Hikmah · reblog

Madrasah

oleh Eghar Hamas

Kalau ingin menyiapkan investasi beberapa bulan,
Tanamlah jagung.
Kalau ingin menyiapkan investasi setahun,
Tanamlah pohon-pohon.
Kalau ingin menyiapkan investasi seabad,
Didiklah anak-anak muda.
-Chinese Proverb-

Dari madrasah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- lahirlah generasi unik, 100.000 lebih manusia yang hidup sezaman dengan beliau dan wafat dalam keadaan muslim, yang menghentak dunia dengan tiba-tiba; menghapus kesewenangan Byzantium, mengebumikan keangkuhan Persia, dengan cara yang bermartabat. Mereka mengetengahkan harkat manusia dengan penyembahan pada Rabbnya manusia.

Dari madrasah Musa bin Nushair -rahimahullah- lahirlah generasi tangguh di Afrika Utara. Bangsa Barbar yang bermata biru itu, setelah sebelumnya memerangi Islam, berubah menjadi baris-baris mujahid tangguh yang berlaga di bukit dan lembah Andalusia. Al Quran diajarkan, akhlaq diadatkan, fiqh dibimbingkan, ilmu tempur dibiasakan. Thariq bin Ziyad jadi murid terbaiknya, menyeberangi Gibraltar, meneruskan proyek peradaban.

Dari madrasah Nizam Al Mulk -rahimahullah- lahirlah generasi hebat pembebas Al Aqsha. Aq Sanqur, Imaduddin Zanki, Nuruddin Zanki, hingga Shalahuddin. Mata rantai para pejuang itu menjadi simbol kepahlawanan yang membuka gerbang dan benteng kota Islam yang telah lama kubah masjidnya dilebur jadi salib-salib.

Dari madrasah Najmudin Ayyub, lahirlah generasi pemberani yang shalih, ahli ibadah yang patriot. Budak-budak Turki dididik menjadi tentara dan birokrat, dibimbing menghafal Al Quran dan menghimpun hadits-hadits. Pada puncaknya, mereka inilah yang disebut sebagai Mamalik, yang ketika dunia Islam porak poranda dibabat Mongol, mereka berbaris di padang luas Ain Jalut, mengalahkan Mongol untuk pertama kalinya dan selama-lamanya. “Jika bukan kita untuk Islam, maka siapa lagi?”, orasi Quthuz sang putera Mamalik di hadap semua pejabat negara.

*** ***

Madrasah-madrasah selalu memainkan peran sejarahnya dengan penuh kesadaran. Barometer keberhasilannya bukan pada angka-angka dan jumlah murid yang banyak, tapi sejauh mana terinstall kecintaan pada Dinul Islam pada sanubari anak-anak didiknya.

Itulah mengapa proyek pertama Mustafa Kamal ketika menumbangkan Utsmani adalah menghapus sekolah-sekolah Islam. Itulah mengapa proyek pertama zionis di Palestina adalah membangun sekolah sekuler yang menggratiskan uang masuk bagi anak-anak Arab, yang penting sekolah agama jadi sepi.

Seperti itulah sejarah selalu berulang. “Tidak akan berjaya sebuah generasi”, kata Imam Malik bin Anas rahimahullah, “kecuali dengan apa-apa yang menjayakan generasi sebelum mereka.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s