Harta Karun · Hikmah · reblog

Simpan Prasangkamu untuk Dirimu Sendiri

oleh Urfa Qurrota Ainy

Aufina sedang asyik menikmati es krim. Saya duduk di sebelahnya sambil membaca beberapa ayat Quran. Satu waktu, saya melirik sebentar hanya untuk memastikan ia baik-baik saja.

Namun, seketika saya kaget melihat Aufina ‘mengobok-obok’ es krim dengan tangannya. Padahal sudah saya beri sendok sebelumnya. Tanpa berpikir lebih lama, saya pun menasihati, “Kok makan es krimnya pakai tangan? Tangannya jadi lengket dong. Kan tadi sudah dikasih sendok? Ke mana sendoknya?”

Namun seketika itu pula saya beristighfar setelah Aufina dengan jujur dan apa adanya berkata, “Sendoknya masuk ke dalam (tenggelam ‘di telan’ es krim).” Sambil menunjuk lokasi ‘tenggelamnya’ sendok es krim itu.

Astaghfirullah.. Saya baru paham kenapa ia mengobok-obok mangkuk es krimnya barusan.

“Oh gitu. Aufina itu tadi mau ambil sendoknya ya?”

“Iya..” jawabnya.

Astaghfirullah. Saya langsung meminta maaf. “Maafin Ibu ya, Ibu ngga nanya dulu ke Aufina. Malah langsung menasihati. Maaf ibu tadi nyangka Aufina ngobok-ngobok es krim. Padahal Aufina mau ambil sendok ya?”

Buru-buru saya bantu ia menemukan sendok yang hilang ditelan es krim itu. Sambil terus berucap maaf dalam hati.

Prasangka buruk.
Alangkah mudah hati ini berprasangka buruk. Bermodalkan ketidaktahuan dan ketiadaan keinginan untuk mencari tahu, prasangka itu tumbuh tanpa hambatan. Subur, bahkan.

Padahal, jika mau menunggu sejenak lebih lama, jika mau bertanya “Apa?” dan “Mengapa?” Prasangka itu tidak perlu keluar dari kepala.

Prasangka mungkin sangat sulit untuk dihindari. Barangkali ini berkaitan dengan kecenderungan naluriah otak manusia yang bekerja dengan salah satu prinsipnya, yaitu : mempertahankan eksistensi.

Dalam prinsip tersebut, prasangka, curiga, dapat diartikan sebagai bentuk usaha untuk mendeteksi ancaman dan bahaya sejak dini. Tentu ini berguna, misalnya ketika kita di suatu malam berhadapan dengan sekelompok orang berpenampilan preman, kebut-kebutan di jalan, sambil membawa cangkul dan arit. Secara refleks kita akan curiga bahwa mereka berbahaya dan akan langsung berpikir untuk segera melapor ke pihak berwajib. Hampir mustahil kita akan mengira mereka adalah sekelompok petani.

Prasangka buruk pada kasus ini tak lain adalah bentuk pertahanan diri. Dan dalam kasus begini tak perlu lagi ditunggu apalagi dipertanyakan, “Anda siapa? Mau apa?” Lari saja agar selamat.

Yang demikian itu (adanya kecenderungan naluriah) menurut saya membuat usaha untuk tidak berprasangka buruk bisa dikatakan hampir mustahil. Ya, kita mungkin tidak bisa mencegah prasangka buruk agar tak hinggap di pikiran kita sama sekali.

Tapi,

Kita punya pilihan untuk tidak mengungkapkannya. Menahannya agar tetap dalam kepala.

Baru-baru ini saya membaca tafsir Ibnu Katsir mengenai ayat 12 Surat Al-Hujurat. Ayatnya berbunyi :

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.”

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa jika muncul prasangka buruk dalam benak, tahan lidah agar tak mengungkapkannya. Ini berdasarkan hadits Rasulullah saw yang menganjurkan kita untuk tidak menyatakan prasangka kita.

“Rasulullah Saw. pernah bersabda: Ada tiga perkara yang ketiganya memastikan bagi umatku, yaitu tiyarah, dengki, dan buruk prasangka. Seorang lelaki bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah cara melenyapkannya bagi seseorang yang ketiga-tiganya ada pada dirinya?” Rasulullah Saw. menjawab: Apabila kamu dengki, mohonlah ampunan kepada Allah; dan apabila kamu buruk prasangka, maka janganlah kamu nyatakan; dan apabila kamu mempunyai tiyarah (pertanda kemalangan), maka teruskanlah niatmu.“
(HR. Thabrani)

Rasulullah saw tidak secara eksplisit meminta kita untuk tidak berprasangka. Namun, jika kita memiliki prasangka buruk, beliau meminta kita untuk tidak menyatakannya.

Dalam ayat tersebut juga dikatakan “Jauhilah kebanyakan dari prasangka.” Bukan “Jauhilah seluruh prasangka,” karena boleh jadi ada prasangka buruk yang memang ‘berguna’. Seperti prasangka soal sekumpulan orang bermotor membawa cangkul dan arit yang saya ilustrasikan tadi. Atau prasangka seorang petugas di bandara terhadap calon penumpang yang dicurigai membawa narkoba.

Poinnya adalah, secara manusiawi, kita diberi otak yang darinya kerap muncul berbagai pikiran, termasuk juga prasangka. Dan otak kita tak serasional yang kita kira. Prasangka buruk seringkali muncul karena ‘kemalasan’ otak untuk mau bertanya dan berpikir lebih luas.

Meski begitu, prasangka buruk dalam kuadran positifnya dapat disebut sebagai mekanisme alamiah untuk mempertahankan diri dari ancaman dan bahaya.

Mekanisme alamiah ini bukan sesuatu yang mudah untuk dikendalikan. Bahkan mungkin mendekati mustahil untuk dihilangkan sama sekali. Di situlah ada peran akal, yang punya fungsi membedakan yang benar dan salah, baik dan buruk. Akal berfungsi untuk menyeleksi, mana prasangka-prasangka buruk yang perlu diungkapkan, mana yang tidak. Mana prasangka yang harus diikuti, mana yang tidak.

Di sinilah ‘pertarungan’ ini menjadi seru. Dorongan kodrat manusiawi kita mesti beradu kuat dengan akal nurani kita. Seperti saat kita menundukkan dorongan kodrat manusiawi kita untuk makan, minum, dan berhubungan suami-istri melalui shaum.

Sebagian prasangka jika diungkapkan sebelum nyata kebenarannya, hanya akan menyakiti, menimbulkan kegaduhan, dan bisa jadi menzalimi seseorang. Dan bukanlah termasuk muslim jika orang lain tidak selamat dari kejahatan lisannya.

“Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya” (HR Bukhari)

Dari sini saya belajar kembali untuk menjadi tuan atas pikiran dan kecenderungan manusiawi saya sendiri. Untuk tidak buru-buru menyatakan prasangka, untuk mau bersabar menunggu, untuk mau mencari tahu, untuk menjaga perasaan orang lain.

Maaf atas kemalasanku untuk bertanya lebih jauh padamu. Maafkan aku jika prasangkaku pernah menyakitimu..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s