Harta Karun · Hikmah

Matematika, Mukjizat yang Kita Telantarkan

4d80ca69458c323ff53fd4b26f7f02bd
image from Pinterest

Oleh: Habiburrahman El Shirazy (Sastrawan Nasional)

Ada guyonan di kalangan pesantren. Ilmu matematika, ilmu fisika, ilmu biologi, dan sejenisnya itu tidak begitu penting, sebab kelak di alam kubur tidak ditanyakan oleh malaikat Munkar dan Nakir. Justru ilmu nahwu itu sangat penting. Sebab, konon, Imam Sibawaih—seorang ulama besar pakar ilmu Nahwu—ketika wafat di alam kubur dia ditanya oleh malaikat, “Man Rabbuka?” (Siapa Tuhanmu?). Dengan tenang, Imam Sibawaih gantian bertanya, “Kata ‘Man’ dalam kalimat ‘Man Rabbuka?’ Itu kedudukannya mubtada` apa khabar? Itu isim apa fi`il? Mubtada`, khabar, isim, fi`il adalah istilah-istilah dalam ilmu nahwu.

Terang saja, kedua malaikat itu pucat tidak bisa menjawab sebab malaikat hanya tahu apa yang diajarkan oleh Tuhan saja. Malaikat itu lalu pergi menemui Tuhan dan menanyakan perihal yang ditanya oleh Imam Sibawaih. Tuhan lalu memerintahkan agar Imam Sibawaih tidak usah ditanya-tanya lagi. Alhasil, Imam Sibawaih lolos dengan gemilang dari pertanyaan malaikat di alam kubur.

Itu sekadar ilustrasi, betapa “agung” ilmu alat di pesantren tempat saya belajar saat itu. Sejak itu fokus perhatian saya bergeser. Yang asalnya sangat suka matematika, kini saya sangat suka ilmu alat. Saya berlomba dengan teman satu kamar di pesantren untuk banyak-banyakan hafalan bait-bait Alfiyah Ibnu Malik. Matematika jadi telantar. Dan, itu berlanjut hingga masuk madrasah aliyah, dan bahkan hingga masuk kuliah di Al Azhar University.

Barulah ketika masuk di Al Azhar University Cairo, meskipun di Jurusan Hadis, kesadaran pentingnya ilmu matematika itu tumbuh kembali. Meskipun saya sadari sudah agak terlambat.

Ternyata sesungguhnya matematika itu juga bisa dikatakan ilmu Islam. Matematika tak terpisahkan dari ilmu-ilmu syariat yang termaktub dalam Al-Quran dan Hadis. Menghitung waris itu pakai matematika, ilmu falak untuk mengetahui kalender hijriah yang terkait dengan ibadah shalat dan puasa juga menggunakan ilmu matematika, pembagian zakat juga menggunakan ilmu matematika. Bahkan, salah satu faktor kemenangan Rasulullah Saw. dalam Perang Badar juga karena ketepatan Rasulullah Saw. dalam menggunakan ilmu matematika.

Menurut Sun Tzu dalam karya fenomenalnya The Art of War, salah satu faktor penting meraih kemenangan dalam sebuah peperangan adalah mengetahui kekuatan diri sendiri dan mengetahui kekuatan lawan.

Ibnu Hisyam dalam kitabnya Al Sirah al Nabawiyyah menceritakan sebelum Perang Badar, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Sa`ad bin Abi Waqqash, dan beberapa orang sahabat Nabi Saw. berhasil menangkap dua orang budak pasukan Quraisy. Ketika itu Rasulullah Saw. bertanya kepada budak tersebut,

“Beri tahukan kepadaku perihal orang-orang Quraisy, berapa jumlah mereka?” Kedua budak itu menjawab, “Mereka ada di balik bukit pasir yang engkau lihat di pinggiran paling jauh itu.” Beliau bertanya, “Berapa jumlah mereka?” Keduanya menjawab, “Banyak.” Beliau bertanya lagi, “Berapa kekuatan mereka?” Keduanya menjawab, “Kami tidak tahu.” Beliau lalu bertanya, “Berapa ekor unta yang mereka sembelih setiap harinya?” Keduanya menjawab, “Kadang-kadang sehari sembilan ekor, kadang-kadang sepuluh ekor.” Rasulullah Saw., bersabda, “Kalau begitu, mereka antara 900 hingga 1.000 orang.” Lalu, beliau bertanya lagi, “Siapa saja di antara mereka yang merupakan pemuka Quraisy?” Keduanya menjawab, “Utbah dan Syaibah bin Rabi`ah, Abu Al-Bukhturi bin Hisyam, Hakim bin Hizam, Naufal bin Khuwailid, Al-Harits bin Amir, Thaimah bin Adi, An-Nadlr bin Al-Harits, Zam`ah bin Al-Aswad, Abu Jahal bin Hisyam, dan Umayyah bin Khalaf dan nama-nama lain yang disebut keduanya.

Rasulullah Saw. lalu menghadap ke khalayak pasukan Muslim, “Inilah (penghuni) Mekah telah melemparkan kepada kalian kekayaan.”

Dalam cerita yang dideskripsikan oleh Ibnu Hisyam tersebut, tampak sekali Rasulullah Saw. mengetahui secara presisi kondisi dan kekuatan musuh. Jarak antara pasukan kaum Muslim dan pasukan musuh, bisa diketahui oleh Rasulullah dengan detail melalui keterangan salah seorang budak, “Mereka ada di balik bukit pasir yang engkau lihat di pinggiran paling jauh itu.” Jarak adalah hitungan matematika. Kekuatan musuh juga sangat detail dikorek oleh Rasulullah Saw. Ketika dua budak itu menjawab, “Pasukan Quraisy menyembelih unta setiap hari. Kadang sembilan ekor, kadang-kadang sepuluh ekor.” Maka Rasulullah Saw. langsung tahu jumlah mereka “Kalau begitu, mereka antara 900 hingga 1.000 orang.” Sebab satu ekor unta bisa untuk dimakan kira-kira seratus orang. Lalu, beliau menanyakan jumlah pemuka kaum Quraisy dan disebutlah nama-nama. Itu kelihatannya sekadar nama. Namun, hal itu terkait juga dengan hitungan matematis kekuatan masing-masing orang pemilik nama. Hal itu akan sangat menentukan ketika nanti terjadi duel satu lawan satu. Siapa lawan siapa?

Dan, ketika duel satu lawan satu, majulah dari kalangan pasukan Quraisy tiga orang ahli perang mereka; Utbah bin Rabi`ah dan Syaibah bin Rabi`ah—keduanya bersaudara—dan Al-Walid bin Utbah. Mereka bertiga ingin berhadapan dengan para sahabat nabi dari kalangan Muhajir.

Rasulullah Saw. mengirim tiga orang kesatria yang akan mengimbangi kekuatan dan keahlian keduanya. Itu tak luput dari hitungan matematika. Jam terbang memainkan pedang, kekuatan sabetan pedang, kecepatan sabetan pedang, kelincahan gerak, semuanya adalah ukuran matematika. Rasulullah Saw. tidak akan menghadapkan sahabat beliau yang kurang lincah bermain pedang menghadapi jawara ahli pedang kaum Quraisy. Yang lebih tinggi hitungan jam terbangnya dalam perang akan beliau tandingi dengan kesatria yang memiliki jam terbang tidak kalah. Jam terbang adalah juga hitungan matematika.

Maka Rasulullah mengirimkan Ubaidah, Hamzah, dan Ali. Ubaidah yang agak tua berduel dengan Utbah yang juga tua. Hamzah menghadapi Rabi`ah dan Ali menghadapai Al-Walid. Hamzah dan Ali tidak membiarkan lawan mereka sama sekali, dalam satu dua kali terjang Rabi`ah dan Al-Walid terkapar. Sementara Ubaidah dan Utbah sama-sama memberi satu tikaman. Hamzah dan Ali lalu membantu membereskan Utbah. Dalam duel satu lawan satu, kesatria kaum Muslim menang gemilang.

Itu sekadar satu contoh bahwa ilmu matematika bahkan sangat berguna untuk memenangkan perang terpenting dalam sejarah peradaban Islam, yaitu Perang Badar. Tentu saja di atas segalanya, kemenangan adalah karena pertolongan Allah Swt.

Seorang hamba Allah yang cerdas menggunakan logika ilmu matematika bisa melampaui kualitas ibadah hamba Allah yang lugu tidak menggunakan logika matematika. Contoh hal ini adalah kisah tentang zikir Juwairiyah, istri Rasulullah Saw.

Imam Muslim meriwayatkan, “Nabi Saw. keluar dari sisi Juwairiyah pagi-pagi untuk shalat Subuh di masjid. Beliau kembali (ke kamar Juwairiyah) pada waktu Duha, sementara dia (Juwairiyah) masih di sana. Rasulullah bertanya, “Kau masih duduk seperti ketika kutinggalkan tadi?” Juwairiyah menjawab, “Iya”. Maka Rasulullah Saw. bersabda, “Sungguh aku beri tahukan kepadamu empat kalimat sebanyak tiga kali, jika empat kalimat itu dibandingkan dengan apa yang kau baca sejak tadi pagi akan mampu mengimbanginya. Empat kalimat itu adalah: Subhanallah wa bihamdihi `adada khalqihi, wa ridha nafsihi wa zînata `arsyihi wa midada kalimatihi.”

Dalam hadis itu Juwairiyah berzikir sejak subuh hingga duha. Mungkin jumlahnya sampai ribuan. Dan, zikir itu bisa diimbangi dengan zikir yang memakai logika matematika yang canggih yang diberitahukan oleh Rasulullah Saw., yaitu zikir ini dibaca tiga kali: Subhanallah wa bihamdihi `adada khalqihi, wa ridha nafsihi wa zînata `arsyihi wa midada kalimatihi. Yang artinya, Maha Suci Allah dan Maha Terpuji Dia, sebanyak ciptaan-Nya, dan sebanyak rida diri-Nya, dan sebanyak perhiasan arsy-Nya dan sejumlah kalimat-kalimat-Nya. Siapa yang tahu jumlah ciptaan Allah? Hanya Allah saja. Sebanyak itulah jumlah zikir yang dilafalkan pada pagi itu. Logika canggih matematika yang diajarkan oleh Rasulullah Saw.

Kecerdasan dan keahlian matematika memang terbukti telah membuat hidup manusia semakin berkualitas.

Matematika itu sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari kita. Dan, pemahaman yang baik tentang logika matematika bisa menjadikan kita memiliki semacam “mukjizat” dalam menyelesaikan kehidupan sehari-hari kita.

Bahwa matematika bisa juga dimaknai lebih “dalam”, tidak sebatas pada angka-angka. Dicontohkan begini, tentang bilangan prima misalnya. Coba ditelaah lebih dalam. Pengertian bilangan prima adalah bilangan yang hanya mempunyai dua faktor, 1 dan bilangan itu sendiri. Yaitu 2, 3, 5, 7, 11, ….

Bilangan prima itu mengandung satu nilai falsafah hidup. Dalam kehidupan ini, kita harus memiliki sebuah prinsip bahwa sesungguhnya penentu kesuksesan dan keberhasilan masa depan kita ada dua: Tuhan Sang Pencipta dan diri kita sendiri. Satu itu adalah Tuhan. Tuhan Maha Esa. Keyakinan bahwa Tuhan adalah penentu kesuksesan membawa konsekuensi pada penyampaian nilai-nilai spiritual yang selalu inheren dalam setiap diri manusia. Namun, kita harus ikhtiar. Kitalah yang sesungguhnya faktor penting kesuksesan dan keberhasilan kita. Bukan orang lain. Tuhan Yang Maha Penyayang sangat melihat ikhtiar dan usaha kita. Bukan usaha orang lain.

Contoh lain, tentang vektor, juga bisa diresapi makna tersiratnya. Menurut pengertiannya, vektor adalah besaran yang mempunyai titik pangkal dan arah. Ada dua unsur yang menentukan sebuah vektor yaitu titik pangkal dan arahnya. Filosofi hidup agak dalam bisa dihayati dari teori ini bahwa dalam kehidupan ini ada dua unsur yang sangat penting, yaitu niat dan tujuannya. Keduanya harus baik dan positif. Niat hidup ini adalah ibadah dan membawa kemanfaatan bagi sebanyak mungkin orang dan lingkungan kita. Jika niat belum tepat, harus diluruskan dan diperbaiki dulu.

Ada sebuah pertanyaan: apa gunanya belajar matematika bila kita tahu kita tidak akan pernah menggunakannya?

Sebagai contoh, di UMass, Amherst semua mahasiswa bidang ilmu sosial harus mengambil mata kuliah Kalkulus pada tahun pertama mereka. Tentu saja banyak aplikasi matematika dalam disiplin ilmu sosial, termasuk untuk pemodelan matematikanya. Nah, sekarang bagaimana bila seorang mahasiswa ekonomi sangat ingin bekerja di bisnis dan sangat yakin tidak akan berhubungan sama sekali dengan matematika lagi setelah lulus? Bukankah akan sia-sia dia mempelajari Kalkulus?

Jawabannya: TIDAK!

Alasannya karena (1) tidak ada mahasiswa yang tahu persis apakah dia tidak akan pernah memerlukan matematika pada masa datang dan (2) matematika adalah akal. “Ini masuk akal” atau “ini tidak masuk akal” adalah kesimpulan dari sebuah proses berlogika dan logika adalah matematika. Dengan matematika kita diajarkan untuk runtut dalam berpikir dan melihat segala unsur yang terlibat. Dengan kata lain, matematika mengajarkan kita untuk tidak membuat kesimpulan yang melompat. Benjamin Peirce, yang dianggap sebagai matematikawan kelas dunia pertama dari Amerika, menuliskan bahwa matematika adalah the science that draws necessary conclusions, ilmu pengetahuan untuk menarik kesimpulan.

Sumber Bacaan :
Tuhan Pasti Ahli Matematika, Hadi Susanto, Bentang Pustaka, 2015

Saya sendiri anak lulusan Biologi FMIPA 🙂
dan saya bersyukur Allaah menakdirkan saya untuk mempelajarinya 🙂

Betapa setiap materinya semakin membukakan fikir, betapa Allaah Maha Kuasa, Maha Hebat dan Maha Sempurna atas setiap detail penciptaannya. :“)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s