Dear · Meracacacau · Tarbiyah · Uneguneg

Meracacacacau 

vy 🙂 

sebelum akhirnya aku ikut dan alhamdulillah sampai sekarang masih terus berlanjut 🙂 

MR ku dan mba mba di santika sudah pada ngasih tahu, kalo masjid tempat aku akan ikutan kelas tahsin itu dikelola sama orang salafy. 

Awalnya aku jadi ragu setelah tahu, tapi di satu sisi aku sudah kepengen bangat memperbaiki bacaan Qur’an ku :(. Pun waktu yang ditawarkan juga sudah sangat pas dengan jadwal pekananku. 

Alhamdulillah, 

Sampai sekarang pun aku masih bersyukur, karena Allah menggerakan diri ini untuk datang dan tetap belajar disana. 

Iya ustadzah ustadzah nya sebagian besar bercadar. Tapi mereka juga Hafidzoh 🙂 

Iya ustadzah ustadzah nya sama sekali ga ngomongin pilkada atau tentang aksi bela islam atau bela ulama yang sedang hot hot nya beberapa bulan yang lalu. Tapi mereka ngomongin tentang tata cara wudhu Rasulullah dan cara sholat Rasulullah. Mereka ngomongin tentang kemuliaan Al Quran dan orang orang yang mempelajarinya. 

Mereka mengajarkan lebih tentang kecintaan kita pada Al Qur’an dan ibadah ibadah yang berdasar sunnah., yang belum aku dapatkan lebih di lingkaran lingkaran tarbiyah ku 😦

bahkan, bulan bulan menjelang pilkada, jadwal liqo hampir selalu diganti dengan ragam agenda kampanye, baksok, yankes, konsolidasi, dll. 

sedang, di masjid itu, walau bagaimana apapun panasnya kondisi bangsa di luar. Agenda mempelajari Al quran tetap berjalan, dengan banyak atau sedikitnya peserta yang hadir. 

satu sisi, kadang aku merasa lebih nyaman, sangat nyaman berada bersama lingkaran ku, bersama sama mempelajari Al Quran. 

Namun, 

satu sisi pun aku sadar, apa yang sedang aku pelajari sekarang.  selain untuk ‘keselamatan’ diri ku sendiri, bukankah juga sebagai sarana untuk meyelamatkan ummat?

🙂 

kemudian aku pun tersadar, 

iya mereka mengajarkan ku tentang kecintaan terhadap Al Qur’an, terhadap Ibadah Ibadah berdasar sunnah. 

Tapi, 

lingkaran tarbiyah ku mengajarkan ku tentang kecintaan terhadap ummat. Tentang ummat,  tentang bangsa, tentang peradaban. Tentang peran sebagai khalifatul fil ard. 

🙂 

ndak ada yang bersebrangan disini, 

malah justru, ini adalah satu kesatuan yang seharusnya dilalui oleh setiap orang yang memilih untuk mengambil peran sebagai seorang dai. 

Bahwa mereka harus sudah memiliki sebelum kemudian memberi. 

Bahwa mereka seharusnya sudah selesai atau setidaknya dalam proses untuk menjadi pribadi pribadi dengan kafaah sebagai ‘Dai’, yang siap dijadikan tempat rujukan ketika ummat bertanya.

Advertisements
challenge · Meracacacau

#mumpungramadhan 3: Bersahur Mesra

day3 (2)

Bismillah…

Di waktu sahur ada keutamaan istighfar bagi lisan & makan bagi pencernaan. Sungguh paduan indah; saat dosa dibersihkan & ketaatan dibekali:)

“Di dalam sahur ada berkah”; kekuatan tuk taat, daya tuk beribadat, tenaga tuk berkhidmat, semangat menjemput nikmat, giat menebar manfaat.

“Di dalam sahur ada berkah”; terhubung pada Allah yang Maha Akbar, tersambung ke langit dengan istighfar, disambut malaikat sejelang fajar.

Di dalam sahur ada berkah”; bangun juangkan tegar, membangunkan berlatih sabar, makan bersama syukur terpancar, cinta keluarga kian mekar.

(ust. Salim A Fillah)

Diwaktu yang sama jutaan umat muslim makan bersama.
Makan sahur sebagai pembeda.
Berharap pahala diakhirnya.

Walaupun kuat puasa tanpa sahur,
tetap usahakan bangun untuk sahur walau hanya dengan seteguk air,
buru berkahnya! :”)

#mumpungramadhan

 

challenge · Meracacacau

#mumpungramadhan 2: Feel The Happiness

day2

Bismillah…

Apa jawaban kamu saat ditanya,
“apa yang paling kamu ingat tentang Ramadhan”

“keingetnya pas ifthor bareng di masjid kampus”

“Seneng bangat, soalnya bakalan bisa ketemuan dan buka bareng teman-teman lama”

“kalo pas puasa ditempatku tuh rame bangat mba, seneng deh pokoknya”

*baru ngebayanginnya aja kayaknya juga ikutan bahagia ga sih? :”)

Ada yang bilang begini:
Kita tampak seperti begitu menggebu menunggu Ramadhan tiba.
Setelah bulan penuh rahmat itu datang, nyatanya ibadah kita tetap segitu-gitu saja.
–anonymous-

Waah jangan sampai ya! :”)
semoga merasa dan terasa bahagianya juga terus terusan dari sebelum, saat dan pascanya.

Bahagia saat di bulan Ramadhan, bahagia saat melakukan banyak amalan di bulan penuh rahmat ini.

Bahagiaaanya dilanjutin, amalannya jugaa lanjut :”)

#mumpungramadhan

Coretan #mumpungramadhan adalah bagian dari proyek belajar berkarya selama bulan Ramadhan 1438 H. Dibuat bersama oleh Novy Marsael dan Octa Raisa yang InsyaaLlah akan dimuat setiap hari sepanjang bulan ramadhan. Semoga coretan ini bisa mengundang keridho-an-Nya dan memberi banyak manfaat, terutama bagi yang membuat. Happy Ramadhan!:)

 

 

 

 

challenge · Meracacacau

#mumpungramadhan 1: You’re Invited 


Bismillah…

Kata marhaban terambil dari kata raheb yang berarti luas/lebar. Ia diucapkan kepada tamu untuk menggambarkan bahwa ia disambut dengan hati lapang penuh kegembiraan. Dari akar kata raheb lahir juga kata yang berarti tempat perhentian musafir untuk memperbaiki kendaraan dan mengambil bekal perjalanan.
(http://quraishshihab.com/article/marhaban-ya-ramadhan/)

===

Marhaban yaa Ramadhan :”)
Selamat!
Kamu telah diundang untuk sampai dan menghadiri jamuan Ramadhan dari Nya :”).

Jangan dilewatkan,
Borong sebanyak-banyaknya amalan dan ampunan di bulan keberkahan ini, sebagai bekal kelak.

#mumpungramadhan

Coretan #mumpungramadhan adalah bagian dari proyek belajar berkarya selama bulan Ramadhan 1438 H. Dibuat bersama oleh Novy Marsael dan Octa Raisa yang InsyaaLlah akan dimuat setiap hari sepanjang bulan ramadhan. Semoga coretan ini bisa mengundang keridho-an-Nya dan memberi banyak manfaat, terutama bagi yang membuat. Happy Ramadhan!:)

Hikmah · KisahSahabat · reblog · sejarah

Kami Menamai Anak Kami Untuk Musuh-Musuh Kami dan Menamai Budak Kami Untuk Kami Sendiri

Para orang tua akan berusaha memberikan nama terbaik bagi buah hati mereka. Sampai-sampai ada buku khusus yang hanya berisi nama-nama. Buku itu dibua agar para orang tua mudah memilihkan nama yang mulia. Hal ini berlaku sedari dulu, kecuali di masyarakat Arab jahiliyah.

Membaca buku-buku sejarah bangsa Arab atau syair-syair Arab klasik, kita akan jumpai nama-nama yang buruk ,mengerikan, dan tidak disukai. Seperti nama nenek moyang orang Quraisy, termasuk nenek moyang Nabi ﷺ, adalah Qushay bin Kilab bin Murrah. Sedangkan Nabi ﷺ bersabda,

“Sedangkan nama yang paling buruk adalah Harb dan Murrah.” (HR. Abu Dawud, Bab Pengubahan Nama, No. 4950).

Kita juga tahu nama kakek sahabat yang mulia Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu adalah Harb.

Kilab artinya anjing-anjing. Murrah artinya pahit. Dan Harb artinya peperangan.

Nama-nama Arab lainnya adalah Sahm yang artinya anak panah. Alat untuk membunuh. Ada yang namanya Duqaisy, binatang kecil. Kemudian Muqatil (pembunuh), Muharib (orang yang berperang), Dharar (membahayakan), Asad (singa), Namr (macan tutul). Ada pula seorang sahabat yang namanya Hanzhalah yang artinya buah yang sangat pahit. Ada yang namanya Hazn (kasar) diganti oleh Nabi ﷺ dengan Sahl (lembut), dll.

Di sisi lain, mereka namai budak-budak mereka dengan nama yang indah dan bermakna baik. Seperti, Marzuq (yang diberi rezeki), Mahbub (yang dicintai), Falah (yang sukses), Farah (yang bahagia), Najah (yang berhasil), Salim (yang selamat), dll.

Tentang hal ini, Abu Duqaisy al-Kilabi pernah ditanya, “Mengapa kalian (orang-orang Arab) menamai anak-anak kalian dengan nama-nama yang buruk. Seperti Kalb (anjing) dan Dzi’bun (srigala). Sementara budak-budak kalian dinamai dengan nama-nama terbaik. Seperti Marzuq dan Rabah?”

“Kami menamai anak-anak kami untuk musuh kami. Dan menamai budak-budak kami untuk kami,” jawab Abu Duqaisy al-Kilabi.

Maksudnya adalah anak-anak mereka dibutuhkan pada saat bertempur menghadapi musuh. Nama-nama itu disebut dengan lantang di medan perang untuk menggertak dan membuat mental musuh ciut. Di sisi lain, nama-nama itu untuk mengangkat moral pasukan sendiri. Ketika nama Muqatil (sang pembunuh) dipanggil dengan lantang di medan tempur, maka akan menimbulkan kesan di barisan musuh. Dan kebanggaan di barisan pasukan sendiri.

Sedangkan budak-budak mereka, dibutuhkan siang dan malam. Budak-budak itu selau bersama mereka di rumah. Mereka senang menyebut nama-nama yang baik itu untuk melayani mereka.

Bimbingan Islam

Islam memerintahkan umatnya untuk membaguskan nama anak. Dan sudah semestinya kaum muslimin memilih nama-nama yang dicintai oleh Allah ﷻ. Nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman. Nama yang paling benar adalah Harits dan Hammam…” (HR. Abu Dawud, Bab Pengubahan Nama, No. 4950).

Pelajaran

Pertama: Orang Arab menamai anak mereka dengan nama buruk bukan untuk mendoakan keburukan bagi si anak. Tapi untuk menjadikan mereka sebagai ancaman para musuh. Walaupun demikian tetap diganti oleh Rasulullah ﷺ.

Kedua: Tidak semua orang yang hidup di masa jahiliyah memperlakukan budak mereka dengan buruk.

Ketiga: Islam mengganti nama-nama buruk dengan nama yang baik, apapun alasan penamaan tersebut.

Keempat: Para orang tua hendaknya memperhatikan arti dari nama-nama yang mereka berikan kepada anak-anak mereka. Walaupun dari bahasa Arab, bisa jadi maknanya buruk.

Daftar Pustaka:
– Harb, Thalal. TT. Syarh Diwan Muhalhal bin Rabi’ah. Ad-Dar al-Amaliyah.
– al-Qalqasynadi. 1987. Shubh al-A’sya fi Shina’ah al-Insya. Damaskus: Dar al-Fikr.
– al-Qahthani, Said bin Ali. 2015. Panduan Lengkap Tarbiyatul Aulad. Solo: Zamzam.

…. 

tulisan asli diambil dari sini

KisahSahabat · reblog

#lebihdekatdengansahabat 29: Abdurrahman bin ‘Auf

oleh Muhammad Akhyar

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan:”).

Ramadan pun berakhir, namun tentu saja semangat kita dalam mendekat lagi dan lagi menuju kebenaran itu, kepada Tuhan tak terhenti begitu saja. Serial lebih dekat dengan sahabat pun pada akhirnya akan selesai pula. Satu yang dapat saya petik dari menulis kisah ringkas sahabat ini, konsistensi itu berat. Kemudian, jikalau ada hal-hal yang tak pantas dalam penulisan serial ini, saya memohon maaf kepada Allah dan para hadirin pembaca. Terakhir, serial ini akan ditutup oleh seorang sahabat yang luar biasa. Kita mulai saja fragmennya.

Suatu ketika Madinah yang biasanya aman dan tenteram menjadi begitu gaduh. Semua orang berkerumun. Sebabnya jelas, dari pinggir kota terlihat debu mengepul tebal. Debu tersebut menutup pandangan mata. Orang-orang menyangkanya ada angin ribut yang menyapu dan menerbangkan pasir. Akan tetapi dari balik debu tersebut orang-orang dapat mendengar suara hiruk pikuk serombongan kafilah besar.

Jika saat itu kita berada di sana, kita akan melihat tujuh ratus kendaraan yang sarat muatan memenuhi jalan-jalan Madinah. Tentu saja hal ini menjadi pemandangan yang membuat orang-orang tak sungkan untuk berkumpul dan bergembira karena datangnya rezeki yang datang dibawa kafilah ini.

Ibunda kita tercinta, Aisyah demi mendengar hiruk pikuk ini bertanya apakah yang sebenarnya terjadi di kota Madinah. Ia kemudian mendapat jawaban bahwa kafilah Abdurrahman bin ‘Auf baru datang dari Syam membawa barang-barang dagangannya. Bunda kita, Aisyah, bertanya lagi apakah kafilah itu yang menyebabkan semua kesibukan yang terjadi. Ia pun kembali mendapat penegasan bahwa kehebohan itu terjadi karena adanya tujuh ratus kendaraan sekaligus memasuki kota. Ibunda kita pun menggeleng-gelengkan kepala, sembari melayangkan pandangan, ia mengingat bahwa Rasulullah pernah suatu kali berkata,

“Kulihat Abdurrahman bin ‘Auf masuk surga dengan perlahan-lahan.”

Sebagian sahabat pernyataan bunda Aisyah itu kepada Abdurrahman. Ia pun teringat Rasulullah pernah menyampaikan itu lebih dari satu kali dan dengan susunan kata yang berbeda. Mari kita simak ucapan Rasulullah yang lain itu,

“Wahai ibnu ‘Auf, anda termasuk golongan orang kaya dan anda akan masuk surga secara perlahan-lahan. Pinjamkanlah kekayaan itu kepada Allah, pasti Allah mempermudah langkah anda.”

Duhai saudara, kita tidak sedang membicarakan seseorang dengan level keimanan seperti kita. Kita tidak akan pernah mempermasalahkan bagaimanakah cara kita masuk surga, perlahankah, cepatkan, tertatih-tatihkah. Tidak, sekarang kita membicarakan sahabat yang merupakan satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Saat ini kita sedang menyuplik salah satu dari delapan sahabat yang mula-mula masuk Islam. Untuk itu perkataan masuk surga secara perlahan, tentu membuatnya gundah.

Sebelum tali-temalinya perniagaannya dilepaskan, ia segera menuju rumah ibunda kita Aisyah. Ia pun berkata,

“Anda telah mengingatkanku suatu hadits yang tak pernah kulupakan, dengan ini aku berharap dengan sangat agar anda menjadi saksi, bahwa kafilah ini dengan semua muatan berikut kendaraan dan perlengkapannya, kupersembahkan di jalan Allah azza wajallah.”

Begitulah Abdurrahman bin ‘Auf. Sahabat kaya raya namun tak pernah sudi kehilangan kesempatannya untuk masuk surga dengan segera seperti sahabat-sahabatnya yang lain. Ia pun sendiri heran dengan perniagaannya yang begitu berkembang pesat bahkan dinyatakan kafilah-kafilah miliknya mampu memenuhi kebutuhan makanan dan pakaian jazirah Arab. Demi melihat ini ia pernah berkata,

“Sungguh kulihat diriku, seandainya aku mengangkat batu niscaya kutemukan di bawahnya emas dan perak.”

Begitulah Abdurrahman bin ‘Auf seorang hartawan tetapi tak mau menggadaikan dirinya demi kilauan dunia. Lihatlah ketika ia menjual tanah seharga empat puluh ribu dinar, kemudian uang itu dibagi-bagikannya untuk keluarganya, untuk para isteri Nabi, dan untuk kaum fakir miskin. Lihatlah pula ketika ia menyerahkan lima ratus ekor kuda untuk perlengkapan balatentara Islam dan di hari yang lain seribu ekor kuda. Lihatlah pula menjelang ia wafat, ia berwasiat lima puluh ribu dinar untuk jalan Allah, kemudian diwasiatkannya pula bagi setiap orang yang ikut perang Badar dan masih hidup masing-masing empat ratus dinar, hingga Utsman yang terbilang kaya pun mengambil bagian wasiat itu. Ia berkata,

“Harta Abdurrahman bin ‘Auf halal lagi bersih dan memakan harta itu membawa selamat dan berkah.”

Akan tetapi banyaknya sedekah ini tak pernah membuatnya tenang. Suatu hari saat ia sedang berpuasa, dihidangkanlah makanan untuknya berbuka. Timbullah selera makannya, tetapi selanjutnya berurailah air matanya,

“Mush’ab bin Umeir telah gugur sebagai syahid, ia seorang yang jauh lebih baik daripadaku, ia hanya mendapat kafan sehelah burdah. Jika ditutupkan ke kepalanya, kelihatanlah kakinya, dan jika ditutupkan kedua kakinya, terbukalah kepalanya.

Demikian pula Hamzah yang jauh lebih baik daripadaku. Ia gugur sebagai syahid dan di saat akan dikuburkan hanya terdapat baginya sehelai selendang. Telah dihamparkan bagi kami dunia seluas-luasnya, dan telah diberikan pula kepada kami hasil sebanyak-banyaknya. Sungguh kami khawatir kalau-kalau telah didahulukan pahala kebaikan kami.”

Ya, begitulah Abdurrahman bin ‘Auf, orang yang cemas dengan apa yang ia miliki hingga menjelang ajalnya ia masih berkata,

“Sesungguhnya aku khawatir dipisahkan dari sahabat-sahabatku karena kekayaanku yang melimpah ruah.”

Ah, sungguh kekhawatirannya itu adalah bentuk keimanan yang begitu tinggi. Padahal Rasulullah pernah bersabda untuknya sebagaimana dikatakan Ali,

“Anda adalah orang yang dipercaya oleh penduduk langit, dan dipercaya pula oleh penduduk bumi.”

KisahSahabat · reblog

#lebihdekatdengansahabat 28: Utbah bin Ghazwan

oleh Muhammad Akhyar

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan:).

Di hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang begitu kita cintai ini ada baiknya kita menyimak peri kehidupan seorang sahabat mulia, Utbah namanya. Ia adalah seorang mujirin pertama yang hijrah ke Habsyi. Ia adalah satu dari tujuh sahabat pertama yang membaiat Rasulullah untuk menyatakan kesetiaannya. Ia adalah satu dari sedikit pemanah Muslim yang telah begitu besar jasanya dalam perjuangan Islam.

Marilah kita lihat penampilan Utbah. Seorang laki-laki berperawakan tinggi dengan wajah bercahaya dan tampak rendah hati. Hari-hari di Mekkah pada saat ia memasuki Islam sudah tak sama lagi jika dibandingkan hari-hari sebelumnya. Penyiksaan, penindasan, kesukaran adalah makanan sehari-harinya. Untuk itulah Rasulullah memintanya untuk hijrah ke Habsyi. Peristiwa ini telah pernah kita singgung ketika kita berada di fragmen Ja’far. Telah amanlah ia di Habsyi, tetapi cinta tak bisa dipungkiri. Laut ia seberangi untuk mencapai Mekkah kembali. Tujuannya jelas, ingin selalu berdekat-dekatan dengan Rasulullah sang utusan ilahi.

Sampai suatu ketika di masa kekhalifahan Umar, Utbah diminta untuk ke Ubullah. Tujuannya membebaskan kota itu dari tentara Persia yang ingin menjadikannya sebagai batu loncatan untuk menghancurkan kekuatan Islam. Kala itu Umar berkata kepada Utbah,

“Berjalanlah anda bersama anak buah anda, hingga sampai batas terjauh dari negeri Arab dan batas terdekat negeri Persia.

Pergilah dengan restu Allah dan berkah-Nya. Serulah ke jalan Allah siapa yang mau dan bersedia.

Dan siapa yang menolak hendaklah ia membayar pajak.

Dan bagi setiap penantang, pedanglah bagiannya, tanpa pilih bulu.

Tabahlah menghadapi musuh serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu.”

Pergilah Utbah untuk bertempur. Dan di titik kemenangan itu Utbah mendirikan kota Basrah. Kota itu dilengkapinya dengan sarana perkotaan dan sebuah masjid besar. Kemudian ketika ia merasa ia sudah melakukan tugasnya dengan baik, ia memilih hendak meninggalkan kota itu dan pulang ke Madinah. Ia bermaksud hendak menjauhkan diri dari urusan pemerintahan, namun Umar berkeberatan dan menyuruhnya tetap di sana.

Utbah pun menaati pemimpinnya itu. Ia berdiam kembali di Basrah. Ia membimbing melaksanakan salat, memberi pengertian dalam soal agama, menegakkan hukum dengan adil, serta memberi contoh teladan yang sangat mengagumkan tentang kezuhudan, wara’, dan kesederhanaan. Suatu kali ia berpidato di tengah-tengah warganya,

“Demi Allah, sesungguhnya telah kalian lihat aku bersama Rasulullah sebagai salah seorang kelompok tujuh, yang tak punya makanan kecuali daun-daun kayu, sehingga bagian dalam mulut kami pecah-pecah dan luka-luka. Suatu hari aku beroleh rezeki sehelai kain burdah, lalu kubelah dua, yang sebelah keberikan kepada Sa’ad bin Malik dan sebelah lagi kupakai untuk diriku.”

Inilah Utbah, orang yang pernah berucap,

“Aku melindungi diri kepada Allah dari sanjungan orang terhadap diriku karena kemewahan dunia, tetapi kecil pada sisi Allah.”

Inilah ia Utbah, yang ketika selesai menunaikan haji di Mekkah berangkatlah ia menuju Madinah. Tujuannya hanya satu, ingin mengundurkan dari jabatan kepada khalifah, Umar. Namun, sekali lagi Umar menolak permintaannya. Dan sekali lagi Utbah tak kuasa untuk tidak menaati perintah itu. Hanya saja kali ini, dalam perjalanan pulangnya ke Basrah, sambil menghadap ke arah kiblat, ia memohon kepada Allah agar tidak dikembalikan ke Basrah dan tidak pula kepada pimpinan pemerintahan selama-lamanya.

Doanya diperkenankan Allah. Utbah dijemput malaikat maut pada saat perjalanannya.

KisahSahabat · reblog

#lebihdekatdengansahabat 27: Abu Ayyub Al-Anshari

oleh Muhammad Akhyar

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan:).

Tentu kita sudah sering mendengar tentang Rasulullah yang pernah memberi kabar bahwa Konstatinopel suatu saat akan dikuasai oleh orang-orang Muslim. Beliau menyatakan pula bahwa pasukan yang menaklukkan itu adalah pasukan terbaik dan dipimpin oleh pimpinan terbaik. Kita mengenal pemimpin pasukan itu Muhammad Al-Fatih. Lalu, apa hubungannya kisah ini dengan rangkaian ikhtiar kita untuk mengenal para sahabat Rasulullah? Tentu saja ada. Namun, kita akan menahannya sejenak, kita akan melihat dulu fragmen ketika Rasulullah baru sampai di Madinah.

Ya, jikalau kita saat itu ada di sana, kita akan melihat Rasulullah mengendarai untanya. Kita akan terpukau melihat unta tersebut berjalan di tengah barisan manusia yang penuh sesak. Tak sekadar berdesak-desakan masing-masing orang-orang tersebut berebut memegang tali kekang unta Rasulullah. Tujuannya jelas, agar Rasulullah sudi bermukim di kediaman mereka. Demi melihat hal ini Rasulullah hanya bisa berucap,

“Biarkanlah, jangan halangi jalannya, karena ia hanyalah melaksanakan perintah.”

Hingga akhirnya, bersimpuhlah unta tadi di depan kediaman Bani Malik bin Najjar. Turunlah Rasulullah dari atas untanya. Tentu saja melihat Rasulullah turun dan artinya memilih tempat itu sebagai kediamannya sementara, sang pemilik tiada lain yang ia rasakan kecuali kebahagiaan.

Sahabat ini pun maju mengambil barang muatan Rasulullah dan memasukkannya ke rumahnya. Inilah dia Abu Ayyub, cucu Malik bin Najjar. Pertemuan ini bukanlah yang pertama. Abu Ayyub adalah satu dari tujuh puluh orang Anshar yang berbaiat kepada Rasulullah di Baiat Aqabah yang kedua. Selanjutnya ketika Rasulullah telah memilih untuk menempati lantai dasar rumahnya, naiklah Abu Ayyub untuk tinggal di lantai dua rumahnya. Tak lama, ia pun menggigil. Ia tak kuasa membayangkan dirinya tidur atau berdiri di atas suatu tempat yang lebih tinggi dari Nabi. Ia lalu mendesak Nabi agar bersedia pindah ke atas. Permintaannya ini akhirnya dikabulkan oleh Rasulullah.

Inilah dia Abu Ayyub, orang yang senantiasa menyenandungkan Surat at- Taubah ayat 41,

“Berjuanglah kalian, baik di waktu lapang, ataupun di waktu sempit.”

Oleh karena itu, kita akan melihat Abu Ayyub selalu berada di dalam pasukan kaum Muslimin entahkah ketika Rasulullah masih hidup ataupun ketika masa-masa Rasulullah sudah tiada. Termasuk ketika bala tentara Islam bergerak ke arah Konstatinopel. Hanya di pertempuran kali ini, beliau mendapatkan luka yang sangat parah.

Dalam kondisi seperti ini, Yazid bin Muawiyyah, panglima pasukan kala itu, bertanya tentang keinginannya. Dari mulutnya yang mulia itu, kita akan mendapat jawaban yang sama sekali tak terbayangkan. Ia meminta jika ia sudah meninggal nanti agar jasadnya dibawa dengan kuda sejauh-jauhnya jarak yang dapat ditempuh ke arah musuh dan di sanalah ia ingin dikebumikan. Ah, rupanya Abu Ayyub ingin mendengar derap langkah kuda yang membawa kemenangan umat Islam sebagaimana yang dijanjikan Rasulullah. Derap pasukan yang dipimpin al-Fatih.

KisahSahabat · reblog

#lebihdekatdengansahabat 26: Miqdad bin ‘Amr

oleh Muhammad Akhyar

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan,:).

Di hari ke dua puluh enam Ramadan ini kita akan membahas seorang sahabat yang merupakan orang ketujuh yang menyatakan keislamannya secara terang-terangan. Ia dikenal sebagai orang yang pertama memacu kudanya dalam perang membela agama Allah. Ya, kali ini kita akan mencuplik kisah sahabat nan mulia, Miqdad bin ‘Amr.

Kita akan akan langsung melihat sosok Miqdad yang luar biasa di musyawarah yang dilakukan Rasulullah. Kala itu musyawarah dilakukan untuk membahas apa yang harus dilakukan orang-orang Muslim di Madinah menghadapi orang-orang Quraisy dari Mekkah, sementara kekuatan Muslim di Madinah juga belumlah seberapa. Dan harap dicatat sebelum ini belum pernah sejarah mencatat orang-orang Muslim melakukan peperangan. Ini adalah pengalaman pertama, ini adalah masa ketika Muslim masih lemah kekuatannya.

Saat-saat seperti inilah Miqdad ambil bicara,

“Duhai Rasulullah. Teruslah laksanakan apa yang dititahkan Allah dan kami akan bersama anda. Demi Allah kami tidak akan berkata seperti yang dikatakan Bani Israil kepada Musa, ‘Pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah, sedang kami akan duduk menunggu di sini.’ Tetapi kami akan mengatakan kepada anda, ‘Pergilah anda bersama Tuhan anda dan berperanglah, sementara kami ikut berjuang di samping anda.

Demi yang telah mengutus anda membawa kebenaran. Seandainya anda membawa kami melalui lautan lumpur, kami akan berjuang bersama anda dengan tabah hingga mencapai tujuan, dan kami akan bertempur di sebelah kanan dan di sebelah kiri anda, di bagian depan dan di bagian belakang anda, sampai Allah memberi anda kemenangan.”

Inilah kata-kata yang mengandung keimanan, kesetiaan, kepercayaan, dari seorang sahabat ke sahabatnya yang lain. Kata-kata yang mampu menggetarkan siapa pun yang mendengarnya. Dan tentu saja kata-kata ini membuat wajah Rasulullah berseri-seri, sementara dari mulutnya yang mulia keluar doa-doa untuk kebaikan Miqdad.

Inilah dia Miqdad, orang yang disebut Ibnu Mas’ud,

“Saya telah menyaksikan perjuangan Miqdad, sehingga saya lebih suka menjadi sahabatnya dari pada segala isi bumi ini.”

Inilah Miqdad, orang yang begitu mengerti bahwa amanah adalah sebuah tambahan tanggung jawab yang harus dipikul, alih-alih kesempatan untuk mengambil keuntungan. Suatu kali ia diangkat Rasulullah sebagai pemimpin di sebuah daerah. Tatkala ia kembali dari tugasnya, Nabi bertanya,

“Bagaimanakah pendapatmu menjadi Amir?” Dengan kejujuran dijawabnya, “Anda telah menjadikan daku menganggap diri di atas semua manusia sedang mereka semua di bawahku. Demi yang telah mengutus anda membawa kebenaran, semenjak saat ini saya tak berkeinginan menjadi pemimpin sekalipun untuk dua orang, selama-lamanya.”

Ya, begitulah Miqdad. Orang yang senantiasa mendendangkan hadits Rasulullah,

“Orang yang berbahagia ialah orang yang dijauhkan dari fitnah.”

Dan tak salahlah, Rasulullah menyampaikan hal ini kepadanya,

“Sungguh, Allah telah menyuruhkan untuk mencintaimu, dan menyampaikan pesan-Nya padaku bahwa Ia mencintaimu.”