Belajar · challenge · Dear · Meracacacau · Selftalk · Uneguneg

Andaikata (1)

Bismillaah..

“being a mom is a big deal, preparation is a must. Karena nasib peradaban ini dipercayakan pada tangan para ibu” –SuperbMom Wannabe-

Ada yang super duper menarik-narik fikir di pekan kemarin. Jika pada pekan sebelum pekan kemarin bisa dengan mudah mengerjakan Nice Homework ke-1 yang diberikan oleh Fasilitator, Alhamdulillah, biidznillah. Maka di pekan kemarin, sejenak setelah membaca Nice Homework ke-2 yang di posting bunda Fasilitator di laman google classroom, hanya bisa terdiam beberapa lama, wkwk.

NICE HOME WORK #2

Bunda, setelah memahami tahap awal menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga. Pekan ini kita akan belajar membuat “CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN”

  1. Sebagai individu
  2. Sebagai istri
  3. Sebagai ibu

Buatlah indikator yg kita sendiri bisa menjalankannya. Buat anda yang sudah berkeluarga, tanyakan kepada suami, indikator istri semacam apa sebenarnya yang bisa membuat dirinya bahagia, tanyakan kepada anak-anak, indikator ibu semacam apa sebenarnya yang bisa membuat mereka bahagia. Jadikanlah jawaban-jawaban mereka sebagai referensi pembuatan checklist kita.

Buat anda yang masih sendiri, maka buatlah indikator diri dan pakailah permainan “andaikata aku menjadi istri” apa yang harus aku lakukan, andaikata kelak aku menjad Ibu , apa yang harus aku lakukan.

Kita belajar membuat “Indikator” untuk diri sendiri.

Andaikata saya menjadi Istri dan menjadi Ibu, apa yang akan saya lakukan untuk bisa memperoleh gelar “kebanggaan keluarga”, gelar yang dinilai dan diuji langsung oleh anggota keluarga, yaitu Pak Suami dan anak-anak. Nah loh?!

Andaikata aku menjadi seorang istri

Beberapa tahun yang lalu, saat kehendak Nya membawa saya mendiami kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta untuk waktu yang bila perempuan mengandung, maka saya mulai menetap saat usia kandungannya masih 1 hari (?) wkwk dan akhirnya meninggalkan kamar kost saya saat si bayi dilahirkan sesuai due date-nya dan sudah berusia 20 hari. Ribet yak :P. Ingin bilang 10 bulan doang padahal wkwk. Saya pernah menyampaikan ini ke-mba murobbiyah saya saat di solo.

“mbaa, masa aku pengen nikah sekarang, cuma gegara biar ada yang bisa nganterin liqo sama pergi ke tatsqif”, kalimat ini keluar bukan tanpa sebab. Saat kemudian memutuskan untuk mengambil lowongan belajar kerja di salah satu instansi pemerintah yang letaknya ada di pucuk Gunung Kidul, saat itu pula saya mulai hijrah, mutasi liqo, keluar dari zona nyaman di kampus super ‘hijau’ ke dunia realita. Lha emang di kampus dunia fantasi? :P.

and the challenge begins,

Di sini, di gunung kidul, didaerah gading tepatnya, amat sangat susah menjumpai kendaraan umum level angkot. Jalan besarnya memang dilewati bus kecil dan tanggung antar kota, tapi nunggu bus nya pun bisa lama dan unpredictable waktunya dan maksimal hanya sampai pukul 17.00 bus jurusan Wonosari turun ke Yogyakarta. Maka bagi saya yang tidak membawa kendaraan apapun kesini, ini menjadi kendala terbesar bagi saya. Dan makin tambah ‘sesuatu’ karena jeng jeng jeng, liqo-an tempat saya dimutasi, yang sebagian besar berisikan ibu-ibu berdomisili asli di gunung kidul, menggunakan sistem liqo keliling. Jadilah tiap pekan, tempat liqonya bergilir ke rumah-rumah yang artinya keliling kabupaten gunung kidul. Makin tambah dramatis karena pertemuan pekanannya dilaksanakan setiap selasa sore, yes on the weekdays!. Senin malam biasanya maksimal japrian rumah siapa yang akan dikunjungi sampai di hp. Sekalipun disebutkan nama daerah sama ancer-ancer nya sama saja bagi saya, yang aktifits sehari-harinya hanya jalur kost ke kantor dan turun gunung tiap weekend menginap di kost-an waktu di solo, atau ke rumah mbah di klaten.

Alhamdulillah, ‘alaa kulli haal, dengan berbagai cara-Nya, setiap pekannya hampir selalu bisa sampai dan pulang kembali ke kost dengan sehat wal’afiat tanpa kurang satu apapun. Kalau di ingat-ingat sekarang benar-benar Maha Kuasa Allaah yang menakdirkan pun juga memudahkan hamba-Nya untuk menjalani kehendak-Nya. Mulai dari ke tempat liqo dianterin pakai motor sama anak SMP dan digiring sama anak-anak TK dan SD yang bersepeda, mereka ade-ade yang ikut TPA di mushalla belakang kantor :D, atau juga pernah berangkat diboncengin pakai moter gede sama ummahat usia 50 tahunan, wkwk “maaf yaa mba, motor saya lagi dipakai anak, ini dapat pinjaman motor tetangga, adanya motor ini ” kata si ummi saat saya takjub melihat si ummi dengan style rok-nya tapi naik motor gede :”). Saat pulang ba’da maghrib, jalan yang dilalui sudah cukup sepi dan gelap, bahkan di jalan besar pun bisa terlihat jelas beberapa Photuris lucicrescens yang hilir mudik entah kemana. Pernah juga saat akan menghadiri kajian tatsqif di salahsatu SDIT yang ada di pusat kota kabupatennya, berangkatnya saya nyasar, saya kebablasan ikut bus yang saya tumpangi sampai di terminal pemberhentian terakhirnya. Itu karena saya benar-benar belum tahu harus turun dimana -__-, saat pulang pun ternyata saya salah tempat berdiri menunggu angkot, yang setelah sekian jam saya menunggu, tidak ada satupun angkot yang lewat di depan saya. Ini, salah satu alasan terbesar saya sangat ingin menikah saat itu -___-.

Hingga, tibalah suatu hari, saya tersadar dan malah tersenyum-senyum mengingat alasan saya saat itu :”).

Bismillaah,
Suatu saat nanti, ketika Allah mengizinkan saya menyandang amanah sebagai seorang istri sebelum Allaah memanggil saya terlebih dahulu. Saya ingin belajar dan berusaha untuk menjadi istri yang berdaya, yang kebaikan-kebaikan apapun itu selagi bisa saya upayakan sendiri, akan saya usahakan tanpa menunggu atau bergantung dengan keberadaan Pak Suami. Misal, berangkat liqo, berangkat ke tatsqif, menjenguk orang sakit, dan lain-lain yang semisal dengan ini. Tentu, dengan meminta izin sebelumnya ke beliau, juga meminta untuk diantarkan, lha? Wkwk. Memintanya cukup sekali, jika beliau nya mengatakan kemungkinan tidak bisa mengantarkan kerena suatu udzhur lain yang lebih penting, maka insyaaLlaah saya tak akan memintanya untuk yang kedua kalinya. Juga tidak menjadikan bisa atau tidaknya beliau mengantarkan sebagai suatu patokan, jadi tidak nya saya mengahdiri suatu majelis kebaikan. Ridha dan izin dari beliau sudah cukup, insyaaLlah :”).

Beberapa tahun yang lalu, salah satu abang terbaik di kampus meninggal dunia, meninggalkan istri yang baru dinikahinya setahun sebelumnya dan bayi perempuan yang masih merah pipinya. Sebulan yang lalu, tiba-tiba saya mendapat pesan dari salah satu ukhti sholiha, berbincang-bincang sejenak menanyakan kabar sebelum akhirnya beliau menyampaikan maksud beliau untuk meminjam sejumlah dana. Awalnya saya tidak berkeinginan untuk menanyakan, tapi akhirnya betanya juga mengenai untuk apakah dana itu akan dipakai?. Dan Maha Baik Allaah yang menyisipkan setiap hikmah dan pembelajaran melalui setiap takdir kehendak-Nya. Ukhti sholiha ini menyampaikan bahwa uangnya akan digunakan untuk menebus HP nya yang sedang dijadikan jaminan. Suaminya beberapa waktu yang lalu baru diberikan ujian melalui sakit yang cukup lama, sehingga beliau resign dari tempat kerjanya. Saat ini baru sembuh dan sedang berusaha untuk kembali mencari pekerjaan. Sedangkan si ukhti sholiha ini sebelumnya juga memiliki usaha sampingan olshop, dan usahanya harus berhenti sejenak sebulan yang lalu karena ketiadaan hp.

Menyaksikan kisah kisah diatas, kemudian membuat saya merenungi salah satu dari 10 muwasshofat, Qadirun ‘alal kasbi. Kemampuan untuk mandiri berpenghasilan melalui cara yang benar. Saya ingin belajar dan berusaha untuk menjadi istri yang berdaya secara finansial, yang ini masih sangat jadi PR bagi saya. Bukan di masalah istri bekerja di luar atau istri full dirumah. Yang saya pikirkan bagaimana saya berusaha untuk mengasah suatu keterampilan yang itu bernilai, bermanfaat dan bisa digunakan untuk menghasilkan uang :P. Memasak misal, atau bikin kue, atau bikin kerajinan tangan. Yang keterampilan misal ini semua belum saya punya sekarang -__-. Semua keterampilan yang tetap tidak menanggalkan kodrat kita sebagai seorang wanita dan muslimah dan seorang istri juga seorang ibu kelak.

“Dan yang paling penting dari itu semua adalah, dia harus kuat. Sehingga ketika aku benar benar harus pergi dari sisinya dia akan tetap menjadi kuat dan hebat, melanjutkan hidupnya, merawat anak anak dan mimpi mimpi kami.”

Ini salah satu tulisan salah seorang bapak-bapak, yang saya spenuh sadar menyepakatinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements
Meracacacau · review · Uneguneg

tentang Dilan

Bismillaah..

Maaf nih, saya ngga ngikutin dan sedang mencari cara mudah untuk catch-up. Jadi, mengapa Dilan ini istimewa?

Ada pertanyaan ini saat membuka laman dashboard tumblr saya pagi ini. Menarik!:), pertanyaannya menarik, bukan jawabannya yang menarik, he he 😛

apa yang membuat anak ke-empat dari 5 bersaudara, dari pasangan Ayah dan Bunda ini menjadi sosok yang menarik perhatian beberapa hari terakhir? Iyap, karena kisahnya yang berasal dari Novel itu diangkat ke layar lebar.

Hari ini, Selasa pagi, sehari sebelum akhir bulan Januari, sehari sebelum terjadinya gerhana bulan total kata BMKG. Sejuk, Jakarta bagian timur, sedari pagi sudah dikunjungi gerimis. Matahari nya tetap bersinar menghangatkan, walau hangatnya belum juga terasa di pemukaan epidermis kulit (begimana mau berasa diruangan full AC -___-). Alhamdulillaah ‘alaa kulli haal :”).

Ahad malam, beberapa jam sebelum tengah malam saya sudah menamatkan membaca Dilan 1, Dia adalah Dilanku tahun 1990. Dilan 2, Dia adalah Dilanku tahun 1991 dan Milea belum dibaca, dan sama sekali ga tertarik untuk melanjutkan menamatkan trilogy ini. Kenapa? Karena Dilan 2 dan Milea katanya ceritanya sedih, dan saya ga mau ikutan sedih :P.

Ahad siang sebelum adzhan dzuhur berkumandang dari Masjid samping rumah, ketiga novel ini sudah ada ditangan, baru mulai membaca beberapa halaman, sudah banyak di interupsi oleh adek semata wayang, “mbaa iihh, apalan iihh”, “apaaalllaan mbaa, bukan malah baca dilan”, “mbaa ihh, parah bangat ih, apalan dulu”. Huwaa MasyaaLlaah ya adek sholeha semata wayang ini, wkwk, yang terus ngingetin dengan jadwal setoran tiap ahad sore.

Baru kemudian, saat malam hari, saat si adek semata wayang sudah tertidur, terkerukup (?) oleh selimut biru Winnie the Pooh-nya, saya mulai melanjutkan membacanya. Sekali baca langsung sampai tamat. Novel yang sangat ringan, tidak banyak berisi paragraph yang berisi deskripsi yang panjang, kebanyakan malah percakapan-percakapan singkat, seperti:

“kamu pernah nangis?” kutanya.
“waktu bayi, pengen minum”
“bukan ih!”
kataku. “Pas udah besar. Pernah nangis?”
“kamu tau caranya supaya aku nangis”
dia nanya
“gimana?”
“gampang.”
“iya gimana?”
“menghilanglah kamu di bumi”

“kamu tahu gak?”
“tahu apa?”
Nandan balik nanya
“Aku mencintai Milea”
Nandan tersenyum sekilas sambil memandangku. Rani, Dito dan Jenar pada ketawa. Mukaku pasti merah.
“tapi, malu mau bilang,” kata Dilan.
“itu, sudah bilang?” kata Nandan.
Nandan ketawa kecil, tapi ada rasa keselnya.
“aku kan bilang ke kamu, bukan ke dia.”
“dia denger, kan?”tanya Nandan.
“mudah-mudahan”.

Tidak perlu berhari-hari untuk menamatkannya, lagi juga saya ingin segera menyudahi rasa penasaran ini, wkwk. Dilan, dari covernya saja sudah tak asing di mata. Novelnya sering terlihat, berjejer-jejer di rak buku kalo kebetulan sedang mampir ke Gramed, Gunung Agung atau Salemba. Yakan Best Seller, hhe. Tapi kemarin-kemarin belum tertarik dan tidak tertarik sama sekali untuk mebacanya. Bersebab dari suksesnya gembar-gembor media mengenai novel ini, barulah kemarin berasa keppo pengen tahu kisahnya kayak apa, tapi sama sekali ga pengen nonton filmnya :P.

saya rasa ada sisi ‘parenting’ yang ingin disampaikan oleh bang pidi di buku ini.
saya kagum pada dua perempuan yang jadi the center of life nya dilan dan milea; mama, dan bunda .

i adore mama and bunda so much

hadirnya mama bunda dalam buku ini membuat saya berandai-andai, kelak, jika saya menjadi ibu, saya pun ingin seperti mamanya milea, dan atau bundanya dilan

working mom sama bu ibu yg suka gitaran sop? .
bukan

mamah mamah yang gapapa anaknya pacaran dibawa jalan-jalan sampe malem sop? .
bukan .

tapi mama dan bunda yang embrace heart warmingly whatever their children face,
qu kagum pada mama yang peluk milea saat milea tersebab dia takut dilan dipecat dari sekolah,
yang seakan2 lewat pelukannya she told milea that “anak ibu kuat, anak ibu bisa hadapi ini semua, every single thing shall pass”. qu juga kagum pada bunda yang meminta komitmen dilan dengan berdiskusi santai, bertukar pikiran, menawarkan value yang ingin disampaikan tanpa memaksa

buku dilan – milea, buat saya ga cuma menceritakan “how to move on from unfinished story”, tapi juga bercerita tentang sosok yang selalu ada, selalu siap menjadi tempat kembali.

ini salah satu review dari salah satu adik sholiha :P, yang saya rasa, saya ga bisa ga sepakat dengan apa yang dituliskan Shofi diatas :”). Sehabis membaca Dilan, iya saya kagum dengan kedua sosok Ibu dari kedua tokoh utama novel ini. Bagaimana mereka bisa menjadi sosok yang sangat nyaman, sehingga mampu membuat anak-anaknya bisa seleluasa dan sejujur itu menceritakan setiap yang dialami dan dirasakannya kepada Ibu dan Bunda nya. Even, itu Dilan sekalipun, anak geng motor cuy padahal ceritanya.

Dilan, sebagai tokoh utama disini pun juga tak kalah menarik :”),
bukan, bukan karena kepandaian-nya dalam menggombali Milea.

ada beberapa hal menarik dari sosoknya di novel ini,
Dilan, di usia nya yang semuda itu (masih kelas 11 ceritanya),
sudah sangat menggandrungi sastra, dan dia sangat suka sekali membaca!:).
bahkan, dinovel ini diceritakan si Dilan udah khatam loh baca Tafsir Al Qur’an 30 Juz karya Buya Hamka, nahloh keren kan? :P,

Dilan yang sangat setia kawan, yang sangat supel, yang sangat suka bersosialisasi. Tukang koran, tukang sayur, tukang pos, tukang nasi goreng sampai petugas PLN, semuanya pernah menjadi perantara Dilan mengirimkan coklatnya untuk Milea, haha :D.

Dilan juga pemberani. Walaupun caranya terkesan kurang sopan, tapi bagaimana cara Dilan memperingatkan guru BP nya yang suka bertindak kasar dan semena-mena kepada para muridnya cukup membuat pukulan telak bagi siapapun kita –yang mengaku sudah besar dan dewasa- yang membacanya.

“aku bukan melawan guru, Bu. aku melawan Suripto,”
“Ibuku juga guru, kakakku juga guru”
“aku tidak bisa memaklumi guru yang begitu”
“hormatilah orang lain kalau ingin dihormati,”
“siapapun dia, biar guru juga, kalau ga menghargai orang lain, ga akan dihargai”
“jangan karena guru, jadi berbuat seenaknya,”


“ya, kita tidak bisa mengkritik tanpa lebih dulu memahami apa yang kita kritik itu. Termasuk kita tidak bisa menghakimi anak remaja tanpa kita memahami kehidupannya. Orangtua seharusnya bisa memahami anak-anak, bukan sebaliknya. Jangan anak-anak yang dipaksa harus memahami orangtua. Anak-anak belum mengerti apa-apa, meskipun tentu saja harus kita berikan pemahaman” kata Bunda nya Dilan di novel ini, so a wise yaa :”)).

Sebelum membaca ini, saya bertanya pendapatnya mengenai novel ini kepada salah seorang bunda :P, bunda-nya Raisya [salah satu hal yang menyentuh adalah ketika kamu tahu, salah satu teman baikmu saat SMA memberikan nama putri pertamanya sama dengan nama yang kamu punya, walaupun kenyataannya mah ga ada kaitanya sama sekali, wkwk]. Si Bunda sudah khatam Dilan 1 dan Dilan 2 jauh sebelumnya.

“aku gimana ya ta, pas baca itu kayak makan kerupuk aja gitu. Tapi penasaran juga yang katanya orang itu bagus. Mungkin karena prinsip kita beda ya, jadi aneh aja, aku liat anak muda begitu amat. Dan sesungguhnya bagi aku, buku ini kurang bermakna bangat, wkwk. Tapi leh uga mau baca yang ketiga, wkwk”

eh btw,
rumah (orangtua) nya si Dilan tuh masih mayan deket dari rumah orangtua saya, masih satu daerah di Pondok Kopi :”). Inpo yang sungguh sangat unfaedah, wk.

Meracacacau · rumah · Uneguneg

Speak Up Girls! :)

“Di tempat itu arwah Umar akan menyertai kita! Dari sana jugalah kita akan memenuhi tugas-tugas kegerilyaan kita seperti yang biasa dilakukan oleh Umar. Kita akan memenuhi perintah Tuhan untuk memerangi orang kafir” ucap seorang wanita, yang juga adalah seorang Ibu.

Siapakah Umar yang dimaksud? Ialah Teuku Umar, suami terkasihnya yang gugur saat menyerang Belanda di Meulaboh pada 11 Februari 1899. “Orang kafir” tentu saja sebutan untuk para penjajah Belanda.

Siapa yang tak mengenal dengan sosok Umar bin Khattab, keberanian dan ketegasannya sampai-sampai membuat syaitan niscaya lebih memilih jalan lain jika melihat Umar berada di depan jalan yang akan dilewatinya. Jika syaitan saja tidak berani, maka siapakah yang berani untuk membantahnya?

“Wahai Amirul mukminin, apakah yang wajib kita ikuti itu Kitab Allah ataukah ucapanmu?” tanya seorang wanita menaggapi pernyataan Umar yang melarang memahalkan mahar pernikahan. Tak berhenti sampai disini, wanita ini kemudian mengutip firman Nya pada ayat ke-dua puluh surat Annisa sebagai bahan argumennya.

“Wanita ini benar dan Umar salah,” ucap Umar bin Khattab kemudian setelah mendengarkan ayat yang dibacakan oleh wanita tersebut. Umar membenarkan ucapan wanita tersebut dan mengakui kesalahannya di depan banyak orang.

:”)
menurut saya pribadi [mohon dikoreksi jika keliru],
tidak ada yang salah bagi kita, perempuan untuk menyampaikan pendapat di hadapan umum [tentunya selagi tetap dalam kaidah syariat yang diperbolehkan], apalagi jika dalam upaya untuk meluruskan suatu hal yang sudah jelas kekeliurannya. Dan bukankah salah satu jihad yang utama adalah perkataan yang benar di hadapan penguasa yang dzalim? :”)

maka,
jangan memilih diam untuk kesalahan yang sungguh sangat jelas terlihat. Pun juga jangan memilih diam, walaupun sesuatu yang salah itu tidak sedang menimpamu, anak-anakmu dan keluargamu. Dan tetaplah bersuara, sekalipun orang-orang terdekatmu tidak merespon niat baikmu :”).

terkisah,
ada seorang Ibu separuh baya, usianya akan genap 54, tahun ini insyaaLlaah :”). seorang ibu yang tinggal bersama keluarganya di daerah Pondok Kopi Jakarta Timur, wk :”)

:Walaupun suaminya dan anak-anaknya sepakat berkata “udah dibiarin aja sih bu” untuk kegelisahan beliau atas rusaknya (kemasan baik, expired masih lama, segel ok, tapi pas diminum rasanya asem, ga enak) susu UHT Indomilk 1000ml yang baru saja dibelinya Selasa malam kemarin.

“tapi kan susunya beneran udah ga enak, jadi ga bagus kalo diminum” keluh ibu tsb.

tanpa sepengetahuan keluarganya, Rabu pagi si Ibu menyampaikan keluhannya melalui nomor telepon Layanan Konsumen yang tertera di kemasan susu.

Then, it’s work :P:D,
Kamis siang, ada bapak bapak dari Indomilk datang berkunjung ke rumah si Ibu, mengecek langsung kondisi susu dan kemasannya, menyampaikan permintaan maaf dan memberikan bingkisan sebagai ganti untuk ketidaknyamanan atas kerusakan produk mereka.

Dan akhirnya, anak-anaknya yang kesenangan dapat banyak hadiah susu, hanya bisa berucap, “ibuu terbaaaiikk” wkwk :”))

Dear · Hikmah · mentoring · Meracacacau · Tarbiyah · Ukhuwwah · Uneguneg

Orang Indonesia kan begitu

duh dek,
orang Indonesia mana yang sudah tega menanamkan judge ini kepada anak belia spertimu yang bahkan negara saja belum menyatakanmu dewasa.

sedih.

yang bilang kalimat ini ga hanya omdo, nyatanya saat janjian berangkat bersama untuk rihlah pengurus Rohis, si Kaput Rohis ini adalah orang kedua yang datang beberapa puluh menit sebelum waktu kesepakatan :”).

siapa yang datang pertama?
ada si R, sang Ketua Rohis :”).

“R mah emang gitu kak orangnya, selalu datang ontime, eh before time :D”

maasyaaLlaah :”),

R ini, kalau mendengar penuturan langsung dari kakak alumni ikhwan, awalnya sama sekali ga tertarik untuk jadi ketua Rohis. R menolak untuk memegang amanah itu.

“tapi, pas R abis dilantik jadi ketua Rohis, R ngejapri ane, dia tanya ‘Kak, apa yang harus disiapkan untuk menjadi Ketua Rohis yang baik?'”.

Huwaaa tetiba langsung melted :”””).

R si ketua Rohis yang penampakannya paling sholih 😅, yang berusaha untuk selalu ontime, yang saat rihlah kemarin, seorang diri mencatat dibuku catatan saat sesi materi berlangsung, yang mengajukan pertanyaan terakhir kepada pemateri “Kak, kakak pernah ngerasa capek gak ngurusin dakwah?, boleh capek ga sih kak?”

:””),

AlhamduliLlaah,
AlhamduliLlaah,
Alhamdulillaahirobbil ‘aalamiin,

karena si Kaput dan R adalah salah dua dari anak muda yang dimiliki Indonesia saat ini :”), mereka adalah calon generasi yang akan mewujudkan setiap asa dan doa baik untuk Indonesia di masa depan, insyaaLlaah :”).

sampai suatu hari nanti, yang akan terdengar adalah,

“oke kak, kita berangkat jam setengah 8. insyaaLlaah teman teman semuanya sudah hadir lengkap di stasiun jam setengah 8. kan, orang Indonesia begitu :”).

Hikmah · Meracacacau · Uneguneg

Cinta Indonesia Untuk Palestina

tumblr_p13xhvL7gu1tx1ff5o1_540

ada banyak orang Indonesia yang saya temui pagi ini disalah satu landmark utama, ciri khas dari ibu kota negara ini :“),

ada abang abang yang sempat berjalan di depan kiri saya, di telinga sebelah kanannya nampak terpasang perhiasan telinga berwarna hitam :”),

ada juga bapak bapak, yang saat saya lewati tempatnya duduk beralaskan alas duduk waterproof gocengan, klaim bapak penjualnya. Alas ini benar benar multifungsi, bisa diletakkan dibawah saat ingin duduk, atau sebagai payung saat terik matahari atau saat rintikan prajurit Nya mulai membasahi bumi. Tak kan rugi berjualan ini :“). Bapak yang tadi ini membuat semacam asbak sederhana dari kantong kresek putih, saya melihatnya berteriak takbir dengan keras, tak lupa diiringi dengan kepalan tangan beserta lintingan tembakau dan nikotin nya kearah langit. Entah sudah berapa lama bapak ini duduk disana, yang terlihat hanya asbak sederhananya yang hampir penuh disesaki sisa putung yang tak dihabisi dan abu nya.

saat baru keluar stasiun yang terletak didaerah Menteng, pusat Jakarta saya mendapati abang abang penjual tongsis sudah berdiri eksis menawarkan dagangannya. Awalnya saya sempat heran, Lha kenapa abangnya jualan tongsis, kenapa ga jualan atribut muslim atau palestina yang lebih sesuai dengan tema nya. Selang beberapa langkah saya berjalan, saya menemukan jawabannya sendiri. Dan semakin banyak langkah diperjalanan, semakin banyak pula jawaban yang saya temukan :P.

Semakin mendekati main point tempat panggung utama, semakin sinyal internet sulit hinggap di mobile phone.

“wah iya kak, sinyal internetnya ga ada?!”
“oh mungkin, untuk meng-counter supaya pahala yang didapat, tidak menguap begitu saja karena upload photo tanpa persiapan niat yang lurus :P”

dari sekian banyak manusia Indonesia dan tingkah lakunya yang saya lihat hari ini, ada satu yang paling berkesan bagi saya pribadi :“).

 

Polisi-berjaga-di-depan-Kedutaan-Besar-Amerika-Serikat-saat-Aksi-Bela-Palestina-Ahad-17-12-2017b
pict from here

Saat melihat abang satgas berseragam PDL putih putih dari topi sampai sepatu menegur dengan sangat ramah kepada seorang bapak bapak yang terlihat menginjak rerumputan di depan bangunan tempat perwakilan USA di negri ini -yang fyi, diborder dengan sangat ketat oleh bapak bapak berseragam coklat coklat. yang padahal massa utamanya ga berkerumunan disitu, dan paling paling orang orang berkerumuan disini hanya untuk mengisi energi, karena ada dua mobil besar kalo ga salah dan tenda besar yang berspandukkan food container-.

kata-kata yang terlontar dari abang satgas yang diakhiri dengan sebuah senyuman ini seolah menunjukkan kepada bapak bapak berseragam coklat dan kepada seluruh dunia fana ini, bahwa kami yang datang pagi ini tidak ada niatan se-femtometer pun untuk merusak bangunan besar yang ada dibelakang bapak bapak berseragam coklat itu berdiri. Keutuhan rumput saja berusaha dijaga dari fitnah mata, prasangka dan lisan orang orang yang belum mengenal lebih dekat dengan dien ini :”). Apalagi keutuhan bangunan yang segede gaban itu :P.

banyaknya ragam manusia Indonesia dengan segala tingkah laku dan atribut yang dipakainya pagi ini, semuanya menunjukkan satu hal yang sama, bahwa kami Indonesia, kami cinta dan siap membuktikan cinta kami untuk baitul maqdis dan Palestina :“).

 

Belajar · Dear · Meracacacau · reblog · Selftalk · they're said · Uneguneg

Cinta yang Berdaya

pict from pinterest 🙂

mba Dea Mahfudz says

Dulu pas ada temen bilang bahwa cinta itu identik dengan kata “i will die for you”, sekarang rasanya beda. Buat gue cinta itu juga tentang menjaga diri sendiri biar tetep kuat, sehat badan, sehat pikiran juga. Biar kita bisa nemenin orang-orang yang kita sayang di saat-saat sulit.

gue jadi inget obrolan sama temen tempo hari. Intinya dia bilang ke gue,

“Kalo orang yang lo sayang ketimpa kesulitan, lo jangan ikutan drama. Lo harus waras dan ngelakuin hal paling realistis yang lo bisa buat nguatin orang yang lo sayang”

Hidup itu maraton. Kalo kita bisa ngelewatin satu ujian, di depan nanti bakal ada ujian lagi. Bukan gw suudzon sama Allah. Tapi yang namanya hidup, sunnatullahnya kayak gitu. Manusia ga mungkin hidup tanpa masalah. Yang terpenting kalo kita ada masalah, jangan tenggelam dalam tangis sampai hidup kita stuck di situ doang. Kita harus buru-buru sadar dan bertindak dengan waras.

then,
gue nyadar bahwa romantisme cinta bukan
“kalo kamu nangis, aku juga ikut nangis, kalo kamu jatuh, aku juga jatuh”

melainkan,

“kalo kamu nangis, aku yang bakal ngajarin kamu hapus air mata. Kalo kamu jatuh, aku yang bakal ngajarin kamu buat naik lagi”

kenapa ngajarin? kenapa nggak bantu?

sebab manusia punya tanggung jawab atas dirinya sendiri. Gue mau cinta gue kelak ngasih ruang buat orang yang gue sayang untuk menumbuhkan diri sendiri. Bukan cinta yang attached yang seandainya gue pergi, orang yang gue sayang bakal kehilangan segalanya sampai kehilangan semangat hidup juga.

i will try giving you the maps, the fuel,
but you have to reach your dream by your own hand.

===

and,
pak Hafidz says,

Gimana udah ketemu?” Tanya Ummiku sambil menggoda.

“Apanya, Mi?” Jawabku datar

“Kamu nih pura pura gatau, coba deh emang tipe mu yang gimana?” Beliau menanyakan kembali

“yang kuat, Mi. Pertama, karena kesuksesan laki laki itu ditentukan dari siapakah Ibunya dan siapakah Istrinya. Kemudian, karena dari awal aku sadar, aku ini tipikal yang aktif dan pengen terus terlibat dengan banyak orang diluar sana untuk memberi manfaat. Menjadi sebaik baik manusia. Di tambah aku ini insinyur Mi. Yang nature pekerjaannya akan sering pergi – pergi…” Saya mulai menjawab karena mengerti arah pertanyaannya kemana

“ …ditambah itu aku punya mimpi mimpi dalam hidup ini. Kesemuanya itu kalo tidak orang yang kuat, aku takut cuma akan menyakitinya. Dia harus kuat dan tahu apa yang harus dilakukan ketika aku tidak ada di rumah dan anak kami nanti demam, ketika listrik di rumah korslet dan tidak menyala, dia harus kuat dan memahami ketika ingin bermanja namun suaminya pergi karena urusan orang banyak. Tentulah harus seorang yang kuat dan hebat, karena semanjak akad maka cita citanya menjadi cita citaku dan tidak ada lagi kata dia dan aku, kesemuanya tentang kami.” Kataku mengakhiri sambil tersenyum.

Dan dalam hati aku berkata pada diri sendiri,

“Dan yang paling penting dari itu semua adalah, dia harus kuat, karena aku tidak akan mengajarinya untuk menjadi lemah dan payah. Sehingga ketika aku benar benar harus pergi dari sisinya dia akan tetap menjadi kuat dan hebat, melanjutkan hidupnya, merawat anak anak dan mimpi mimpi kami.”

Hikmah · Meracacacau · Uneguneg

Rakyat yang mana?

– : jadi kepikiran sendiri, orang-orang yang demo selalu mengatakan mereka menyuarakan suara rakyat. rakyat yang mana?

+ : rakyat yang seharusnya. karena adanya pemerintahan dengan segala pernak-perniknya seharusnya bekerja untuk menyejaterakan rakyat.

– : maksudku, okeh masalah harga naik, dll itu pasti jadi kegelisahan rakyat. tapi alih alih menuntut pemerintah. kayaknya rakyat sekarang lebih cenderung beradaptasi dengan segala bentuk kedzholiman pemerintah (?)

+ : karena, banyaknya ketidakadilan yang terjadi. beberapa kasus, beberapa berita secara tidak langsung membuat masyarakat berpikir buat apa nuntut, wong juga ngga ada perubahan.

akhirnya yang penting kita bisa hidup, perkara orang lain biarin aja.

ketidakadilan yang terjadi bagi orang yang tidak punya kekuasaan akan mengikis rasa peduli.

kenapa kita hidup harus ada pemerintahan? untuk mengatur hidup ini jadi teratur. jadi tidak ada yang main preman-premanan. sederhananya kayak gitu.

– : …

+ : jadi keinget tulisannya ust. Rahmat Abdullah,
“berbahagialah mereka yang tidak tahu politik. tapi lebih berbahagia lagi mereka yang tahu politik dan mau berpolitik untuk menjinakkan politik”.

kebanyakan orang sekarang cari amannya sendiri.

– : aku bangeett :””””(((

Dear · Meracacacau · Uneguneg

Aku Lelah :”(

vy :”
kadang aku merasa lelah (astaghfirullaah) atau bosan (astaghfirullaah T_T) memiliki rasa peduli :”

saat lagi buruknya,
sempat aja gitu kepikiran,

kenapa harus peduli, maksudnya yang lain aja ga ambil urus, kenapa juga malah merela diri buat mengurusi, jadi repot sendiri kan jadinya :””

ini bisikan setan ya vy? :”((

ini pasti lagi kebanyakan maksiat, jadi list list to do yang harus dikerjakan jadi terlihat rumit dan memberatkan, padahal aslinya tinggal dikerjain satu satu :”(

Wajar sih menurutku.
Namanya juga manusia.
Ada capeknya.
Ada lelahnya.
yang parah itu klo rehat dari pedulinya kelamaan.

:”(

Hebatnya anti itu.
Dia punya api semangat yang tak pernah padam.
Meski sering kena hujan malas.
Meski sering kena gerimis lelah.
Meski sering kena badai kesendirian.

:”(
atau jangan jangan aku cuman jadi asap, yang hilang tanpa manfaat :”(((

Jangan salah, asap pun ada gunanya.
Mengawetkan.
Membasmi.

Jadi apapun yang penting niatnya udah baik.

oia, lagi ngobrol sama anak THP (Teknologi Hasil Pangan)~~

haha 😂

dan tetiba aku langsung tersenyum, hehe 🙂

Alhamdulillah.
It’s okai.

Itu pertanda, sedikit lelah dah lelah membersamai.

Hingga hinggaplah senyum merekah.
Semoga menjadi berkah.

:”(
iya, tetiba aja ngerasa kayak ‘gini’ padahal mah tau merasa kayak ‘gini’ ga baik

Ndak papa.
Manusia butuh waktu untuk gini biar bisa gitu.
Manusia butuh waktu sedih untuk bisa bahagia.
Manusia butuh waktu menangis untuk bisa tersenyum.
Manusia butuh lelah untuk bisa kuat.
Manusia butuh waktu tidur untuk bangun.

Dan saat waktu gininya datang, optimalkan untuk mencari energi.

***

dan langsung mellow to the max baca untaian kalimat dari ustadz Rahmat Abdullah, yang padahal mah udah sering dilihat dan terbaca T___T

Memang seperti itulah dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu..

Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yg kau cintai.

Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu. Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.

Seperti itu pula kejadiannya pada rambutRasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yg diturunkan Allah.

Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yg bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak.

Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang.

Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.

Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan.

Tidak! Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.

Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani… justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi, akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada.

Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.

Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman.

Karena itu kamu tahu. Pejuang yang heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. Yang takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar. Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa paramujahid sejati, “ya Allah, berilah dia petunjuk, sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang“

Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta. Mengajak kita untuk terus berlari.

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itulelah mengikutimu

Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu

Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu

Teruslah bertahan, hingga kefuturan itufutur menyertaimu

Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu”

Meracacacau · rumah · Uneguneg

Alasan Cinta Jakarta

Capture

Bismillaah,

Well, tbh,
saya bukan termasuk orang yang kuat –tapi juga ga mau dibilang lemah :P-,
yang setelah beberapa waktu lamanya tidak pernah ikut upacara HUT RI, sekalinya ikutan di puluhan menit pertama kedua tungkai kaki sudah mulai terasa seperti jelly, tapi ditahan-tahanin untuk tidak mundur kebelakang apalagi ambruk. Alhamdulillaah Allaah bantu kuatkan dan berkenan untuk menutupi aib, karena sungguh malu dengan posisi di baris paling depan dan berseragam PDH lengkap :P. #ehinimalahbukaaib -___-

dan saya adalah orang yang lebih suka untuk mengambil pilihan masa bodo sebenarnya. Walaupun dengan sebelnya sering segera berganti pilihan untuk menjadi kembali peduli. Iyap saya cenderung perasa, yang pas tahu bakalan datang sendirian untuk mewakili suatu amanah tertentu langsung mellow dan ares-aresan (?) untuk datang berangkat :p.

daaann, saya tinggal di Jakarta!
berstatus legal sebagai warga DKI Jakarta dengan e-KTP DKI terbaru,
yang alhamdulillaah beberapa bulan yang lalu juga ikutan berpartisipasi aktif di pilkada DKI 😛 *infogapenting:p

Oh!
Info pentingnya sampai dengan saat ini saya baik-baik saja tinggal dan menjalani hidup di Jakarta. Alhamdulillaah :”)

“Jika yang kita cari kebaikan, maka dimanapun kita berada Allaah akan pertemukan kita dengan kebaikan, insyaaLlaah.” –mba Qi-

Alhamdulillaah,
saya bersyukur Allaah pilihkan kota ini sebagai kota kelahiran saya. Dengan banyak alasan-alasan lainnya, banyak hal yang menyulitkan saya untuk tidak menjadikan kota ini sebagai salah satu kota terfavorit saya untuk saat ini :”).

Jakarta, dengan segala pernak-perniknya kekhasannya, dengan semua kepekatan polusi duniawinya, dengan segala riuh bising suara didalamnya adalah kota yang hangat. Dihangatkan oleh beragam mimpi, cinta dan asa para penduduknya :”).

Bagi saya yang tidak (belum) bisa mengendarai satupun roda transportasi darat, maka tinggal di Jakarta adalah salah perwujudan dari salah satu nikmat terbesar Nya  yang diberikan kepada saya sebagai hamba Nya :P. Berbagai jenis roda transportasi darat ada disini (oh, kecuali becak), dan alhamdulillaahnya semua roda transportasi ini mudah untuk didapatkan. #alasancintajakarta

tak-ada-jalan-yang-tak-macet-50X
sumber gambar dari sini

Macet? Ya konsekuensi dari kemudahan menggunakan sarana transportasi lah ya :P.

Kemacetan, ke-ngetem-an (?), berebutan dan ke-sesak-an didalam  commuter line adalah salah satu dari sekian perjuangan yang dihadapi sehari-harinya oleh sebagian besar orang berusia produktif yang tinggal di Jakarta. Hal ini tidak serta merta menjadi suatu hal yang buruk yang menjadi umpatan dan keluhan sehari-hari warga Jakarta. Setidaknya bagi kami warga Jakarta, bisa bersyukur dan bahagia itu ga selalu tentang pencapaian yang besar :”). Syukur dan bahagia kami sesederhana bisa datang on time di tempat kerja/sekolah/tempat janjian pertemuan, atau juga sesederhana dapat tempat duduk di commuter line saat jam sibuk dihari kerja :D. #alasancintajakarta

Jakarta, sebagai Ibu Kota Negara Kesatuan Republik Indonesia serta merta menjadi pusatnya beragam kegiatan dan bermacam komunitas yang ada di negri ini. Maka sungguh akan sangat mudah untuk mencari dan mengikuti banyak kegiatan di kota ini. Mencari charge rukhiyah lewat kajian misalnya, tidak perlu menunggu weekend, di weekdays pun juga banyak kajian yang diselenggarakan. Bahkan tidak hanya diselenggarakan di masjid masjid besar cem Masjid Istiqlal atau Masjid Raya Al Azhar. Mulai dari Masjid-Masjid komplek perumahan warga, Masjid di area Perkantoran, Masjid di area Rumah Sakit, pun juga diselenggarakan di Masjid-Masjid di dalam Mall. Iya di Mall :”). #alasancintajakarta

Dan masih banyak lagi #alasancintajakarta yang belum saya sebutkan, cem kemudahan mendapatkan berbagai jenis barang (dari yang ori sampai yang KW :P), kemudahan mengakses informasi, dan  kemudahan mendapatkan ragam fasilitas yang menjadi hak Warga Negara Indonesia :P.

Bicara Jakarta, tidak melulu tentang kekejamannya seperti Ibu tiri (yang mana juga tidak semua Ibu tiri kejam :D), tidak juga melulu tentang pergaulan yang menyeramkan, pun juga tidak melulu tentang individualisme warganya.

Ada banyak kebaikan di kota ini, insyaaLlaah. Pun juga dengan akan hadirnya Gubernur kami yang baru, yang insyaaLlaah akan membuat obrolan-obrolan kebaikan tentang Jakarta melebihi obrolan-obrolan tentang kekejamannya :”). Aamiin.

Oia,
btw saya menulis ini,
juga karena saya pernah tinggal cukup lama di Gunung Kidul :D.
Gunung Kidul dan Jakarta jelas berbeda, namun kebaikan dari Sang Empunya-nya sama :”),
tinggal pinter-pinternya kita aja buat pe-de-ka-te sama Si Empunya :”).

 

Belajar · Harta Karun · Hikmah · Tarbiyah · Uneguneg

Cukup

didalam sebuah group whatsapp, ditengah percakapan dua orang yang sedang membicarakan tempat kerja masing masing 🙂

A : (((bla bla bla bla bla)))  berarti salary you ampe … Jt dong

W : I wish that :). Tapi ane suka pindah-pindah tempat kerja. Mau cari yang lebih baik lagi minimal, hehe 😀

T : waaahh alhamdulillah yah. Ane aja gaji masih murmer (murah meriah). Sampai keluarga pada kaget kok masih bertahan, udah tambah kerjaannya segabrek karena pengawasanya makin super 😂

A : kok bisa murmer mba? 

T : tapi gapapa, dinikmatin aja :). Palingan senewen kalo mau bagi raport doang, hehe. Terkadang inilah romantikanya jadi guru, banyak hal yang ga bisa dinilai dengan uang 🙂 

A : MaasyaaLlah mba, semoga Allah membalas dengan yang lebih baik.

Yang penting mba ga sampai ngutang atau minta-minta untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jadinya nanti dzolim ya mba? 

T : Engga-lah, rizki kan ada Allah yang ngatur, didunia ini rizki kan tidak harus uang. Punya sahabat sholiha yang sayang sama kita juga rezeki, kan? 🙂 

Percaya ga? Seumur hidup saya belum pernah beli Hp buat diri sendiri. Pernah suka ngebatin, ihh pengen punya hape kayak gini.

Alhamdulillahnya selalu aja ada rezeki dari Allah buat kasih Hp yang ane pengenin dari tangan hamba hamba Nya 🙂

Kalo soal minta mah, kita kudu wajib minta-minta sama Allah. Bahkan kata Ust. Hatta, butuh garam aja, juga minta nya sama Allah 🙂 

Harta didunia ndak harus banyak, toh juga banyak-sedikitnya harta juga relatif. Menurut A mungkin banyak, dengan jumlah yang sama, bagi B mungkin sedikit.

…yang penting mencukupi 🙂

cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup didunia, pun juga cukup untuk meringankan saat ditanya kelak di akhirat tentang untuk apa hartamu dihabiskan.