KisahSahabat · reblog

#lebihdekatdengansahabat 22: Abdullah bin Abbas

Oleh Muhammad Akhyar

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan:”)

Hari ini kita akan melanjutkan pembahasan singkat kita mengenai seorang sahabat yang istimewa. Ia bahkan dijuluki kyai ummat.

Meskipun pada saat Rasulullah wafat usianya baru tiga belas tahun, namun penguasaannya mengenai agama begitu tinggi dan mendalam. Suatu ketika Rasulullah menariknya kemudian mendoakannya,

“Ya Allah, berilah ia ilmu agama yang mendalam dan ajarkanlah kepadanya takwil.”

Ibnu Abbas nama sahabat Rasulullah yang mulia ini. Di usianya yang masih muda, tak satu hari pun lewat, kecuali ia menghadiri majelis Rasulullah dan menghafalkan apa yang diucapkannya. Sepeninggalnya Rasulullah, Ibnu Abbas mempelajari sungguh-sungguh dari sahabat-sahabat Rasulullah yang pertama, apa-apa yang luput didengar dan dipelajarinya dari Rasulullah langsung. Berikut kita bisa sama-sama menyimak bagaimana ia menceritakan pengalamannya dalam menggali ilmu agama,

“Pernah aku bertanya kepada tiga puluh orang sahabat Rasulullah mengenai satu masalah.”

Selain itu ia juga bertutur kepada kita,

“Tatkala Rasulullah wafat, kukatakan kepada salah seorang pemuda Anshar, ‘Marilah kita bertanya kepada sahabat Rasulullah, sekarang ini merekah hampir semuanya sedang berkumpul.’

Jawab pemuda Anshar tadi, ‘Aneh sekali kamu ini duhai Ibnu Abbas. Apakah kamu kira orang-orang akan membutuhkanmu, padahal di kalangan mereka sebagai kau lihat banyak terdapat sahabat Rasulullah?’ Demikianlah ia tak mau diajak, tetapi aku tetap pergi bertanya kepada sahabat-sahabat Rasulullah.

Pernah aku mendapatkan satu hadits dari seseorang dengan cara kudatangi rumahnya. Kebetulan ia sedang tidur siang. Kubentangkan kainku di muka pintunya, lalu duduk menunggu, sementara angin menerbangkan debu kepadaku, sampai akhirnya ia bangun dan keluar mendapatiku. Lalu katanya, ‘Duhai sepupu Rasulullah, apa maksud kedatanganmu? Kenapa tidak kamu suruh saja orang kepadaku agar aku datang kepadamu.’ ‘Tidak,’ ujarku, ‘bahkan akulah yang harus datang mengunjungi anda.’ Kemudian kutanyakan kepadanya sebuah hadits dan aku belajar daripadanya.”

Yah, begitulah Ibnu Abbas mendapatkan ilmu dan mengejarnya. Hingga ketika orang-orang bertanya padanya bagaimana ia mendapatkan ilmu yang demikian itu, ia menjawab

“Dengan lidah yang gemar bertanya dan akal yang suka berpikir.”

Sehingga tak salahlah ketika Umar, walaupun begitu banyak sahabat senior kala itu, sering mengundang Ibnu Abbas sebagai kawan musyawarahnya sebagai khalifah. Bahkan Umar menjulukinya sebagai “pemuda tua”.

Ubaidillah bin ‘Utbah pun menceritakannya sebagai berikut,

“Tidak seorang pun yang lebih tahu tentang hadits yang diterimanya dari Rasulullah daripada Ibnu Abbas. Dan tak kulihat orang yang lebih mengetahui tentang putusan Abu Bakar, Umar, dan Utsman dalam pengadilan daripadanya. Begitu pula tak ada yang lebih mendalam pengertian daripadanya.

Sungguh, ia telah menyediakan waktu untuk mengajaran fiqih satu hari, tafsir satu hari, riwayat dan strategi perang satu hari, syair satu hari, dan tarikh serta kebudayaan bangsa Arab satu hari.

Serta tak ada yang lebih tahu tentang syair, bahasa Arab, tafsir Al Quran, ilmu hisab, dan soal pembagian warisan selain daripadanya. Dan tidak seorang alim pun yang pergi duduk di dekatnya kecuali hormat padanya, serta tidak seorang pun yang bertanya, melainkan mendapat jawaban darinya.”

Lalu ketika ia diminta Ali untuk menjadi gubernur di Bashrah, kita akan mendengar seorang muslim yang tinggal di sana sebagai berikut,

“Ia mengambil tiga perkara dan meninggalkan tiga perkara,

  1. Menarik hati pendengar apabila ia berbicara.
  2. Memperhatikan setiap ucapan pembicara.
  3. Memilih yang teringan apabila memutuskan perkara.
  1. Menjauhi sifat mengambil muka.
  2. Menjauhi orang-orang yang rendah budi.
  3. Menjauhi setiap perbuatan dosa.”
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s