Belajar · Dear · Harta Karun · they're said

Pasangan Dakwah

Oleh bunda Sinta Yudisia

Albert Einstein, menjalani kehidupan cinta bersama 3 perempuan : Marie Winteler, Mileva Maric dan Elsa. Membaca biografinya yang dituliskan Walter Isaacson; ada banyak yang bisa direnungkan tentang kisah masa kecilnya, perjuangannya di politeknik Zurich, kegilaannya pada cahaya dan gravitasi, militansi Yahudi serta tentu saja, perjalanan cintanya.

Ada yang unik dari pasangan cinta Einstein.

Marie Winteler sangat manis, baik paras maupun budi pekertinya. Awalnya Einstein jatuh cinta setengah mati, namun sifat manis Marie yang menghujaninya dengan surat dan hadiah-hadiah terasa membosankan untuk si anak bengal yang selalu melawan segala otoritas.

Berikutnya, Einstein jatuh cinta setengah mati kepada Mileva Maric yang ditentang habis seluruh keluarga Einstein. Mileva Maric bertubuh kecil, pincang, berwajah buruk hingga dijuluki si nenek sihir; ia teman sekelas Einstein di politeknik. Mileva pintar dan mampu mengimbangi Einstein. Berbeda dengan Marie yang menghujani dengan surat romantis, surat Mileva kepada Einstein dipenuhi teori elektrik dan matematika! Kecerdasan Mileva membuat Einstein terpikat. 

Beberapa sumber mengatakan, salah satu keberhasilan Einstein adalah berkat bantuan Mileva Maric yang rajin menyiapkan referensi dan mengetik makalah Einstein; tentu Maric bukan sekedar bertindak klerikal, ia juga pemikir.

Bersama Mileva, Einstein memiliki beberapa anak namun pernikahan mereka kandas akibat Einstein sangat dingin terhadap hubungan interpersonal. Hubungan dengan Hans Albert Einstein –putranya- seringkali memburuk.

Hati Einstein akhirnya berlabuh pada Elsa, yang mampu mengelola kehidupan Einstein sedemikian rupa, mulai hal-hal kecil hingga tampil di depan publik dan melakukan negosiasi. 

-Pasangan Hati-

Einstein hanya satu dari sekian milyar manusia di muka bumi yang menjalani hidup, menemukan pasangan, lalu lebur kembali bersama tanah. Mendampingi orang seperti Einstein sungguh sulit, sebagai lelaki sekalipun ia bertanggung jawab, Einstein bukan suami yang didambakan banyak perempuan.

Namun, kisah cinta itu dapat diambil hikmahnya. Bukan karena romantisme, bukan karena kepintaran atau kecantikan, hubungan cinta dapat langgeng bertahan. Memang, romantisme dan kecerdasan pasangan adalah nilai plus; namun seringkali yang mampu mengikat sebuah pasangan adalah bila masing-masing menemukan apa yang dibutuhkan.

Mileva Maric sangat kecewa karena impiannya menjadi ilmuwan kandas seiring tubuhnya melemah akibat mengandung anak-anak Einstein. Mentalnya sakit dan hubungannya rusak, padahal kehidupan cinta mereka di masa kuliah benar-benar membuat orang terheran-heran. Elsa hanyalah orang kebanyakan, namun ia mampu mendampingi Einstein dalam saat sulit ketika ia tengah mematenkan beberapa karya ilmiah termasuk teori relativitas.

Pasangan hati, sungguh sulit dicari. Terkadang harus gagal berkali-kali. Namun ada yang sekali menemukan, langgeng hingga mati.

Sejatinya, manusia adalah makhluk yang harus terus belajar terhadap segala sesuatu. Belum tentu, pernikahan berarti menemukan pasangan hati. Namun, sayang sekali bila telah menikah masing-masing pihak tidak berusaha menemukan cara untuk mempertautkan hati lebih erat lagi. Ada banyak cara untuk mengeratkan pasangan hati.

Salah satu contoh kenalan saya, seorang karyawati kecil ini mungkin pantas ditiru. Meski, akibat suami terlalu mandiri, kadang saya terlupa.

“Mbak Sinta, kalau suami pulang dari kantor, siapkan minuman secara istimewa. Meski hanya segelas air putih. Meski segelas air putih, berikan tatakan alas dan tutup, pasti suami akan merasa sangat dihormati.”

Elsa tidak secantik Marie. Tidak secerdas Mileva. Pikirannya yang sederhana diungkapkan, “ aku tidak mengerti matematika kecuali tentang tagihan rumah tangga.”

Namun Elsa humoris, hangat, dan melayani Einstein dengan baik. Ketika Einstein harus bepergian, Elsa menyiapkan pakaian di koper bahkan menyiapkan uang-uang dan membaginya dalam amplop-amplop agar sesuai kebutuhan sang suami. Elsa memasak sup kacang dan sosis kesukaan Einstein, dan bila suaminya mondar mandir lupa diri akibat penelitian; Elsa akan mengantarkan makanan tersebut ke kamar. Dalam ruang kosmos Einstein yang tak terjamah, Elsa berusaha menjauhkan gangguan.

-Pasangan Da’wahku-

Untuk kesekian kali, kepergianku keluar kota didampingi suami. Ia berseloroh, kuranglebih demikian, “nanti namaku dimasukkan jajaran pengurus FLP sebagai bagian transportasi yah!”

Di jalan, aku seringkali jatuh tertidur kelelahan, sementara suami berjaga, menyetir sekedar tujuan. Sebagai ibu dan istri, kepergian keluar kota bukan sekedar angkat kaki. Di rumah, cucian hingga makanan butuh perhatian khusus. Apalagi anak-anak seringkali melaporkan sesuatu sesaat menjelang kepergian.

“Ummi, aku harus beli buku!”

“Nanti jemput aku yaaa…aku mau ada acara di sekolah.”

“Token listriknya habis nih.”

“Adik disuruh nyiram tanaman aja nggak mau tuh!”

Maka dengan sigap suamiku mengambil peran lain, disaat aku sibuk mencuci dan mengomando anak-anak.

“Jangan lupa masak nasi, lauk tinggal nggoreng. Ada martabak dan samosa di kulkas. Titip mesin cuci, Ummi lagi mbilas. Nanti tolong beli token. Jangan berantem. Jangan lupa sholat dhuha dan tilawah.”

Sekilas orang melihat bahwa kami pasangan kompak, Alhamdulillah.

Namun sampai di titik pemahaman seperti ini secara bersama-sama, bukan butuh sekali dua kali pembicaraan. Dengan kesibukan suami dan kuliah profesiku, suami berharap agenda-agenda lain tereduksi terutama agenda keluar kota. Sedikit demi sedikit, perlahan dan saling mendukung kukatakan, masing-masing kami memiliki peran da’wah yang tak dapat digantikan orang lain. Satu sama lain harus saling mengisi, mengoreksi, mengingatkan, mengorbankan kepentingan diri sendiri jika harus untuk mencapai harmonisasi.

Suami meminta ketrampilanku mengelola seluruh sumberdaya bila harus keluar rumah.

Di awal berperan dalam dunia da’wah, tentu kami lelah lahir batin. Benturan sesekali terjadi, dan kami berdiskusi untuk menemukan kata kunci : komitmen. Beban harus dibagi, anak-anak harus dipercepat kedewasaan agar orangtua tidak lagi ribet memikirkan tetek bengek rumahtangga.

Mendewasakan anak? Owh, itu pembahasan yang butuh energi ekstra .

Saat ini yang kulakukan adalah menginjeksi kognisi mereka terus menerus, atau diistilahkan terapi Kognitif. Ketika suami protes kukatakan, “ saya masih menata ulang kognisi mereka Mas, perilaku masih belum. Bertahap ya…”

Alhamdulillah, sedikit demi sedikit tercipta stabilisasi dan harmonisasi.

Seringkali aku berpikir, bila bukan karena terikat oleh komitmen da’wah, pernikahan akan cepat bubar ditengah jalan. Masalah ekonomi, keluarga besar, anak-anak, kepribadian individu yang terus tumbuh dan dinamis, karier dan 1001 masalah manusia dapat menjadi alasan pernikahan gulung tikar. Dengan komitmen da’wah, kesulitan dapat diurai , dicari titik temu dan dilakukan penyelesaian masalah.

Karenanya, sungguh tepat sabda baginda Rasulullah Saw yang bersabda, intinya : pilihlah pasangan karena kecantikan, harta, nasab atau agamanya. Tetapi pilihlah agamanya terlebih dahulu.

Agama, adalah ikatan yang paling kuat dibandingkan ikatan kesukuan, strata sosial, emosi atau hubungan kekerabatan. Dengan agama, sepasang suami istri akan menimbang baik buruk dari kacamata yang baku, yang disepakati, yang tidak akan menimbulkan perselisihan. Lebih mudah bagi pasangan menentukan sesuatu jika tolok ukurnya adalah agama. Semisal, istri memiliki penghasilan lebih besar dari suami, maka ia akan tetap menjadikan suami sebagai qowwam. Sesering apapun istri meninggalkan rumah dengan alasan da’wah, ia akan mentaati komitmen yang diajukan suami. Alasannya jelas : ridho suami akan menghantar pada ridho Allah SWT.

Bayangkan bila tanpa landasan agama, seorang istri yang memiliki karir tinggi akan merasa pantas memperlakukan rumah sama dengan perlakuannya terhadap bawahan di kantor.

Memilih pasangan, mempertahankan pasangan dan pernikahan dengan landasan da’wah serta agama akan lebih mudah dilakukan. Mungkin saja pasangan sudah tidak cantik dan tampan lagi, tapi agama mengajarkan sabar dan syukur. Apalagi, bila ditelusuri lebih lanjut, pasangan da’wah kita jauh lebih baik daripada orang-orang yang lalu lalang di mall setiap harinya.

Pasangan da’wah akan membuat seseorang melakukan lompatan pemikiran jauh ke depan : buat apa sih pernikahan ini? Sekedar seksual? Sekedar “kemewahan” agar dengan bangga kita bisa menjawab pertanyaan ini :

 Sudah menikah?

 Suami/istri kerja dimana?

 Lulusan apa sih pasanganmu?

Einstein saja berkata, “istri bukanlah kemewahan yang didapatkan suami.”

Dengan kata lain, Einstein ingin mengatakan bahwa istri bukanlah sebuah attachment yang langsung melekat pada laki-laki begitu ia punya karir bagus, posisi, gaji mentereng. Pasangan hidup bukan sekedar kemewahan yang melekat dalam status agar kita berbangga mengatakan, “oh saya sudah menikah lho…malah sudah punya anak…suami/istri saya adalah….bla bla bla.”

Pasangan da’wah memang sulit ditemui, bahkan dibutuhkan kesungguhan untuk mendapatkannya. Sesudah diraih, butuh energi ekstra untuk memulasnya agar pernikahan yang semula memiliki landasan da’wah, tidak meluncur bagai bermain ski di lapisan es landai : dapat suami/istri aktivis da’wah, hidup enak, punya anak, cukup sudah.

Bagi anda yang belum memiliki pasangan da’wah, doa-doa kami akan selalu menyertai saudara/saudari agar Allah SWT memberikan jodoh mulia dari sisiNya sesegera mungkin; di waktu yang tepat dan dengan jalan yang diberkahi.

Bagi anda yang telah memiliki pasangan, marilah menjaga pasangan hati dan pasangan da’wah kita. Allah SWT telah memberikan rezeqi berlimpah dengan dimuliakanNya kita sempurna sebagai makhluk berpasangan. Bila ada kekurangan pada pasangan da’wah, maukah kita membantu menyempurnakannya?

Advertisements
Tarbiyah · they're said

Hikmatus Syuyukh wa Hamastus Syabab 

(((disampaikan ust. Agus Sypriyatna pada acara ifthor jama’i. Sabtu, 17 Juni 2017 di DPD PKS Jaktim))). 

Jadilah pribadi dai yang tak sekedar ada, yang adanya dia, hadirnya dia menjadi bagian dari kemenangan dakwah. 

Adanya dia, memberi makna. Hadirnya dia, berkontribusi.

Sebagaimana para assabiqunal awwalun, 40 orang pria dan 5 orang wanita yang keberadaannya saat itu membawa makna dan memberi kontribusi. Hingga nantinya kita ketahui, dien mulia ini pernah menguasai hingga 2/3 bumi. 

Setiap dai harus memiliki karakter hikmatus syuyukh wa hamastus syabab. Keberadaannya harus senantiasa membawa inspirasi, untuk yang lebih muda darinya, yang sebaya dengannya dan juga untuk yang lebih tua darinya. 

Semangatnya tidak ia simpan sendiri. Jika semangatnya hanya untuk diri sendiri, maka untuk apa ada pertemuan pekanan? apa faedahnya bertemu dan berkumpul dalam agenda agenda jama’ah?

Salah satu kunci kemenangan dalam setiap dakwah yang kita lakukan adalah dengan menjadi pribadi yang kokoh. Apa syarat utama untuk menjadi pribadi yang kokoh? Taat kepada Allah ta’ala. Umar ibn Khattab ra pernah berkata “kita ini dimenangkan Allah karena ketaatan kita kepada Nya. Maka jika kita sedikit saja tidak taat kepada Nya, maka akan dengan sangat mudah kita dikalahkan oleh musuh musuh kita”. Kokoh itu berarti taat. 

Tarbiyah · they're said

Hikmatus Syuyukh wa Hamastus Syabab 

(((disampaikan ust. Agus Sypriyatna pada acara ifthor jama’i. Sabtu, 17 Juni 2017 di DPD PKS Jaktim))). 

Jadilah pribadi dai yang tak sekedar ada, yang adanya dia, hadirnya dia menjadi bagian dari kemenangan dakwah. 

Adanya dia, memberi makna. Hadirnya dia, berkontribusi.

Sebagaimana para assabiqunal awwalun, 40 orang pria dan 5 orang wanita yang keberadaannya saat itu membawa makna dan memberi kontribusi. Hingga nantinya kita ketahui, dien mulia ini pernah menguasai hingga 2/3 bumi. 

Setiap dai harus memiliki karakter hikmatus syuyukh wa hamastus syabab. Keberadaannya harus senantiasa membawa inspirasi, untuk yang lebih muda darinya, yang sebaya dengannya dan juga untuk yang lebih tua darinya. 

Semangatnya tidak ia simpan sendiri. Jika semangatnya hanya untuk diri sendiri, maka untuk apa ada pertemuan pekanan? apa faedahnya bertemu dan berkumpul dalam agenda agenda jama’ah?

Salah satu kunci kemenangan dalam setiap dakwah yang kita lakukan adalah dengan menjadi pribadi yang kokoh. Apa syarat utama untuk menjadi pribadi yang kokoh? Taat kepada Allah ta’ala. Umar ibn Khattab ra pernah berkata “kita ini dimenangkan Allah karena ketaatan kita kepada Nya. Maka jika kita sedikit saja tidak taat kepada Nya, maka akan dengan sangat mudah kita dikalahkan oleh musuh musuh kita”. Kokoh itu berarti taat. 

Harta Karun · Hikmah · reblog

Maafnya Allaah Beda! 

oleh Herri Cahyadi

Ada yang menarik kalau kita mendalami lebih jauh mengenai sifat Allâh SWT; Al-‘Afuww (Yang Maha Pemaaf). Al-‘Afuww dengan Al-Ghofur (Yang Maha Pengampun) hampir sama, bahkan secara eksplisit memang sama dalam hal mengampuni dosa, misalnya. Tapi, Al-‘Afuww ini unik.

Uniknya seperti apa?

Ilustrasinya begini: jikalau kita memiliki dosa–Ya Allah maafkanlah dosa-dosa kami, dan Allâh SWT mengampuninya, ada dua pilihan sifat Allâh SWT dalam mengampuni, yaitu (Al-Ghafur) diampuni atau (Al-‘Afuww) dimaafkan. Al-Ghofur; Allâh SWT mengampuni dosa kita sampai ke akar-akarnya, tapi perbuatannya masih ada sebagai bukti di Hari Perhitungan kelak.

Namun, Al-‘Afuww; Allâh SWT mengampuni dosa kita dan melupakannya (membuat kita sendiri lupa pernah melakukan dosa, tidak dimunculkan di Hari Perhitungan, semua benar-benar dibuat seolah tidak pernah terjadi).

Bagaimana itu?

Bayangkan begini; 

ketika di Hari Perhitungan, ada display besar yang memutar ulang semua perbuatan kita. Baik atau buruk semua diputar ulang, di situ mulut dikunci, semua anggota badan akan berbicara. Nah, terhadap suatu dosa, jika Allâh SWT telah mengampuninya dengan sifat Al-Ghofur, dosa itu diampuni tapi perbuatan kita masih bisa kita ingat dan muncul di display, semua menjadi saksi dan seluruh manusia akan melihatnya.

Sedangkan jika dosa itu dimaafkan dengan sifat Allâh SWT Al-‘Afuww, perbuatan dosa kita tidak akan muncul di display; semua lupa, bahkan Allâh SWT sendiri melupakannya dan menghapus bekas-bekasnya.

İnilah mengapa di 10 hari terakhir Ramadhan, khususnya Lailatul Qadr, kita diminta untuk terus berdoa:

Allahumma innakaafuwwun tuhibbulafwa fafu’anni. (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku)
Luar biasa kan sifat Allâh SWT Yang Maha Memaafkan ini?

Al-Afuww

Semoga Allâh SWT memaafkan segala dosa yang pernah kita lakukan. Aamiin.

Belajar · reblog · they're said

Perempuan Butuh Tahu: Qodho Sholat saat haidh di waktu sholat

Jika wanita mendapati waktu sholat, kemudian tiba-tiba dia haidh. Wajib qodho sholat apa tidak?

Ada dua pendapat:

1. Wajib Qodho
Pendapat ini menurut jumhur ulama seperti Hanafiyyah, Syafi’iyyah, Malikiyyah. Tapi para ulama berbeda pendapat kapan ia harus qodho:

A. Jika ia baru takbiratul ihram kemudian haidh. Ini pendapat Hanabilah dan Syafi’iyyah.

B. Jika ia sudah dapat satu rakaat. Ini perkataan Imam Syafi’i

C. Jika ia sudah mendapati waktu sholat, dan dia menunda sholat sampai akhirnya keluar haidh. Ini pendapat Hanabilah Syafi’iyyah.

D. Jika ia mendapati waktu seukuran 4 rakaat. Ini pendapat Imam Malik.

E. Jika ia mendapati waktu, sampai waktu sholat mau habis dan dia tidak bisa sholat secara sempurna, kemudian dia haidh, maka wajib qodho.

2. Tidak Wajib Qodho.
Secara mutlak, entah dia haidh diawal maupun diakhir waktu sholat. Dan ini pendapat al-ahnaf dan madzhab zhohiri.

Yang rojih dan benar dalam masalah ini InsyaAllah adalah:

E. Bahwa wanita bila ia mendapati waktu sholat. Kemudian tidak sholat sampai sempit waktunya, yang mana ia tidak bisa sholat secara sempurna kemudian haidh sebelum ia sholat. WAJIB baginya qodho setelah suci. Karena ia telah menyia-nyiakan sholat.

Ini pendapat yang dipilih: Syaikh bin baz, Ibnu Taimiyah, Hanafiyyah, Hanabilah.

Adapun Syaikh al Utsaimin berpendapat bahwa wajib qodho bila ia sudah mendapati waktu sholat seukuran satu rakaat sempurna, entah di awal waktu atau di akhir waktu.

Hal ini sama seperti wanita yang suci sebelum terbit matahari, alias waktu shubuh mau habis, hanya cukup dipakai untuk sholat satu rakaat, maka ia wajib mandi dan qodho sholat shubuh.

sumber dari sini

Belajar · they're said

Perempuan Butuh Tahu: Flek Darah pada Wanita (Syariat dan Medis)

Flek adalah bercak-bercak kecoklatan (setetes- dua tetes) yang biasa muncul sebelum atau sesudah haid. Bisa juga flek berwarna kuning atau kuning jernih. Secara medis flek muncul normal, umumnya pada awal atau akhir haid atau muncul ketika hamil. Flek juga bisa muncul karena faktor stres dan kelelahan atau penyebab lain yang menyebabkan gangguan hormon

Demikain juga penjelasan ulama bahwa flek itu bisa keluar sebelum dan sesudah haid, syaikh Al-Ustaimin rahimahullah menjelaskan,

الصُّفرة والكُدرة سائلان يخرجان من المرأة، أحياناً قبل الحيض، وأحياناً بعد الحيض.

“Flek adalah semacam (tetes) cairan yang keluar dari (kemaluan) wanita, terkadang sebelum haid dan terkadang sesudah haid.”[1]

Perlu diketahui bahwa proses haid secara medis adalah peluruhan dinding rahim, ini menyebabkan darah keluar. Awal-awal peluruhan, darah keluar sedikit sehingga bisa saja muncul flek, begitu juga akhir-akhir haid darah keluar mulai sedikit sehingga bisa saja muncul flek.

Lalu bagaimana hukum flek ini? Apakah darah haid atau tidak?

Ulama membahas flek berdasarkan tiga waktu keluarnya:

1.Flek yang keluar sebelum haid

Dirinci:

a)Jika flek keluar dalam masa-masa haid kebiasaan wanita dan apalagi disertai rasa nyeri maka terhitung darah haid

b)Jika diluar masa-masa haid kebiasaan wanita, maka bukan darah haid

2.Flek yang keluar setelah darah haid (masih menyambung dengan darah haid)

Masih terhitung haid, apalagi masih bersambung dengan masa-masa kebiasaan keluar darah haid

3.Flek yang keluar setelah suci (setelah berhenti haid total kemudian setelah berapa jeda keluar flek lagi)

Ini bukan terhitung darah haid

Berikut pembahasannya:

1.Flek yang keluar sebelum haid

Perlu diketahui flek sebelum haid bisa jadi darah awal-awal haid (tetes awal-awal) dan bisa juga bukan darah haid tetapi ada gangguan kesehatan yang lain semisal sisa perdarahan pada mulut rahim atau gangguan hormon.

Sehingga sebagian ulama menjelaskan flek BUKAN darah haid secara mutlak, Al-Mawardi menukil perkataan syaikh Taqiyuddin,

أن الصفرة والكدرة ليستا بحيض مطلقا

“Flek bukanlah darah haid secara mutlak.”[2]

a) Jika flek keluar dalam masa-masa haid kebiasaan wanita dan apalagi disertai rasa nyeri maka terhitung darah haid

Umumnya wanita bisa memperkirakan masa haid yang menjadi kebiasaannya, apalagi ada rasa nyeri haid maka ini terhitung darah haid, yaitu awal peluruhan dinding rahim sehingga darah yang keluar baru beberapa tetes dan sudah termasuk haid.

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa flek yang keluar diwaktu-waktu kebiasan haid, maka terhitung darah haid, beliau berkata,

في مذاهب العلماء في الصفرة والكدرة: قد ذكرنا أن الصحيح في مذهبنا أنهما في زمن الإمكان حيض

“Dalam mazhab kami mengenai flek, telah kami sebutkan bahwa yang shahih jika keluar pada waktu memungkinkan (waktu kebiasaan haid wanita) maka termasuk darah haid.”[3]

b)Jika diluar masa-masa haid kebiasaan wanita, maka bukan darah haid

Karena bisa saja flek yang keluar adalah darah karena penyakit, terlebih-lebih tidak disertai rasa khas nyeri haid. Syaikh Al-‘Utsaimin menjelaskan,

فهذه الكدْرة التي سبقت الحيض لا يظهر لي أنَّها حيض، لاسيَّما إذا كانت أتت قبل العادة، ولم يكن علامات للحيض من المغص ووجع الظهر ونحو ذلك،

“Flek yang sebelum haid seperti ini (tidak di masa kebiasaan wanita), bukanlah termasuk haid lebih-lebih datang sebelum masa kebiasaan wanita, tidak ada tanda-tanda haid seperti nyeri haid atau sakit punggung/panggul atau sejenisnya.”[4]

2.Flek yang keluar setelah darah haid (masih menyambung dengan darah haid)

Masih terhitung haid, apalagi masih bersambung dengan masa-masa kebiasaan keluar darah haid

Berdasarkan hadits Ummu ‘Alqamah, bahwa ‘Aisyah pernah ditanya flek setelah haid, maka ‘Aisyah menjelaskan agar jangan tergesa-gesa sampai muncul cairan kuning putih kejernihan

Ummu’Alqamah berkata,

كَانَ النِّسَاءُ يَبْعَثْنَ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ بِالدُّرْجَةِ فِيهَا الْكُرْسُفُ فِيهِ الصُّفْرَةُ مِنْ دَمِ الْحَيْضَةِ يَسْأَلْنَهَا عَنْ الصَّلَاةِ فَتَقُولُ لَهُنَّ لَا تَعْجَلْنَ حَتَّى تَرَيْنَ الْقَصَّةَ الْبَيْضَاءَ تُرِيدُ بِذَلِكَ الطُّهْرَ مِنْ الْحَيْضَ

“Dahulu para wanita mengirimkan kepada ‘Aisyah, ibunda kaum mukminin radhiallahu’anha dengan membawa wadah yang berisi kapas yang terdapat flek kekuningan karena darah haid. Mereka bertanya hukum shalat ketika keluar flek tersebut. Maka’Aisyah radhiyallahu’anha menjawab untuk mereka,
‘Janganlah kalian tergesa-gesa sampai kalian melihat cairan putih sebagai tanda berhenti dari haid.”[5]

3.Flek yang keluar setelah suci (setelah berhenti haid total kemudian setelah berapa jeda keluar flek lagi)

Ini bukan terhitung darah haid, berdasarkan hadits Ummu ‘Athiyyah bahwa flek keruh maupun kekuningan tidak teranggap haid setelah suci. Ummu’Athiyabradhiallahu’anha berkata

كنا لا نعد الكدرة والصفرة بعد الطهر شيئا

“ Dahulu kami sama sekali tidak menganggap sebagai haid flek keruh dan kekuningan yang keluar setelah suci.”[6]

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan,

إذا كان الذي ينزل عليك بعد الطهارة صفرة أو كدرة فإنه لا يعتبر شيئاً

“Jika keluar flek darah setelah suci (terputus dari masa haid) maka tidak teranggap haid.”[7]

Demikian pembahasan ini semoga bermanfaat

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

[1] Syarhul mumti’ 1/498

[2] AL-Inshaf hal 376, Dar Ihya At-Turats, syamilah

[3] Al-Majmu’ 2/395, syamilah

[4] Majmu’ Fatawa wa Rasa’il 11/280, syamilah

[5] HR. Bukhari dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Irwaul GhalilNo. 198

[6] HR. Bukhari

[7] Majmu’ Fatawa 10/214, syamilah

===

Muslimah butuh untuk tahu ilmu seperti ini,
Tiap tiap kita perempuan punya ke-khas-an sendiri dalam menerima waktu spesial tiap bulannya. Kenali ke-khas-an kita dan pelajari ilmunya 🙂

Harta Karun · Hikmah · reblog

Simpan Prasangkamu untuk Dirimu Sendiri

oleh Urfa Qurrota Ainy

Aufina sedang asyik menikmati es krim. Saya duduk di sebelahnya sambil membaca beberapa ayat Quran. Satu waktu, saya melirik sebentar hanya untuk memastikan ia baik-baik saja.

Namun, seketika saya kaget melihat Aufina ‘mengobok-obok’ es krim dengan tangannya. Padahal sudah saya beri sendok sebelumnya. Tanpa berpikir lebih lama, saya pun menasihati, “Kok makan es krimnya pakai tangan? Tangannya jadi lengket dong. Kan tadi sudah dikasih sendok? Ke mana sendoknya?”

Namun seketika itu pula saya beristighfar setelah Aufina dengan jujur dan apa adanya berkata, “Sendoknya masuk ke dalam (tenggelam ‘di telan’ es krim).” Sambil menunjuk lokasi ‘tenggelamnya’ sendok es krim itu.

Astaghfirullah.. Saya baru paham kenapa ia mengobok-obok mangkuk es krimnya barusan.

“Oh gitu. Aufina itu tadi mau ambil sendoknya ya?”

“Iya..” jawabnya.

Astaghfirullah. Saya langsung meminta maaf. “Maafin Ibu ya, Ibu ngga nanya dulu ke Aufina. Malah langsung menasihati. Maaf ibu tadi nyangka Aufina ngobok-ngobok es krim. Padahal Aufina mau ambil sendok ya?”

Buru-buru saya bantu ia menemukan sendok yang hilang ditelan es krim itu. Sambil terus berucap maaf dalam hati.

Prasangka buruk.
Alangkah mudah hati ini berprasangka buruk. Bermodalkan ketidaktahuan dan ketiadaan keinginan untuk mencari tahu, prasangka itu tumbuh tanpa hambatan. Subur, bahkan.

Padahal, jika mau menunggu sejenak lebih lama, jika mau bertanya “Apa?” dan “Mengapa?” Prasangka itu tidak perlu keluar dari kepala.

Prasangka mungkin sangat sulit untuk dihindari. Barangkali ini berkaitan dengan kecenderungan naluriah otak manusia yang bekerja dengan salah satu prinsipnya, yaitu : mempertahankan eksistensi.

Dalam prinsip tersebut, prasangka, curiga, dapat diartikan sebagai bentuk usaha untuk mendeteksi ancaman dan bahaya sejak dini. Tentu ini berguna, misalnya ketika kita di suatu malam berhadapan dengan sekelompok orang berpenampilan preman, kebut-kebutan di jalan, sambil membawa cangkul dan arit. Secara refleks kita akan curiga bahwa mereka berbahaya dan akan langsung berpikir untuk segera melapor ke pihak berwajib. Hampir mustahil kita akan mengira mereka adalah sekelompok petani.

Prasangka buruk pada kasus ini tak lain adalah bentuk pertahanan diri. Dan dalam kasus begini tak perlu lagi ditunggu apalagi dipertanyakan, “Anda siapa? Mau apa?” Lari saja agar selamat.

Yang demikian itu (adanya kecenderungan naluriah) menurut saya membuat usaha untuk tidak berprasangka buruk bisa dikatakan hampir mustahil. Ya, kita mungkin tidak bisa mencegah prasangka buruk agar tak hinggap di pikiran kita sama sekali.

Tapi,

Kita punya pilihan untuk tidak mengungkapkannya. Menahannya agar tetap dalam kepala.

Baru-baru ini saya membaca tafsir Ibnu Katsir mengenai ayat 12 Surat Al-Hujurat. Ayatnya berbunyi :

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.”

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa jika muncul prasangka buruk dalam benak, tahan lidah agar tak mengungkapkannya. Ini berdasarkan hadits Rasulullah saw yang menganjurkan kita untuk tidak menyatakan prasangka kita.

“Rasulullah Saw. pernah bersabda: Ada tiga perkara yang ketiganya memastikan bagi umatku, yaitu tiyarah, dengki, dan buruk prasangka. Seorang lelaki bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah cara melenyapkannya bagi seseorang yang ketiga-tiganya ada pada dirinya?” Rasulullah Saw. menjawab: Apabila kamu dengki, mohonlah ampunan kepada Allah; dan apabila kamu buruk prasangka, maka janganlah kamu nyatakan; dan apabila kamu mempunyai tiyarah (pertanda kemalangan), maka teruskanlah niatmu.“
(HR. Thabrani)

Rasulullah saw tidak secara eksplisit meminta kita untuk tidak berprasangka. Namun, jika kita memiliki prasangka buruk, beliau meminta kita untuk tidak menyatakannya.

Dalam ayat tersebut juga dikatakan “Jauhilah kebanyakan dari prasangka.” Bukan “Jauhilah seluruh prasangka,” karena boleh jadi ada prasangka buruk yang memang ‘berguna’. Seperti prasangka soal sekumpulan orang bermotor membawa cangkul dan arit yang saya ilustrasikan tadi. Atau prasangka seorang petugas di bandara terhadap calon penumpang yang dicurigai membawa narkoba.

Poinnya adalah, secara manusiawi, kita diberi otak yang darinya kerap muncul berbagai pikiran, termasuk juga prasangka. Dan otak kita tak serasional yang kita kira. Prasangka buruk seringkali muncul karena ‘kemalasan’ otak untuk mau bertanya dan berpikir lebih luas.

Meski begitu, prasangka buruk dalam kuadran positifnya dapat disebut sebagai mekanisme alamiah untuk mempertahankan diri dari ancaman dan bahaya.

Mekanisme alamiah ini bukan sesuatu yang mudah untuk dikendalikan. Bahkan mungkin mendekati mustahil untuk dihilangkan sama sekali. Di situlah ada peran akal, yang punya fungsi membedakan yang benar dan salah, baik dan buruk. Akal berfungsi untuk menyeleksi, mana prasangka-prasangka buruk yang perlu diungkapkan, mana yang tidak. Mana prasangka yang harus diikuti, mana yang tidak.

Di sinilah ‘pertarungan’ ini menjadi seru. Dorongan kodrat manusiawi kita mesti beradu kuat dengan akal nurani kita. Seperti saat kita menundukkan dorongan kodrat manusiawi kita untuk makan, minum, dan berhubungan suami-istri melalui shaum.

Sebagian prasangka jika diungkapkan sebelum nyata kebenarannya, hanya akan menyakiti, menimbulkan kegaduhan, dan bisa jadi menzalimi seseorang. Dan bukanlah termasuk muslim jika orang lain tidak selamat dari kejahatan lisannya.

“Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya” (HR Bukhari)

Dari sini saya belajar kembali untuk menjadi tuan atas pikiran dan kecenderungan manusiawi saya sendiri. Untuk tidak buru-buru menyatakan prasangka, untuk mau bersabar menunggu, untuk mau mencari tahu, untuk menjaga perasaan orang lain.

Maaf atas kemalasanku untuk bertanya lebih jauh padamu. Maafkan aku jika prasangkaku pernah menyakitimu..

Belajar · Harta Karun · Hikmah · Tarbiyah · Uneguneg

Cukup

didalam sebuah group whatsapp, ditengah percakapan dua orang yang sedang membicarakan tempat kerja masing masing 🙂

A : (((bla bla bla bla bla)))  berarti salary you ampe … Jt dong

W : I wish that :). Tapi ane suka pindah-pindah tempat kerja. Mau cari yang lebih baik lagi minimal, hehe 😀

T : waaahh alhamdulillah yah. Ane aja gaji masih murmer (murah meriah). Sampai keluarga pada kaget kok masih bertahan, udah tambah kerjaannya segabrek karena pengawasanya makin super 😂

A : kok bisa murmer mba? 

T : tapi gapapa, dinikmatin aja :). Palingan senewen kalo mau bagi raport doang, hehe. Terkadang inilah romantikanya jadi guru, banyak hal yang ga bisa dinilai dengan uang 🙂 

A : MaasyaaLlah mba, semoga Allah membalas dengan yang lebih baik.

Yang penting mba ga sampai ngutang atau minta-minta untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jadinya nanti dzolim ya mba? 

T : Engga-lah, rizki kan ada Allah yang ngatur, didunia ini rizki kan tidak harus uang. Punya sahabat sholiha yang sayang sama kita juga rezeki, kan? 🙂 

Percaya ga? Seumur hidup saya belum pernah beli Hp buat diri sendiri. Pernah suka ngebatin, ihh pengen punya hape kayak gini.

Alhamdulillahnya selalu aja ada rezeki dari Allah buat kasih Hp yang ane pengenin dari tangan hamba hamba Nya 🙂

Kalo soal minta mah, kita kudu wajib minta-minta sama Allah. Bahkan kata Ust. Hatta, butuh garam aja, juga minta nya sama Allah 🙂 

Harta didunia ndak harus banyak, toh juga banyak-sedikitnya harta juga relatif. Menurut A mungkin banyak, dengan jumlah yang sama, bagi B mungkin sedikit.

…yang penting mencukupi 🙂

cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup didunia, pun juga cukup untuk meringankan saat ditanya kelak di akhirat tentang untuk apa hartamu dihabiskan.