Realitanya…

Bismillaah,

Baru beberapa waktu yang lalu saya menuliskan Tumblr dalam tugas tantangan di kelas BunSay IIP, sebagai rumah ternyaman di dunia maya. Qadarullah wa maa syaa fa’al, Allaah Maha Kuasa membolak-balikkan hati dalam sekejap xP. Realitanya, saya merasa WP lebih aman dan nyaman dibandingkan Tumblr, sampai dengan detik kalimat ini ditulis xD. Tumblr makin ke sini makin riuh ramai, alhamdulillaah semakin hidup setelah sebelumnya sepi dan mati suri karena diblokir kemeninfo :(.

Lima ribu empat ratus empat puluh, terakhir kali saya lihat adalah banyaknya akun yang menjadi followers saya di sana. Entah apa yang merasuki pemilik akun-akun itu xD. Jumlah yang kata adik saya, “Mba, akun segitu di IG lu bakalan ditawarin endorse-an Mba”. Jumlah yang alih-alih bikin senang (?) malahan bikin saya minder dan takut. Bagaimana ini, ga bisa asal ngepost lagi, ga bisa asal reblog, ga bisa asal meracacacau ga jelas lagi. Jaga image? lebih ke cari aman, menjaga diri dari ketiban MLM dosa yang terus menerus mengalir dari reblog-an dan like-an postingan-postingan saya yang asal ketik tidak disertai ilmu atau bahkan menyesatkan, astaghfirullaah :(.

Layaknya rumah yang pernah menjadi tempat berteduh, Tumblr juga masih tetap punya sejuta alasan untuk dirindui dengan sangat. Seperti malam ini, ketika tanpa diundang si rindu datang, langsung auto install Tumblr lagi di Hp. Selama ini hanya buka-buka tumblr jika ingat saja, via chrome.

dann malam ini, rindu pada Tumblr itu menemukan muaranya :). Rindu akan tulisan-tulisannya yang mencerahkan :).

(Suatu hari, Mba Uti memposting ini),

kamu tau nggak, kenapa perempuan harus menikah dengan seseorang yang dicintainya–dan terutama, dengan yang mencintainya?

karena semua akibatnya ada sama perempuan. kalau perempuan nggak cinta, lalu nggak ikhlas atas apa-apa yang diminta atau diperintahkan laki-lakinya, adalah neraka balasannya bagi si perempuan. adalah dosa yang bertubi-tubi, setiap hari.

karena semua akibatnya ada sama perempuan. kalau laki-lakinya tidak mencintainya, kemungkinan besar si laki-laki akan jatuh cinta pada sesuatu–bahkan seseorang–yang lain. jangankan jadi nomor dua, jadi nomor satu pun (hampir) nggak ada perempuan yang sanggup.

(yang kemudian direblog Mba Dea dengan menambahkan pendapatnya)

Realitanya…

Tidak semua manusia ditakdirkan menikah dengan orang yang dia cintai sejak awal namun baik laki-laki atau perempuan punya kewajiban untuk mencintai orang yang dinikahinya.

Realitanya…

Menjaga perasaan itu bukan cuma kewajiban laki-laki kepada perempuan melainkan kewajiban setiap manusia kepada manusia lain. Sebab setiap manusia baik laki-laki atau perempuan, semuanya punya perasaan hanya cara mereka mengekspresikan yang berbeda.

Realitanya…

Bahkan suami bukan nomor satu bagi isteri sebab hirarki tertinggi dalam cinta adalah Allah SWT.

Saya minta maaf sudah lancang nambahin postingannya mba Uti. Pandangan kita dalam hal ini emang beda. Tapi ngelihat tulisan mba Uti, saya menyadari ada yang harus disyukuri oleh perempuan. Perasaan lembut yang menjadikan perempuan itu menjadi penyayang.

❤️

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: