Andaikata (1)

Bismillaah..

“being a mom is a big deal, preparation is a must. Karena nasib peradaban ini dipercayakan pada tangan para ibu” –SuperbMom Wannabe-

Ada yang super duper menarik-narik fikir di pekan kemarin. Jika pada pekan sebelum pekan kemarin bisa dengan mudah mengerjakan Nice Homework ke-1 yang diberikan oleh Fasilitator, Alhamdulillah, biidznillah. Maka di pekan kemarin, sejenak setelah membaca Nice Homework ke-2 yang di posting bunda Fasilitator di laman google classroom, hanya bisa terdiam beberapa lama, wkwk.

NICE HOME WORK #2

Bunda, setelah memahami tahap awal menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga. Pekan ini kita akan belajar membuat “CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN”

  1. Sebagai individu
  2. Sebagai istri
  3. Sebagai ibu

Buatlah indikator yg kita sendiri bisa menjalankannya. Buat anda yang sudah berkeluarga, tanyakan kepada suami, indikator istri semacam apa sebenarnya yang bisa membuat dirinya bahagia, tanyakan kepada anak-anak, indikator ibu semacam apa sebenarnya yang bisa membuat mereka bahagia. Jadikanlah jawaban-jawaban mereka sebagai referensi pembuatan checklist kita.

Buat anda yang masih sendiri, maka buatlah indikator diri dan pakailah permainan “andaikata aku menjadi istri” apa yang harus aku lakukan, andaikata kelak aku menjad Ibu , apa yang harus aku lakukan.

Kita belajar membuat “Indikator” untuk diri sendiri.

Andaikata saya menjadi Istri dan menjadi Ibu, apa yang akan saya lakukan untuk bisa memperoleh gelar “kebanggaan keluarga”, gelar yang dinilai dan diuji langsung oleh anggota keluarga, yaitu Pak Suami dan anak-anak. Nah loh?!

Andaikata aku menjadi seorang istri

Beberapa tahun yang lalu, saat kehendak Nya membawa saya mendiami kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta untuk waktu yang bila perempuan mengandung, maka saya mulai menetap saat usia kandungannya masih 1 hari (?) wkwk dan akhirnya meninggalkan kamar kost saya saat si bayi dilahirkan sesuai due date-nya dan sudah berusia 20 hari. Ribet yak :P. Ingin bilang 10 bulan doang padahal wkwk. Saya pernah menyampaikan ini ke-mba murobbiyah saya saat di solo.

“mbaa, masa aku pengen nikah sekarang, cuma gegara biar ada yang bisa nganterin liqo sama pergi ke tatsqif”, kalimat ini keluar bukan tanpa sebab. Saat kemudian memutuskan untuk mengambil lowongan belajar kerja di salah satu instansi pemerintah yang letaknya ada di pucuk Gunung Kidul, saat itu pula saya mulai hijrah, mutasi liqo, keluar dari zona nyaman di kampus super ‘hijau’ ke dunia realita. Lha emang di kampus dunia fantasi? :P.

and the challenge begins,

Di sini, di gunung kidul, didaerah gading tepatnya, amat sangat susah menjumpai kendaraan umum level angkot. Jalan besarnya memang dilewati bus kecil dan tanggung antar kota, tapi nunggu bus nya pun bisa lama dan unpredictable waktunya dan maksimal hanya sampai pukul 17.00 bus jurusan Wonosari turun ke Yogyakarta. Maka bagi saya yang tidak membawa kendaraan apapun kesini, ini menjadi kendala terbesar bagi saya. Dan makin tambah ‘sesuatu’ karena jeng jeng jeng, liqo-an tempat saya dimutasi, yang sebagian besar berisikan ibu-ibu berdomisili asli di gunung kidul, menggunakan sistem liqo keliling. Jadilah tiap pekan, tempat liqonya bergilir ke rumah-rumah yang artinya keliling kabupaten gunung kidul. Makin tambah dramatis karena pertemuan pekanannya dilaksanakan setiap selasa sore, yes on the weekdays!. Senin malam biasanya maksimal japrian rumah siapa yang akan dikunjungi sampai di hp. Sekalipun disebutkan nama daerah sama ancer-ancer nya sama saja bagi saya, yang aktifits sehari-harinya hanya jalur kost ke kantor dan turun gunung tiap weekend menginap di kost-an waktu di solo, atau ke rumah mbah di klaten.

Alhamdulillah, ‘alaa kulli haal, dengan berbagai cara-Nya, setiap pekannya hampir selalu bisa sampai dan pulang kembali ke kost dengan sehat wal’afiat tanpa kurang satu apapun. Kalau di ingat-ingat sekarang benar-benar Maha Kuasa Allaah yang menakdirkan pun juga memudahkan hamba-Nya untuk menjalani kehendak-Nya. Mulai dari ke tempat liqo dianterin pakai motor sama anak SMP dan digiring sama anak-anak TK dan SD yang bersepeda, mereka ade-ade yang ikut TPA di mushalla belakang kantor :D, atau juga pernah berangkat diboncengin pakai moter gede sama ummahat usia 50 tahunan, wkwk “maaf yaa mba, motor saya lagi dipakai anak, ini dapat pinjaman motor tetangga, adanya motor ini ” kata si ummi saat saya takjub melihat si ummi dengan style rok-nya tapi naik motor gede :”). Saat pulang ba’da maghrib, jalan yang dilalui sudah cukup sepi dan gelap, bahkan di jalan besar pun bisa terlihat jelas beberapa Photuris lucicrescens yang hilir mudik entah kemana. Pernah juga saat akan menghadiri kajian tatsqif di salahsatu SDIT yang ada di pusat kota kabupatennya, berangkatnya saya nyasar, saya kebablasan ikut bus yang saya tumpangi sampai di terminal pemberhentian terakhirnya. Itu karena saya benar-benar belum tahu harus turun dimana -__-, saat pulang pun ternyata saya salah tempat berdiri menunggu angkot, yang setelah sekian jam saya menunggu, tidak ada satupun angkot yang lewat di depan saya. Ini, salah satu alasan terbesar saya sangat ingin menikah saat itu -___-.

Hingga, tibalah suatu hari, saya tersadar dan malah tersenyum-senyum mengingat alasan saya saat itu :”).

Bismillaah,
Suatu saat nanti, ketika Allah mengizinkan saya menyandang amanah sebagai seorang istri sebelum Allaah memanggil saya terlebih dahulu. Saya ingin belajar dan berusaha untuk menjadi istri yang berdaya, yang kebaikan-kebaikan apapun itu selagi bisa saya upayakan sendiri, akan saya usahakan tanpa menunggu atau bergantung dengan keberadaan Pak Suami. Misal, berangkat liqo, berangkat ke tatsqif, menjenguk orang sakit, dan lain-lain yang semisal dengan ini. Tentu, dengan meminta izin sebelumnya ke beliau, juga meminta untuk diantarkan, lha? Wkwk. Memintanya cukup sekali, jika beliau nya mengatakan kemungkinan tidak bisa mengantarkan kerena suatu udzhur lain yang lebih penting, maka insyaaLlaah saya tak akan memintanya untuk yang kedua kalinya. Juga tidak menjadikan bisa atau tidaknya beliau mengantarkan sebagai suatu patokan, jadi tidak nya saya mengahdiri suatu majelis kebaikan. Ridha dan izin dari beliau sudah cukup, insyaaLlah :”).

Beberapa tahun yang lalu, salah satu abang terbaik di kampus meninggal dunia, meninggalkan istri yang baru dinikahinya setahun sebelumnya dan bayi perempuan yang masih merah pipinya. Sebulan yang lalu, tiba-tiba saya mendapat pesan dari salah satu ukhti sholiha, berbincang-bincang sejenak menanyakan kabar sebelum akhirnya beliau menyampaikan maksud beliau untuk meminjam sejumlah dana. Awalnya saya tidak berkeinginan untuk menanyakan, tapi akhirnya betanya juga mengenai untuk apakah dana itu akan dipakai?. Dan Maha Baik Allaah yang menyisipkan setiap hikmah dan pembelajaran melalui setiap takdir kehendak-Nya. Ukhti sholiha ini menyampaikan bahwa uangnya akan digunakan untuk menebus HP nya yang sedang dijadikan jaminan. Suaminya beberapa waktu yang lalu baru diberikan ujian melalui sakit yang cukup lama, sehingga beliau resign dari tempat kerjanya. Saat ini baru sembuh dan sedang berusaha untuk kembali mencari pekerjaan. Sedangkan si ukhti sholiha ini sebelumnya juga memiliki usaha sampingan olshop, dan usahanya harus berhenti sejenak sebulan yang lalu karena ketiadaan hp.

Menyaksikan kisah kisah diatas, kemudian membuat saya merenungi salah satu dari 10 muwasshofat, Qadirun ‘alal kasbi. Kemampuan untuk mandiri berpenghasilan melalui cara yang benar. Saya ingin belajar dan berusaha untuk menjadi istri yang berdaya secara finansial, yang ini masih sangat jadi PR bagi saya. Bukan di masalah istri bekerja di luar atau istri full dirumah. Yang saya pikirkan bagaimana saya berusaha untuk mengasah suatu keterampilan yang itu bernilai, bermanfaat dan bisa digunakan untuk menghasilkan uang :P. Memasak misal, atau bikin kue, atau bikin kerajinan tangan. Yang keterampilan misal ini semua belum saya punya sekarang -__-. Semua keterampilan yang tetap tidak menanggalkan kodrat kita sebagai seorang wanita dan muslimah dan seorang istri juga seorang ibu kelak.

“Dan yang paling penting dari itu semua adalah, dia harus kuat. Sehingga ketika aku benar benar harus pergi dari sisinya dia akan tetap menjadi kuat dan hebat, melanjutkan hidupnya, merawat anak anak dan mimpi mimpi kami.”

Ini salah satu tulisan salah seorang bapak-bapak, yang saya spenuh sadar menyepakatinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: