Belajar · Dear · Harta Karun · Hikmah · Tarbiyah · they're said

Nasihat: Apakah Menikah Sama dengan Pacaran?

disalin dari laman nakindonesia.tumblr.com

Ketika ditanya tentang konsep pernikahan, mungkin yang kita bayangkan adalah segala hal yang indah. Cobaan yang sebelumnya ada akan hilang, kehidupan bahagia, indahnya membaca Quran berdua bersama pasangan, dunia serasa milik berdua. Begitu bukan?

Konsepsi kita tentang pernikahan sudah banyak dicemari oleh pemikiran modern, dimana yang ada hanyalah kesenangan. Jika kesulitan melanda, kita tinggal pergi begitu saja. Itu sebenarnya adalah konsep dari pacaran.

Bukankah menikah itu hal yang jauh lebih besar dibanding sekadar pacaran?

Akan ada hambatan, kesulitan, kita harus memahami kebiasaan pasangan, memahami keluarga pasangan, dsb. Biasanya ini terjadi setelah menikah selama beberapa tahun, karena yang terpikir di awal pernikahan adalah, “Aku sayang dia, apapun yang dia lakukan dapat kuterima…”. Namun setelah beberapa waktu, masalah kecilpun dapat menjadi besar. Hal ini tidak terjadi dalam pacaran, karena biasanya ketika kita bosan dengan seorang pacar, tinggal diputuskan lalu cari yang baru.

Menikah tidak sama dengan pacaran, menikah adalah sebuah komitmen yang sangat serius, bahkan Alquran menggunakan terminologi yang sangat kuat untuk hal ini;

وَالْمُحْصَنٰتُ, مُحْصِنِينَ

Kata “Ihsan” dalam bahasa Arab digunakan sebagai istilah untuk menempatkan seseorang di dalam benteng. Konsepnya adalah kondisi di luar benteng berbahaya, maka ada seseorang yang harus ditempatkan di dalam benteng. Siapa orang tersebut? Ialah sang istri. Siapa bentengnya? Tentu sang suami. Kondisi bahaya apa yang dimaksud? Segalanya. Mulai dari kesedihan, kesulitan, pendidikan, dan lainnya.

Jadi, ketika menikahi seseorang dengan alasan yang salah, hanya untuk memuaskan nafsu hormonal, maka kehidupan kedepan akan sulit dan menyedihkan. Namun ketika pernikahan diniatkan untuk menjalankan sunnah Allah, membentuk keluarga rabbani untuk menebar kebaikan di masyarakat, Insya Allah, Allah akan membantu.

Prinsip pernikahan yang harus digarisbawahi adalah;

Pikirkan tanggung jawab yang kamu emban, lupakan hak yang harusnya kamu terima.”

Mungkin terlihat sangat keras, namun hal tersebut harus dicoba. Untuk suami misalnya, pikirkan apa yang sedang dibutuhkan sang istri? apa yang dapat dilakukan? Kado apa yang cocok untuknya? Ketika sang istri berbuat salah, cepat lupakan dan maafkan, dsb.

Karena seharusnya kita tahu, ketika berekspektasi banyak kepada sesama manusia, termasuk kepada pasangan, kita mungkin akan kecewa. Ketika kita terus menuntut kepada pasangan agar berlaku lemah lembut, selalu menemani, selalu tersenyum, dsb, hal tersebut tidak akan berakhir dan akan berujung pada kekecewaan.

Kepada siapa orang beriman harusnya berharap? Tidak lain hanyalah kepada Allah, bukan kepada manusia. Manusia adalah makhluk yang lemah, tidak akan mampu memenuhi semua ekspektasi terhadap dirinya.

Ketika kita sudah terbiasa dengan prinsip di atas, lalu pasangan kita melakukan sesuatu yang kecil untuk kita, apa yang terjadi? Kita akan sangat bersyukur, bertambah rasa kasih sayangnya, bersyukur menjadi pasangannya… Karena sebenarnya kita tidak mengharap apapun darinya 🙂

-A-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s