Dear · Hikmah · mentoring · Meracacacau · Tarbiyah · Ukhuwwah · Uneguneg

Orang Indonesia kan begitu

duh dek,
orang Indonesia mana yang sudah tega menanamkan judge ini kepada anak belia spertimu yang bahkan negara saja belum menyatakanmu dewasa.

sedih.

yang bilang kalimat ini ga hanya omdo, nyatanya saat janjian berangkat bersama untuk rihlah pengurus Rohis, si Kaput Rohis ini adalah orang kedua yang datang beberapa puluh menit sebelum waktu kesepakatan :”).

siapa yang datang pertama?
ada si R, sang Ketua Rohis :”).

“R mah emang gitu kak orangnya, selalu datang ontime, eh before time :D”

maasyaaLlaah :”),

R ini, kalau mendengar penuturan langsung dari kakak alumni ikhwan, awalnya sama sekali ga tertarik untuk jadi ketua Rohis. R menolak untuk memegang amanah itu.

“tapi, pas R abis dilantik jadi ketua Rohis, R ngejapri ane, dia tanya ‘Kak, apa yang harus disiapkan untuk menjadi Ketua Rohis yang baik?'”.

Huwaaa tetiba langsung melted :”””).

R si ketua Rohis yang penampakannya paling sholih 😅, yang berusaha untuk selalu ontime, yang saat rihlah kemarin, seorang diri mencatat dibuku catatan saat sesi materi berlangsung, yang mengajukan pertanyaan terakhir kepada pemateri “Kak, kakak pernah ngerasa capek gak ngurusin dakwah?, boleh capek ga sih kak?”

:””),

AlhamduliLlaah,
AlhamduliLlaah,
Alhamdulillaahirobbil ‘aalamiin,

karena si Kaput dan R adalah salah dua dari anak muda yang dimiliki Indonesia saat ini :”), mereka adalah calon generasi yang akan mewujudkan setiap asa dan doa baik untuk Indonesia di masa depan, insyaaLlaah :”).

sampai suatu hari nanti, yang akan terdengar adalah,

“oke kak, kita berangkat jam setengah 8. insyaaLlaah teman teman semuanya sudah hadir lengkap di stasiun jam setengah 8. kan, orang Indonesia begitu :”).

Advertisements
Belajar · Dear · Harta Karun · Hikmah · Tarbiyah · they're said

Nasihat: Apakah Menikah Sama dengan Pacaran?

disalin dari laman nakindonesia.tumblr.com

Ketika ditanya tentang konsep pernikahan, mungkin yang kita bayangkan adalah segala hal yang indah. Cobaan yang sebelumnya ada akan hilang, kehidupan bahagia, indahnya membaca Quran berdua bersama pasangan, dunia serasa milik berdua. Begitu bukan?

Konsepsi kita tentang pernikahan sudah banyak dicemari oleh pemikiran modern, dimana yang ada hanyalah kesenangan. Jika kesulitan melanda, kita tinggal pergi begitu saja. Itu sebenarnya adalah konsep dari pacaran.

Bukankah menikah itu hal yang jauh lebih besar dibanding sekadar pacaran?

Akan ada hambatan, kesulitan, kita harus memahami kebiasaan pasangan, memahami keluarga pasangan, dsb. Biasanya ini terjadi setelah menikah selama beberapa tahun, karena yang terpikir di awal pernikahan adalah, “Aku sayang dia, apapun yang dia lakukan dapat kuterima…”. Namun setelah beberapa waktu, masalah kecilpun dapat menjadi besar. Hal ini tidak terjadi dalam pacaran, karena biasanya ketika kita bosan dengan seorang pacar, tinggal diputuskan lalu cari yang baru.

Menikah tidak sama dengan pacaran, menikah adalah sebuah komitmen yang sangat serius, bahkan Alquran menggunakan terminologi yang sangat kuat untuk hal ini;

وَالْمُحْصَنٰتُ, مُحْصِنِينَ

Kata “Ihsan” dalam bahasa Arab digunakan sebagai istilah untuk menempatkan seseorang di dalam benteng. Konsepnya adalah kondisi di luar benteng berbahaya, maka ada seseorang yang harus ditempatkan di dalam benteng. Siapa orang tersebut? Ialah sang istri. Siapa bentengnya? Tentu sang suami. Kondisi bahaya apa yang dimaksud? Segalanya. Mulai dari kesedihan, kesulitan, pendidikan, dan lainnya.

Jadi, ketika menikahi seseorang dengan alasan yang salah, hanya untuk memuaskan nafsu hormonal, maka kehidupan kedepan akan sulit dan menyedihkan. Namun ketika pernikahan diniatkan untuk menjalankan sunnah Allah, membentuk keluarga rabbani untuk menebar kebaikan di masyarakat, Insya Allah, Allah akan membantu.

Prinsip pernikahan yang harus digarisbawahi adalah;

Pikirkan tanggung jawab yang kamu emban, lupakan hak yang harusnya kamu terima.”

Mungkin terlihat sangat keras, namun hal tersebut harus dicoba. Untuk suami misalnya, pikirkan apa yang sedang dibutuhkan sang istri? apa yang dapat dilakukan? Kado apa yang cocok untuknya? Ketika sang istri berbuat salah, cepat lupakan dan maafkan, dsb.

Karena seharusnya kita tahu, ketika berekspektasi banyak kepada sesama manusia, termasuk kepada pasangan, kita mungkin akan kecewa. Ketika kita terus menuntut kepada pasangan agar berlaku lemah lembut, selalu menemani, selalu tersenyum, dsb, hal tersebut tidak akan berakhir dan akan berujung pada kekecewaan.

Kepada siapa orang beriman harusnya berharap? Tidak lain hanyalah kepada Allah, bukan kepada manusia. Manusia adalah makhluk yang lemah, tidak akan mampu memenuhi semua ekspektasi terhadap dirinya.

Ketika kita sudah terbiasa dengan prinsip di atas, lalu pasangan kita melakukan sesuatu yang kecil untuk kita, apa yang terjadi? Kita akan sangat bersyukur, bertambah rasa kasih sayangnya, bersyukur menjadi pasangannya… Karena sebenarnya kita tidak mengharap apapun darinya 🙂

-A-

Hikmah · Meracacacau · Uneguneg

Cinta Indonesia Untuk Palestina

tumblr_p13xhvL7gu1tx1ff5o1_540

ada banyak orang Indonesia yang saya temui pagi ini disalah satu landmark utama, ciri khas dari ibu kota negara ini :“),

ada abang abang yang sempat berjalan di depan kiri saya, di telinga sebelah kanannya nampak terpasang perhiasan telinga berwarna hitam :”),

ada juga bapak bapak, yang saat saya lewati tempatnya duduk beralaskan alas duduk waterproof gocengan, klaim bapak penjualnya. Alas ini benar benar multifungsi, bisa diletakkan dibawah saat ingin duduk, atau sebagai payung saat terik matahari atau saat rintikan prajurit Nya mulai membasahi bumi. Tak kan rugi berjualan ini :“). Bapak yang tadi ini membuat semacam asbak sederhana dari kantong kresek putih, saya melihatnya berteriak takbir dengan keras, tak lupa diiringi dengan kepalan tangan beserta lintingan tembakau dan nikotin nya kearah langit. Entah sudah berapa lama bapak ini duduk disana, yang terlihat hanya asbak sederhananya yang hampir penuh disesaki sisa putung yang tak dihabisi dan abu nya.

saat baru keluar stasiun yang terletak didaerah Menteng, pusat Jakarta saya mendapati abang abang penjual tongsis sudah berdiri eksis menawarkan dagangannya. Awalnya saya sempat heran, Lha kenapa abangnya jualan tongsis, kenapa ga jualan atribut muslim atau palestina yang lebih sesuai dengan tema nya. Selang beberapa langkah saya berjalan, saya menemukan jawabannya sendiri. Dan semakin banyak langkah diperjalanan, semakin banyak pula jawaban yang saya temukan :P.

Semakin mendekati main point tempat panggung utama, semakin sinyal internet sulit hinggap di mobile phone.

“wah iya kak, sinyal internetnya ga ada?!”
“oh mungkin, untuk meng-counter supaya pahala yang didapat, tidak menguap begitu saja karena upload photo tanpa persiapan niat yang lurus :P”

dari sekian banyak manusia Indonesia dan tingkah lakunya yang saya lihat hari ini, ada satu yang paling berkesan bagi saya pribadi :“).

 

Polisi-berjaga-di-depan-Kedutaan-Besar-Amerika-Serikat-saat-Aksi-Bela-Palestina-Ahad-17-12-2017b
pict from here

Saat melihat abang satgas berseragam PDL putih putih dari topi sampai sepatu menegur dengan sangat ramah kepada seorang bapak bapak yang terlihat menginjak rerumputan di depan bangunan tempat perwakilan USA di negri ini -yang fyi, diborder dengan sangat ketat oleh bapak bapak berseragam coklat coklat. yang padahal massa utamanya ga berkerumunan disitu, dan paling paling orang orang berkerumuan disini hanya untuk mengisi energi, karena ada dua mobil besar kalo ga salah dan tenda besar yang berspandukkan food container-.

kata-kata yang terlontar dari abang satgas yang diakhiri dengan sebuah senyuman ini seolah menunjukkan kepada bapak bapak berseragam coklat dan kepada seluruh dunia fana ini, bahwa kami yang datang pagi ini tidak ada niatan se-femtometer pun untuk merusak bangunan besar yang ada dibelakang bapak bapak berseragam coklat itu berdiri. Keutuhan rumput saja berusaha dijaga dari fitnah mata, prasangka dan lisan orang orang yang belum mengenal lebih dekat dengan dien ini :”). Apalagi keutuhan bangunan yang segede gaban itu :P.

banyaknya ragam manusia Indonesia dengan segala tingkah laku dan atribut yang dipakainya pagi ini, semuanya menunjukkan satu hal yang sama, bahwa kami Indonesia, kami cinta dan siap membuktikan cinta kami untuk baitul maqdis dan Palestina :“).

 

Belajar · Dear · review · they're said

Menjadi Ayah Nomor Satu

oleh Muhammad Akhyar

Saya tak tahu apa yang menjadi motif Andrea Hirata sehingga dalam novel-novelnya senantiasa muncul tokoh Ayah. Uniknya, dalam cerita orang-orang Melayu itu, gambaran ayah yang ia hadirkan jauh dari stereotip laki-laki Melayu yang kebetulan menjadi ayah. Sebagai orang Melayu Kampung, paham benar saya tabiat ayah-ayah di kehidupan orang-orang Melayu. Ayah dalam tradisi Melayu adalah sosok patriarch, pihak yang ditakuti anak ketika mereka belum berangkat mengaji. Hal ini sama sekali tak tampak pada diri Seman Said Harun ayah Ikal di Tetralogi Laskar Pelangi dan Sebelas Patriot, Zamzami ayah Enong di Dwilogi Padang Bulan, Sabari bin Insyafi di novel Ayah, hingga Sobirinudin ayah daripada Sobrinudin alias Sobri alias Hob alias Bang Ganjal Lemari di Sirkus Pohon.

Ayah-ayah yang ada pada tulisan-tulisan Andrea Hirata bukanlah macam ayah kebanyakan yang dimiliki anak-anak Melayu Kampung. Jenis ayah yang tahunya cuma mencari duit lalu memberikannya duit itu kepada sang isteri setelah sebelumnya telah ia belikan beberapa bungkus rokok dan segelas kopi susu jelas jangankan hadir, menyerempet pun tidak pada ayah-ayah di cerita Andrea Hirata.

Ayah-ayah ajaib yang lain dari pada yang lain dalam ceritera Andrea Hirata ini sedikit banyak selalu berhasil membangkitkan kenangan saya pada ayah saya sendiri. Ayah saya berbagi beberapa sifat dengan ayah Ikal, Enong, Amiru, dan tentu saja Hob. Ragam sifat itu, entah bagaimana, saya kira adalah perangai yang mestilah diadopsi oleh laki-laki manapun di dunia jika mereka ingin dianggap sebagai ayah nomor satu.

Diam itu Emas

Orang-orang Melayu memiliki beberapa kearifan tak tercatat. Salah satunya adalah jika seorang pria Melayu tak pandai berpencak silat, paling tidak ia harus mahir bersilat lidah. Dan lagi-lagi, para ayah ajaib karangan Andrea Hirata tak mahir dalam hal-ihwal silat ini. Ayah-ayah ini mungkin adalah pengikut Nabi Muhammad sejati. Mereka paham benar bagaimana menjalankan hadis yang berbunyi,

barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.

Tentu pembaca Andrea masih ingat fragmen ketika Seman Said Harun bersepeda belasan kilometer lengkap dengan safari kantong empat untuk menghadiri pembagian rapor anaknya. Saat anaknya mendapat prestasi atau sebaliknya, ia tak banyak berkomentar. Ia cukup menepuk bahu anaknya lalu berucap salam ketika hendak pulang kembali ke Gantong. Akan tetapi, sedikitnya kata-kata yang mereka keluarkan dalam keseharian, membuat anak-anak mereka begitu fasih menafsirkan apa-apa makna yang tersaji dari gerak tubuh ayah mereka, dari raut wajah ayah mereka. Apakah sedang sedih. Apakah sedang merasa bangga.

Miskin Boleh, Menyerah Jangan

Ayah-ayah dalam novel Andrea tak pernah punya profesi mentereng. Pekerjaan mereka berkisar di antara pendulang timah, buruh batako, hingga penjual minuman ringan di stadion kabupaten. Meskipun demikian mereka bukanlah tipikal laki-laki Melayu yang pagi-pagi masih bersarung kemudian ketika petang menjelang berangkat ke kedai kopi untuk menumpang membaca koran dan membahas isu politik terkini lalu baru pulang ketika jamaah Isya sudah tak tersisa lagi di masjid.

Lihatlah Zamzami yang ingin membelikan Kamus Bahasa Inggris Satu Miliar Kata kepada anaknya Enong. Ia bekerja jauh lebih keras di tambang, sehabis itu jika kebetulan sedang ada orkes Melayu akan tampak Zamzami berjualan nira. Hari Sabtu ketika tambang libur, ia berangkat ke laut untuk mencari kerang. Hari Minggu ketika tambang juga libur, ia menjual tebu yang ia kupas dan potong kecil-kecil lalu ditusuk dengan lidi. Bangun Pagi, Let’s Go!

Nasihat Itu Diperlihatkan Bukan Diperdengarkan

Saya tak tahu buku psikologi apa yang dibaca Andrea sehingga ia tahu saripati ajaran dari tokoh Social Cognitive Psychology, Albert Bandura, children learn by what you do, not what you say. Sobirinudin tak pernah berceramah jikalau perbuatan jujur itu adalah batas antara orang beriman dan yang bukan. Syahdan, Sobirinudin membantu seorang juragan kopra menurunkan kopra dari perahu. Entah bagaimana sang juragan berlebih membayar Sobirunudin. Sobirinudin menitipkan kelebihan uang tujuh ribu Rupiah itu kepada nelayan yang bertempat tinggal yang sama dengan juragan kopra. Lama berselang, ternyata sang juragan telah meninggal dunia. Nelayan yang dititipkan uang mengembalikan uang kepada Sobirinudin. Sobirinudin kemudian mencari-cari sanak famili dari juragan. Baru sepuluh tahun kemudian ia berhasil menemukan cucu si juragan untuk kemudian mengembalikan uang tujuh ribu tadi, meskipun lembaran uang itu tentu saja sudah tak laku lagi. Sungguh perilaku yang membuat saya berujar “mantap jiwa” ketika membaca bagian ini.

Mencintai Bukanlah Perkara BasaBasi

Jika anakmu berprestasi tentu mudah bagimu berkoar-koar ke semua teman-temanmu, handai taulanmu, karib kerabatmu, “itu anak saya!” Lalu bagaimana jika anakmu ternyata sebaliknya? Ia memilih berkarir di bidang yang tak engkau harapkan. Ia menekuni pendidikan yang tak engkau rekomendasikan. Ia mencintai orang yang tak engkau sukai. Pendek kata, ia melakukan hal-hal yang tak akan mungkin engkau bisa banggakan. Itulah yang harus dihadapi Sobirinudin terhadap anak nomor empatnya Hob. Anak laki-laki pertama dan keduanya adalah pejabat di PN Timah. Yang ketiga PNS di kantor Syahbandar. Anak bungsunya, Azizah SD hingga SMA selalu peringkat satu. Sementara Hob, lulus SMP pun TIDAK. Astagfirullah.

Lalu apa pandangan Sobirinudin? Ia tak mengutuk anaknya. Ia tak mengatakan, “itu salah isteriku.” Ia malah selalu menganggap Hob sebagai pemain cadangan andalan alias super sub yang disimpannya untuk satu pertandingan final yang menentukan nanti. Mirip-mirip bagaimana Sir Alex memperlakukan Ole Gunnar Solskjær di Manchester United. Sobirinudin adalah pelatih yang sabar. Ia tabah menunggu sepuluh, lima belas, hingga dua puluh tahun untuk kemudian membiarkan anaknya masuk ke lapangan sebagai pemain pengganti, lalu membuat satu keajaiban. Mencintai bagi orang-orang macam begini berarti mempercayai. Dan anak-anak yang dibesarkan dengan cara seperti ini selalu tahu bahwa setiap kepercayaan tak bisa tidak harus dibayar, bisa lunas segera, bisa pula dicicil selagi nyawa masih di raga.

Jika kamu, masih berminat untuk menjadi ayah nomor satu, semoga catatan ini bisa membantumu mewujudkan impianmu itu. Ojeh?

*all pict taken from Pinterest :”)

Belajar · Dear · Harta Karun · reblog · they're said

3 Pertanyaan Unik tentang Jodoh & Nikah

half deen
pict from here

 

oleh Bunda Sinta Yudisia

Belum pernah nih, saya dapat pertanyaan unik macam begini!

Acara macam ini biasanya diminati oleh para muda-mudi usia 20 tahun ke atas yang sudah mulai memasuki usia nikah. Persiapan pra nikah menjadi pembahasan yang sangat dinamis serta menimbulkan banyak pertanyaan misterius. Biasanya, seminar pra nikah memunculkan pertanyaan-pertanyaan seperti apa dan bagaimana memilih jodoh, bagaimana meyakinkan orangtua, bagaimana belajar mencintai, apakah karier atau rumah tangga dulu dst.

Kali ini, di Rumah Keluarga Indonesia, Bangkalan, saya dapat pertanyaan menarik yang membuat makjleb dari peserta.

 

Masyaallah, Subhanallah…peserta yang masih berusia muda ini ternyata memiliki pemikiran matang dan sangat bijaksana. Saya sampai terkaget-kaget mendapat pertanyaan demikian.

3 pertanyaan unik yang diajukan mereka adalah :

  1. Perempuan kan posisinya menunggu. Bagaimana cara kita bersabar menerima takdir ketika mungkin, hingga meninggal kita tidak menikah?
  2. Biasanya seorang muslimah memilih lelaki sholih. Kalau saya tidak. Saya justru ingin mendapatkan lelaki yang biasa-biasa saja, dan ingin membimbingnya. Salahkah keinginan itu?
  3. Apakah pernikahan yang sudah berjalan 23 tahun, dapat dikatakan pernikahan yang barakah?
an naba 8
pict from here

Gadis Menunggu atau Mengajukan Diri?

Paradigma bahwa perempuan atau gadis menunggu dan menanti untuk dipilih, dipahami oleh masyarakat kita sebagai tindakan pasif. Padahal, dalam sejarah Islam, perempuan tidak selalu wajib menunggu. Contoh paling dikenal adalam masyarakat Islam adalah ketika bunda Khadijah mencari suami dan memilih nabi Muhammad Saw. Bunda Khadijah mengutus pembantunya untuk mencari tahu tentang pemuda Muhammad.

Apakah tindakah bunda Khadijah tercela? Tidak.

Bahkan tindakan beliau sangat mulia. Beliau mencari lelaki sholih, tidak peduli usia dan status sosial. Pemuda Muhammad saat itu belum menjadi Nabi dan beliau masih berstatus pedagang. Meski dikabarkan sebagai pedagang sukses, tentu secara kekayaan pemuda Muhammad belumlah sama seperti bunda Khadijah. Dalam hal ini, perempuan tidaklah diharamkan mengajukan diri kepada lelaki tetapi tetap melalui kaidah-kaidah syari. Ada beberapa kisah nyata dalam dunia sehari-hari.

 

Kisah 1

Sebut saja namanya Ayu. Ayu, berasal dari sebuah desa kecil di Jawa. Ia mengajukan diri untuk dinikahi oleh Umar, teman satu kampusnya. Tentu saja Umar terkejut dan dapat dipastikan, pemuda itu menolak. Muslimah berjilbab, aktivis rohis, kok mengajukan diri minta dinikahi? Kayak kebablasan, gitu! Tetapi Ayu rupanya bukan akhwat iseng yang main tembak ikhwan. Meski ditolak, Ayu mengajukan diri lagi untuk dinikahi Umar. Beberapa kali terjadi tolak menolak, Umar akhirnya penasaran mengapa Ayu berani mengajukan diri. Jawaban Ayu membuat Umar takluk.

“Umar, saya berasal dari sebuah desa kecil. Besar harapan saya saya kembali ke desa, dan membangun desa saya. Di kampung, hanya saya satu-satunya yang sekolah sampai tinggi. Kalau saya menikah dengan pemuda lain daerah, saya akan dibawa pergi. Sebagai istri yang taat tentu saya akan mengikutinya kemanapun. Tetapi saya sangat berharap bisa kembali ke kampung halaman, maka saya mencari tahu siapa pemuda kampung terdekat yang juga sekolah tinggi. Ternyata saya menemukan nama kamu, Umar. Maka saya mengajukan diri untuk dinikahi. Kalau kamu kembali ke kampungku, berarti saya juga bisa membangun desa saya yang masih tertinggal.”

Masyaallah.

Sungguh, cita-cita Ayu bukanlah cita-cita rendahan.

Ia menembak Umar bukan lantaran ia aktivis, cakep, terkenal di kampus, dambaan para gadis dan seterusnya. Kejujuran Ayu membuat Umar mantap untuk memilihnya. Alhamdulillah mereka kemudian menikah.

 

Kisah 2

Sebut namanya Ina.

Iapun mengajukan diri untuk dinikahi. Tetapi berbeda dengan Ayu, ia tidak punya calon untuk dituju. Kemiripan dengan Ayu adalah mereka sama-sama orang kampung yang kental dengan segala ragam tradisi, termasuk dijodohkan. Ina, selepas kuliah, tahu-tahu harus pulang kampung karena orangtuanya menjodohkannya dengan seorang pria. Tentu saja, Ina yang tengah belajar menjadi muslimah sejati, kalang kabut. Bagaimana ia dapat menerima pilihan orangtuanya? Jangankan memahami Islam secara kaffah, kebiasaan merokok dan melalaikan sholat masih dilakukan pemuda itu. Akhirnya Ina mengontak teman lelaki di kampusnya.

“Adakah ikhwan yang bersedia menikahi saya? Secepatnya melamar pada orangtua saya. Sebab saya dalam kondisi terdesak.”

Masyaallah…kesungguhan Ina untuk menjaga dirinya ternyata didengar Allah. Dia menggerakkan hati seorang pemuda sholih untuk segera melamarnya, hanya selang sehari ketika permintaan Ina terdengar di telinga para ikhwan. Alhamdulillah…Ina dan pemuda sholih itupun menunju pelamainan dan langgeng hingga kini.

 

Pembaca,

Tentu tidak semua gadis seberuntung Ayu dan Ina yang ketika meminta mengajukan diri, pemuda yang dituju berkenan meluluskan. Stigma masyarakat bahwa ketika perempuan minta dinikahi pasti ada “apa-apanya”. Naksir berat, tidak laku, atau bahkan sudah MBA. Wajar bila masyarakat melihat demikian, sebab di belahan dunia Timur, lelaki masih memegang tampuk kepemimpinan dengan gaya maskulin. Ngapain ngejar-ngejar nikah kalau bukan kepepet, kalau bukan karena punya maksud tersembunyi?

Namun kita bukan sedang membahasa bab feminisme di sini. Kita membahas kemaslahatan. Kadang, seorang pemuda memiliki banyak pertimbangan dan tidak melihat dari sisi yang lain. Sementara seorang gadis melihat dari sisi yang lain pula. Tidak megnapa seorang gadis membantu seorang pemuda untuk melihat dari sudut pandang lain bahwa kebutuhan menikah harus disegerakan karena berbagai hal : menjaga agama, tuntutan keluarga, kebutuhan diri sendiri dan seterusnya. Selama hati mencoba tulus dan jujur serta bersungguh-sungguh, Allah akan bukakan jalan. Dan, berhati-hatilah ketika seorang gadis mengajukan diri. Kaidah syari tetap dijaga, jangan melampaui batas dan menggunakan jalur tertutup atau rahasia. Tidak menembak di depan umum apalagi di media sosial!

Lalu bagaimana ketika lelaki yang diinginkan belum kunjung tiba?

Selalulah bersandar pada Allah.

Saya teringat seorang ustadz penghafal Quran yang memebrikan nasehat di kelas, ketika saya mengikuti kelas pembukaan menghafal Quran :

“Allah akan menepati janji sampai seorang hamba benar-benar mencari ilmu dan mengamalkannya.”

Saya baru akan jadi penghafal Quran kalau bersungguh-sungguh mencari ilmu tentang menghafal Quran sekaligus mengamalkannya. Insyaallah Dia akan bukakan jalan dalam penemuan jodoh impian ketika seorang manusia bersungguh-sungguh mencari ilmu dalam menyempurnakan ½ diin sekaligus mengamalkannya : mengamalkan cara berkomunikasi, mengamalkan cara besabar dan mengalah, mengamalkan cara mandiri finansial dst. Sebab ketika ilmu itu tidak dipelajari dengan sungguh-sungguh dan diamalkan, lalu terjadi pernikahan; akan terjadi pernikahan dan pembangkangan. Terjadi pernikahan dan ketidak pedulian. Terjadi pernikahan dan keegoisan. Terjadi pernikahan dengan segala unsur kerusakan. Dalam proses penantian itu, hari demi hari adalah tabungan pahala, tabungan keindahan balasan, tabungan berita gembira bagi seoarng hamba yang taat menjauhi maksiat demi meraih ridhoaNya dalam menjadi pangeran dan putri impian.

 

2b59c41f35cf10f5e36c5893aded3230
pict from here

Memilih Lelaki Biasa-biasa saja

Di awal acara, ditayangkan liputan patah hati netizen ketika Muzammil Hasballah menikah dengan Sonia. Duuuuh, sedihhhh. Cowok seperti itu jarang banget stoknya di atas muka bumi. Maka ketika sold out, hiks-hiks, hati patah deh…

Namun, ada seorang muslimah yang berani berpendapat : kalau saya ingin menikah dengan lelaki yang biasa-biasa karena ingin membantunya memahami agama, apakah salah?

Hm, Pembaca, segala sesuatu pasti ada konsekuensinya.

Punya suami atau istri penghafal Quran sangat membanggakan. Tetapi bukan berarti tidak ada tantangan. Seorang penghafal Quran, sebut saja namanya ustadz Sholih, sangat berhati-hati memilih makanan. Istrinya nggak bisa memasak sembarangan, membeli makanan pabrik di toko, sebab istri harus menjaga ustadz Sholih dari makanan tidak halal, bahkan makanan syubhat. Ustadz Sholih ini hanya mau makan masakan istrinya yang sudah terjamin kehalalannya. Repot kan? Nah, ternyata punya suami hafidz tetap aja ada ujiannya. Jangan dipikir enak, melejit followers, dipuja sana sini ketika punya suami hafidz!

Punya istri hafidzah juga begitu.

Ada seorang suami yang punya istri hafidzah. Ia menyadari betul keutamaan istrinya, maka ia rela mengerjakan seluruh pekerjaan rumah sembari menjadi pengusaha. Pekerjaan utama istrinya adalah menghafal Quran. Sebab, memang butuh waktu spesial untuk memelihara 30 juz. Dan , sang istri yang hafidzah itu lebih sering menerima undangan untuk mengisi pengajian. Eit, bukan berarti sang istri yang hafidzah ini menindas suami. Bukan, ya!. Ia juga rajin membantu usaha suami, rajin berbenah juga. Tetapi ketika pagi hari, saat dhuha para istri atau ibu biasanya sibuk memasak dan mencuci; sang hafidzahjustru sibuk murojaan Quran. Ia mengerjakan pekerjaan rumah di waktu yang lain. Tentu, memiliki istri hafidzah membanggakan, tetapi seorang suami juga harus siap dengan konsekuensinya.

 

Bagaimana dengan punya suami biasa-biasa saja?

Ini juga  bukan pilihan jelek, apalagi diniatkan untuk membimbing lelaki yang belum tahu agama menjadi tahu agama. Bayangkan pahala yang didapat seorang istri, semisal mampu mengajak suaminya yang bertatto untuk rajin ke masjid. Atau bagaimana punya suami perokok untuk jadi penyuka shaum sunnah. Atau yang tadinya suka nge mall, dugem, lalu suka main ke masjid dan mendengar kajian kitab. Besar banget pahal istri seperti ini kan? Tetapi seorang gadis harus siap. Bahwa memiliki suami yang biasa-biasa saja, ia harus berkorban banyak hal, terutama kondisi emosional. Lelaki yang biasa mungkin belum tahu hijab, sehingga kedekatannya dengan beberapa perempuan membuat istri cemburu. Lelaki biasa belum tahu syubhat dan halal, sehingga main terobos sana sini ketika cari uang.  Lelaki biasa-biasa saja mungkin masih harus dibangunkan untuk sholat, di saat istri ingin sekali diimami sholatnya dan mendengarkan bacaan Quran yang tartil.

Memiliki suami hafidz  atau suami biasa-biasa saja, tetap ada konsekuensinya!

Yang pasti, luruskan niat dan patuhi syariat.

39b039e78efed63a7713b0ae8c924351
pict from here

Apakah Pernikahan yang Tahan Lama itu Berarti Barakah?

Ini benar-benar pertanyaan menohok!

Disaat acara seminar pra nikah, saya dan suami diminta testimoni tentang perjalanan taaruf hingga menikah dan bertahan hingga sekarang (doakan ya Pembaca, kami langgeng hingga berkumpul di jannahNya ya…aamiin yaa Robbal ‘alamin).

Maka suami bercerita tentang proses taaruf yang singkat, disusul khitbah dan menikah. Saya pun bercerita tentang kondisi suami yang sesungguhnya masih sangat minim penghasilan ketika menikah dan hingga sekarang kami mencoba untuk tetap sabar dalam kejujuran sebagai pegawai negeri.  Alhamdulillah, kami bisa bertahan hingga 23 tahun pernikahan dengan segala badai, gelombang, suka duka, tangis dan tawa.

Lalu bertanyalah seorang pemuda : “apakah 23 tahun itu bermakna barakah?”

Sungguh, saya dan suami bertatapan mata ketika ditanya seperti itu. Salut dengan pertanyaan kritis dan menohok hingga ke ulu hati.

Kalau dibilang pernikahan sukses, kami tak berani mengakuinya. Sebab kesuksesan hanya dapat dilihat di akhir, di ujung, di titik semua berhenti : kematian dan yaumil akhir. Kami baru akan disebut pasangan suksses bila telah bersama-sama menapaki JannahNya sembari membawa anak cucu kami masuk ke istana syurga. Dan itu sungguh masih rahasia ribuan tahun ke depan yang hanya diketahui Allah Swt. Namun bila bicara keberkahan, saya menysukuri betapa Allah Swt rasanya melimpahkan keberkahan.

Barakah atau berkah, adalah kondisi ketika sesuatu baik yang berifat materi (uang, barang) atau immateri (waktu) memiliki nilai tambah atau nilai lebih dibanding nilai yang sesungguhnya. Misalnya, ketika anak kami masih kecil-kecil, saya berhitung secara jujur berapa seharusnya jumlah penghasilan suami dan saya bila ingin hidup “normal“ : nyicil rumah, nyicil sepeda motor, menyekolahkan anak-anak di sekolah Islam, makan makanan bergizi, dan seterusnya. Maka dicapai angka fantastis : puluhan juta! Dengan 4 anak dan tinggal di kota Surabaya, kami harus punya pengahsilan puluhan juta untuk hidup layak. Apalagi ketika suami ditempatkan di luar kota, seharusnya penghasilan berlipat-lipat lagi. Nyatanya penghasilan suami tidak sampai sekian.

Namun, alhamdulillah, kami senantiasa cukup.

Ada saja rezeqi yang Dia berikan.

Salah satunya adalah rezeqi anak-anak yamng insyaAllah, sholih-shalihah. Anak-anak yang bisa diajak prihatin. Anak yang tahu kalau ayahnya adalah pegawai negeri yang mencoba jujur.

Dulu, waktu anak saya yang pertama usia SMP, ia  hanya bawa sangu 5000. Itu sudah teramsuk transport, makan siang, dan jajan. Tetapi di akhir bulan ketika kami sedang 0 uang, si kakak masih ada  tabungan yang bisa digunakan untuk menyambung hidup. Sampai sekarang, kakak dan adik-adiknya terbiasa menabung dari uang jajan mereka yang jumlahnya jauh di bawah jumlah teman-temannya. Mereka kalau butuh beli alat gambar, sketch book, komik, buku, sepatu atau kebutuhan lain; tahu-tahu punya uang. Bahkan alhamdulillah, si kecil bisa punya HP dari hasilnya menang lomba menulis. Anak-anak bertekad untuk punya laptop, HP dan barang-barang bukan dari hasil mereka memitna orangtua.

“Lho, kok kamu bisa beli sepatu, Mas?” saya nanya ke abang nomer tiga.

“Aku dua minggu ini gak jajan sama sekali, “ katanya.

Bahkan, dua anak lelaki kami ketika SMA masih naik sepeda onthel sementara teman-temannya telah naik sepeda motor mengkilat bahkan sepeda motor ninja yang mahal harganya. Mereka tidak kehilangan harga diri, tidak kehilangan teman, tidak kehilagnan kebahagiaan meski harus bersabar. 4 anak kami terbiasa saling menasehati satu sama lain, saling memberi motivasi. Ketika yang satu punya masalah, maka yang lain akan mendengarkan dan memberi masukan. Bagi kami, situasi ini adalah keberkahan yang merupakan karunia Allah Swt.

Keberkahan yang lain adalah ketika kami bisa membeli rumah ditahun 2011, dengan sepenuh perjuangan. Rumah yang cukup luasnya, dengan cicilan yang terjangkau gaji suami. Saya memang berdoa kepada Allah : “ya Allah berikan kami rumah yang kami mampu mencicilnya, dekat masjid, dikelilingi tetangga yang sholih shalihah, fasilitas memadai seperti air-sampah dll.” Saya berdoa sedetil itu dan alhamdulillah, kami dapat rumah yang sekarang kami tempati. Setiap kali bertemu teman atau supir taksi online, mereka bertanya tentang rumah saya dan terbelalak : “Ibu beruntung sekali! Rumah gede segitu harganya murah banget.”

Itulah keberkahan Allah Swt.

Masih banyak lagi keberkahan-keberkahan yang lain.

Ketika anak-anak di bangku  SMA, teman-teman mereka sudah ikut les ini itu sejak awal kelas 3. Kami belum mampu meleskan mereka. Alasannya dapat ditebak. Rata-rata anak kami baru les menjelang ujian kelulusan. Alhamdulillah, si sulung dapat masuk UGM dan nomer dua di ITS. Itulah keberkahan. Bahwa ketika tidak tersedia uang untuk les ini itu, Allah Swt berikah rizqi berlipat dari sisi lain : anak-anak yang mau belajar meski harus pontang panting cari pinjaman soal.

Dalam hubungan suami istri, saya pun merasakan keberkahan.

Jangan dikira saya dan suami tidak pernah berselisih paham. Namanya suami istri, tentu ada hal-hal yang membuat kami berselisih dan marah satu sama lain. Namun alhamdulillah, kami biasanya marah sehari dua hari. Jarang sekali sampai tiga hari. Rasanya tidak betah, tidak nyaman kalau tidak bertegur sapa. Maka nanti salah satu akan memulai berbaikan sembari saling menyindir hehehehe.

Yah, inilah keberkahan.

Saya bukan perempuan paling cantik dan paling hebat.

Suami tentu juga bukan lelaki super seperti Thor, Captain America, Hulk atau Iron Man. Tetapi kami saling mencintai, insyaallah. Kalau hanya fisik, yah, saya sudah terdepak jauh-jauh hari. Jujur sajalah, lelaki ketika di kantor bertemu banyak perempuan yang jauh lebih mempesona. Bukannya saya tidak merawat diri, ya. Kata suami saya perempuan cantik (gomballlll…biar deh! Saya juga selalu memaksa suami supaya bilang saya yang paling cantik, kwkwkwkwk!) tetapi godaan di luar sana besar. Termasuk saya juga yang sering menjalani aktivitas di luar rumah.

Tetapi itulah keberkahan yang Allah Swt titipkan di keluarga kami hingga masih bertahan hingga sekarang dan semoga bertahan hingga maut menjelang : sedahsyat apapun orang yang kita temui di luar sana, semempesona apapun, bagaimanapun ia membuat hati kita jadi deg-degan dan berbunga-bunga; tetap saja, pasangan cinta yang telah menjalani hidup sekian lama adalah belahan hati terbaik yang pernah ada bagi diri kita.

Mungkin dia tidak lagi membuat deg-degan.

Tidak membuat berdesir-desir.

Tidak membuat mabuk kepayang seperti saat awal nikah dulu.

Tapi rasa bahagia, hangat, tenang, itu tetap ada dan itulah keberkahan. Betapa banyak  pernikahan yang terasa dingin, hambar, tak ada cahaya sama sekali dan tak ada lagi yang pantas dipertahankan dalam hubungan itu kecuali memang tinggal kunci perceraian yang menyelesaikan.

Rasanya, inilah keberkahan yang Allah titipkan.

Semoga, banyak pasangan di luar sana yang usai pernikahannya mencapai 20, 30, 50 tahun dan lebih; bukanlah pernikahan dalam keterpaksaan namun pernikahan dalam keberkahan. Aamiin yaa Robbal ‘alamiin…