Membaca Bacaan Bapak-Bapak

Bismillaah,

banner02.jpg

Speechless, Awesome, maa syaa Allaah :”).

Tahu ust. Bendri? tahu,
Suka dengan tulisan di setiap caption postingan beliau? suka,
Pernah mendengarkan langsung kajian beliau? pernah dan suka dengan apa yang beliau bahas dan bagaimana beliau menyampaikan,
Tahu beliau menulis sebuah buku? tahu, tapi saat pertama kali mengetahui beliau menerbitkan buku,  belum ada niat sama sekali untuk membeli bukunya xP.

“Anak tidak membutuhkan Ayah sempurna. Anak membutuhkan Ayah yang senantiasa meningkatkan kualitas dirinya. Selamat datang di dunia Fatherman” – kalimat pertama yang langsung akan terlihat saat membuka buku ini-

Dari judulnya saja sudah terpampang jelas ini buku untuk kaum Adam xD. Pun juga sudah banyak diketahui bahwa ust.Bendri ini adalah penggiat keluarga yang selalu membawakan topik tentang pentingnya peran seorang ayah dalam pengasuhan anak dan keluarga.

Thats why, walaupun tertarik dengan bahasan ust. Bendri tentang peran ayah dalam pengasuhan anak dan keluarga, saya belum tertarik untuk membeli bukunya karena merasa tidak terpanggil (?).

Dari awalnya tidak tertarik untuk membeli bukunya, sampai kemudian Sabtu malam Allaah gerakkan untuk memesan bukunya. Hikmah apa yang sudah Dia siapkan? :”).

Selasa sore buku saya terima dan malamnya sebelum tidur saya sudah mengkhatamkannya, alhamdulillaah. Akhirnya setelah sekian purnama belum pernah lagi mengkhatamkan buku dalam satu kali baca xD.

Walaupun dibawakan dengan bahasa ust. Bendri yang ‘begitu’ (?) wk, tapi isi tulisan beserta sindiran-sindirannya sungguh on point, jleb jlebnya.

Secara garis besar, buku dengan 205 halaman ini berisi ajakan ust. Bendri kepada para Ayah untuk mengambil perannya untuk menjadi seorang Ayah beneran (?) dengan menggunakan 7 topi istimewa. Yang setiap keistimewaannya dijabarkan dengan bahasa yang ringan serta beberapa tips aplikatif dan tak lupa menyertakan kisah dari sang Suri Teladan, Rasulullaah shallahu ‘alaihi wassalam.

 

Hal yang menjadikan buku ini semakin menarik adalah isinya yang begitu realistis dan aplikatif. Buku parenting yang minim teori dari tokoh-tokoh parenting atau psikolog. Buku parenting yang jauh dari bahasa-bahasa tingkat tinggi dan istilah-istilah yang membuat pembacanya berpikir keras dan kemudian lapar xP. Menggurui tanpa merasa digurui :”).

 

“Buku ini bisa menjadi oase di tengah gurun PUBG, Mobil Legend dan FIFA 19 yang sehari-hari memanjakan Papa, sehingga acapkali membuat Mama ngedumel manja dan berujung murka. Kini, konten kicauan Mama pada Papa bisa mama baca dari buku ini, dengan metode read aloud. Omelan Mama tentu lebih bisa menirehkan makna, bukan sekedar gerutu belaka :).” -sebuah review singkat dari Mama Ambisius Indonesia @mamambisius, yang terpajang di cover belakang buku Fatherman-

Mengapa saya memberikan kesan realistis saat membaca buku ini? karena apa yang ust. Bendri tuliskan di dalam buku ini sungguh-sungguh real mengenai kondisi yang terjadi di tengah masyarakat saat ini. Pun tips-tips saran yang beliau tuliskan untuk bisa menjalani peran sebagai seorang Fatherman juga saran yang sungguh bisa diupayakan oleh para Ayah (menurut sudut pandang anak perempuan xP). Kalau sekarang zamannya obrolan tentang pengasuhan anak berdasarkan fitrah (Fitrah Based Education), maka tulisan ust. Bendri ini menopang dalam mengoptimalkan fitrahnya seorang Ayah sebagai Qowammah dalam keluarga :”).

Di beberapa bagian, saya membaca buku ini sambil tanpa sadar terbayang hal-hal yang disebutkan di dalam buku ini, yang selama ini dilakukan Bapak kepada kami anak-anaknya di rumah. Tidak di semua bagian memang, tapi yang sedikit bagian itu sudah lebih dari cukup untuk menambahkan rasa sayang yang berlapis-lapis kepada Bapak <3.

tumblr_ptt2phlqtE1scgn82_540

Recommmeenndd bangats :))

Membaca buku ini, seperti kembali diingatkan akan pentingnya sosok Ayah dalam pengasuhan anak. Jika ibu adalah madrasah pertama, maka ayah adalah kepala sekolahnya yang menetapkan visi dan misi kemana madrsahnya akan membentuk peserta didiknya :).

 


So, apakah buku ini hanya untuk dibaca para (calon) ayah? Uhm, secara bahasa penulis memang menujukkan buku ini untuk para lelaki. Tapi bukankah kita menyakini dan menyepakati bahwa anak adalah amanah berdua, ladang amal dan simpanan amal bagi kedua orangtuanya. Maka sudah menjadi satu kesatuan paketnya, urusan pengasuhan anak adalah tugas berdua, amanah berdua. Tidak hanya ibu saja atau ayah saja yang akan mengambil peran kebaikkan ini.

Pun sebagai madrasah pertama, menjadi tugas kita untuk mengetahui dan memahami visi dan misi dari Kepala Sekolah kita. Bagaimana kita bisa selaras menjalankan garis-garis besar visi dan misi Kepala Sekolah jika kitanya saja belum paham atau belum tahu?. Jadi menurut saya dalam rangka untuk membangun support system yang baik (?) untuk mewujudkan surga di dunia sampai di akhirat, buku ini tetap worth it untuk dibaca dibaca para kaum hawa :), in syaa Allaah ada banyak harta karun di sini.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: