KisahSahabat · reblog

#lebihdekatdengansahabat 21: Abdullah bin Mas’ud

Oleh Muhammad Akhyar

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan:”)

Kali ini kita akan bertemu kenal dengan sahabat yang sempat membuat tertawa para sahabat yang lain. Kala itu ia sedang memanjat pohon dan memetik dahannya untuk digunakan sebagai sikat Rasulullah. Sahabat-sahabat yang lain menertawakannya karena terlihatlah oleh mereka betis sahabat mulia ini yang begitu kecil dan kempes. Demi mendengar hal, Rasulullah pun bersabda,

“Tuan-tuan menertawakan betis Ibnu Mas’ud, keduanya di sisi Allah lebih berat timbangannya dari gunung  Uhud.”

Ya, inilah dia Ibnu Mas’ud. Orang yang berasal dari keluarga miskin, berbadan kurus, namun ialah salah seorang manusia yang pertama-tama mengimani ajaran Rasulullah. Ia sendiri menceritakan kisahnya itu sebagai berikut,

“Ketika itu saya masih remaja, menggembalakan kambing kepunyaan ‘Uqbah bin Mu’aith. Tiba-tiba datang Nabi bersama Abu Bakar dan bertanya, ‘Hai nak, apakah kamu punya susu untuk minuman kami?’. ‘Aku orang kepercayaan,’ ujarku, ‘dan tidak dapat memberikan anda berdua minuman.’

Lalu Rasulullah bersabda, ‘Apakah kamu mempunyai kambing betina mandul, yang belum dikawini oleh yang jantan?’ ‘Ada,’ ujarku. Lalu saya antar ia kepada mereka. kambing itu diikat kakinya oleh Nabi lalu disapu susunya sambil memohon kepada Allah. Tiba-tiba susu itu berair banyak. Kemudian Abu Bakar mengambilkan sebuah batu cembung yang digunakan Nabi untuk menampung perahan susu. Lalu Abu Bakar pun minum dan saya pun tak ketinggalan. Setelah itu Nabi menitahkan kepada susu, ‘Kempislah,’ susu itu pun menjadi kempis.

Setelah peristiwa itu saya datang menjumpai Nabi, kataku, ‘Ajarkanlah kepadaku kata-kata tersebut.’ Lalu beliau berujar, ‘Engkau akan menjadi seorang anak yang terpelajar.’”

Inilah dia Ibnu Mas’ud yang dikemudian hari dikenal sebagai orang yang pertama kali memperdengarkan Al Quran di depan publik. Saat-saat seperti inilah kita akan mengetahui bahwa betapa mukjizat di atas itu tidak ada apa-apanya dibanding Quran. Mari kita simak penuturan Zubair mengenai peristiwa menakjubkan yang dilakukan Ibnu Mas’ud ini,

“Yang mula-mula menderas Al Quran di Mekkah setelah Rasulullah ialah Abdulllah bin Mas’ud. Pada suatu hari para sahabat Rasulullah berkumpul, kata mereka, ‘Demi Allah orang-orang Quraisy belum lagi mendengar sedikit pun Al Quran ini dibaca dengan suara keras di hadapan mereka.

Nah siapa di antara kita yang bersedia memperdengarkannya kepada mereka?

Ibnu Mas’ud pun menjawab, ‘Saya.’

Kata mereka, ‘Kami khawatir akan keselamatan dirimu. Yang kami inginkan adalah seorang laki-laki yang mempunyai kerabat yang akan mempertahankannya dari orang-orang itu jika mereka bermaksud jahat.

‘Biarkanlah saya!’ kata Ibnu Mas’ud pula, ‘Allah pasti membela.’ Lalu datanglah Ibnu Mas’ud kepada kaum Quraisy di waktu dhuha, yakni ketika mereka sedang di balai pertemuan.

Ia berdiri di panggung lalu membaca: Bismillahirrahmanirrahim, dan dengan mengeraskan suaranya: Arrahman… ‘allamal quran…

Lalu sambil menghadap kepada mereka diteruskannyalah bacaannya. Mereka memperhatikannya sambil bertanya sesamanya, ‘Apa yang dibaca oleh anak si Ummu ‘Abdin itu? Sungguh apa yang dibacanya itu ialah yang dibaca oleh Muhammad.’

Mereka bangkit mendatangi dan memukulinya, sedang Ibnu Mas’ud meneruskan bacaannya sampai batas yang ditentukan Allah. Setelah itu dengan muka dan tubuh yang babak-belur ia kembali kepada para sahabat. Kata mereka, ‘Inilah yang kami khawatirkan kepadamu.’ Lantas Ibnu Mas’ud menukasnya, ‘Sekarang ini tak ada yang lebih mudah bagiku dari menghadapi musuh-musuh Allah itu. Dan seandainya tuan-tuan menghendaki, saya akan mendatangi mereka lagi dan berbuat hal yang sama esok hari.’ Lalu mereka berujar,’Cukuplah demikian. Kamu telah membacakan kepada mereka barang yang menjadi tabu bagi mereka.’”

Ah, inilah perikehidupan sahabat yang mulia Ibnu Mas’ud. Sahabat yang begitu disenangi Rasulullah bacaan Al Qurannya, sahabat yang bacaan Al Qurannya dipuji Rasulullah tepat sebagaimana ketika firman itu diturunkan, sahabat yang begitu senang Rasulullah mendengar bacaan Al Qurannya. Oleh karena itu tak heranlah para sahabat berkomentar tentang Ibnu Mas’ud sebagai,

“Sungguh, sementara kita terhalang, ia diberi restu, dan sementara kita bepergian, ia menyaksikan (tingkah laku Rasulullah).”

Hal ini mereka ucapkan karena dari mulut Rasulullah yang mulia keluar sabda,

“Saya izinkan kamu bebas dari tabir hijab.”

Artinya, pintu rumah Rasulullah selalu terbuka untuk Ibnu Mas’ud kapan pun ia mau.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s