KisahSahabat · reblog

#lebihdekatdengansahabat 25: Mu’adz bin Jabal

oleh Muhammad Akhyar

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan, selamat menjalankan ibadah Ramadan.

Kita akan memulai kisah sahabat hari ini dengan sebuah hadits yang berisi pertanyaan kepada salah seorang sahabat yang hendak dikirim ke Yaman,

“Apa yang menjadi pedomanmu dalam mengadili sesuatu, hai Mu’adz?” “Kitabullah,” ujar Mu’adz. “Bagaimana jika kamu tidak jumpai dalam kitabullah?” tanya Rasulullah pula. “Saya putus dengan sunnah Rasul,” ujar Mu’adz. “Jika tidak kamu temui dalam sunnah Rasulullah?” “Saya pergunakan pikiranku untuk berijtihad dan saya tak akan berlaku sia-sia.” Berseri-serilah wajah Rasulullah, sabdanya, “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufik kepada utusan Rasulullah sebagai yang diridhai oleh Rasulullah.”

Siapa yang tak kenal hadits ini. Hadits yang telah membuka peluang akal untuk bekerja bahkan ketika Rasulullah masih berada hidup di muka Bumi. Dan perkara ini tentu saja tidak disampaikan oleh orang yang biasa-biasa saja. Tentu dia adalah pribadi yang luar biasa. Inilah dia Mu’adz. Seorang sahabat yang merupakan tokoh dari kalangan Anshar. Sahabat yang merupakan satu dari sedikit manusia yang pertama-tama memasuki Islam. Sahabat yang mengambil bagian dalam baiat Aqabah kedua kepada Rasulullah.

Inilah dia Mu’adz, orang yang dipuji oleh Rasulullah dengan,

“Umatku yang paling tahu akan yang halal dan yang haram ialah Mu’adz bin Jabal.”

Atas pujian yang sedemikian tinggi ini, tak perlulah kita heran ketika Umar ditanya siapakah kiranya yang akan ia angkat sebagai penggantinya ketika ia akan mengembuskan nafas terakhir,

“Seandainya Mu’adz bin Jabal masih hidup, tentu saya angkat ia sebagai khalifah, dan kemudian bila saya menghadap Allah ‘azza wa jalla dan ditanya tentang pengangkatannya, Siapa yang kamu angkat menjadi pemimpin bagi umat manusia, saya akan jawab, Saya angkat Mu’adz bin Jabal setelah mendengar Nabi bersabda, ‘Mu’adz bin Jabal adalah pemimpin golongan ulama di hari kiamat.’”

Ya, inilah Mu’adz. Sahabat yang meninggal pada usia yang sangat muda, 33 tahun. Peristiwa yang menyedihkan ini terjadi pada masa kekhalifahan Umar, saat ia menjabat sebagai pemimpin di Syria.

Inilah dia Mu’adz. Orang yang paham benar apa makna keberimanan. Suatu kali Rasulullah bertanya padanya,

“Bagaimana keadaanmu di pagi hari ini duhai Mu’adz?” “Di pagi hari ini aku benar-benar telah beriman, ya Rasulullah,” ujar Mu’adz. “Setiap kebenaran ada hakikatnya,” ujar Nabi, “apakah hakikat keimananmu?” Ujar Mu’adz, “setiap berada di pagi hari, aku menyangka tidak akan menemui lagi waktu sore. Dan setiap berada di waktu sore, aku menyangka tidak akan mencapai lagi waktu pagi. Dan tidak satu langkah pun yang kulangkahkan, kecuali aku menyangka tiada akan diiringi dengan langkah lainnya. Dan seolah-olah kesaksian setiap umat jatuh berlutut, dipanggil melihat buku catatannya. Dan seolah-olah kusaksikan penduduk surga menikmati kesenangan surga. Sedang penduduk neraka menderita siksa dalam neraka. Lalu Rasulullah bersabda, “Memang kamu mengetahuinya, pegang teguhlah jangan dilepaskan.”  

Dan inilah Mu’adz. Sahabat yang menyarankan bahwa hendaklah peribadatan itu dilakukan dengan cermat dan jangan berlebihan. Pada satu kali, seseorang bertanya kepadanya,

“Apakah anda bersedia mematuhinya bila saya ajarkan?” tanya Mu’adz. “Sungguh saya sangat berharap akan menaati anda,” ujar orang itu. Lalu Mu’adz berkata kepadanya, “Shaum dan berbukalah. Lakukan shalat dan tidurlah. Berusahalah mencari nafkah dan janganlah berbuat dosa. Dan janganlah kamu mati kecuali dalam agama Islam. Serta jauhilah doa orang yang teraniaya.”  

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s