Dear · Harta Karun · Hikmah · reblog

be a wise: mengasihi diri sendiri

 

Anonymous asked: Assalammualaikum kak akhyar, semoga sehat beserta istri. Kak gimana mengembalikan semangat yg hilang sejak jatuh berkali-kali sampai ga kenal sama kemampuan diri sendiri? Dan bagaimana memaafkan diri sendiri akibat banyaknya kesalahan dimasa lalu? Trimss

 

Assalammualaikum kak akhyar, semoga sehat beserta istri.

Waalaikumussalam, taqabballahu minna wa minkum,

amiin, terima kasih 🙂

Kak gimana mengembalikan semangat yg hilang sejak jatuh berkali-kali sampai ga kenal sama kemampuan diri sendiri? Dan bagaimana memaafkan diri sendiri akibat banyaknya kesalahan dimasa lalu?

Membaca kalimatmu saya langsung teringat pandangan seorang filsuf eksistensialisme asal Prancis, Jean Paul Sartre, “l’existence prĂ©cède l’essence”, yang jika diterjemahkan bebas berarti, “eksistensi mendahului esensi”.

Mungkin karena lebih banyak yang memberi nasihat agar buru-buru mencapai kesuksesan untuk kemudian menikmati apa yang dinamakan passive income, atau ajakan agar segera menemukan passion dalam hidup sehingga bisa bekerja tanpa rasa bosan, duit dapat, bahagia diraih. Kita, orang-orang urban, yang hidup di milenium baru ini, mudah gusar jika hari-hari ke depan tak jelas ujung-pangkalnya, gampang uring-uringan melihat teman-teman yang lain kok yah hidupnya lancar dan bahagia menjalani karir mereka, lekas merasa hanya butiran debu karena membandingkan diri dengan seseorang yang berumur sama tetapi telah dikenal di mana-mana, wajahnya bahkan telah tampil di televisi nasional dengan julukan “pemimpin masa depan Indonesia.”

Fiuhh…

Jangan terlampau keras kepada diri sendiri. Kita jarang sekali memperlakukan diri kita layaknya ibu kepada anak-anaknya. Ibu yang baik adalah ibu yang menghargai proses. Tabah menjalani hari-hari ketika ada makhluk yang meronta-ronta gelisah dalam tubuhnya, tetapi tak pernah ia meminta makhluk itu segera dikeluarkan dari rahimnya. Ya, mungkin kita perlu memberikan “rahim”, kasih sayang kepada diri kita. Memberikan waktu untuk berkembang, sehingga bukannya merutuki proses, malah menikmatinya sebagai masa penantian.

“Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk”, kalimat yang begitu bagus dari Tan Malaka bisa kita pinjam dalam perkara ini. Kita terlalu sering mendengar Al Fatih yang dalam usia terhitung “dewasa awal” sudah mampu memimpin pasukan yang menaklukkan Konstatinopel, tetapi kita lupa bahwa Muhammad, khatamul anbiyaa’ itu, baru mengemban misi kerasulannya pada usia 40 tahun. Apakah langsung berhasil? T-i-d-a-k.

Rasulullah menghabiskan waktunya sebelum umur 40 tahun, bukan dengan ke–ge-er-an ala kita sekarang, “sayalah orang yang akan mengubah bangsa ini”. Ia malah melakukan kegiatan yang justru bersifat investasi sosial yang tak akan bisa dikonversi dengan uang: mencapai gelar Al Amin, yang terpercaya. Kepercayaan orang-orang Mekkah, kota tempat tinggalnya, digambarkan dengan “jikalau Muhammad menyatakan di balik bukit kota Mekkah ada pasukan yang akan menyerang, padahal tak ada tanda apapun, penduduk Mekkah akan lebih percaya pada perkataan Muhammad.” Lalu apakah dengan modal seperti itu, urusan dakwah Rasul lancar? T-i-d-a-k.

Sering kali kita berpikir bahwa sukses = kemampuan, kemampuan berbanding lurus dengan kesuksesan saya. Semakin saya mampu, semakin saya sukses. Padahal pandangan seperti ini, berkaca pada pengalaman sehari-hari tak cukup tepat. Sederhana saja, nasi yang telah digenggaman tangan kita pun, bahkan yang sudah hampir masuk ke mulut kita, bisa saja tak jadi. Mungkin tiba-tiba ada adik kecil yang begitu manis ingin minta suapan darimu. Mungkin tiba-tiba teman yang duduk di sampingmu malah bersin. Mungkin tiba-tiba ada lalat yang hinggap di nasimu. Sukses tak sekadar tentang kemampuan, tetapi juga sangat erat dengan adanya kesempatan. Jika ada impian kita yang tak tercapai, mungkin itu pertanda banyak hal, bukan hanya bahwa: kemampuanmu tak cukup. Bisa juga berarti: 1. kesempatan itu memang belum hadir; 2. waktunya belum tepat; 3. kamu memang dilahirkan bukan untuk itu.

Akhirnya, dalam menjalani hidup, jalan yang kita tempuh tak pernah lurus. Mungkin ada lumpur yang kita masuki. Mungkin ada tahi ayam yang kita injak. Perjalanan manusia adalah perjalanan dari tanah, yang mampu mensucikan bahkan najis mughaladah, menuju yang Maha Suci. Tak mengapa dalam perjalanan itu terkadang terdapat hal-hal kotor yang kita lakukan, asal terus berada di jalan yang (semoga) diridai-Nya, dengan tentu saja terus membersihkan kotoran-kotoran tadi.

Kita tak perlu mendefinisikan diri kita ketika masih hidup. Biarlah orang lain yang melakukannya. Seperti kata Sartre yang saya kutipkan di atas, hal yang lebih penting dari pada “hendak menjadi apa” justru adalah hal apa yang “dilakukan untuk mencapai apa” tadi. Sebagaimana pula yang dianjurkan agama, “janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim” hanya akan menjadi kalimat kosong jika kita tak menjaga pikiran, perasaan, dan tingkah laku kita dalam hidup, terus-dan-terus sebagai muslim, yang tunduk, yang daif,.

Semoga membantumu, wallahu alam.

Salam 🙂

 

sumber aslinya dari sini :”)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s