Dear · Meracacacau · Tarbiyah · Uneguneg

Meracacacacau 

vy 🙂 

sebelum akhirnya aku ikut dan alhamdulillah sampai sekarang masih terus berlanjut 🙂 

MR ku dan mba mba di santika sudah pada ngasih tahu, kalo masjid tempat aku akan ikutan kelas tahsin itu dikelola sama orang salafy. 

Awalnya aku jadi ragu setelah tahu, tapi di satu sisi aku sudah kepengen bangat memperbaiki bacaan Qur’an ku :(. Pun waktu yang ditawarkan juga sudah sangat pas dengan jadwal pekananku. 

Alhamdulillah, 

Sampai sekarang pun aku masih bersyukur, karena Allah menggerakan diri ini untuk datang dan tetap belajar disana. 

Iya ustadzah ustadzah nya sebagian besar bercadar. Tapi mereka juga Hafidzoh 🙂 

Iya ustadzah ustadzah nya sama sekali ga ngomongin pilkada atau tentang aksi bela islam atau bela ulama yang sedang hot hot nya beberapa bulan yang lalu. Tapi mereka ngomongin tentang tata cara wudhu Rasulullah dan cara sholat Rasulullah. Mereka ngomongin tentang kemuliaan Al Quran dan orang orang yang mempelajarinya. 

Mereka mengajarkan lebih tentang kecintaan kita pada Al Qur’an dan ibadah ibadah yang berdasar sunnah., yang belum aku dapatkan lebih di lingkaran lingkaran tarbiyah ku 😦

bahkan, bulan bulan menjelang pilkada, jadwal liqo hampir selalu diganti dengan ragam agenda kampanye, baksok, yankes, konsolidasi, dll. 

sedang, di masjid itu, walau bagaimana apapun panasnya kondisi bangsa di luar. Agenda mempelajari Al quran tetap berjalan, dengan banyak atau sedikitnya peserta yang hadir. 

satu sisi, kadang aku merasa lebih nyaman, sangat nyaman berada bersama lingkaran ku, bersama sama mempelajari Al Quran. 

Namun, 

satu sisi pun aku sadar, apa yang sedang aku pelajari sekarang.  selain untuk ‘keselamatan’ diri ku sendiri, bukankah juga sebagai sarana untuk meyelamatkan ummat?

🙂 

kemudian aku pun tersadar, 

iya mereka mengajarkan ku tentang kecintaan terhadap Al Qur’an, terhadap Ibadah Ibadah berdasar sunnah. 

Tapi, 

lingkaran tarbiyah ku mengajarkan ku tentang kecintaan terhadap ummat. Tentang ummat,  tentang bangsa, tentang peradaban. Tentang peran sebagai khalifatul fil ard. 

🙂 

ndak ada yang bersebrangan disini, 

malah justru, ini adalah satu kesatuan yang seharusnya dilalui oleh setiap orang yang memilih untuk mengambil peran sebagai seorang dai. 

Bahwa mereka harus sudah memiliki sebelum kemudian memberi. 

Bahwa mereka seharusnya sudah selesai atau setidaknya dalam proses untuk menjadi pribadi pribadi dengan kafaah sebagai ‘Dai’, yang siap dijadikan tempat rujukan ketika ummat bertanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s