta agar kisah hidupnya menjadi pelajaran bagi orang lain dan menjadi buah tutur perkataan yang baik. Lalu apa yang terjadi? Beliau menjadi bapaknya umat muslim, yang hingga saat ini pun kisah hidupnya menjadi teladan dalam banyak aspek kehidupan. Beliau meminta agar keturunannya mendapatkan petunjuk, maka permintaan itu terjawab dengan adanya Al-Qur’an. Maa syaa Allah.

LALU, APA KAITANNYA KISAH NABI IBRAHIM DENGAN RECONNECT WITH QUR’AN?

Al-Qur’an adalah cara Allah berkomunikasi dengan kita, sedangkan doa adalah cara kita berkomunikasi dengan Allah.

Keduanya adalah bentuk komunikasi 2 arah yang akan dapat membuat kita terus terkoneksi dengan Allah. Seperti Nabi Ibrahim, yang dilakukan beliau melalui doa adalah juga upaya beliau untuk terkoneksi dengan Allah. Tersebab ujian-ujian yang telah berhasil dilalui dengan penuh kesabaran, maka Allah memberi Nabi Ibrahim ‘hadiah’ dengan terjawabnya doa-doa beliau. Poinnya adalah, setiap doa dan juga bacaan Al-Qur’an yang berangkat dari hati adalah cara bagaimana kita membentuk komunikasi 2 arah dengan Allah.

MENGAPA AL-QUR’AN ISTIMEWA?

Bayangkan kamu sedang berada dalam kondisi yang sangat bingung. Sebabnya bisa apa saja, misalnya sedang tersesat di sebuah perjalanan. Lalu, seorang teman datang kepadamu menunjukkan kemana jalan yang perlu kamu tempuh. Bagaimana perasaanmu? Begitulah perumpamaan Al-Qur’an, ia hadir sebagai nur atau cahaya yang menyelamatkan kita dari kegelapan.

Al-Qur’an boleh jadi ada dalam keseharian kita. Kita membacanya, mendengarnya, atau bahkan membawanya kemana-mana. Tapi, mengapa kita tidak terkoneksi dengannya?

Jawabannya adalah karena kita tidak mengenal dengan baik apa dan bagaimana Al-Qur’an itu sendiri. Mungkin kita hanya membaca tanpa memahami mengapa kita membutuhkannya untuk ada di dalam kehidupan kita. Padahal, ada 3 keutamaan Al-Qur’an. Apa sajakah itu?

Pertama, ia adalah nasehat (advice) bagi kita. Dengan semua kisah, sejarah, aturan, dan kandungan-kandungan Al-Qur’an, sebenarnya ia tidak hanya berbicara mengenai itu semua, tapi juga berbicara mengenai kita. Seperti yang dikatakan oleh Ustadz Nouman, “The Qur’an is talking about you!”

Kedua, ia adalah penyembuh bagi hati kita (Qur’an heals your heart). Apapun kondisi hati kita, entah itu sedang merasa takut, bergejolak, bahagia, dan lain-lain, Al-Qur’an adalah satu yang dapat menenangkannya. Hati kita, termasuk seluruh perasaan di dalamnya itu ada dalam genggaman Allah, Dialah yang berkuasa membolak-balikkanya. Kabar baiknya, ternyata Al-Qur’an hadir sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada hati kita.

Ketiga, Al-Qur’an adalah pemberi petunjuk (guidance) kepada kita. Dengan Al-Qur’an, kita dapat membedakan halal-haram dan juga benar-salah. Selain itu, ia juga berisi solusi-solusi di dalamnya, yang mungkin belum pernah kita alami atau pikirkan sebelumnya.

“You have to believe that Allah will advise you, heals you, and guide you through Al-Qur’an.” – Nouman Ali Khan

Apa yang Al-Qur’an suguhkan kepada kita adalah harapan, kebahagiaan, cinta, petunjuk, pembeda, dan juga kasih sayang. Maka, orang-orang yang hatinya terpaut dengan Al-Qur’an seharusnya bersikap positif dan bahagia. Sudahkah kita demikian?

KITA BUTUH AL-QUR’AN, LEBIH DARI KEBUTUHAN MAKAN DAN MINUM DI KESEHARIAN

Setiap hari kita butuh makan sebab kita tentu akan lapar jika tidak makan. Tapi, ternyata manusia bisa tahan untuk tidak makan selama satu hari. Setiap hari kita juga butuh minum sebab kita akan haus jika tidak minum. Tapi, ternyata manusia bisa tahan untuk tidak minum selama satu hari. Tahukah kamu ada yang lebih penting bagi kita dibandingkan keduanya? Ya, petunjuk dari Allah jauh lebih kita butuhkan daripada sekedar makan dan minum. Kita membutuhkan petunjuk, guidance, regular guidance.

Bicara soal petunjuk berarti bicara pula soal hati. Petunjuk akan sampai di hati. Karenanya, Al-Qur’an seharusnya tidak hanya terletak di mata, lisan, dan pikiran kita saja. Tapi, ia harus terletak di hati. Masalahnya, ada jarak yang jauhnya mungkin sangat signifikan antara Al-Qur’an dengan hati kita. Lalu, apa yang perlu kita lakukan?

Pertama, buatlah hati kita selalu terkoneksi dengan Al-Qur’an, sedikit demi sedikit. Mulailah dengan membacanya, mendengarkannya, memahami maknanya, dan sertakanlah hati kita ketika melakukannya. Sadarilah pula bahwa Al-Qur’an berisi bahasa-bahasa cinta Allah kepada kita.

Kedua, pelajarilah Al-Qur’an untuk mendidik diri kita sendiri sebelum mengajarkannya kepada orang lain. Bagikanlah kebaikan Al-Qur’an yang didapat kepada orang lain tanpa menggurui mereka. Dan yang terpenting, jangan gunakan kalimat-kalimat Allah dalam Al-Qur’an untuk menyakiti hati orang lain.

Sekian review kajian Reconnect with Qur’an. Terakhir, ada satu kalimat pengingat dari Ustadz Nouman Ali Khan yang semoga bisa membuat kita bersemangat untuk kembali membangun koneksi dan kedekatan dengan Al-Qur’an,

“Apakah arti mendasar dari kembali terkoneksi dengan Al-Qur’an? Ialah kembali terkoneksi dengan apa-apa yang Allah katakan di dalamnya. Sebab, Al-Qur’an jauh lebih baik daripada apapun yang dikumpulkan manusia: uang, benda-benda, atau followers sekalipun.” – Nouman Ali Khan

___

Terima kasih sudah menyimak. Saya menyadari kalau kemampuan listening saya masih perlu banyak dilatih. Oleh karena itu, review ini ditulis setelah berdiskusi offline di kereta dengan teman seperjalanan dan juga diskusi online dengan teman-teman di grup Qaf Indonesia. Meskipun demikian, mohon maaf ya kalau ternyata masih banyak kekurangan dan keterbatasan. Baarakallahu fiik 🙂

Belajar · challenge · Dear · Harta Karun · Hikmah · Meracacacau · reblog · Selftalk · they're said

Suami dan Kulkas

(((dear myself, please remember this)))

oleh Alifah Syamsiyah.

alkisah, ada seorang wanita yang akan menggugat cerai suaminya. tapi sebelum ke pengadilan, ia meminta nasihat terakhir kepada seorang ustadz, untuk lebih meyakinkan dirinya dengan keputusan besar yang akan ia buat. kepada sang ustadz wanita itu menceritakan semua keburukan suaminya: pekerjaan yang belum mapan, tidak bisa mengurus rumah tangga, tidak mahir mengurus anak, dsb.

di akhir cerita, ustadz itu berkomentar sederhana, “ibu, mohon maaf, tapi sepertinya ibu salah menggunakan barang.” wanita itu jelas tak mengerti, nih ustadz gimana sih, kan saya lagi cerita tentang suami, kok malah bahas barang, begitu batinnya.

seakan bisa membaca pikiran wanita tersebut, sang ustadz melanjutkan penjelasannya, “mungkin ibu bingung dengan perkataan saya. tapi coba sekarang ibu bayangkan. ibu baru saja membeli kulkas. kulkas merek terkenal dengan teknologi paling mutakhir. sayangnya, ibu malah mengutuki kulkas itu karena ia tidak bisa menyiarkan siaran berita, tidak bisa memutar video, atau mencuci piring yang kotor. kalau begini, yang salah si kulkas atau si ibu?”

wanita itu menyimak, masih belum menangkap maksud sang ustadz.

“jelas si kulkas tidak salah, karena ia diciptakan untuk menyimpan barang atau makanan agar tidak cepat busuk. kalau kulkas tidak bisa memutar video, seharusnya ibu tidak mengutuki kulkas karena itu bukanlah fungsinya.

begitu pula dengan suami ibu. tujuan utama dari pernikahan adalah mendapatkan ridho suami. jika pekerjaannya kini belum mapan, atau ia belum bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan sempurna, bersabarlah. setidaknya itu bukan fungsinya yang utama. setidaknya ibu tidak kehilangan fungsi utamanya: keridhoan suami. karena itulah kunci surga seorang wanita.

kalau saya boleh memberikan saran, coba ibu pikirkan baik-baik lagi keputusan ibu. saya punya tips sederhana yang bisa ibu lakukan sembari ibu memikirkan ulang keputusan besar ini. cobalah setiap malam, sebelum ibu dan suami tidur, tanyakan pada suami, “bang/a’/kang/mas, berapa persen keridhoannya sama aku hari ini?” kalau jawabannya belum 100%, coba ibu lakukan apapun yang bisa membuatnya ridho 100%. ibu bisa memijatnya, membuatkannya minuman hangat, dan hal-hal lain yang membuat keridhoannya utuh kembali. ibu tidak bisa menjamin kalau masih ada hari esok setelah ibu tidur malam itu, bukan? jangan sampai menutup hari tanpa membawa kunci surga dari keridhoan suami ibu.”

nasehat itu menggugah jiwa wanita itu. ia kembali ke rumahnya, tertarik untuk mencoba nasihat sang ustadz mulai malam nanti.

singkat cerita, beberapa hari setelahnya wanita itu kembali ke rumah sang ustadz dan menceritakan perubahan yang terjadi pada suaminya. setelah beberapa malam rutin menjalankan nasihat itu, perilaku suaminya perlahan berubah, ia menjadi semakin sayang pada dirinya, semakin giat bekerja, dan mengurus rumah tangga. ridho dan berkah Allah pun turun, meliputi keluarga mereka.

taat pada suami terkadang bukan perkara mudah, apalagi kalau keegoisan sedang menguasai jiwa.

tapi disanalah kunci surga berada. tak tanggung-tanggung, seorang istri yang taat diberikan keistimewaan untuk memasuki surga dari pintu mana saja yang ia suka!.

.

.

.
catatan: tulisan ini terinspirasi dari sebuah nasihat singkat yang disebarkan di whatsapp, sayangnya penulis tidak bisa mengecek sumber asli dari cerita ini.

Pict from Google.

Dear · reblog

Pengabulan Doa

oleh Nay [nailymakarima.tumblr.com]

A : Menurutmu, ada nggak do’a yang sia-sia?

B : Nggak lah. Orang udah jelas-jelas Allah berfirman “Berdo’alah, maka akan Aku kabulkan..”

A : Iya ding. Tapi sayangnya, orang-orang suka mengeluh kalau do’anya belum dikabulin.

B : Mereka kurang sabar itu mah.

A : Maksudnya?

B : Mereka tergesa-gesa do’anya pingin segera dikabulkan. Nggak sabar. Padahal pasti do’a itu dikabulkan kalau kita terus bersabar.

A : ….

B : Harusnya tuh ya, kita malu sama Nabi Ibrahim. Kamu tahu Nabi Ibrahim berdo’a apa?

A : Apa?

B : Ya Allah, nanti diantara keturunanku penduduk Makkah ini tolong jadikan diantara mereka seorang Rosul yang akan membacakan untuk mereka ayat-ayatku. Mengajarkan kitab dan hikmah. Mensucikan mereka.

A : ……

B : Bayangannya Nabi Ibrahim itu nggak jauh-jauh lho. Cucunya Ismail atau cicitnya gitu, akan ada Rasul yang akan ada disana. Tapi, kamu tahu berapa lama do’a itu dikabulkan oleh Allaah?

A : Nggak tau. Berapa lama emang?

B : Kalau ikut hitungannya Ibnu Abbas 4200 tahun kemudian. Karena jarak antara nabi Muhammad ke nabi Isa 600 tahun. Nabi Isa ke nabi Musa 1200 tahun. Nabi Musa ke nabi Ibrahim 2400 tahun. Jadi kalau ditotal menjadi 4200 tahun. See, ada jarak 4200 tahun dari do’a yang dikabulkan dengan pengabulannya. Jadi, tidak ada yang sia-sia kan dalam do’a itu.

A : MashaAllah.. :”””

B : Jadi Allaah itu kalau memberi lebih baik daripada yang kita minta. Orang yang tidak pernah kita minta saja diberi. Jadi, kalau kita minta pastinya lebih baik dari yang kita minta. Kamu pernah minta nafas?

A : Nggak pernah… :””

B : Nah, nggak pernah kan. Kecuali kalau sejak tadi asmamu kumat. Haha. Tapi, Allah terus memberi udara kepada kita untuk bernafas. Maka, pada sesuatu yang kita minta, pastinya Allah memberi lebih baik.

A : Haha. Oh iya ya..

B : Coba perhatiin. Nabi Ibrahim itu cuman mendo’akan Makkah lho. Indonesia nggak dido’ain. Apalagi Jakarta. Haha. Tapi nyatanya? Allah mengabulkan seorang Rosul bukan buat Makkah doang. Tapi buat seluruh alam semesta. Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam.

A : Hahaha. Iya ya. Emm, kamu malu sama Nabi Ibrahim?

B : Malu lah 😭

A : Iya sama 😭

B : Makanya, yuk jangan pernah putus asa buat berdo’a. Untuk kita, untuk keturunan-keturunan kita nanti.

A : Siyaaaaap. InshaAllah. Hehehe.

أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

“Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.”

-Sura Al-Baqarah, Ayah 186-

.

pict from Pinterest.

Dear · Hikmah · KisahSahabat · reblog · Selftalk

Sungguh, jika Allah mengambil satu; maka Allah sisakan yang lebih banyak

Tersenyumlah, ada hikmah di dalamnya. Jangan sampai kau berputus asa..

…akan aku sematkan pada awal tulisan kali ini.

Jangan, kumohon jangan. Jangan menggerutu pada takdir dan ketetapan yang ditentukan oleh Ar-Rahman. Jangan menyimpan banyak pertanyaan, jangan membiarkan singkatnya kalimat tanya ‘kenapa?’ membuat imanmu goyah dan runtuh sebab merasa Allah memberikan ujian yang terlalu berat. Terlalu besar, dan terlalu rumit untuk akhirnya ditawakkal-kan.

Seberapapun kita akan dibuat berkali-kali jatuh, akan selalu ada kekuatan untuk bangkit jika Allah menjadi tempat yang dituju. Sebagaimanapun kita akan dibuat berurai-urai air mata, akan selalu ada setitik cahaya, untuk akhirnya menyapu dan menyirnakan badai kesedihan di dalam jiwa. Jika masih Allah, yang menjadi tempat kita memuarakan segala rasa.

Saudaraku, apapun yang sedang menimpamu hari ini.. kuyakin, kau kuat. Lebih kuat dari sekuat yang kau kira. Meski aku tak mengetahui, bagaimana kau sedang dibuat berdarah-darah, aku yakin, in syaa Allah, selagi iman itu masih terpancar dari balik dadamu, kau mampu. Dan kau akan berhasil melewatinya. Ingatlah, tentang apa yang Allah katakan,

“Kamu benar-benar akan diuji pada hartamu dan dirimu” (QS. Ali ‘Imran 186)

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ‘Inna lillahi wa inna illaaihi ra’jiun” (QS. Al baqarah 155-156)

Demikianlah..

“Seorang Mukmin pasti akan diuji pada harta, jiwa, anak dan keluarganya.”

Saudaraku, pernahkah kita mendengar kisah Urwah bin Az-Zubair dengan ujian yang Allah berikan kepadanya? Dan sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda,

“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dengan besarnya ujian. Sesungguhnya, apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Siapa yang ridha dengan ujian itu, maka ia akan mendapat keridhaan-Nya. Siapa yang membencinya maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya”

Tersebutlah, pada suatu hari seorang Khalifah dari bani Umayyah, Al-Walid bin Abdul Malik, mengundang Urwah bin Az-Zubair untuk mengunjungi istananya di Damaskus. Adalah sebagai wujud sapaan cinta, untaian hormat dari sang Khalifah. Urwah memenuhi undangan tersebut dengan menggandeng anak sulungnya.

Disaat Urwah berbincang-bincang pada majelis sang Khalifah, anak sulungnya diantarkan oleh pengawal untuk mengunjungi tempat dibagian istana mana pun yang dia suka. Hati anak sulungnya terpikat untuk melihat kuda-kuda khalifah. Dan,

‘Bughh!’

Seorang pengawal lari tergopoh-gopoh menghadap Khalifah juga Urwah,

“Wahai Khalifah, sesungguhnya telah terjadi begini dan begini,” Pengawal tersebut menceritakan detailnya, “dan sekarang, sang anak telah berpulang menghadap Allah Subhaanahu wa Ta’ala.”

Siapa yang mampu menduga? Ternyata dalam suka ria nya sang anak, salah seekor kuda menendangnya hingga terpelanting jatuh ketanah dan terinjak-injak oleh kuda yang sedang berlari di atasnya, dan saat itu juga, ia meninggal dunia. Dialah sang anak sulung Urwah bin Az-Zubair. Seorang anak kesayangan yang Urwah harapkan mampu menjadi penerus ilmunya. Maka mampukah kita membayangkan bagaimana reaksinya kala itu?

‘Urwah tersenyum dan ia berkata “Innalillahi wa inna illaaihi ra’jiun”

Maka saat itu juga Urwah sendiri yang turun keliang lahat untuk menguburkan anaknya. Setelah usai pemakaman, dalam dzikir dan ayat-ayat Al-Qur’an yang sedang ia jadikan permohonan agar Allah berikan kesabaran, tiba-tiba betisnya terasa begitu sakit yang luar biasa. Kakinya terserang penyakit langka yang memaksanya untuk harus diamputasi.

Berkatalah salah seorang ahli pengobatan kepercayaan Khalifah, “Ini harus diamputasi. Dan Wahai Imam, kami akan memberikanmu seteguk minuman yang memabukkan, agar sakit yang ditimbulkan takkan terasa olehmu.”

“Tidak” Jawab ‘Urwah, “Sungguh, aku tidak akan menggunakan sesuatu yang haram demi mendapatkan kesehatanku kembali. Dan aku tidak ingin salah satu bagian dari tubuhku hilang tanpa aku merasakan sakitnya. Ku serahkan semuanya kepada Allah.”

Maka setelah berapa tabib itu berunding, mereka memutuskan agar Khalifah memberikan beberapa orang untuk memegangi ‘Urwah ketika melakukan proses pemotongan kakinya yang manual.

Maa syaa Allah! Pemotongan kaki yang manual. Sekali lagi, manual.

Dengan cepat ‘Urwah berkata, “Aku tidak membutuhkannya, biarlah aku memalingkannya dengan dzikir dan tasbih ketika kalian memotongnya.”

Tak terbayang, bagaimana pedih dan perihnya daging yang dikupas tanpa bius sedikitpun. Tulang yang digergaji, dan darah yang terus mengucur darinya. Tak heran, beberapa kali ‘Urwah meringis kesakitan, “Hassi… Hassi..” katanya. Ia bermakna, suatu rasa sakit yang luar biasa terasa

Sesudah proses amputasi selesai, darah tak kunjung berhenti. Maka cara satu-satunya adalah dengan mencelupkannya pada minyak panas. ‘Urwah menyetujui. Saat kakinya dicelupkan kedalam minyak panas yang mendidih, ia menjerit, lalu pingsan, dan dikatakan bahwa ‘Urwah pingsan dalam waktu yang lama. Satu hari.

Hati ini rasanya mengerdil, sungguh.

Bagaimana, bagaimana jika kiranya ujian yang ‘Urwah hadapi menimpa seseorang diantara kita? Baru saja sesaat dia kehilangan anaknya, dia harus pula kehilangan kakinya dengan proses yang luarbiasa menyakitkannya. Disini, bukankah kita melihat, bagaimana kokoh jiwa haba yang beriman kepada-Nya? dan benarlah, bahwa Allah menguji hamba-hambaNya sesuai dengan kadar keimanannya. Cukuplah, ini sebagai bukti, betapa pancaran iman itu telah memenuhi seluruh penjuru ruang hati ‘Urwah bin Az-Zubair.

Sang Khalifah merasa kasihan dan ingin menghibur ‘Urwah. Namun ia bingung, ia tidak memiliki cara untuk menghiburnya. Namun cara Allah lebih menakjubkan, datanglah seorang lelaki buta kepada Khalifah, dan dia bercerita

“Wahai Amirul Mukminin!”, seru laki-laki buta tersebut, “dulu tidak ada seorang pun dari bani Abas yang lebih kaya dariku, lebih banyak anak-anak selain diriku. Aku tinggal disuatu lembah, dan banjir besar menerjang kaumku. Tak ada lagi hartaku, tak tersisa lagi anak-anakku kecuali hanya seorang bayi dan seekor unta.”

“Namun unta tersebut hendak melarikan diri, aku mengejarnya dan meninggalkan anakku. Maka kudengar teriakan bayi, ternyata anakku sudah berada di mulut serigala. Aku kembali hendak mengejarnya, namun sia-sia, serigala tersebut telah memakannya. Aku berbalik lagi, kukejar unta yang kabur, dan saat sudah dekat dengannya, salah satu kakinya menyepak wajahku. Hingga hancurlah keningku dan buta mataku.”

Sang Khalifah mendapatkan apa yang dia cari, Maha Baik Allah mengirim laki-laki untuk ‘Urwah. Sebab, ujiannya jauh lebih berat dari ‘Urwah. Diutuslah laki-laki tersebut kepada ‘Urwah untuk menceritakannya. Seusai ia bercerita, ‘Urwah berkata,

“Innalillahi wa inna illaaihi ra’jiun…”

Dalam do’anya, ‘Urwah berkata,

“Ya Allah, dulu aku memiliki empat anggota badan, dua tangan dan dua kaki. Lalu Engkau mengambil satu darinya dan Engkau menyisakan tiga darinya, maka segala puji bagi-Mu. Dulu aku memiliki empat orang putra, lalu Engkau mengambil salah satu darinya dan Engkau menyisakan tiga darinya, maka segala puji bagi-Mu.” isak ‘Urwah, “Demi Allah, seandainya Engkau mengambil, pasti Engkau menyisakan, dan seandainya Engkau memberi ujian pasti Engkau memberi kesembuhan.”

~

Inilah, ‘Urwah bin Az-Zubair. Inilah, kisah-kisah seorang hamba yang Allah berikan ujian hebat luarbiasa. Belum lagi, jika kita melihat ujian para Nabi.

Maka…. segala puji, hanya bagi Allah..

Inilah salah satu dari sekian rintik hujan yang Allah berikan, yang menyimpan berkah, menyimpan maksud dan tujuan.

Rasulullah ﷺ bersabda,

“Ujian itu akan selalu menimpa seorang hamba sampai Allah membiarkannya berjalan di atas bumi dengan tidak memiliki dosa.”

Dan cukuplah, segala ujian yang Allah berikan kepada kita menjadi sebaik-baiknya cara Allah membersihkan dosa-dosa kita. Sebab sungguh, apalah arti sakit di dunia jika dibandingkan dengan sakit di akhirat.. apalah arti tangis di dunia, jika dibandingkan dengan tangis karena siksa dan penyesalan di akhirat..

Mari, bukan lagi memfokuskan kepada apa yang telah hilang dan pergi. Melainkan, kepada apa yang masih Allah sisakan dari segala yang sudah tidak dimiliki. Betapa, betaaapa Allah Maha Baik. Dari sekian sakit yang mungkin bisa dihitung dengan hitungan jari, mampukah kita menghitung nikmat sehat yang sudah Allah beri? Mampukah kita mengkalkulasi, berapa banyak biaya oksigen yang Allah beri dari kita terlahir di muka bumi ini? Yakinkah.. kita merasa aman, jika tiba-tiba jantung ini bermasalah?

Maka bacalah, apa yang sudah tertulis pada judul tulisan kali ini.. :’)

–Ibn Sabil [quraners.tumblr.com]

—–

maasyaaLlaah :“)),

saya pertama kali membaca kisah ‘Urwah bin Zubair di buku Ibunda Para Ulama-nya Sufyan bin Fuad Baswedan :))

terberkahilah ‘Urwah yang dilahirkan dalam salahsatu keluarga yg istimewa 🙂

Ayahnya, Zubair bin Awwam adalah salahsatu dari sahabat yang dijamin Rasulullah sebagai penghuni Jannah-Nya 🙂

Ibunya adalah si Wanita pemilik dua ikatan, Asma binti Abu Bakar 🙂

Bibinya adalah ummul mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha 🙂

Kakeknya adalah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam :”))

apa yang ingin saya sampaikan? 🙂

bukan, bukan tentang keluarga shalih sudah pasti tentu melahirkan keturunan yang shalih. Belum pasti tentunya, karena sekelas nabi Adam, Nuh ‘alaihissalam saja, salahsatu anaknya memilih menjadi seorang yang ingkar :“(. Juga berlaku sebaliknya, dari seorang ayah yang pembuat dan penyembah berhala-lah Nabi Ibrahim dibesarkan, juga salahsatu sahabat mulia Abdullah bin Abdullah bin Ubay yang mengalir dalam dirinya darah dari Abdullah bin Ubay bin Salul, sang dedengkot kaum Munafik di Madinah saat itu.

iyah 🙂

ini semua tentang pilihan :), pilihan apa yang akan menemani kita dalam menjalani setiap kehendak yang ditetapkan-Nya untuk kita :”),

pilih untuk fokus yang ada, atau yang hilang? 🙂

Dear · Harta Karun · Hikmah · KisahParaNabi · reblog

Keluarga Imran

326
image from google

oleh Alifah Syamsiyah

Imran adalah satu diantara empat laki-laki role model yang disebut dalam Al-Qur’an: Adam, Nuh, keluarga Imran, dan keluarga Ibrahim.

Hmm sebentar, mengapa untuk Imran dan Ibrahim ditambahkan kata “keluarga”, tapi tidak bagi Adam dan Nuh? Itu karena di keluarga inti Adam dan Nuh, terdapat anggota keluarga yang tidak beriman kepada Allah.

Uniknya, Imran ini bukanlah nabi atau rasul, tapi Allah pilih namanya untuk diabadikan dalam Al-Quran. Ini membuktikan bahwa seharusnya tidak ada excuse bagi diri kita sehingga berkata, “Ah wajar saja dia kan nabi jadi bisa bla bla bla..” Memang nabi dan rasul adalah manusia pilihan Allah yang diberikan keistimewaan tertentu, tapi bukan berarti itu membuat kita inferior dalam berbuat kebaikan. Buktinya Allah telah memberikan satu contoh orang shalih yang bukan nabi dan juga rasul tapi masuk dalam manusia pilihanNya. Dialah Imran.

Bicara tentang keluarga Imran, tentu tak terlepas dari Maryam, putrinya. Saat mengandung, ibundanya Maryam yang tak lain adalah istri Imran ini pernah bernadzar bahwa anaknya akan ia didik untuk menjadi seorang yang mengabdikan dirinya kepada masjid. Ini menunjukkan betapa seorang ibu sudah mempersiapkan pendidikan bagi anaknya sedini mungkin. Ohya, kenapa ya nama istri Imran ini tidak pernah disebut? Ternyata hal ini menggambarkan bahwa kehebatan istri Imran dalam membesarkan anaknya tidak terlepas dari peran Imran dalam mendidik istrinya tersebut. Itulah kenapa disebut “istri Imran”, yang tidak lain untuk menunjukkan peran Imran dalam setiap kebaikan yang dilakukan istrinya.

Dalam keluarga ini juga dikenal nama Zakaria. Dialah paman Maryam yang juga terkait dengan proses pendidikan bagi Isa, putra Maryam. Zakaria banyak terlibat dalam proses pengurusan Isa. Pertanyaannya, mengapa bukan Imran? Beberapa ulama menyebutkan bahwa Imran sudah meninggal kala itu. Lagi-lagi ini menyiratkan hikmah bahwa peran keluarga besar itu juga berpengaruh pada proses tumbuh kembang seorang anak.

Semoga kita bisa belajar dan meneladani keluarga hebat ini, aamiin :”)

Belajar · Harta Karun · reblog · sejarah · they're said

Darimana Kita Memulai Untuk Mentadabburi Sejarah Islam?

oleh Edgar Hamas

Beberapa waktu lalu, saya membuat Instagram Story tentang “3 Hal yang Menjadikan Sejarah Islam Inspirasi Hidupmu”, dan banyak teman-teman yang kemudian menanyakan, bukan bermaksud apa-apa, namun mereka merasa nyaman dengan sajian tadabbur sejarah yang sering kami tulis. Alhamdulillah.

Saya ingin sampaikan kepada teman-teman, mentadabburi sejarah itu seperti nonton film atau membaca novel. Bedanya, yang ini kenyataan, dan lebih menginspirasi. Permasalahannya adalah, masih sedikit sejarawan muslim yang menyajikan konten-konten sejarah dengan bahasa yang mudah dimengerti.

Pun, banyak sekali sejarawan ini yang berfokus tentang hal yang bertele-tele, seperti tanggal dan tahun yang begitu banyak, tokoh yang begitu rumit dikenali, dan pemilihan bahasan yang terlalu berat, seperti konflik kerajaan, politik, silsilah, dan banyak lagi; walaupun sebenarnya itu penting, namun takutnya, kita malah kehilangan hikmahnya.

Maka dari itu, izinkan dalam tulisan ini, saya ingin mengusulkan poin-poin, yang saya menikmatinya, tentang bagaimana dan darimana kita akan asyik mentadabburi sejarah.

Pertama, Mulailah dari Rasulullah ﷺ

Perjalanan hidup Rasulullah ﷺ itu, cool banget. Sangat menginspirasi. Hanya dalam waktu 22 tahun, seorang lelaki di kota tengah padang pasir Arabia, menjadi tokoh yang dikagumi oleh bangsa-bangsa di penjuru bumi.

Bacalah karakter Rasulullah ﷺ, kehebatannya, sifat-sifat beliau ﷺ yang diabadikan dalam Al Qur’an dan hadits. Penting: bacalah dengan sudut pandang kamu ingin mengenal seseorang yang kamu sangat menggemarinya. Buku-buku karya Ust Salim A Fillah akan menemanimu mengenal Rasulullah ﷺ dengan lebih bersahabat.

Kedua, kenali 10 Shahabat yang Dijamin Masuk Surga

Generasi Shahabat itu ada 100 ribu. Semuanya hebat-hebat, semuanya keren-keren, semuanya menggugah. Namun, ringkasannya bisa kamu dapatkan pada 10 sahabat yang dijamin masuk Surga. Mereka bukan nabi, bukan juga rasul, namun karakter dan perjalanan hidupnya akan mengilhami siapapun yang membacanya.

Seorang bisnisman akan nge-fans dengan Utsman bin Affan atau Abdurrahman bin Auf. Seorang aktivis pasti suka dengan gaya Umar yang jenius dan Abu Bakar yang prestatif. Seorang ilmuwan pasti akan jatuh cinta pada kehebatan Ali menganalisa dan menghasilkan fatwa. Dan masih banyak lagi.

Saya jatuh cinta pada 10 Shahabat ini ketika buku “10 Sahabat yang Dijamin Masuk Surga” yang ditulis oleh Muhammad Ahmad Isa. Tidak tebal, tapi bagus sekali penyampaiannya.

Ketiga, generasi sahabat pada umumnya.

Selain 10 sahabat yang dijamin masuk surga, masih sangat banyak sahabat-sahabat Rasulullah yang membuat saya pribadi tergugah untuk selalu menjadi pribadi yang hebat. Salman Al Farisi misalnya, sang pencari kebenaran. Bilal misalnya, seorang yang kokoh dalam keyakinan. Khalid bin Walid, The Warrior. Amr bin Ash, sang diplomat ulung.

Untuk membacanya, selalu, buku yang saya usulkan ke teman-teman adalah Biografi 60 Shahabat Rasulullah ﷺ karya Khalid Muhammad Khalid.

Keempat, tentang Pahlawan-pahlawan Islam sepeninggal Rasulullah.

Ini dia, yang masih harus banyak digarap oleh para sejarawan muslim. Generasi emas umat Islam tidak hanya menjadi gelar sahabat saja. Nyatanya, para pahlawan yang hidup di zaman keemasan Islam adalah tokoh-tokoh yang sangat enerjik dan mengagumkan. Seperti Imam Syafi’i, Nizamul Mulk, Shalahuddin Al Ayyubi, Muhammad Al Fatih, dan banyak lagi.

Ada banyak buku-buku yang membahas tentang pahlawan Islam ini, saya tidak bisa memilihkan salah satunya, sebab saya masih jatuh cinta pada buku “Miah Udzama Ummatil Islam Ghayyaru Majra At Tarikh” (100 Tokoh Umat Islam yang Mengubah Sejarah) karya Jihad Turbani.

Entah, sampai sekarang belum ada yang menerjemahkan, atau apa saya yang tidak tahu. Sebenarnya ada penerbit yang sudah menerjemahkan, namun belakangan diketahui belum minta izin ke Jihad Turbani. Ah, sayang sekali.

Teman-teman tapi masih bisa melihat terjemahan video-video Jihad Turbani dalam channel YouTube beliau, (جهاد الترباني) insyallah ada yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia walaupun belum semuanya.

Kelima, tentang Peradaban Islam

Teman-teman, kamu mungkin belum sepenuhnya percaya, dulu itu orang-orang Eropa disebut gaul kalo mereka pake bahasa Arab. Dulu itu, mata uang Islam jadi mata uang internasional, kapal-kapal kita ada di pelabuhan Italia, Inggris dan Perancis. Amerika Serikat pernah membayar pajak pada negeri Islam 70 tahun lamanya.

Darimana kita mengetahui itu? Dari bacaan-bacaan kita tentang peradaban Islam. Sejauh ini, pembahasan ini sangatlah sedikit dan masih perlu dikembangkan. Saya bertekad bisa mewujudkannya. Doakan yaa.

Namun, sebagai pembuka, teman-teman bisa membaca buku “Lost Islamic History” karya Firas Al Khateeb yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Banyak juha channel-channel YouTube yang membahas tentang peradaban Islam yang hebat ini. Search saja dengan keyword yang tepat.

Masih sangat banyak, fakta-fakta hebat Sejarah Islam yang jika kita mentadabburinya, akan membuat kita benar-benar bangga menjadi muslim, membuat kita bangun dari amnesia 500 tahun ini, dan kembali merebut takdir kemenangan kita.

Belajar · challenge · Dear · Harta Karun · reblog

MENJADIKAN DINDING RUMAH SEBAGAI SARANA EDUKASI DAN KREATIFITAS

Oleh : D Nita Purnama Sari

IMG-20170826-WA0000

Ketika si kecil sudah dapat memegang pensil atau crayon, meskipun kita sudah memberikan kertas atau buku gambar sekalipun, tapi si kecil ini lebih suka menggambar di dinding rumah. Betul tidak ?

Ya, anak-anak umumnya memang senang sekali menggambar. Nah, salah satu bidang atau media yang sering kali dijadikan sasaran crayon,pensil warna, ataupun alat tulis gambar lainnya adalah dinding.

Waaahhhh…. Dinding jadi sasaran empuk bangetlah buat anak.

Nah mulai dari situ kenapa tidak kita manfaatkan dinding rumah untuk sarana belajar anak ?

Jadi selain anak hanya mencoret-coret dinding, kita bisa memanfaatkan dinding itu untuk menstimulasi menambah kosa kata anak, membantu anak mengenal huruf abjad ataupun hijaiyah, berhitung dsb melalui dinding tersebut.

Dan sekaligus upaya saya untuk mengembangkan kreatifitas anak. Dengan membiarkan anak bereksplorasi yaitu menggunakan seluruh sarana yang ada di lingkungan kseharian anak sebagai media, termasuk dinding rumah.

Juga memberikan lingkungan yang PerMaTa InSAN untuk anak.

Per_Perhatian
Ma_Mandiri
Ta_cinTa
In_BermaIn
S_Santai
A_Aman
N_Nyaman

Karena memang anak-anak umur 2-4 tahun lebih suka membuat karya “masterpiece” di dinding.

Kenapa demikian ?

  • Karena jarak antara dinding dan memori anak sungguh dekat

Menurut psikologi dari Aminfainstitute Lembaga riset dan Konsultan Edukasi Berbasis Brain Based and Holictic Learning (Pendidikan Ramah Otak).

“Rasa terlibat dalam dunia di dalam gambar itu tidak akan di dapat ketika anak menggambar di bidang kertas”.

  • Dinding merupakan tempat yang strategis bagi anak.

Karena bila kita berjalan pasti sepanjang jalan melewati dinding dalam rumah.

Jadi upaya apa yang harus kita lakukan ?

1]. Kita bisa membuat space coret-coret anak

Beri anak sisi dinding khusus space coret-coret dan belajarnya, misal : di pojok rumah, atau di tempat yang sering anak membuat coretan gambar.

Lalu cat sisi dinding dengan warna hitam seperti layaknya papan tulis lalu beri anak kapur tulis untuk coret-coret karya gambarnya.

Atau kita bisa tempelkan papan tulis atau whiteboard yang kita bisa beli di toko buku, atau bisa juga membuat rol kertas besar untuk anak menggambar, kalaupun tidak ada kita bisa menempelkan beberapa kertas HVS di dinding.

a18b0d80f17d03d8e737e13203214344--playroom-colors-playroom-ideas

f8b0a36519b8fe5fd10144b3aca4eb31--magnetic-chalkboard-walls-kids-chalkboard

FB_IMG_1501831133204

Lalu buat peraturan boleh dan tidak boleh. “ Nak… boleh coret-coret di dinding asalkan disini…sini…dan disini….(menunjuk media yang kita buat), tapi tidak boleh di dinding disini…sini…dan disini (yang tidak ada media yang kita buat).”

2]. Membuat Gallery Karya anak

Kita bisa membuat gallery karya anak kita di sebelah papan tulis yang kita buat, untuk menempelkan karya lain yang anak buat.

Jadi, untuk anak bukan hanya pajangan hasil karya namun disana juga terkandung sebuah nilai penerimaan dan penghargaan yang tinggi atas hasil kerja/karya anak.

every child is an artist
source

3]. Membuat Mind Mapping

Apa itu Mind Mapping ?

Mind Mapping atau Peta Pikiran adalah metode mempelajari konsep yang ditemukan oleh Tony Buzan. Konsep ini didasarkan pada cara kerja otak kita menyimpan informasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otak kita tidak menyimpan informasi dalam kotak-kotak sel saraf yang terjejer rapi melainkan dikumpulkan pada sel-sel saraf yang berbercabang-cabang yang apabila dilihat sekilas akan tampak seperti cabang-cabang pohon. Maka, Mind Mapping merupakan sebuah metode untuk mengelola informasi secara menyeluruh berupa catatan yang lebih terstruktur.

Cara membuat mind mipping :

Pertama, Buatlah gambar atau tulisan yang melambangkan topic (main topic) atau topic utama di tengah kertas. Kedua, buat garis leku-lekuk yang menyambung dari gambar tngah yang tadi kita buat/main topic. Ketiga, beri nama pada setiap ide di atas atau bisa juga membuat gambar-gambar kecil mengenai masing-masing ide tersbut. Keempat,Dari stiap ide yang ada tarik garis penghubung lainnya, yang menyebar seperti cabang-cabang pohon. (sumber : penjelasan tentang Mind Mipping, Buku Bunda Cekatan,Ibu Septi Peni Wulandani, Institut Ibu Profesional)

Contoh Mind Mipping :

IMG_20170827_0001

4]. Membuat Flash Card

seperti Abjad,Hijaiyah,Angka, gantungan Rukun Islam, Tempelan Rukun Iman , nama-nama nabi ,papan pengingat waktu shalat, pengingat acara,papan bintang prestasi, busy board,rukun wudhu, madding keluarga atau hasil karya lainnya yang di tempelkan di dekat papan tulis yang kita buat untuk menstimulasi belajar anak.

14bd25ed70920e16f85c2aa72fdca87d--montessori-baby-toddler-busy-board-diy
contoh busy board
18671291_10207286727886519_3689482413407836575_n
papan pengingat waktu shalat
18740177_10207283994258180_6916218839744919897_n
Papan Bintang Kebaikan

IMG_20160518_193411

IMG_20160518_193238
Menghias Dinding menyambut Ramadhan

 

Lalu apa manfaatnya ?

  1. Anak merasa nyaman.
  2. Anak merasa senang karena keinginan dan rasa ingin tahunya (eksplore) tersalurkan dan terpenuhi.
  3. Memberikan kebebasan berekspresi.
  4. Mengmbangkan kemampuan visualnya.
  5. Memberikan rasa penghargaan kepada anak.
  6. Menumbuhkan rasa percaya diri anak.
  7. Membantu mengingat atau menghafal belajarnya.

 

PRINSIP !!!

1. Tidak ada anak yang nakal,yang ada adalah anak kratif.

2. Allah SWT tidak pernah membuat produk gagal, semua anak unik.

3. Kreatifitas itu bukan produk instan,harus dilatih terus menerus sejak dini.

 

“Beberapa hal yang perlu di perhatikan para orang tua (khususnya saya pribadi^^) adalah Berikan anak ruang kebebasan untuk bermain dan bereksplorasi biarkan anak memilih sendiri media bermainnya walaupun itu di dinding. Biarkan anak merasa tenang, nyaman dan menikmati proses kreativitasnya. Tugas kita sebagai orang tua hanya sebagai fasilitator yaitu mendukung dan memfasilitasi anak”

(Buku Bunda Sayang, Seri ibu Profesional#1, Memacu Kreatifitas Anak Sejak Dini)

Terimakasih

Wassalamu’alaikum wr.wb