KisahSahabat · reblog

#lebihdekatdengansahabat 28: Utbah bin Ghazwan

oleh Muhammad Akhyar

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan:).

Di hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang begitu kita cintai ini ada baiknya kita menyimak peri kehidupan seorang sahabat mulia, Utbah namanya. Ia adalah seorang mujirin pertama yang hijrah ke Habsyi. Ia adalah satu dari tujuh sahabat pertama yang membaiat Rasulullah untuk menyatakan kesetiaannya. Ia adalah satu dari sedikit pemanah Muslim yang telah begitu besar jasanya dalam perjuangan Islam.

Marilah kita lihat penampilan Utbah. Seorang laki-laki berperawakan tinggi dengan wajah bercahaya dan tampak rendah hati. Hari-hari di Mekkah pada saat ia memasuki Islam sudah tak sama lagi jika dibandingkan hari-hari sebelumnya. Penyiksaan, penindasan, kesukaran adalah makanan sehari-harinya. Untuk itulah Rasulullah memintanya untuk hijrah ke Habsyi. Peristiwa ini telah pernah kita singgung ketika kita berada di fragmen Ja’far. Telah amanlah ia di Habsyi, tetapi cinta tak bisa dipungkiri. Laut ia seberangi untuk mencapai Mekkah kembali. Tujuannya jelas, ingin selalu berdekat-dekatan dengan Rasulullah sang utusan ilahi.

Sampai suatu ketika di masa kekhalifahan Umar, Utbah diminta untuk ke Ubullah. Tujuannya membebaskan kota itu dari tentara Persia yang ingin menjadikannya sebagai batu loncatan untuk menghancurkan kekuatan Islam. Kala itu Umar berkata kepada Utbah,

“Berjalanlah anda bersama anak buah anda, hingga sampai batas terjauh dari negeri Arab dan batas terdekat negeri Persia.

Pergilah dengan restu Allah dan berkah-Nya. Serulah ke jalan Allah siapa yang mau dan bersedia.

Dan siapa yang menolak hendaklah ia membayar pajak.

Dan bagi setiap penantang, pedanglah bagiannya, tanpa pilih bulu.

Tabahlah menghadapi musuh serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu.”

Pergilah Utbah untuk bertempur. Dan di titik kemenangan itu Utbah mendirikan kota Basrah. Kota itu dilengkapinya dengan sarana perkotaan dan sebuah masjid besar. Kemudian ketika ia merasa ia sudah melakukan tugasnya dengan baik, ia memilih hendak meninggalkan kota itu dan pulang ke Madinah. Ia bermaksud hendak menjauhkan diri dari urusan pemerintahan, namun Umar berkeberatan dan menyuruhnya tetap di sana.

Utbah pun menaati pemimpinnya itu. Ia berdiam kembali di Basrah. Ia membimbing melaksanakan salat, memberi pengertian dalam soal agama, menegakkan hukum dengan adil, serta memberi contoh teladan yang sangat mengagumkan tentang kezuhudan, wara’, dan kesederhanaan. Suatu kali ia berpidato di tengah-tengah warganya,

“Demi Allah, sesungguhnya telah kalian lihat aku bersama Rasulullah sebagai salah seorang kelompok tujuh, yang tak punya makanan kecuali daun-daun kayu, sehingga bagian dalam mulut kami pecah-pecah dan luka-luka. Suatu hari aku beroleh rezeki sehelai kain burdah, lalu kubelah dua, yang sebelah keberikan kepada Sa’ad bin Malik dan sebelah lagi kupakai untuk diriku.”

Inilah Utbah, orang yang pernah berucap,

“Aku melindungi diri kepada Allah dari sanjungan orang terhadap diriku karena kemewahan dunia, tetapi kecil pada sisi Allah.”

Inilah ia Utbah, yang ketika selesai menunaikan haji di Mekkah berangkatlah ia menuju Madinah. Tujuannya hanya satu, ingin mengundurkan dari jabatan kepada khalifah, Umar. Namun, sekali lagi Umar menolak permintaannya. Dan sekali lagi Utbah tak kuasa untuk tidak menaati perintah itu. Hanya saja kali ini, dalam perjalanan pulangnya ke Basrah, sambil menghadap ke arah kiblat, ia memohon kepada Allah agar tidak dikembalikan ke Basrah dan tidak pula kepada pimpinan pemerintahan selama-lamanya.

Doanya diperkenankan Allah. Utbah dijemput malaikat maut pada saat perjalanannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s