Belajar · Dear · review · they're said

Menjadi Ayah Nomor Satu

oleh Muhammad Akhyar

Saya tak tahu apa yang menjadi motif Andrea Hirata sehingga dalam novel-novelnya senantiasa muncul tokoh Ayah. Uniknya, dalam cerita orang-orang Melayu itu, gambaran ayah yang ia hadirkan jauh dari stereotip laki-laki Melayu yang kebetulan menjadi ayah. Sebagai orang Melayu Kampung, paham benar saya tabiat ayah-ayah di kehidupan orang-orang Melayu. Ayah dalam tradisi Melayu adalah sosok patriarch, pihak yang ditakuti anak ketika mereka belum berangkat mengaji. Hal ini sama sekali tak tampak pada diri Seman Said Harun ayah Ikal di Tetralogi Laskar Pelangi dan Sebelas Patriot, Zamzami ayah Enong di Dwilogi Padang Bulan, Sabari bin Insyafi di novel Ayah, hingga Sobirinudin ayah daripada Sobrinudin alias Sobri alias Hob alias Bang Ganjal Lemari di Sirkus Pohon.

Ayah-ayah yang ada pada tulisan-tulisan Andrea Hirata bukanlah macam ayah kebanyakan yang dimiliki anak-anak Melayu Kampung. Jenis ayah yang tahunya cuma mencari duit lalu memberikannya duit itu kepada sang isteri setelah sebelumnya telah ia belikan beberapa bungkus rokok dan segelas kopi susu jelas jangankan hadir, menyerempet pun tidak pada ayah-ayah di cerita Andrea Hirata.

Ayah-ayah ajaib yang lain dari pada yang lain dalam ceritera Andrea Hirata ini sedikit banyak selalu berhasil membangkitkan kenangan saya pada ayah saya sendiri. Ayah saya berbagi beberapa sifat dengan ayah Ikal, Enong, Amiru, dan tentu saja Hob. Ragam sifat itu, entah bagaimana, saya kira adalah perangai yang mestilah diadopsi oleh laki-laki manapun di dunia jika mereka ingin dianggap sebagai ayah nomor satu.

Diam itu Emas

Orang-orang Melayu memiliki beberapa kearifan tak tercatat. Salah satunya adalah jika seorang pria Melayu tak pandai berpencak silat, paling tidak ia harus mahir bersilat lidah. Dan lagi-lagi, para ayah ajaib karangan Andrea Hirata tak mahir dalam hal-ihwal silat ini. Ayah-ayah ini mungkin adalah pengikut Nabi Muhammad sejati. Mereka paham benar bagaimana menjalankan hadis yang berbunyi,

barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.

Tentu pembaca Andrea masih ingat fragmen ketika Seman Said Harun bersepeda belasan kilometer lengkap dengan safari kantong empat untuk menghadiri pembagian rapor anaknya. Saat anaknya mendapat prestasi atau sebaliknya, ia tak banyak berkomentar. Ia cukup menepuk bahu anaknya lalu berucap salam ketika hendak pulang kembali ke Gantong. Akan tetapi, sedikitnya kata-kata yang mereka keluarkan dalam keseharian, membuat anak-anak mereka begitu fasih menafsirkan apa-apa makna yang tersaji dari gerak tubuh ayah mereka, dari raut wajah ayah mereka. Apakah sedang sedih. Apakah sedang merasa bangga.

Miskin Boleh, Menyerah Jangan

Ayah-ayah dalam novel Andrea tak pernah punya profesi mentereng. Pekerjaan mereka berkisar di antara pendulang timah, buruh batako, hingga penjual minuman ringan di stadion kabupaten. Meskipun demikian mereka bukanlah tipikal laki-laki Melayu yang pagi-pagi masih bersarung kemudian ketika petang menjelang berangkat ke kedai kopi untuk menumpang membaca koran dan membahas isu politik terkini lalu baru pulang ketika jamaah Isya sudah tak tersisa lagi di masjid.

Lihatlah Zamzami yang ingin membelikan Kamus Bahasa Inggris Satu Miliar Kata kepada anaknya Enong. Ia bekerja jauh lebih keras di tambang, sehabis itu jika kebetulan sedang ada orkes Melayu akan tampak Zamzami berjualan nira. Hari Sabtu ketika tambang libur, ia berangkat ke laut untuk mencari kerang. Hari Minggu ketika tambang juga libur, ia menjual tebu yang ia kupas dan potong kecil-kecil lalu ditusuk dengan lidi. Bangun Pagi, Let’s Go!

Nasihat Itu Diperlihatkan Bukan Diperdengarkan

Saya tak tahu buku psikologi apa yang dibaca Andrea sehingga ia tahu saripati ajaran dari tokoh Social Cognitive Psychology, Albert Bandura, children learn by what you do, not what you say. Sobirinudin tak pernah berceramah jikalau perbuatan jujur itu adalah batas antara orang beriman dan yang bukan. Syahdan, Sobirinudin membantu seorang juragan kopra menurunkan kopra dari perahu. Entah bagaimana sang juragan berlebih membayar Sobirunudin. Sobirinudin menitipkan kelebihan uang tujuh ribu Rupiah itu kepada nelayan yang bertempat tinggal yang sama dengan juragan kopra. Lama berselang, ternyata sang juragan telah meninggal dunia. Nelayan yang dititipkan uang mengembalikan uang kepada Sobirinudin. Sobirinudin kemudian mencari-cari sanak famili dari juragan. Baru sepuluh tahun kemudian ia berhasil menemukan cucu si juragan untuk kemudian mengembalikan uang tujuh ribu tadi, meskipun lembaran uang itu tentu saja sudah tak laku lagi. Sungguh perilaku yang membuat saya berujar “mantap jiwa” ketika membaca bagian ini.

Mencintai Bukanlah Perkara BasaBasi

Jika anakmu berprestasi tentu mudah bagimu berkoar-koar ke semua teman-temanmu, handai taulanmu, karib kerabatmu, “itu anak saya!” Lalu bagaimana jika anakmu ternyata sebaliknya? Ia memilih berkarir di bidang yang tak engkau harapkan. Ia menekuni pendidikan yang tak engkau rekomendasikan. Ia mencintai orang yang tak engkau sukai. Pendek kata, ia melakukan hal-hal yang tak akan mungkin engkau bisa banggakan. Itulah yang harus dihadapi Sobirinudin terhadap anak nomor empatnya Hob. Anak laki-laki pertama dan keduanya adalah pejabat di PN Timah. Yang ketiga PNS di kantor Syahbandar. Anak bungsunya, Azizah SD hingga SMA selalu peringkat satu. Sementara Hob, lulus SMP pun TIDAK. Astagfirullah.

Lalu apa pandangan Sobirinudin? Ia tak mengutuk anaknya. Ia tak mengatakan, “itu salah isteriku.” Ia malah selalu menganggap Hob sebagai pemain cadangan andalan alias super sub yang disimpannya untuk satu pertandingan final yang menentukan nanti. Mirip-mirip bagaimana Sir Alex memperlakukan Ole Gunnar Solskjær di Manchester United. Sobirinudin adalah pelatih yang sabar. Ia tabah menunggu sepuluh, lima belas, hingga dua puluh tahun untuk kemudian membiarkan anaknya masuk ke lapangan sebagai pemain pengganti, lalu membuat satu keajaiban. Mencintai bagi orang-orang macam begini berarti mempercayai. Dan anak-anak yang dibesarkan dengan cara seperti ini selalu tahu bahwa setiap kepercayaan tak bisa tidak harus dibayar, bisa lunas segera, bisa pula dicicil selagi nyawa masih di raga.

Jika kamu, masih berminat untuk menjadi ayah nomor satu, semoga catatan ini bisa membantumu mewujudkan impianmu itu. Ojeh?

*all pict taken from Pinterest :”)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s