Hikmah · reblog · they're said

Tentang Obrolan Kita

Oleh Edgar Hamas

Betapa sahajanya lelaki itu, setelah dua tahun sebelumnya adalah lelaki paling hitam harum rambutnya, menjadi paling sederhana sisirannya. Yang tadinya bajunya menjuntai berhias pernak-pernik China, di akhir hidupnya menjadi seorang dengan banyak tambalan di jubahnya. Ia, telah mengubah kerajaan duniawi yang timurnya di pegunungan India dan baratnya di Atlantik, menjadi negeri langit yang membentang di duapertiga bumi. Dialah Sang Umar bin Abdul Aziz.

Dalam dua tahun, Khalifah Umar mengubah Kerajaan Bani Umayyah yang penuh hutang dan kerusuhan, tersulut pemberontakan dan ketimpangan, menjadi negeri berkah yang tak ada penerima zakat. Bukan karena tak ada zakat, tapi karena tidak ada lagi yang masuk kriteria penerimanya. Semua telah berkecukupan! Apa caranya?

Di awal pemerintahannya, orang-orang seringkali bertemu dan berdiskusi santai tentang, “bagaimana rumahmu, apakah telah kau tinggikan?”, “bagaimana kendaramu, sudahkah kau hias dia?” “Bagaimana istrimu, sudah kau beli perhiasan baru untuknya?”

Maka Umar bin Abdul Aziz memulai sebuah obrolan baru dengan pejabat-pejabatnya. Ia biasakan untuk menemui manusia dan bertanya, “bagaimana malammu, kau isi dengan tahajjud?”, “bagaimana hartamu, sudah kau zakatkan?”, “bagaimana puasamu sunnahmu, masihkah istiqomah?”

Umar ini, dikenal mudah sekali bergaul dengan rakyatnya. Kehidupannya dan gaya kesehariannya ditiru oleh banyak orang, bahkan gaya berjalannya hingga hari ini ditiru dengan gaya “Al Masyu Al Umari”. Maka, tren baru obrolan itu segera menyebar di setiap kalangan; priyayinya sampai jelatanya, intelektualnya sampai awamnya.

Dan efek dari bahasan obrolan itu, lahirlah komunitas masyarakat yang orientasinya bukan lagi apa yang ada di atas bumi, namun apa yang terjanjikan di alam langit. Bukan lagi mendapat materi, tapi bagaimana menjadikan materi sebagai mesiu untuk melesat ke alam surgawi.

Obrolan kita sehari-hari menentukan kualitas kita. Kita bicara apa, berdiskusi apa, berkomentar tentang apa, semuanya adalah bias dari apa yang sebenarnya menjadi pusat perhatian kita dalam hidup ini. Maka, coba lihat ke belakang, sebenarnya apa perhatian terbesar kita? Lihat aja obrolannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s