KisahSahabat · reblog

#lebihdekatdengansahabat 24: Shuhaib bin Sinan

oleh Muhammad Akhyar

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan :”)

Kali ini kita akan mengintip sedikit kisah sahabat yang dilahirkan jauh dari tempat Rasulullah berada, berhari-hari perjalanan dengan unta dari kota Mekkah. Ia dilahirkan dalam lingkungan kemewahan. Bapaknya adalah hakim dan walikota Ubullah sebagai pejabat yang diangkat oleh Kisra Persia. Hingga pada suatu ketika, negeri itu diserang oleh Romawi dan kemudian menawan sejumlah penduduk. Salah satunya adalah sahabat yang akan kita simak hidupnya ini. Ialah Shuhaib bin Sinan. Ia diperjualbelikan oleh saudagar-saudagar budak belian, hingga kemudian perjalanan hidup mengantarkannya ke kota Mekkah, setelah ia menghabiskan masa kanak-kanaknya di negeri Romawi, hingga lidah dan dialeknya telah menjadi lidah dan dialek Romawi.

Karena kecerdasan, kerajinan, dan kejujurannya, akhirnya Shuhaib dibebaskan oleh majikannya. Tak sekadar itu, ia diberi kesempatan untuk dapat berniaga bersamanya. Hingga pada suatu hari kita akan melihat ia sudah ada di depan rumah Arqam. Hal ini diceritakan sendiri oleh Ammar bin Yasir,

“Saya berjumpa dengan Shuhaib bin Sinan di muka pintu rumah Arqam, yakni ketika Rasulullah sedang di dalamnya. ‘Hendak ke mana kamu?’ tanya saya kepadanya. ‘Dan kamu hendak ke mana?’ jawabnya. ‘Saya hendak menjumpai Muhammad untuk mendengarkan ucapannya,’ kata saya. ‘Saya juga hendak menjumpainya,’ ujarnya pula. Demikianlah kami masuk ke dalam, dan Rasulullah menjelaskan tentang aqidah Islam kepada kami, setelah kami meresapi apa yang dikemukakannya kami pun menjadi pemeluknya. Kami tinggal di sana sampai petang hari. Lalu dengan sembunyi-sembunyi kami keluar meninggalkannya.”

Inilah Shuhaib sahabat yang masuk ke dalam orang-orang yang terdahulu masuk ke dalam agama Islam. Setelah ia masuk ke dalam Islam, ia adalah pejuang yang tak henti-hentinya membela keyakinannya itu. Mari kita simak penuturannya mengenai hal itu,

“Tiada suatu perjuangan bersenjata yang diterjuni Rasulullah, kecuali pastilah aku menyertainya. Dan tiada suatu baiat yang dijalaninya, kecuali tentulah aku menghadirinya. Dan tiada suatu pasukan bersenjata yang dikirimnya kecuali aku termasuk sebagai anggota rombongannya. Dan tidak pernah beliau bertempur baik di masa-masa pertama Islam atau di masa-masa akhir, kecuali aku berada di sebelah kanan atau di sebelah kirinya. Dan kalau ada sesuatu yang dikhawatirkan kaum Muslimin di hadapan mereka pasti aku akan menyerbu paling depan, demikian pula kalau ada yang dicemaskan di belakang mereka, pasti aku akan mundur ke belakang. Serta aku tidak sudi sama sekali membiarkan Rasulullah berada dalam jangkauan musuh sampai ia kembali menemui Allah.”

Begitulah sahabat yang mulia Shuhaib. Sahabat yang seharusnya bersama Rasulullah dan Abu Bakar hijrah namun karena adanya perangkap orang-orang Quraisy ia terhalang hijrah untuk sementara waktu. Mari kita cermati fragmen kisahnya dalam berhijrah kala itu,

“Hai orang orang Quraisy, kalian sama mengetahui bahwa saya adalah ahli panah yang paling mahir. Demi Allah, kalian takkan berhasil mendekati diriku, sebelum saya lepaskan semua anak panah yang berada dalam kantong ini, dan setelah itu akan kugunakan pedang untuk menebas kalian, sampai senjata di tanganku habis semua. Nah majulah ke sini kalau kalian berani. Tetapi kalau kalian setuju, saya akan tunjukkan tempat penyimpanan hartaku, asal saja kalian membiarkan aku.”

Demi mendengar tawaran menarik itu, mereka pun menyetujui usulah Shuhaib. Kemudian Shuhaib pun memberi tahu tempat hartanya dan tanpa kecurigaan sedikit pun mereka langsung mempercayai hal itu serta membiarkan ia pergi. Begitulah Shuhaib bahkan musuhnya pun sangat percaya pada seluruh pembicaraannya.

Sesampainya di Madinah, ia mendapati Rasulullah sedang duduk dikelilingi oleh beberapa sahabat. Shuhaib pun mengucapkan salam, sungguh kala itu Rasulullah berseru gembira,

“Beruntung perdaganganmu, duhai Abu Yahya! Beruntung perdaganganmu, duhai Abu Yahya!”

Ya, inilah Shuhaib, yang merelakan begitu saja hartanya agar bisa mencicipi nikmatnya hijrah dan hidup di samping Rasulullah. Hal ini wajar karena memang ia adalah seorang yang begitu dermawan. Karena kedermawanannya itu, sampai-sampai mengundang peringatan dari Umar,

“Saya lihat kamu banyak sekali mendermakan makanan hingga melewati batas!”

Shuhaib langsung saja menjawab,

“Sebab saya pernah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Sebaik-baik kalian ialah yang suka memberi makanan.’”

Terakhir, kita akan melihat betapa mulianya sahabat yang satu ini kala Umar, Amirul Mukminin saat itu, diserang seseorang di waktu melakukan shalat Subuh. Berwasiatlah Umar,

“Hendaklah Shuhaib menjadi imam kaum Muslimin dalam shalat.”

Ah, betapa indahnya wasiat itu. Umar meminta Shuhaib, seorang sahabat yang berdialek Romawi untuk memimpin shalat sahabat-sahabat yang memiliki dialek Arab murni.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s