Belajar · challenge · Harta Karun · Hikmah · Meracacacau · sejarah

Guru Sejarah

tumblr_okj0szey3f1th2yi3o1_1280

picture taken from here

Sebagian ulama berkata, “kisah adalah sebagian dari tentara Allah yang diturunkan ke bumi”. Dan bukankah lebih dari separuh ayat Al Qur’an diturunkan dalam bentuk kisah-kisah umat terdahulu?“
–status FB mba Fitry Ratnasari-

Bismillaah,

Sejak dua tahun yang lalu sampai dengan saat saya menulis tulisan ini, saya mempunyai sebuah keinginan baru. Ingin menjadi guru sejarah!. Kalimat ini pernah saya tulis sekitar dua tahun lalu ketika menulis review dari sebuah buku leadership series yang sangat keren.

Kenapa guru sejarah? Saat menuliskan review tersebut saya juga katakan, betapa saya sangat ingin menceritakan kisah-kisah kepada adik-adik generasi muda masa kini, tentang betapa kita baik sebagai seorang muslim ataupun sebagai Warga Negara Indonesia pernah memiliki masa-masa kejayaan. Masa kejayaan yang tidak begitu saja didapat atau diberikan, ada banyak kisah perjuangan dan pengorbanan yang mendahuluinya. Semangat berkontribusi untuk bisa mengulang kembali masa-masa kejayaan ini yang ingin sekali saya tularkan kepada adik-adik masa kini :”). Pun juga, perasaan bangga sebagai seorang Muslim dan sebagai orang Indonesia yang sedini mungkin ingin saya tempelkan lekat-lekat kepada adik-adik generasi muda saat ini.

“Tidak ada yang baru di muka bumi ini”
[DR. Raghib Sirjani].

Maka, langit yang sedang menaungi kita hari ini, adalah juga langit yang sama yang menaungi Rasulullaah shallahu ‘alaihi wassalam ketika pertama kali menerima wahyu sebagai seorang Nabi dan Rasul juga kelak sebagai pemberi syafaat bagi kita, umatnya di akhir zaman ini. Juga langit yang sama, yang menaungi perjuangan beliau dan para sahabat hingga bisa mewarnai islam ke hampir 2/3 bagian bumi :”).

Matahari yang sedang menyinari kita saat ini, juga adalah matahari yang sama, yang menghangatkan Panglima Jendral Soedirman keluar masuk hutan dengan hanya sebuah paru-parunya yang berfungsi baik, walau harus ditandu oleh para ajudannya, bergerilya demi menunjukkan kepada dunia Internasional, bahwa Negara Indonesia masih ada dan belum sama sekali bertekuk lutut, walaupun Sang Presiden kita saat itu sudah berada dalam tawanan Pemerintahan Belanda. Juga Matahari yang sama yang menemani The Grand Old Man, KH. Agus Salim berangkat menghadiri Konferensi ILO di Jenewa, Swis. Beliau sampaikan pidatonya dengan sangat berani. Paragraf 1 pidatonya, beliau sampaikan dengan bahasa Belanda, paragraph 2 dengan bahasa Inggris, paragraph 3 dengan bahasa Jerman dan paragraph 4 dengan bahasa Prancis!. Pidato Agus Salim yang berisi gugatan atas kekejaman tanam paksa Belanda ini mampu membuat Amerika dan beberapa Negara Eropa tidak mau lagu membeli hasil kebun Hindia Belanda, yang perlahan membuat perekonomian Belanda terpuruk dan Indonesia mulai menjejaki perjuangan kemerdekaan. Allahu Akbar, Merdeka!:”)

Dan saya yakin, matahari yang teriknya sering di-keluh-i oleh kebanyakan dari kita saat sedang mengkritik pedas kondisi bangsa dan negara ini, adalah juga matahari yang sama yang menemani Bapak Proklamator kita menyampaikan teks proklamasi sebagai deklarasi atas kemerdekaan bangsa dan negara ini.

Setiap guru punya gaya mendidiknya masing-masing. Dan apakah kamu tahu apa salah satu “lahjah tarbiyah”, apa gaya Dzat Sang Mahabesar untuk mendidik manusia? Jawabannya: Mengisahkan sejarah. “Belajar sejarah secara umum, dan sejarah Islam secara khusus adalah kata kerja untuk generasi Robbani”, kata DR. Raghib Sirjani. [edgarhamas]

Hasil dari sebuah proses pembelajaran, baik itu belajar sejarah atau belajar hal apapun adalah mampu membuat kita semakin tunduk meng-hamba kepada Nya, dan tentu juga berhasil menggerakkan kita untuk dapat mengaplikasikannya dalam sebuah amal. Belajar sejarah bukan hanya tentang bagaimana mengingat sebuah kisah, tokoh, waktu kejadian atau peristiwa. Lebih dari itu, bagaimana dengan belajar sejarah kita mampu mentadabburi dan mengambil sebanyak-banyaknya hikmah dari setiap ketetapan kehendak-Nya yang telah terjadi.

Maka untuk bisa belajar sejarah dengan baik, selain dengan banyak membaca dan mendengar. Tentu harus juga dekat-dekat dengan Sang Pemilik Ilmu, meminta kepada-Nya untuk dapat ditunjukkan ilmu yang bermanfaat dan yang membawa keberkahan. Tidak buru-buru menarik kesimpulan sebelum membaca lebih banyak referensi juga bisa menjadi kunci keselamatan.

Dalam dunia digital seperti saat ini, setiap penuntut ilmu akan makin dimanjakan dengan kemudahan dan kecepatan dalam mengakses materi apapun. Hal ini bisa membawa keutungan namun juga bisa membawa malapetaka sekaligus. Kebenaran dan kebatilan sebuah informasi semakin terlihat abu-abu warnanya. Berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan sebuah informasi menjadi sangat utama. Ini yang masih menjadi PR utama bagi saya pribadi, bagaimana menahan diri untuk tidak terburu-buru menelan sebuah informasi tanpa dikunyah terlebih dahulu.

saat menuliskan ini,
saya belum mempunyai anak sendiri :”))
namun, keinginan untuk menjadi guru sejarah itu semoga tetap bergelora sampai nanti kelak Allaah mengizinkan beberapa hamba-Nya lahir dari rahim saya :D, minimal menjadi guru sejarah bagi anak-anak saya kelak. Saat ini sudah mulai latihan, menjadi guru sejarah dari seorang remaja berusia 17 tahun, adik semata wayang yang alhamdulillah walaupun terpakasa, wkwk dengan ridha mendengarkan saya bercerita.


Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas Nice Home Work (NHW) Program Matrikulasi Institute Ibu Profesional #Batch 5 Jakarta 4. Materi 1: Adab Menuntut Ilmu.

Advertisements

One thought on “Guru Sejarah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s