Aliran Rasa: Pribadi dan Martabat Buya Hamka (1)

pribadi-martabat-buya-hamka
sumber

Bismillaah..

Awal tahun ini saya mulai dengan membaca sebuah buku yang saya dapatkan dengan potongan harga 40% promo Tahun Baru, alhamdulillaah. Saat sebuah keisengan berbuah manfaat, Mahabaik Allaah dengan segala pilihan cara dan perantara-Nya :”).

Buku berdiskon 40% ini berjudul Pribadi dan Martabat Buya Hamka. Diterbitkan oleh Penerbit Noura, Mizan Republika. Buku digital (eh, saya lupa bilang kalau saya belinya di Play Store xD, yang berarti buku yang saya beli dalam bentuk e-book) dengan 372 halaman ini ditulis sendiri oleh putra ketiga Buya Hamka, Rusydi Hamka.

Manis :”),

Ini kesan pertama kali yang saya rasakan saat saya mulai membaca halaman demi halaman buku ini. Mungkin karena ditulis langsung oleh Bapak Rusydi, putra Buya Hamka yang sering berdiskusi dan menemani setiap perjalanan Buya Hamka, membaca setiap paragrafnya seperti sedang mendengarkan seorang anak laki-laki yang sedang bercerita penuh semangat tentang ayah kebanggaannya :). Seperti yang dituliskan Pak Rusydi pada halaman Ucapan Terima Kasih dibagian depan buku ini: Buku ini bukanlah sebuah biografi Buya Hamka yang sarat dengan data, melainkan sekedar kenang-kenangan dari seorang anak terhadap ayahnya.

Pada bab 1 buku ini, kita akan mendengarkan kisah tentang masa muda Buya Hamka, tentang bagaimana perjalanan beliau hingga menyandang gelar Haji-nya pada usia yang cukup belia, bagaimana beliau di usianya yang baru belasan tahun sudah berani merantau ke Pulau Jawa, bagaimana keterlibatan beliau dalam setiap kongres Muhamadiyah dan banyak kisah istimewa lainnya. Satu hal yang membuatnya semakin terasa manis adalah saat Pak Rusydi –penulis buku ini- menambahkan kalimat “Ayah pernah bercerita..” pada bagian awal setiap kisah yang akan dituliskan beliau.

Pada bagian kata pengantar Pak Rusydi menuliskan kekhawatiran beliau saat memutuskan akan menulis buku ini. Tentang bagaiman buku ini akan penuh dengan subjektivitas beliau sebagai seorang penulis yang juga adalah putra Buya Hamka. Untuk ini, maka penulis minta dimaklumi dan dimaafkan oleh pembaca. Tulis beliau di halaman depan buku ini. Aaaiiih, si bapak :”).

Selain menceritakan kisah tentang perjalanan Buya Hamka di usia muda, bagian pertama buku ini juga tak luput menceritakan si Ummi, Siti Raham. Wanita mulia yang dinikahinya saat beliau berusia 21 tahun, sedangkan si Ummi baru berusia 15 tahun. Saat menikah, Buya Hamka sudah menyandang gelar Haji, sebab itulah si Ummi selalu memanggil Buya Hamka dengan panggilan “Angku Haji”.

Jika di atas saya sudah menuliskan tentang bagaimana manisnya membaca halaman-halaman pertama buku ini, tingkat kemanisan akan semakin bertambah saat mulai memasuki kisah perjalanan rumah tangga Buya Hamka dan Ummi. Aiiissh, membayangkan keperibadian Ummi dari cara putra beliau sendiri menggambarkan dan menuliskannya membuat saya kembali menyakini, bahwa disamping seorang Laki-Laki hebat selalu ada seorang wanita luar biasa di sisinya.

Kebayang ga manisnya obrolan mereka?, Buya Hamka yang sangat pandai bersajak-sajak selalu mengucapkan untaian kalimat-kalimat indah dan Ummi dengan aksen minangnya yang sangat ketara, selalu merespon Angku Haji-nya dengan jawaban polos dan terus terang tanpa basa-basi. Bagian ini sukses membuat saya senyam-senyum sendiri saat membacanya.

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tantangan game level 5 kelas Bunda Sayang Pra-Nikah Institut Ibu Profesional. Day 1/10.

 

 

 

 

Advertisements

One thought on “Aliran Rasa: Pribadi dan Martabat Buya Hamka (1)

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: