Mahkamah Samarkand

samarkand
Samarkand – The Capital of Tamerlane

oleh Hafidz (fatihfatah.tumblr.com)

Setelah Qutaibah bin Muslim dan pasukannya menaklukan Samarkand yang terletak di Uzbekistan. Maka, Samarkand menjadi kawasan dari kekhalifahan islam yang saat itu Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifahnya. Kita tau bahwa Umar bin Abdul Aziz adalah cicit dari Umar bin Khattab. Dan kedua Umar ini termahsyur akan kepemimpinannya, ke-zuhud-annya dan karena keadilannya. Bahkan Khalifah Umar bin Abdul Aziz berusaha mengembalikan kondisi negara dan kekhalifahan yang saat itu bergelimang harta dan kemewahan kembali kepada keadaan saat bagaimana 4 khalifah pertama memimpin (Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib).

Maka pemuka pemuka Samarkand yang tidak terima atas islam yang berlaku di negeri mereka mencari ide bagaimana agar Samarkand kembali ke seperti sedia kala sebelum Islam masuk dan menguasai. Sampailah mereka pada suatu ide, bahwa mereka mengetahui bahwa khalifah Umar bin Abdul Aziz terkenal sebagai orang yang adil. Maka mereka memutuskan bahwa jika memang pemimpin kaum muslimin saat itu orang yang adil, ada kesempatan mereka untuk menggugat kaum muslimin di pengadilan.

Diutuslah perwakilan pemuka Samarkand berangkat ke Damaskus, suriah untuk “mencari keadilan” dari khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Kejadian di Damaskus

Sesampainya perwakilan pemuka Samarkand di Damaskus, ia terbelalak dengan keindahan kota dan kehebatan gedung gedung megah yang menjulang di Damaskus. Rumah rumah yang bagus, Masjid yang megah dan istana yang besar. Dengan meminta bantuan penduduk sekitar, perwakilan pemuka Samarkand itu meminta ditunjukkan rumah Khalifah bin Abdul Aziz.

Dalam bayangannya dengan kekuasaan kekhalifahan Islam pada saat itu yang membentang dari Spanyol sampai mendekati China, dengan ibu kota pemerintahan yang megah, maka sudah pastilah pemimpin kaum muslimin adalah seorang besar yang sangat disegani. Namun sampailah mereka pada suatu rumah biasa dimana ada sepasang suami istri yang sedang memperbaiki dinding rumah mereka. Sang suami sedang menambal dinding dengan lumpur dan sang istri mengaduk lumpur. Dan yang mengantar perwakilan pemuka Samarkand itu mengatakan, “inilah rumah Khalifah”. Sampai sampai ia tidak percaya.

Setelah Menjadi Khalifah

Fatimah binti Abdul Malik adalah istri dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Simbol Wanita terhebat dan ter-nyaman hidupnya. Ayahnya adalah khalifah, kakaknya menjadi khalifah, adiknya menjadi khalifah, dan suaminya pun pada akhirnya menjadi khalifah. Benar benar sebuah anugerah dan membuat banyak orang mengharapkan sekiranya mereka seberuntung Fatimah binti Abdul Malik. Lahir dan besar dari keluarga khalifah, anak dari khalifah, saudara khalifah dan istri dari khalifah.

Umar bin Abdul Aziz pun tidak kalah mewahnya. Lahir dari keluarga ningrat membuatnya terbiasa untuk hidup dalam standar hidup “kelas bangsawan”. Sebagai contoh harga bajunya 130 dinar atau setara dengan 260 juta (1 dinar, terbuat dari emas 22 karat dengan berat 4,25 gr, dengan taksiran kasar 1 dinar sama dengan 2 juta rupiah pada saat ini). Ketika beliau bersekolah di Madinah, Pamannya Abdul Malik bin Marwan, setiap bulannya memberi uang saku 2000 dinar/bulan (setara 4 milyar hari ini) untuk Umar bin Abdul Aziz. Parfumnya, bahkan cara jalan Umar pada saat itu menjadi trend anak anak muda.

Namun yang terjadi ketika Umar bin Abdul Aziz di bai’at menjadi khalifah, segera setelah pulang dari pemakaman dari Sulaiman bin Abdul Malik maka pasukan pengawal khalifah sudah menyambut Umar bin Abdul Aziz lengkap dengan kuda terbaik bagi sang Khalifah baru. Dan Umar bin Abdul Aziz segera bertanya

“Apa ini semua?” tanya Umar.

“Ini adalah kendaraan khalifah” jawab pasukan pengawal

“Jual ini semua, masukkan hasi penjualannya ke baitul mal dan bawa kan kepadaku bhigal (peranakan kuda dan keledai)” perintah Umar.

Setelah di bai’at menjadi khalifah, ia pun memanggil segera istrinya. Fatimah binti Abdul Malik, wanita yang hidupnya dari kecil tidak pernah susah. Dan ia katakan kepada istrinya “Wahai Fatimah, jika engkau menginginkan Allah dan Rasulnya maka bersiap siaplah untuk hidup denganku. Dengan kehidupan yang berbeda dari kehidupan kita sebelumnya. Namun jika engkau menghendaki kemewahan dunia dan harta, maka kemarilah dan aku berikan kepadamu namun setelah itu kita berpisah”. Lalu dijawab oleh Fatimah “Hidup dan matiku akan bersamamu (Al hayatu hayatuk wal mautu mautuk)”.

Maka hiduplah mereka dalam kesederhanaan bahkan sangat sederhana.

Sesuatu Yang Tidak Ada Di Peradaban Lain

Maka menghadaplah perwakilan pemuka Samarkand kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

“Ya Khalifah, saya datang dari Samarkand untuk mengadukan suatu perkara dan meminta keadilan” kata perwakilan pemuka Samarkand

“Apa itu?” tanya Khalifah.

“Bukankah dalam islam sebelum pasukan muslim menaklukan suatu wilayah mereka akan memberikan 3 pilihan? Untuk masuk islam, jika tidak maka membayar jizyah, jika tidak maka berperang?” tanya pemuka Samarkand.

“Begitulah Rasul kami mengajarkan” Jawab Khalifah

“Maka kami meminta keadilan atas apa yang dilakukan pasukan muslimin di Samarkand yang tidak lebih dahulu memberi kami pilihan tersebut dan langsung menyergap kami” adu sang pemuka Samarkand.

Khalifah langsung menulis surat sangat pendek dan singkat, dan mengatakan “bawa surat ini kepada wakilku di Samarkand” perintah khalifah kepada pemuka Samarkand

Maka dibawalah surat tersebut ke gubernur Samarkand, dan ketika dibaca isinya adalah “adililah antara Qutaibah bin Muslim dan Masyarakat Samarkand” dan Khalifa menunjuk Hakim Jumaiy bin Hadzir Al Baji untuk memimpin pengadilan tersebut.

Maka dipanggilah Qutaibah kembali ke Samarkand, karena setelah berhasil menaklukan Samarkand, Qutaibah segera bergegas untuk misi dakwah selanjutnya.

Kembalilah Qutaibah bin Muslim ke Samarkand sebagai orang yang digugat oleh pemuka Samarkand. Dan dimulailah pengadilan tersebut.

Hakim : Benarkah sebelum memerangi Samarkand engkau tidak lebih dulu memberikan pilihan kepada mereka?

Qutaibah : Benar, namun saya punya alasan. Perang adalah penu tipu daya. Samarkand yang bertanah subur dan makmur ini jika aku berikan pilihan maka mereka akan punya kesempatan untuk membangung kekuatan untuk mengalahkan kami sehingga kami kalah dari mereka. Oleh karena itu aku tidak memberikan pilihan dan langsung menaklukannya.

Hakim : Bagaimanapun alasanmu namun Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk memberikan pilihan terlebih dahulu. Berarti dalam kasus ini engkau yang bersalah, maka sekarang. Tarik mundur seluruh pasukanmu dari Samarkand, dan ulangi kembali dari awal (penaklukannya) dengan memberikan pilihan terlebih dahulu

Kita tidak pernah melihat kepatuhan seperti ini bahkan keadilan seperti ini di peradaban lain. Maka Qutaibah tanpa banyak berbicara langsung memerintahkan seluruh pasukannya keluar dari Samarkand dan bersiap mengulangi penaklukannya.

Melihat fenomena keadilan dan budi pekerti luhur dari pemimpin sampai pasukan kaum muslimin. Maka segera dengan tanpa paksaan para pemuka Samarkand akhirnya mengucap dua kalimat syahadat dan masuk islam.

Notes : Ditulis kembali oleh saya dengan bebas setelah mengikuti kajian Ustadz Herfi Ghulam Faizi Lc, Penulis buku Umar bin Abdul Aziz 29 Bulan Mengubah Dunia. Semoga Allah melindungi saya dari kebodohan dan kesalahan dalam menyampaikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: