Melalui Waktu Kita Belajar

oleh Kang Dedi Setiawan

“Time never stops. Why should we?” begitu kata Jack Heuer. Tentu bukan kebetulan kalau Jack mengaitkan kehidupan dengan entitas waktu.

Jack memang cucu dari Edouard Heuer. Nama yang terakhir itu merupakan founder TAG Heuer, brand jam tangan terkenal asal Swiss. Seratus lima puluh tahun lalu, Edouard merintis bisnisnya dengan membuka watchmaking workshop di Cornol, Swiss.

Seolah lahir untuk dinobatkan sebagai kebanggaan orang-orang sejagad, jam yang dipakai oleh orang-orang ternama seperti Barack Obama, Leonardo diCaprio, Tiger Woods, dan Brad Pitt itu terus berinovasi. Pada 1914 TAG Heuer mengeluarkan jam tangan khusus untuk pilot, lalu mengeluarkan produk jam tangan tahan air pada 1939. Pada 1963, sukses dengan produk yang terinspirasi dari para pembalap di ajang Carrera Panamericana. Dan seri Carrera itu berlanjut hingga tahun ini.

TAG_Heuer_Men_CAV518BFC6237_Grand_Carrera_Automatic
pict from Bukalapak. yang penasaran harganya 98.300.000 😛 (nol nya ga kebanyakan kok :D)

 

 

Kembali pada Jack, tentu bukan kebetulan ia mengeluarkan kalimat yang menjadi TAG Heuer spirit itu. Betul katanya, waktu tidak pernah berhenti. Putaran jarum dan detak detik jam akan berhenti, tapi tidak dengan waktu. Hari akan selesai dan malam akan usai, tapi tidak dengan waktu. Kehidupan dunia akan berakhir, tapi waktu terus berlanjut.

Dan dari waktu-waktu yang tak pernah berhenti itu, tidakkah kita mengambil inspirasi? Nyatanya, ada orang-orang yang tidak berhenti walau jasadnya mati. Sebutlah itu nama-nama semisal Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wasallam, Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Ustman bin Affan, Ahmad Dahlan, Hasyim Asyhari, A. Hassan, dan seterusnya. Sebut juga misalnya Soekarno, M. Hatta, M. Natsir, Sjahrir, Tan Malaka, dan seterusnya. Mereka orang-orang yang tetap “hidup” sampai sekarang.

Ah, alangkah sebentarnya hidup jika hanya diukur sampai batas kematian jasad. Amal baik dan warisan ilmu membuat orang-orang yang telah mati bisa “hidup” sampai kapan pun jua. Jasad memang akan lemah lalu mati, tapi amal kebaikan tidak. Pertanggungjawaban senantiasa menanti, maka idealnya amal kebaikan tak boleh terhenti. Menyadari waktu yang tak pernah berhenti, tidakkah kita tertarik mewarisi amal dan ilmu yang tak hanya abadi, tetapi juga terus tumbuh dan berkembang? Wallahu’alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

<span>%d</span> bloggers like this: