Belajar · challenge · Hikmah · sejarah

Hikmah Mempelajari Sejarah : Mengenalkan Makna Cinta yang Sesungguhnya (2)

“Hidup dan matiku akan bersamamu
(Al hayatu hayatuk wal mautu mautuk).
(Fatimah binti Abdul Malik)

“ya Rasulullah, aku mencintaimu seperti aku mencintai diriku sendiri”, ucap Umar ibnu Khattab suatu ketika.

Rasulullah shallahualaihi wassalam tersenyum mendengarnya, beliau menjawab. “Tidak wahai ‘Umar. Engkau harus mencintaiku melebihi cintamu pada diri dan keluargamu.”

“ya Rasulullah, mulai saat ini engkau lebih kucintai daripada apapun didunia ini”. Jawab Umar dengan lantang.

Begitu mudahkah bagi orang semacam Sayyidina ‘Umar ibn Al Khaththab menata ulang cintanya dalam sekejap? Begitu mudahkah cinta diri digeser kebawah untuk memberi ruang lebih besar bagi cinta pada Sang Nabi? Dalam waktu yang sangat singkat, hanya sekejap.

“Ternyata cinta” kata ustad Salim A Fillah dalam bukunya Jalan Cinta Para Pejuang, “bagi Sayyidina ‘Umar adalah kata kerja. Maka menata ulang cinta baginya hanyalah menata ulang kerja dan amalnya dalam mencintai. Ia tak berumit-rumit dengan yang ada dalam hati. Biarlah hati menjadi makmum bagi kerja-kerja cinta yang dilakukan oleh amal shalihnya”.

Fatimah binti Abdul Malik adalah simbol wanita terhebat dan ternyaman hidupnya pada zamannya. Bagaimana tidak? ayahnya adalah khalifah, kakaknya menjadi khalifah, adiknya menjadi khalifah, dan suaminya pun adalah seorang khalifah. Sebuah anugerah yang membuat banyak orang mengharapkan sekiranya mereka seberuntung Fatimah binti Abdul Malik.

Umar bin Abdul Aziz, suami dari Fatimah binti Abdul Malik pun bukanlah seorang yang biasa. Ia adalah putra Abdul Al-Aziz bin Marwan bin Hakam, Gubernur Mesir saat itu. Lahir dari keluarga ningrat membuatnya terbiasa hidup dalam standar kelas bangsawan. Harga bajunya 130 dinar atau setara dengan 260 juta (1 dinar, terbuat dari emas 22 karat dengan berat 4,25 gr, dengan taksiran kasar 1 dinar sama dengan 2 juta rupiah pada saat ini). Ketika beliau bersekolah di Madinah, Pamannya Abdul Malik bin Marwan, setiap bulannya memberi uang saku 2000 dinar/bulan (setara 4 milyar hari ini). Parfum yang dipakainya seharga 1000 dirham, bahkan orang-orang tahu bila Umar pernah melewati suatu jalan hanya karena wangi parfumnya.

Namun apa yang terjadi ketika Umar bin Abdul Aziz dengan terpaksa di baiat menjadi seorang khalifah, menggantikan khalifah sebelumnya, Sulaiman bin Abdul Malik yang baru saja wafat?.

“Para pecinta sejati tak suka berjanji”, kata Anis Matta dalam serial cintanya, “tetapi, begitu mereka memutuskan untuk mencintai, Mereka akan segera membuat rencana untuk memberi”. Dan Umar bin Abdul Aziz membuktikannya, bahwa ialah sang pecinta sejati.

Cinta pada Rabb-nya dan cinta yang besar pada rakyatnya mengubah gaya hidup Umar bin Abdul Aziz.

Setelah di baiat menjadi khalifah, ia memanggil istrinya. Fatimah binti Abdul Malik, ia berkata kepada istrinya, “Wahai Fatimah, jika engkau menginginkan Allah dan Rasulnya maka bersiap siaplah untuk hidup denganku. Dengan kehidupan yang berbeda dari kehidupan kita sebelumnya. Namun jika engkau menghendaki kemewahan dunia dan harta, maka kemarilah dan aku berikan kepadamu namun setelah itu kita berpisah”.

Umar menyadari bahwa Fatimah, istrinya adalah seorang wanita yang sedari kecilnya tidak pernah merasakan hidup susah. Maka ia tidak ingin memaksakan keinginannya kepada istrinya.

Lalu dijawab oleh Fatimah dengan mantap, “Hidup dan matiku akan bersamamu (Al hayatu hayatuk wal mautu mautuk).” Dari sini kita sama-sama mengetahui, bahwa Umar tidaklah sendiri berjuang untuk menjadi seorang pecinta sejati di negri yang diamanahi kepadanya.

Maka hiduplah mereka dalam kesederhanaan bahkan sangat sederhana. Kehidupan yang membuat para petugas pemberi zakat di negerinya kesulitan untuk membagi-bagikan zakat penduduk di sana. Para petugas pemberi zakat ini kesulitan, mereka kesulitan untuk mencari orang-orang fakir miskin yang berhak diberikan zakat. Karena semua penduduknya tidak ada yang memenuhi kriteria sebagai golongan yang berhak menerima zakat. Pemberian cinta Umar bin Abdul Aziz berbuah keberkahan bagi negerinya.

“Kalau cinta berawal dan berakhir karena Allaah,
maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada Nya,
pengenjawantahan ibadah hati yang paling hakiki:
selamanya memberi yang bisa kita berikan,
selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai.”
(M. Anis Matta)

Jauh beribu tahun setelahnya dan beribu kilometer jaraknya, di sebuah negeri kepulauan yang bernama Indonesia, kita pun dapat menyaksikan beragam episode romantis dari pembuktian cinta oleh mereka para pejuang untuk satu kemerdekaan Indonesia.

Salah satunya saya temukan di buku Leiden!-nya kang Dea Tantyo. Apa yang lebih romantis, dari surat cinta yang ditulis oleh seorang pejuang kemerdekaan kepada istrinya yang diselipi kata meredeka dengan format capslock dan tambahan tanda seru?.

bismillahirrohmannirrohiim, MERDEKA! Dinda sayang, terima kasih atas surat Dinda yang menyenangkan hati itu. Dalam keadaan yang sesungguhnya merupakan bala, masih juga dapat kita menyaksikan nikmat Allah yang dalam kesukaran dapat juga memberikan kelapangan.

Kanda seperti yang sudah kerap dinda katakan, rupanya diperlakukan Allah dengan istimewa, sebab itu baiklah kita bersyukur memuji Allah atas rahmat karunia-Nya yang terang terbukti dan dengan sabar menantikan dengan harap apa-apa takdir-Nya tentang itu.

Sementara itu yakinlah Dinda akan cinta kasih sayang kanda dan terimalah peluk ciumku dengan salam dan doa. Berkenaan dengan masa mendatang, tenangkan hati dengan harapan dan percaya kepada Allah Subhana wa taala. Tetap sabar dan tawakal.

(surat ini ditulis Haji Agus Salim untuk sang istri, Zainatun Nahar. Saat beliau tengah berjuang, menukar hidup demi kemerdekaan bangsa Indonesia).

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas Kelas Menulis Online (KMO) batch 14 :).

Advertisements
Belajar · challenge · Hikmah · sejarah

Hikmah Mempelajari Sejarah : Mengenalkan Makna Cinta yang Sesungguhnya (1)

Aku akan tetap bersama rakyat Indonesia, kalah atau menang
(K’tut Tantri)

Cinta jenis apa yang membuat seorang perempuan kelahiran Skotlandia dan berkebangsaan Amerika untuk turut serta dalam kemerdekaan suatu bangsa yang bahkan tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya?. Bermula dari kegalauan seorang perempuan bernama Murial Pearson yang memutuskan untuk pergi dan menetap di Bali setelah membeli tiket bioskop secara acak dan memutuskan untuk menonton film berjudul Bali: The Last Paradise.

Siapa sangka, keputusan spontanitasnya membawanya turut andil dalam proses perjuangan kemerdekaan Indonesia di Surabaya. Jika Bung Tomo melakukan agitasi untuk mengobarkan api semangat arek-arek Suroboyo. Perempuan bule ini, Murial Pearson, sejarah kemerdekaan Indonseia kemudian mengenalnya dengan K’tut Tantri mengudara dengan bahasa inggris menyiarkan upaya perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Dalam pengantar untuk Revolt in Paradise, Bung Tomo menyampaikan, Saya tidak akan melupakan detik-detik di kala Tantri dengan tenang mengucapkan pidato di muka mikropon, sedangkan bom-bom dan peluru-peluru mortar berjatuhan dengan dahsyatnya di keliling pemancar Radio Pemberontakkan.

Perjuangan membuktikan kecintaannya terhadap tanah air Indonesia bukanlah tanpa halangan, beberapa kali Tantri di tangkap, dipenjarakan dan diinterogasi panjang di dalam penjara. Keteguhan sikapnya untuk turut berjuang bersama rakyat Indonesia membuat tentara Indonesia di bawah pimpinan Bung Tomo berusaha untuk membebaskannya. Setelah bebas, ia diberi dua pilihan untuk kembali ke negerinya dengan jaminan pengamanan tentara Indonesia atau tetap berjuang bersama pejuang Indonesia.

Apa pilihannya? Apa pilihan dari seorang perempuan kelahiran Skotlandia, berkebangsaan Amerika yang sedang berada di negri orang, dan baru saja dibebaskan setelah beberapa hari lamanya disiksa dan diinterogasi panjang di dalam penjara?.

Tantri, wanita ini dengan mantapnya memilih pilihan kedua untuk tetap berada di Indonesia, bersama para pejuang Indonesia. Atas pilihannya, Tantri dipercaya untuk mengelola siaran radio perjuangan. Dalam siaran tersebut, Ktut Tantri menyeru dalam bahasa Inggris kepada negera-negara lain menceritakan upaya perjuangan kemerdekaan Indonesia. Suaranya mengudara tiap malam.

“Aku akan tetap dengan rakyat Indonesia, kalah atau menang. Sebagai perempuan Inggris barangkali aku dapat mengimbangi perbuatan sewenang-wenang yang dilakukan kaum sebangsaku dengan berbagai jalan yang bisa kukerjakan,” tulis K’tut Tantri dalam Revolt in Paradise.

Pilihannya untuk bergabung dalam perjuangan bangsa Indonesia meraih kemerdekaan itu membuat kalangan pers internasional menjulukinya “Surabaya Sue” atau penggugat dari Surabaya.

“Kemanusiaan itu”, kata bunda Helvy Tiana Rosa, “tak mengenal batas negara dan agama. Ia tumbuh dari keajaiban nuranimu tanpa sekat, tanpa musim”.

Cinta yang dimiliki Murial Pearson adalah cinta yang menjadikannya manusia. Senyata-nyata manusia yang lengkap dengan keberadaan hati nurani yang menuntunnya untuk turut adil dalam memperjuangkan kemanuasiaan.

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas Kelas Menulis Online (KMO) batch 14 :).

Belajar · challenge · Dear

Mengapa Saya Harus Menulis?

fountain-pen-image

Bismillaah,

Keberanian tak selalu tentang selempang senjata. Bahkan pedang, ujar Volatire, tak lebih tajam dari kata-kata. “Satu peluru hanya mampu menembus satu kepala. Tapi tulisan mampu menembus ribuan bahkan jutaan jiwa!” ujar Sayyid Quthb.

Mengapa saya harus menulis? (1)

Karena menjadi makhluk-Nya yang bermanfaat adalah suatu keharusan, maka tentu setiap hal yang dilakukan harus bernilai dan bermakna. Salah satu caranya adalah dengan membuat sebuah tulisan yang tidak hanya sekedar rangkaian kalimat, namun juga membawa ruh yang mampu member makna bagi pembacanya . Eh tapi juga, bukan hanya membawa makna bagi orang lain tanpa memberikan makna bagi diri sendiri sebelumnya. Dari, oleh dan untuk diri sendiri.

de3dec2ebbf9d48876c883e73b5276c4--writer-quotes-literary-quotes

Mengapa saya harus menulis? (2)

Karena saya harus memilih, jalur apa yang akan saya tempuh untuk menjadikan saya lebih dari sekedar pernah “Ada” di bumi. Seperti Gandhi, kah? Seperti Imam Laits, kah? Atau seperti Bung Karno, kah?.

Gandhi yang tulisannya mampu menyatukan 59 suku bangsa, 200 juta kepala dan meredam perbedaan antar agama, kemudian menginspirasi rakyat melawan kolonialisme Inggris.

Imam Laits yang para Ulama bersaksi bahwa; andaikan Imam Laits ini menuliskan segala fatwa dan ilmunya dalam lembaran buku, niscaya akan ada satu mazhab lagi selain 4 mazhab yang kita kenal. Beliau, sebagaimana kesaksian Ulama, adalah ilmuwan Muslim yang sama cerdasnya dengan Imam Syafii. Perbedaannya adalah, Imam Laits amat tangguh dalam berorasi dan memberi pencerahan pengetahuan, namun tidak mengabadikannya dalam tulisan. Itulah mengapa murid-muridnya jua kesulitan mengumpulkan khazanah keilmuan beliau.

Atau seperti Bung Karno yang sudah sama-sama kita ketahui dengan kepandaian beliau dalam menulis dan dahsyatnya beliau saat berorasi. Banyak kata-katanya kini masih berputar-putar dalam khazanah kebangsaan kita, tulisannya pun mengilhami bangsa Asia Afrika untuk merdeka di zaman kolonialisme Eropa. (Edghar Hamas, 2016).

Maka, karena saya bukanlah orang yang cukup pandai dalam berbicara didepan khalayak ramai, saya memilih jalur menulis, yang semoga bisa memberikan inspirasi kebaikan, terutama menginspirasi kebaikan untuk diri sendiri.

Bahkan sebuah batu bata saja memiliki jalannya untuk menjadi sekedar ‘ada’. Ia bisa menjadi bagian dari dinding sebuah rumah ibadah, sebuah tempat yang dapat mendekatkan manusia dengan Penciptanya, atau juga menjadi sebuah rumah tempat sebuah keluarga saling membantu dan memberikan contoh keteladanan dalam lingkup masyarakat terkecil. Atau juga bisa menjadi sebuah sekolah tempat setiap orang belajar untuk kelak dapat mengajarkan ragam ilmu yang membawa kebermanfaatan untuk dunia dan seisinya.

writing-from-the-heart-by-lorrie-porter

Mengapa saya harus menulis? (3)

Karena saya sadar, amal saya masih kurang banyak untuk menyelamatkan saya kelak dihari perhitungan, maka semoga tetesan tinta yang tertuang mampu menjadi simpanan kebaikan yang terus mengalir melebihi usia hidup saya di dunia. Simpanan yang menyelamatkan saya kelak. In syaa Allaah, aamiin :”).

 

*all images from google.


tulisan dibuat untuk memenuhi tugas #1 KMO Club batch 14.

 

 

challenge · reblog

Ramadan Istimewa

Catatan Kajian Tarhib Ramadhan oleh Ustadz Oemar Mita, disampaikan pada hari Ahad, 6 Mei 2018 di Masjid Istiqlal.

Keutamaan Ramadhan laiknya keutamaan Nabi Yusuf dibanding dengan 11 saudaranya yang lain (tidak ada yang menjadi Nabi). Laiknya keutamaan sinar matahari dibanding dengan sinar bintang-bintang yang lain. Sinar matahari bisa menerangi seantero bumi, sedang sinar bintang tidak.

Para sahabat di zaman dulu, sudah mencium sensasi Ramadhan 6 bulan sebelum kedatangannya. 6 bulan sebelum datang Ramadhan, para sahabat berdo’a agar dipertemukan dengan bukan Ramadhan dan diberi keselamatan di dalamnya. 6 bulan setelah bulan Ramadhan, para sahabat berdo’a agar amal-amal selama bukan Ramadhan diterima oleh Allah.

Ramadhan adalah parade ibadah terbesar yang Allah gulirkan di muka bumi, olimpiadenya orang-orang beriman.

Keutamaan Ramadhan :

1. Ramadhan adalah waktu emas untuk beribadah, untuk memohon ampun kepada Allah, untuk menghapus dosa-dosa.

“Celaka sekali orang yang mendapati bulan Ramadhan dan ia keluar dalam keadaan belum terampuni dosanya.”

2. Allah mengistimewakan amal. Allah langsung yang menjaga amal seorang hamba di bulan Ramadhan. Saking besarnya balasan amal di bulan Ramadhan, Allah tidak sebutkan detailnya. Berbeda dengan amal yang lain, Allah sebutkan keutamaannya. Maka inilah kesempatan emas untuk investasi amal terbaik. 1 hari Ramadhan yang dilewati seorang hamba di dunia dengan ikhtiar maksimal, akan sangat membedakan kedudukannya di surga.

Apa Saja yang Harus Kita Lakukan?

1. Cek Keimanan

Hal pertama yang harus dilakukan adalah memastikan hati tidak tersengat kemunafikan. Bagaimana kriteria munafik? 1) benci kpd Rasulullah, 2) benci kpd apa pun yang disampaikan Rasulullah, 3) mendustakan Rasulullah, 4) mendustakan apa yang disampaikan Rasulullah, 5) benci ketika orang kagir kalah dan muslimin menang.

2. Bertaubat dan Beristighfar

Karena ketika kita bawa dosa dan maksiat memasuki Ramadhan, itu akan menjadi penghalang kenikmatan ibadah di bulan Ramadhan. Jika 10 hari pertama berhasil, Allah tambahkan ketaatan dan kenikmatan ibadah di 10 hari kedua. Jika 10 hari kedua berhasil, Allah semakin tambahkan lagi keberhasilan di 10 hari terakhir, biidznillah.

3. Perbanyak Do’a

Agar Allah sampaikan kita di bulan Ramadhan dengan sehat dan selamat (selamat dari kelalaian dan kemalasan).

4. Pilih Amal Terbaik

Prioritaskan untuk Alqur’an. *tambahan dari Ust. Amir, “Imam Syafi’i ketika memasuki bulan Ramadhan, cuti dari kegiatan yang lain. Imam Syafi’i mendedikasikan sebulan penuh waktunya untuk Alqur’an. Imam Syafi’i selama Ramadhan mengkhatamkan Alqur’an sebanyak 60 kali.”

5. Jadilah Pencuri Pahala

Beri makan orang yang berpuasa. Kamu bisa berinfaq ke pondok pesantren, masjid-masjid, palestine dan syuriah. Setiap orang yang kita beri makan untuk berbuka puasa, pahala puasanya untuk kita (juga) tanpa mengurangi pahala puasa baginya.

Wallahu a’lam bishowab.

ditulis oleh Baiq Muna 🙂

Belajar · challenge · Dear · Harta Karun · Hikmah · Meracacacau · reblog · Selftalk · they're said

Suami dan Kulkas

(((dear myself, please remember this)))

oleh Alifah Syamsiyah.

alkisah, ada seorang wanita yang akan menggugat cerai suaminya. tapi sebelum ke pengadilan, ia meminta nasihat terakhir kepada seorang ustadz, untuk lebih meyakinkan dirinya dengan keputusan besar yang akan ia buat. kepada sang ustadz wanita itu menceritakan semua keburukan suaminya: pekerjaan yang belum mapan, tidak bisa mengurus rumah tangga, tidak mahir mengurus anak, dsb.

di akhir cerita, ustadz itu berkomentar sederhana, “ibu, mohon maaf, tapi sepertinya ibu salah menggunakan barang.” wanita itu jelas tak mengerti, nih ustadz gimana sih, kan saya lagi cerita tentang suami, kok malah bahas barang, begitu batinnya.

seakan bisa membaca pikiran wanita tersebut, sang ustadz melanjutkan penjelasannya, “mungkin ibu bingung dengan perkataan saya. tapi coba sekarang ibu bayangkan. ibu baru saja membeli kulkas. kulkas merek terkenal dengan teknologi paling mutakhir. sayangnya, ibu malah mengutuki kulkas itu karena ia tidak bisa menyiarkan siaran berita, tidak bisa memutar video, atau mencuci piring yang kotor. kalau begini, yang salah si kulkas atau si ibu?”

wanita itu menyimak, masih belum menangkap maksud sang ustadz.

“jelas si kulkas tidak salah, karena ia diciptakan untuk menyimpan barang atau makanan agar tidak cepat busuk. kalau kulkas tidak bisa memutar video, seharusnya ibu tidak mengutuki kulkas karena itu bukanlah fungsinya.

begitu pula dengan suami ibu. tujuan utama dari pernikahan adalah mendapatkan ridho suami. jika pekerjaannya kini belum mapan, atau ia belum bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan sempurna, bersabarlah. setidaknya itu bukan fungsinya yang utama. setidaknya ibu tidak kehilangan fungsi utamanya: keridhoan suami. karena itulah kunci surga seorang wanita.

kalau saya boleh memberikan saran, coba ibu pikirkan baik-baik lagi keputusan ibu. saya punya tips sederhana yang bisa ibu lakukan sembari ibu memikirkan ulang keputusan besar ini. cobalah setiap malam, sebelum ibu dan suami tidur, tanyakan pada suami, “bang/a’/kang/mas, berapa persen keridhoannya sama aku hari ini?” kalau jawabannya belum 100%, coba ibu lakukan apapun yang bisa membuatnya ridho 100%. ibu bisa memijatnya, membuatkannya minuman hangat, dan hal-hal lain yang membuat keridhoannya utuh kembali. ibu tidak bisa menjamin kalau masih ada hari esok setelah ibu tidur malam itu, bukan? jangan sampai menutup hari tanpa membawa kunci surga dari keridhoan suami ibu.”

nasehat itu menggugah jiwa wanita itu. ia kembali ke rumahnya, tertarik untuk mencoba nasihat sang ustadz mulai malam nanti.

singkat cerita, beberapa hari setelahnya wanita itu kembali ke rumah sang ustadz dan menceritakan perubahan yang terjadi pada suaminya. setelah beberapa malam rutin menjalankan nasihat itu, perilaku suaminya perlahan berubah, ia menjadi semakin sayang pada dirinya, semakin giat bekerja, dan mengurus rumah tangga. ridho dan berkah Allah pun turun, meliputi keluarga mereka.

taat pada suami terkadang bukan perkara mudah, apalagi kalau keegoisan sedang menguasai jiwa.

tapi disanalah kunci surga berada. tak tanggung-tanggung, seorang istri yang taat diberikan keistimewaan untuk memasuki surga dari pintu mana saja yang ia suka!.

.

.

.
catatan: tulisan ini terinspirasi dari sebuah nasihat singkat yang disebarkan di whatsapp, sayangnya penulis tidak bisa mengecek sumber asli dari cerita ini.

Pict from Google.

challenge · Dear · Harta Karun · Hikmah · they're said

Allaah Tidak Minta Kesempurnaan

nak.ig
image from here :”)

oleh NAK Indonesia

Ada pemikiran fatalistik yang berkembang di masyarakat dalam konteks pendidikan. Mungkin di antara kita pun ada yang pernah merasakan ditekan orang tuanya karena masalah peringkat di sekolah dengan ungkapan, “Lalu buat apa kami mengirimmu untuk bersekolah?” “Apa gunanya jadi peringkat kedua?”

Banyak anak yang tumbuh dengan budaya seperti ini akhirnya berpikir bahwa mereka baru berguna hanya jika menjadi yang terbaik. Jika tidak jadi yang terbaik, maka mereka tidak berguna. Banyak orang yang tidak bisa lepas dari cara berpikir ini hingga dewasa dan mengalami depresi.

Depresi ini kemudian tidak hanya berpengaruh dalam konteks pendidikan saja. Namun berpengaruh juga kepada kepribadian mereka, misalnya terhadap akan jadi orang tua seperti apa mereka, akan jadi suami atau istri seperti apa mereka, bahkan bisa juga berpengaruh pada kehidupan beragama mereka.

Mereka bertanya kepada diri mereka, “Kalau saya bukan orang yang terbaik imannya, apa gunanya beribadah?” Mereka akan putus asa untuk beribadah, termasuk salat. Kita pun sering mendengar alasan mengherankan. “Saya kan bukan manusia sempurna, saya tidak bisa menjalankan semua ajaran agama ini!” Cara berpikir seperti akan hancur hanya dengan satu kata yaitu, “ahsanu amala” (QS. Al Mulk ayat 2). Ada beberapa terjemahan ayat “Ayyukum ahsanu ‘amalaa” ini dengan “siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.” Terjemahan ini kurang tepat. Yang lebih tepat adalah “Siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.”

Ahsanu adalah “Ism Tafdhiil lil Muqooronah” yang tujuannya untuk perbandingan. Kata Ahsanu bukan “Af’alu Tafdhiil” karena “Mudhoof” . Kata Ahsanu di sini juga tidak menggunakan “Alim Laam Ta’riif”. Jika disebut, “Al-ahsanu ‘amalaa” seperti pada, “Bil-alkhsariina ‘amaalaa” maka baru bermakna paling (superlatif) sehingga artinya adalah terbaik. Jika tidak ada “alif Laam Ta’riif”, maka maknanya adalah perbandingan (komparatif) sehingga artinya adalah lebih baik.

Perbedaan penerjemahan ini membawa konsekuensi serius mengenai apa yang Allah inginkan atas kita. Sebab ada perbedaan antara “lebih baik” dan “terbaik“. Hanya mungkin ada satu saja yang terbaik, tidak mungkin ada dua orang yang terbaik. Sebab “Terbaik” berarti nomor satu. Padahal selalu akan ada orang yang lebih baik daripada kita.

Dari sisi individu saja kita tidak bisa mengatakan, “Akhirnya, saya menjadi yang terbaik yang saya bisa.” Karena mungkin besok kita bisa melakukan yang lebih baik lagi. Yang dapat kita katakan adalah, “Alhamdulillah, hari ini saya bekerja lebih baik.” Kalau kita bandingkan antarindividu, setiap orang berbeda ketika melakukan yang lebih baik. Ada yang melakukan lebih baik secara perlahan, yang lain bisa dengan cepat.

Sebagian ada yang bersedia memberi semua harta mereka demi Allah, sebagian orang lain hanya dapat memberi satu persen apa yang mereka miliki, dan itu tetap lebih baik daripada tidak ada. Tidak masalah.

Semua orang membuat kemajuan dengan jalan ceritanya masing-masing. Ini adalah hal yang indah dan rahmat yang Allah tetapkan dalam agama ini bahwa Allah tidak meminta kesempurnaan, tetapi perbaikan. Bukan melihat siapa yang terbaik, tetapi melihat siapa yang mengambil langkah untuk memperbaiki diri.

Disadur dari video penjelasan ustadz Nouman Ali Khan :”).

 

Belajar · challenge · Dear · Harta Karun · reblog

MENJADIKAN DINDING RUMAH SEBAGAI SARANA EDUKASI DAN KREATIFITAS

Oleh : D Nita Purnama Sari

IMG-20170826-WA0000

Ketika si kecil sudah dapat memegang pensil atau crayon, meskipun kita sudah memberikan kertas atau buku gambar sekalipun, tapi si kecil ini lebih suka menggambar di dinding rumah. Betul tidak ?

Ya, anak-anak umumnya memang senang sekali menggambar. Nah, salah satu bidang atau media yang sering kali dijadikan sasaran crayon,pensil warna, ataupun alat tulis gambar lainnya adalah dinding.

Waaahhhh…. Dinding jadi sasaran empuk bangetlah buat anak.

Nah mulai dari situ kenapa tidak kita manfaatkan dinding rumah untuk sarana belajar anak ?

Jadi selain anak hanya mencoret-coret dinding, kita bisa memanfaatkan dinding itu untuk menstimulasi menambah kosa kata anak, membantu anak mengenal huruf abjad ataupun hijaiyah, berhitung dsb melalui dinding tersebut.

Dan sekaligus upaya saya untuk mengembangkan kreatifitas anak. Dengan membiarkan anak bereksplorasi yaitu menggunakan seluruh sarana yang ada di lingkungan kseharian anak sebagai media, termasuk dinding rumah.

Juga memberikan lingkungan yang PerMaTa InSAN untuk anak.

Per_Perhatian
Ma_Mandiri
Ta_cinTa
In_BermaIn
S_Santai
A_Aman
N_Nyaman

Karena memang anak-anak umur 2-4 tahun lebih suka membuat karya “masterpiece” di dinding.

Kenapa demikian ?

  • Karena jarak antara dinding dan memori anak sungguh dekat

Menurut psikologi dari Aminfainstitute Lembaga riset dan Konsultan Edukasi Berbasis Brain Based and Holictic Learning (Pendidikan Ramah Otak).

“Rasa terlibat dalam dunia di dalam gambar itu tidak akan di dapat ketika anak menggambar di bidang kertas”.

  • Dinding merupakan tempat yang strategis bagi anak.

Karena bila kita berjalan pasti sepanjang jalan melewati dinding dalam rumah.

Jadi upaya apa yang harus kita lakukan ?

1]. Kita bisa membuat space coret-coret anak

Beri anak sisi dinding khusus space coret-coret dan belajarnya, misal : di pojok rumah, atau di tempat yang sering anak membuat coretan gambar.

Lalu cat sisi dinding dengan warna hitam seperti layaknya papan tulis lalu beri anak kapur tulis untuk coret-coret karya gambarnya.

Atau kita bisa tempelkan papan tulis atau whiteboard yang kita bisa beli di toko buku, atau bisa juga membuat rol kertas besar untuk anak menggambar, kalaupun tidak ada kita bisa menempelkan beberapa kertas HVS di dinding.

a18b0d80f17d03d8e737e13203214344--playroom-colors-playroom-ideas

f8b0a36519b8fe5fd10144b3aca4eb31--magnetic-chalkboard-walls-kids-chalkboard

FB_IMG_1501831133204

Lalu buat peraturan boleh dan tidak boleh. “ Nak… boleh coret-coret di dinding asalkan disini…sini…dan disini….(menunjuk media yang kita buat), tapi tidak boleh di dinding disini…sini…dan disini (yang tidak ada media yang kita buat).”

2]. Membuat Gallery Karya anak

Kita bisa membuat gallery karya anak kita di sebelah papan tulis yang kita buat, untuk menempelkan karya lain yang anak buat.

Jadi, untuk anak bukan hanya pajangan hasil karya namun disana juga terkandung sebuah nilai penerimaan dan penghargaan yang tinggi atas hasil kerja/karya anak.

every child is an artist
source

3]. Membuat Mind Mapping

Apa itu Mind Mapping ?

Mind Mapping atau Peta Pikiran adalah metode mempelajari konsep yang ditemukan oleh Tony Buzan. Konsep ini didasarkan pada cara kerja otak kita menyimpan informasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otak kita tidak menyimpan informasi dalam kotak-kotak sel saraf yang terjejer rapi melainkan dikumpulkan pada sel-sel saraf yang berbercabang-cabang yang apabila dilihat sekilas akan tampak seperti cabang-cabang pohon. Maka, Mind Mapping merupakan sebuah metode untuk mengelola informasi secara menyeluruh berupa catatan yang lebih terstruktur.

Cara membuat mind mipping :

Pertama, Buatlah gambar atau tulisan yang melambangkan topic (main topic) atau topic utama di tengah kertas. Kedua, buat garis leku-lekuk yang menyambung dari gambar tngah yang tadi kita buat/main topic. Ketiga, beri nama pada setiap ide di atas atau bisa juga membuat gambar-gambar kecil mengenai masing-masing ide tersbut. Keempat,Dari stiap ide yang ada tarik garis penghubung lainnya, yang menyebar seperti cabang-cabang pohon. (sumber : penjelasan tentang Mind Mipping, Buku Bunda Cekatan,Ibu Septi Peni Wulandani, Institut Ibu Profesional)

Contoh Mind Mipping :

IMG_20170827_0001

4]. Membuat Flash Card

seperti Abjad,Hijaiyah,Angka, gantungan Rukun Islam, Tempelan Rukun Iman , nama-nama nabi ,papan pengingat waktu shalat, pengingat acara,papan bintang prestasi, busy board,rukun wudhu, madding keluarga atau hasil karya lainnya yang di tempelkan di dekat papan tulis yang kita buat untuk menstimulasi belajar anak.

14bd25ed70920e16f85c2aa72fdca87d--montessori-baby-toddler-busy-board-diy
contoh busy board
18671291_10207286727886519_3689482413407836575_n
papan pengingat waktu shalat
18740177_10207283994258180_6916218839744919897_n
Papan Bintang Kebaikan

IMG_20160518_193411

IMG_20160518_193238
Menghias Dinding menyambut Ramadhan

 

Lalu apa manfaatnya ?

  1. Anak merasa nyaman.
  2. Anak merasa senang karena keinginan dan rasa ingin tahunya (eksplore) tersalurkan dan terpenuhi.
  3. Memberikan kebebasan berekspresi.
  4. Mengmbangkan kemampuan visualnya.
  5. Memberikan rasa penghargaan kepada anak.
  6. Menumbuhkan rasa percaya diri anak.
  7. Membantu mengingat atau menghafal belajarnya.

 

PRINSIP !!!

1. Tidak ada anak yang nakal,yang ada adalah anak kratif.

2. Allah SWT tidak pernah membuat produk gagal, semua anak unik.

3. Kreatifitas itu bukan produk instan,harus dilatih terus menerus sejak dini.

 

“Beberapa hal yang perlu di perhatikan para orang tua (khususnya saya pribadi^^) adalah Berikan anak ruang kebebasan untuk bermain dan bereksplorasi biarkan anak memilih sendiri media bermainnya walaupun itu di dinding. Biarkan anak merasa tenang, nyaman dan menikmati proses kreativitasnya. Tugas kita sebagai orang tua hanya sebagai fasilitator yaitu mendukung dan memfasilitasi anak”

(Buku Bunda Sayang, Seri ibu Profesional#1, Memacu Kreatifitas Anak Sejak Dini)

Terimakasih

Wassalamu’alaikum wr.wb

Belajar · challenge · Dear · Meracacacau · Selftalk · Uneguneg

Andaikata (1)

Bismillaah..

“being a mom is a big deal, preparation is a must. Karena nasib peradaban ini dipercayakan pada tangan para ibu” –SuperbMom Wannabe-

Ada yang super duper menarik-narik fikir di pekan kemarin. Jika pada pekan sebelum pekan kemarin bisa dengan mudah mengerjakan Nice Homework ke-1 yang diberikan oleh Fasilitator, Alhamdulillah, biidznillah. Maka di pekan kemarin, sejenak setelah membaca Nice Homework ke-2 yang di posting bunda Fasilitator di laman google classroom, hanya bisa terdiam beberapa lama, wkwk.

NICE HOME WORK #2

Bunda, setelah memahami tahap awal menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga. Pekan ini kita akan belajar membuat “CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN”

  1. Sebagai individu
  2. Sebagai istri
  3. Sebagai ibu

Buatlah indikator yg kita sendiri bisa menjalankannya. Buat anda yang sudah berkeluarga, tanyakan kepada suami, indikator istri semacam apa sebenarnya yang bisa membuat dirinya bahagia, tanyakan kepada anak-anak, indikator ibu semacam apa sebenarnya yang bisa membuat mereka bahagia. Jadikanlah jawaban-jawaban mereka sebagai referensi pembuatan checklist kita.

Buat anda yang masih sendiri, maka buatlah indikator diri dan pakailah permainan “andaikata aku menjadi istri” apa yang harus aku lakukan, andaikata kelak aku menjad Ibu , apa yang harus aku lakukan.

Kita belajar membuat “Indikator” untuk diri sendiri.

Andaikata saya menjadi Istri dan menjadi Ibu, apa yang akan saya lakukan untuk bisa memperoleh gelar “kebanggaan keluarga”, gelar yang dinilai dan diuji langsung oleh anggota keluarga, yaitu Pak Suami dan anak-anak. Nah loh?!

Andaikata aku menjadi seorang istri

Beberapa tahun yang lalu, saat kehendak Nya membawa saya mendiami kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta untuk waktu yang bila perempuan mengandung, maka saya mulai menetap saat usia kandungannya masih 1 hari (?) wkwk dan akhirnya meninggalkan kamar kost saya saat si bayi dilahirkan sesuai due date-nya dan sudah berusia 20 hari. Ribet yak :P. Ingin bilang 10 bulan doang padahal wkwk. Saya pernah menyampaikan ini ke-mba murobbiyah saya saat di solo.

“mbaa, masa aku pengen nikah sekarang, cuma gegara biar ada yang bisa nganterin liqo sama pergi ke tatsqif”, kalimat ini keluar bukan tanpa sebab. Saat kemudian memutuskan untuk mengambil lowongan belajar kerja di salah satu instansi pemerintah yang letaknya ada di pucuk Gunung Kidul, saat itu pula saya mulai hijrah, mutasi liqo, keluar dari zona nyaman di kampus super ‘hijau’ ke dunia realita. Lha emang di kampus dunia fantasi? :P.

and the challenge begins,

Di sini, di gunung kidul, didaerah gading tepatnya, amat sangat susah menjumpai kendaraan umum level angkot. Jalan besarnya memang dilewati bus kecil dan tanggung antar kota, tapi nunggu bus nya pun bisa lama dan unpredictable waktunya dan maksimal hanya sampai pukul 17.00 bus jurusan Wonosari turun ke Yogyakarta. Maka bagi saya yang tidak membawa kendaraan apapun kesini, ini menjadi kendala terbesar bagi saya. Dan makin tambah ‘sesuatu’ karena jeng jeng jeng, liqo-an tempat saya dimutasi, yang sebagian besar berisikan ibu-ibu berdomisili asli di gunung kidul, menggunakan sistem liqo keliling. Jadilah tiap pekan, tempat liqonya bergilir ke rumah-rumah yang artinya keliling kabupaten gunung kidul. Makin tambah dramatis karena pertemuan pekanannya dilaksanakan setiap selasa sore, yes on the weekdays!. Senin malam biasanya maksimal japrian rumah siapa yang akan dikunjungi sampai di hp. Sekalipun disebutkan nama daerah sama ancer-ancer nya sama saja bagi saya, yang aktifits sehari-harinya hanya jalur kost ke kantor dan turun gunung tiap weekend menginap di kost-an waktu di solo, atau ke rumah mbah di klaten.

Alhamdulillah, ‘alaa kulli haal, dengan berbagai cara-Nya, setiap pekannya hampir selalu bisa sampai dan pulang kembali ke kost dengan sehat wal’afiat tanpa kurang satu apapun. Kalau di ingat-ingat sekarang benar-benar Maha Kuasa Allaah yang menakdirkan pun juga memudahkan hamba-Nya untuk menjalani kehendak-Nya. Mulai dari ke tempat liqo dianterin pakai motor sama anak SMP dan digiring sama anak-anak TK dan SD yang bersepeda, mereka ade-ade yang ikut TPA di mushalla belakang kantor :D, atau juga pernah berangkat diboncengin pakai moter gede sama ummahat usia 50 tahunan, wkwk “maaf yaa mba, motor saya lagi dipakai anak, ini dapat pinjaman motor tetangga, adanya motor ini ” kata si ummi saat saya takjub melihat si ummi dengan style rok-nya tapi naik motor gede :”). Saat pulang ba’da maghrib, jalan yang dilalui sudah cukup sepi dan gelap, bahkan di jalan besar pun bisa terlihat jelas beberapa Photuris lucicrescens yang hilir mudik entah kemana. Pernah juga saat akan menghadiri kajian tatsqif di salahsatu SDIT yang ada di pusat kota kabupatennya, berangkatnya saya nyasar, saya kebablasan ikut bus yang saya tumpangi sampai di terminal pemberhentian terakhirnya. Itu karena saya benar-benar belum tahu harus turun dimana -__-, saat pulang pun ternyata saya salah tempat berdiri menunggu angkot, yang setelah sekian jam saya menunggu, tidak ada satupun angkot yang lewat di depan saya. Ini, salah satu alasan terbesar saya sangat ingin menikah saat itu -___-.

Hingga, tibalah suatu hari, saya tersadar dan malah tersenyum-senyum mengingat alasan saya saat itu :”).

Bismillaah,
Suatu saat nanti, ketika Allah mengizinkan saya menyandang amanah sebagai seorang istri sebelum Allaah memanggil saya terlebih dahulu. Saya ingin belajar dan berusaha untuk menjadi istri yang berdaya, yang kebaikan-kebaikan apapun itu selagi bisa saya upayakan sendiri, akan saya usahakan tanpa menunggu atau bergantung dengan keberadaan Pak Suami. Misal, berangkat liqo, berangkat ke tatsqif, menjenguk orang sakit, dan lain-lain yang semisal dengan ini. Tentu, dengan meminta izin sebelumnya ke beliau, juga meminta untuk diantarkan, lha? Wkwk. Memintanya cukup sekali, jika beliau nya mengatakan kemungkinan tidak bisa mengantarkan kerena suatu udzhur lain yang lebih penting, maka insyaaLlaah saya tak akan memintanya untuk yang kedua kalinya. Juga tidak menjadikan bisa atau tidaknya beliau mengantarkan sebagai suatu patokan, jadi tidak nya saya mengahdiri suatu majelis kebaikan. Ridha dan izin dari beliau sudah cukup, insyaaLlah :”).

Beberapa tahun yang lalu, salah satu abang terbaik di kampus meninggal dunia, meninggalkan istri yang baru dinikahinya setahun sebelumnya dan bayi perempuan yang masih merah pipinya. Sebulan yang lalu, tiba-tiba saya mendapat pesan dari salah satu ukhti sholiha, berbincang-bincang sejenak menanyakan kabar sebelum akhirnya beliau menyampaikan maksud beliau untuk meminjam sejumlah dana. Awalnya saya tidak berkeinginan untuk menanyakan, tapi akhirnya betanya juga mengenai untuk apakah dana itu akan dipakai?. Dan Maha Baik Allaah yang menyisipkan setiap hikmah dan pembelajaran melalui setiap takdir kehendak-Nya. Ukhti sholiha ini menyampaikan bahwa uangnya akan digunakan untuk menebus HP nya yang sedang dijadikan jaminan. Suaminya beberapa waktu yang lalu baru diberikan ujian melalui sakit yang cukup lama, sehingga beliau resign dari tempat kerjanya. Saat ini baru sembuh dan sedang berusaha untuk kembali mencari pekerjaan. Sedangkan si ukhti sholiha ini sebelumnya juga memiliki usaha sampingan olshop, dan usahanya harus berhenti sejenak sebulan yang lalu karena ketiadaan hp.

Menyaksikan kisah kisah diatas, kemudian membuat saya merenungi salah satu dari 10 muwasshofat, Qadirun ‘alal kasbi. Kemampuan untuk mandiri berpenghasilan melalui cara yang benar. Saya ingin belajar dan berusaha untuk menjadi istri yang berdaya secara finansial, yang ini masih sangat jadi PR bagi saya. Bukan di masalah istri bekerja di luar atau istri full dirumah. Yang saya pikirkan bagaimana saya berusaha untuk mengasah suatu keterampilan yang itu bernilai, bermanfaat dan bisa digunakan untuk menghasilkan uang :P. Memasak misal, atau bikin kue, atau bikin kerajinan tangan. Yang keterampilan misal ini semua belum saya punya sekarang -__-. Semua keterampilan yang tetap tidak menanggalkan kodrat kita sebagai seorang wanita dan muslimah dan seorang istri juga seorang ibu kelak.

“Dan yang paling penting dari itu semua adalah, dia harus kuat. Sehingga ketika aku benar benar harus pergi dari sisinya dia akan tetap menjadi kuat dan hebat, melanjutkan hidupnya, merawat anak anak dan mimpi mimpi kami.”

Ini salah satu tulisan salah seorang bapak-bapak, yang saya spenuh sadar menyepakatinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Belajar · challenge · Harta Karun · Hikmah · Meracacacau · sejarah

Guru Sejarah

tumblr_okj0szey3f1th2yi3o1_1280

picture taken from here

Sebagian ulama berkata, “kisah adalah sebagian dari tentara Allah yang diturunkan ke bumi”. Dan bukankah lebih dari separuh ayat Al Qur’an diturunkan dalam bentuk kisah-kisah umat terdahulu?“
–status FB mba Fitry Ratnasari-

Bismillaah,

Sejak dua tahun yang lalu sampai dengan saat saya menulis tulisan ini, saya mempunyai sebuah keinginan baru. Ingin menjadi guru sejarah!. Kalimat ini pernah saya tulis sekitar dua tahun lalu ketika menulis review dari sebuah buku leadership series yang sangat keren.

Kenapa guru sejarah? Saat menuliskan review tersebut saya juga katakan, betapa saya sangat ingin menceritakan kisah-kisah kepada adik-adik generasi muda masa kini, tentang betapa kita baik sebagai seorang muslim ataupun sebagai Warga Negara Indonesia pernah memiliki masa-masa kejayaan. Masa kejayaan yang tidak begitu saja didapat atau diberikan, ada banyak kisah perjuangan dan pengorbanan yang mendahuluinya. Semangat berkontribusi untuk bisa mengulang kembali masa-masa kejayaan ini yang ingin sekali saya tularkan kepada adik-adik masa kini :”). Pun juga, perasaan bangga sebagai seorang Muslim dan sebagai orang Indonesia yang sedini mungkin ingin saya tempelkan lekat-lekat kepada adik-adik generasi muda saat ini.

“Tidak ada yang baru di muka bumi ini”
[DR. Raghib Sirjani].

Maka, langit yang sedang menaungi kita hari ini, adalah juga langit yang sama yang menaungi Rasulullaah shallahu ‘alaihi wassalam ketika pertama kali menerima wahyu sebagai seorang Nabi dan Rasul juga kelak sebagai pemberi syafaat bagi kita, umatnya di akhir zaman ini. Juga langit yang sama, yang menaungi perjuangan beliau dan para sahabat hingga bisa mewarnai islam ke hampir 2/3 bagian bumi :”).

Matahari yang sedang menyinari kita saat ini, juga adalah matahari yang sama, yang menghangatkan Panglima Jendral Soedirman keluar masuk hutan dengan hanya sebuah paru-parunya yang berfungsi baik, walau harus ditandu oleh para ajudannya, bergerilya demi menunjukkan kepada dunia Internasional, bahwa Negara Indonesia masih ada dan belum sama sekali bertekuk lutut, walaupun Sang Presiden kita saat itu sudah berada dalam tawanan Pemerintahan Belanda. Juga Matahari yang sama yang menemani The Grand Old Man, KH. Agus Salim berangkat menghadiri Konferensi ILO di Jenewa, Swis. Beliau sampaikan pidatonya dengan sangat berani. Paragraf 1 pidatonya, beliau sampaikan dengan bahasa Belanda, paragraph 2 dengan bahasa Inggris, paragraph 3 dengan bahasa Jerman dan paragraph 4 dengan bahasa Prancis!. Pidato Agus Salim yang berisi gugatan atas kekejaman tanam paksa Belanda ini mampu membuat Amerika dan beberapa Negara Eropa tidak mau lagu membeli hasil kebun Hindia Belanda, yang perlahan membuat perekonomian Belanda terpuruk dan Indonesia mulai menjejaki perjuangan kemerdekaan. Allahu Akbar, Merdeka!:”)

Dan saya yakin, matahari yang teriknya sering di-keluh-i oleh kebanyakan dari kita saat sedang mengkritik pedas kondisi bangsa dan negara ini, adalah juga matahari yang sama yang menemani Bapak Proklamator kita menyampaikan teks proklamasi sebagai deklarasi atas kemerdekaan bangsa dan negara ini.

Setiap guru punya gaya mendidiknya masing-masing. Dan apakah kamu tahu apa salah satu “lahjah tarbiyah”, apa gaya Dzat Sang Mahabesar untuk mendidik manusia? Jawabannya: Mengisahkan sejarah. “Belajar sejarah secara umum, dan sejarah Islam secara khusus adalah kata kerja untuk generasi Robbani”, kata DR. Raghib Sirjani. [edgarhamas]

Hasil dari sebuah proses pembelajaran, baik itu belajar sejarah atau belajar hal apapun adalah mampu membuat kita semakin tunduk meng-hamba kepada Nya, dan tentu juga berhasil menggerakkan kita untuk dapat mengaplikasikannya dalam sebuah amal. Belajar sejarah bukan hanya tentang bagaimana mengingat sebuah kisah, tokoh, waktu kejadian atau peristiwa. Lebih dari itu, bagaimana dengan belajar sejarah kita mampu mentadabburi dan mengambil sebanyak-banyaknya hikmah dari setiap ketetapan kehendak-Nya yang telah terjadi.

Maka untuk bisa belajar sejarah dengan baik, selain dengan banyak membaca dan mendengar. Tentu harus juga dekat-dekat dengan Sang Pemilik Ilmu, meminta kepada-Nya untuk dapat ditunjukkan ilmu yang bermanfaat dan yang membawa keberkahan. Tidak buru-buru menarik kesimpulan sebelum membaca lebih banyak referensi juga bisa menjadi kunci keselamatan.

Dalam dunia digital seperti saat ini, setiap penuntut ilmu akan makin dimanjakan dengan kemudahan dan kecepatan dalam mengakses materi apapun. Hal ini bisa membawa keutungan namun juga bisa membawa malapetaka sekaligus. Kebenaran dan kebatilan sebuah informasi semakin terlihat abu-abu warnanya. Berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan sebuah informasi menjadi sangat utama. Ini yang masih menjadi PR utama bagi saya pribadi, bagaimana menahan diri untuk tidak terburu-buru menelan sebuah informasi tanpa dikunyah terlebih dahulu.

saat menuliskan ini,
saya belum mempunyai anak sendiri :”))
namun, keinginan untuk menjadi guru sejarah itu semoga tetap bergelora sampai nanti kelak Allaah mengizinkan beberapa hamba-Nya lahir dari rahim saya :D, minimal menjadi guru sejarah bagi anak-anak saya kelak. Saat ini sudah mulai latihan, menjadi guru sejarah dari seorang remaja berusia 17 tahun, adik semata wayang yang alhamdulillah walaupun terpakasa, wkwk dengan ridha mendengarkan saya bercerita.


Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas Nice Home Work (NHW) Program Matrikulasi Institute Ibu Profesional #Batch 5 Jakarta 4. Materi 1: Adab Menuntut Ilmu.

Belajar · challenge · Harta Karun · Hikmah · reblog · rumah

Perempuan Butuh Tahu: Tehnik Mengajarkan Al Qur’an pada Anak Anak

Assalamualaikum ukh, boleh berbagi ttg tehnik mengajarkan al-qur’an utk anak2, sy bru mulai mengajar ngaji iqra’ buat anak tk. Jazakillah khayr ukh?

oleh laninalathifah 🙂

Bismillaah, wa’alaykumussalaam warahmatullaah. Mencoba menjawab ya mbak. Semoga membantu.

Rasulullaah dulu ketika menerima ayat Al-Qur’an, beliau dibacakan langsung secara tartil oleh malaikat Jibril, kemudian beliau mengikuti (menirukan) bacaan Jibril. Metode semacam ini kemudian dikenal dengan istilah talaqqi.

“Fa idzaa qara’naahu fattabi’ qur’aanahu. (Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu).” (QS. Al-Qiyamah: 18)

Jadi mau menggunakan metode apapun, dasarnya adalah talaqqi. Guru mencontohkan bacaan yang baik, anak menirukan, kemudian guru mengoreksi bacaannya. Ini dilakukan berulang sampai anak cukup mampu melafalkan huruf atau bacaan dengan benar. Benar dalam arti tidak sekadar “keluar bunyi”, namun juga harus sesuai kaidah.

Tidak ada teknik khusus sepertinya. Hanya sesekali memang butuh trik ketika konsentrasi mereka mulai pecah, atau ketika mereka kurang bersemangat. Di saat-saat seperti ini, guru bisa menyisipkan materi berkisah tentang keutamaan Al-Qur’an, atau figur-figur shahabat Nabi dan ulama’ yang gigih dalam belajar. Berkisah tentang figur-figur teladan nyata seperti ini juga penting untuk menanamkan iman dalam hatinya.

Jadi bekal tambahan buat para pendidik adalah: mahir berkisah (bukan mendongeng loh, hihi, saya juga baru paham dimana letak bedanya). Oh ya, satu lagi, di awal KBM mungkin anak-anak bisa dibimbing untuk berwudhu terlebih dulu, karena ini termasuk di antara adab terhadap Al-Qur’an. Jadi tak sekadar belajar membaca, tapi juga belajar adabnya.

Baik mbak, mungkin hanya sedikit itu yang saya pahami. Sama-sama belajar ya mbak, karena mengajar adalah cara terbaik untuk belajar, dan belajar adalah cara terbaik untuk mengenali kelemahan diri. Semoga dimudahkan. Luruskan niat. 🙂

Wallaahu a’lam.