Meracacacau · review · Uneguneg

tentang Dilan

Bismillaah..

Maaf nih, saya ngga ngikutin dan sedang mencari cara mudah untuk catch-up. Jadi, mengapa Dilan ini istimewa?

Ada pertanyaan ini saat membuka laman dashboard tumblr saya pagi ini. Menarik!:), pertanyaannya menarik, bukan jawabannya yang menarik, he he 😛

apa yang membuat anak ke-empat dari 5 bersaudara, dari pasangan Ayah dan Bunda ini menjadi sosok yang menarik perhatian beberapa hari terakhir? Iyap, karena kisahnya yang berasal dari Novel itu diangkat ke layar lebar.

Hari ini, Selasa pagi, sehari sebelum akhir bulan Januari, sehari sebelum terjadinya gerhana bulan total kata BMKG. Sejuk, Jakarta bagian timur, sedari pagi sudah dikunjungi gerimis. Matahari nya tetap bersinar menghangatkan, walau hangatnya belum juga terasa di pemukaan epidermis kulit (begimana mau berasa diruangan full AC -___-). Alhamdulillaah ‘alaa kulli haal :”).

Ahad malam, beberapa jam sebelum tengah malam saya sudah menamatkan membaca Dilan 1, Dia adalah Dilanku tahun 1990. Dilan 2, Dia adalah Dilanku tahun 1991 dan Milea belum dibaca, dan sama sekali ga tertarik untuk melanjutkan menamatkan trilogy ini. Kenapa? Karena Dilan 2 dan Milea katanya ceritanya sedih, dan saya ga mau ikutan sedih :P.

Ahad siang sebelum adzhan dzuhur berkumandang dari Masjid samping rumah, ketiga novel ini sudah ada ditangan, baru mulai membaca beberapa halaman, sudah banyak di interupsi oleh adek semata wayang, “mbaa iihh, apalan iihh”, “apaaalllaan mbaa, bukan malah baca dilan”, “mbaa ihh, parah bangat ih, apalan dulu”. Huwaa MasyaaLlaah ya adek sholeha semata wayang ini, wkwk, yang terus ngingetin dengan jadwal setoran tiap ahad sore.

Baru kemudian, saat malam hari, saat si adek semata wayang sudah tertidur, terkerukup (?) oleh selimut biru Winnie the Pooh-nya, saya mulai melanjutkan membacanya. Sekali baca langsung sampai tamat. Novel yang sangat ringan, tidak banyak berisi paragraph yang berisi deskripsi yang panjang, kebanyakan malah percakapan-percakapan singkat, seperti:

“kamu pernah nangis?” kutanya.
“waktu bayi, pengen minum”
“bukan ih!”
kataku. “Pas udah besar. Pernah nangis?”
“kamu tau caranya supaya aku nangis”
dia nanya
“gimana?”
“gampang.”
“iya gimana?”
“menghilanglah kamu di bumi”

“kamu tahu gak?”
“tahu apa?”
Nandan balik nanya
“Aku mencintai Milea”
Nandan tersenyum sekilas sambil memandangku. Rani, Dito dan Jenar pada ketawa. Mukaku pasti merah.
“tapi, malu mau bilang,” kata Dilan.
“itu, sudah bilang?” kata Nandan.
Nandan ketawa kecil, tapi ada rasa keselnya.
“aku kan bilang ke kamu, bukan ke dia.”
“dia denger, kan?”tanya Nandan.
“mudah-mudahan”.

Tidak perlu berhari-hari untuk menamatkannya, lagi juga saya ingin segera menyudahi rasa penasaran ini, wkwk. Dilan, dari covernya saja sudah tak asing di mata. Novelnya sering terlihat, berjejer-jejer di rak buku kalo kebetulan sedang mampir ke Gramed, Gunung Agung atau Salemba. Yakan Best Seller, hhe. Tapi kemarin-kemarin belum tertarik dan tidak tertarik sama sekali untuk mebacanya. Bersebab dari suksesnya gembar-gembor media mengenai novel ini, barulah kemarin berasa keppo pengen tahu kisahnya kayak apa, tapi sama sekali ga pengen nonton filmnya :P.

saya rasa ada sisi ‘parenting’ yang ingin disampaikan oleh bang pidi di buku ini.
saya kagum pada dua perempuan yang jadi the center of life nya dilan dan milea; mama, dan bunda .

i adore mama and bunda so much

hadirnya mama bunda dalam buku ini membuat saya berandai-andai, kelak, jika saya menjadi ibu, saya pun ingin seperti mamanya milea, dan atau bundanya dilan

working mom sama bu ibu yg suka gitaran sop? .
bukan

mamah mamah yang gapapa anaknya pacaran dibawa jalan-jalan sampe malem sop? .
bukan .

tapi mama dan bunda yang embrace heart warmingly whatever their children face,
qu kagum pada mama yang peluk milea saat milea tersebab dia takut dilan dipecat dari sekolah,
yang seakan2 lewat pelukannya she told milea that “anak ibu kuat, anak ibu bisa hadapi ini semua, every single thing shall pass”. qu juga kagum pada bunda yang meminta komitmen dilan dengan berdiskusi santai, bertukar pikiran, menawarkan value yang ingin disampaikan tanpa memaksa

buku dilan – milea, buat saya ga cuma menceritakan “how to move on from unfinished story”, tapi juga bercerita tentang sosok yang selalu ada, selalu siap menjadi tempat kembali.

ini salah satu review dari salah satu adik sholiha :P, yang saya rasa, saya ga bisa ga sepakat dengan apa yang dituliskan Shofi diatas :”). Sehabis membaca Dilan, iya saya kagum dengan kedua sosok Ibu dari kedua tokoh utama novel ini. Bagaimana mereka bisa menjadi sosok yang sangat nyaman, sehingga mampu membuat anak-anaknya bisa seleluasa dan sejujur itu menceritakan setiap yang dialami dan dirasakannya kepada Ibu dan Bunda nya. Even, itu Dilan sekalipun, anak geng motor cuy padahal ceritanya.

Dilan, sebagai tokoh utama disini pun juga tak kalah menarik :”),
bukan, bukan karena kepandaian-nya dalam menggombali Milea.

ada beberapa hal menarik dari sosoknya di novel ini,
Dilan, di usia nya yang semuda itu (masih kelas 11 ceritanya),
sudah sangat menggandrungi sastra, dan dia sangat suka sekali membaca!:).
bahkan, dinovel ini diceritakan si Dilan udah khatam loh baca Tafsir Al Qur’an 30 Juz karya Buya Hamka, nahloh keren kan? :P,

Dilan yang sangat setia kawan, yang sangat supel, yang sangat suka bersosialisasi. Tukang koran, tukang sayur, tukang pos, tukang nasi goreng sampai petugas PLN, semuanya pernah menjadi perantara Dilan mengirimkan coklatnya untuk Milea, haha :D.

Dilan juga pemberani. Walaupun caranya terkesan kurang sopan, tapi bagaimana cara Dilan memperingatkan guru BP nya yang suka bertindak kasar dan semena-mena kepada para muridnya cukup membuat pukulan telak bagi siapapun kita –yang mengaku sudah besar dan dewasa- yang membacanya.

“aku bukan melawan guru, Bu. aku melawan Suripto,”
“Ibuku juga guru, kakakku juga guru”
“aku tidak bisa memaklumi guru yang begitu”
“hormatilah orang lain kalau ingin dihormati,”
“siapapun dia, biar guru juga, kalau ga menghargai orang lain, ga akan dihargai”
“jangan karena guru, jadi berbuat seenaknya,”


“ya, kita tidak bisa mengkritik tanpa lebih dulu memahami apa yang kita kritik itu. Termasuk kita tidak bisa menghakimi anak remaja tanpa kita memahami kehidupannya. Orangtua seharusnya bisa memahami anak-anak, bukan sebaliknya. Jangan anak-anak yang dipaksa harus memahami orangtua. Anak-anak belum mengerti apa-apa, meskipun tentu saja harus kita berikan pemahaman” kata Bunda nya Dilan di novel ini, so a wise yaa :”)).

Sebelum membaca ini, saya bertanya pendapatnya mengenai novel ini kepada salah seorang bunda :P, bunda-nya Raisya [salah satu hal yang menyentuh adalah ketika kamu tahu, salah satu teman baikmu saat SMA memberikan nama putri pertamanya sama dengan nama yang kamu punya, walaupun kenyataannya mah ga ada kaitanya sama sekali, wkwk]. Si Bunda sudah khatam Dilan 1 dan Dilan 2 jauh sebelumnya.

“aku gimana ya ta, pas baca itu kayak makan kerupuk aja gitu. Tapi penasaran juga yang katanya orang itu bagus. Mungkin karena prinsip kita beda ya, jadi aneh aja, aku liat anak muda begitu amat. Dan sesungguhnya bagi aku, buku ini kurang bermakna bangat, wkwk. Tapi leh uga mau baca yang ketiga, wkwk”

eh btw,
rumah (orangtua) nya si Dilan tuh masih mayan deket dari rumah orangtua saya, masih satu daerah di Pondok Kopi :”). Inpo yang sungguh sangat unfaedah, wk.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s