Harta Karun · Tarbiyah

Al Fahmu : Pemeliharaan Tradisi Keilmuan

Betapapun hebatnya perusakan yang dilakukan pasukan Tartar terhadap kitab-kitab para ulama, itu menjadi tak berarti jika dibandingkan dengan apa yang berkembang di dunia keilmuan. Darah daging ilmu telah membekas dihati para ulama. Seorang imam pergi bermusafir berbulan-bulan ‘hanya’ untuk mencari satu hadits singkat. Seorang ulama produktif menulis di penghujung malam dan esoknya juru salin baru dapat menyelesaikan transkripnya dalam waktu 10 jam.

Tradisi keilmuan juga menyangkut etika pergaulan. Hampir tidak pernah ditemukan ulama yang datang ke depan pintu Sultan kecuali ia penjilat atau seseorang yang sudah sampai ke tingkat ma’rifat yang tinggi. Seorang alim yang zuhud menghindari sultan dan orang-orang kaya karena takut fitnah dunia, sementara ulama yang arif billah (mengenal Allaah) datang kepada raja, untuk menasehati dan mengingatkan mereka.

Harun Al Rasyid meminta Imam Malik untuk datang menziarahinya, “agar anak-anak kami dapat ikut mendengarkan kitab Al Muwattha,” jelasnya. Dengan penuh keyakinan, dijawabnya permintaan tersebut oleh Imam Malik, “Semoga Allaah menjayakan Amirul Mukminin. Ilmu itu datang dari lingkungan kalian (Baitun Nubuwah). Jika kalian memuliakannya ia jadi mulia dan jika kalian merendahkannya ia jadi hina. Ilmu harus didatangi, bukan mendatangi.”

Ketika akhirnya sang sultan menyuruh kedua putranya datang ke Masjid untuk mengaji bersama rakyat, Imam Malik mengatakan, “Dengan syarat, mereka tidak boleh melangkahi bahu jama’ah dan duduk di posisi mana saja yang terbuka untuk mereka”.

Sebagai Imam pembela sunnah yang sangat konsisten melaksanakannya, Imam Syafi’I dikenal sangat kokoh dalam menyampaikan argumentasinya. Kepiawaiannya saat berdiskusi dilandasi oleh keikhlasannya yang sangat luar biasa. “Setiap kali aku berdebat dengan seseorang, selalu kuberharap Allaah mengalirkan kebenaran dari lisannya,” begitu ujar Imam Syafi’i.

Tulisan ini merupakan rangkaian karya dari Almarhum Ust. Rahmat Abdullah yang pernah dimuat di majalah Tarbawi dengan mengambil tema-tema refleksi seputar Al Arkan Al ‘Asyarah, Hasan Al Banna.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s