KisahSahabat · reblog

#lebihdekatdengansahabat 18: Zaid bin Tsabit

oleh Muhammad Akhyar

 

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan 🙂

Tentu saja nuansa peringatan turunnya Al Quran belumlah hilang. Dan memang bulan Ramadan diberi gelar sebagai bulan tempat Al Quran diturunkan sehingga jika kita lihat betapa banyak orang yang kadar cintanya untuk membaca Al Quran di bulan ini bertambah-tambah. Dan kemudahan kita dalam menikmati firman-firman Allah itu, tidak terlepas dari jasa seorang sahabat. Inilah dia sang penghimpun Al Quran, Zain bin Tsabit.

Ia adalah seorang sahabat yang berasal dari kaum Anshar Madinah. Saat Rasulullah hijrah ia baru saja berumur 11 tahun. Ia bersama-sama keluarganya pada saat itu sudah menganut agama Islam. Ketika itu kita akan melihat Rasulullah berdoa untuk keberkahannya.

Saat perang Badar ia dibawa orang tuanya untuk ikut ke medan akan tetapi kala itu Rasulullah menolaknya, karena umur dan tubuhnya yang masih kecil. Namun, kala perang Uhud memanggilnya, ia menghadap lagi bersama teman-temannya kepada Rasulullah agar dapat diterima ikut dalam pasukan Muslim. Mereka menghiba-hiba kala itu. Namun, tetap saja Zaid belum berhasil meluluhkan hati Rasulullah untuk ikut berperang bersamanya. Ia baru bisa ikut serta dalam peperangan bersama kaum Muslimin di perang Khandaq.

Inilah dia Zaid. Sahabat yang tak henti-hentinya menghafal Al Quran dan menuliskan wahyu tersebut untuk Rasulullah. Sahabat yang senantiasa diminta oleh Rasulullah untuk menuliskanya surat kepada raja-raja dan kaisar-kaisar dunia. Untuk hal ini seringkali Rasulullah memerintahkan Zaid untuk mempelajari bahasa-bahasa mereka. luar biasanya, Zaid mampu melakukan itu hanya dalam waktu yang singkat saja.

Itulah dia Zaid yang keluhuran budinya begitu dihormati di kalangan sahabat. Berkatalah Sya’bi,

“Pada suatu kali Zaid hendak berkendaraan, Ibnu Abbas lalu memegang tali kendali kudanya. Kata Zaid kepadanya, ‘Tak usahlah, duhai putera paman Rasulullah.’ Yang segera dijawab oleh Ibnu Abbas, ‘Tidak, memang beginilah seharusnya kami lakukan terhadap ulama kami.’”

Qabishah pun berkata tentang Zaid,

“Zaid di Madinah mengepalai urusan peradilan urusan fatwa, qiraat, dan soal pembagian pusaka.“

Tsabit bin Ubeid juga berujar tentannya,

“Jarang aku melihat seseorang yang jenaka di rumahnya, tetapi paling disegani di majelisnya seperti Zaid.”

Lalu tibalah kita pada suatu masa setelah perang Yamamah yang banyak menimbulkan korban jiwa di kalangan kaum Muslimin. Sebagian di antara mereka adalah penghafal Al Quran. Demi melihat kondisi ini, setelah melakukan pemikiran yang cukup mendalam, Abu Bakar kemudian memanggil Zaid,

“Kamu adalah seorang anak yang cerdas, kami tidak meragukan kamu.”

Inilah dia perintah oleh Khalifah kepada Zaid untuk mulai menghimpun Al Quran dengan meminta bantuan para ahli yang berpengalaman dalam soal itu. Demi mendengar perintah itu Zaid berkata,

“Demi Allah, seandainya mereka memintaku untuk memindahkan gunung dari tempatnya, akan lebih mudah kurasa dari pada perintah mereka menghimpun Al Quran.”

Itulah Zaid, betapa rendah hatinya beliau. Padahal tugas tersebut telah berhasil ia lakukan gilang-gemilang. Ia berujar begitu merendah tetapi kapasitasnya benar-benar ia maksimalkan dalam menjalankan perintah itu.

Inilah dia Zaid. Sahabat Rasulullah yang menghimpun Al Quran dan mengepalai pula proyek penyamaan versi mashaf di zaman Khalifah Utsman. Dan kini betapa mudahnya kita membaca Al Quran. Pantaslah kita berterimakasih pada sahabat yang mulia ini.

Advertisements
KisahSahabat · reblog

#lebihdekatdengansahabat 17: Sa’id bin ‘Amir

oleh Muhammad Akhyar

 

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan:)

Di hari yang penuh keberkahan ini, saya akan mengajak teman-teman untuk menengok kisah sahabat lain yang tak kalah menakjubkan. Memang jika dibandingkan sahabat-sahabat sekaliber Abu Bakar atau pun Umar, ia memang hampir jarang kita dengar namanya. Akan tetapi cerita keteladanannya sungguh amat layak kita jadikan panutan, terlebih dalam hal kepemimpinan politik. Ditambah dengan kondisi kekinian kepemimpinan politik di negeri kita yang begitu carut marut, kisah yang akan saya tuturkan ini layak dijadikan cermin bagi kita. Inilah dia kisah Sa’id bin ‘Amir.

Sa’id masuk ke dalam ajaran Islam tak lama sebelum pembebasan Khaibar. Semenjak itulah ia memberikan seluruh kehidupannya hanya untuk kemuliaan Islam. Namun, tentu saja jika kita melihat Sa’id hanya dari kacamata ini saja, kita tak akan melihat ada hal yang istimewa pada diri Sa’id di antara sahabat-sahabat yang lain. Jelas, karena pada masa itu, suasana kabatinan umat Muslim memanglah hanya dipenuhi ketaatan dan perlombaan dalam kebaikan.

Keistimewaan sahabat yang satu ini akan terang kita lihat ketika suatu ketika Umar memecat Mu’awiyyah dari jabatannya sebagai kepala daerah di Syria. Umar pun menoleh ke kiri dan ke kanan untuk mencari penggantinya. Sudah sama-sama kita maklumi sistem yang digunakan Umar kala itu adalah sistem yang di dalamnya terkandung kewaspadaan, ketelitian dan pemikiran yang matang. Sebab ia sangat percaya bahwa setiap kesalahan yang dilakukan oleh setiap penguasa di tempat yang jauh, yang akan ditanya oleh Allah kelak di akhirat adalah dua orang, Umar dan penguasa itu.

Setelah lama menimbang akhirnya Umar berseru,

“Saya menemukannya. Bawa ke sini Sa’id bin ‘Amir.”

Tak lama datanglah Sa’id untuk mendapat tawaran menjadi walikota di Homs. Namun, karena kezuhudannya Sa’id menjawab tawaran itu,

“Janganlah saya dihadapkan pada fitnah, duhai Amirul Mukminin.”

Dengan nada keras, Umar menjawab,

“Tidak, demi Allah, saya tak akan melepaskan anda! Apakah tuan-tuan hendak membebankan amanat dan khilafah di atas pundakku, lalu tuan-tuan meninggalkanku?”

Demi mendengar itu Sa’id tak bisa tidak akhirnya menerima jabatan itu. berangkatlah ia bersama isterinya yang cantik jelita menuju Homs. Mereka dibekali Umar uang secukupnya untuk keperluan di kota itu.

Ketika kedudukan mereka di kota Homs telah mantap, sang isteri bermaksud menggunakan haknya sebagai isteri untuk memanfaatkan harta yang telah diberikan Umar sebagai bekal mereka. diusulkannya kepada suaminya untuk membeli pakaian yang layak dan perlengkapan rumah tangga, lalu menyimpang sisanya.

Mendengar permintaan isterinya itu, Sa’id menjawab,

“Maukah kamu saya tunjukkan yang lebih baik dari rencanamu itu? Kita berada di suatu negeri yang sangat pesat perdagangannya dan laris barang jualannya. Lebih baik kita serahkan harta ini kepada seseorang yang akan mengambilnya sebagai modal dan akan mengembangkannya.”

Isterinya mempertanyakan bagaimana jikalau hal itu malah membawa kerugian bagi mereka. Sa’id pun menjawab bahwa ia akan menyediakan jaminan. Mendengar hal itu, tenanglah hati isterinya dan ia pun menyetujui ide Sa’id. Kemudian Sa’id membeli keperluan hidup dari jenis yang sangat bersahaja dan sisanya dibagi-bagikannya kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan.

Hari-hari pun berlalu. Isteri Sa’id masih bertanya bagaimana perdagangan mereka tempo hari. Sa’id menenangkan isterinya bahwa semuanya lancar bahkan keuntungannya sedang bertambah banyak dan kian meningkat. Hingga suatu hari isterinya mengajukan pertanyaan serupa di hadapan seorang kerabat yang mengetahui perkara yang sebenarnya. Sa’id pun tertawa yang menimbulkan kecurigaan isterinya. Sang isteri pun mendesak Sa’id untuk menceritakan hal yang sebenarnya. Sa’id pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Demi mendengar itu pecahlah tangisan penyesalan isterinya.

Sa’id memandangi isterinya yang semakin cantik ketika menangis itu, lalu berkata,

“Saya mempunyai teman-teman yang telah lebih dahulu menemui Allah dan saya tak ingin menyimpang dari jalan mereka, walau ditebus dengan dunia dan segala isinya.

Bukankah kamu tahu bahwa di dalam surge itu banyak terdapat gadis-gadis cantik yang bermata jeli, hingga andainya seorang saja di antara mereka menampakkan wajahnya di muka bumi, akan terang-benderanglah seluruhnya, dan tentulah cahayanya akan mengalahkan sinar matahari dan bulan.

Dan mengorbankan dirimu demi untuk mendapatkan mereka, tentu lebih wajar dan lebih utama daripada mengorbankan mereka demi karena dirimu.”

Demi mendengar kalimat-kalimat itu isterinya pun diam dan maklum. Tiada hal yang lebih utama daripada mengikuti jalan yang sedang ditempuh oleh suaminya itu.

Nah, jika anda berpikir keluarbiasaan ini berakhir di sini, anda salah. Masih ada satu lagi kisah di antara banyak kisah luar biasa Sa’id. Suatu ketika Umar berkunjung ke Homs, lalu ditanyakannya kepada penduduk,

“Bagaimana pendapat kalian tentang Sa’id?”

Sebagian orang tampil ke depan mengadukannya. Salah seorang dari mereka kemudian menjadi perwakilan dan berkata,

“Ada empat hal yang hendak kami kemukakan: pertama, ia baru keluar mendapatkan kami setelah tinggi hari; kedua, tak hendak melayani seseorang di waktu malam hari; ketiga, setiap bulan ada dua hari ia tak hendak keluar mendapatkan kami hingga kami tak bisa menemuinya; keempat, dan ada satu lagi yang sebetulnya bukan merupakan kesalahannya tetapi mengganggu kami, yaitu bahwa sewaktu-waktu ia jatuh pingsan.”

Umar pun tunduk sebentar, ia berbisik kepada Allah,

“Ya Allah, hamba tahu bahwa ia adalah hamba-Mu yang terbaik, hamba harap firasat hamba terhadap dirinya tidak meleset.”

Lalu tampillah Sa’id membela diri,

“Mengenai tuduhan mereka bahwa saya tak hendak keluar sebelum tinggi hari, demi Allah, sebetulnya saya tak hendak menyebutkannya. Keluarga kami tak punya khadam atau pelayan, sayalah yang mengaduk tepung dan membiarkannya sampai mengeram, lalu saya membuat roti dan kemudian wudhu untuk shalat dhuha. Setelah itu barulah saya keluar mendapatkan mereka.

Umar berseri-seri mendengar hal itu,

“Alhamdulillah, dan mengenai yang kedua?”

Sa’id pun melanjutkan penuturannya,

“Adapun tuduhan mereka bahwa saya tak mau melayani mereka di waktu malam, demi Allah saya benci menyebutkan sebabnya. Saya telah menyediakan siang hari bagi mereka dan malam hari untuk Allah. Sedang ucapan mereka bahwa dua hari setiap bulan ketika saya tak bisa menemui mereka, sebabnya sebagai saya katakana tadi, saya tak punya khadam yang akan mencuci  pakaian, sedang pakaianku tidak pula banyak untuk dipergantikan. Jadi terpaksalah saya mencucinya dan menunggu sampai kering, hingga baru dapat keluar di waktu petang. Kemudian tentang keluhan mereka bahwa saya sewaktu-waktu jatuh pingsan, sebabnya karena ketika di Mekkah dulu saya telah menyaksikan jatuh tersungkurnya Khubaib al Anshari. Dagingnya dipotong-potong oleh Quraisy dan mereka bawa ia dengan tandu sambil mereka menanyakan kepadanya, ‘Maukah tempatmu ini diisi oleh Muhammad sebagai gantimu, sedang kamu berada dalam keadaan sehat wal afiat?’ Jawab Khubaib, ‘Demi Allah, saya tak ingin berada dalam lingkungan anak isteriku diliputi oleh keselamatan dan kesenangan dunia, sementara Rasulullah ditimpa bencana, walau oleh hanya tusukan duri sekalipun.’ Setiap terkenang pada peristiwa yang saya saksikan itu, dan ketika itu saya masih dalam keadaan musyrik, lalu teringat saya berpangku tangan dan tak hendak mengulurkan pertolongan kepada Khubaib, tubuh saya pun gemetar karena takut akan siksa Allah, hingga ditimpa penyakit yang mereka katakan itu.”

Mendengar itu Umar tak dapat lagi menahan diri dan rasa harunya, berserulah ia karena sangat gembira,

“Alhamdulillah, karena dengan taufik-Nya firasatku tidak meleset adanya.”

Dirangkulnya dan dipeluknya Sa’id serta diciumnya kening sahabatnya itu, sahabat yang mulia dan bersinar cahaya.

KisahSahabat · reblog

#lebihdekatdengansahabat 16: Zubair bin Awwam

oleh Muhammad Akhyar

 

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan:).

Sudah setengah bulan Ramadan berlalu, seperti biasa jamaah masjid semakin menyusut ke depan. Namun, saya yakin semangat teman-teman sekalian tentu saja belum juga hilang, malah makin bertambah-tambah. Karena demikianlah hal yang diajarkan Rasulullah dan sahabat-sahabatnya yang mulia. Makin mendekati akhir Ramadan makin semarak ibadah mereka, makin membuncah-buncah semangat mereka meraup keberkahan Ramadan.

Nah, demi itulah kisah ini akan berlanjut. Kisah perkenalan singkat tentang sahabat Rasulullah. Jika kemarin kita telah menyimak untaian kisah menakjubkan dari Thalhah, hari ini kita akan mencoba menelisik orang yang dipersaudarakan oleh Rasulullah dengan Thalhah, Zubair.

Ya, jika disebut nama Thalhah, akan disebut pula nama Zubair. Begitu pula sebaliknya. Rasulullah bahkan pernah berkata,

“Thalhah dan Zubair adalah tetanggaku di dalam surga.”

Memang mereka berdua begitu mirip. Pertumbuhan masa remajanya, kedermawanannya, keteguhan mereka dalam beragama, kekayaannya, dan kegagahberaniannya. Keduanya pun tergolong dalam sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira oleh Rasul masuk surga. Keduanya pun termasuk kelompok sahabat ahli musyawarah yang enam, yang diserahi oleh Umar untuk memilih Khalifah sepeninggalnya. Bahkan akhir hayat mereka pun sama, yaitu gugur di perang Jamal. Perang yang awalnya mereka berada di pihak yang bertentangan dengan Ali, Khalifah saat itu, namun kemudian berbalik berada di pihak Ali karena mereka akhirnya menemukan kebenaran memang berada di pihak Ali.

Jika kita melihat kisah Zubair di awal kehadiran Islam di Mekkah, ada cerita mengharukan yang ia lakukan karena suatu ketika terdengar kabar bahwa Rasulullah telah dibunuh. Demi mendengar kabar itu Zubair langsung menghunus pedang dan mengacungkannya, lalu ia berjalan di jalan-jalan kota Mekkah laksana tiupan angin padahal kala itu ia masih begitu muda. Ia pergi meneliti berita tersebut dengan tekad jika ternyata benar, niscaya pedangnya akan menebas semua pundak orang Quraisy, sehingga ia mengalahkan mereka, atau mereka yang menewaskannya.

Kemudian setelah upaya yang ia lakukan itu, di ketinggian kota Mekkah, Rasulullah menemukannya, lalu bertanya akan maksudnya. Zubair menyampaikan berita tersebut dan menyatakan apa yang telah ia lakukan. Setelah mendengar keterangan itu, Rasulullah langsung memohonkan bahagia dan mendoakan kebaikan baginya serta keampuhan bagi pedangnya.

Dan memang keberanian Zubair tiada duanya. Ia tak pernah ketinggalan dalam perang bersama Rasulullah. Dan karena inilah di tubuhnya dimeriahi bekas-bekas perjuangannya itu. seorang sahabat pernah berujar tentang ini,

“Aku pernah menemani Zubair ibnul Awwam pada sebagian perjalanan dan aku melihat tubuhnya, aku saksikan banyak sekali bekas luka goresan pedang, sedang di dadanya terdapat seperti mata air yang dalam, menunjukkan bekas tusukan lembing dan anak panah. Lalu kukatakan padanya, ‘Demi Allah, telah kusaksikan sendiri pada tubuhmu apa yang belum pernah kulihat pada orang lain sedikit pun.’ Mendengar hal ini Zubair pun menjawab, ‘Demi Allah, semua luka-luka itu kudapat bersama Rasulullah pada peperangan di jalan Allah’.”

Inilah Zubair. Orang yang begitu mendambakan pertemuan dengan kesyahidan. Ia bahkan tak pernah memerintah satu daerah pun, tidak pula mengumpul pajak atau cukai, pendeknya tak ada jabatannya yang lain kecuali berperang di jalan Allah. Mengenai hal ini Zubair pernah berujar,

“Thalhah bin Ubaidillah memberi nama anak-anaknya dengan nama nabi-nabi padahal sudah sama diketahui bahwa tiada nabi sepeninggal Muhammad. Aku menamai anak-anakku dengan nama para syuhada, semoga mereka berjuan mengikuti para syuhada.”

Inilah dia Zubair. Orang yang ketika wafatnya, diberi salam penghormatan oleh Ali,

“Selamat dan bahagia bagi Zubair dalam kematian sesudah mencapai kejayaan hidupnya. Selamat, kemudian selamat kita ucapkan kepada pembela Rasulullah.”

KisahSahabat · reblog

#lebihdekatdengansahabat 15: Thalhah bin Ubaidillah

oleh Muhammad Akhyar

 

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan, 🙂

Sebelum kita lanjutkan kisah sahabat berikut ini, marilah kita simak lantunan surat al Ahzab ayat 23 oleh Rasulullah,

“Di antara orang-orang Mukmin itu terdapat sejumlah laki-laki yang memenuhi janji-janji mereka terhadap Allah. Di antara mereka ada yang memberikan nyawanya, sebagian yang lain sedang menunggu gilirannya. Dan tak pernah mereka mengubah pendirian sedikit pun jua.”

Kemudian, setelah beliau membaca ayat itu yang mulia itu teman-teman, ia menatap wajah para sahabatnya sambil menunjuk kepada seorang sahabat di sana, kemudian berkata,

“Siapa yang suka melihat seorang laki-laki yang masih berjalan di muka bumi, padahal ia telah memberikan nyawanya, hendaklah ia memandang Thalhah.”

Ah, hati siapa yang tak tersanjung, tak tenteram, mendengar pujian seperti itu. Hari ini kita akan mengenal sahabat yang dipuji Rasulullah sedemikian rupa, Thalhah. Tentu kita ingin tahu siapa sebenarnya Thalhah, mengapa ia mendapat pujian begitu tinggi oleh Rasulullah. Namun, kawan sebelum kita ke sana ada baiknya kita melihat sahabat Rasulullah ini beberapa saat sebelum ia masuk Islam. Ya, ia sekarang sedang dalam perjalanan niaganya ke kota Bushra. Thalhah memang dikenal sebagai pedagang di kota Mekkah.

Ketika ia di sana, ia sempat berjumpa dengan seorang pendeta yang sangat baik. Di waktu itu sang pendeta memberi tahu kepadanya, bahwa Nabi yang dijanjikan akan muncul di tanah haram, sebagaimana yang telah diramalkan oleh para Nabi yang saleh. Ia memperingatkan agar Thalhah tidak ketinggalan menyertai rombongan itu. kemudian sewaktu ia sampai di Mekkah, sesudah berbilang bulan ia habiskan dalam perjalanan dagangnya, ia mendengar bisik-bisik penduduk tentang “Muhammad al-Amin” dan tentang wahyu yang datang padanya.

Demi mendengar kabar itu, orang pertama yang ia datangi adalah Abu Bakar. Kemudian diketahuinyalah Abu Bakar pun telah ikut serta dalam agama baru yang dibawa Muhammad. Thalhah pun merenung, ia berpikir,

“Muhammad dan Abu Bakar? Demi Allah tak mungkin mereka akan bersekongkol dalam kesesatan kapan pun!”

Thalhah sangat paham dan mengenal benar siapa Muhammad. Hingga usianya mencapai empat puluh tahun kala itu, belum pernah sekali pun terdengar ia mengucapkan kebohongan. Thalhah pun menuju rumah Abu Bakar, tak lama kemudian mereka pun beriringan, tak sabar hatinya untuk iman itu, pengakuan keislaman di depan Rasulullah.

Sekarang marilah kita melompat sedikit agak jauh ke medan perang yang begitu legendaris setelah Badar, yaitu Uhud. Kita akan melihat saat itu betapa pasukan Muslimin sedang kocar-kacir. Thalhah tak putus-putus perhatiannya ke daerah peperangan tempat Rasulullah berdiri. Bagaimana pun kita telah sama-sama mafhum bahwa Uhud adalah tempat pembalasan dendam orang-orang Quraisy Mekkah atas kekalahan mereka di Badar. Target mereka bukanlah kemenangan tetapi nyawa seorang manusia, Rasulullah yang mulia.

Thalhah melihat dari jauh, pipi Rasulullah bercucuran darah. Beliau menahan sakit yang sangat payah. Kecintaan Thalhah yang begitu besar kepada Rasulullah membuatnya naik pitam melihat hal yang demikian. Ia pacu kudanya menuju arah itu. Di sana ia menemukan betapa banyak pedang orang-orang Mekkah menyambar-nyambar hendak merenggut nyawa Rasulullah.

Thalhah kemudian mengambil posisi melindungi Rasulullah. Thalhah dapat melihat darah Rasulullah yang mulia menetes dan mendengar rintihan beliau. Diraihnyalah Nabi dengan tangan kirinya dari lubang tempat kaki beliau terperosok. Sambil memapah Rasul dengan dekapan tangan kiri ke dadanya, ia mengundurkan diri ke tempat yang aman, sementara tangan kanannya mengayun-ayunkan pedang bagaikan kilat menusuk dan menyabet orang-orang musyrik yang hendak mengerumuni Rasulullah.

Peristiwa ini terekam begitu lekat di ingatan Abu Bakar, mari kita simak penuturan beliau,

“Itu semua adalah hari Thalhah. Aku adalah orang yang mula-mula mendapati Rasulullah, kemudian berkatalah Rasul kepadaku dan kepada Abu Ubaidah ibnul Jarrah, ‘Tolonglah saudaramu itu!’ Kami pun lalu menengoknya, dan ternyata pada sekujur tubuhnya terdapat lebih dari tujuh puluh luka berupa tusukan tombak, sobekan pedang, dan tancapan panah, dan ternyata ada anak jarinya yang putus, kemudian kami pun segera merawatnya dengan baik.”

Inilah Thalhah. Orang yang senantiasa berada di barisan terdepan dalam peperangan namun ketika tugas mulia itu telah ia tunaikan, ia kembali ke perniagaannya. Ia dikenal sebagai muslim yang paling banyak hartanya dan paling berkembang kekayaannya. Namun, tentu saja tak pernah sedikit pun harta itu membuatnya lalai. Ia dikenal sebagai sahabat yang begitu dermawan, bahkan Jabir bin Abdullah menuturkan bahwa ia tak pernah melihat seorang yang lebih dermawan dengan memberi hartanya yang banyak tanpa diminta terlebih dahulu, selain Thalhah.

Mengenai hal ini mari kita dengan tenang menyimak uraian Su’da bin Auf, istri Thalhah berikut,

“Suatu hari saya menemukan Thalhah berduka cita, saya bertanya padanya, ‘Ada apa dengan kakanda?’ Ia kemudian menjawab, ‘Soal harta yang ada padaku ini, semakin banyak juga, hingga ia menyusahkanku dan menyempitkanku!’ Kataku kemudian, ‘Tidak jadi soal, bagi-bagikan saja.’ Ia lalu berdiri memanggil orang banyak, kemudian membagi-bagikannya kepada mereka, hingga tidak ada yang tinggal lagi walau satu dirham.”

Belajar · reblog · they're said

Anak Adalah Hak Prerogatif Allah – Teh Riana

Sundariekowati

Spanyol

Bismillahirrahmaanirrahiim. Assalamu’alaykum Ibu-ibu, semoga semuanya sedang berada dalam kondisi yang paling baik ya, Ibu dan suami sehat, anak-anak pun ceria 🙂

Ngomong-ngomong tentang anak, akhir-akhir ini saya seriiing banget dikasih pertanyaan,

“Kapan nambah?”,

“Udah isi lagi belum?”,

“Kasih Aisya adik atuh supaya di rumah rame. Aisya, pengen punya adik ngga?”,

“Jangan ditunda, mending sekalian banyak biar sekaligus capeknya. Emang di KB?”,

Daaaaan pertanyaan ini diulang-ulang oleh orang yang berbeda, sampai-sampai kalau ada orang yang gelagatnya udah kaya mau menanyakan hal yang sama suka saya jawab duluan.

“Belum”, ucap saya.

“Emang udah tau saya mau nanya apa?”, sahut penanya.

“Mau nanya saya udah ‘isi’ lagi atau belum, kan?”, saya tanya balik.

“Hehehe iya..”, yang nanya terkekeh.

Well, pertanyaan seputar anak tuh bisa jadi sangaaat sensitif buat beberapa orang, nggak terkecuali saya. Tapi kemudian saya berpikir mungkin saat ini Allah SWT justru sedang memberi saya kesempatan sebesar-besarnya untuk jadi ibu yang…

View original post 2,210 more words

Belajar · Hikmah · reblog

Kartini Masa Kini dan Kodrat yang Pudar

kartini 2017

Euforia selebrasi 21 April masih berulang di tahun ini. Anak-anak sekolah kembali memecah perhatian para pengguna jalan dengan kilauan perhiasan sanggul, busana, dan kosmetik yang katanya “Ala Kartini”. Didukung dengan perangkat elektronik canggih abad ini, anak-anak perempuan penerus bangsa itu juga turut disibukkan dengan berfoto ria di setiap sudut jalan dan ruang, mengabadikan momen dan bedak yang tidak anti luntur. Ada yang berkelindan dalam pikiran. Seperti inikah style Kartini tempo dulu? Inikah yang dulu diperjuangkan Kartini lewat tulisannya? Lalu dimanakah sebenarnya relevansi antara meneladani spirit belajar Kartini dengan merias rupa anak-anak sekolah dengan make up super tebal?

Terpisah dari anak-anak perempuan dan para calon ibu di masa depan itu, tulisan-tulisan seputar Kartini masih membanjiri media sosial. Siapa dan bagaimana Kartini terus menuai pro-kontra. Ada yang menyoroti fakta kedekatan Kartini dengan Belanda dan Theosofi. Ada juga yang menelisik sisi spiritualitas Kartini. Namun kali ini, mari sejenak kita melepaskan diri dari pro-kontra…

View original post 737 more words

Belajar · reblog

Tetap Berprestasi dengan Hijab Syar’i

Hijrah kita jangan berhenti di titik hijab syar’i. Lejitkan potensi diri, meraih ridha illahi, jannah adalah tempat kita mengistirahatkan diri…:)

textgram_1493202477Materi Kulwap FULDFEI (18 Februari 2017)

Dengan mengharap ridha Allaah, materi ini ditulis dan disampaikan oleh @laninalathifa. Semoga Allaah meridhai amal yang sedikit ini…

Bismillaahirrahmanirrahim,

Alhamdulillaah, hari ini istilah hijab syar’i sudah bukan lagi istilah asing. Bahkan ia sudah menjadi semacam trend. Semoga trend yang positif, yang menyadarkan Muslimah bahwa berhijab bukanlah puncak sebuah amal. Justru ia termasuk perkara dasar yang wajib diilmui dan diamalkan seorang Muslimah.

Hijab dimaknai sebagai penghalang. Sesuatu yang menghalangi. Memangnya apa yang dihalangi dari seorang perempuan? Ingat, perempuan dianalogikan sebagai perhiasan. Itu artinya, dari sisi dan sudut manapun, perempuan itu pasti memiliki daya tarik.

Maka hijab sebenarnya bisa dimaknai sebagai 2 hal.

Pertama, hijab sebagai pakaian, sebagaimana yang telah kita pahami selama ini. Fungsi hijab disini adalah untuk menutupi aurat. Lebar, longgar, tidak menerawang. Memakainya adalah untuk ‘menyembunyikan’ kecantikan, bukan malah untuk menarik perhatian.

Lalu hijab yang kedua adalah hijab interaksi. Terhadap siapa? Terhadap lawan…

View original post 791 more words

Tak Berkategori

Menyatukan Frekuensi

munir 2

Pernah suatu saat saya terbayang, sebenarnya apa sih yang membuat Suciwati kala itu begitu mantap menerima pinangan Munir; lelaki yang “sukses” menjadi “buronan” aparat pemerintah karena keberanian level singa dalam mengungkap borok dalam kasus penegakan hukum dan HAM di Indonesia. Tapi seketika rasa penarasan saya terjawab karena teringat sebuah kalimat, bahwa seorang lelaki bermental singa, tentu layak mendapatkan perempuan yang bermental singa pula. Saya rasa, keduanya memang klop. Laiknya pedang bertemu baju besinya yang saling menjaga, menguatkan, dan mendukung. Kisah Munir dan orang-orang bermental pejuang yang semisal dengannya, memang selalu menarik diungkap dari sisi yang berbeda. Sebagai wanita, tentu kita perlu tertarik untuk menelisik kisah sepak terjang sang istri. Apa yang membuatnya seberani itu bersuamikan lelaki yang namanya –jika boleh dikatakan–, “di-blacklist pemerintah”, karena dianggap membahayakan kaum elite yang haus harta, tahta, dan tentu saja… darah.

“Pahlawan adalah Martir Kebebasan.”

Saya teringat kata-kata Suciwati tentang sang suami, yang diungkapkannya…

View original post 744 more words

Harta Karun · Hikmah · reblog

Prestasi

oleh Lanina Lathifa

Kitab biografi Khadijah dan ‘Aisyah (radhiyallaahu ‘anhuma) lebih tebal mana?

Ternyata lebih tebal biografi ‘Aisyah.

Mengapa? (1)

Karena, sejarah (dalam hal ini adalah peran ulama’) telah merekam jejak dan karya ‘Aisyah dalam ranah ilmiah memang sangat banyak.

Mengapa? (2)

Karena…

Rasulullaah wafat di saat beliau masih berusia 18 tahun. Beliau masih sangat belia, dan kala itu belum dikaruniai buah hati. Yap, bersama ‘Aisyah, Rasulullaah memang tak dianugerahi keturunan –dan itu tak mengurangi kemuliaan beliau sebagai Ummahatul Mukminin–

Di tengah “kesendiriannya”, apakah kemudian beliau larut dalam kegalauan hebat?

Ternyata tidak.

‘Aisyah memilih untuk fokus berkarya, mewariskan prasasti ilmiah yang diwariskan oleh suaminya sendiri; Rasulullaah. Beliau berkhidmat menjadi oase kedua bagi masyarakat di sekitarnya, melalui karya-karya ilmiah. Maka tak heran, ibunda ‘Aisyah pun mampu mengukir prestasi sebagai satu-satunya perempuan yang menduduki posisi keempat dalam jajaran “The Big Seven Perawi Hadits Terbanyak”.

(Ummu Salamah termasuk istri yang juga banyak meriwayatkan hadits Nabi, namun tak sebanyak ‘Aisyah –dan itu tak mengurangi kemuliaan beliau sebagai Ummahatul Mukminin–)

Maka kemudian, karena prestasi ilmiah beliau inilah yang membuat biografinya terhimpun lebih kompleks dibanding Khadijah. Padahal Khadijah pernah disebut Rasulullaah sebagai sebaik-baik wanita ahli surga. Hal ini sampai pernah membuat ‘Aisyah cemburu.

Nah jadi, mengapa? (3)

Mengapa kisah Khadijah tak setebal kisah ‘Aisyah?

Karena…

Karya dan prestasi beliau adalah fokus mendidik anak.


Nah jadi…

Kemuliaan seorang perempuan itu memang tak pernah diukur dari sehebat apa ia berkarir. Khadijah dan ‘Aisyah, keduanya adalah perempuan istimewa di bawah didikan lelaki istimewa pula. Entah menjadi seorang ibu ataukah istri (karena belum dianugerahi buah hati), keshalihannya tetap memancar kuat.

Dalam Al-Qur’an pun, peran wanita setidaknya terbagi menjadi 3 (lebih lengkapnya in syaa Allaah disambung di kuliah 3 atau seterusnya), yaitu:

1. Sebagai pribadi muslimah – lajang (yang sepenuhnya masih menjadi “milik orangtuanya), maka dia pun memiliki kewajiban untuk fokus berbakti kepadanya.

2. Sebagai seorang istri (ternyata porsi inilah yang prosentasenya disebutkan paling banyak di dalam Al-Qur’an) – fokus mengupayakan keridhaan suami.

3. Sebagai seorang ibu (prosentase terbesar kedua) – fokus mendidik anak.

Oleh sebab itu, sangat penting bagi kita memahami esensi peran kita sebagai muslimah, sebagai hamba Allah.

“Setiap upaya kesungguhan untuk mendapatkan ridha-Nya, pasti akan menuai ujian dimana-mana – bagaimanapun bentuknya. Tugas kita bukan menghindar atau mencari-cari alasan, namun menguatkan kesabaran.”

Sebagai apapun kita kelak, wanita shalihah akan tetap istimewa. Mari mulai berbenah. 🙂

–Tulisan ini disarikan dari materi Ust. Budi Ashari, Lc dalam Stadium General Akademi Keluarga Parenting Nabawiyah di Semarang