challenge · Dear · Harta Karun · Hikmah · they're said

Allaah Tidak Minta Kesempurnaan

nak.ig
image from here :”)

oleh NAK Indonesia

Ada pemikiran fatalistik yang berkembang di masyarakat dalam konteks pendidikan. Mungkin di antara kita pun ada yang pernah merasakan ditekan orang tuanya karena masalah peringkat di sekolah dengan ungkapan, “Lalu buat apa kami mengirimmu untuk bersekolah?” “Apa gunanya jadi peringkat kedua?”

Banyak anak yang tumbuh dengan budaya seperti ini akhirnya berpikir bahwa mereka baru berguna hanya jika menjadi yang terbaik. Jika tidak jadi yang terbaik, maka mereka tidak berguna. Banyak orang yang tidak bisa lepas dari cara berpikir ini hingga dewasa dan mengalami depresi.

Depresi ini kemudian tidak hanya berpengaruh dalam konteks pendidikan saja. Namun berpengaruh juga kepada kepribadian mereka, misalnya terhadap akan jadi orang tua seperti apa mereka, akan jadi suami atau istri seperti apa mereka, bahkan bisa juga berpengaruh pada kehidupan beragama mereka.

Mereka bertanya kepada diri mereka, “Kalau saya bukan orang yang terbaik imannya, apa gunanya beribadah?” Mereka akan putus asa untuk beribadah, termasuk salat. Kita pun sering mendengar alasan mengherankan. “Saya kan bukan manusia sempurna, saya tidak bisa menjalankan semua ajaran agama ini!” Cara berpikir seperti akan hancur hanya dengan satu kata yaitu, “ahsanu amala” (QS. Al Mulk ayat 2). Ada beberapa terjemahan ayat “Ayyukum ahsanu ‘amalaa” ini dengan “siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.” Terjemahan ini kurang tepat. Yang lebih tepat adalah “Siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.”

Ahsanu adalah “Ism Tafdhiil lil Muqooronah” yang tujuannya untuk perbandingan. Kata Ahsanu bukan “Af’alu Tafdhiil” karena “Mudhoof” . Kata Ahsanu di sini juga tidak menggunakan “Alim Laam Ta’riif”. Jika disebut, “Al-ahsanu ‘amalaa” seperti pada, “Bil-alkhsariina ‘amaalaa” maka baru bermakna paling (superlatif) sehingga artinya adalah terbaik. Jika tidak ada “alif Laam Ta’riif”, maka maknanya adalah perbandingan (komparatif) sehingga artinya adalah lebih baik.

Perbedaan penerjemahan ini membawa konsekuensi serius mengenai apa yang Allah inginkan atas kita. Sebab ada perbedaan antara “lebih baik” dan “terbaik“. Hanya mungkin ada satu saja yang terbaik, tidak mungkin ada dua orang yang terbaik. Sebab “Terbaik” berarti nomor satu. Padahal selalu akan ada orang yang lebih baik daripada kita.

Dari sisi individu saja kita tidak bisa mengatakan, “Akhirnya, saya menjadi yang terbaik yang saya bisa.” Karena mungkin besok kita bisa melakukan yang lebih baik lagi. Yang dapat kita katakan adalah, “Alhamdulillah, hari ini saya bekerja lebih baik.” Kalau kita bandingkan antarindividu, setiap orang berbeda ketika melakukan yang lebih baik. Ada yang melakukan lebih baik secara perlahan, yang lain bisa dengan cepat.

Sebagian ada yang bersedia memberi semua harta mereka demi Allah, sebagian orang lain hanya dapat memberi satu persen apa yang mereka miliki, dan itu tetap lebih baik daripada tidak ada. Tidak masalah.

Semua orang membuat kemajuan dengan jalan ceritanya masing-masing. Ini adalah hal yang indah dan rahmat yang Allah tetapkan dalam agama ini bahwa Allah tidak meminta kesempurnaan, tetapi perbaikan. Bukan melihat siapa yang terbaik, tetapi melihat siapa yang mengambil langkah untuk memperbaiki diri.

Disadur dari video penjelasan ustadz Nouman Ali Khan :”).

 

Advertisements
Dear · reblog

Pengabulan Doa

oleh Nay [nailymakarima.tumblr.com]

A : Menurutmu, ada nggak do’a yang sia-sia?

B : Nggak lah. Orang udah jelas-jelas Allah berfirman “Berdo’alah, maka akan Aku kabulkan..”

A : Iya ding. Tapi sayangnya, orang-orang suka mengeluh kalau do’anya belum dikabulin.

B : Mereka kurang sabar itu mah.

A : Maksudnya?

B : Mereka tergesa-gesa do’anya pingin segera dikabulkan. Nggak sabar. Padahal pasti do’a itu dikabulkan kalau kita terus bersabar.

A : ….

B : Harusnya tuh ya, kita malu sama Nabi Ibrahim. Kamu tahu Nabi Ibrahim berdo’a apa?

A : Apa?

B : Ya Allah, nanti diantara keturunanku penduduk Makkah ini tolong jadikan diantara mereka seorang Rosul yang akan membacakan untuk mereka ayat-ayatku. Mengajarkan kitab dan hikmah. Mensucikan mereka.

A : ……

B : Bayangannya Nabi Ibrahim itu nggak jauh-jauh lho. Cucunya Ismail atau cicitnya gitu, akan ada Rasul yang akan ada disana. Tapi, kamu tahu berapa lama do’a itu dikabulkan oleh Allaah?

A : Nggak tau. Berapa lama emang?

B : Kalau ikut hitungannya Ibnu Abbas 4200 tahun kemudian. Karena jarak antara nabi Muhammad ke nabi Isa 600 tahun. Nabi Isa ke nabi Musa 1200 tahun. Nabi Musa ke nabi Ibrahim 2400 tahun. Jadi kalau ditotal menjadi 4200 tahun. See, ada jarak 4200 tahun dari do’a yang dikabulkan dengan pengabulannya. Jadi, tidak ada yang sia-sia kan dalam do’a itu.

A : MashaAllah.. :”””

B : Jadi Allaah itu kalau memberi lebih baik daripada yang kita minta. Orang yang tidak pernah kita minta saja diberi. Jadi, kalau kita minta pastinya lebih baik dari yang kita minta. Kamu pernah minta nafas?

A : Nggak pernah… :””

B : Nah, nggak pernah kan. Kecuali kalau sejak tadi asmamu kumat. Haha. Tapi, Allah terus memberi udara kepada kita untuk bernafas. Maka, pada sesuatu yang kita minta, pastinya Allah memberi lebih baik.

A : Haha. Oh iya ya..

B : Coba perhatiin. Nabi Ibrahim itu cuman mendo’akan Makkah lho. Indonesia nggak dido’ain. Apalagi Jakarta. Haha. Tapi nyatanya? Allah mengabulkan seorang Rosul bukan buat Makkah doang. Tapi buat seluruh alam semesta. Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam.

A : Hahaha. Iya ya. Emm, kamu malu sama Nabi Ibrahim?

B : Malu lah 😭

A : Iya sama 😭

B : Makanya, yuk jangan pernah putus asa buat berdo’a. Untuk kita, untuk keturunan-keturunan kita nanti.

A : Siyaaaaap. InshaAllah. Hehehe.

أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

“Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.”

-Sura Al-Baqarah, Ayah 186-

.

pict from Pinterest.

Harta Karun · Hikmah

Bertemu Mantan :P

Imam Ibn Katsir rahimahuLlah dalam tafsirnya mengabadikan keresahan ‘Urwah bin Zubair ketika membaca ayat ke 158 dari Surah Al Baqarah,

(إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ ۖ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا ۚ وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ)

“Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian syi‘ar (agama) Allah. Maka barangsiapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sa‘i antara keduanya. Dan barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui.”

“Kalau mengerjakan sa’i antara Shofa dan Marwa tidak ada dosa baginya, maka tidak mengerjakannya tentu lebih baik.”, begitu kira-kira yang difahami tabiin agung ini.

Beruntungnya, ummul mukminin ‘Aisyah radhiaLlahu ‘anha meluruskan pemahaman keponakannya itu dengan berkata, “Tidak begitu wahai putra saudariku -FYI: ‘Urwah adalah putranya Asma, dan Asma adalah tetehnya Aisyah-, dahulu orang Anshar sebelum masuk Islam memiliki berhala Manat diantara Shofa dan Marwa yang mereka jadikan untuk berdoa dan meminta. Hingga ketika syariat memerintahkan untuk sa’i antara kedua bukit itu, maka jiwa orang Anshar ini menjadi tak nyaman mengingat zaman jahiliyyahnya.”

Barulah ‘Urwah -kemudian sampai ke kita- memahami maksud ayat ini.

Rupanya kaum Anshar merasa tidak nyaman berada di tempat bekas peribadatannya dulu dan tempat bertemu dengan mantan sesembahannya dahulu :).

Maha Baik Allaah yang kemudian menghilangkan perasaan tidak nyaman itu dengan menegaskan dalam ayat Nya, “tidak ada dosa baginya”.

.

©zahrahbookstore.

Dear · Hikmah · KisahSahabat · reblog · Selftalk

Sungguh, jika Allah mengambil satu; maka Allah sisakan yang lebih banyak

Tersenyumlah, ada hikmah di dalamnya. Jangan sampai kau berputus asa..

…akan aku sematkan pada awal tulisan kali ini.

Jangan, kumohon jangan. Jangan menggerutu pada takdir dan ketetapan yang ditentukan oleh Ar-Rahman. Jangan menyimpan banyak pertanyaan, jangan membiarkan singkatnya kalimat tanya ‘kenapa?’ membuat imanmu goyah dan runtuh sebab merasa Allah memberikan ujian yang terlalu berat. Terlalu besar, dan terlalu rumit untuk akhirnya ditawakkal-kan.

Seberapapun kita akan dibuat berkali-kali jatuh, akan selalu ada kekuatan untuk bangkit jika Allah menjadi tempat yang dituju. Sebagaimanapun kita akan dibuat berurai-urai air mata, akan selalu ada setitik cahaya, untuk akhirnya menyapu dan menyirnakan badai kesedihan di dalam jiwa. Jika masih Allah, yang menjadi tempat kita memuarakan segala rasa.

Saudaraku, apapun yang sedang menimpamu hari ini.. kuyakin, kau kuat. Lebih kuat dari sekuat yang kau kira. Meski aku tak mengetahui, bagaimana kau sedang dibuat berdarah-darah, aku yakin, in syaa Allah, selagi iman itu masih terpancar dari balik dadamu, kau mampu. Dan kau akan berhasil melewatinya. Ingatlah, tentang apa yang Allah katakan,

“Kamu benar-benar akan diuji pada hartamu dan dirimu” (QS. Ali ‘Imran 186)

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ‘Inna lillahi wa inna illaaihi ra’jiun” (QS. Al baqarah 155-156)

Demikianlah..

“Seorang Mukmin pasti akan diuji pada harta, jiwa, anak dan keluarganya.”

Saudaraku, pernahkah kita mendengar kisah Urwah bin Az-Zubair dengan ujian yang Allah berikan kepadanya? Dan sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda,

“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dengan besarnya ujian. Sesungguhnya, apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Siapa yang ridha dengan ujian itu, maka ia akan mendapat keridhaan-Nya. Siapa yang membencinya maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya”

Tersebutlah, pada suatu hari seorang Khalifah dari bani Umayyah, Al-Walid bin Abdul Malik, mengundang Urwah bin Az-Zubair untuk mengunjungi istananya di Damaskus. Adalah sebagai wujud sapaan cinta, untaian hormat dari sang Khalifah. Urwah memenuhi undangan tersebut dengan menggandeng anak sulungnya.

Disaat Urwah berbincang-bincang pada majelis sang Khalifah, anak sulungnya diantarkan oleh pengawal untuk mengunjungi tempat dibagian istana mana pun yang dia suka. Hati anak sulungnya terpikat untuk melihat kuda-kuda khalifah. Dan,

‘Bughh!’

Seorang pengawal lari tergopoh-gopoh menghadap Khalifah juga Urwah,

“Wahai Khalifah, sesungguhnya telah terjadi begini dan begini,” Pengawal tersebut menceritakan detailnya, “dan sekarang, sang anak telah berpulang menghadap Allah Subhaanahu wa Ta’ala.”

Siapa yang mampu menduga? Ternyata dalam suka ria nya sang anak, salah seekor kuda menendangnya hingga terpelanting jatuh ketanah dan terinjak-injak oleh kuda yang sedang berlari di atasnya, dan saat itu juga, ia meninggal dunia. Dialah sang anak sulung Urwah bin Az-Zubair. Seorang anak kesayangan yang Urwah harapkan mampu menjadi penerus ilmunya. Maka mampukah kita membayangkan bagaimana reaksinya kala itu?

‘Urwah tersenyum dan ia berkata “Innalillahi wa inna illaaihi ra’jiun”

Maka saat itu juga Urwah sendiri yang turun keliang lahat untuk menguburkan anaknya. Setelah usai pemakaman, dalam dzikir dan ayat-ayat Al-Qur’an yang sedang ia jadikan permohonan agar Allah berikan kesabaran, tiba-tiba betisnya terasa begitu sakit yang luar biasa. Kakinya terserang penyakit langka yang memaksanya untuk harus diamputasi.

Berkatalah salah seorang ahli pengobatan kepercayaan Khalifah, “Ini harus diamputasi. Dan Wahai Imam, kami akan memberikanmu seteguk minuman yang memabukkan, agar sakit yang ditimbulkan takkan terasa olehmu.”

“Tidak” Jawab ‘Urwah, “Sungguh, aku tidak akan menggunakan sesuatu yang haram demi mendapatkan kesehatanku kembali. Dan aku tidak ingin salah satu bagian dari tubuhku hilang tanpa aku merasakan sakitnya. Ku serahkan semuanya kepada Allah.”

Maka setelah berapa tabib itu berunding, mereka memutuskan agar Khalifah memberikan beberapa orang untuk memegangi ‘Urwah ketika melakukan proses pemotongan kakinya yang manual.

Maa syaa Allah! Pemotongan kaki yang manual. Sekali lagi, manual.

Dengan cepat ‘Urwah berkata, “Aku tidak membutuhkannya, biarlah aku memalingkannya dengan dzikir dan tasbih ketika kalian memotongnya.”

Tak terbayang, bagaimana pedih dan perihnya daging yang dikupas tanpa bius sedikitpun. Tulang yang digergaji, dan darah yang terus mengucur darinya. Tak heran, beberapa kali ‘Urwah meringis kesakitan, “Hassi… Hassi..” katanya. Ia bermakna, suatu rasa sakit yang luar biasa terasa

Sesudah proses amputasi selesai, darah tak kunjung berhenti. Maka cara satu-satunya adalah dengan mencelupkannya pada minyak panas. ‘Urwah menyetujui. Saat kakinya dicelupkan kedalam minyak panas yang mendidih, ia menjerit, lalu pingsan, dan dikatakan bahwa ‘Urwah pingsan dalam waktu yang lama. Satu hari.

Hati ini rasanya mengerdil, sungguh.

Bagaimana, bagaimana jika kiranya ujian yang ‘Urwah hadapi menimpa seseorang diantara kita? Baru saja sesaat dia kehilangan anaknya, dia harus pula kehilangan kakinya dengan proses yang luarbiasa menyakitkannya. Disini, bukankah kita melihat, bagaimana kokoh jiwa haba yang beriman kepada-Nya? dan benarlah, bahwa Allah menguji hamba-hambaNya sesuai dengan kadar keimanannya. Cukuplah, ini sebagai bukti, betapa pancaran iman itu telah memenuhi seluruh penjuru ruang hati ‘Urwah bin Az-Zubair.

Sang Khalifah merasa kasihan dan ingin menghibur ‘Urwah. Namun ia bingung, ia tidak memiliki cara untuk menghiburnya. Namun cara Allah lebih menakjubkan, datanglah seorang lelaki buta kepada Khalifah, dan dia bercerita

“Wahai Amirul Mukminin!”, seru laki-laki buta tersebut, “dulu tidak ada seorang pun dari bani Abas yang lebih kaya dariku, lebih banyak anak-anak selain diriku. Aku tinggal disuatu lembah, dan banjir besar menerjang kaumku. Tak ada lagi hartaku, tak tersisa lagi anak-anakku kecuali hanya seorang bayi dan seekor unta.”

“Namun unta tersebut hendak melarikan diri, aku mengejarnya dan meninggalkan anakku. Maka kudengar teriakan bayi, ternyata anakku sudah berada di mulut serigala. Aku kembali hendak mengejarnya, namun sia-sia, serigala tersebut telah memakannya. Aku berbalik lagi, kukejar unta yang kabur, dan saat sudah dekat dengannya, salah satu kakinya menyepak wajahku. Hingga hancurlah keningku dan buta mataku.”

Sang Khalifah mendapatkan apa yang dia cari, Maha Baik Allah mengirim laki-laki untuk ‘Urwah. Sebab, ujiannya jauh lebih berat dari ‘Urwah. Diutuslah laki-laki tersebut kepada ‘Urwah untuk menceritakannya. Seusai ia bercerita, ‘Urwah berkata,

“Innalillahi wa inna illaaihi ra’jiun…”

Dalam do’anya, ‘Urwah berkata,

“Ya Allah, dulu aku memiliki empat anggota badan, dua tangan dan dua kaki. Lalu Engkau mengambil satu darinya dan Engkau menyisakan tiga darinya, maka segala puji bagi-Mu. Dulu aku memiliki empat orang putra, lalu Engkau mengambil salah satu darinya dan Engkau menyisakan tiga darinya, maka segala puji bagi-Mu.” isak ‘Urwah, “Demi Allah, seandainya Engkau mengambil, pasti Engkau menyisakan, dan seandainya Engkau memberi ujian pasti Engkau memberi kesembuhan.”

~

Inilah, ‘Urwah bin Az-Zubair. Inilah, kisah-kisah seorang hamba yang Allah berikan ujian hebat luarbiasa. Belum lagi, jika kita melihat ujian para Nabi.

Maka…. segala puji, hanya bagi Allah..

Inilah salah satu dari sekian rintik hujan yang Allah berikan, yang menyimpan berkah, menyimpan maksud dan tujuan.

Rasulullah ﷺ bersabda,

“Ujian itu akan selalu menimpa seorang hamba sampai Allah membiarkannya berjalan di atas bumi dengan tidak memiliki dosa.”

Dan cukuplah, segala ujian yang Allah berikan kepada kita menjadi sebaik-baiknya cara Allah membersihkan dosa-dosa kita. Sebab sungguh, apalah arti sakit di dunia jika dibandingkan dengan sakit di akhirat.. apalah arti tangis di dunia, jika dibandingkan dengan tangis karena siksa dan penyesalan di akhirat..

Mari, bukan lagi memfokuskan kepada apa yang telah hilang dan pergi. Melainkan, kepada apa yang masih Allah sisakan dari segala yang sudah tidak dimiliki. Betapa, betaaapa Allah Maha Baik. Dari sekian sakit yang mungkin bisa dihitung dengan hitungan jari, mampukah kita menghitung nikmat sehat yang sudah Allah beri? Mampukah kita mengkalkulasi, berapa banyak biaya oksigen yang Allah beri dari kita terlahir di muka bumi ini? Yakinkah.. kita merasa aman, jika tiba-tiba jantung ini bermasalah?

Maka bacalah, apa yang sudah tertulis pada judul tulisan kali ini.. :’)

–Ibn Sabil [quraners.tumblr.com]

—–

maasyaaLlaah :“)),

saya pertama kali membaca kisah ‘Urwah bin Zubair di buku Ibunda Para Ulama-nya Sufyan bin Fuad Baswedan :))

terberkahilah ‘Urwah yang dilahirkan dalam salahsatu keluarga yg istimewa 🙂

Ayahnya, Zubair bin Awwam adalah salahsatu dari sahabat yang dijamin Rasulullah sebagai penghuni Jannah-Nya 🙂

Ibunya adalah si Wanita pemilik dua ikatan, Asma binti Abu Bakar 🙂

Bibinya adalah ummul mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha 🙂

Kakeknya adalah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam :”))

apa yang ingin saya sampaikan? 🙂

bukan, bukan tentang keluarga shalih sudah pasti tentu melahirkan keturunan yang shalih. Belum pasti tentunya, karena sekelas nabi Adam, Nuh ‘alaihissalam saja, salahsatu anaknya memilih menjadi seorang yang ingkar :“(. Juga berlaku sebaliknya, dari seorang ayah yang pembuat dan penyembah berhala-lah Nabi Ibrahim dibesarkan, juga salahsatu sahabat mulia Abdullah bin Abdullah bin Ubay yang mengalir dalam dirinya darah dari Abdullah bin Ubay bin Salul, sang dedengkot kaum Munafik di Madinah saat itu.

iyah 🙂

ini semua tentang pilihan :), pilihan apa yang akan menemani kita dalam menjalani setiap kehendak yang ditetapkan-Nya untuk kita :”),

pilih untuk fokus yang ada, atau yang hilang? 🙂

Dear · Harta Karun · Hikmah · KisahParaNabi · reblog

Keluarga Imran

326
image from google

oleh Alifah Syamsiyah

Imran adalah satu diantara empat laki-laki role model yang disebut dalam Al-Qur’an: Adam, Nuh, keluarga Imran, dan keluarga Ibrahim.

Hmm sebentar, mengapa untuk Imran dan Ibrahim ditambahkan kata “keluarga”, tapi tidak bagi Adam dan Nuh? Itu karena di keluarga inti Adam dan Nuh, terdapat anggota keluarga yang tidak beriman kepada Allah.

Uniknya, Imran ini bukanlah nabi atau rasul, tapi Allah pilih namanya untuk diabadikan dalam Al-Quran. Ini membuktikan bahwa seharusnya tidak ada excuse bagi diri kita sehingga berkata, “Ah wajar saja dia kan nabi jadi bisa bla bla bla..” Memang nabi dan rasul adalah manusia pilihan Allah yang diberikan keistimewaan tertentu, tapi bukan berarti itu membuat kita inferior dalam berbuat kebaikan. Buktinya Allah telah memberikan satu contoh orang shalih yang bukan nabi dan juga rasul tapi masuk dalam manusia pilihanNya. Dialah Imran.

Bicara tentang keluarga Imran, tentu tak terlepas dari Maryam, putrinya. Saat mengandung, ibundanya Maryam yang tak lain adalah istri Imran ini pernah bernadzar bahwa anaknya akan ia didik untuk menjadi seorang yang mengabdikan dirinya kepada masjid. Ini menunjukkan betapa seorang ibu sudah mempersiapkan pendidikan bagi anaknya sedini mungkin. Ohya, kenapa ya nama istri Imran ini tidak pernah disebut? Ternyata hal ini menggambarkan bahwa kehebatan istri Imran dalam membesarkan anaknya tidak terlepas dari peran Imran dalam mendidik istrinya tersebut. Itulah kenapa disebut “istri Imran”, yang tidak lain untuk menunjukkan peran Imran dalam setiap kebaikan yang dilakukan istrinya.

Dalam keluarga ini juga dikenal nama Zakaria. Dialah paman Maryam yang juga terkait dengan proses pendidikan bagi Isa, putra Maryam. Zakaria banyak terlibat dalam proses pengurusan Isa. Pertanyaannya, mengapa bukan Imran? Beberapa ulama menyebutkan bahwa Imran sudah meninggal kala itu. Lagi-lagi ini menyiratkan hikmah bahwa peran keluarga besar itu juga berpengaruh pada proses tumbuh kembang seorang anak.

Semoga kita bisa belajar dan meneladani keluarga hebat ini, aamiin :”)

Belajar · Harta Karun · reblog · sejarah · they're said

Darimana Kita Memulai Untuk Mentadabburi Sejarah Islam?

oleh Edgar Hamas

Beberapa waktu lalu, saya membuat Instagram Story tentang “3 Hal yang Menjadikan Sejarah Islam Inspirasi Hidupmu”, dan banyak teman-teman yang kemudian menanyakan, bukan bermaksud apa-apa, namun mereka merasa nyaman dengan sajian tadabbur sejarah yang sering kami tulis. Alhamdulillah.

Saya ingin sampaikan kepada teman-teman, mentadabburi sejarah itu seperti nonton film atau membaca novel. Bedanya, yang ini kenyataan, dan lebih menginspirasi. Permasalahannya adalah, masih sedikit sejarawan muslim yang menyajikan konten-konten sejarah dengan bahasa yang mudah dimengerti.

Pun, banyak sekali sejarawan ini yang berfokus tentang hal yang bertele-tele, seperti tanggal dan tahun yang begitu banyak, tokoh yang begitu rumit dikenali, dan pemilihan bahasan yang terlalu berat, seperti konflik kerajaan, politik, silsilah, dan banyak lagi; walaupun sebenarnya itu penting, namun takutnya, kita malah kehilangan hikmahnya.

Maka dari itu, izinkan dalam tulisan ini, saya ingin mengusulkan poin-poin, yang saya menikmatinya, tentang bagaimana dan darimana kita akan asyik mentadabburi sejarah.

Pertama, Mulailah dari Rasulullah ﷺ

Perjalanan hidup Rasulullah ﷺ itu, cool banget. Sangat menginspirasi. Hanya dalam waktu 22 tahun, seorang lelaki di kota tengah padang pasir Arabia, menjadi tokoh yang dikagumi oleh bangsa-bangsa di penjuru bumi.

Bacalah karakter Rasulullah ﷺ, kehebatannya, sifat-sifat beliau ﷺ yang diabadikan dalam Al Qur’an dan hadits. Penting: bacalah dengan sudut pandang kamu ingin mengenal seseorang yang kamu sangat menggemarinya. Buku-buku karya Ust Salim A Fillah akan menemanimu mengenal Rasulullah ﷺ dengan lebih bersahabat.

Kedua, kenali 10 Shahabat yang Dijamin Masuk Surga

Generasi Shahabat itu ada 100 ribu. Semuanya hebat-hebat, semuanya keren-keren, semuanya menggugah. Namun, ringkasannya bisa kamu dapatkan pada 10 sahabat yang dijamin masuk Surga. Mereka bukan nabi, bukan juga rasul, namun karakter dan perjalanan hidupnya akan mengilhami siapapun yang membacanya.

Seorang bisnisman akan nge-fans dengan Utsman bin Affan atau Abdurrahman bin Auf. Seorang aktivis pasti suka dengan gaya Umar yang jenius dan Abu Bakar yang prestatif. Seorang ilmuwan pasti akan jatuh cinta pada kehebatan Ali menganalisa dan menghasilkan fatwa. Dan masih banyak lagi.

Saya jatuh cinta pada 10 Shahabat ini ketika buku “10 Sahabat yang Dijamin Masuk Surga” yang ditulis oleh Muhammad Ahmad Isa. Tidak tebal, tapi bagus sekali penyampaiannya.

Ketiga, generasi sahabat pada umumnya.

Selain 10 sahabat yang dijamin masuk surga, masih sangat banyak sahabat-sahabat Rasulullah yang membuat saya pribadi tergugah untuk selalu menjadi pribadi yang hebat. Salman Al Farisi misalnya, sang pencari kebenaran. Bilal misalnya, seorang yang kokoh dalam keyakinan. Khalid bin Walid, The Warrior. Amr bin Ash, sang diplomat ulung.

Untuk membacanya, selalu, buku yang saya usulkan ke teman-teman adalah Biografi 60 Shahabat Rasulullah ﷺ karya Khalid Muhammad Khalid.

Keempat, tentang Pahlawan-pahlawan Islam sepeninggal Rasulullah.

Ini dia, yang masih harus banyak digarap oleh para sejarawan muslim. Generasi emas umat Islam tidak hanya menjadi gelar sahabat saja. Nyatanya, para pahlawan yang hidup di zaman keemasan Islam adalah tokoh-tokoh yang sangat enerjik dan mengagumkan. Seperti Imam Syafi’i, Nizamul Mulk, Shalahuddin Al Ayyubi, Muhammad Al Fatih, dan banyak lagi.

Ada banyak buku-buku yang membahas tentang pahlawan Islam ini, saya tidak bisa memilihkan salah satunya, sebab saya masih jatuh cinta pada buku “Miah Udzama Ummatil Islam Ghayyaru Majra At Tarikh” (100 Tokoh Umat Islam yang Mengubah Sejarah) karya Jihad Turbani.

Entah, sampai sekarang belum ada yang menerjemahkan, atau apa saya yang tidak tahu. Sebenarnya ada penerbit yang sudah menerjemahkan, namun belakangan diketahui belum minta izin ke Jihad Turbani. Ah, sayang sekali.

Teman-teman tapi masih bisa melihat terjemahan video-video Jihad Turbani dalam channel YouTube beliau, (جهاد الترباني) insyallah ada yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia walaupun belum semuanya.

Kelima, tentang Peradaban Islam

Teman-teman, kamu mungkin belum sepenuhnya percaya, dulu itu orang-orang Eropa disebut gaul kalo mereka pake bahasa Arab. Dulu itu, mata uang Islam jadi mata uang internasional, kapal-kapal kita ada di pelabuhan Italia, Inggris dan Perancis. Amerika Serikat pernah membayar pajak pada negeri Islam 70 tahun lamanya.

Darimana kita mengetahui itu? Dari bacaan-bacaan kita tentang peradaban Islam. Sejauh ini, pembahasan ini sangatlah sedikit dan masih perlu dikembangkan. Saya bertekad bisa mewujudkannya. Doakan yaa.

Namun, sebagai pembuka, teman-teman bisa membaca buku “Lost Islamic History” karya Firas Al Khateeb yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Banyak juha channel-channel YouTube yang membahas tentang peradaban Islam yang hebat ini. Search saja dengan keyword yang tepat.

Masih sangat banyak, fakta-fakta hebat Sejarah Islam yang jika kita mentadabburinya, akan membuat kita benar-benar bangga menjadi muslim, membuat kita bangun dari amnesia 500 tahun ini, dan kembali merebut takdir kemenangan kita.

Belajar · challenge · Dear · Harta Karun · reblog

MENJADIKAN DINDING RUMAH SEBAGAI SARANA EDUKASI DAN KREATIFITAS

Oleh : D Nita Purnama Sari

IMG-20170826-WA0000

Ketika si kecil sudah dapat memegang pensil atau crayon, meskipun kita sudah memberikan kertas atau buku gambar sekalipun, tapi si kecil ini lebih suka menggambar di dinding rumah. Betul tidak ?

Ya, anak-anak umumnya memang senang sekali menggambar. Nah, salah satu bidang atau media yang sering kali dijadikan sasaran crayon,pensil warna, ataupun alat tulis gambar lainnya adalah dinding.

Waaahhhh…. Dinding jadi sasaran empuk bangetlah buat anak.

Nah mulai dari situ kenapa tidak kita manfaatkan dinding rumah untuk sarana belajar anak ?

Jadi selain anak hanya mencoret-coret dinding, kita bisa memanfaatkan dinding itu untuk menstimulasi menambah kosa kata anak, membantu anak mengenal huruf abjad ataupun hijaiyah, berhitung dsb melalui dinding tersebut.

Dan sekaligus upaya saya untuk mengembangkan kreatifitas anak. Dengan membiarkan anak bereksplorasi yaitu menggunakan seluruh sarana yang ada di lingkungan kseharian anak sebagai media, termasuk dinding rumah.

Juga memberikan lingkungan yang PerMaTa InSAN untuk anak.

Per_Perhatian
Ma_Mandiri
Ta_cinTa
In_BermaIn
S_Santai
A_Aman
N_Nyaman

Karena memang anak-anak umur 2-4 tahun lebih suka membuat karya “masterpiece” di dinding.

Kenapa demikian ?

  • Karena jarak antara dinding dan memori anak sungguh dekat

Menurut psikologi dari Aminfainstitute Lembaga riset dan Konsultan Edukasi Berbasis Brain Based and Holictic Learning (Pendidikan Ramah Otak).

“Rasa terlibat dalam dunia di dalam gambar itu tidak akan di dapat ketika anak menggambar di bidang kertas”.

  • Dinding merupakan tempat yang strategis bagi anak.

Karena bila kita berjalan pasti sepanjang jalan melewati dinding dalam rumah.

Jadi upaya apa yang harus kita lakukan ?

1]. Kita bisa membuat space coret-coret anak

Beri anak sisi dinding khusus space coret-coret dan belajarnya, misal : di pojok rumah, atau di tempat yang sering anak membuat coretan gambar.

Lalu cat sisi dinding dengan warna hitam seperti layaknya papan tulis lalu beri anak kapur tulis untuk coret-coret karya gambarnya.

Atau kita bisa tempelkan papan tulis atau whiteboard yang kita bisa beli di toko buku, atau bisa juga membuat rol kertas besar untuk anak menggambar, kalaupun tidak ada kita bisa menempelkan beberapa kertas HVS di dinding.

a18b0d80f17d03d8e737e13203214344--playroom-colors-playroom-ideas

f8b0a36519b8fe5fd10144b3aca4eb31--magnetic-chalkboard-walls-kids-chalkboard

FB_IMG_1501831133204

Lalu buat peraturan boleh dan tidak boleh. “ Nak… boleh coret-coret di dinding asalkan disini…sini…dan disini….(menunjuk media yang kita buat), tapi tidak boleh di dinding disini…sini…dan disini (yang tidak ada media yang kita buat).”

2]. Membuat Gallery Karya anak

Kita bisa membuat gallery karya anak kita di sebelah papan tulis yang kita buat, untuk menempelkan karya lain yang anak buat.

Jadi, untuk anak bukan hanya pajangan hasil karya namun disana juga terkandung sebuah nilai penerimaan dan penghargaan yang tinggi atas hasil kerja/karya anak.

every child is an artist
source

3]. Membuat Mind Mapping

Apa itu Mind Mapping ?

Mind Mapping atau Peta Pikiran adalah metode mempelajari konsep yang ditemukan oleh Tony Buzan. Konsep ini didasarkan pada cara kerja otak kita menyimpan informasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otak kita tidak menyimpan informasi dalam kotak-kotak sel saraf yang terjejer rapi melainkan dikumpulkan pada sel-sel saraf yang berbercabang-cabang yang apabila dilihat sekilas akan tampak seperti cabang-cabang pohon. Maka, Mind Mapping merupakan sebuah metode untuk mengelola informasi secara menyeluruh berupa catatan yang lebih terstruktur.

Cara membuat mind mipping :

Pertama, Buatlah gambar atau tulisan yang melambangkan topic (main topic) atau topic utama di tengah kertas. Kedua, buat garis leku-lekuk yang menyambung dari gambar tngah yang tadi kita buat/main topic. Ketiga, beri nama pada setiap ide di atas atau bisa juga membuat gambar-gambar kecil mengenai masing-masing ide tersbut. Keempat,Dari stiap ide yang ada tarik garis penghubung lainnya, yang menyebar seperti cabang-cabang pohon. (sumber : penjelasan tentang Mind Mipping, Buku Bunda Cekatan,Ibu Septi Peni Wulandani, Institut Ibu Profesional)

Contoh Mind Mipping :

IMG_20170827_0001

4]. Membuat Flash Card

seperti Abjad,Hijaiyah,Angka, gantungan Rukun Islam, Tempelan Rukun Iman , nama-nama nabi ,papan pengingat waktu shalat, pengingat acara,papan bintang prestasi, busy board,rukun wudhu, madding keluarga atau hasil karya lainnya yang di tempelkan di dekat papan tulis yang kita buat untuk menstimulasi belajar anak.

14bd25ed70920e16f85c2aa72fdca87d--montessori-baby-toddler-busy-board-diy
contoh busy board
18671291_10207286727886519_3689482413407836575_n
papan pengingat waktu shalat
18740177_10207283994258180_6916218839744919897_n
Papan Bintang Kebaikan

IMG_20160518_193411

IMG_20160518_193238
Menghias Dinding menyambut Ramadhan

 

Lalu apa manfaatnya ?

  1. Anak merasa nyaman.
  2. Anak merasa senang karena keinginan dan rasa ingin tahunya (eksplore) tersalurkan dan terpenuhi.
  3. Memberikan kebebasan berekspresi.
  4. Mengmbangkan kemampuan visualnya.
  5. Memberikan rasa penghargaan kepada anak.
  6. Menumbuhkan rasa percaya diri anak.
  7. Membantu mengingat atau menghafal belajarnya.

 

PRINSIP !!!

1. Tidak ada anak yang nakal,yang ada adalah anak kratif.

2. Allah SWT tidak pernah membuat produk gagal, semua anak unik.

3. Kreatifitas itu bukan produk instan,harus dilatih terus menerus sejak dini.

 

“Beberapa hal yang perlu di perhatikan para orang tua (khususnya saya pribadi^^) adalah Berikan anak ruang kebebasan untuk bermain dan bereksplorasi biarkan anak memilih sendiri media bermainnya walaupun itu di dinding. Biarkan anak merasa tenang, nyaman dan menikmati proses kreativitasnya. Tugas kita sebagai orang tua hanya sebagai fasilitator yaitu mendukung dan memfasilitasi anak”

(Buku Bunda Sayang, Seri ibu Profesional#1, Memacu Kreatifitas Anak Sejak Dini)

Terimakasih

Wassalamu’alaikum wr.wb

Dear · Hikmah · reblog

Untukmu…

oleh uda Shidiq.

“Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir’aun yang menyembunyikan imannya berkata: “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: Tuhanku ialah Allah padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu… ” (QS Ghafir: 28)

Kita fokus ke dua kata saja ya dari ayat ini, yaitu “menyembunyikan imannya” (يكتم إيمانه)

Di sini terdapat ilmu bagi kita bahwa yang disembunyikan itu tetaplah tampak bagi Allah

Sehingga, mengambil pelajaran dari ilmu di atas kita tidak perlu rasanya memperlihatkan kesolehan kita misalkan, saat sebenarnya di sana Allah sudah sangat tahu kita sedang beramal soleh

Terutama di jaman seperti ini di mana hampir segala aspek kehidupan kita sudah dapat di nikmati oleh orang lain di sosial media, godaan untuk menampakkan amal itu sangat besar

Ayat ini tentunya tidak sedang berbicara tentang anjuran menyembunyikan keimanan, ayat ini hanya menunjukkan bahwa begitulah kekuasaan Allah, Allah mengetahui hal yang disembunyikan oleh hati, “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Ghafir: 19)

Juga teruntukmu yang mungkin sedang lelah beramal dalam kesendirian, tidak ada orang yang mengapresiasi atau memuji, ingatlah bahwa Allah sangat tahu akan amalmu, sudah cukuplah Allah yang tahu 🙂

pict from Pinterest.

Belajar · challenge · Dear · Meracacacau · Selftalk · Uneguneg

Andaikata (1)

Bismillaah..

“being a mom is a big deal, preparation is a must. Karena nasib peradaban ini dipercayakan pada tangan para ibu” –SuperbMom Wannabe-

Ada yang super duper menarik-narik fikir di pekan kemarin. Jika pada pekan sebelum pekan kemarin bisa dengan mudah mengerjakan Nice Homework ke-1 yang diberikan oleh Fasilitator, Alhamdulillah, biidznillah. Maka di pekan kemarin, sejenak setelah membaca Nice Homework ke-2 yang di posting bunda Fasilitator di laman google classroom, hanya bisa terdiam beberapa lama, wkwk.

NICE HOME WORK #2

Bunda, setelah memahami tahap awal menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga. Pekan ini kita akan belajar membuat “CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN”

  1. Sebagai individu
  2. Sebagai istri
  3. Sebagai ibu

Buatlah indikator yg kita sendiri bisa menjalankannya. Buat anda yang sudah berkeluarga, tanyakan kepada suami, indikator istri semacam apa sebenarnya yang bisa membuat dirinya bahagia, tanyakan kepada anak-anak, indikator ibu semacam apa sebenarnya yang bisa membuat mereka bahagia. Jadikanlah jawaban-jawaban mereka sebagai referensi pembuatan checklist kita.

Buat anda yang masih sendiri, maka buatlah indikator diri dan pakailah permainan “andaikata aku menjadi istri” apa yang harus aku lakukan, andaikata kelak aku menjad Ibu , apa yang harus aku lakukan.

Kita belajar membuat “Indikator” untuk diri sendiri.

Andaikata saya menjadi Istri dan menjadi Ibu, apa yang akan saya lakukan untuk bisa memperoleh gelar “kebanggaan keluarga”, gelar yang dinilai dan diuji langsung oleh anggota keluarga, yaitu Pak Suami dan anak-anak. Nah loh?!

Andaikata aku menjadi seorang istri

Beberapa tahun yang lalu, saat kehendak Nya membawa saya mendiami kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta untuk waktu yang bila perempuan mengandung, maka saya mulai menetap saat usia kandungannya masih 1 hari (?) wkwk dan akhirnya meninggalkan kamar kost saya saat si bayi dilahirkan sesuai due date-nya dan sudah berusia 20 hari. Ribet yak :P. Ingin bilang 10 bulan doang padahal wkwk. Saya pernah menyampaikan ini ke-mba murobbiyah saya saat di solo.

“mbaa, masa aku pengen nikah sekarang, cuma gegara biar ada yang bisa nganterin liqo sama pergi ke tatsqif”, kalimat ini keluar bukan tanpa sebab. Saat kemudian memutuskan untuk mengambil lowongan belajar kerja di salah satu instansi pemerintah yang letaknya ada di pucuk Gunung Kidul, saat itu pula saya mulai hijrah, mutasi liqo, keluar dari zona nyaman di kampus super ‘hijau’ ke dunia realita. Lha emang di kampus dunia fantasi? :P.

and the challenge begins,

Di sini, di gunung kidul, didaerah gading tepatnya, amat sangat susah menjumpai kendaraan umum level angkot. Jalan besarnya memang dilewati bus kecil dan tanggung antar kota, tapi nunggu bus nya pun bisa lama dan unpredictable waktunya dan maksimal hanya sampai pukul 17.00 bus jurusan Wonosari turun ke Yogyakarta. Maka bagi saya yang tidak membawa kendaraan apapun kesini, ini menjadi kendala terbesar bagi saya. Dan makin tambah ‘sesuatu’ karena jeng jeng jeng, liqo-an tempat saya dimutasi, yang sebagian besar berisikan ibu-ibu berdomisili asli di gunung kidul, menggunakan sistem liqo keliling. Jadilah tiap pekan, tempat liqonya bergilir ke rumah-rumah yang artinya keliling kabupaten gunung kidul. Makin tambah dramatis karena pertemuan pekanannya dilaksanakan setiap selasa sore, yes on the weekdays!. Senin malam biasanya maksimal japrian rumah siapa yang akan dikunjungi sampai di hp. Sekalipun disebutkan nama daerah sama ancer-ancer nya sama saja bagi saya, yang aktifits sehari-harinya hanya jalur kost ke kantor dan turun gunung tiap weekend menginap di kost-an waktu di solo, atau ke rumah mbah di klaten.

Alhamdulillah, ‘alaa kulli haal, dengan berbagai cara-Nya, setiap pekannya hampir selalu bisa sampai dan pulang kembali ke kost dengan sehat wal’afiat tanpa kurang satu apapun. Kalau di ingat-ingat sekarang benar-benar Maha Kuasa Allaah yang menakdirkan pun juga memudahkan hamba-Nya untuk menjalani kehendak-Nya. Mulai dari ke tempat liqo dianterin pakai motor sama anak SMP dan digiring sama anak-anak TK dan SD yang bersepeda, mereka ade-ade yang ikut TPA di mushalla belakang kantor :D, atau juga pernah berangkat diboncengin pakai moter gede sama ummahat usia 50 tahunan, wkwk “maaf yaa mba, motor saya lagi dipakai anak, ini dapat pinjaman motor tetangga, adanya motor ini ” kata si ummi saat saya takjub melihat si ummi dengan style rok-nya tapi naik motor gede :”). Saat pulang ba’da maghrib, jalan yang dilalui sudah cukup sepi dan gelap, bahkan di jalan besar pun bisa terlihat jelas beberapa Photuris lucicrescens yang hilir mudik entah kemana. Pernah juga saat akan menghadiri kajian tatsqif di salahsatu SDIT yang ada di pusat kota kabupatennya, berangkatnya saya nyasar, saya kebablasan ikut bus yang saya tumpangi sampai di terminal pemberhentian terakhirnya. Itu karena saya benar-benar belum tahu harus turun dimana -__-, saat pulang pun ternyata saya salah tempat berdiri menunggu angkot, yang setelah sekian jam saya menunggu, tidak ada satupun angkot yang lewat di depan saya. Ini, salah satu alasan terbesar saya sangat ingin menikah saat itu -___-.

Hingga, tibalah suatu hari, saya tersadar dan malah tersenyum-senyum mengingat alasan saya saat itu :”).

Bismillaah,
Suatu saat nanti, ketika Allah mengizinkan saya menyandang amanah sebagai seorang istri sebelum Allaah memanggil saya terlebih dahulu. Saya ingin belajar dan berusaha untuk menjadi istri yang berdaya, yang kebaikan-kebaikan apapun itu selagi bisa saya upayakan sendiri, akan saya usahakan tanpa menunggu atau bergantung dengan keberadaan Pak Suami. Misal, berangkat liqo, berangkat ke tatsqif, menjenguk orang sakit, dan lain-lain yang semisal dengan ini. Tentu, dengan meminta izin sebelumnya ke beliau, juga meminta untuk diantarkan, lha? Wkwk. Memintanya cukup sekali, jika beliau nya mengatakan kemungkinan tidak bisa mengantarkan kerena suatu udzhur lain yang lebih penting, maka insyaaLlaah saya tak akan memintanya untuk yang kedua kalinya. Juga tidak menjadikan bisa atau tidaknya beliau mengantarkan sebagai suatu patokan, jadi tidak nya saya mengahdiri suatu majelis kebaikan. Ridha dan izin dari beliau sudah cukup, insyaaLlah :”).

Beberapa tahun yang lalu, salah satu abang terbaik di kampus meninggal dunia, meninggalkan istri yang baru dinikahinya setahun sebelumnya dan bayi perempuan yang masih merah pipinya. Sebulan yang lalu, tiba-tiba saya mendapat pesan dari salah satu ukhti sholiha, berbincang-bincang sejenak menanyakan kabar sebelum akhirnya beliau menyampaikan maksud beliau untuk meminjam sejumlah dana. Awalnya saya tidak berkeinginan untuk menanyakan, tapi akhirnya betanya juga mengenai untuk apakah dana itu akan dipakai?. Dan Maha Baik Allaah yang menyisipkan setiap hikmah dan pembelajaran melalui setiap takdir kehendak-Nya. Ukhti sholiha ini menyampaikan bahwa uangnya akan digunakan untuk menebus HP nya yang sedang dijadikan jaminan. Suaminya beberapa waktu yang lalu baru diberikan ujian melalui sakit yang cukup lama, sehingga beliau resign dari tempat kerjanya. Saat ini baru sembuh dan sedang berusaha untuk kembali mencari pekerjaan. Sedangkan si ukhti sholiha ini sebelumnya juga memiliki usaha sampingan olshop, dan usahanya harus berhenti sejenak sebulan yang lalu karena ketiadaan hp.

Menyaksikan kisah kisah diatas, kemudian membuat saya merenungi salah satu dari 10 muwasshofat, Qadirun ‘alal kasbi. Kemampuan untuk mandiri berpenghasilan melalui cara yang benar. Saya ingin belajar dan berusaha untuk menjadi istri yang berdaya secara finansial, yang ini masih sangat jadi PR bagi saya. Bukan di masalah istri bekerja di luar atau istri full dirumah. Yang saya pikirkan bagaimana saya berusaha untuk mengasah suatu keterampilan yang itu bernilai, bermanfaat dan bisa digunakan untuk menghasilkan uang :P. Memasak misal, atau bikin kue, atau bikin kerajinan tangan. Yang keterampilan misal ini semua belum saya punya sekarang -__-. Semua keterampilan yang tetap tidak menanggalkan kodrat kita sebagai seorang wanita dan muslimah dan seorang istri juga seorang ibu kelak.

“Dan yang paling penting dari itu semua adalah, dia harus kuat. Sehingga ketika aku benar benar harus pergi dari sisinya dia akan tetap menjadi kuat dan hebat, melanjutkan hidupnya, merawat anak anak dan mimpi mimpi kami.”

Ini salah satu tulisan salah seorang bapak-bapak, yang saya spenuh sadar menyepakatinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Belajar · Dear · Hikmah · reblog · they're said

Ego

oleh khoiriyatifa.tumblr.com

Alkisah, ada seorang perempuan yang gagal ta’aruf

Em..mari kita perhalus bahasanya.

Alkisah ada seorang perempuan yang ta’arufnya tidak berlanjut ke khitbah. Berhenti pada kalimat “Sepertinya, setelah menimbang hal ini, lantas hal ini, prinsip saya masih sama.. dan saya tidak bisa. Semoga kita masih bisa berteman baik dan saling membantu setelah ini ya.” yang diutarakan oleh pihak laki-laki. Perempuan itu luruh perasaannya. Seperti ada harapan yang tiba-tiba sirna begitu saja. Alasannya klasik: perbedaan pendapat terkait perempuan yang bekerja dan tidak.

Pihak laki-laki menginginkan istri yang fokus pada rumah tangga. Pihak perempuan berpendapat bahwa alasannya tetap ingin bekerja bukan karena ego. Masih ada keluarga sebagai tanggungan, ada orang tua yang berharap anaknya berkembang, hingga suatu ketika suatu pertanyaan terlontar

“Coba antum yakinkan saya, kalau misal saya tidak bekerja dan antum meninggal lebih dulu sedangkan anak-anak masih membutuhkan biaya. Saya harus bagaimana?”

“Kita tidak boleh meragukan rejeki dari Allah.” jawab si laki-laki.

Oh, jawabannya benar, tapi tidak konkrit. Perempuan itu tidak yakin.

Perbincangan terkait hal itu terjadi berkali-kali, berbelit-belit, tidak menemukan titik ujung hingga keduanya jatuh sakit. Berlebihan memang.

Hingga muaranya, semua selesai, tidak berlanjut.

Kegagalan, dalam hal ini kegagalan ta’aruf, membuat kita belajar bahwa harapan itu harus dikendalikan sedemikian rupa sehingga tidak berlebihan. Bahwa jalan di depan masih sangat jauh. Bertemu banyak orang dengan keegoisannya masing-masing (termasuk dalam hal kriteria pasangan) membuat saya berfikir bahwa sebelum menikah -bahkan kalau perlu sebelum memutuskan hendak berta’aruf- kita harus sudah bisa mengendalikan ego kita sendiri, bersiap dengan segala hal yang di luar kehendak, bersiap menerima hal-hal tidak prinsipil yang masih bisa ditolerir. Hal-hal prinsipil ini ukurannya tentu agama. Jika agama tidak membolehkan, maka jangan. Yang berada di luar itu, tentu butuh kerelaan kita untuk menerima (yang penerimaannya sangat tergantung pada ego kita masing-masing)

Belajar dari kegagalan ta’aruf, kita bisa mengambil pembelajaran bahwa se-tidak-masuk-kriteria-pun teman ta’aruf kita tersebut, kita tidak boleh membandingkannya dengan siapapun, tidak dibenarkan membenci, tidak boleh menjelekkan prinsipnya, mencela egonya dan hal tidak pantas lainnya. Hal yang dimulai dengan bismillah, tentu harusnya diakhiri dengan alhamdulillah apapun hasilnya. Niat baik harus diakhiri dengan keikhlasan yang baik.

Dari kajian pra nikah yang pernah diikuti, ego merupakan satu bahasan penting. Ego, bagian diri kita yang kita harus ‘deal with it’ sebelum melangkah jauh ke pernikahan. Sebab yang akan bersama kita kelak adalah manusia yang tidak sempurna, yang akan terus bertumbuh setiap hari, berubah pemikirannya, berubah fisik dan perilakunya, berubah-ubah sedih dan bahagianya. Maka, alih-alih menetapkan kriteria yang ‘almost perfect’ mari mencoba menyelami diri sendiri “Sebenarnya apa yang kita bisa beri dan kita butuhkan dari sebuah pernikahan?” sambil berdoa kepada Allah agar segera dimampukan.

Pada akhirnya, semoga setiap niat baik kita untuk menuju Surga (bersama), mendapat jalan yang baik dari-Nya 🙂

SemangkA! Semangat karena Allah!.