Dear · Hikmah · reblog · they're said

be a wise: tentang orang yang suka menghabiskan uangnya untuk berbelanja

4e705d06711a44750192d3597421f90c
image from here 🙂

 

Anonymous asked: Assalamualaykum mas Akhyar, bagaimana pendapat mas Akhyar tentang perempuan yang suka menghabiskan uang dengan berbelanja? Lalu, bagaimana menurut mas Akhyar tentang perempuan yang memakai make-up dan skincare yang harganya mahal-mahal? Penasaran apa jawaban mas Akhyar. Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk menjawab.

Assalamualaykum mas Akhyar,

Waalaikumussalam wr. wb.

Taqabalallahu minna wa minkum,

Saya akan mencoba menjawab dua pertanyaanmu dengan menggunakan tiga prinsip. Sehingga pertanyaan yang mirip dengan ini mungkin bisa juga menemukan jawabannya dengan menggunakan tiga prinsip ini.

 

1. Berbaik sangka

Untuk hal-hal yang tak jelas benar larangannya dalam agama, hukum negara, dan hampir tak ada sama sekali kerugiannya buat kita langsung, berbaik sangka kepada setiap perilaku orang lain adalah hal yang utama.

Dalamnya laut bisa diukur, dalamnya hati tiada yang tahu. Kita tak bisa tahu motif seseorang, niatnya untuk apa, kecuali bertanya langsung, itupun jika mau menjawabnya dan kamu punya modal rese’  dan rasa kepo yang sedemikian besar. Hanya saja saya kira jika curiosity sebegitunya, saya menyarankan arahkan rasa ingin tahu tadi menjadi research yang memiliki pertanggungajawaban metodologis. Sehingga hasil yang nanti akan kamu dapatkan menjadi temuan sains yang menarik dan layak didiskusikan.

Saya menghindari jawaban kodian semacam, “duit duit dia, suka-suka dia-lah. Mau dibelanjain baju, sepatu, skincare terserah dia. Apa urusan lu.” Jawaban semacam ini lebih dekat kepada masa bodoh alih-alih berbaik sangka. Masa bodoh tak baik dalam hidup bermasyarakat, tetapi berbaik sangka adalah salah perekat tali silaturahim. 

 

2.Put yourself in their shoes

Kita tak bisa begitu saja berbaik sangka kepada orang lain tanpa usaha-usaha untuk memahami orang yang akan kita baik-sangka-kan itu. Kegagalan dalam berbaik sangka karena kita menilai perilaku orang lain dari sudut pandang kita, bukannya dari sudut pandang orang tersebut.

Ada seorang teman yang hobinya mengoleksi action figure super hero miliki Marvel. Harganya hanya bisa membuat saya terkaget-kaget. Cukuplah buat nongkrong minum kopi dan cemilannya di kafe. Lihat, jika ada orang yang ketiga, bisa jadi celetukannya menjadi, “ah sama aja lu bedua, satu beli barang yang gak guna, satunya ngabisini duit buat makan-minum yang di tempat mahal. Coba kalau duitnya disedekahin pasti lebih baik.” Lalu orang keempat yang mendengar celetukan tadi bisa jadi balik nyahut, “elah, lu juga pas beli beras belinya yang per lima kilonya seratus rebu. Beras organik. Padahal ada yang harganya cuman lima puluh rebuan di sampingnya. Beras-beras juga. Lumayankan lima puluh rebunya buat sedekah.”

Gak akan habis-habis. 

Setiap orang punya cara menghabiskan uangnya dengan cara yang berbeda-beda. Setiap orang punya prioritas berbelanja yang berbeda-beda. Dan mungkin lebih penting lagi, setiap orang punya nominal penghasilan yang berbeda-beda.

Semua itu, dalam perkara belanja, membuat mahal dan murah untuk setiap orang menjadi berbeda.

3. Kebodohan seringkali adalah pangkal buruk sangka

“Kok bisa sih harga secangkir kopi sama dengan biaya sekali makan? Gak masuk akal.” Itulah yang saya ucapkan di dalam hati dulu ketika membaca price list harga kopi di coffee shop. Namun, setelah saya berbincang banyak dengan salah seorang teman yang saat itu diminta untuk mengembangkan bisnis Liberica Coffee, saya baru nyahok dan malu sendiri. Jika sudah paham kita tak bisa lagi bilang, “yaelah mau kopi sachet-an kek, mau kopi di kafe kek, sama-sama aja kali. Pahit-pahit juga.”

Hal ini juga berlaku ketika ada seorang teman yang membeli tisu yang ada logo FSC-nya, membeli minyak zaitun atau minyak kelapa bukannya minyak kelapa sawit, membeli alat mandi dan teh yang ada label fair trade-nya. Ia dengan sadar mengetahui ada barang-barang sejenis yang memiliki fungsi yang sama dengan harga yang jauh lebih murah, tetapi ia tak memilih itu. Apakah ia menganggap barang yang ia beli murah? Tidak. Ia dengan sadar menyadari barang yang ia beli lebih mahal. Akan tetapi, itulah harga dari stadar hidup yang ia jalani. Orang di sekelilingnya, banyak yang heran termasuk saya. Akan tetapi ketika ia sudah menjelaskan bahwa ia berusaha jangan sampai produk yang ia beli menjadikan ia berkontribusi terhadap kebakaran hutan yang membunuh beberapa bayi manusia dan hewan-hewan, jangan sampai produk yang ia beli ternyata hanya memeras keuntungan tanpa pernah memperhatikan kesejahteraan produsen dan pekerjanya, saya jadi malu sendiri.

Semoga jawaban saya dengan menggunakan tiga prinsip  bisa sedikit menjawab pertanyaanmu. Tentu saja jika ada yang merasa tiga prinsip tidak terlalu tepat atau ada yang mau menambahkan tentu akan sangat menyenangkan.

Salam 🙂

 

sumber aslinya dari sini :”)


 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s